Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Dimana Posisi mu? Di barisan Pembela Tauhid atau Di Barisan Pembela Thaghut?

Dimana Posisi mu? Di barisan Pembela Tauhid atau Di Barisan Pembela Thaghut?

Segala puji hanya milik Allah, Rabbul ‘aalamiin, Shalawat dan Salam semoga Allah limpahkan kepada penutup para Nabi, keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du,

Saat Allah Ta’ala mewajibkan kaum muslimin di Mekkah untuk hijrah ke Madinah, maka orang-orang yang mampu untuk hijrah, mereka hijrah, kecuali sejumlah orang yang berat meninggalkan kampung halaman, harta benda dan keluarga. Serta mereka lebih mengutamakan hal itu terhadap hijrah ilallah. Pada saat perang Badar, mereka dipaksa oleh kaum musyrikin untuk ikut dalam barisan mereka menghadapi kaum muslimin, dan di antara mereka itu ada yang terbunuh oleh panah kaum muslimin, maka Allah Ta’ala menjelaskan perihal nasib mereka pada saat kematian dan tempat akhir mereka :

“Sesungguhnya, orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya, “dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisaa: 97)

Ucapan malaikat <dalam keadaan bagaimana kamu ini?> adalah: di barisan mana kalian ini, apakah di barisan anshar tauhid ataukah di barisan kaum musyrikin dan anshar thaghut?

Dan tatkala realita mereka adalah sangat jelas berada di barisan kaum musyrikin dan aparat thaghut serta mereka tidak bias berkilah lagi, maka mereka berlindung kepada alasan ketertindasan dan mereka tidak mengatakan bahwa “keyakinan kami masih lurus”, karena mengetahui bahwa alasan tersebut tidak berguna. Tapi apakah alasan ketertindasan yang mereka utarakan itu diterima?? Ternyata tidak! Dan justru malaikat malah mengatakan <bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?>, di dunia mereka itu halal darah dan hartanya, sedang di akherat maka <orang-orang itu tempatnya neraka jahannam>.

Paksaan masuk dalam barisan anshar syirik tidaklah menjadi alasan syar’I, karena di awal mereka sendiri yang salah, dimana mereka tidak hijrah saat mampu untuk hijrah, sehingga akhirnya mereka dipaksa bergabungan dalam barisan anshar syirik.

Bila ini adalah status orang yang menjadi anshar thaghut padahal mereka dipaksa, maka bagaimana dengan orang-orang yang menjadi anshar thaghut secara sukarela, dan bagaimana dengan orang-orang yang merasa bangga?

Sedangkan di antara thaghut terbesar zaman ini adalah Undang-Undang Dasar, hukum buatan dan Undang-Undang turunannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu, mereka hendak Berhakim Kepada Thoghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa: 60)

Allah Ta’ala menyebut hukum atau Undang-Undang selain yang diturunkan-Nya sebagai thaghut yang harus diingkari dan dijauhi, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): “ibadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu!” (An- Nahl: 36)

“Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah memegang erat ikatan tali yang sangat kokoh yang tidak akan putus. (QS. Al Baqoroh: 256)

Sedangkan tali ikatan yang sangat kokoh yang tidak akan putus itu adalah Laa ilaaha illallah.  (Jadi, barang siapa yang INGKAR KEPADA THAGHUT dan BERIMAN KEPADA ALLAH, maka dia telah memegang kuat-kuat ikatan LAA ILAAHA ILLALLAH… -ed)

Bila kalian telah mengetahui bahwa hukum buatan manusia, atau UUD dan Undang-Undang turunannya, atau syari’at bikinan manusia –atau selain syari’at Allah- itu adalah di antara bentuk thaghut yang harus dijauhi dan diingkari, maka saya bertanya kepada kalian : Apakah kalian berada di barisan anshar tauhid ataukah di barisan aparat thaghut setelah kalian mengetahui bahwa dinas kalian ini (bertugas mempertahankan, melindungi dan memelihara keutuhan dan kedaulatan Negara) (UUD 1945, bab 12 pasal 30 ayat 3 perihal Tugas TNI), padahal yang kalian lindungi ini adalah Negara berhukum thaghut ?

Bukankah tugas pokok kalian di antaranya adalah (mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD NKRI 1945) (UUD RI No. 34 Th.2004 tentang TNI)?

Bukankah kalian telah mengikrarkan syahadat syirik, yaitu (setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945) (point pertama sumpah prajurit)?

Dan bukankah kalian telah menyatakan bahwa (Kami warga Negara RI yang BERSENDIKAN Pancasila) (point pertama Sapta Marga)?

Coba kalian posisikan diri kalian sendiri dengan firman Allah Ta’ala ini:

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah.” (QS. An Nisaa: 76)

Allah Ta’ala telah memvonis yang berjuang/berperang di jalan thaghut sebagai orang-orang kafir dan kawan-kawan syaithan.

Sedangkan nasib kalian di akherat bila tidak taubat adalah sebagaimana firmannya Ta’ala: “Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat dan bala tentara iblis semuanya.” (QS. Asy Syuraa: 94-95)

Oleh sebab itu bersegeralah bergabung bersama dengan Anshor Tauhid dan keluarlah dari dinasmu yang kafir ini!

Kalian juga wahai para penegak hukum dari kalangan polisi, bukankah yang kalian tegakkan itu hukum thaghut? sebagaimana kitab yang kalian sucikan:

(Kepolisian Negara RI sebagai alat Negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat serta menegakkan hukum) (UUD 1945 bab 12 pasal 30 ayat 4)

Kalian ini alat bagi Negara dan pemerintah thaghut dalam menjalankan hukum kafirnya. Nilailah diri kalian denga firman Allah Ta’ala ini:

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya (keimanan) kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 257)

Janganlah kalian beralasan bahwa kalian hanya menjalankan tugas hukum dan perintah pimpinan, karena itu semua tidak bias merubah status kalian dan ancaman Allah Ta’ala terhadap orang-orang kafir seperti kalian:

“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka) mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata : “alangkah baiknya andaikata kami ta’at kepada Allah dan taat (pula) kepada Rosul.” Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka ‘adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (QS. Al Ahzab 64-68).

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan perihal dua kelompok dari para penghuni neraka yang akan muncul di kemudian hari, di antaranya [orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukuli manusia. (HR.Muslim dari Abu Hurairah)]

Orang-orang itu di antaranya adalah pemerintah dan para thaghut kalian yang menindas manusia, sedangkan cemeti yang merupakan alat untuk menindas bukan untuk mengayomi adalah kalian dan dinas yang seperti kalian. Jadi apa kalian ini polisi penegak hukum Allah atau penegak hukum thaghut?

“Itulah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka, maka orang-orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka. Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka, lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka akan dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): “Rasakanlah ‘adzab yang membakar ini.” (QS Al Hajj : 19-22)

Dan apakah orang bersumpah untuk setia dan taat penuh kepada thaghut itu berada di barisan pembela tauhid ataukah di barisan abdi dan hamba thaghut??

Jawabannya jelas, bahwa dia ada di barisan abdi thaghut. Dan kalian wahai para PNS bukankah berdasarkan Peraturan Pemerintah kalian No. 21 Tahun 1975 pasal 6 kalian telah mengikrarkan bai’at syirik berikut ini:

“Demi Allah, saya bersumpah:

Bahwa saya untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah. Bahwa saya akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab…”

Makna sumpah kalian ini adalah: “Demi Allah, saya akan kefir kepada Allah dan setia kepada thaghut.” Jangan kalian berkilah karena itu adalah makna yang sebenarnya. Coba perhatikan vonis Allah Ta’ala kepada orang semacam kalian dan bahkan dia lebih ringan daripada kalian:

“Sesungguhnya orang-orang yang murtad ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaithan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu berkata kepada orang-orang yang benci terhadap apa yang diturunkan Allah : “Kami akan mentaati kamu dalam beberapa (sebagian) urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka”. (QS. Muhammad: 25-26)

Perhatikanlah baik-baik! Allah memvonis seseorang MURTAD karena sebab ucapannya kepada orang-orang kafir: “Kami akan mentaati kamu dalam beberapa urusan”, maka bagaimana halnya dengan kalian yang berikrar kepada PEMERINTAH KAFIR: “kami akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945, Negara dan Pemerintah” dan “akan mentaati segala peraturan perundang-undangan…”

Jadi jujurlah kepada diri kalian sendiri, di barisan mana kalian ini ?? Apa di barisan penegak tauhid atau di barisan thaghut? Jangan berkilah bahwa keyakinan kalian masih bagus karena keyakinan bermanfaat hanya saat kondisi dipaksa saja. Segeralah berlepas diri dan bertaubat sebelum datang waktu:

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia) pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”, Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka. Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al Baqoroh 166-167)

Oleh sebab itu, bersegeralah berlepas diri dari thaghut kalian sebelum datang waktu yang mana penyesalan tidak berguna lagi….

Wal hamdulillahi Robbil ‘aalamiin.

Sijn Sukamiskin Bandung UB 30

Rabu 2 Sya’ban 1428H

Abu Sulaiman


12 Komentar

  1. Jundullah mengatakan:

    Allohu Akbar

  2. Wildan Hasan mengatakan:

    Dari tulisanmu aku tahu bahwa anda adalah kelompok teroris yang selalu membuat onar di negeri ini. Tinggalkanlah faham wahabi sesat yang kalian anut ini sehingga menjadikanmu sebagai teroris. Ingatlah wahai saudaraku bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin menyebarkan kedamaian disekitar kita bukan membuat onar seperti yang kelompok kalian lakukan.
    Sekali lagi tinggalkan wahabi sesat itu yang sering menuduh Muslim lain kafir. Jika yang engkau tuduh itu ternyata orang beriman, maka predikat kafir itu akan berbalik pada diri anda sendiri.
    Wassalam

    • teroris ala siapa ??ala amerika kah???maaf sodara antum salah menisbatkan ato mentahdzir kami..sesungguhnya apa yg di lakukan oleh para pembela tauhid adlah ingin menegakan syareat islam…dan bagi siapa saja yg tidak mau berhukum dngn islam maka bukalah Al Qur’an Al Karim surah Al Maidah ayat 44,45, dan 47…itulah jwaban dari Allah bagi hambanya yg tidak mau berhukum dengan hukum Allah…

  3. ABU JIBRIL mengatakan:

    TERIMA KASIH AKHI PENCERAHANNYA.

  4. fajarsinatrya mengatakan:

    Subhanallah wallahu akbar.

  5. Muh.fariz mengatakan:

    Nama jundullah begitu bagus,menggambarkan sosok yg berani membawa bendera tauhid di hadapan para thogut la’natullah alaih,.namun sangat di sayangkan nama tersebut tdk berkesesuain dengan kepribadiannya justru menghujat para pembela tauhid.apkh anda sadar dngn ucapan tersebuat syaitan dan para wali-walinya gembira karena telah memiliki pengikut/teman baru untk bersama2 menghujat para mujahid,serta menuduh mereka sebagai pembuat keonaran dan membawa pemahaman yg sesat bagi ummat..

  6. Mata Yang Fana mengatakan:

    KECACATAN AKIDAH PARA PENYERU KHILAFAH DAN DAULAH ISLAMIYAH

    Sebagaimana telah penulis sampaikan pada http://www.facebook.com/photo.php?fbid=365388883471831&id=327039677306752&set=a.365388880138498.97107.327039677306752&refid=17&m_sess=soBZKzHF-8bn4CaeA&_ft_a=327039677306752&_ft_tf=365388883471831&_ft_tpi=327039677306752&_ft_ti=7&_ft_fth=e31732ebfb3b8125&_ft_time_ft=1329278723

    Mereka memahami ayat al-Quran dan hadits dengan akal pikiran sendiri, seperti pada surat al-Maidah ayat 44 yang artinya :

    “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir”

    Mereka menempatkan ayat ini untuk mengkafirkan Pancasila, UUD ’45 dan orang islam yang memeliharanya. Silahkan baca tulisan mereka (termasuk pemikiran-pemikiran Abu Bakar Ba’asyir) di : https://thoriquna.wordpress.com/dimana-posisi-mu-di-barisan-pembela-tauhid-atau-di-barisan-pembela-thaghut/

    Allah ta’ala menurunkan ayat ini berkenaan tentang dua kelompok di kalangan Yahudi di masa Jahiliyah. Bukan dipasangkan untuk orang islam.

    Ayat ini tidak sepatutnya dipahami secara harfiah/akal pikiran sendiri.

    Rasulullah SAW berpesan yang artinya :

    “Barangsiapa berkata mengenai al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di neraka” (HR Tirmidzi)

    Lalu, seperti apa penafsiran yang tepat dari ayat di atas? Walaupun kami bukan wahabi, tapi yang ini (pengikut Ibnu Taimiyah, al-Jauziyah, Muhammad bin Abdil Wahab, al-Albani, dan al-Utsaimin) sepakat dengan kami.
    Penafsiran yang benar adalah dengan ilmunya dan hikmah. Setidaknya, melalui penafsiran ahlinya seperti pada : http://abuzuhriy.com/?p=2833

    Mereka ini bukan Syi’ah, bukan Mu’tazilah, bukan Wahabi, bukan Bahaiyah, bukan pula Ahlus sunnah wal jama’ah. Mereka adalah golongan yang disebutkan oleh Ibnu Umar Rda, seorang sahabat Nabi SAW dalam pendapatnya :

    “bahwa mereka (kaum khawarij) makhluk Allah yang paling jahat, mereka mengambil ayat-ayat Qur’an yang sebenarnya turun untuk orang kafir, tetapi dipasangkannya kepada orang mu’min (Fathul Bari juz 15 hal 313, cet Mustafa Babil Halaby, Kairo, 1959 M)

    Mereka adalah KHAWARIJ baru, yang sejak perang siffin sampai sekarang mempersoalkan khilafah, mereka yang mudah mengkafirkan orang muslim, mereka yang tidak sesuai dengan assawadul A’zhom.

    wallahu ‘alam

    ***

    Silahkan kunjungi :

    http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/11/17625/Syariah/Doktrin_Aswaja_di_Bidang_Sosial_Politik.html

    • afwan sebelumnya jd menurut antum bahwa mengganti hukum Allah ato membuat hukum selain hukum Allah itu tidak menyebabkan kekafiran???? trus apa bedanya para pemimpin yg “katanya muslim” tapi mereka malah rela dan pasrah dengan hukum yg bukan dari Allah dgn jengis khan yg memberlakukakn Ilyasiq (hukum buatan jengis khan yang di nukil dari Al Qur’an injil dan taurat serta di tambah dengan pemikiran dari jengis sendiri) yg telah di vonis kafir oleh para ijma’ ulama yg seperti ulama2 yg antum sebutkan????

  7. garuda yogyakarta mengatakan:

    dasar goblokj, anda sekarang sedang menggunakan shoft ware yg itu juga ada ketentuan/hukum nya yakni hukum buatan manusia, kalo anda berjalan di jalan dg mengambil sisi kiri juga anda sedang menjalankan hk buatan manusia, coba anda jalan di sisi kanan, anda akan ditabrak. belajarlah Islam dg benar dulu

  8. hamada gabrielle mengatakan:

    Kenapa semua orang cenderung ingin menjadi orang arab? Bahkan cenderung berbuat kerusakan dimuka bumi. Bukan menjadikan diri sebagai suri teladan dan penebar rahmatan. Memaksakan hukum yang tidak eksis, sadari bila eksis seharus tidaklah perlu ada paksaan. Islam or aslama (qs:3/83) adalah keadaan. Bukan kata benda abstrak yang dapat dimilki. Tapi sebuah keterangan keadaan/ adverb suatu masa yang sekarang sudah tidak ada. Disaat dimana bila mencuri akan dipotong tangan tetapi tidak bisa dilaksakan karena masyarakat telah penuh rahmat tidak dalam kekurangan sehingga tidak ada pencuri. Setuju mata untuk mata, dan nyawa untuk nyawa, tetapi bila memang tidak ada kasus tidaklah perlu untuk mencari kesalahan mengada-ada.

    Aslama adalah keadaan kepatuhan fitrah manusia terhadap hukum alam yang menjadi hukum exact sebab akibat. Ini merupakan hukum Allah dalam harmony surgawi, bukan harmony neraka yang menjatuhkan satu dengan yang lain hingga terperosok makin dalam. Jadi isu utama adalah bagaimana kita dapat mencapai itu sebagai sebuah kaum yang mau merubah nasib, bukan dengan menjadi frontal tetapi menjadi penyegar disaat haus, juga penerang disaat gelap. Menjadi rahmatan sehingga dunia mau mendengar kita bukan menebar kebencian sekterian. Inilah capaian yang harus diraih bagi sebuah kaum. Keluarlah dari system yang chaos ini dan masuklah kedalam gua dan tafakur mendalam, coba lihat dari sisi gelap gua kearah system yang terang jelas terlihat itu. Jadilah cahaya bagi lainnya bila telah kau temukan jalan yang hanya dua itu. Jalan yang pernah di anugrahkannya kepada orang yang pernah diberi nikmat. Hingga mereka pada akhirnya tampil terdepan dan bertindak atas nama Allah dimuka bumi ini. Membawa dan berjalan seiringan dengan kebesarannya.

    Cobalah untuk direnungi, nilai yang dapat diaminkan oleh semua orang kebenarannya. Semua agama bahkan semua bangsa. Carilah nilai setara nilia persamaan ini yang merupakan kebenaran semua orang, universal truth. 1+1=2. Jadilah seperti nilai itu dan pencerah bagi semua orang.

    • andai kita jujur menilai apa yang di bawa sang Rasululloh dan apa yang ia ajarkan ke pada kita maka kita akan pahami apa tujuan dari hidup ini..tapi manakala penilaian kita hanya terpaku pada penilaian orang2 umum yg notabene telah tertipu dengan misi dari pengkerdilan makana islam mka yang terjadi kita terdekte menjadi orang2 yang sebagaimna gambaran orang2 kafir,,secara tidak sdar kita telah di cuci otak oleh mereka dengan banyaknya hiburan dan dongeng2 khayalan dan di bawa kedalam alam duniawi yg sesat dan penuh intrik polotik menjerumuskan diri2 ini kedalam limpur2 dosa..apa guna hukum di ciptakan oleh Alloh Ta’ala apabila pada intinya kita ingkari dan memilih hukum2 buatan manusia yg berdasar pada akal pikiran socrates dan sejenisnya…bukalah kembali kitab Al Qura’an Nur Karim niscaya kita dapati keterngan2 dan kisah2 yg mengajak kita kembali ke TauhiduLLOH..jgn terpaku pada 1+1=2 klo anda terpaku maka imajinasi anada dan ruang gerak berfikir anda hanya akan jadi robot yg telah di program untuk mengikuti tuanya(KAFIR) ingatlah akan faktor x yg tiba kita tebak dan prediksi hasilnya..takdir tidak bisa kita prediksi karna takdir itu kuasa ALloh aja wa’ala…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: