Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Jawaban Atas Tuduhan Busuk » Profil Muhammad Sofiyan Atsaury/Abu Ayyash

Profil Muhammad Sofiyan Atsaury/Abu Ayyash

TENTANG SAYA

Muhammad Sofiyan Atsaury

http://www.tauhidnews.wordpress.com-Saya dilahirkan di Depok Kelapa dua Brimob, 22 April 1976, 34 tahun yang lalu, lahir di Asrama Brimob, Puskesmas di dalam kesatrian 100m dari tempat anak muwahidin di tahan. Besar di lingkungan asrama dan didik dari keluarga polisi, karena bapak adalah polisi saya dibesarkan bukan dari keluarga yang fokus terhadap pendidikan islam atau keluarga yang menanamkan nilai nilai islam sejak dini sehingga kami mengenal islam hanya ketika aktif di rohis keislaman di SLTA di bilangan Jakarta – Pusat.

Awalnya adalah ketika saya sekolah di Jakarta pusat di jalan Budi utomo sekolah yang selalu terlibat tawuran di Jakarta waktu itu. Saya benar–benar jahiliyah sekali sering tertangkap polisi, kodim, koramil dan bahkan sering terluka terkena sabetan celurit di tangan, di kepala dll.

Tapi disinilah saya mendapat hidayah dengan mengenal pergerakan islam, tanzim yang pertama saya adalah dari madrasah hasan Al Banna yaitu Ikhwanul Muslimin, kami aktif di dalam tarbiyah ditahun 1994–an yang ketika itu tertarik karena kasus pembantaian muslim Bosnia di Sebrenica, Palestina, Invasi Rusia terhadap Chechnya, Khasmir, dan kemenangan mujahidin di Afaistan. Waktu itu saya sebagai seorang muslim terusik rasa solidaritas sesama muslim. Bukankah muslim itu bersaudara: “Perumpamaan orang – orang beriman dalam hal mencintai saling menyantuni adalah seperti tubuh, jika ada satu anggota tubuh yang sakit, niscaya yang lain ikut merasakannya sakit demam.”

Mulailah ikut daurah – daurah di puncak oleh ikhwah ikhwah ini dan waktu itu kami dibekali dengan materi tentang ma’rifatullah wa ma’rifatil islam, ihsan, ghozwul fikri dll yang akhirnya saya pun bergabung dalam halaqoh – halaqoh dan taklim seperti tatsqif, mabit, dan perangkat – perangkat tarbiyah ini di setiap tempat hingga demo – demo palestina dan stiker – stiker ramadhan dll. Pendek kata jadilah saya menjadi aktifis remaja masjid dan rohis di sekolah, ini di tahun 1994-an dan tahun 1995-an. Saya waktu itu gak tahu apa nama jama’ah ini tapi dari buku – buku rujukan kami waktu itu adalah

– Al Islam karangan Sa’id Hawa

– Jundullah ( membina angkatan mujahid Said Hawa)

– Risalah Pergerakan (Hasan Al Banna)

– Majmu’ Rosail : Hasan Al Banna

– Al Qiyadah wal jundiyah: Mustafa Masyur)

Ada lagi satu buku ajaib (kata imam Samudra) yaitu ayyaturahman fie jihadil Afganistan karangan Syeikh Abdullah Azzam yang diterbitkan oleh GIP (Gema Insani Press) diterjemahkan oleh Abu Ridho, dan masih banyak lagi yang sampai sekarang masih saya simpan di rumah.

Dari buku – buku ini saya yakin ini adalah “AL IKHWANUL MUSLIMIN” tapi kita tidak pernah dikasih tahu oleh mentor kita (murobbi) jama’ah apa kita dan ciri dari pergerakan adalah sami’na wa atho’na, itu saja.

Waktu itu saya yakin sekali bahwa jama’ah ini adalah yang terbaik karena dari segi fikroh, aqidah, ibadah, manhaj, jihad sepertinya di terdepan dan lagi paling peduli terhadap penderitaan kaum muslimin. Setelah lulus sekolah SMU waktu disana itu ditahun sekitar 95-an saya melanjutkan ke pesantren di Kediri jawa timur di Al-Falah II, disana sampai 1997, saya ikut mendaftarkan ke Kepolisian karena desakan orang tua.waktu itu Murobbi saya tidak melarang dan saya pun mengikuti saran orang tua dikarenakan kakak kandung saya (Agus widodo) sudah mengikuti pendidikan kepolisian di Lido, maka sayapun mendaftar di polda metro jaya di Jakarta tempat dimana saya di tahan sekarang.

Masuk bulan juli 1997 dan lulus juni 1998, dan penempatan pertama adalah di Kompi Dalmas Sat Samapta metro jaya, tapi selesai pendidikan bukan kemudian menjadi futur tapi saya mencoba mengimbangi dengan tholabul ilmi di sela-sela kesibukan saya sebagai seorang polisi, sayapun mendaftar di PBAT AL HIKMAH (Bahasa arab ) 2 tahun di Mampang Jakarta selatan angkatan 1998 dan lulus tahun 2001.

Entah mengapa jama’ah yang saya ikuti kemudian menjadi sebuah partai yang namanya Partai Keadilan, waktu saya tidak terlalu paham kenapa harus menjadi sebuah partai, dan kenapa Demokrasi yang dulunya mereka antipati sekarang mereka menjadikan sarana untuk tamkin, alasannya macam-macam seperti yang saya dengar di antaranya adalah:

-Kami mengakui bahwa Demokrasi bukan dari islam dan bukan sistem ideal tapi dia masih lebih baik dari pada Tirani.

-Agar kaum Muslimin mendapatkan kemaslahatan dan menjaga agar sekularisme tidak merajalela.

-Bahwa didalam masih lebih baik ketimbang di luar (teriak-teriak) demi menjaga maslahat taqwa dll.

Ini yang saya tahu, dan saya tidak punya kapasitas memprotes kecuali diam, dengar dan taat apalagi saya sudah masuk ke polisian jadi bisa jadi pertimbangan tadi menjadi alasan.

Rujukan mereka sangat banyak tentang sikap ini dan ini bagian dari ijtihadnya mereka, diantara ulama yang menjadi rujukan adalah Dr.Yusuf Qordowi lihat kitab-kitap mereka fikih awlawiyat, fikih Siyasi, Manhaj Haroki (Syekh munir Ghodan) dll.

Dan saya dulunya orang yang membela habis-habisan sikap ini, karena memang kita ngaji bukan fokus tauhid, entah wala’ wal baro’ yang dulu pernah dikaji sebagai konsekuensi La ilaha illallah tidak lagi di bahas. kami ngaji sekarang pembahasannya ya politik terus, sementara ruhiyah kami kosong. ini berlangsung hingga 2007. Sejak 1998, sepanjang tahun inilah saya menikah dengan istri pertama di tahun 2001, dan setelah operasi dari Aceh, saya mendengar kejadian bom Bali yang sebelumnya ada Bom-bom Natal, kenapa hati ini sepertinya takjub, senang dan entah mengapa hati mengatakan “hebat benar orang-orang ini” dan apa motifasi dari orang ini, jelas ini sangat menarik bagi saya.

Saya awalnya hobi mengoleksi peristiwa-peristiwa besar yang berkaitan dengan dunia islam seperti; Palestina, Black september (serangan WTC), bom Bali, bom diTanzania dan Darussalam, Taliban di Afganistan, sampai sekarang koran-koran, majalah-majalah itu saya kumpulkan dan saya kliping, termasuk bom Bali saya mempunyai bukunya Imam samudra (Aku memburu Teroris), membongkar JI (Nasir Abbas), Ali imron sang pengebom (Ali imron). Buku-buku ini sangat menarik untuk di bahas dan di kaji. Berangkat dari mana sehingga bisa menjadi seperti ini.

Yang menarik, ada 1 buku yang pernah saya sebutkan, didalam Tarbiyah Jihadiyah karangan Abdulldh Azzam, dikatakan: ”Bahwa barang siapa yang mengatakan bahwa dien ini tidak ditegakkan oleh darah-darah syuhadah, hancurnya tulang dan serpihan daging maka mereka tidak memahami hakikaat dari agama ini dan dia sudah mimpi disiang bolong”.

Mulailah saya protes sedikit-sedikit kepada Murobby (mentor saya) dengan sikap ikhwah-ikhwah di parlemen ini tidak benar, tidak islami dan tidak syar’i.

Kesipulan saya singkat saja bahwa peristiwa diatas dan buku-buku yang telah saya baca adalah sikap baro’ atau wala wal baro’ kepada musuh-musuh ALLAH yang memerangi islam dan kaum muslimin. Dan sayapun menganggap bahwa yang dilakukan teman-teman (Parlemen) Cuma buang energi,yang hasilny gak ada untungnya. Bisa-bisa nasib teman-teman seperti FIS (Front islamic…. ) atau HAMAS (harokah al muqowwamah islamiyah) dan partai Refeh di turki yang ujung-ujungnya dikadali, ditipu dan di bubarkan.

Mulailah saya berinisitif membentuk firkoh jihadi kelompok-kelompok kecil yaitu yang saya ambil dari Mutorobbi (binaan saya) karena memang saya juga Murobbi yang pegang tiga kelompok halaqoh yang saya saring dari mereka yang berani dan nekat. Dan beberapa teman dari korsad DPP PKS ada yang bergabung dan kepanduan dari DPD PKS pun juga saya tarik untuk i’dad ‘askary dalam bentuk membuat Club Air Softguns yaitu basic 860 (yaitu basis surat Al Anfal ayat 8 dan 60, ayat ke 60 artinya ”Persiapkan dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan pasukan kuda yang dapat menggentarkan musuh-musuh ALLAH dan musuh-musuh kamu (Al Anfal 60)

Club ini bubar karena saya mulai masuki dari teman-teman yaitu murid-murid ust Aman dan saya diaggap teman-teman melatih mereka atau mengajak main mereka tanpa melalui syuro, saya kemukakan alasan bahwa mereka murni main bayar kepada saya dan tidak ada tendensi apa-apa karena ketika saya ajak main sempat ketemu anak-anak binaan saya ini dengan kelompok Ustazd Aman yang waktu itu ada Yudi (disini ada ke anehan dari teman-teman jamaah Tarbiyah (PKS) dengan teman-teman baru sekarang yang berjenggot, celana cungkrang (diatas mata kaki). Kasus ramai di mailist-mailist karena saya ada agenda lain.

Tapi ternyata teman-teman ust Aman juga mencurigai saya hingga persoalan ini tidak selesai sampai sekarang. Dan bagi saya ini menjadi duri ketika di Jantho Aceh, wallahu ‘alam.

Kembali kejamaah saya dulu, sebetulnya saya seperti ini terlibat kepada jaringan teroris ini tak aneh lagi bagi mereka karena baik dijamaah ikhwan maupun di kantor saya telah aktif untuk berda’wah dan selalu mentahridh (memotifasi) rekan-rekan untuk hubbul jihad da hubbul syahadah.

Tapi untuk Thogut saya belum paham. walaupun tahu Thogut inipun adalah syetan, bisa sesuatu yang di ta’ati, dicintai selain dari ALLAH. kalaupun saya polisi keadaan saya jangan sampai melebihi ketaqwaan saya kepada ALLAH dan Rasulnya, begitu saya beralasan.

Tapi beberapa teman ada yang menawarkan beberapa buku seperti Millah Ibrahim dan Syirik Demokrasi yang harus baca dan penting, dan juga beberapa pembahasan tentang siapa Thogut yang di karang oleh seorang ustadz yang pernah terlibat dalam bom Jati jajar (Cimanggis Depok) dimana saya pernah bertugas disana. Buku-buku ini sempat dilarang dibaca oleh murobbi saya dan dilarang bergaul kepada orang-orangnya entah kenapa saya tidak tahu, pokoknya perintahnya begitu dan dia bilang kalau gitu semua orang kafir semua. Akhirnya tulisan-tulisan itu saya simpan kembali.

Ada beberapa ganjalan-ganjalan dihati ini dan gejolak yang dalam tentang pembahasan buku-buku ini yang saya menganggab bahwa jama’ah saya dan pekerjaan saya adalah masalah besar bagi akhirat saya na’uzubillah.

Oh iya hampir lupa, saya waktu di Aceh (tugas operasi disana) bertugas sebagai pasukan dan Da’i (penceramah) karena ada sedikit kemampuan sebagai penceramah dan bisa sedikit berdalil. Saya menikah lagi di Aceh, tapi baru di tahun 2005 sehabis tsunami baru saya bawa kejakarta, untuk ini alasannya panjang dan saya menikahi atas dasar ibadah dan karena saya suka dengan dia (walaupun saya polisi yang gak boleh poligami) saya suka dengan tantangan itu. lebih dari itu adalah priprivasi dan hanya ALLAH yang tahu.

Ternyata ini menjadi masalah di jamaah saya karena di anggap tidak syar’i karena tidak melalui proses yang berlaku seperti istri pertama (ta’aruf) dan saya disuruh menceraikan istri ke dua tanpa alasan syar’i yang jelas. Semenjak tahun 2007 akhir saya non aktif di jama’ah ini sebagai bentuk protes saya dan beberapa ikhwah mengajak bergabung lagi, tapi saya masih sibuk dengan fikroh yang baru ini.

Ada yang aneh dan bahkan saya menganggap ini adalah ujian yang berat dari ALLAH untuk menuju kepada al-haq ternyata tidak mudah.

Dijama’ah yang lama (Ikhwan) saya mulai dijauhi dan di ta’zir karena tak ngaji lagi dan mulai di anggap mempunyai fikroh sesat, dijama’ah yang kiranya mau menerima saya justru di anggap intel hanya gara-gara saya masih Thogut (waktu itu belum keluar) .

Fikroh yang baru ini buat saya luar biasa selalu mengusik saya setiap hari yang ternyata saya adalah Anshorut Thogut (Pasukan/penolong-penolong Thogut) yang jelas kekafiranya.

Dan sayapun mulai berfikir untuk keluar secara baik-baik dan sopan tapi kerjaan saya sedikit-sedikit terganggu. Dengan bisnis baru yaitu Air Soft Gun yang Alhamdulillah sepertinya ALLAH memberikan jalan-jalan kemudahan dan keuntungan ini sangat luar biasa. Kesibukan bisnis ini sedikit melupakan masalah saya dengan jama’ah lama saya dan jama’ah baru ini ( fikroh baru yang justru menfitnah terus sampai hari ini) .

Saya tidak menyangka bahkan sampai hari ini saya menulis, bahwa bisnis Air Softgun ini sangat barokah karena saya tidak lagi khawatir tentang ma’isyah setelah keluar dari kedinasan. Ini adalah bentuk jawaban atas kekhawatiran saya dulu jika saya keluar dari Thogut ini maka saya makan apa lagi dan kerja apa untuk menghidupi dua istri dan tiga anak-anak yang masih kecil-kecil, Allahu musta’an.

Ya akhi, Allah memberi kemudahan bagi hamba-hambanya yang jujur dan berdo’a terlebih yang memang mau beristiqomah dari jalannya. Kekhawatiran berganti keteguhan dan ketenangan.

Entah kenapa saya di gamparin oleh komandan saya (Kasat) hanya gara-gara saya meninggalkan pos di Bojong Sari (Sawangan) yang belum pada waktunya. Maka sayapun disortir, pertama karena protes saya karena di hukum yang melecehkan di gampar tiga kali, dipukul perut, digundulin dan menghormati bendera satu jam lebih. Kemudian dua minggu tidak masuk, dan saya pernah menginap di rumah Yudi di Ranco, tapi karena ikhwan teman-teman Yudi tidak suka sama saya, sayapun pulang dan kemudian saya di tangkap kembali dan diserahkan pada Provost.

Tidak lama kemudian ternyata saya di periksa lagi dengan kaitan poligami entah siapa yang mengadukan hal ini, tapi saya santai menanggapinya. Dalam pemeriksaan saya di suruh pilih mempertahankan baju polisi atau menceraikan istri saya, dalam kasus ini dilakukanlah sidang kode etik atas kasus saya yaitu desersi dua minggu dan poligami.

Ya akhi ini adalah ujian kedua saya didalam mempertahankan tauhid ini, setelah yang pertama dijauhi oleh jama’ah ikhwan dan dicurigai jasus oleh jama’ah baru. Dan kedua di suruh patuh terhadap Undang-undang positif (UU Thagut-ed) yang melarang taaddud (poligami).

Ya akhi ini ujian bagi orang yang ingin bertauhid, dan iman bukan angan-angan kosong tapi amal perbuatan ”Apakah kamu mengira kamu masuk surga, padahal belum nyata bagi ALLAH orang-orang yang berjihad diantara kamu dan belum nyata bagi orang-orang yang sabar (Ali imron 142)

Tidak lama setelah sidang saya memutuskan keluar dan tidak lagi berdinas hingga saat ini dimulai dari pertengahan Agustus 2008 dan hingga di bulan juni tanggal tiga 2009 saya PTDH (pemberentian tidak dengan hormat) alias di pecat, disaat yang sama saya juga menggarap da’wah di Aceh, hingga hasilnya seperti ini. Adapun surat tentang PTDH saya, BAP yang dulu tentang itu ada di rumah boleh kepada siapa yang mau melihatnya. Ini saya buat apa yang saya alami dan lihat. Dan ALLAH adalah saksi atas perbuatan saya.wallahu a’lam,

Wassalammu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh

Muhammad Sofiyan Atsaury/Abu Ayyash


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: