Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » akhbar » Mengapa Kita Harus Berjihad? Bukankah Saat Ini Jihad Telah Menjadi Fardhuh ‘Ain?

Mengapa Kita Harus Berjihad? Bukankah Saat Ini Jihad Telah Menjadi Fardhuh ‘Ain?


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya yang menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya. Mengatur semua urusan dengan perintah-Nya. Mengulur batas waktu bagi orang-orang kafir dengan makar-Nya. Yang menggilirkan hari-hari bagi manusia dengan keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir sebagai milik orang-orang bertakwa dengan keutamaan-Nya. Asyhadu anLaa ilaaha illaallaah wahdahu Laa syarikalahu, wa asyhadu ana Muhammadan ‘abduhu wa rusuluh. Shalawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia yang Allah tinggikan menara Islam dengan pedangnya.

Tsumma Amma ba’du.

Allah Azza Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimp­inmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.” (QS. at-Taubah [9]: 23)

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. at-Taubah [9]: 24)

* * * * *

Al-hamdu lillaahi Rabbil-‘aalamiin, berkat pertolongan Allah jualah akhirnya kami dapat mengupload video dan menuliskan artikel ini kembali, dan menyampaikannya­ kepada:

* Para penjaga akidah dan pejuang syariah.

* Para pembelah Millah Ibrahim yang berjuang demi menegakkan kalimah Tauhid.

* Para pejuang yang bercita-cita menegakkan Khilafah di muka bumi.

* Para penggenggam bara yang terus bersabar atas segala ujian.

* Para pejuang yang terus bertahan dan berkorban fii sabilillah.

* Anak-anak, para wanita, dan para orangtua Muslimin.

* Para pemuda yang sabar di medan jihad ketika zaman dibelenggu oleh syahwat.

* Seluruh keluarga seiman, satu kehormatan dalam dinnul Islam, dan bumi suci kita di Palestina (Gaza) dan Syam kita yang mulia, Somalia, Chech, Rohingya, dan negeri-negeri Jihad yang terdapat kaum Muslimin lainnya, lillaahi maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh.

Kami berharap, semoga kehadiran video dan artikel ini dapat membuka mata dan hati kaum Muslimin yang telah lama tertutup oleh mendung-mendung duniawi, dan kembali kepada akidah Islam, serta menyadari bahwa setiap Muslimin itu bersaudara meskipun tanah airnya berjauhan dan masanya tidak berdekatan; yakni persaudaraan kita di dalam dinnul Islam.

Dan kami juga mohon maaf bila ada kekurangan disana-sini, sebagai manusia kami tentunya tidak lepas dari kesalahan dan kekeliruan.

Risalah sederhana yang menjelaskan sedikit tentang alasan mengapa kita harus berjihad yang dalil-dalilnya saya kutip dari beberapa buku (terutama risalah yang ditulis oleh salah seorang syuhada’ dibumi Indonesia “Mengapa saya memilih jalan ini?” Sebagai hujjah untuk saudara-saudaraku mujahidin fii sabilillah (sabarlah, semoga Allah Ta’ala menyabarkan kalian, sungguh jalan inilah jalan yang telah dilalui para salafush shalih (jalan jihad) dan sebagai bayan untuk mereka yang masih tertinggal dari jihad.

Mengapa Kita Harus Berjihad? Bukankah Saat Ini Jihad Telah Menjadi Fardhuh ‘Ain?

1. Untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Saudaraku fillah dengarkanlah firman Allah Ta’ala ini;

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kalian, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?…..” (QS. At Taubah: 38)

Inilah firman Rabb kita, Rabb yang menguasai diri kita dan alam semesta, yang memerintahkan kita untuk keluar berjihad di jalan-Nya. Tidakkah kita penuhi panggilan-Nya ini?

Lebih jauh lagi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (At Taubah: 41)

Kepada siapakah panggilan dalam ayat ini ditujukan? Tentunya kepada manusia yang beriman kepada-Nya dan beriman kepada hari Akhirat! Maka, siapapun yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari Akhirat tidak pantas meninggalkan seruan ini, kecuali bagi mereka yang berudzur syar’i.

Ya, berangkatlah untuk jihad, entah itu keadaanmu dalam lapang atau sempit, miskin atau kaya, berkendaraan atau jalan kaki, berkeluarga atau masih bujangan, bekerja atau pengangguran dalam rangka memenuhi panggilan Allah Ta’ala ini.

Tidak mampukah kita berkaca pada Abu Thalhah, di masa tuanya (+/- 80 tahun), ketika menanggapai ayat tersebut, beliau bersikeras untuk berjihad. Saat anak-anaknya melarangnya karena beliau termasuk yang diberi udzur, beliau tetap bersikukuh dalam pendiriannya. Dan ternyata Allah Ta’ala karuniakan untuknya kesyahidan di laut. Lalu bagaimana dengan kita yang masih muda dan kuat ini? Adakah yang mau mengambil pelajaran?

2. Takut Ancaman adzab-Nya yang pedih

“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan adzab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (At taubah: 39)

Ibnu Al ‘Arabiy berkata; “Siksa pedih di dunia adalah berkuasanya musuh atas diri kita dan di akhirat adalah api neraka.” (Tafsir al qurthuby 8/142).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberi ancaman bagi mereka-mereka yang meninggalkan jihad tanpa udzur syar’i di dunia dan akhirat. Sungguh, siksa Allah Subhanahu Wa Ta’ala amatlah pedih dan kita tak akan mampu menanggungnya. Lalu mengapa tidak tunaikan kewajiban ini agar Allah ridha kepada kita dan menjauhkan kita dari adzab-Nya di dunia dan siksa neraka?

Maka hilangkanlah cinta dunia, yang menyebabkan kita takut akan mati, yang menyebabkan kita enggan untuk berjihad, Kemudian penuhilah panggilan mulia dari Rabb kita ini.

“Wahai orang-orang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan padamu…” (Al Anfal: 12)

3. Membela dan Melindungi Kaum muslimin

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi-Mu” (An Nisa: 75)

Saudaraku fillah, inilah jihad, jihad yang ditegakkan untuk melawan ketertindasan, melindungi dan membebaskan kaum muslimin dari kedzaliman musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hari ini, berapa jutakah darah kaum muslimin yang ditumpahkan oleh kuffar, thawaghit dan munaafiquun? Berapa banyak kehormatan muslimah-muslimah kita yang dinodai oleh musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Dan berapa banyak ikhwah dan sahabat kita yang masih dalam penawanan dan siksaan? Tidakkah kita melihat apa yang terjadi di Palestina, Afghanistan, Iraq, Syam, Chechnya, Bosnia, Filipina, Myanmar dan sederet tanah-tanah jihad lainnya? Bukankah mereka saudara kita?

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (al hujurat: 10)

Sungguh tubuh-tubuh kaum muslimin tercabik-cabik menjadi santapan srigala-srigala kafir. Akankah kita tetap diam? Bukankah kalian membaca sabda junjungan kita, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam;

“Hilangnya dunia masih lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim” (lihat tafsir Ibnu katsir I/534)

“Jika penduduk langit dan bumi berkumpul untuk membunuh seorang muslim, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan membalikkan wajah mereka semua ke neraka jahannam” (HR. Ath Thobroni dalam Ash Shoghir)

Wahai saudara-saudaraku, apa yang telah terjadi sehingga kita menghadapi begitu banyak marabahaya? Apakah pengorbanan kita untuk Ka’bah dianggap kejahatan yang tidak dapat diampuni?

Tetap teguhlah wahai saudara-saudaraku, jangan mencari kesenangan duniawi dari manusia, jangan mencari kesenangan duniawi dari manusia, jangan mencari kesenangan duniawi dari manusia. Syurga abadi adalah tempat kembali kita jika Allah menghendaki kita beruntung.

Wahai saudara-saudaraku, kejahatan dunia semakin menjadi-jadi, dimana anak-anak disembelih seperti lembu, membunuh saudara-saudara kita, sementara para penguasa hanya sibuk melakukan kongres. Ekor-ekor Amerika itu buta, mereka tidak memiliki mata dan hati nurani. Tinta diatas kertas (kenyataan pahit yang terjadi), tidak mereka percayai dan tidak ada pengaruhnya. Mengapa mereka tidak mengerahkan kekuatan untuk melindungi anak-anak dari bahaya? Demi Allah ini adalah kehinaan besar yang disiarkan media masa. Pengkhianatan yang nyata, lalu apakah pengkhianat akan melindungi kita?

Kami bersumpah, Demi Allah !! akan kami perangi orang -orang kafir.

Telah menjadi kesepakatan para ulama jika satu orang muslimah tertawan dan diperlakukan tidak adil, maka kaum muslimin wajib membelanya dan pada waktu itu jihad menjadi fardhu ‘ain. Lalu bagaimanakah pendapat kalian dengan kondisi kita hari ini? Bukankah jihad saat ini telah menjadi fardhu ‘ain?

4. Mengikuti Jejak Shalafus shalih

Inilah para pendahulu kita, para shalaful ummah, yang mana kehidupan mereka tak pernah lepas dari aktivitas jihad fii sabilillah! Mereka tak hanya sibuk dengan kitab dan dakwah saja, tapi lihatlah Rasulullah (Panglima tertinggi ummat Islam) beliau berjihad kurang lebih 27 kali selama hidup beliau, yakni di madinah (10 tahun!)

At Thobary meriwayatkan bahwa Miqdad bin Al Aswad terlihat di tempat pertukaran uang di Emessa. Ketika itu ia menyandarkan tubuhnya yang amat gemuk ke sebuah meja. Seseorang yang melihatnya berkata padanya: “Allah Ta’ala telah mengampunimu (untuk tidak berjihad).” Mendengar ucapan tadi ia mengatakan: “Surat yang memerintahkan kita untuk berperang telah turun. Allah subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat”

Az Zuhri mengatakan: “Said bin Al Musyayyib berangkat berjihad, padahal ia adalah seseorang yang salah satu matanya buta, maka seseorang berkata padanya: “Engkau orang yang cacat.” Namun Sa’id berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berangkat dalam keadaan ringan maupun berat, jika aku tidak mampu bertempur paling tidak aku akan menambah jumlah kalian dan dapat ditugaskan untuk menjaga perlengkapan.”

Sungguh, kepahlawan mereka dalam membela Islam tiada duanya. Apakah kita tidak ingin seperti mereka? Juga Umar Mukhtar, di mana komandan Giransiyani berkomentar:

“Dia terjun dalam 263 pertempuran menghadapi pasukan saya selama lebih dari 20 bulan. Total pertempuran yang telah dijalankannya berjumlah 1000 kali”

Begitu pula Muhammad Banna salah seorang mujahidin Afghan, beliau menceritakan bahwa pasukannya pernah menghancurkan 400 kendaraan militer Uni Sovyet. Orang-orang Russia memanggilnya “The General”. Dia telah merampas 200 pucuk Kalakov dan 200 pucuk AK47, Klasinkov, ia juga pernah mengahancurkan 150 tank musuh dalam satu kali pertempuran.

Subhanallaah… Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaa Billaah, sungguh kepahlawanan manusia-manusia yang benar-benar mendapatkan anugerah dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga mereka bisa berbuat demikian. Memang, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menolong mereka karena mereka telah menolong agama Allah. Mereka menjual jiwa yang merupakan harta paling berharga bagi manusia dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun membelinya, sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sekali-kali tidak akan menyelisihi janji-Nya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan balasan Jannah untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh…” (At taubah: 111)

Maka, sungguh rugi dan celakalah bila manusia lebih memilih diam diri daripada berjihad dan merasa dirinya mendapat udzur padahal ia tidak mendapatkannya.

5. Jihad Adalah perisai kehormatan Ummat yang dengannya mampu menolak serangan orang-orang Kafir

Sungguh, ummat Islam adalah ummat jihadi di mana kehidupannya tidak boleh terlepas daripada Jihad. Jihad inilah perisai ummat yang akan menjaga dan melindungi kehormatannya dari tangan-tangan kuffar. Lalu bagaimana jika kita telah meninggalkannya?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika kalian berjual beli dengan ‘inah, kalian mengambil ekor-ekor sapi, kalian ridho dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian. Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud)

Sungguh kehinaan yang dialami kaum muslimin sekali-kali tidak akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala cabut hingga kita berlepas daripada kehinaan dengan berjihad.

Dan dengan jihad inilah, Allah subhanahu Wa Ta’ala akan menolak serangan orang-orang kafir. Renungkanlah firman-firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini:

“Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(nya)” (An Nisaa’: 84)

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantasaan) tangan-tangamu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka serta melegakan hati orang-orang mukmin” (At Taubah: 14)

6. Jihad adalah amalan tertinggi dan merupakan wasilah agar bisa memperoleh kesyahidan di jalan-Nya

“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabilillaah.” (HR. Ahmad, riwayat dari Mu’adz bin Jabal).

Inilah jihad, inilah jihad, inilah jihad, ibadah tertinggi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak ada satu amalan pun yang akan menyamainya.

Dan sungguh saudara-saudariku fillah, sungguh kita sangat merindukan syahid, sebagaimana para generasi sebelum kita pun merindukannya.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mereka mendapat rizki.” (Ali ‘Imran: 169)

Adakah kematian yang lebih nikmat daripada mati syahid? Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan pahala bagi mereka yang syahid di jalan-Nya dengan pahala yang besar?

Marilah kita renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Tirmidzi dari Miqdad bin Ma’d, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

“Allah Ta’ala menjamin 7 hak bagi para syuhada: dia diampuni sejak tetes darah pertama yang keluar dari tubuhnya, ia akan ditunjukkan tempatnya di jannah, ia akan mengenakan pakaian iman, ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari, ia akan terbebaskan dari siksa kubur, ia akan terbebas dari goncangan dahsyat pada hari qiamat nanti, di atas kepalanya akan disematkan mahkota kehormatan dimana satu mutiaranya adalah lebih baik daripada dunia seisinya, dan ia akan mendapatkan hak untuk memberi syafa’at 70 kerabatnya.” (lihat Shohih Al Jami’, no 5058).

Saudaraku fillah, inilah jihad, jika engkau mati, maka engkau syahid biidznillah, insyaAllah, jika engkau diusir maka itu adalah siyahah, jika engkau dipenjara maka penjara adalah tempat kalian berkhalwat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Inilah jihad, inilah jihad, inilah jihad, dengannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan ummat ini mulia. Inilah jihad, inilah jihad, inilah jihad, dengannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala membuka pintu akhirat, ia mendapatkan kehormatan berkumpul dengan anbiya’, shaddiqiin dan para shalihin. Adakah dari kita yang memenuhinya?

Ketahuilah bahwa hanya bercita-cita berjihad saja ini belum cukup, ia hanya menghilangkan sifat nifak dalam diri namun jika ia belum berjihad, maka ia tetap berdosa karena jihad adalah kewajiban yang harus kita tunaikan dalam kondisi seperti ini (fardhuh ‘ain), lalu akankah kita terus diam tanpa i’dad?

Wahai saudaraku yang berada di suatu lembah, aku mengajak dan memanggil kalian berpegang teguhlah kalian dengan cahaya petunjuk (al-Qur’an dan Al-Hadits), supaya kalian menjadi tentara Allah, siapkanlah kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, dan keluarlah untuk berperanglah di jalan Allah demi ridho-Nya.

Sesungguhnya pembenaran dari cita-cita itu adalah sebuah amalan yang nyata, itu kalau kita benar-benar jujur, jujur pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jujur pada diri kita sendiri.

* * * * *

Wa akhirul da’wahna anil-hamdu lillahi Rabbil-‘aalamiin. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…

Akhuna Abdulloh Al Magriby


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: