Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » akhbar » Bayan Atas Upaya Mediasi Ulama ‘Salafi’ Yaman agar Mujahidin Al Qaeda Melakukan Gencatan Senjata dengan Pemerintah Murtad Yaman

Bayan Atas Upaya Mediasi Ulama ‘Salafi’ Yaman agar Mujahidin Al Qaeda Melakukan Gencatan Senjata dengan Pemerintah Murtad Yaman


Bayan Atas Upaya Mediasi Ulama ‘Salafi’
Yaman agar Mujahidin Al Qaeda Melakukan
Gencatan Senjata dengan Pemerintah Murtad
Yaman
***
Apakah kalian lebih memilih hukum Jahiliyah?
Oleh
Syaikh Ibrahim bin Sulaiman al Rubaish
Hafizhohulloh
Pada tahun yang lalu bulan Dzulqoidah 1434,
serombongan Syaikh mendatangi kami;
diantaranya yakni: Abdulloh Al Banna, Amin
Jaffar, Muhammad Al Wadi’i dan Saleh Al
Wadi’i. Mereka menawarkan gencatan senjata
antara kami dan Pemerintah murtad Yaman.
Kami diharuskan menghentikan serangan dan
sebagai gantinya Pemerintah tidak akan
mengejar kami, membebaskan para mujahidin
yang tertawan dan membiarkan kami bergerak
bebas dalam berdakwah.
Para Syaikh pun menyebutkan bahwa mereka
telah bertemu dengan Kepala bidang Politik dan
Keamanan. Dan mereka telah menawarkan
perihal ini kepadanya; dan dia menyetujuinya.
Di sisi lain Mujahidin menyatakan bahwa
secara personal, kami (mujahidin –pent) dapat
menjangkau mereka dan mengalahkan pihak
Pemerintah –bi’idznillah-.
Namun menimbang maslahat dan kepentingan
Umat. Dimana proyek jihad yang dilancarkan
adalah untuk Umat. Sehingga jika dengan itu
(gencatan senjata –pent) kepentingan Umat
terpenuhi maka kami pun menyetujuinya.
Kemudian salah seorang dari mereka
(rombongan Syaikh) berkata, “Tulis dan
utarakan keinginan dan tuntutan kalian”.
Maka pertemuan itu menghasilkan kesepakatan
sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Islam dalam seluruh aspek
kehidupan. Al Qur’an dan As Sunah menjadi
pedoman yang diimplementasikan di kehidupan
sehari-hari.
2. Amandemen semua undang-undang yang
bertentangan dengan syariat Islam.
3. Menjaga kedaulatan Negara dengan
menghilangkan seluruh bentuk penjajahan
Amerika berupa manifestasi mereka di darat,
laut dan udara. Dan mencegah intervensi Duta
Besar Amerika dalam urusan Negara.
4. Menghilangkan segala biang kejahatan
seperti bunga Bank dan segala kerusakan
dalam bidang Aqidah dan akhlak yang
ditimbulkan oleh industri media dan pariwisata.
5. Memonitor organisasi-organisasi kafir yang
bergerak di Negara Yaman. Dan mengusir
mereka yang terbukti melakukan mata-mata
terhadap Negara atau melakukan Kristenisasi
maupun perusakan moral dan akhlak
masyarakat.
6. Melakukan peradilan dan musyawarah secara
independen. Dimana semua itu dibawah
pengawasan para Ulama terkemuka dalam
bidang Syariah.
7. Membuka jalan dakwah bagi para Da’I dan
tidak melakukan pembatasan apapun terhadap
materi dakwah. Pembukaan pusat-pusat studi
Syariah dan institusi-institusi Syariah.
8. Menghentikan segala bentuk kedzaliman dan
ketidak-adilan terhadap rakyat baik itu berupa
pajak, retribusi maupun sejenisnya.
9. Membatalkan segala bentuk persetujuan
mengenai penguasaan sumber daya Negara
(minyak, dsb). Dan pemindahan penguasaan itu
kepada mereka yang sudah dikenal oleh Umat
sebagai orang-orang yang amanah.
10. Membebaskan seluruh tawanan sipil yang
ditangkap tanpa kejelasan kesalahan mereka.
Dan seluruh tawanan dari Mujahidin baik yang
berkaitan dengan jihad di Yaman maupun
lainnya.
11. Setelah melakukan kesepakatan kedua belah
pihak (Mujahidin dan Pemerintah Murtad
Yaman –pent) diberikan waktu sekitar 6 – 8
bulan untuk memenuhi kesepakatan.
12. Adanya jaminan dari para Syaikh dan tetua;
yang mereka itu telah disetujui oleh kedua
belah pihak.
Kesepakatan dikirim kepada para Ulama yang
ditunjuk sebagai mediator.
Setelah beberapa waktu mereka datang dan
menyatakan persetujuan mereka sebagai
mediator. Dan mereka tidak keberatan dengan
kesepakatan itu.
Kemudian para Ulama menawarkan
kesepakatan tersebut kepada Kepala bidang
Politik dan Keamanan. Dia meminta saran dan
menjadikan mereka sebagai pengawas jalannya
mediasi.
Para tetua meminta pihak Pemerintah
melakukan gencatan senjata sementara selama
dua bulan. Sehingga mereka memiliki
kesempatan untuk berkomunikasi dan
berdiskusi dengan kedua belah pihak.
Setelah beberapa waktu mereka mengabarkan
bahwa Kepala bidang Politik dan Keamanan
menyatakan persetujuannya terhadap negosiasi.
Dan hanya tinggal menunggu tanda tangannya
untuk itu.
Untuk menunjukkan apresiasi-nya, maka Syaikh
Abu Bassir (Nassir Al Wuhayshi); Amir dari Al
Qaeda Semenanjung Arab (AQAP)
menandatangani kesepakatan gencatan senjata
sementara, yang disaksikan oleh beberapa
Syaikh yakni Abdul Majid Al Rimi, Muhammad
Al Zubaidi, Muhammad Al Hashidi dan Murad
Al Qudsi.
Di sisi lain para Ulama berpikir bahwa pihak
Pemerintah akan menandatanganinya dalam
beberapa hari ke depan.
Kami dengan husnudzon menunggu sikap
mereka. Sementara itu pihak Pemerintah selalu
menunda-nunda kesepakatan itu, dengan dalih
kesibukan Presiden. Akhirnya mereka membuat
janji bahwa tanggal 25 Safar 1434 H, mereka
akan menandatanganinya.
Namun, sembari menunggu-nunggu nasib dari
gencatan senjata yang diajukan Pemerintah.
Kami melihat jawaban lain dari gerakan yang
dilakukan Pemerintah. Mereka melakukan
kampanye militer di Ma’rib begitu juga di
Rada’a. Bahkan mereka menempatkan barak-
barak militer Amerika di Marib, Shabwa dan
Hadramaut.
Seolah-olah mereka hendak mengatakan
kepada kami, “Inilah yang akan kalian
dapatkan, jika ingin menerapkan Syariat Alloh.”
Di sisi lain kami terus menunggu hingga hari
yang ditentukan tiba.
Namun, seluruh Ulama mediator tesentak dan
terkejut atas sikap Pemerintah, yang berkhianat
dan tidak menandatangani kesepakatan yang
telah dibuat.
Lain halnya dengan kami yang tidak terkejut
sama sekali ketika mengetahui hal ini. Karena
kami sudah memahami bahwa apa yang
Pemerintah lakukan adalah berdasarkan
keinginan Amerika. Dan kami yakin bahwa
Amerika tidak mungkin menyetujui kesepakatan
yang menguntungkan Islam dan Umatnya.
Kami melakukan kesepakatan dan
penandatangan itu hanya untuk menunjukkan
kepada Umat Islam dan para Ulama. Bahwa
Mujahidin siap dan bersedia menghentikan
perjuangan ketika Syariat Alloh telah tegak dan
diimplementasikan.
Dan kami juga ingin menjelaskan kepada Umat
Islam bahwa keputusan-keputusan yang
diambil Pemerintah ini merupakan pesanan dan
keputusan dari Amerika.
Kami tekankan kembali beberapa hal, berikut:
Pertama: Tujuan kami adalah penerapan Syariat
Alloh. Jadi, jika hal tersebut dapat tercapai
tanpa perjuangan berdarah, maka inilah yang
lebih kami kehendaki. Dan Alloh pun meminta
orang-orang beriman untuk menghindari
pertempuran. Namun, kami tidak bisa berdiam
diri dan menahan tangan kami, sampai Syariat
Alloh tegak di atas bumi ini, meski kami harus
binasa untuk itu.
Kedua: Pemerintah ini benar-benar enggan
untuk menerapkan Syariat Robbul ‘alamin
karena hal tersebut tidak sesuai dengan
kepentingan Amerika. Bahkan jika mereka
memang masih memiliki keinginan untuk
mengabdi kepada Syariat Robb mereka –meski
sedikit- , pasti mereka akan menyetujui
negosiasi awal yang digagas para Ulama
tersebut. Namun nyatanya, mereka bahkan
menutup pintu negosiasi tersebut dari awal.
Hal ini juga menunjukkan bahwa Pemerintah
hanya melakukan dialog kepada siapapun,
kecuali bagi mereka yang ingin menerapkan
Syariat Alloh. Klaim mereka sebelumnya, yakni
peperangan disebabkan kepemilikan senjata
oleh para Mujahidin. Maka kami tunjukkan
bahwa orang-orang Syiah Houti pun hingga kini
masih menggenggam senjata mereka di tangan.
Bahkan mereka memiliki control luas di
beberapa wilayah.
Bahkan jika mereka melakukan genjatan senjata
dengan Syiah Houti. Maka topik yang dibahas
bukanlah mengenai isu kepemilikan senjata
orang-orang Houti. Namun persetujuan untuk
menjaga daerah tersebut dari terealisasinya
penerapan Syariat Islam. Karena Syariat Alloh
adalah penghancur hegemoni ke’Tuhanan’
Amerika terhadap Negara-negara lain. Dan
dengannya akan memotong tangan-tangan
para penjajah dan menghukum para koruptor
dan penjual Negara dan Agama.
Ketiga: Kami memuji pernyataan para Ulama
terkait peristiwa ini. Mereka menjelaskan bahwa
Pemerintah bertanggung jawab penuh atas
konsekuensi dari penolakan gencatan senjata.
Darah yang tertumpah merupakan tanggung
jawab dan kesalahan Pemerintah.
Dan mereka menjelaskan pula, bahwa
Pemerintah murtad ini tidak memiliki minat
terhadap syariat Islam. Hal ini ditunjukkan
dengan penolakan mereka untuk negosiasi.
Kami katakan kepada para Ulama: Bahwa
siapapun boleh tidak setuju dengan metode
kami untuk berkonfrontasi. Namun tidak ada
seorangpun yang tidak setuju untuk
mengimplementasikan Syariah Robb mereka di
kehidupan mereka. Karena ini adalah tanggung
jawab dan kewajiban Umat. Dan tidak boleh
bagi siapapun meninggalkan Syariat Alloh
hanya karena takut dikaitkan dengan Organisasi
Al Qaeda. Karena Syariat Islam bukanlah milik
Al Qaeda, tetapi dia adalah kewajiban dari
Alloh yang dibebankan kepada setiap Muslim.
Dan kewajiban ini dipikul juga oleh para Ulama
sebagaimana Muslim lainnya.
Keempat: Peristiwa ini menjelaskan bagaimana
cara Pemerintah memperlakukan Ulama. Mereka
mempermainkan para Ulama dengan alasan
konyol yakni Presiden sedang sibuk dan tidak
menunjukkan niat baik untuk bertemu dengan
para Ulama, bahkan untuk meminta maaf. Para
Ulama yang seharusnya memiliki peran aktif
dalam proses dialog ini menjadi pihak yang
terpinggirkan.
Bahkan sangat luar biasa ketika sang angkuh
Amerika melalui Duta Besarnya yang
mengumumkan klarifikasi terkait proses
negosiasi ini. Dia mengumumkan pihak mana
yang menyetujui dan pihak siapa yang tidak
setuju untuk berdialog. Tentunya pihak
Mujahidin-lah yang disalahkan. Hal ini juga
membuka mata bagi mereka yang tertutup
matanya bahwa Negara ini dijalankan dari
dalam Kedutaan Amerika.
Kelima: Dengan semua ini ‘hujjah’ telah tegak
bahwa Pemerintah menolak penerapan Syariat
Alloh, bahkan mereka enggan untuk
membicarakannya. Cara damai telah ditempuh
pihak Mujahidin namun dikhianati. Maka yang
tersisa adalah jalan Jihad fie Sabilillah
(Perangilah musuh-musuh kalian sampai
gangguan terhadap kehidupan beragama
lenyap. Sehingga manusia beragama semata-
mata karena taat kepada Alloh) QS. Al
Baqarah: 193.
Maka tidak ada jalan lain selain Jihad dan
I’dad.
Keenam: Peristiwa ini juga menyingkap tabir
bahwa pertempuran ini dilakukan dari dua kubu
(kubu iman dan kubu kekafiran). Mujahidin
melawan Pemerintah Yaman. Yakni (Mujahidin)
kelompok yang menginginkan tegaknya Syariat
Alloh yang penuh keadilan, penghapus
kedzoliman dan penjaga kedaulatan. Dan di
pihak lain yang menolak Syariat Alloh dan lebih
memilih Kedutaan Amerika sebagai pengatur
nasib negara. Bahkan mereka adalah pihak
yang menutup pintu negosiasi.
Pertempuran kami dengan Pemerintah adalah
pertarungan antara pihak Muslim yang berjuang
menerapkan hukum Sang Maha Bijaksana
(Syariat Alloh Al Hakim). Dan pihak lain yang
berjuang untuk merapkan hukum buatan
manusia, menjaga kepentingan Amerika,
memilih berkoalisi dengan Yahudi dan Nasrani;
dan bergabung dalam koalisi yang memusuhi
Islam.
Oleh karena itu kami tanyakan kepada kalian,
Wahai mereka yang tergabung dalam Militer
dan Keamanan. Lihatlah dan pelajarilah situasi
ini, apakah kalian akan tetap berdiri di sisi
Salibis untuk memerangi Umat Islam?
Padahal kebenaran telah terungkap dan
kebatilan telah menunjukkan wajah aslinya.
Apakah kalian akan memilih Syariat Sang Maha
Kekal ataukah hukum Jahiliyah?
“Orang-orang beriman berperang untuk
membela Islam, sedangkan orang-orang kafir
berperang di jalan thoghut. Wahai kaum
Mukmin, perangilah para pengikut syetan.
Sungguh sejak dahulu siasat syetan itu sangat
lemah.” (Qs. An Nisa: 76).
Pilihlah sendiri posisi kalian di sisi Alloh azza
wa jalla. Apakah sebagai Anshor Islam ataukah
Anshor Thoghut.
Sebagai penutup, Saya serukan kepada Umat
Islam: Bahwa tidaklah Mujahidin meninggalkan
tanah kelahiran mereka dan mengangkat
senjata. Melainkan hanya untuk menolong
Agama Alloh dan menyelamatkan Umat Islam
ini.
Karena mereka telah memahami bahwa jalan
satu-satunya untuk menyelamatkan kondisi
Umat Islam yang terpuruk ini adalah hanya
dengan Jihad fie Sabilillah.
Karena hal ini telah dijelaskan oleh Rosululloh
saw, “Ketika kalian sibuk dengan riba dan
mengikuti ekor sapi (beternak) dan puas
dengan pertanian dan meninggalkan jihad
(kecenderungan terhadap kehidupan dunia dan
lalai terhadap agama dan jihad -pent). Maka
Alloh akan menimpakan kehinaan kepada
kalian. Sampai kalian kembali kepada agama
kalian (syariat Islam dan jihad -pent).”
Mujahidin adalah bagian dari Umat.
Kepentingan Umat adalah kepentingan
Mujahidin. Tugas Mujahidin yakni memenuhi
segala kebutuhan dan kepentingan Umat Islam.
Dan kebutuhan Umat hari ini, tidaklah lain yakni
penerapan Syariat Alloh dan mengusir penjajah
Salibis beserta agen-agennya dari tanah-tanah
Islam.
Wa akhiru Da’wana anil hamdulillahi Robbil
alameen
Publikasi oleh Al Malahim Media
Jumadal Al Awwal 1434 H – April 2013
Jangan lupakan Kami dalam doa antum
Saudara kalian di
Deen Al Haqq Media
Suara Mujahidin Khurosan
20 September 2013


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: