Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Fatwa 8 Ulama Besar Yang Mengkafirkan Syiah

Fatwa 8 Ulama Besar Yang Mengkafirkan Syiah


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb
semesta alam. Shalawat dan salam semoga
terlimpah kepada Rasul yang diutus sebagai
rahmat bagi semesta alam, Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan
para sahabatnya.
Syi’ah termasuk sekte SESAT yang sudah
berusia ratusan tahun. Sejak abad-abad awal
Islam sudah menunjukkan jati dirinya. Namun
dalam kurun waktu yang lama tersebut,
kebencian mereka kepada pihak-pihak lain
tetap eksis. Mereka mencela, mencaci,
menfasikkan, dan mengafirkan Abu Bakar,
Umar, dan Utsman, dan ‘Aisyah. Bahkan
mereka menyatakan kekafiran mayoritas
sahabat. Selanjutnya mereka mengafirkan dan
memusuhi setiap orang yang memuliakan
para sahabat di atas. Sehingga dari sini, para
ulama Islam menghukumi mereka sudah
keluar dari Islam berdasarkan keterangan
yang jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah tentang
keutamaan para sahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam.
Pendapat Tentang Kafirnya Sekte Syiah
Kami tidak menghakimi. Tugas kami hanya
menyampaikan keterangan dan menunjukkan
bukti. Dan ternyata didapati yang
berpendapat bahwa Syi’ah itu kafir adalah
para Imam-Imam Besar Islam, seperti: Imam
Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari dan lain-
lain. Berikut ini beberapa pendapat dan fatwa
para ulama Islam mengenai golongan Syi’ah
Rafidhah yang disebut dengan Itsna
Asy’ariyah dan Ja’fariyah.
Pertama: Imam Malik
Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al
Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu
Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata:
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ : ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Orang yang mencela shahabat-shahabat
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia
tidak termasuk dalam golongan Islam.” (As
Sunnah, milik al-Khalal: 2/557)
Ibnu katsir berkata saat menafsirkan firman
Allah Ta’ala:
ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺷِﺪَّﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ
ﺭُﺣَﻤَﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺗَﺮَﺍﻫُﻢْ ﺭُﻛَّﻌًﺎ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻳَﺒْﺘَﻐُﻮﻥَ ﻓَﻀْﻼ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭِﺿْﻮَﺍﻧًﺎ ﺳِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺛَﺮِ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ
ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭَﺍﺓِ ﻭَﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻹﻧْﺠِﻴﻞِ ﻛَﺰَﺭْﻉٍ
ﺃَﺧْﺮَﺝَ ﺷَﻄْﺄَﻩُ ﻓَﺂﺯَﺭَﻩُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻠَﻆَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻮﻗِﻪِ
ﻳُﻌْﺠِﺐُ ﺍﻟﺰُّﺭَّﺍﻉَ ﻟِﻴَﻐِﻴﻆَ ﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ
ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻭَﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan
orang-orang yang bersama dengan Dia
adalah keras terhadap orang-orang kafir,
tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu
Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia
Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka
tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat
dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu
seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya
Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat
lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di
atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan
hati penanam-penanamnya karena Allah
hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mukmin).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh di
antara mereka ampunan dan pahala yang
besar.”
Beliau berkata: “Dari ayat ini, dalam satu
riwayat dari Imam Malik -rahmat Allah
terlimpah kepadanya-, beliau mengambil
kesimpulan tentang kekafiran Rafidhah yang
membenci para shahabat radhiyallahu
‘anhum. Beliau berkata: “Karena mereka ini
membenci para shahabat, dan barangsiapa
membenci para shahabat, maka ia telah kafir
berdasarkan ayat ini.” Pendapat ini disepakati
oleh segolongan ulama radhiyallahu
‘anhum.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/219)
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:
ﻟﻘﺪ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﻟﺘﻪ ﻭﺃﺻﺎﺏ ﻓﻲ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻓﻤﻦ
ﻧﻘﺺ ﻭﺍﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻭ ﻃﻌﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻓﻘﺪ ﺭﺩ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺃﺑﻄﻞ ﺷﺮﺍﺋﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ
“Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik
itu dan benar penafsirannya. Siapa pun yang
menghina seorang dari mereka (sahabat
Nabi) atau mencela periwayatannya, maka ia
telah menentang Allah, Tuhan alam semesta
dan membatalkan syari’at kaum
muslimin.” (Tafsir al-Qurthubi: 16/297)
Kedua: Imam Ahmad
Banyak riwayat telah datang darinya dalam
mengafirkan golongan Syi’ah Rafidhah. Di
antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu
Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Aku bertanya
kepada Abu Abdillah tentang orang yang
mencela Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah?”
Beliau menjawab,
ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
”Aku tidak melihatnya di atas Islam.”
Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul
Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata:
Aku mendengar Abu Abdillah berkata:
ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾ
“Barang siapa mencela (sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam) maka aku
khawatir ia menjadi kafir seperti halnya
orang-orang Rafidhah.” Kemudian beliau
berkata:
ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻ ﻧﺄﻣﻦ
ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺪ ﻣﺮﻕ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ
“Barangsiapa mencela Shahabat Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka kami
khawatir ia telah keluar dari Islam (tanpa
disadari).” (Al-Sunnah, Al-Khalal: 2/557-558)
Al-Khalal berkata: Abdullah bin Ahmad bin
Hambal menyampaikan kepadaku, katanya:
“Saya bertanya kepada ayahku perihal
seseorang yang mencela salah seorang dari
Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Maka beliau menjawab:
ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Aku tidak melihatnya di atas Islam”.” (Al-
Sunnah, Al-Khalal: 2/558. Bacalah: Manaakib
al Imam Ahmad, oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 214)
Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam
Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang
golongan Rafidhah:
ﻫﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﺒﺮﺃﻭﻥ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻳﺴﺒﻮﻧﻬﻢ ﻭﻳﻨﺘﻘﺼﻮﻧﻬﻢ ﻭﻳﻜﻔﺮﻭﻥ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺇﻻ
ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﻋﻠﻲ ﻭﻋﻤﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺩ ﻭﺳﻠﻤﺎﻥ ﻭﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
ﻣﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ
“Mereka itu adalah golongan yang
menjauhkan diri dari shahabat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencelanya,
menghinanya serta mengkafirkannya kecuali
hanya empat orang saja yang tiada mereka
kafirkan, yaitu: Ali, Ammar, Miqdad dan
Salman. Golongan Rafidhah ini sama sekali
bukan Islam.” (Al-Sunnah, milik Imam Ahmad:
82)
Ibnu Abdil Qawiy berkata: “Adalah imam
Ahmad mengafirkan orang yang berlepas diri
dari mereka (yakni para sahabat) dan orang
yang mencela ‘Aisyah Ummul Mukminin serta
menuduhnya dengan sesuatu yang Allah telah
membebaskan darinya, seraya beliau
membaca:
ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻌُﻮﺩُﻭﺍ ﻟِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ
“Allah menasehati kamu, agar kamu jangan
mengulang hal seperti itu untuk selama-
lamanya, jika kamu benar-benar
beriman.” (QS. Al-Nuur: 17. Dinukil dari Kitab
Maa Dhahaba Ilaihi al-Imam Ahmad: 21)
Ketiga: Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H)
Beliau berkata:
ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ
ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ
ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
“Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di
belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah)
atau seorang Rafidzi (b eraliran Syi’ah
Rafidhah), atau aku shalat dibelakang Imam
Yahudi atau Nashrani. Dan (seorang muslim)
tidak boleh memberi salam kepada mereka,
mengunjungi mereka ketika sakit, kawin
dengan mereka, menjadikan mereka sebagai
saksi dan memakan sembelihan
mereka.” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)
Keempat: Abdurrahman bin Mahdi
Imam al-Bukhari berkata: Abdurrahman bin
Mahdi berkata: “Keduanya adalah agama
tersendiri, yakni Jahmiyah dan Rafidhah
(Syi’ah).” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)
Kelima: Al-Faryabi
Al-Khalal meriwayatkan, ia berkata: “Telah
menceritakan kepadaku Harb bin Ismail al-
Kirmani, ia berkata: “Musa bin Harun bin
Zayyad menceritakan kepada kami, ia berkata:
“Saya mendengar al-Faryabi dan seseorang
yang bertanya kepadanya tentang orang yang
mencela Abu Bakar. Jawabnya: “Dia Kafir.”
Lalu ia berkata: “Apakah orang semacam itu
boleh dishalatkan jenazahnya?” Jawabnya:
“Tidak.” Dan aku bertanya pula kepadanya:
“Apa yang dilakukan terhadapnya, padahal
orang itu juga telah mengucapkan Laa ilaaha
illallah?” Jawabnya: “Jangan kamu sentuh
(Jenazahnya) dengan tangan kamu, tetapi
kamu angkat dengan kayu sampai kamu
menurunkan ke liang lahatnya.” (al-Sunnah,
milik al-Khalal: 2/566)
Keenam: Ahmad bin Yunus
Kunyahnya adalah Ibnu Abdillah. Ia
dinisbatan kepada datuknya, yaitu salah
seorang Imam (tokoh) As-Sunnah. Beliau
termasuk penduduk Kufah, tempat tumbuhnya
golongan Rafidhah. Beliau menceritakan
perihal Rafidhah dengan berbagai macam
alirannya. Ahmad bin Hambal telah berkata
kepada seseorang: “Pergilah anda kepada
Ahmad bin Yunus, karena dialah seorang
Syeikhul Islam.”
Para ahli Kutubus Sittah telah meriwayatkan
Hadits dari beliau.
Abu Hatim berkata: “Beliau adalah orang
kepercayaan lagi kuat hafalannya”. Al-Nasaai
berkata: “Dia adalah orang kepercayaan.”
Ibnu Sa’ad berkata: “Dia adalah seorang
kepercayaan lagi jujur, seorang Ahli Sunnah
wal Jama’ah.”
Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa Ibnu Yunus
telah berkata: “Saya pernah datang kepada
Hammad bin Zaid, saya minta kepada beliau
supaya mendiktekan kepadaku sesuatu hal
tentang kelebihan Utsman. Jawabnya: “Anda
ini siapa?” Saya jawab: “Seseorang dari negeri
Kufah.” Lalu ia berkata: “Seorang Kufah
menanyakan tentang kelebihan-kelebihan
Utsman. Demi Allah, aku tidak akan
menyampaikannya kepada Anda, kalau Anda
tidak mau duduk sedangkan aku tetap
berdiri!” Beliau wafat tahun 227 H. (Tahdzibut
Tahdzib, 1:50, Taqribut Tahdzib, 1:29).
Beliau (Ahmad bin Yunus) rahimahullah
berkata,
ﻟﻮ ﺃﻥ ﻳﻬﻮﺩﻳﺎً ﺫﺑﺢ ﺷﺎﺓ ، ﻭﺫﺑﺢ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻷﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺔ
ﺍﻟﻴﻬﻮﺩﻱ ، ﻭﻟﻢ ﺁﻛﻞ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ﻷﻧﻪ ﻣﺮﺗﺪ ﻋﻦ
ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Seandainya saja seorang Yahudi
menyembelih seekor kambing dan seorang
Rafidhi (Syi’i) juga menyembelih seekor
kambing, niscaya saya hanya memakan
sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau
makan sembelihan si Rafidhi. Karena dia
telah murtad dari Islam.” (Al-Sharim al-
Maslul, Ibnu Taimiyah: 57)
Ketujuh: Al-Qadhi Abu Ya’la
Beliau berkata, “Adapun Rafidhah, maka
hukum terhadap mereka . . . sesungguhnya
mengafirkan para sahabat atau
menganggapnya fasik, yang berarti mesti
masuk neraka, maka orang semacam ini
adalah kafir.” (Al Mu’tamad, hal. 267)
Sementara Rafidhah (Syi’ah) sebagaimana
terbukti di dalam pokok-pokok ajaran mereka
adalah orang-orang yang mengkafirkan
sebagian besar Shahabat Nabi.
Kedelapan: Ibnu Hazm al-Zahiri
Beliau berkata: “Pendapat mereka (Yakni
Nashrani) yang menuduh bahwa golongan
Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka
sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah
bukan termasuk bagian kaum muslimin.
Karena golongan ini muncul pertama kalinya
setelah dua puluh lima tahun dari wafatnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Syi’ah Rafidhah adalah golongan yang
mengikuti langkah-langkah Yahudi dan
Nashrani dalam melakukan kebohongan dan
kekafiran.” (Al-fahl fi al-Milal wa al-Nihal:
2/213)
Beliau berkata: “Salah satu pendapat
golongan Syi’ah Imamiyah, baik yang dahulu
maupun sekarang ialah Al-Qur’an itu
sesungguhnya telah diubah.” Kemudian beliau
berkata: “Orang yang berpendapat, bahwa Al
Qur’an ini telah diubah adalah benar-benar
kafir dan men-dustakan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. (Al Fashl: 5/40)
Beliau berkata: “Tidak ada perbedaan
pendapat di kalangan semua kelompok umat
Islam Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah,
Zaidiyah, bahwa adalah wajib berpegang
kepada Al Qur’an yang biasa kita baca ini ”
Dan hanya golongan Syi’ah ekstrim sajalah
yang menyalahi sikap ini. Dengan sikapnya
itu mereka menjadi kafir lagi musyrik,
menurut pendapat semua penganut Islam.
Dan pendapat kita sama sekali tidak sama
dengan mereka (Syi’ah). Pendapat kita
hanyalah sejalan dengan sesama pemeluk
agama kita.” (Al Ihkam Fii Ushuuli Ahkaam:
1/96)
Beliau berkata pula: “Ketahuilah,
sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam tidak pernah menyembunyikan satu
kata pun atau satu huruf pun dari syariat
Ilahi. Saya tidak melihat adanya
keistimewaan pada manusia tertentu, baik
anak perempuannya atau keponakan laki-
lakinya atau istrinya atau shahabatnya, untuk
mengetahui sesuatu syariat yang
disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa
kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau
penggembala kambing. Tidak ada sesuatu
pun rahasia, perlambang ataupun kata sandi
di luar apa yang telah disampaikan oleh
Rasulullah kepada umat manusia. Sekiranya
Nabi menyembunyikan sesuatu yang harus
disampaikan kepada manusia, berarti beliau
tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa
beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al
Fashl, 2:274-275)
Orang yang berkeyakinan semacam ini
dikafirkan oleh Ibnu Hazm. Dan keyakinan
semacam ini dipegang oleh Syi’ah Itsna
Asy’ariyah. Pendapat ini dikuatkan oleh guru-
guru beliau pada masanya dan para ulama
sebelumnya.
Penutup
Dan Masih banyak lagi perkataan-perkataan
para ulama yang sangat tegas terhadap
Syi’ah Rafidhah yang memiliki keyakinan
berbeda dari aqidah kaum muslimin dan
menyimpang dari ketentuan Al-Qur’an dan
Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Rasanya tidak ada habisnya menjelaskan
keyakinan batil golongan syi’ah, baik dari
ulama terdahulu maupun belakangan. Namun
sayang kenapa banyak manusia bisa
disesatkan dan tertarik kepada ajaran yang
sangat jelas kebatilannya. Semoga Allah
melindungi kita dan kaum mukminin secara
keseluruhan dari jerat dan tipu daya golongan
Syi’ah Rafidhah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: