Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Apakah Wajib Mengetahui Makna LAA ILAAHA ILLALLAAH Beserta Rincian, Syarat & Konsekuensinya?

Apakah Wajib Mengetahui Makna LAA ILAAHA ILLALLAAH Beserta Rincian, Syarat & Konsekuensinya?


Pertanyaan(1):

Apakah orang-orang awam seperti orang pedalaman, kakek tua dan lanjut usia wajib mengetahui makna “laa ilaaha illallaah” dengan rincian-rinciannya yang anda kaji berikut pembatal-pembatalnya, syarat-syaratnya serta konsekuensi-konsekuensinya, sehingga bila dia tidak mengatahui hal itu dengan seperti ini maka dia kafir??

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah… wa ba’du:

Kami tidak mengharuskan seorangpun dari manusia baik itu orang pedalaman, kakek tua, wanita lanjut usia maupun yang lainnya untuk mengetahui pembatal-pembatal “laa ilaaha illallaah”, syarat-syaratnya, dan konsekuensi-konsekuensinya, ataupun (untuk) mengetahui maknanya dengan gambaran yang terperinci yang kami jabarkan dan kami jelaskan serta yang dijabarkan para ulama dalam kitab-kitab mereka, dan kami tidak menjadikan hal itu sebagai syarat untuk keislaman, yang barangsiapa tidak memenuhinya maka dia kafir.

Namun yang wajib atas mereka dari hal itu hanyalah merealisasikan tauhid dan menjauhi syirik dan tandid, yang mana ini adalah syarat sah keislaman. Allah ta’ala berfirman:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kokoh yang tidak akan putus” (QS. Al Baqarah: 256).

Sedangkan kufur (ingkar) kepada thaghut itu memiliki banyak tingkatan:

    Yang paling tinggi dan yang paling agung: adalah puncak menara Islam, yaitu jihad untuk menghancurkan thaghut dan merubahnya dalam rangka mengeluarkan manusia dari peribadatan terhadapnya kepada peribadatan kepada Allah saja. Dan tingkatan ini adalah jalan para mujahidin dari para pengusung kelompok yang nampak yang menegakkan perintah Allah, mereka tidak terusik oleh orang yang menyelisihi mereka dan tidak pula oleh orang yang menggembosi mereka sampai datang ketentuan Allah. Ini adalah jalan orang-orang khusus dan kami mengharuskan setiap orang dengan hal itu, namun orang-orang yang meniti jalan ini adalah orang-orang pilihan, semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka.
    Adapun tingkatan paling minimal: atau dengan makna lain, batasan paling minimal yang mana seseorang tidak menjadi muslim kecuali dengannya maka ia adalah apa yang Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sesungguhnya kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul, (mereka berkata kepada kaumnya): “Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut itu” (QS. An Nahl: 36).

Sedangkan menjauhi thaghut itu adalah dengan cara menjauhi beribadah kepadanya dengan seluruh macam ibadah-ibadah itu, serta menjauhi tawalliy kepadanya dan tawalliy kepada para penganutnya. Sehingga dengan hal itu seseorang selamat dari syirik akbar dan ia menjadi orang yang bertauhid yang jauh dari syirik. Bila seseorang menjauhi syirik, dan menjauhi pembelaan kepadanya dan pembelaan para pelakunya, serta dia beribadah kepada Allah saja, maka dia telah mendatangkan tauhid yang mana seseorang tidak menjadi muslim kecuali dengannya, dan kami tidak mensyaratkan terhadapnya agar dia menjadi muslim maka dia itu menjihadi para thaghut dan bala tentara mereka untuk menghancurkan syirik dan membela tauhid dan para penganutnya. Allah tidak membebani jiwa kecuali apa yang dia mampu, sebagaimana kami tidak mensyaratkan terhadapnya juga, terutama bila dia itu orang awam atau kakek tua atau wanita lanjut usia (bahwa dia itu harus) memahami rincian-rincian tauhid seperti yang dijabarkan para ulama dalam kitab-kitab mereka dan tidak pula harus mengetahui pembatal-pembatalnya atau menghapalnya dan menyebutkannya dari luar kepala, akan tetapi yang penting yang kami syaratkan adalah dia merealisasikan tauhid itu dan tidak terjerumus ke dalam satupun dari pembatal-pembatal keislaman itu.

Jadi barangsiapa di antara manusia itu memiliki ashlul Islam dan tauhid seraya menjauhi kemusyrikan lagi menegakkan rukun-rukun Islam maka orang ini adalah muslim bagi kami selagi dia tidak melakukan salah satu pembatal keislaman, sedangkan mayoritas kaum lanjut usia pada hari ini adalah di atas keadaan ini, dan andai kata saja banyak manusia itu di atas agama mereka (tentulah itu lebih baik), karena sesungguhnya keadaan ini lebih baik daripada keadaan banyak manusia hari ini yang mengaku berilmu, juru dakwah dan berpengetahuan. Dan dahulu ada ungkapan yang dikatakan berkenaan dengan suatu yang serupa dengan hal ini: (barangsiapa mati di atas agama, para wanita lanjut usia maka dialah yang bahagia), dan ungkapan ini dilontarkan perihal orang yang tenggelam jauh dalam filsafat, ilmu kalam dan takwil sifat Allah ‘azza wa jalla. Andai kata orang-orang semacam mereka itu diam dan beriman kepada apa yang ada dalam Al Kitab dan As Sunnah secara global tanpa jauh tenggelam atau memerankan akal dan takwil mereka yang rusak, tentulah mereka akan tetap di atas fitrah dan di atas jalan para wanita lanjut usia, dan itu lebih selamat daripada menggunakan pikiran dan akal dalam masalah-masalah yang mana keduanya tidak boleh dimasukkan di dalamnya.

Dan begitu juga atau dekat darinya masalah tauhid dan syirik, sesungguhnya ia adalah agama para wanita lanjut usia yang berisi iman yang global terhadap “laa ilaaha illallaah” dan itu dengan cara ibadah kepada Allah saja serta tidak melakukan satupun dari pembatal-pembatal keislaman dan tauhid, seperti nushrah dan tawalliy kepada musuh-musuh Allah, atau sabb (penghinaan) kepada Allah dan Rasul-Nya, atau perolok-olokan terhadap ajaran Allah dan pembatal-pembatal keislaman lainnya. Karena sesungguhnya hal itu meskipun pemegangnya tergolong kalangan awam adalah lebih selamat dari ajaran banyak orang-orang yang merasa paham yang mengedepankan istihsan-istihsan dan istishlah-istishlah mereka terhadap tauhid.

Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menerima dari orang-orang awam seperti orang arab badui dan yang lainnya keimanan yang global ini yang berisi keberlepasan dari syirik dan pengesaan Allah dengan seluruh ibadah, dan tidak pernah ada dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta rincian dari mereka perihal penghapalan pembatal-pembatal keislaman itu, atau pengetahuan akan rincian-rincian hal itu sebagaimana yang diketahui oleh kalangan khusus dari sahabatnya atau sebagaimana yang dihapal secara berurutan lagi terperinci oleh pencari ilmu hari ini. Dan sebagai hujjah dalam bab ini adalah hadits seorang laki-laki dari Nejed yang berkata setelah mengetahui rukun-rukun dan bangunan-bangunan Islam: “Demi Allah saya tidak akan melebihi atas hal itu dan tidak pula mengurangi” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dia pasti beruntung bila dia jujur”, dan begitu juga hadits budak wanita Mu’awiyah yang akan dibebaskan oleh tuannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Dimana Allah?” maka dia menjawab: “Di atas”, lalu beliau bertanya: “Siapa saya?” Dia menjawab: “Engkau adalah Rasulullah”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia wanita yang beriman”. Hadits ini dan yang semisal dengannya menunjukkan bahwa orang yang mendatangkan batas keimanan yang paling minimal yaitu dia membawa iman yang global dimana dia beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi syirik dan pembatal-pembatal keislaman, maka sesungguhnya dia itu mukmin, dan tidak boleh menetapkan syarat untuk keimanannya apa yang tidak diisyaratkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau lebih perhatian terhadap dien ini, lebih paham, lebih mengetahui, lebih bertakwa dan lebih hati-hati terhadapnya daripada kita, sedangkan setiap syarat yang tidak ada dalam Kitabullah adalah batil.

Dan iman yang global ini tanpa ragu lagi adalah lebih baik daripada keimanan banyak masyayikh yang mengklaim ilmu dan dakwah terus mereka bergelimang kemusyrikan, atau mereka ikut serta dalam pembuatan hukum kafir, atau menampakkan pembelaan terhadap thaghut dimana mereka menjadi bala tentara yang setia kepadanya, atau membela-bela UUD dan UU mereka, atau mereka bersumpah untuk menghormati undang-undang itu dan menjaganya, atau mereka merujuk hukum kepadanya, semua itu mereka lakukan dengan atas nama dakwah dan dengan dalih maslahat, anggapan-anggapan baik dan siasat-siasat yang rusak.

Maka tidak diragukan bahwa mereka itu seandainya meninggalkan klaim-klaim ilmu dan dakwah, dan mereka memegang agama para wanita tua dan mereka berpegang pada iman yang global serta mereka tidak menceburkan diri pada kebatilan yang lebar ini, tentulah itu lebih baik bagi mereka, dan lebih menyelamatkan serta lebih diudzur di sisi Allah ta’ala.

Namun ini semua tidak berarti meremehkan pentingnya mempelajari tauhid dan konsekuensi-konsekuensinya serta mengetahui syarat-syaratnya dan pembatal-pembatalnya, Karena sungguh Allah ta’ala telah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada illah (yang haq) kecuali Allah” (QS. Muhammad: 19)

Dan dalam hadits shahih:

“Barang siapa mati sedang dia mengetahui bahwa tidak ada illah (yang haq) kecuali Allah maka dia masuk surga” diriwayatkan Muslim dari Utsman radliallahu ‘anhu secara marfu’.

Dan tidak disyaratkan mengetahui rincian-rincian tauhid atau menghapal pembatal-pembatal keislaman serta mengenalnya secara terperinci untuk menghukumi keislaman seseorang, tidaklah berarti berpaling dari mempelajari hal itu atau menyepelekannya atau meremehkannya, terutama bila sebagian para lanjut usia itu telah menghabiskan umurnya dalam mempelajari urusan-urusan dunia dan kondisi-kondisinya serta mereka melakukan penelantaran yang besar dalam mempelajari tauhid dan urusan Islam yang paling penting, maka tidak ragu lagi bahwa mereka itu berdosa dengan sebab penelantaran dan keteledoran ini, akan tetapi penetapan sangsi dan dosa adalah sesuatu di luar takfir yang tidak kami katakan dalam keadaan-keadaan ini, kecuali bila seorang terjatuh dalam sesuatu dari pembatal-pembatal keislaman yang nyata atau bahwa kejahilannya itu sampai pada tahap dimana dia mengucapkan kalimat tauhid sebagai kalimat yang kosong yang tidak dia ketahui maknanya dan dia tidak melaksanakan isinya yang mengandung peribadatan kepada Allah saja serta keberlepasan diri dari syirik dan para pelakunya.

Akan tetapi wajib diketahui bahwa Islam menghukumi yang menjaga darah dan harta orangnya di dunia dan yang memberikan status muslim bagi orang yang menampakkan sesuatu dari ciri-ciri khusus Islam dan tidak menampakkan sesuatupun dari pembatal-pembatalnya adalah berbeda dengan Islam hakiki yang menyelamatkan orang di akhirat dan yang mengharuskan keterpenuhan syarat-syarat yang berkaitan dengan hati yang tidak nampak yang tidak diketahui kecuali Allah. Jadi hukum (vonis) kita ini hanyalah berkaitan dengan dzahir saja sedangkan Allah-lah yang menangani masalah batin.

Dan sebagian ikhwan telah memprotes pendapat ini, dengan pernyataan bahwa orang-orang itu dan yang seperti mereka dari kalangan yang memiliki iman yang global dan melaksanakan rukun-rukun Islam serta menjauhi peribadatan kepada para thaghut dan nushrah mereka, adalah mayoritas mereka itu tidak mengkafirkan para thaghut hukum, sedangkan orang yang tidak mengkafirkan thaghut adalah tidak kafir terhadapnya!! Bahkan di antara para lansia itu tidak ada orang yang menampakkan sikap kecintaan kepada sebagian mereka, dan di antara lansia itu ada orang yang mendoakan kebaikan bagi mereka bila si thaghut itu memberikan kebaikan kepadanya atau kepada anaknya atau kepada desanya, atau menghilangkan kezaliman dari mereka, umpamanya seperti dia membebaskan orang yang ditahan atau membangun rumah sakit atau hal lainnya yang dengannya para thaghut itu membuat pengkaburan terhadap manusia dan membeli loyalitas mereka dengannya, padahal sesungguhnya harta ini bukan dari hasil usaha keras mereka dan bukan pula hasil usaha bapak-bapak mereka, akan tetapi ia adalah harta umat yang mereka rampas. Dan kezaliman yang sesekali mereka angkat dari sebagian perang itu adalah tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan sikap terus menerus mereka dan kebersikukuhan mereka di atas kezaliman mereka terhadap diri mereka dan manusia dengan sebab syirik dan hukum yang mereka anut.

Maka kami katakan: Adapun sikap tidak mengkafirkan para thaghut yang memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan dan yang membuat hukum yang tidak Allah izinkan, maka ia adalah kebodohan dan sikap ngawur yang sangat besar, yang sumber pemicunya adalah aqidah Jahmiyyah, dan ia adalah di antara pengaruh fenomena Irja’ yang membanjiri kaum muslimin pada hari ini, sebagaimana yang telah kami jelaskan di tempat lain.

Dan orang yang terjatuh dalam kebodohan ini berdalih untuk keislaman para thaghut itu dengan shalat mereka, pengucapan mereka akan “laa ilaaha illallaah” serta syubhat-syubhat lainnya yang dipromosikan oleh kaum Murji’ah. Dan syubhat-syubhat ini bukan terbatas menimpa orang-orang awam dan para lanjut usia, akan tetapi ia telah dibawa dan telah dilariskan serta digulirkan oleh banyak orang-orang yang mengaku berdakwah dan dianggap berilmu di zaman ini. Dan pernyataan kami perihal mereka adalah bahwa mereka itu adalah orang-orang sesat lagi bodoh, dan mayoritas mereka adalah membawa banyak hal dari aqidah Murji’ah, bahkan aqidah Jahmiyyah sedang mereka tidak menyadari.

Namun demikian kami tidak mengkafirkan mereka selagi penyelisihan mereka terhadap ahli tauhid itu terjadi hanya pada masalah asma (nama) yaitu pada penerapan nama iman dan kufur terhadap para thaghut, namun bila perselisihan mereka dengan kita ini berpindah kepada penyelisihan dalam tauhid dan syirik, dimana sikap mereka tidak mengkafirkan para thaghut itu menjadikan sikap mereka menjadi tawalliy kepada para thaghut itu atau membantu mereka atau mengibadati mereka atau mentaati mereka dalam hukumnya, atau ikut serta dalam ajaran (hukum/sistim/falsafah/ideologi) mereka yang batil, maka mereka itu kejahilannya dan bid’ahnya telah menyampaikan dan menghantarkan mereka kepada kekafiran. Kita mohon keselamatan dan ‘afiyah kepada Allah.

Akan tetapi di antara bentuk kekontradiksian zaman yang penuh keanehan ini adalah bahwa tidak setiap orang yang tidak mengkafirkan para thaghut karena sebab syubhat-syubhat itu dia mesti menjadi bagian dari anshar mereka atau mengibadati mereka atau mentaati mereka dalam hukumnya, namun ada di antara orang yang tidak mengkafirkan para thaghut itu orang yang berlepas diri dari diri para thaghut itu dan membenci mereka serta tidak membantu mereka, bahkan kami melihat di antara mereka itu orang yang memerangi mereka, sebagaimana yang dilakukan Juhaiman dan kelompoknya, dimana mayoritas mereka ini tidaklah mengkafirkan pemerintah Saudi dan para pemimpinnya –dan ini adalah kejahilan dan kedangkalan dari mereka– namun demikian mereka membenci pemerintah Saudi dan menganggap bai’atnya tidak sah, mereka melawan pemerintah dan mengingkari kemunkaran-kemunkarannya, serta pada akhirnya mereka memeranginya.

Dan orang-orang semacam mereka itu banyak dari kalangan yang tidak mengkafirkan para thaghut akan tetapi mereka tidak membantunya bahkan mereka membencinya serta berlepas diri dari diri para thaghut itu dan dari undang-undangnya… Dan ini tidak ragu adalah tergolong tanaaqud! (kontradiksi), karena sesungguhnya sikap tidak takfir itu mengharuskan adanya sebagian dari sikap muwaalah (loyalitas)!! Di mana selagi thaghut itu tidak kafir menurut mereka, maka mesti dia itu tetap ada di dalam lingkaran muwaalah imaniyyah (loyalitas atas dasar keimanan), dan tidak menyelisihi dalam hal ini kecuali orang bodoh, atau orang yang memiliki pendapat manzilah bainal manzilatain!! Akan tetapi ada perbedaan besar antara kamu mengatakan bahwa si fulan mutanaqidl (bersikap kontradiksi) lagi jahil dalam al wala dan al bara lagi ngawur yang tidak memahami tauhidnya secara benar atau dia itu tidak memiliki kejelasan perihal jalan orang-orang kafir, dengan ucapan kamu bahwa si fulan ini kafir, sebagai pengkafiran terhadapnya dengan lawazim (kemestian-kemestian) pendapatnya, karena pendapat yang shahih adalah kemestian suatu madzhab (pendapat) itu bukanlah madzhab (baginya) sampai diketahui dan dikomitmeni oleh pemegang madzhab itu.

Dan dari itu maka sesungguhnya ucapan seseorang: (Barangsiapa tidak mengkafirkan thaghut maka dia tidak kafir terhadapnya) adalah tidak jami’ (mengumpulkan) dan tidak mani’ (menghalangi), sehingga ucapan ini tidak tepat karena kufur kepada thaghut artinya adalah berlepas diri dari ketuhanannya dan menjauhi peribadatan (kepada)nya, dan yang di antaranya adalah menjauhi ketaatan kepadanya dalam hukumnya dan meninggalkan tawalliy kepadanya atau tawalliy kepada kemusyrikannya.

Jadi bila orang yang tidak mengkafirkannya karena suatu syubhat itu merealisasikan ini semuanya, maka sesungguhnya dia itu kafir kepada thaghut meskipun dia adalah orang Murji’ah yang bodoh lagi kontradiksi, berbeda halnya dengan orang yang melakukan sesuatu dari hal itu maka sesungguhnya dia itu tidak kafir kepada thaghut walaupun dia mengkafirkannya.

Dan atas dasar ini, bila yang ditanyakan itu –baik wanita lanjut usia atau kakek tua atau yang lainnya– membangun di atas sikap mereka tidak mengkafirkan para thaghut itu sikap tawalliy atau nushrah (bantuan) atau pemufakatan dan ketaatan dalam hukum dan sikap mengikuti kepada orang-orang kafir, atau sikap ridla terhadap undang-undang kafir dan aturan-aturannya yang syirik, maka mereka itu adalah orang-orang kafir dan vonis ini tidak bisa dirubah dengan keberadaan mereka sebagai orang-orang yang bodoh, karena orang kafir itu bisa jadi dia adalah orang yang sesat lagi bodoh, dan bisa jadi dia adalah orang yang membangkang di atas dasar ilmu dan pengetahuan. Dan Allah ta’ala telah menggabungkan dua macam orang ini dalam firman-Nya:

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

“Bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat” (QS. Al Fatihah: 7).

Orang-orang yang sesat adalah orang yang kafir karena kebodohan dan kesesatan seperti orang-orang Nasrani dan orang-orang yang menyerupai mereka dari umat ini, sedangkan orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi yang Allah telah kabarkan bahwa mereka itu mengetahui kebenaran seperti mereka mengetahui anak-anak mereka, sehingga mereka kafir di atas dasar pengetahuan, dan begitu juga (sama dengan mereka) setiap orang yang menyerupai mereka dari kalangan ulama kesesatan dan corong para thaghut.

Adapun orang yang tidak mengkafirkan para thaghut dan dia tidak membangun di atas hal itu sikap tawalliy dan nushrah mereka dan dia tidak pula masuk dalam sistim mereka atau ikut serta dalam pembuatan hukum kafir mereka, dan dia itu memiliki ashlul iman (inti keimanan) yang mana seseorang tidak menjadi muslim kecuali dengannya, maka kami tidak mengkafirkan orang itu meskipun muncul darinya hal yang tadi disebutkan yaitu doa buat para thaghut karena kebaikan yang mereka berikan kepadanya atau yang lainnya.

Masalah pujian kepada orang kafir atau sanjungan kepadanya karena amalan baik atau karena sebab dia mengangkat kezaliman, atau doa baginya karena sebab itu, semua itu adalah termasuk masalah-masalah cabang yang butuh kepada penjelasan dan penegakkan hujjah. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah berniat untuk mendoakan dan memintakan ampunan bagi pamannya yang kafir yang pernah melindunginya dan membelanya dan beliau berkata: “Saya akan memintakan ampunan baginya selagi saya tidak dilarang” maka Allah ta’ala menurunkan:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (١١٣)

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam” (QS. At Taubah: 113).

Maka hal seperti ini tergolong furu’ yang tidak diketahui kecuali dengan hujjah risaliyyah dan kadang samar atas sebagian orang atau sulit mereka pahami bersama keberadaan sebagian nushush (dalil-dalil) yang umum, seperti hadits (Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah) dan yang lainnya.

Maka dalam masalah ini harus ada penegakkan hujjah dan tidak boleh tergesa-gesa dalam mengkafirkan dan harus membedakan antara orang yang mengetahui dengan orang yang jahil, dan membedakan antara doa bagi mereka untuk mendapatkan hidayah atau kebaikan secara umum, dengan doa bagi mereka untuk mendapatkan kemenangan secara khusus, serta membedakan antara orang yang menyertai hal ini dengan nushrah dan tawalliy kepada mereka, dengan orang yang berhenti di batas kejahilan itu saja. Dan begitu juga antara orang yang secara tegas memuji kekafiran, kemusyrikan dan undang-undang mereka yang menggugurkan dien (Islam) ini, dengan orang yang memuji sebagian akhlak atau perbuatan atau sikap mereka.

Adapun penampakkan kecintaan dan kasih sayang terhadap para thaghut maka tidak diragukan lagi bahwa ia meniadakan dan membatalkan keimanan, sebagaiman firman-Nya ta’ala:

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al Mujadilah: 22).

Akan tetapi masalah kecintaan dan kasih sayang bila ia itu bersifat qalbiyyah bathiniyyah (hati lagi batin) maka ia tergolong sebab-sebab takfir di akhirat yang mana hukum-hukum takfir di dunia hanya dikaitkan dengan sebab-sebab takfir yang nampak dan baku, yang terbatas pada ucapan-ucapan atau amalan-amalan yang nampak (dhahir). Adapun amalan-amalan hati maka tidak boleh takfir dengan sebab di dunia selama tidak nampak lewat ucapan yang jelas atau perbuatan yang nampak, dan di antara hal itu adalah kasih sayang dan cinta, maka tidak boleh mengaitkan hukum-hukum takfir dengan hal-hal ghaib yang tidak baku sampai ia nampak lewat lisan atau anggota badan.

Kemudian termasuk hal yang diketahui bahwa masalah kasih sayang dan cinta adalah masalah yang relatif, dimana kadang seseorang mencintai orang kafir atau orang non kafir dari hal-hal duniawi yang dicintai sampai dia menyetarakannya dengan kecintaan kepada Allah dan dia menjadikannya sebagai tandingan bagi-Nya, maka ini tidak ragu lagi akan kekafirannya dan mereka itulah yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya ta’ala:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah…” (QS. Al Baqarah: 165)

Dan firman-Nya ta’ala:

قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ (٩٦) تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٩٧) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (٩٨)

“Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka; “Demi Allah, sungguh kita dulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam” (QS. Asy Syu’ara: 96-98) maka bagaimana dengan orang yang mencintai mereka melebihi kecintaannya kepada Allah. Kita memohon keselamatan dan ‘afiyah kepada Allah…?!

Adapun berkasih sayang dengan sebagian orang-orang kafir karena ikatan keluarga atau garis ayah atau garis anak, maka ini meskipun Allah ta’ala telah melarangnya dan dia nafikan iman dari pelakunya sebagaimana yang telah lalu dalam ayat tadi dan dalam hadits (Sesungguhnya ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah), akan tetapi masalah ini pelakunya tidak dikafirkan kecuali setelah penegakkan hujjah, karena ia tergolong urusan yang tidak diketahui kecuali dengan hujjah risaliyyah. Dan ia termasuk ikatan yang manusia sudah terbiasa dengannya, dan syariat datang untuk merubahnya, membenahinya dan meluruskannya. Dan kadang ia sulit dipahami oleh sebagian manusia serta ia membutuhkan kepada penjelasan dan penyelarasan antara sebagian nash-nash (yang ada).

Contohnya: mayoritas manusia mengetahui bahwa syariat membolehkan (laki-laki muslim) menikah dengan wanita kafir ahli kitab, padahal Allah ta’ala telah mengatakan:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang…” (QS. Ar Rum: 21).

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kasih sayang di antara suami isteri, dan dia membolehkan menikahi wanita musyrikah ahli kitab padahal sesungguhnya Dia telah mengharamkan menjalin kasih sayang dengan kaum musyrikin secara umum.

Maka ini kadang dianggap sulit dipahami oleh sebagian manusia, kemudian mereka mengkiaskan terhadapnya dan mereka tidak membedakan antara kasih sayang dan kecintaan yang bersifat syahwat dengan kasih sayang yang berlandaskan keagamaan yang tergolong muwaalah (loyalitas), sebagaimana kadang banyak manusia mencampuradukkan antara sikap sayang yang disebutkan dalam ayat tadi dan dalam firman-Nya ta’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (١٠٧)

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat (bentuk sikap sayang) bagi semesta alam” (QS. Al Anbiya: 107)

Bersama keantusiasan para Nabi terhadap kaum-kaum mereka dan kecintaan terhadap penghidayahan mereka, seperti hadits: (Ya Allah, berilah kaumku hidayah, karena sesungguhnya mereka itu tidak mengetahui) maka mereka tidak mampu membedakan dan memilah antara hal itu dengan mencintai dan menyayangi orang-orang kafir itu sendiri, padahal sesungguhnya mencintai kebaikan bagi mereka dan mencintai hidayah bagi mereka serta bersungguh-sungguh untuk menyayangi mereka dengan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya; adalah sesuatu yang berbeda dengan kecintaan dan kasih sayang kepada mereka itu sendiri yang telah dilarang oleh Allah, akan tetapi dikarenakan masalah ini di dalamnya terdapat nash-nash yang dirasa sulit  dipahami oleh orang awam atau oleh orang yang baru masuk islam, maka ia membutuhkan kepada penjelasan, perincian dan penegakkan hujjah serta tidak tergesa-gesa dalam takfir.

Saya memohon kepada Allah ta’ala agar menjadikan tulisan ini manfaat bagi saya dan bagi ikhwan saya, dan Dia mengajarkan kepada kita apa yang bermanfaat bagi kita dan memberikan kepada kita bashirah dalam agama kita, serta menjadikan kita bagian dari anshar ajaran-Nya dan tauhid-Nya. Semoga shalawat Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan kepada sahabatnya semua.

Diambil dari: Pancaran Dari penjara Sawaqah
Penulis: Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy
Alih Bahasa: Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

* * *

_______________________
1) Ini adalah pertanyaan-pertanyaan beraneka ragam yang ditujukan kepada saya di penjara Sawaqah dari sebagian ikhwan narapidana yang baru mengenal dan komitmen dengan dakwah ini, maka saya menjawabnya dengan apa yang Allah ta’ala mudahkan bagi saya dengan jawaban yang saya pandang sejalan dengan al haq dan dalil, sehingga jawaban yang haq maka ia berasal dari Allah, dan yang tidak seperti itu maka ia berasal dari saya serta saya memohon ampunan kepada Allah dari kekeliruan. Dan insya Allah saya sangat amat mudah dan ringan dari rujuk dari kekeliruan itu bila saya diingatkan kemudian nampak di hadapan saya al haq dan dalil.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: