Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Mengkafirkan Orang Yang Mengaku Muslim Karena Syirik Akbar Dan Loyalitas Kepada Kaum Musyrikin Dalam Memerangi Kaum Muslimin

Mengkafirkan Orang Yang Mengaku Muslim Karena Syirik Akbar Dan Loyalitas Kepada Kaum Musyrikin Dalam Memerangi Kaum Muslimin


Mengkafirkan Orang Yang Mengaku Muslim Karena Syirik Akbar Dan Loyalitas Kepada Kaum Musyrikin Dalam Memerangi Kaum Muslimin

Karya: Al Imam Muhammad Ibnu Andil Wahhab

Alih Bahasa: Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

Diambil Dari: Majmu’atur Rasail Wal Masail An Najdiyyah 4/42-43. Darul Uhud Nigeria.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

Bila orang bersaksi bahwa (tauhid) ini adalah dienullah dan (dien) Rasul-Nya, maka bagaimana mungkin dia tidak mengkafirkan orang yang mengingkarinya (tauhid) dan membunuh orang yang mengimaninya serta memenjarakan mereka? Bagaimana dia tidak mengkafirkan orang yang mendatangi kaum musyrikin seraya mendorong mereka untuk komitmen dengan ajaran mereka dan menghiasi ajaran tersebut di hadapan mereka serta menyemangati mereka untuk memusuhi kaum muwahhidin dan mengambil harta mereka? Bagaimana tidak mengkafirkan (dan) tidak bersaksi bahwa yang dijajakannya ini adalah telah diingkari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah dilarangnya serta dinamakannya sebagai penyekutuan Allah? Sedangkan yang dia benci ini dan dia benci penganutnya serta dia memerintahkan kaum musyrikin untuk membunuh mereka itu adalah agama Allah dan Rasul-Nya.

Dan ketahuilah bahwa dalil-dalil terhadap pengkafiran orang muslim yang shalih bila dia berbuat syirik (akbar) atau dia bergabung dengan kaum musyrikin untuk memerangi kaum muwahhidin walaupun dia itu tidak berbuat syirik adalah sangat banyak lagi susah dihitung dari firman Allah, sabda Rasul-Nya dan ucapan para ulama. Dan saya di sini saya utarakan di hadapanmu suatu ayat dari firman Allah yang mana para ulama telah ijma (sepakat) terhadap tafsirannya bahwa ayat itu berkenaan dengan kaum muslimin, dan bahwa seseorang bila mengucapkan hal itu maka dia kafir kapanpun dia berada. Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٦)ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (An Nahl: 106-107)

Di dalamnya Allah telah menyebutkan bahwa mereka telah mencintai kahidupan dunia atas akhirat. Bila saja para ulama telah menyebutkan bahwa ayat itu telah turun perihal para shahabat tatkala mereka ditindas oleh penduduk Mekkah, dan para ulama itu menyebutkan bahwa seorang shahabat bila mengucapkan kemusyrikan dengan lidahnya sedangkan dia itu membenci hal itu dan memusuhi penganutnya, namun dia mengucapkan hal itu karena rasa takut kepada mereka maka dia itu murtad setelah dia beriman, maka bagaimana dengan orang mukmin di zaman kita ini bila mengucapkan (ucapan kemusyrikan) di Bashrah, Ahsa, Mekkah atau tempat lainnya karena rasa takut kepada mereka namun tanpa ikrah, bila orang macam saja ini kafir, maka bagaimana dengan orang yang bersama mereka dan tinggal bersama mereka serta menjadi bagian dari barisan mereka? Maka bagaimana gerangan dengan orang yang membantu mereka terhadap kemusyrikan itu dan menghiasinya untuk mereka? Maka bagaimana geranngan dengan orang yang memerintahkan mereka untuk membunuh para muwahhidin dan mendorong mereka untuk mengkomitmeni ajaran mereka?

Kalian -waffaqahumullah- amatilah ayat ini dan amatilah orang yang mana ayat itu turun berkenaan dengannya dan para ulama berijma terhadap tafsirannya. Dan amatilah apa yang terjadi antara kami dengan musuh-musuh kami. Kami senantiasa menuntut mereka agar merujuk kepada kitab-kitab mereka yang ada di tangan mereka dalam masalah takfier dan qital, maka mereka tidak menjawab kami kecuali dengan pengaduan kepada para syaikh dan orang-orang semisal mereka.

Kami memohon kepada Allah semoga Dia memberikan kepada kalian taufiq pada Dien-Nya yang lurus dan mengkaruniakan kepada kalian keteguhan di atasnya.

Semoga shalawat dan salam Allah limpahkan kepada Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

Syaikh Muhammad berkata di dalam “Risalah Al Masail Al Khamsu Al Wajibah Ma’rifatuha” pada masalah yang keempat (Majmu’atur Rasail Wal Masail An Najdiyyah 4/10-11):

Sesungguhnya engkau mengetahui bahwa Allah telah menurunkan kepada Rasul-Nya:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar: 65)

Padahal orang-orang musyrik itu membujuk beliau untuk mengucapkan suatu ucapan atau melakukan suatu perbuatan sekali saja, dan mereka menjanjikan kepada beliau bahwa bila beliau melakukannya maka mereka akan masuk Islam.

Bila engkau telah mengetahui bahwa orang yang paling bertauhid dan paling banyak kebaikannya (yaitu Rasulullah) seandainya beliau mengucapkan ucapan kemusyrikan padahal beliau membenci ucapan itu supaya menggiring orang lain dengannya kepada Islam tentu terhapuslah amalannya dan beliau tergolong orang-orang yang merugi, maka bagaimana gerangan dengan orang yang menampakkan bahwa dirinya adalah bagian dari mereka dan dia mengucapkan seratus ucapan (kemusyrikan) demi perniagaan atau demi bisa menunaikan ibadah haji tatkala kaum musyrikin menghalang-halangi kaum muwahhidin dari menunaikan ibadah haji, sebagaimana mereka menghalang-halangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya dari ibadah haji sampai Allah membukakan kota Mekkah.

Barangsiapa memahami hal ini dengan baik, maka terbukalah baginya ma’rifah kadar kedudukan tauhid di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dan kadar kedudukan syirik. Tapi seandainya engkau memahami ini setelah empat tahun, maka alangkah bahagianya engkau, yaitu dengan pengetahuan yang sempurna itu, sebagaimana engkau mengetahui bahwa setetes air kencing yang keluar itu membatalkan wudlu yang sempurna bila ia keluar walaupun bukan dengan keinginannya.” Selesai.

Penterjemah berkata:

Ini adalah di antara dalil yang menunjukan bahwa niat yang baik itu tidak bisa melegalkan syirik.

Orang yang melegalkan syirik dengan niat yang baik maka dia orang kafir yang berdusta kepada Allah.

Sedangkan orang yang mengudzur pelaku syirik dengan sebab niatnya yang baik, maka dia orang sesat yang tidak memahami kedudukan syirik di sisi Allah, begitu juga orang yang enggan mengkafirkan pelaku syirik akbar dengan alasan bahwa si pelaku syirik itu banyak kebaikannya.

Selesai diterjemahkan

Sabtu 7 Rabi’ul Awwal 1434 H

(Sijn KK – NK)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: