Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Uncategorized » KEPRIHATINAN DARI DALAM PENJARA (Oleh : Abu Basyir Al Gharibi)

KEPRIHATINAN DARI DALAM PENJARA (Oleh : Abu Basyir Al Gharibi)


Maha Suci Allah yang telah menetapkan masa pergiliran kejayaan maupun kebinasaan bagi tiap-tiap kaum. Dialah Robb Yang Maha Teliti, Maha Menangguhkan dan yang menguji tiap-tiap bangsa.
Sesungguhnya kemenangan Islam adalah suatu janji dari Alloh yang pasti akan terlaksana. Islam akan kembali jaya menjelang hari akhir sebagaimana telah dinubuatkan oleh Nabi yang buta huruf, utusan Allah Yang Ma’sum. Yakni Muhammad SAW. Semoga salam sholawat tak henti-hentinya terus mencurahi beliau, keluarga beliau, shahabat ridh-wanullah ‘alaihim, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan sampai kepada seluruh pengikut beliau dimanapun berada. Amien.
Tulisan ini bukanlah sebuah fatwa yang berisi rincian dalil secara detail tentang suatu pembahasan. Tulisan ini hanyalah perenungan sekaligus sebagai peringatan (Tadzkirah) bagi kalangan yang beraviliasi terhadap jihad ‘alami, bi makna Qital. Dan pembahasan ini lebih dikerucutkan lagi seputar Waqi’ atau Realita yang memprihatinkan dalam penjara. Di wilayah NKRI ini.
Tulisan ini merupakan fakta menyedihkan dari pengamatan obyektif yang tidak diada-adakan. Ini bener-bener nyata. Dimana, jika kita tidak segera bangkit dari keterpurukan ini, niscaya kita akan merugi.
Marilah bersikap dewasa menghadapi problema hidup umat, terutama yang berkenaan dengan keberlangsungan jihad kita menumbangkan thoghut. Jangan hanya siap menerima sanjungan-sanjungan tapi sikapilah juga tiap kritik yang bener-bener menuding cacat cela kita secara apa adanya.
Ketidak dewasaan akan melahirkan penentangan baru. Tidak mau mendengar jika ada orang lain mengungkap kesalahan kita. Belum bisa terima melihat kelemahan diri. Bahkan malah menyatakan perang terhadap si penyampai kritik. Riskan.
Sungguh! Poin demi poin dalam tulisan ini bukanlah untuk menunjukkan kepada musuh bahwa umat ini lagi terpecah. Bukan pula dalam rangka membuka aib atau mencemarkan nama baik. Melainkan agar kita sadar terhadap kesalahan kita untuk kemudian berbenah, mempersiapkan jiwa secara serius dalam perjuangan ini. Bangkit dari keterlenaan, kesia-siaan dan kesalahan.
Dalam dunia militer, salah satu penunjang kemenangan yakni adanya laporan (Reporting) yang universal. Menyeluruh. Yang meliputi seluruh kelemahan dan kelebihan, baik reporting terhadap musuh maupun pasukan sendiri. Sebuah laporan yang benar bisa berfungsi sebagai bahan evaluasi guna menentukan strategi ataupun perbaikan.
Karenanya, seburuk apapun penilaian dari orang lain – selama itu merupakan fakta – sikapi dengan dewasa! Jadikan perenungan! Lantas benahi keadaan dengan segera!
Adapun tulisan ini akan membahas tentang penjara yang mengurung para ikhwah mujahidin Indonesia. Tentang kondisinya yang relatif memprihatinkan; yang dilihat bukan dari sudut pandang fasilitas ataupun perlakuan dari para penjaga. Melainkan dari interaksi sesama ikhwah sendiri. Sesama ash-shabusijin, yang kemudian sampai melebar pula keluar lingkungan penjara.
Ada apa dengan penjara para mujahidin?
Kalau mendengar istilah ash-shabisijin, yakni para ikhwan yang dipenjara lantaran terlibat kasus terorisme, bayangan kita tertuju pada sosok-sosok langit. Para pejuang yang telah teruji. Rasa salut memenuhi dada. Ingin mendengar dan melihatnya. Ingin mengenalnya, mengambil ilmunya serta bergabung dengan kafilahnya. Inilah kesan yang mula-mula timbul dihati para ikhwah yang beraviliasi pada dakwah muqowwamah, terutama bagi orang-orang yang baru mengenal pergerakan. Mudah takjub dan semangatnya menggebu-gebu. Ada kebanggaan tersendiri jika bisa mengenal dan bahkan atau mengunjunginya.
Ash-shabusijin oleh banyak kalangan ikhwah memang cukup dimuliakan. Ironisnya, banyak pula yang bersikap terlalu lebay. Menganggap para ash-shabusijin seakan-akan seorang syaikh yang banyak ilmunya. Tiap urusan selalu merujuk dan meminta pertimbangan “orang dalam”, istilah populeh untuk menyebut para ash-shabusijin.
Memang seyogyanya para pejuang itu harus kita muliakan. Bahkan mengurus keluarga yang mereka tinggalkan-pun menjadi kewajiban. Ini termasuk salah satu cara membantu jihad. Namun terlepas dari masalah itu, sanjungan yang bertubi-tubi datang dengan berganti-ganti orang bisa menjadi peluang setan untuk melemahkan jiwa. Rawan menimbulkan riya’ dan penyakit-penyakit hati lainnya. Banyak kalangan mujahidin tidak kuat menerima derajad. Dan ini bukan saja menimpa prajurit-prajurit petit, bahkan kalangan-kalangan ustadz maupun senior-senior kabirpun berguguran diwilayah ini.
Sehingga hilanglah sikap wara’. Tawadhu’ –nya mulai menguap. Terlalu berani berfatwa. Merasa sudah dituakan sehingga kurang bisa menghargai orang lain. Suka mengatur dan menggurui. Merasa telah jauh berpengalaman, sehingga bicaranya sok faham tentang waqi’ maupun strategi. Sering mengajak orang lain mengevaluasi amalaiyah yang dia sendiri tidak terlibat didalamnya, dalam rangka ingin menunjukkan bahwa amaliyah yang dahulu dilakukannya itu lebih “Hebat” dari orang lain. Ingin dipanggil dengan Kunyah (gelar) yang baik-baik.
Betapa bahayanya sebuah sanjungan. Semua memang dikembalikan pada pribadinya masing-masing. Orang kalau kurang ilmu pasti akan mudah menampakkan kebodohan sikap dan bicaranya. Sementara orang berilmu bukanlah mereka yang memiliki seabreg hafalan atau referensi semata tanpa mau mengamalkannya. Orng berilmu adalah yang fahm untuk kemudian bersegera mengamalkan yang difahami tersebut. Mereka itulah yang disebut sebagai Ulul Albab. Mereka itulah militan yang sesungguhnya. Yang tidak goyah oleh pujian apalagi celaan. Mereka tidak butuh sanjungan karena mereka beramaliyah bukan karena makhluk.
Dunia jihad adalah dunia amaliyah yang mengharuskan sikap istiqomah dan keikhlasan. Baik pada awal-awal sebelum beramaliyah, pada saat beramaliyah dan setelahnya. Keikhlasan harus terus dijaga. Dipertahankan agar amalan tidak rusak atau sia-sia.
Bagi mujahid sejati, tak ada istilah istirahat dalam berjuang sebelum bisa meraih syahadah.
Mereka benar-benar telah menjual dunianya. Tidak peduli resiko mengancam harta, kesenangan dan nyawanya. Mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan mendulang pahala yang ada didepan matanya.
Tapi mereka itu hanyalah segelintir orang. Hanya sedikit. Sangat sedikit.
Mereka adalah orang-orang tersaring. Pinilih. Benar-benar pasukan yang tahan uji. Penuh penderitaan. Sering dicela oleh para pencela. Mereka membuktikan kejujurannya dengan terus menerus bermujahadah.
Siapakah mereka? Apakah mereka ada jaminan bahwa mereka adalah orang yang saat ini lagi dipenjara? Ataukah orang yang pernah berjihad? Atau bahkan yang lagi beramaliyat?
Jangan mudah silau dengan kondisi seseorang sebelum melihat akhir kesudahan mereka! Hanya saja, kita memang berkewajiban memberikan muwalah kita kepada mereka selama mereka berada diatas Al Haq. Penempatan aqidah Wala’ wal Baro’ kita harus tepat!
Selama nyawa masih ada, berarti kita masih terus diuji. Masih terus menjalani proses tamhis, yakni penyeleksian. Sementara, tamhis itupun juga tetap dialami oleh para ash-shabusijin, para teroris.
Sebelumnya maaf, perlu dimengerti bahwa teroris yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah para mujahid, sebagaimana telah banyak difahami oleh kalangan pergerakan. ini bukan suatu bentuk penghinaan. sebagaimana yang dikatakan oleh Ustadz Mukhlas Rahimahullah bahwa beliau justru bangga disebut sebagai teroris karena ini suatu titel yang sulit didapat. Syaikh Abdullah Azzam juga berani terang-terangan menyebut diri sebagai teroris atau Irhabiyun. Al qaeda juga telah mengeluarkan banyak nasyid yang bertema Irhaby. Memang, terorisme para mujahidin itu adalah mahmud, dakwah Ilahiyah! Inilah statement Al Qaeda!
Menjadi Irhabiyun atau teroris bagi musuh-musuh Allah merupakan perintah dari Allah yang termaktub dalam Qur’an surat Al Anfal : 60. Suatu perintah dari langit untuk mempersiapkan diri guna meng – Irhab (meneror) musuh-musuh Allah. Orang yang meng- Irhab disebut sebagai Irhabiyu atau Teroris. Jadi, kita tidak perlu sedih atau malu terhadap sebutan ini. Sementara, yahudi dan Amerika adalah teroris yang terkutuk, kita saling meneror. Karena ini adalah peperangan!
Entah sudah berapa ikhwan- kah yang saat ini telah tertawan. Dimanakah pembelaan kita? Padahal adanya satu orang muslim saja yang ditawan sudah cukup menjadikan jihad itu fardhu ‘ain.
Penyakit Wahn memang telah melanda sangat akut. Cinta dunia dan takut perang. Setan tealh memanjangkan angan para generasi. Umat Islam sebanyak ini tapi kekuatannya mandul laksana buih. Dimanakah kekuatan ribuan para pen-takziyah dan pengantar jenazah para shuhadah itu? Apakah amaliyatnya hanya mentog’ alias buntu dan mandeg diruang-ruang bezukan para ash shabusijin saja?
Kita ini Fie Waqtil harbi. Bener-bener saat ini adalah era perang. Berperang melawan orang-orang musryik penganut agama demokrasi pancasila.
Hukum-hukum Allah dicampakkan dinegeri ini, para du’at dan mujahidinnya selalu ditangkapin, disiksa dan dibinasakan. Tapi konyolnya masih banyak yang bisa tertawa lepas terhadap dosa-dosa yang tiap detik menumpuk bagi orang-orang yang tidak segera beramaliyah.
Perang koq kayak gini. Musuh sudah lama bergerak tapi kita cuman “ndomblong”. Seakan-akan pasrah bongkokan untuk jadi target berikutnya.
Kalau bicara teori, siapapun bisa beretorika melambungkan angan setinggi bintang di awang uwung itu. Yakni memiliki kekuatan, terus keluar atau mengeluarkan para ikhwah yang ditawan musuh. Lantas balas men-DPO musuh. Tidak lagi jadi target tapi bisa memburu dan mentarget. Ck ck ck… Indah nian impian itu.
Tanpa merintisnya dengan sebuah gerakan nyata, apakah mungkin hal itu tercapai?
Marilah masing-masing tiap kita jujur. Apa kira-kira yang terbesit dalam hati tatkala melihat atau mendengar tentang adanya ikhwah yang dipenjara? Sedih pasti! Lalu, sudahkah sejengkal langkah pernah kita tempuh guna membalas kedzoliman musuh-musuh Allah itu?
Resiko apapun dari sebuah amaliyah adalah ujian yang wajib dilalui oleh para pemburu syurga. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Maka jangan hanya siap menangnya saja. Jangan hanya terbuai oleh keberhasilan dan harta rampasan. Serta dapat budaknya semata.
Maka dalam proses tamhis itu, kita pasti akan dihadapkan pada situasi yang benar-benar menuntut pengorbanan. Tarohlah misal menampung DPO. Coba bayangkan jika ada seorang DPO menyinggahi kita. Disitu kita sudah punya gambaran pasti, yakni jika menolak, kita diancam neraka. Tapi jika kita mau menampungnya, hal ini bisa membawa kita ikut terseret dalam kasusnya. Bisa kena pasal KUHP.
Nah! Dalam situasi pilihan yang sudah jelas-jelas begini, yakni syurga ataukah neraka, nyatanya banyak diantara kita yang kehilangan akal sehatnya. Ketakutannya terhadap resiko yang mengancam sering kali membuat kita memilih neraka. Bodoh banget, Bukan?!
Inilah tamhis. Penyeleksian!
Satu kasus lagi sebagai contoh, tentang senjata. Sudah berapa sering ikhwah-ikhwah kalangan jihadis Indonesia melakukan latihan yang meliputi cara bongkar pasang, penggunaan ataupun tadrib militer menggunakan senpi. Banyak peluru terhambur dimedan-medan I’dad. Banyak pula yang telah mampu membelinya. Banyak ikhwah-ikhwah pernah menyimpannya. Tapi, sebanyak apakah nyawa thoghut itu terenggut dengan perantaraan senpi tersebut?
Akhirnya malah banyak yang dipenjara karena kasus kepemilikan senpi secara ilegal.
Sayang sekali! Pegang senjata tapi Cuma ditimbun, atau dipamer-pamerkan kepada anak buahnya semata, atau sekedar dibisniskan. Diperjual belikan dengan mencari untung, sangat keterlaluan. Padahal terhadap sesama ikhwan sendiri yang bener-bener membutuhkan untuk amaliyah.
Uang yang seharusnya sudah dapat dipakai membeli AK-47 Cuma dapat bom asap. Terlalu.
Orang-orang menganggap sebagai teroris besar padahal kasusnya penipuan. Terhina itu. Punya alat untuk meneror tapi disia-siakan. Apa nilainya jutaan rupiah dibandingkan dengan kepastian janji Allah bahwa selamanya jasad orang-orang kafir yang terbunuh itu tidak akan pernah terkumpul menjadi satu didalam neraka bersama dengan si pembunuhnya, yakni Mujahidin?!
Betapa banyak kesempatan emas hilang begitu saja, diman itu bahkan menjadi penyesalan panjang tak bertepi hanya karena takut terhadap resiko. Terlalu cinta dunia. Kakinya seolah-olah sudah terikat oleh bumi sehingga enggan dan merasa berat beramaliyah.
Takut miskin. Emang pernah kaya??!
Iya!!! Padahal rata-rata ikhwan itu kekayaannya juga tidak semewah orang –orang kafir, tapi herannya kenapa banyak yang tidak bersegera ambil langkah?
Heran! Apanya yang salah? Padahal makanan dan pekerjaan juga halalan toyyiban. Kitab-kitab yang dikaji juga telah mengupas tuntas tentang jihad. Bicaranya pun juga amat fasih dan kuat berjam-jam untuk membahas masalah jihad secara benar. Baik di duta maupun di dumay.
Astaghfirullahal ‘adhim.
Demi Allah, sekecil resiko apapun di jalan jihad itu, nilainya sangat besar disisi Allah.
Penjara itu lebih baik dari pada berada diluar tapi tidak mau beramaliyah! Ingatlah, Jihad telah fardu ‘ain! Adapun orang-orang yang berada dalam penjara, mereka mendapatkan udzur untuk tidak berjihad. Sementara orang-orang yang tidak dipenjara yang sehat segar bugar itu, mereka akan terus-terusan memikul beban dosa jika tidak beramaliyah!
Sungguh, bisa jadi penjara itu adalah Rahmat. Maka jangan sekali-kali menyalahkan ikhwan-ikhwan yang tak kuat siksa lantas “menyanyi”, yakni menyeret-nyeret nama ikhwan lain dan mengungkap jaringan.
Bagi orang yang memahami, sikap mereka terhadap penjara seperti sikap Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah. Beliau katakan bahwa sekiranya beliau memiliki emas sebanyak ruangan penjara yang ditempatinya itu, bagi beliau itu masih terlalu kurang untuk diberikan kepada orang-orang yang karenanya menyebabkan beliau dipenjara, sebagai wujud ucapan rasa terimakasih.
Subhanallah, beliau malah berterimakasih terhadap siapa saja yang terlibat dalam proses pemenjaraan beliau. Karena dipenjara beliau seakan-akan diberi keleluasaan untuk berkholwat dalam munajat kepada Allah.
Sebuah sikap yang menunjukkan ketegaran, kesiapan dan kebesaran hati Syaikhul Islam yang patut dicontoh. Bukan berarti beliau lebi memilih atau lebih senang dipenjara daripada berjihad. Tidak! Tidak begitu!
Sebuah sikap yang mendatangkan pahala yang lahir dari jiwa yang memahami benar akan hakikat ujian.
Harus kembali diingat bahwa kita ini ahlul bala’. Dimana ujian akan senantiasa menimpa kita secara bertubi-tubi hingga akhir hayat. Kita dituntut untuk bisa bersabar. Syukur-syukur ditingkatkan menjadi ridho. Dan lebih ditingkatkan lagi hingga bisa bersyukur menerima bala’ ujian tersebut. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Sungguh, Allah benar-benar telah membeli jiwa dan harta kita dengan syurga. Bayangkan! Betapa berharganya orang-orang yang berjihad disisi Allah. Saking berharganya, sampai-sampai kita dibeli. Padahal Allah sendiri yang menciptakan kita, tapi masih dibeli. Dengan Jannah pula. Masya’ Allah. Masya’ Allah.
Maka apa arti sebuah resiko apabila dibandingkan dengan Jannah?
Kebanyakan diantara kita saat ini kayaknya saling menunggu-nunggu hadirnya pasukan yang kuatnuntuk kemudian menggabungkan diri kedalam barisan tersebut. Terlalu lama menunggu bikin hati jadi kecut. Takut berkorban katanya siasat. Kompromi terus dengan berbagai alasan.
Bukankah merintis itu lebih sangat mulia daripada sekedar meneruskan? Dan keimanan serta amaliyah orang-orang antara sebelum dengan sesudah kedatangan Imam Mahdi itu amat jauh berbeda nilainya.
Abu Darda pernah berkata : “Lakukanlah amal sholih! Karena kalian nanti akan berperang dengan amalan kalian saat ini”.
Artinya, amalan dan sikap perbuatan kita saat ini adalah sebagai penentu dihari-hari peperangan mendatang. Jika saat ini kita egois, nanti dipeperangan sikap itu pasti akan muncul jugamendominasai. Jika saat ini kita tidak pernah I’dad, dalam peperangan pun juga akan terbuktikan sebagai orang yang justru malah menyusahkan ikhwan lain. Jika saat ini kita suka membiasakan diri untuk takut menderita, maka dihari peperangan pun bisa-bisa kita membuang senjata karena tidak kuat memikulnya. Barreta yang kita cintai saat ini, bisa-bisa kita benci suatu ketika jika perang terjadi karena mental sudah lemah sehingga tidak kuat terhadap hentakannya. Naudzubillahi min dzalik.
Siapapun dan dimanapun kita, diluar ataukah didalam penjara, wajib terus mempersiapkan diri. Jangan mentang-mentang ahli udzur terus tidak mau lagi memanfaatkan tiap peluang yang ada.
Orang dalam penjara aja bisa I’dad, orang luar harus lebih bisa dari mereka. Banyak ikhwan-ikhwan dalam penjara memiliki dokumentasi I’dad mereka selama di dalam. Ental itu rolling, qital qorib, ataupun lari-lari sambil melantunkan nasyid-nasyid penyemangat.
Di Polda, misalnya. Pekikan takbir dan dan lantunan nasyid tiap i’dad pada tiap ahad pagi itu begitu lantang terdengar hingga keluar pagar. Padahal mereka ada dilantai empat. Bahakan polisi-polisi disana banyak yang menyimpan liputan-liputan i’dad mereka karena mereka berlari-lari tersebut dibawah CCTV. Namanya juga penjara teroris, pengawasan dan mulut-mulut yang suka lapor itu pasti ada. Tapi, dalam hal ini, i’dad mereka adalah syi’ar. Mereka lebih tahu apa yang harus ditunjukkan ataupun disembunyikan dibawah CCTV itu. Kalau sekedar lari-lari sambil bernasyid, tak mengapa mereka tahu.
Adapun i’dad dengan pistol mainan didalam penjara, dibawah CCTV, itu banyak yang pro dan kontra. Keduanya tidak bisa disalahkan karena mereka masing-masing memiliki pertimbangan yang siap dipertanggungjawabkan.
Yang jelas saat ini kita harus bener-bener serius. Berkonsentrasi membalas. Tidak sekedar menunggu. Dan orang dalam penjara pun tetap wajib memikirkan cara keluar dari penguasaan musuh, dan tidak sekedar mengharapkan ikhwan-ikhwan luar untuk membebaskannya. Bagi orang luar penjara, wajib mengusahakan kebebasan semua mujahidin. Mendobrak dinding-dinding penjara untuk mengeluarkan tiap muwahid yang tertawan. Semuanya! Jadi tidak sekedar ustadz-ustadz terkenal saja yang dibela. Bebaskan semua tawanan dari kalangan mujahidin!
Namun tiap orang mempunyai tingkat kejujuran yang berbeda-beda. Kepengucutan mendominasi, sehingga keberaniannya salah tempat dan atau ketakutannya menguasai akal sehatnya. Tak semua orang yang ngaku mujahid siap berkorban. Rata-rata pelit terhadap keringat untuk diteteskan dijalan juang. Orang dalampun demikian. Andai tembok-tembok penjara itu runtuh, entah karena sebab bencana alam atau lainnya, belum tentu mereka semua mau melarikan diri dari situ. Takut ketangkap lagi-lah! Takut kehilangan fasilitas-lah! Bahkan ada yang sudah tidak mau berjuang lagi. Naudzubillah.
Tiap kita memiliki tingkat ujian yang berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Tergantung dari tinkat keimanan kita. Semakin tinggi keimanan, semakin besar pula ujian yang diterima.
Banyak orang yang sudah limbung; jatuh tersungkur di ujian yang ringan. Menandakan lemahnya jiwa.
Misal, penerapan sikap keras terhadap kuffar dan berlemah lembut terhadap sesama mukmin. Secara teori mudah saja digembar-gemborkan. Adapun penerapan ini didalam penjara jauh lebih sulit daripada yang diluar. Silahkan saja bayangkan bagaimana penatnya berada dalam kurungan. 24 jam kali sekian tahun hidup bersama ikhwan-ikhwan yang berbeda karakter, dimana mereka semua akan membuka karakter asli mereka. Disitu juga ada musuh yang kerap datang menyidik.
Kadang kala terhadap masalah sepele seperti Ngorok, Kentut atau sifat jorok dari beberapa temen kerap menimbulkan perselisihan. Nah, disini kita dituntut bagaimana bersikap.
Penyakit yang sulit dihindari hampir oleh semua ikhwan adalah Ghibah. Demen sekali berkarakter seperti cicak atau tokek yang menghembuskan bara agar api menjadi besar. Ada sedikit masalah diluar, langsung diberitakan ke dalam. Begitupun sebaliknya. Masalah intern penjara yang orang luar tidak perlu tahu, digembar-gemborkan kepada publik. Seakan-akan menyuruh seluruh orang untuk membenci atau mewaspadai seseorang. Benar-benar usaha keji mematikan karakter ikhwan. Dan setan-pun terus-terusan menjadikan yang demikian itu sebagai suatu keindahan, yang berkedok ishlah.
Tak jarang pula dibumbui dengan kedustaan-kedustaan yang tidak sesuai fakta. Memfitnah seseorang. Pem-beo-pun tambah meramaikan suasana.
Memang begitulah tamhis. Amalan segunung bisa terhapus lantaran ucapan-ucapan keji.
Sementara figuritas kerap membuat orang terpana. Mentang-mentang pernah kenal dengan tokoh-tokoh utama pergerakan yang telah syahid, sudah dianggap orang hebat. Tiap-tiap yang dikatakannya seakan-akan sabda pandita yang tidak perlu disaring lagi. Ini adalah kesalahan fatal dalam tubuh jama’ah! Senioritas melulu dikedepankan.
Rupanya memang banyak yang belum faham hakikat perjuangan yang tiap saat perlu adanya perubahan atau perbedaan strategi ditiap-tiap sel jihad. Strategi perang itu amat luas. Tidak bisa sekedar ‘saklek’ pada pendapat satu orang yang diseniorkan atau tandzim-tandzim resmi di wilayah lain. Strategi itu berkembang berdasarkan waqi’ di daerah masing-masing.
Para pencela umumnya memiliki paradigma bahwa amaliyah itu standarnya harus seperti bom Bali. Kalau tidak bisa “berhasil” seperti mereka, pasti disepelekan. Padahal keterlibatan para pencela dalam amaliyah-amaliyah itu sangat tidak berarti, masih saja ditambahin dg dosa-dosa takabur, namimah dan mengolok-olok. Menyedihkan.
Ini peringatan buat kita bersama.
Tahu apa kita dengan amaliyah orang lain yang kita tidak ikut seta didalamnya?
Belum tentu kita ini kuat mengemban sedikit saja dari amaliyah-amaliyah yang kita anggap ceng ceng po itu. Bahkan bisa jadi kita stress jika dihadapkan pada waqi’ yang dialami oleh masing-masing amaliaters itu.
Diam lebih selamat. Tidak terlalu banyak ita-itu tapi ngawu-awu. Tidak mudah mengomentari dan mengevaluasi amal bakti seseorang, tahu-tahu bergerak mengguncang singgasana iblis.
Dewasa ini kalau kita lihat maraknya penangkapan-penangkapan, menunjukkan telah terpantaunya tiap-tiap jaringan. Itu terjadi salah satunya karena thoghut telah mengantongin sejumlah nama yang didapat dari penangkapan-penangkapan sebelumnya. Mereka sengaja dibiarkan, dipantau dan pada akhirnya digerebek sesuai dengan keinginan atau suhu politik yang terjadi.
Maka jangan mudah menyalahkan orang-orang yang baru latihan ketangkep, atau ada bom-bom yang tidak sempat meledak karena keburu dijinakkan dan lain sebagainya.
Jangan suka latah dan tergesa-gesa membuat penilaian terhadap amaliyah jihadiyah! Sebab amaliyah itu dilakukan dengan penuh keragaman strategi tersembunyi. Masing-masing amaliyah memiliki acuan, sasaran, maksud, tindak lanjut, persiapan, pengamatan, perhitungan, pertimbangan, pendanaan, dan lain-lain yang waqi’ lapangannya hanya dirasakan oleh pelakunya sendiri. Jadi, buat apa kita susah-susah mengevaluasi? Kayak luthung gagu : banyak tingkah, suka nuding-nuding dan suaranya jelek menyakiti.
Apa yang nmelatar belakangi untuk bersikap demikian?
Sekedar bicara tentang strategi itu gampang. Tentang bagaiman bermain cantik, tentang mashlahah dan mafsadat, tentang membentuk mahjuroh, tentang sebab-sebab kemenangan, tentang tehnik berperang di medan ma’rokah, tentang survival dalam hutan maupun perang kota, dan lain sebagainya.
Indah kedengarannya bak kalimat-kalimat puisi si tuan pujangga. Tapi kalimat itu bisa berubah jadi membusuk jika digunakan sebagai bahan mengevaluasi (menjelek-jelekkan) amaliyah orang lain.
Jangan cela amaliyah yang tampak kecil dimata kita. Karena dalam perang itu ada strategi “seribu tusukan jarum” yang mengharuskan penyerangan kecil-kecilan tapi beruntun terus. Gunanya untuk mengalihkan perhatian, menjahr-kan konflik, memecah konsentrasi musuh, memberikan peringatan, merugikan dan memaksa musuh untuk mengeluarkan anggaran-anggaran diluar perhitungan mereka dan lain-lain.
Kemudian perkara mereka belum sempat menabuh gong, yakni mencuatkan amaliyah inti karena keburu tertangkap ataupun syahid, ini adalah perkara lain. Allah memiliki takdir dan skenario yang tidak kita ketahui.
Kita hanya berkewajiban berusaha. Kita bukanlah penentu hasil akhir.
Sunnatullah sebuah perang itu ada menang dan ada kalah. Ditengah-tengah pertempuran itu ada para qo’idun : orang yang duduk-duduk. Ada penggembos. Ada pengkhianat dan lain-lain, intinya ada munafik yang suka mengacau, yang ada ditubuh jama’ah sendiri.
Penempuh jalan kebenaran, mereka pasti dan harus melewati resiko juga celaan dari orang-orang dungu itu sebagai penguji keimanan.
Anjing menggonggong, gerilya jalan terus!
Senjata tak akan diletakkan. Selalu waspada. Bergerak cepat terhadap tiap celah yang muncul. Pertahanan terbaik adalah menyerang! Lancarkan terus amaliyat tiada ampun bagi penyembah selain Allah.
Ini adalah perang!
Anehnya banyak yang kian terlena dalam permainan dan hiburan laghwun. Penyakit berbahaya yang bahkan banyak menimpa orang-orang dalam : mulai tidak malu-malu berkumpul didepan layar menonton film-film barat atau mandarin. Kebanyakan nge-game atau online tanpa misi apapun. Mengikuti acara-acara TV hingga larut malam.
Ini perang! Kita ini sudah kalah, masak masih ditambahin dengan kekalahan-kekalahan ruhiyah yang lain? Ini berarti seakan-akan kita ridho terhadap kekalahan dan kehinaan ini. Mari mikir. Ini perang! Perang!
Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rosul-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya”, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS. At Taubah : 24)
Pernahkah kita memahami ayat tersebut? Lantas bagaimana dengan prakteknya?
Pernyataan cinta kita kepada Allah, Rosul dan Jihad fiesabilillah akan terus diuji dengan berbagai peristiwa.
Tentang peristiwa larinya salah satu ikhwan dari markas kepolisian kemarin, contohnya! Kalau sampai ada ikhwah tidak menyukai insiden yang bikin malu kepolisian ini, maka pantaslah kita tinjau ulang keimanan kita!
Tapi anehnya, masih ada juga yang justru menampilkan kemarahan terhadap ikhwan yang kabur tersebut. Marah karena ruang gerak bisnisnya dalam penjara jadi terbatasi. Marah karena fasilitas-fasilitas kemudahan untuk bersenang-senang jadi terputus. Marah karena sipir-sipir jadi tidak ramah lagi. Bukankah ini sudah termasuk sifat-sifat munafik, yang Allah sebut sebagai orang fasik?
Mari memandang dari sudut pandang hakikat! Ini perang. Masak teroris, yakni ‘tentara orang Islam’ tidak siap menderita? Mudah terkejut dengan insiden pendadakan kayak gini? Kejujuran kita diuji. Keimanan dan mahabbah kita diuji juga. Inilah salah satu proses tamhis. Borok-borok kita akan terlihat ketika badai ujian itu datang. Watak asli kita akan muncul tatkala dalam himpitan kesusahan.
Pantaskah disebut mujahid bagi tiap-tiap yang menyalahkan orang yang berusaha membebaskan dirinya dari kehinaan ditawan musuh?
Meski pada akhirnya dia kini tertangkap lagi, toh dia sudah membuktikan diri bahwa larinya bener-bener dalam rangka amaliyah. Dia sudah berhasil memasang bom dan tertangkap tatkala hendak membeli senpi. Data-data telah masuk dalam Berita Acara Pidana dan sudah dipublikasikan secara resmi tentangnya.
Kayak gitu masih ada yang dendam. Memfitnah pula.
Akan nampak siapa yang masih tsiqoh di jalan jihad dan siapa-siapa yang cuma berlagak pejuang padahal tahunya penjilat.
Sungguh, munafikin itu berada dalam tubuh jama’ah. Menempel dan berbaur dengan kita. Mereka terus-terusan menularkan virus. Maka kita harus sering-sering muhasabah dan mewaspadai diri sendiri, jangan-jangan sindrome ini telah menjalari hati kita.
Betapa kalimat-kalimat ghibah mereka kuasa menyihir pendengaran. Betah berlama-lama dalam majelis tawa dan senda gurau mereka. Ingin terus-terusan mengikuti isyu-isyu terhangat dari ucapan yang telah dihias setan dengan pernak-pernik melenakan itu.
Dan jalan untuk memotong rayuan mereka adalah dengan menyibukkan diri terhadap aib diri sendiri. Banyak-banyak dzikir.
Kita bener-bener lagi mengarungi proses tarbiyah dan tamhis. Bisa jadi kawan akan menjadi lawan, dan lawan bisa menjadi kawan. Kalau hidayah ilmu yang kita miliki tidak kita pelihara dan amalkan dengan baik dan maksimal, siap-siaplah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya! Dan pasti para pengganti, penerus estafeta perjuangan itu segera muncul. Maka semestinya kita berusaha untuk tidak jadi kaum yang tergantikan itu.
Dipenjarapun tarbiyah tidak boleh berhenti justru disitu merupakan kesempatan belajar, menghafal dan ngangsu kawruh bisa maksimal.
Sudah jamak diketahui, tidak semua teroris terdiri dari kaum jebolan pesantren. Bahkan ada banyak yang mantan preman atau kalangan awam. Inilah kenyataannya! Kalau orang-orang yang berilmu tidak mau berangkat, orang-orang yang berpendidikan tidak mau diajak amaliyah, maka apa salahnya merekrut mantan preman? Toh mereka lebih mulia dari pada mantan mujahid.
Banyak orang-orang yang faham Islam, bisa baca Qur’an, justru ketika dalam penjara. Penjara menjadi tempat menempa diri.
Namun, ternyata ada juga yang malah lari dari proses pembelajaran itu. Diajarin baca Qur’an tidak mau, diajak kajian enggan, padahal para tahanan kriminal umum rata-rata memanggil para ikhwan teroris itu dengan sebutan ustadz.
Tidak ada bedanya, lima tahun dipenjara sama seperti lima tahun di luar. Tiada tambahan ilmu sama sekali. Merugi.
Benarkah bahwa Islam nanti akan dikuatkan oleh orang-orang kafir. Orang-orang pendosa yang tidak dapat bagian apa-apa diakhirat. Memprihatinkan sekali keadaan mereka. Kini, mumpung semuanya belum terlambat, gunakan tiap kesempatan untuk benahi diri.
Kalau usaha untuk menambah ilmu bener-bener tidak kuat, tidaklah mengapa jika telah maksimal berusaha. Yang penting niat, keikhlasan, aqidah dan pijakan beramaliyah itu harus kuat. Tidak boleh sekedar asal menyerang dengan membabi buta.
Kita ini bukan lagi berperang memusuhi masyarakat. Kita berperang melawan thoghut.
Teroris itu memang benar-benar tidak membenci negeri ini, tapi membenci sistem negeri ini. Buktinya, tiap kali Indonesia bisa membobol gawang negara lain dalam sepak bola, teriakan kegirangan dari para teroris juga tak kalah renyahnya dengan tifosi-tifosi lain. Maaf intermezo.
Teroris juga manusia. Bukan malaikat. Banyak juga diantara mereka yang masih suka mantengin bola. Hobby nonton bola.
Beginilah teroris Indonesia.
Mereka tetaplah mujahid selama tidak berada dalam barisan musuh.
Adapun mengenai keprihatinan yang tersirat dalam tulisan ini, tidaklah mewakili tentang mereka semua. Ini hanyalah kritik untuk segelintir orang yang menyeleweng. Karena mayoritas dari teroris Indonesia itu terdiri dari orang-orang tsiqoh, terpercaya an jujur. Pun demikian, meski hanya sedikit orang yang menyeleweng, jika tidak segera diantipasi, fatallah akibatnya.
Tulisan ini telah mengurai kelemahan, menjelaskan beberapa titik noda yang begitu memprihatinkan dan menyita perhatian.
Sungguhpun demikian, pembahasan tulisan ini sengaja tidak dijelaskan secara rinci dengan gaya bahasa menelanjangi. Cukuplah dengan pemberian gambaran, nasehat yang tidak langsung memmbuka aib, serta menghindari penyebutan nama dan tempat. Harapannya, agar orang yang bersangkutan tidak merasa dihinakan.
Alangkah baiknya jika ada yang merasa tesentil kemudian memperbaiki diri. Itulah harapan dari penulisan keprihatinan yang tersirat dan tersurat ini.
Persiapkanlah diri! Kemenangan itu sudah terasa sangat dekat jangan mudah dikagetkan oleh insiden-insiden pendadakan.
Sesungguhnya, malam itu jika sudah sangat gelap gulita dan begitu pekat, ingatlah itu menunjukkan bahwa fajar shubuh akan segera datang bersama sinaran mentari. Jangan putus asa dari rahmad Allah. Jangan sekali-kali menyerahkan diri kepada musuh. Teruslah berjuang menegakkan tauhid. Meninggikan kalimah Allah. Hingga hanya Allah semata yang diibadahi.
Antara orang luar dengan orang dalam memiliki waqi’ yang berbeda-beda yang tidak selamanya harus saling diberitahukan. Sadarlah bahwa tiap HP yang dipegang orang dalam itu amat rawan disadap.
Biasakan diri masing-masing kita untuk tabayyun agar tidak mudah terseret pada isyu dan fitnah yang acap terjadi.
Mayoritas orang ngomong bukanlah jaminan kebenaran. Apalagi Cuma beberapa orang yang sering menjadi corong terhadap tiap-tiap isyu yang dia dengar.
Jangan jadi orang yang mudah kagum pada penampilan. Orang bisa saja menampilkan diri didepan wartawan bak singa yang tak pernah takut musuh. Atau bisa saja bersikap seolah-olah tiada beban. Namun, sebelum kita benar-benar mengenalnya dengan sungguh-sungguh, jangan lantas menjadi silau.
Demikian halnya sebaliknya, jika ada kumpulan orang yang meng-ghibahi seseorang, janganlah mudah percaya tanpa adanya proses tabayyun. Atau, tinggalkan mereka!
Yang utama lagi, lakukanlah amaliat secara terus menerus. Syurga itu bener-bener ada. Kenikmatan yang kekal abadi yang keindahannya belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terbesit dalam hati.
Perang ini menciptakan kondisi yang saling bertentangan dengan musuh. Jika musuh lagi tertawa, kita sedih. Jika musuh lagi bersedih, kita lagi senang. Demikianlah! Jangan tertawa bersama musuh ketika musuh tertawa. Jangan pula ikut merasa sedih jika musuh ditimpa kesedihan.
Artinya, kekalahan mereka adalah kemenangan kita. Begitupun sebaliknya.
Jangan sekali-kali pernah membantu musuh dalam usaha memerangi para ikhwah.
Maaf jika tulisan ini terlalu menggurui.
Teruslah berjihad! Baik secara bershof-shof ataupun menjadi “Lone Warrior”. Buatlah jengkel hati musuh! Sebab ada pahala besar disana.
Mari berjihad! Qital! La’izzata illa bil jihad!
Bagi orang-orang dalam, kurangi penggunaan HP! Sebab diakui atau tidak, keberadaan HP sanggup menjauhkan orang yang dekat, meski bisa juga mendekatkan orang yang jauh. Ingatlah bahwa kalian berada dalam satu blok teroris. Mereka kini adalah benar-benar keluarga yang harus lebih didekati lagi. Hindari jarak antar sesama tawanan!
Usahakan jangan suka berbisnis makanan antar sesama tawanan! Apalagi dengan harga yang kebangetan. Titipkanlah keluarga kalian pada Allah. Dialah sebaik-baik pendidik, sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik pemberi rizki. Percayalah!
Ikutilah millah Ibrahim yang hanif!
Istiqomahlah di jalan ini, sesungguhnya kita akan terus diuji dengan berbagai macam ujian keimanan hingga ujung usia. Kitapun juga masih memiliki kewajiban berjihad. Tidak boleh sekedar berhenti didalam jeruji-jeruji besi. Selama thoghut masih berkuasa, selama syari’at Islam tak diterapkan, selama masih ada tawanan muslim, selama ada negeri-negeri Islam yang dijajah maka Jihad masih tetap Fardhu’ain.
Tidak ada kompromi dengan kemusyrikan!
Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata dalam duror samiyah : “Sesungguhnya, jika penduduk pedesaan dan perkotaan saling perang hingga seluruh jiwa musnah terbantai, sesungguhnya itu lebih ringan daripada adanya satu thoghut yang ditaati”.
Berperanglah! Lakukan amaliyat!
Jangan takut penjara! Hidup mulia atau mati syahid! Membunuh atau terbunuh! Hayya ‘alal jihad!
Allahu Akbar ! ! !
Berikutnya, sebagai pengingat, jangan lupa bahwa kita telah berjual beli dengan Allah. Kita ini dagangan Allah. Yang namanya dagangan, terserah yang empunya barang. Mau ditaruh dimanapun terserah. Mau ditempatkan dalam penjara yang paling menyedihkanpun, juga suka-suka yang telah membeli. Kalau kita jujur dan komit terhadap akad jual beli ini, konsekwensinya adalah kita harus siap segalanya. Siap hadapi resiko, siap meninggalkan keluarga, kesenangan bahakan nyawa.
Dan yakinlah bahwa dimanapun Allah memposisikan dagangan-Nya, disitu ada kemuliaan. Allah pasti akan senantiasa memuliakan dan memenangkan semua wali-walinya. Allah pasti menepati janji-Nya.
Kemenangan itu memerlukan syarat, lakon dan ujian.
Jalanilah tiap-tiap episode tamhis ini, untuk menyaring dan mengetahui siapa-siapa yang layak untuk Allah jadikan pemenang yang mewarisi Tamkin kejayaan Islam.
Wallahul Musta’an.
Ya Allah, Jika Engkau hendak menghancurkan kemungkaran, maka gunakanlah tangan kami ini untuk menghancurkannya…
Shabran Yaa Nafsy!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: