Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Ya Rabbi, Penjara Lebih Hamba Sukai Daripada Memenuhi Ajakan Mereka

Ya Rabbi, Penjara Lebih Hamba Sukai Daripada Memenuhi Ajakan Mereka


Ya Rabbi, Penjara Lebih Hamba Sukai Daripada Memenuhi Ajakan Mereka
رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

“Ya Rabbi, Penjara Lebih Hamba Sukai Daripada Memenuhi Ajakan Mereka”

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah Rabbul ‘Alalmin.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad, nabi yang jujur dan terpercaya, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik sampai hari kiamat.

Amma ba’du: Sesungguhnya Allah menetapkan sunnatullah di dalam iqamatuddien ini, di mana Dia berfirman:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al Anfal: 30)

Dan Allah menjelaskan tentang hasrat orang-orang kafir terhadap orang-orang muslim:

وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Dan mereka senantiasa memerangi kalian sampai mereka mengembalikan kalian dari agama kalian bila mereka mampu. Dan barangsiapa orang di antara kalian murtad dari agamanya, terus dia mati dalam keadaan kafir, maka mereka itu terhapus amalan mereka itu di dunia dan akhirat…” (Al Baqarah: 217)

Allah mengabarkan bahwa bila orang mukmin setelah lelah memerangi orang orang kafir malah dia memenuhi ajakan kekafiran orang-orang kafir itu, maka dia menjadi kafir, karena orang kafir itu tidak rela kecuali orang muslim itu menyetujui atau mengikuti kekafiran mereka secara dhahir, sedangkan barangsiapa melakukan hal itu tanpa ikrah yang mu’tabar di dalam penampakkan kekafiran, maka dia itu kafir. Begitulah realita para thaghut negeri ini bersikap kepada aktivis muslim yang masuk penjara, di mana mereka mau memberikan kemudahan remisi dan PB (Pembebasan Bersayarat) dengan syarat menyetujui point-point kekafiran yang berlapis. Sebagaimana tertuang dalam aturan mereka berikut ini:

Peraturan Pemerintah RI Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan dimana perubahan ketentuan terdapat pada pasal 34A tentang usulan remisi:

“Selain harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 34 juga harus memenuhi persyaratan: a. Bersedia bekerjasama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar tindak pidana yang dilakukannya.”

Ayat 3: berbunyi “Kesediaan untuk bekerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf a harus dinyatakan secara tertulis dan ditetapkan oleh instansi penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,”

Demikian kutipan dari PP terbaru tersebut.

Dan berikut ini adalah contoh Surat Pernyataan Kesetiaan yang harus disetujui dan ditandatangani oleh Narapidana yang ingin mengajukan PB:

PERNYATAAN SETIA KEPADA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama

Tempat / Tgl lahir

Putusan

Lama Pidana

Pelaksanaan

: ………………………………………………

: ………………………………………………

: ………………………………………………

: ………………………………………………

: Lapas Klas 1 Cirebon

Sehubungan dengan putusan pidana yang saya jalani, dengan ini saya menyatakan:

    Saya menyadari bahwa perbuatan saya adalah perbuatan yang melanggar hukum dan sudah sepantasnya untuk di berikan hukuman.
    Saya menyesali perbuatan yang telah saya lakukan dan tidak akan mengulangi kembali perbuatan tersebut.
    Saya akan setia kepada Pemerintah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta akan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dan siap untuk turut membela NKRI dari setiap ancaman yg mengancam kesatuan NKRI
    Sebagai warga NKRI saya mengakui Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara dan akan mamatuhi semua ketentuan yang tercantum di dalamnya.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran tanpa ada paksaan dari pihak manapun juga, dan apabila saya melanggar apa yang sudah saya nyatakan ini, saya bersedia untuk menerima segala akibatnya.

Yang menyatakan:

Narapidana

………………………

Menyaksikan.
Kalapas Cirebon

Tedja Sukmana Bc.Ip.SH.MH
Nip : ……………….

Terkait syarat-syarat dapat remisi dan PB (Pembebasan Bersayarat) pada masa sekarang dengan aturan barunya yang mengharuskan pernyataan kekafiran dan mengikuti program kekafiran selama di sijn. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah berkata: Sesungguhnya tawanan bila mengkhawatirkan orang-orang kafir tidak menikahkannya atau menghalanginya dari (bertemu) dengan isterinya, maka hal itu tidak membolehkannya untuk mengucapkan kekafiran. (Majmu’atuttauhid: 208, Kitabunnajah Wal Fikak).

Dan masalahnya bisa menjadi lebih besar dan pengudzuran dengan sebab taqiyyah (ikrah) menjadi lenyap sehingga tidak menjadi diudzur dengan sebabnya, seperti pada keadaan orang yang dipaksa terhadap kekafiran disertai terus menerus di atas kekafiran itu, bukan pada kondisi yang muncul mendadak. Oleh sebab itu tatkala Al Imam Ahmad rahimahullah tatkala ditanya tentang seseorang yang ditawan terus ditawarkan kekafiran terhadapnya dan dia dipaksa terhadapnya, apakah boleh dia murtad? Maka beliau membencinya dengan sangat, dan berkata: menurut saya orang ini tidak serupa dengan (keadaan) para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana ayat itu (An Nahl: 106, pent) turun berkaitan dengan mereka, di mana para sahabat itu dipaksa untuk mengucapkan suatu ucapan (kekafiran) kemudian mereka dilepaskan dan bebas melakukan apa yang mereka suka, sedangkan orang-orang itu dipaksa orang orang kafir untuk menetap di atas kekafiran dan meninggalkan dien mereka.” (Al Mughni, Ibnu Qudamah: 8/147) Selesai. (dicuplik dari http://www.dorar.net).

Seandainya orang yang ditawan thaghut itu saat habis tanda tangan kekafiran itu langsung dipulangkan, MUNGKIN bisa berdalil dengan kisah Ammar, tapi masalahnya sekarang adalah thaghut itu sejak awal meminta orang-orang untuk terus menerus ikut dalam kegiatan kekafiran selama di sijn kemudian setelah itu ada janji kemudahan dan keringan, maka ini serupa dengan tawanan yang disebutkan oleh Al Imam Ahmad itu yang dipaksa untuk menetap di atas kekafiran…

Jumhur ulama memandang bahwa sijn itu bukan ikrah untuk ucapkan kekafiran, sedangkan sebagian ulama menganggap sijn adalah ikrah. Dan pendapat jumhur adalah yang rajih karena berdasarkan dalil yang kuat. Ini berkaitan dengan pengucapan kekafiran yang sekali terus orangnya dilepaskan, bukan tentang orang yang dipaksa untuk tetap terus menerus ikut program kekafiran selama di sijn. Dan berkaitan dengan pengucapan sekali kekafiran terus dilepas yang diperselisihkan ulama prihal apakah itu dianggap ikrah yang mu’tabar dalam kekafiran atau bukan, maka bagaimana dengan pelakunya seandainya di hari kiamat di saat Allah memutuskan perselisihan ulama itu ternyata kebenaran yang Allah putuskan itu di pihak ulama yang mengatakan bahwa itu bukan ikrah yang mu’tabar dan berarti pelakunya kafir di hadapan Allah, maka bagaimana dengan nasib orang yang merasa di dunia dia diudzur tapi ternyata di akhirat dia itu kafir… Di sana tidak bisa kembali ke dunia…

Al Imam Abul Husen Ahmad Ibnu Muhammad Al Qaduriy Al Baghdadi rahimahullah (362-428H) berkata dalam Al Kitab juz 1 hal 290: (61.Kitab Al Ikrah): Ikrah (paksaan) itu hukumnya terbukti bila ia terjadi dari orang yang mampu menimpakan apa yang diancamkannya itu, baik itu penguasa ataupun perampok…. Dan barangsiapa dipaksa untuk makan bangkai atau untuk minum khamr, dan dia dipaksa terhadap hal itu dengan pemenjaraan atau pemukulan atau pengikatan maka hal itu tidak halal baginya, kecuali kalau dia dipaksa dengan suatu yang menyebabkan dia mengkhawatirkan (hilang) nyawanya atau (hilang) suatu anggota badannya, bila dia mengkhawatirkan hal itu maka dia boleh melakukan apa yang dipaksakan terhadapnya dan dia tidak boleh bersabar terhadap ancaman itu, sehingga bila dia sabar sampai akhirnya mereka menimpakan apa yang diancamkannya dan dia tetap tidak makan maka dia dosa. Dan bila dia dipaksa untuk kafir terhadap Allah ‘Azza wa Jalla atau untuk menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pengikatan atau pemenjaraan atau pemukulan maka hal itu tidak dianggap sebagai ikrah (paksaan) sampai dia dipaksa dengan suatu yang menyebabkan dia mengkhawatirkan (kehilangan) nyawanya atau (kehilangan) suatu anggota badannya, kemudian bila dia mengkhawatirkan hal itu maka dia boleh menampakkan apa yang mereka perintahkan dan dia bertauriyah, kemudian bila dia menampakkan hal itu sedangkan hatinya tentram dengan keimanan maka tidak ada dosa atasnya, dan bila dia bersabar sampai terbunuh dan tidak menampakkan kekafiran maka dia mendapatkan pahala.”

Penulis Kitab Allubab Fi Syarhil Kitab juz 4 hal 16 berkata: Kitab Ikrah. Ikrah secara bahasa adalah membawa orang kepada suatu yang tidak disukainya, sedangkan secara syari’at ia adalah membawa orang lain kepada suatu perbuatan dengan suatu yang menghilangkan keridloannya tanpa ikhtiyar (pilihan)nya, akan tetapi kadang merusak pilihannya dan kadang tidak merusaknya. Berkata di dalam At Tanqih: Ia (ikrah) itu ada yang mulji’ yaitu (paksaan) dengan pelenyapan nyawa ataupun anggota badan, dan ikrah macam ini melenyapkan ridla lagi merusak ikhtiyar (pilihan). Dan ada juga (ikrah) ghair mulji’ yaitu paksaan dengan pemenjaraan atau pengikatan atau pemukulan, di mana (ikrah) macam ini melenyapkan ridla namun tidak merusak ikhtiyar.

Al Imam ‘Alaauddien Abu Bakar Al Kaasaaniy rahimahullah berkata dalam Badaai’ush Shanaa’i juz 6 hal 184 pada pasal penjelasan macam-macam ikrah: “Adapun penjelasan macam-macamnya, maka kami katakan: Sesungguhnya ikrah itu ada dua macam: satu macam yang mengharuskan iljaa’ (penyudutan) dan idlthirar (keterdesakan) secara pasti seperti pembunuhan, pemotongan anggota badan dan pemukulan yang dikhawatirkan menyebabkan lenyapnya nyawa atau anggota badan, baik pukulan itu sedikit maupun banyak, dan di antara ulama ada yang mengukurnya dengan jumlah bilangan pukulan had, dan sesungguhnya pendapat ini tidak tepat, karena yang jadi acuan adalah nyatanya keterbuktian dlarurat itu, sehingga bila ia itu nyata terbukti maka tidak ada maknanya bagi jumlah bilangan. Ikrah macam ini dinamakan ikrah taamm (yang sempurna). Dan ada macam ikrah lain yang tidak mengharuskan iljaa’ (penyudutan) dan idlthirar (keterdesakan), yaitu pemenjaraan, pengikatan dan pukulan yang tidak dikhawatirkan menyebabkan lenyapnya (nyawa atau anggota badan), dan tidak ada ukuran pasti di dalam hal itu selain bahwa hal itu menyebabkan kemurungan (kepedihan hati)yang nyata dari sebab hal-hal ini, yaitu akibat pemenjaraan, pengikatan dan pukulan. Ikrah macam ini dinamakan ikrah naqish (yang kurang).”

Imam ‘Alaauddien Abu Bakar Al Kaasaaniy rahimahullah berkata dalam Badaai’ush Shanaa’i juz 6 hal 184: “Dan adapun macam perbuatan yang dirukhshahkan, maka ia itu adalah pelontaran ucapan kekafiran dengan lisan dengan syarat hati tentram dengan keimanan bila ikrahnya adalah taamm (sempurna)….. bila ikrahnya adalah naqish berupa pemenjaraan, pengikatan dan pemukulan yang tidak dikhawatirkan menyebabkan lenyapnya nyawa dan anggota badan, maka tidak ada rukhshah baginya sama sekali dan dia divonis kafir, dan bila dia mengatakan bahwa hati saya tentram dengan keimanan maka tidak dipercayai di dalam vonis itu berdasarkan apa yang akan kami sebutkan….”

Al Imam Al Kaasaaniy berkata lagi: Adapun bila ikrahnya itu naqish (kurang) maka dia dihukumi kafir, karena pada hakikatnya dia itu bukan mukrah, karena sesungguhnya dia itu tidak melakukan kekafiran tersebut karena sebab dlarurat akan tetapi dalam rangka melenyapkan ghamm (kepenatan/pusing/kebingungan) dari dirinya, dan seandainya dia itu mengatakan: Hatiku tentram dengan keimanan” maka tidak dipercayai di dalam vonis hukum itu, karena ia itu menyelisihi dhahirnya….”

Al Jashshash berkata dalam Ahkamul Qur’an juz 5 hal 13: “Firman-Nya ta’ala “Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tentram dengan keimanan” Ma’mar meriwayatkan dari Abdul Karim dari Abu Ubaid Ibnu Muhammad Ibnu ‘Ammar Ibnu Yasir “kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tentram dengan keimanan” Ia berkata: Orang-orang musyrik menangkap ‘Ammar dan sejumlah orang bersamanya terus mereka menyiksa orang-orang itu sampai mereka menggiring mereka dalam sebagian apa yang inginkan, maka ‘Ammar mengadukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya: Bagaimana hatimu? Ia menjawab: Tentram dengan keimanan,” beliau berkata: Bila mereka mengulangi, maka ulangilah.” Abu Bakar (Al Jashshash) berkata: Ini adalah dasar dalam kebolehan penampakkan kekafiran di saat kondisi ikrah. Sedangkan ikrah yang membolehkan hal itu adalah apa yang dikhawatirkan menyebabkan lenyapnya nyawa atau sebagian anggota badannya bila tidak mengerjakan apa yang diperintahkannya, maka dalam keadaan ini dibolehkan baginya menampakkan ucapan kekafiran….”

Oleh sebab itu, sebelum berbuat apa saja ukurlah semangat itu dengan kemampuan diri dalam memikul resiko, karena tauhid itu hal termahal yang dimiliki seseorang, dan kekafiran itu adalah hal terburuk yang ada di dunia ini yang tidak dirukhshahkan kecuali saat ikrah muljii’ atau taamm, bukan dengan sekedar pemenjaraan yang apalagi di negeri ini realitanya bisa kita saksikan. Oleh sebab itu Rasulullah di dalam Shahih Al Bukhari pernah berkata kepada Abu Dzarr saat ia baru masuk Islam “Sembunyikan hal ini” yaitu sembunyikanlah keislamanmu dari orang-orang kafir Quraisy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan andai Abu Dzarr menjaharkan keislamannya terus disiksa orang-orang kafir terus ia tidak tahan dan kemudian malah meninggalkan lagi tauhidnya. Artinya pertimbangan resiko dan ketahanan diripun wajib diperhatikan oleh setiap muslim dan oleh pemimpin ketika mau memberikan tugas kepada bawahannya. Tidak menugaskan orang karena sekedar melihat semangatnya yang tinggi tanpa melihat pondasi keyakinan yang dimiliki. Wallahu ‘Alam.

12 Sya’ban 1434 H

Lapas KK – NK

Abu Sulaiman


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: