Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Membongkar Syubhat Murji-ah Gaya Baru #9

Membongkar Syubhat Murji-ah Gaya Baru #9


Syubhat:

Bahwa Para Thaghut Dan Budak-Budak Mereka Itu Mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah

 

Murjiatul ‘Ashri di sini memiliki syubhat lain yang berkaitan dengan yang sebelumnya, yang telah mereka warisi dari para guru mereka Murjiah pertama, yaitu ihitijaj mereka dengan sebagian hal-hal umum yang ada dalam khabar-khabar yang tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bahwa siapa yang mengucapkan “laa ilaaha illallaah” maka dia masuk surga, atau haram darah dan hartanya, seperti hadits Usamah Ibnu Zaid “Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan…?”, hadits bithaqah dan yang lainnya.

Sedangkan al haq adalah bahwa orang yang suka mentelaah kitab-kitab ahlul ilmi, maka ia mengetahui bahwa ahlul ilmi telah membahas tuntas masalah-masalah ini sebagai bentuk bantahan dan penjelasan. Dan dalam rangka penyempurnaan materi ini tidak ada salahnya saya memilihkan buat pencari al haq sekilas dari ungkapan-ungkapan mereka dalam bab ini, terutama sesungguhnya sangat disayangkan sekali saya telah mendapatkan dari kalangan yang kufur terhadap thaghut dan bara’ dari mereka serta tidak membela-bela mereka, sikap ngawur dan rancu di dalamnya. Dan saya menilai ini tidak lain adalah keterpengaruhan dan ketergangguan oleh orang yang menyelisihi mereka dan lontaran-lontarannya, berupa tuduhan Takfiriy, Khawarij dan bentuk teror pemikiran lainnya, juga penghalang-halangan dan pencorengan yang dilakukan Ahlut Tajahhum Wal Irja yang mengklaim bermanhaj salaf (salafi maz’um, pent) secara dusta dan mengada-ada, dalam rangka membela-bela para thaghut, pemerintahan-pemerintahannya serta parlemen-parlemennya yang kafir.

Adapun pembicaraan atas syubhat ini dan penggugurannya maka itu ada pada ahlul ilmi dari banyak sisi, dan yang penting di antaranya adalah saudara muwahhid mesti selalu ingat bahwa syara’i itu turun dengan cara bertahap, dan ini hal yang ma’lum bagi setiap orang.

Al Imam Abu Ubaid Al Qasim Ibnu Salam berkata dalam Kitabul Iman setelah menyebutkan firman-Nya ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Bila kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul bila kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu adalah lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An Nisaa’: 59), dan beliau berkata: Dan sesungguhnya kami kembalikan masalahnya kepada apa yang atasnya Allah telah mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang dengannya Dia turunkan Kitab-Nya, maka ternyata kami mendapatkannya Dia telah menjadikan permulaan al iman adalah kesaksian akan Laa ilaaha illallaah dan bahwa Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menetap di Mekkah setelah kenabian sepuluh atau belasan tahun menyeru kepada syahadat ini secara khusus, dan tidak ada keimanan yang difardlukan atas hamba-hamba-Nya saat itu selainnya, siapa yang memenuhi panggilan kepadanya, maka dia itu mu’min yang tidak wajib atasnya nama dalam dien ini selainnya, tidak wajib atas mereka zakat, shaum dan ajaran Islam lainnya. Dia jadikan pengakuan dengan lisan saja adalah iman yang difadlukan atas manusia saat itu. Mereka di atas keadaan seperti itu selama menetap di Mekkah, dan beberapa belas bulan di Madinah setelah hijrah,[1] kemudian tatkala manusia cenderung kepada Islam dan baik sekali kecintaan mereka kepadanya, maka Allah menambah mereka dalam keimanannya di mana Dia palingkan shalat ke Ka’bah setelah sebelumnya menghadap Baitul Maqdis.

Kemudian Dia mengkhithabi mereka saat mereka di Madinah dengan nama iman mereka yang lalu dalam setiap apa yang Dia perintahkan dan apa yang Dia larang. Dan Dia hanya menamai mereka dengan nama (iman) ini dengan sekedar pengakuan, karena saat itu tidak ada hal yang fardlu selainnya. Kemudian tatkala syari’at telah turun setelah ini, maka wajib atas mereka seperti wajibnya yang pertama saja tidak ada perbedaan di antara keduanya, karena keduanya dari sisi Allah dan dengan perintah-Nya serta dengan pewajiban-Nya. Seandainya mereka saat pemindahan kiblat ke Ka’bah menolak untuk shalat menghadap kepadanya, dan mereka berpegang dengan keimanan yang telah mereka sandang namanya dan kiblat yang dulu mereka menghadap kepadanya, maka itu sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, namun padanya terdapat pengguguran terhadap pengakuan mereka. Dan tatkala mereka memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya untuk menerima shalat seperti pemenuhan mereka akan pengakuan, maka keduanya secara bersamaan saat itu menjadi Al Iman. Kemudian mereka berada dalam keadaan seperti itu sementara waktu, terus tatkala mereka selalu komitmen dengan shalat dan dada mereka lapang dengannya, maka Allah turunkan kefardluan zakat dalam iman mereka digabung dengan yang sebelumnya. Seandainya mereka menolak zakat pada saat pengakuan dan mereka memberikannya akan hal itu dengan lisan dan mereka mendirikan shalat namun mereka menolak dari zakat, maka hal itu melenyapkan apa yang ada sebelumnya, serta menggugurkan pengakuan dan shalat. Dan bukti kongkrit yang membenarkan hal ini adalah jihad Abu Bakar radliyallahu ‘anhu  bersama kaum muhajirin dan anshar memerangi orang-orang yang menolak bayar zakat seperti jihad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi kaum musyrikin, sama saja tidak ada bedanya antara keduanya dalam hal penumpahan darah, perbudakan anak-anak dan wanita, dan perampasan, hartanya, padahal mereka itu hanya menolak bayar zakat saja bukan mengingkarinya, kemudian seperti itulah ajaran-ajaran Islam yang lain semuanya. Setiap kali turun syari’at maka ia menjadi digabungkan dengan yang sebelumnya lagi menyertainya, dan semuanya dicakup oleh nama al iman, sehingga dikatakan kepada pemeluknya mu’minun. Dan inilah tempat yang telah keliru di dalamnya orang yang berpendapat bahwa iman itu dengan ucapan.

Sebagaimana mereka telah keliru dalam pentakwilan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditanya oleh orang yang memiliki kewajiban memerdekakan budak tentang memerdekakan budak ‘ajam (non arab), maka dia disuruh memerdekakannya dan Nabi menamakannya mu’minah. Dan ini hanyalah berdasarkan apa yang telah saya beritahukan kepadamu berupa masuknya mereka dalam al iman dan penerimaan serta pembenaran mereka terhadap apa yang telah turun darinya, sedangkan ia itu turun berpisah-pisah seperti turunnya Al Quran.” Selesai secara ikhtisar.[2]

Dan atas dasar ini maka sesungguhnya orang yang masuk Islam setelah Allah menyempurnakan dien ini bagi kita, dan dia mengaku akan Laa ilaaha illallah di mana dia bara’ dari itu, kemudian dia diperintahkan melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang wajib atas setiap muslim (al mabaniy), kemudian bila dia mengamalkannya dan komitmen dengannya, serta dia menjauhi segala pembatal laa ilaaha illalaah, maka terus berlangsunglah ‘ishmah (keterlindungan darah dan harta) yang telah dia masuki dengan sekedar pengakuan dan iltizam dengan kalimat tauhid. Dan bila terjatuh pada salah satu pembatal (Laa ilaaha illallaah) atau menolak salah satu syaratnya dan mabani-nya, maka ‘ishmah itu terputus, sesuai rincian dalam perselisihan yang terkenal tentang mabani itu…. dengan memperhatikan syuruth dan mawani’ takfier.

Dipahami hal ini dari ucapan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallamkepada Mu’adz tatkala beliau utus ke Yaman: “Kemudian bila mereka memenuhi panggilanmu kepadanya…” yaitu kalimat tauhid yang mengharuskan sikap bara dari ajaran mereka yang batil,” maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu….”

Dan oleh sebab itu seandainya orang yang mengakui kalimat tauhid dan bara’ dari syirik dan para pelakunya meninggal dunia langsung setelah pengakuannya, dan sama sekali belum pernah melakukan satupun dari amal-amal Islam yang difardlukan karena belum wajib atas dia, seperti dia masuk Islam waktu dluha dan kemudian meninggal dunia sebelum masuk waktu dluhur, maka sesungguhnya dia mati dalam keadaan muslim mu’min yang telah menegakkan al iman yang wajib atasnya.

Dan ini seperti laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu peperangan,[3] dia berkata: “Wahai Rasulullah saya berperang atau masuk Islam?” Maka beliau berkata: “Masuk Islamlah kemudian berperang.” Maka diapun masuk Islam terus berperang hingga terbunuh. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dia beramal sedikit dan diberi pahala banyak” dia setelah masuk Islam tidak beramal kecuali apa yang wajib atasnya di waktu itu hanya membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia mati tanpa pernah ruku’ kepada Allah satu kali ruku’ sekalipun. Dan dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al Fatawa 11/519: “Orang bila beriman kepada Rasul dengan keimananan yang pasti, dan dia mati sebelum masuk waktu shalat atau (sebelum) wajibnya sesuatupun dari amalan, maka dia mati dengan sempurna iman yang wajib atasnya, kemudian bila telah masuk waktu shalat, maka wajib atasnya shalat dan jadilah wajib atasnya suatu yang belum wajib atas dia sebelum itu.” Selesai.

Dan berkata 7/518: “Sesungguhnya Allah tatkala mengutus Muhammad sebagai Rasul kepada makhluk, maka yang menjadi kewajiban atas makhluk adalah membenarkannya dalam apa yang beliau beritakan, dan mentaatinya dalam apa yang beliau perintahkan, dan saat itu beliau tidak memerintahkan mereka untuk shalat lima waktu, shaum Ramadhan dan haji ke Baitullah, dan tidak mengharamkan atas mereka khamr, riba, dan yang lainnya, serta mayoritas Al Qur an belum turun. Kemudian siapa yang membenarkannya saat itu dalam apa yang diturunkan dari Al Qur an dan mengakui apa yang diperintahkan berupa dua kalimah syahadat serta hal-hal yang mengikutinya, maka orang itu seandainya dia didatangkan setelah hijrah tentulah tidak diterima darinya, dan seandainya dia mencukupkan dengannya tentulah dia kafir. Allah ta’ala berfirman di tahun haji wada’:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari telah Aku sempurnakan bagi kamu dien kamu dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian...(QS. Al Maidah: 3).

Masalahnya setelah sempurnanya syariat ini adalah seperti apa yang diriwayatkan Al Bukhari dari Wahb Ibnu Munabbih, bahwa dikatakan kepadanya: Bukankah kunci surga adalah laa ilaaha illallaah?” Maka beliau berkata: Ya, tapi tidak ada satu kuncipun melainkan memiliki gigi, bila kamu datang dengan kunci yang memiliki gigi maka pintu dibukakan bagimu, dan bila tidak maka tidak (dibukakan).”

Jadi “laa ilaaha illallaah” itu memiliki lawazim (keharusan-keharusan) dan muqtadlayat (tuntutan-tuntutan), juga nawaqidl (pembatal-pembatal) serta hal-hal yang membatalkan. Kemudian bila mendatangkan lawazimnya dan menjauhi pembatal-pembatalnya maka berlaku teruslah ‘ishmah yang dia masuki dengan sekedar pengakuan, dan bila ia mendatangkan satu pembatal, maka ‘ishmah itu terputus dan ucapan saja tidak berguna baginya setelah itu.

Dan dengan ini dan yang semisalnya engkau memahami makna pengingkaran Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam terhadap Usamah tatkala membunuh seorang laki-laki setelah dia mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Jadi pelafalan dia akannya merupakan penampakan akan sikap masuk dalam Islam, sehingga dia diperintahkan dengannya dan dengan apa yang menjadi kemestiannya berupa ‘ishmah, sampai muncul darinya suatu pembatal yang memutus ‘ishmah itu. Dan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingkari terhadap Usamah adalah sikap pemastiannya bahwa dia itu mengucapkannya karena taqiyyah lagi khawatir (tebasan) pedang, dan siapa tahu dia itu jujur lagi akan meninggalkan nawaqidl-nya dan iltizam dengan tuntutan-tuntutannya serta hak-haknya setelah itu. Laa ilaaha illallaah adalah kunci masuk Islam, dengannya orang yang masuk Islam di awal mulanya terlindung (darah dan hartanya) kemudian keislamannya tidak langgeng dan ‘ishmah-nya tidak berlangsung terus setelah itu kecuali dengan iltizam syarat-syarat kunci itu serta menjauhi nawaqidl-nya, karena masuk Islam adalah suatu hal, sedangkan keberlangsungan keabsahannya dan kesinambungan serta ketidakbatalannya adalah hal lain.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath 12/279 saat menjelaskan hadits “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan laa ilaaha illallaah” bab (Membunuh orang yang tidak mau menerima faraidl) dari Kitab Istitabatul Murtaddin: “Dan ada faidahnya di dalamnya (yaitu) larangan membunuh orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah walaupun tidak melebihi itu sedang dia dalam keadaan seperti itu, namun apakah dengan sekedar itu ia menjadi muslim? Pendapat yang kuat[4] adalah tidak, namun wajib menahan diri dari membunuhnya sehingga diuji, bila ia bersaksi terhadap kerasulan dan komitmen dengan aturan-aturan Islam maka ia dihukumi muslim. Dan terhadap hal itu diisyaratkan dengan pengecualian dengan sabdanya: “Kecuali dengan hak Islam”.

Kemudian menukil dari Al Baghawi ucapannya: “Orang kafir bila penyembah berhala atau tsanawiy yang tidak mengakui keesaan (Allah), kemudian bila dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah, maka dia dihukumi muslim, terus dipaksa untuk menerima seluruh ajaran Islam dan berlepas diri dari setiap dien (ajaran) yang menyelisihi dienul Islam…. hingga akhir ucapannya.” Selesai.

An-Nawawi dalam syarah hadits ini menuturkan dari Al Qadli ‘Iyadl ucapannya: Kekhususan keterjagaan harta dan jiwa bagi orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah adalah ungkapan tentang pemenuhan panggilan untuk beriman, dan bahwa yang dimaksudkan dengan ini adalah orang-orang yang pertama kali di ajak masuk Islam dan diperangi atas dasarnya.

Adapun selain mereka dari kalangan yang mengakui tauhid, maka dalam keterjagaan (darah dan hartanya) tidak cukup dengan ucapannya: “Laa ilaaha illallaah” bila dia mengucapkannya dalam kekafirannya dan ia termasuk keyakinannya, maka oleh sebab itu (dikatakan) dalam hadits lain: “dan bahwa aku adalah Rasulullah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.”

Kemudian An Nawawi berkata: “Dan dengan ini mesti ada keimanan terhadap seluruh apa yang dibawa Rasulullah, sebagaimana dalam riwayat lain jalur Abu Hurairah “sehingga mereka bersaksi akan Laa ilaaha illallaah, mereka beriman kepadaku dan kepada apa yang aku bawa. “Wallahu A’lam.” Selesai Syarah Muslim.

Asy-Syaukani dalam Nailul Authar 1/367 menghikayatkan: “Ijma kaum muslimin terhadap keberadaan bahwa hadits-hadits ini dibatasi dengan ketidakadaan penghalang, oleh sebab itu salaf mentakwilnya, terus beliau menghikayatkan dari jama’ah diantaranya Ibnul Musayyib bahwa ini sebelum turun faaraidl, perintah dan larangan. An Nawawi menghikayatkan dari sebagian mereka bahwa ia berkata: ia (hadits-hadits itu) adalah global yang butuh penjelasan, sedang maknanya adalah: orang yang mengucapkan kalimat ini dan dia tunaikan hak dan kefardluannya” dia berkata: Dan ini adalah pendapat Al Hasan Al Bashri, sedangkan pendapat Al Bukhari bahwa itu bagi orang yang mengucapkannya di saat penjelasan dan taubat serta dia mati di atas hal itu. Beliau teruskan dalam Kitabullibas.” Selesai.

Dan berkata dalam Risalah Irsyadus Sail Ilaa Dilalatil Masaail[5]: soal kedua: isinya: Apa status hukum penduduk badui yang tidak melakukan sedikitpun dari ajaran ini kecuali sekedar mengucapkan syahadat, apakah mereka itu kafir atau tidak, dan apakah wajib atas kaum muslimin untuk memerangi mereka atau tidak? Maka beliau rahimahullah berkata: “orang yang meninggalkan rukun-rukun Islam dan seluruh faraaidl-nya lagi menolak apa yang wajib atas dirinya dari hal itu berupa ucapan dan perbuatan, dan tidak ada padanya kecuali pengucapan dua kalimah syahadat, maka tidak ragu dan tidak bimbang bahwa orang ini adalah kafir dengan kekafiran yang sangat lagi halal darahnya, sedangkan keterjagaan harta itu hanya dengan penegakan akan rukun-rukun Islam.” Selesai.

Syaikh Hamd Ibnu Nashir Ibnu Utsman Alu Ma’mar berkata dalam risalahnya Al Fawakihul ‘Udzab Fir raddi ‘Ala Man lam Yuhakkimis Sunnah Wal Kitab hal 67: “Ulama kita rahimahullah berkata bila orang kafir mengucapkan Laa ilaaha illallaah maka ia telah mulai masuk dalam suatu yang melindungi darahnya, maka wajib menahan diri darinya, kemudian bila dia menyempurnakan hal itu maka ‘ishmah telah terealisasi dan bila tidak maka ia batal, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan setiap hadits di suatu waktu, beliau berkata: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan: “laa ilaaha illallaah” supaya kaum muslimin mengetahui bahwa orang kafir yang memerangi bila mengucapkannya maka (pedang) ditahan darinya serta darah dan hartanya menjadi terjaga, kemudian beliau jelaskan shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam hadits lain bahwa perang itu berlangsung hingga dua kalimah syahadat dan dua ibadah (shalat dan zakat), beliau berkata: “saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa Laa ilaaha illallaah dan bahwa Muhammad itu Rasulullah, mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.” Beliau jelaskan bahwa kesempurnaan ‘ishmah hanya terhasil dengan hal itu, dan supaya tidak ada syubhat bahwa sekedar pengakuan bisa melindungi untuk seterusnya.” Selesai.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Kasyfusysyubuhat: “Dan mereka memiliki syubhat lain, mereka berkata: bahwa Nabi telah mengingkari terhadap Usamah karena membunuh orang yang telah mengucapkan Laa ilaaha illallaah, beliau berkata: “Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah? Dan begitu juga sabdanya: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallaah.” Dan hadits-hadits lain tentang menahan diri dari orang yang mengucapkannya. Sedang maksud orang-orang jahil itu adalah bahwa orang yang mengucapkannya tidak boleh dikafirkan dan dibunuh walaupun dia melakukan apa saja yang dia lakukan.

Adapun hadits Usamah, maka sesungguhnya dia telah membunuh orang yang mengklaim Islam dengan sebab bahwa dia mengira bahwa dia tidak mengaku Islam kecuali karena ia mengkhawatirkan darah dan hartanya, sedangkan orang bila dia telah menampakkan keislaman maka wajib menahan diri darinya sehingga nampak jelas apa yang menyelisihi hal itu, dan Allah pun berfirman “dalam hal itu”:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا و

“Hai orang-orang yang beriman bila kamu bepergian (di muka bumi seraya berjihad) di jalan Allah, maka telitilah” (QS. An Nisa: 94), yaitu carilah kejelasan, kemudian bila nampak darinya sesudah itu suatu yang menyelisihi Islam maka dia dibunuh, berdasarkan firman-Nya “maka telitilah”, seandainya dia tidak dibunuh bila telah mengatakannya, tentulah (perintah) meneliti ini tidak memiliki makna. Dan begitu juga hadits lain dan yang semisal dengannya, maknanya adalah apa yang telah kami utarakan yaitu bahwa orang yang menampakkan keislaman dan tauhid adalah wajib menahan diri dari (membunuhnya) kecuali bila nampak darinya suatu yang menggugurkan hal itu.” Secara mukhtashar hal: 24.

Dan berkata hal: 20: Dan dikatakannya juga, mereka sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi Bani Hanifah, padahal mereka telah masuk Islam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadati selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mereka adzan dan mereka shalat. Kemudian bila dia berkata: “Sesungguhnya mereka mengatakan bahwa Musailamah Nabi.” Maka kami katakan: Inilah yang dituntut, bila saja orang yang mengangkat seseorang pada tingkatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kafir dan halal darah dan hartanya, tidak manfa’at dua kalimat syahadat dan juga shalat, maka bagaimana gerangan dengan orang yang mengangkat Syamsan Dan Yusuf[6] atau seorang sahabat Nabi di tingkatan penguasa langit dan bumi, Maha Suci Allah sungguh agung kekuasaan-Nya:

كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

”Begitulah Allah mengunci mati terhadap hati orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Ar Rum: 59) Selesai.

Dan giliran kami mengatakan kepada Murjiah zaman kita: Bila saja orang yang mengangkat seseorang pada tingkatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah telah kafir, halal harta dan darahnya lagi tidak manfaat dua kalimat syahadat dan shalatnya, maka bagaimana dengan orang yang mengangkat (Jabir, Hasan, Husen, atau Hasaniy) atau yang lainnya dari kalangan para amir, presiden dan raja, atau anggota (wakil rakyat) di parlemen, pada tingkatan penguasa langit dan bumi, di mana dia jadikan baginya wewenang pembuatan hukum/UU yang muthlaq yang padahal tidak layak kecuali bagi Allah ta’ala. Dan bagaimana dengan orang yang mengangkat Undang-Undang dasar dan Undang-Undang pada tingkatan Kitabullah dalam putusan dan vonis serta di antara manusia, bahkan dia jadikan UUD itu dan disahkan oleh amir (presiden, raja, dll, pent)[7], Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sifatkan:

كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

Begitulah Allah mengunci mati terhadap hati orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Ar Rum: 59).

Kemudian beliau rahimahullah berkata: “Dan dikatakan juga: Bani Ubaid Al Qadah yang menguasai kawasan barat (Maghrib) dan Mesir di zaman Banul ‘Abbas, semuanya bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang haq) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mereka mengaku Islam, serta mereka shalat jum’at dan jama’ah. Kemudian tatkala mereka menampakkan penyelisihan (terhadap) syari’at dalam hal-hal yang lebih rendah dari masalah yang sedang kita bicarakan, maka para ulama ijma atas kekafiran mereka dan untuk memerangi mereka, serta bahwa negeri mereka adalah negeri harbiy, dan kaum muslimin memerangi mereka sehingga bisa mengembalikan negeri-negeri kaum muslimin yang berada di tangan mereka.” Selesai.

Dan dikatakan juga dalam Mukhtashar Sirah tentang status Tartar: “Dan itu sesungguhnya setelah mereka melakukan apa yang mereka lakukan terhadap kaum muslimin, mereka tinggal di negeri kaum muslimin dan mereka mengetahui dienul muslimin, maka mereka menganggap baik dienul Islam dan akhirnya mereka masuk Islam, namun mereka tidak mengamalkan apa yang wajib atas mereka berupa ajaran-ajarannya, mereka menampakkan banyak hal dari sikap keluar dari ajarannya, namun mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, serta mereka shalat lima waktu, jumat dan jama’ah, namun demikian para ulama telah mengkafirkan mereka, memeranginya dan menginvasinya sampai akhirnya Allah lenyapkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Dan dalam apa yang kami tuturkan terdapat kadar cukup bagi orang yang Allah berikan petunjuk kepadanya, dan adapun orang yang Allah inginkan kesesatannya maka seandainya gunung-gunung saling berbenturan di hadapannya maka hal itu tidak bermanfaat baginya.

Cucu beliau Syaikh Abdul Lathif Ibnu Abdurrahman Ibnu Hasan berkata dalam Mishbahudhdhalam: “Dan seluruh -sanggahan-sanggahan ini- berdiri di atas keyakinan yang batil, yaitu bahwa orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah dosa tidak mengganggunya, serta keimanannya tidak lenyap dan keislamannya tidak batal dengan syirik dan tajahhum serta tidak pula oleh hal-hal mukaffirah lainnya, termasuk al mabaniy tidak dianggap menurut orang-orang sesat itu. Mengetahui pendapat ini dan menggambarkannya adalah cukup dalam menilainya sebagai kebatilan menurut orang yang mengetahui Islam.” Hal 114 secara ikhtishar.

Dan berkata pula dalam Ad Durar As Saniyyah: Ahlul ilmi wal iman tidak berselisih bahwa orang yang muncul darinya ucapan atau perbuatan yang menuntut kekafiran atau kemusyrikan atau kefasikannya, adalah bahwa ia divonis dengan suatu yang menuntut hal itu, meskipun ia tergolong orang yang mengakui dua kalimat syahadat dan mendatangkan sebagian rukun Islam, dan hanyasanya menahan diri dari kafir asli bila ia datangkan keduanya dan tidak nampak darinya suatu yang menyelisihinya dan membatalkannya, dan hal ini tidak samar terhadap penuntut ilmu yang yunior.” Selesai.[8]

Saya berkata: Namun demikian para syaikh Murjiah zaman kita, para tokohnya apa lagi para muqallid dan para pengekornya, mereka mendebat-debat di dalamnya, dan ini yang menjadikan dari mayoritas mereka tentara yang setia bagi para thaghut, anshar yang sukarela membela-bela dan membentengi mereka, serta mencampakkan nash-nash al Kitab dan as sunnah dengan syubhat-syubhat mereka yang rendah dan dengan ucapan-ucapan mereka yang sesat lagi rapuh yang tidak akan laku terhadap orang yang mengetahui tauhid dan hakikatnya.

Dan begitulah sesungguhnya nash-nash yang disebutkan di dalamnya keterkaitan ‘ishmah dan masuk surga dengan pengucapan laa ilaaha illallaah telah datang sesekali secara muthlaq, dan dalam tempat lain secara muqayyad dengan al yaqin, ikhlash atau ilmu, dan terkadang dikaitkan bersamanya hak-haknya berupa shalat, zakat, dan begitulah…[9]

Semuanya adalah nash-nash yang berbicara tentang hukum dan sebab yang satu, sehingga yang muthlaq di dalamnya dibawa kepada yang muqayyad sebagaimana ia adalah thariqah ahli ilmu, sedangkan kaum Murjiah itu sebagaimana firqah-firqah sesat lainnya adalah kacau lagi serabutan yang tidak mengambil dari ilmu ini kecuali suatu yang selaras dengan hawa nafsu mereka, di mana mereka mengambil nushush muthlaqah terus di atasnya mereka membangun madzhab-madzhab mereka yang rusak dan syubhat-syubaht mereka yang rapuh yang telah engkau ketahui dan mereka menyembunyikan nushush muqayyadahnya. Ini pada hakikatnya bukan hanya menyelisihi thariqah ahli ilmi saja, bahkan ia tanpa ragu adalah tergolong bermain-main dengan dienullah dan mengada-adakan dusta atas (nama) Allah ta’ala, karena ia adalah pemalingan ungkapan dari tempat-tempat yang semestinya, pelampauan batasan Allah yang telah Dia tetapkan dan Dia gariskan firman-Nya di atasnya, serta tadlis dan talbis….

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan dusta atas Allah adalah tidak beruntung.” (QS. An Nahl: 116).

Dan begitu juga mereka melakukan terhadap teks-teks yang diriwayatkan dari para imam, mereka memotong ucapan para ulama itu[10] atau mengambil darinya apa yang sejalan dengan selera mereka. Dan kami meskipun meyakini bahwa dalam dien ini tidak ada hujjah dengan selain firman Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi termasuk sikap objektif adalah ucapan seseorang tidak boleh diartikan dengan apa yang tidak dimaksud, dan ucapan-ucapan mereka yang muthlaq di bawa kepada ungkapan yang muqayyad dalam masalah yang sama, tidak seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang sesat itu berupa penuturan apa yang selaras dengan madzhab mereka yang rusak dan membuang apa yang tidak sejalan atau menyembunyikannya sedang ini bertentangan dengan sikap amanah, dan ia bukan termasuk thariqah salaf dan Ahlul hadits, akan tetapi ini manhaj ahlul ahwa yang mana Murjiah adalah di antara yang paling buruk. Ahlul Ahwa itu hanya menuturkan apa yang menguntungkan mereka saja, sedangkan Ahlul Hadits, mereka itu menuturkan apa yang menguntungkan mereka dan apa yang mengkritik mereka.

Di antara contoh-contoh ini yang sering digunakan gantungan mereka dalam meteri kita ini adalah di antara apa yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad, bahwa beliau mengikuti Az Zuhriy dalam ucapannya “Mereka memandang Islam itu adalah ucapan sedangkan Iman adalah amalan” supaya dengannya mereka menghukumi keislaman orang yang merasa cukup dengan dua kalimat syahadat, meskipun tidak iltizam dengan amalan dan faraaidl seumur hidupnya, kemudian dari itu mereka menyimpulkan keislaman orang yang melafalkannya meskipun ia mendatangkan sepenuh dunia pembatal, supaya pada akhirnya mereka bisa sampai kepada sikap menutupi (kekafiran) para thaghut dan menghukumi keislaman mereka, serta keharusan dari hal itu berupa loyalitas, ‘ishmah darah dan hartanya, sehingga mereka memiliki perang dalam menghancurkan dien ini, menghapus ikatan terkuatnya, serta melenyapkan peninggalan-peninggalan dan ajaran-ajarannya yang sangat mendasar, baik mereka menyadari ataupun tidak.

Maka dikatakan kepada mereka: Tenang dulu kalian…. Tidak seperti ini dalil digunakan…. dan dalam apa yang telah kami ketengahkan terdapat kadar cukup dalam menggugurkan hal ini, namun pembicaraan di sini terhadap ucapan Al Imam Ahmad, padahal sesungguhnya hujjah itu sebagaimana yang telah kami katakan bukan pada perkataan Ahmad dan yang lainnya, namun hujjah itu adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh Syaikhul Islam telah berkata dalam Majmu Al Fatawa 7/258 mengomentari perkataan ini, beliau berkata: Dan ini diartikan pada dua makna, sesungguhnya bisa dimaksud dengannya ucapan berikut hal-hal yang mengikutinya berupa amal-amal yang dhahir, dan inilah Islam yang telah dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau berkata: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadati kecuali Allah dan bahwa Muhammad Rasulullah, engkau mendirikan shalat, engkau menunaikan zakat, engkau shaum Ramadhan dan berhaji ke Baitullah,” dan bisa dimaksud dengannya ucapan tanpa melakukan kewajiban-kewajiban yang dhahir, sedang ini bukanlah suatu yang dijadikan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam  sebagai al Islam, namun bisa dikatakan: Keislaman orang-orang Arab badui adalah tergolong hal ini, sehingga dikatakan: orang-orang arab badui dan yang lainnya adalah mereka bila masuk Islam pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka diharuskan melakukan amal-amal yang dhahir: shalat, zakat, shaum dan haji, serta tidak seorangpun dibiarkan dengan sekedar pengucapan, akan tetapi siapa yang menampakkan maksiat maka dia dikenakan sanksi.

Ahmad bila memaksudkan dalam riwayat ini bahwa Islam adalah dua kalimat syahadat saja, maka setiap orang yang mengucapkannya adalah muslim. Ini adalah salah satu riwayat darinya, sedang riwayat yang lain: Ia tidak menjadi muslim sehingga ia datangkan hal itu dan shalat, kemudian bila ia tidak shalat maka ia kafir. Riwayat ke tiga: Ia kafir juga dengan sebab tinggalkan zakat. Dan riwayat keempat: Ia kafir bila meninggalkan zakat bila memerangi imam atas dasarnya, berbeda bila ia tidak memeranginya. Dan darinya juga bahwa seandainya ia berkata: Saya menunaikannya dan saya tidak menyerahkannya kepada imam, maka imam tidak punya hak membunuhnya. Serta juga riwayat darinya: Bahwa ia kafir dengan sebab meninggalkan shaum dan haji, bila ia ber’azam untuk tidak haji selamanya.

Sudah ma’lum bahwa atas dasar ucapan kafirnya orang yang meninggalkan al mabaniy maka sangatlah tercegah keberadaan Islam itu sekedar ucapan, akan tetapi yang dimaksud adalah bahwa bila ia mendatangkan kalimat itu maka ia masuk ke dalam Islam.” Selesai.

Engkau telah mengetahui dalam uraian yang lalu perbedaan antara masuk Islam dan permulaan ‘ishmah serta mati langsung setelah itu, dengan suatu yang mesti untuk kelanggengan sahnya Islam dan keberlangsungan ‘ishmah.

Dan dari apa yang telah lalu nampak juga dihadapanmu kebatilan ihtijaj mereka untuk (membela) para thaghut mereka dan budak-budaknya dengan hadits bithaqah dan dengan hadits “Keluarkan -dari api neraka- orang yang di dalam hatinya ada (sebesar) biji Khardal dari keimanan,” dan begitu juga hadits “al jahannamiyyin yang dikeluarkan Allah ‘Azza wa Jalla dari neraka tanpa mereka melakukan amalan kebaikan sedikitpun” dan hadits-hadits serupa. Engkau telah mengetahui bahwa thariqah ahlil ilmi dalam hal itu adalah menggabungkan hadits-hadits satu sama lain, menjama’ antara khabar-khabar yang ada sebisa mungkin, serta melenyapkan apa yang diduga berupa saling pertentangannya dengan cara membawa yang muthlaq kepada yang muqayyad, al ‘aam kepada al khaash, yang mutasyabih kepada yang muhkam, dst.

Sesungguhnya senang dengan sesuatu dari hal itu saja dan terbang membawanya serta membangun pondasi-pondasi dan gunung-gunung di atasnya saja, tanpa memahaminya dengan mengaitkannya dengan yang lainnya adalah thariqah ahlil ahwa -yang di antaranya orang-orang yang kami bahas yaitu Murjiah- di mana mereka itu terbang ke mana-mana dengan hadits-hadits ini.

Syaikh Hamd Ibnu Nashir Ibnu Ma’mar dalam Ad Durar As Saniyyah: Sesungguhnya Al Qur an di dalamnya ada ayat-ayat muhkamat yang mana ia adalah Ummul Kitab, sedangkan yang lainnya adalah mutasyabihat, maka yang mutasyabih dikembalikan kepada yang muhkam, dan tidak boleh Kitabullah dibenturkan sebagiannya kepada sebagian yang lain,[11] dan begitu juga As Sunnah: di dalamnya ada yang muhkam dan ada yang mutasyabih, maka yang mutasyabih dikembalikan kepada yang muhkam, sebagiannya tidak boleh dibenturkan kepada sebagian yang lain, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak kontradiktif akan tetapi sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Juga As Sunnah itu sejalan dengan Al Qur an dan tidak menggugurkannya dan ini adalah inti yang agung yang wajib diperhatikan, siapa yang menelantarkannya maka ia terjatuh dalam hal besar sedang dia tidak mengetahui.” Selesai dari juz Mukhtashar Ar Rudud.

Asy Syathibiy rahimahullah sebelumnya telah melakukan perincian sangat baik sekali, beliau berkata: Sesungguhnya para ahli ijtihad tidak merasa cukup berpegang pada dalil umum sehingga mencari dalil yang mengkhususkannya, dan pada dalil yang muthlaq apa ada dalil muqayyad atau tidak?

Dalil umum bersama dalil khususnya adalah dalil, bila dalil khususnya tidak ada maka dalil umumnya -dengan disertai pemaksudan yang khusus di dalamnya- adalah tergolong mutasyabih, dan lenyapnya ia -yaitu dalil khusus- menjadi pemalsuan dan penyimpangan dari kebenaran.

Dan atas hal itu maka Mu’tazilah digolongkan pada deretan Ahluz Zaigh di mana mereka mengikuti seperti firman-Nya ta’ala:

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ

“lakukanlah apa yang kalian inginkan” (QS. Fushshilat: 40) dari mereka meninggalkan mubayyinnya.

Begitu juga Khawarij, di mana mereka mengikuti firman-Nya ta’ala:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ

“Keputusan itu tidak lain adalah milik Allah” (QS. Yusuf: 40) dan mereka meninggalkan mubayyinnya “memutuskan dengannya dua orang adil di antara kalian.” Dan firman-Nya: “maka utuslah seorang hakam dari keluarga suami dan seorang juru damai dari keluarga isteri.”

Al Jabariyyah mengikuti firman-Nya:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Allah telah menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan.” (QS. Ash-Shaffat: 96) dan mereka meninggalkan penjelasannya yaitu firman-Nya:

فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sebagai balasan dengan sebab apa yang mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 82).

Dan begitulah seluruh yang mengikuti sisi-sisi ini tanpa melihat apa yang ada di belakangnya, andai kata saja mereka menggabungkan antara itu dan menyambungkan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, tentulah mereka sampai kepada apa yang dimaksud. Kemudian bila telah tsabit hal ini maka bayan itu disertakan dengan mubayyin, dan bila mubayyin diambil tanpa bayan maka mubayyin itu menjadi mutasyabih, padahal ia bukan mutasyabih pada hakikat sebenarnya ia, namun orang-orang sesat memasukkan tasyaabuh (kesamaran) di dalamnya atas diri mereka, sehingga mereka sesat dari jalan yang lurus.” Secara ikhtishar.

Saya berkata: Dan begitu juga Afrakhul Murjiah, mereka mengikuti khabar-khabar macam itu, mereka berpegang erat terhadapnya supaya dengannya mereka menambali dien kaum musyrikin dan orang-orang sesat dari kalangan para thaghut penguasa, budak-budaknya, ansharnya dan kroni-kroninya, serta mereka meninggalkan mubayyinnya dari apa yang telah lalu bahwa yang dimaksud adalah perselisihan tauhid, bara’ah dari syirik dan tandid, serta mati di atasnya, bahkan mendatangkan amalan-amalan yang mana seseorang tidak menjadi muslim kecuali dengannya.

Sehingga yang dimaksud dengan sijillat (lembaran-lembaran) yang diletakkan dalam sisi timbangan yang berseberangan dengan bithaqah itu adalah dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar dari hal-hal yang tidak menggugurkan tauhid, sedangkan yang dimaksud dengan bithaqah adalah perealisasian tauhid, kufur dan bara’ah dari apa yang diibadati selain Allah secara pasti.

Dan begitu halnya dengan orang-orang yang dikatakan bahwa mereka itu tidak pernah melakukan kebaikan sedikitpun, yaitu (kebaikan) yang di atas tuntutan tauhid yang menyelamatkan dari kekekalan di neraka.

Dan begitu juga hadits: “Keluarkanlah -yaitu dari neraka- orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji khardal dari keimanan”. Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath 1/73:Dan yang dimaksud dengan sebesar biji khardal di sini adalah suatu yang lebih dari sekedar tauhid berupa amalan, berdasarkan sabdanya dalam riwayat yang lain: “Keluarkanlah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dan mengamalkan amalan seberat dzarrah.” Selesai.

Kemudian kami mengarahkan kepada Murjiatul ‘Ashri itu pertanyaan yang jelas yang kami tidak rela berpaling darinya dan mencari jalan lain….. Mereka yang kalian berhujjah dengan mereka dalam hadits-hadits ini untuk menyelamatkan thaghut-thaghut kalian dari kekafiran, apakah mereka itu mengatakan Laa ilaaha illallaah dan mengingkari kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam??

Atau mereka mengatakan Laa ilaaha illallaah dan bahwa Musailamah Rasulullah?

Atau mereka mengatakan Laa ilaaha illallaah dan Ahmad Ghulam Mirza Rasulullah?

Atau mengatakan Laa ilaaha illallaah dan bahwa Allah adalah Ali Ibnu Abi Thalib atau Al Masih atau makhluk lainnya?? Namun demikian mereka keluar dari neraka dan tempat kembalinya adalah tempat kembali kaum muwahhidin??

Kemudian bila mereka mengatakan hal itu maka berarti mereka telah menjadikan manusia dan jin sebagai saksi atas kerusakan akal mereka, kelancangan mereka terhadap dienullah, bahkan atas kekafiran, kezindiqan serta ilhad mereka dalam dienullah.

Dan apabila mereka menafikannya…. maka kami bertanya kepada mereka apakah dalil dari hadits-hadits itu sendiri kalian menafikan itu atau dengan dalil lain??

Bila mereka berkata: “Dari dzat hadits-hadits itu”, maka mereka telah dusta dan kami menuntut mereka dengannya dan mereka tidak akan mampu.

Dan bila mereka berkata: Dari luar hadits….. maka lazim bagi mereka dan bagi setiap orang (memahami) bahwa hadits-hadits macam ini tidak boleh dipahami secara menyendiri, namun dengan gabungan nash-nash yang menjelaskannya.

Dan dengan hal seperti ini pula mereka diblokir bila berhujjah dengan hadits Hudzaifah yang dikeluarkan oleh Al Hakim dan Ibnu Majah: “Islam akan lenyap seperti lenyapnya warna motif kain dan dalam satu malam Kitabullah ‘Azza wa Jalla dihapus sehingga tidak tersisa di bumi satu ayat pun darinya, dan tersisa kelompok dari manusia, kakek-kakek tua, dan nenek-nenek renta mengatakan: Laa ilaaha illallaah” kami mendapatkan bapak-bapak kami di atas kalimat ini, maka kami mengatakannya” sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, apa itu shadaqah dan apa itu haji, maka Shilah Ibnu Zufar berkata kepada Hudzaifah: Apa guna bagi mereka Laa ilaaha illallaah sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, apa itu shaum, apa itu shadaqah dan apa itu haji? Maka Hudzaifah berpaling tiga kali darinya kemudian berkata: Hai Shilah itu bisa selamatkan mereka dari neraka.

Dan hadits ini telah dishahihkan oleh Al Albaniy padahal dalam isnadnya ada Abu Muawiyah Muhammad Ibnu Khazim At Tamimiy As Sa’diy Al Kufiy Adl Dlarir sedangkan dia itu mudallis mudltharibul hadits, yang mana dengan haditsnya tidak tegak hujjah pada selain Al A’masiy sebagaimana yang dituturkan para imam. Dan di sini dia telah meriwayatkan dari selain jalan Al A’masy dan telah melakukan ‘an’anah juga, dan di samping ini ia itu telah berpaham Irja.[12]

Bagaimanapun keadaannya, dengan pengandaian hadits itu shahih, maka sesungguhnya orang-orang itu sebagaimana yang telah kami katakan diharuskan memahaminya dengan memperhatikan hadits-hadits lain yang menjelaskannya, sehingga sabdanya “mereka mengucapkan Laa ilaaha illallaah” dibawa kepada makna bahwa mereka itu merealisasikan tauhid serta menjauhi syirik dan tandid, dan bukan sekedar mengucapkan kalimat itu saja.

Kemudian mereka itu tidak sampai kepada Al Qur an dan suatupun dari ajaran dien ini. Dan seandainya hal seperti itu terjadi setelah ditutupnya risalah dan mereka itu telah merealisasikan tauhid, maka mereka itu telah mendatangkan al iman yang wajib atas mereka dan orang-orang semacam mereka, karena peringatan itu hanyalah dengan Kitabullah ta’ala:

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“Dan diwahyukan kepadaku Al Qur an ini supaya dengannya aku memberikan peringatan kepada kalian dan (kepada) orang yang sampai (Al Qur an) itu kepadanya.” (QS. Al An’am: 19). Sedangkan mereka itu belum sampai Al Qur an kepada mereka, sehingga terbuktilah bahwa kejahilan mereka terhadap ajaran-ajaran dien ini dan mabaniy-nya yang wajib ini tidak terjadi karena sikap taqshir (kelalaian) dari thalabul haq atau keberpalingan, namun karena diangkatnya Al Kitab sedang ia adalah hal yang qahriy (tidak bisa diupayakan) lagi di luar iradah mereka, maka mereka diudzur dengan rincian-rincian ajaran-ajaran yang tidak diketahui kecuali lewat jalan wahyu selama mereka telah merealisasikan al hanifiyyah yang Allah fithrahkan manusia di atasnya.[13]

Dan keadaan mereka itu serupa dengan keadaan orang yang merealisasikan tauhid sebelum bi’tsah (kerasulan), seperti Zaid Ibnu ‘Amr Ibnu Nufail, sesungguhnya ia tergolong kaum yang Allah ta’ala firmankan:

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

“Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” (QS. Yaasin: 6).

Dan firman-Nya:

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ

“Supaya kamu memberikan peringatan kepada suatu kaum yang tidak pernah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan pun sebelummu.” (QS. Al Qashash: 46). Tidak sampai kepadanya suatupun dari rincian-rincian shalat, shiyam, dan zakat yang difardlukan atas kita, serta tidak melakukan suatupun darinya.

Namun demikian dia diudzur di dalamnya, karena ia telah merealisasikan ashlul iman al wajib atas dirinya dan atas setiap orang secara sempurna, yaitu al hanifiyyah, menjauhi syirik dan perealisasian ashlut tauhid, dan berada di atas Millah Ibrahim, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa dia dibangkitkan sebagai satu umat sendirian di hari kiamat.

Bahkan keadaannya seperti orang yang beriman setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggal di Mekkah sebelum turunnya syari’at, sungguh mereka itu telah mendatangkan al iman al wajib atas mereka saat itu selama mereka telah merealisasikan tauhid dan menjauhi syirik dan tandid serta bersaksi akan kerasulan Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Jawaban ini semua hanyalah diungkapkan setelah menetapkan keshahihan hadits itu dan keshahihan status tambahan “Hai Shilah itu menyelamatkan mereka dari neraka” adalah marfu’ bukan mudraj (sisipan) dari ucapan Hudzaifah radliyallahu ‘anhu.

Wal hasil dari apa yang lalu semuanya, sang muwahhid meyakini bahwa tahqiq tauhid dan bara’ah dari apa yang menggugurkannya berupa syirik yang mengeluarkan dari millah dan tandid adalah ashluddin dan qaidahnya, tiang dakwah para rasul dan pusat roda perputarannya, dan bahwa seluruh ajaran Islam datang untuk menjaganya, merealisasikannya dan melindunginya. Sesungguhnya ini adalah hal yang muhkam yang tidak ada tasyabuh sedikitpun padanya.

Maka hal yang wajib bersama setiap khabar yang samar atas seseorang dari manusia atau yang diduga bertentangan oleh orang-orang yang menduga dengan inti yang muhkam ini, adalah dimasukkan di bawahnya dan ditafsirkan di atas dasarnya, karena ia adalah Ummul Kitab dan intinya, bukan ia dibenturkan dengannya dan tentangkan, apalagi bila berupaya menghancurkannya dengan khabar-khabar itu sebagaimana yang dilakukan oleh Murjiatul ‘Ashri untuk kesenangan para thaghutnya.

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat mutasyabihat…hingga, “Dan adapun orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat….” hingga akhir ayat (QS. Ali Imran: 7).

Kami memohon kepada Allah ta’ala untuk menjadikan kami dan engkau dari golongan Ar Rasikhin Fil ‘Ilmi.

Asy Syathibiy berkata dalam Al I’tisham: “Al furu’ al juz’iyyah tidak mungkin menentang al ushul al kulliyah karena al furu’ al juz’iyyah bila tidak menuntut pengalaman, maka ia berada dalam posisi tawaqquf, dan bila menuntut amalan, maka perujukan adalah kepada ushul, ia adalah ash shirathul mustaqim. Siapa yang membalikannya maka dia telah ngawur dan masuk dalam hukum celaan.” Selesai.

Dalam kadar ini ada kecukupan bagi penuntut Al Haq dalam bab ini. Dan adapun orang yang Allah inginkan kesesatan maka kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) dari Allah.

***

 


[1] Dan dengan ini nampak di hadapanmu juga kebatilan satu syubhat dari syubhat-syubhat Murjiatul ‘Ashri yaitu penutupan mereka akan thaghut-thaghut mereka, dengan klaim bahwa An Najasyi memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan setelah dia masuk Islam, namun demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkafirkannya, namun justru beliau menyatakan keislaman dia dan menshalatkannya tatkala meninggal dunia. “Sungguh besar ucapan yang keluar dari mulut-mulut mereka, mereka tidak mengatakan kecuali kebohongan” Justru beliau telah memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan kepada mereka saat itu, dan beliau mengikuti apa yang telah difardlukan atas mereka pada waktu itu, karena ajaran Islam saat itu belum sempurna, sehingga pemasrahan diri, ketundukan dan pengakuan akan laa ilaaha illallaah dan makna yang dikandung di dalamnya berupa bara’ah dari setiap apa yang diibadati selain Allah adalah al iman dan ittiba’ syari’at serta pemutusan dengan apa yang telah Allah turunkan saat itu, terutama bila engkau telah mengetahui bahwa An Najasyi telah menulis surat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bersaksi bahwa beliau Rasulullah saat itu seraya jujur lagi membenarkan bahkan dia membai’at Rasulullah atas Islam, sehingga sebagian penduduk Habasyah memberontaknya seraya ingin merebut kerajaannya, dan bahwa dia mampu mengalahkan mereka, kondisi Habasyah tetap jadi miliknya setelah itu dan kaumnya pun mengakuinya di atas Islam dan ia akhirnya para uskup dan para pendeta mengikutinya. Dan lihat Zaadul Ma’ad juz 3/62 kemudian dia meninggal tidak lama setelah keislamannya, dan itu sebelum syari’at turun sempurna. Adapun Najasyi yang disurati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta Kisra, kaisar dan semua penguasa seraya mengajak mereka kepada Islam, maka ia adalah selain An Najasyi muslim yang dishalatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam Shahih Muslim, dan Ibnul Qayyim telah mengisyaratkan kepada hal ini dalam Zaadul Ma’ad, serta beliau sebutkan kekeliruan sebagian para perawi di dalamnya dalam mencampur adukkan antara dua orang ini. Dan rujuk dalam hal ini juga Kitabul Iman karya Abdullah Al Qana’iy hal: 149 dan seterusnya.

[2] Hal 54 dan seterusnya dari cetakan yang digabung dalam “Arba’u Rasaa-il” dengan Tahqiq Al Albaniy, pustaka dan penerbit Darul Arqam, Kuwait.

[3]HR. Al Bukhari dan yang lainnya dari hadits Al Bara, dan Ibnu Hajar menuturkan dalam Al Fath (Kitabul Jihad) (Bab Amal Shalih sebelum perang) bahwa perang itu adalah Uhud, dan menuturkan dari Maghazi Ibnu Ishaq dengan isnad shahih bahwa Abu Hurairah pernah berkata di dalamnya: “Seorang masuk surga dan belum pernah shalat sekalipun” dan bahwa namanya adalah ‘Amr Ibnu Tsabit, pahamilah kisahnya baik-baik dan jangan sampai Murjiatul ‘Ashri mentalbis atas dirimu serta mereka datang kepadamu dengan lafadh An Nasai secara dipotong, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi dalam suatu peperangan: “Andaikata saya menyerang mereka, terus saya memeranginya sampai saya terbunuh apakah itu baik untuk saya sedang saya belum pernah shalat? Rasulullah berkata: Ya”. Murjiatul ‘Ashri mungkin menklaim bahwa orang ini tergolong pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggalkan shalat dan Nabi tidak mengingkarinya dan tidak pula mengkafirkannya, namun ia tergolong sahabatnya dan beliau ajak dia keluar untuk berjihad serta beliau kabarkan bahwa andaikata dia mati di atas itu tentulah dia mati di atas kebaikan. Enyahlah bagi pemahaman-pemahaman dan akal-akal yang tidak layak dibeli walau dengan sayuran, karena sudah engkau ketahui bahwa laki-laki ini telah masuk Islam langsung pada perang itu, dan riwayat-riwayat hadits satu sama lain saling menjelaskan.

[4]Ucapannya “pendapat yang kuat” adalah isyarat pada adanya perselisihan, dan bahwa Al Hafidh menguatkan yang ini, sedangkan yang kuat menurut kami adalah dia di awal mulanya dihukumi muslim dan masuk dalam ‘ishmah selama dia telah mengucapkan kalimat untuk masuk Islam, dan tidak ada salahnya untuk cari kejelasan, berdasarkan firman Allah ta’ala: “Dan jangan kalian katakan kepada orang yang mengucapkan salam kepada kalian: “Kamu bukan mu’min….” hingga firman-Nya “maka telitilah” Allah ‘azza wa jalla melarang menafikan keislaman dari orang yang telah menyatakan masuk di dalamnya kecuali bila setelah itu dia menampakkan suatu pembatal atau perbuatan yang mengkafirkan –tanpa ada satupun dari mawani takfier– maka saat itu lenyaplah keislaman dan terputuslah ‘ishmah. Jadi masuk awal mula dalam Islam dan ‘ishmah adalah suatu hal sedangkan keberlangsungan keabsahannya dan keabsahan Islam adalah hal lain, dan inilah yang ditunjuk oleh sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kecuali dengan hak Islam” sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al Hafidh, pembicaraan ini adalah tentang orang yang baru masuk Islam. Adapun para pengekor yang memenuhi belahan dunia ini dan yang tidak mendatangkan semenjak lahir dan sepanjang hidupnya dari Islam ini kecuali pelapalan dengan kalimat ini dengan disertai melakukan pembatal-pembatalnya, ketidakkomitmenan terhadap syarat-syaratnya dan keberpalingan dari tegak atas mereka dengan sampainya Al Quran kepada mereka” supaya saya memberikan peringatan kepada kalian dengan (Al Quran) ini dan kepada orang yang sampai (Al Quran) kepadanya.” Maka mereka itu orang-orang kafir lagi berpaling yang lebih mencintai kehidupan dunia atas akhirat, dan pembicaraan yang diisyaratkan tadi sama sekali tidak tepat buat mereka.

[5]Risalah ke-5 dalam Majmu’atur Rasaa-il Al Munirriyyah 3/88.

[6] Yusuf, Syamsan juga Khidlr, Abu Ali dan Al Asyqar adalah nama-nama yang sering berulang-ulang (disebut) dalam kitab-kitab Syaikh. Dan ia adalah kuburan dan kubah yang diminta-minta (diseru) oleh kaum musyrikin Kuwait, Irak dan yang lainnya selain Allah di masa Syaikh, lihat (Mishbahudhdhalam) karya Syaikh Abdul Lathif Ibnu Abdir Rahman Ibnu Hasan Alu Asy-Syaikh.

[7] Bila ini semua samar terhadap pembaca, maka sungguh disayangkan atas umur yang lenyap sia-sia, tanpa orang itu mengetahui bashirah akan thaghut-thaghut zamannya dan kafir terhadapnya. Silakan rujuk kitab kami dalam hal ini “Kasyfun Niqab ‘An Syari’atil Ghab”.

[8] Hal 355 dari juz Mukhtashar Ar Rudud dari Ad Durrar.

[9]Syaikhul Islam tentang hal seperti ini menjawab dengan dua jawaban: “Pertama: Bahwa Nabi saw adalah menjawab –si penanya– sesuai turunnya faraidl. Awal suatu yang difardlukan adalah dua kalimat syahadat, kemudian shalat…. dst. Kedua: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan dalam setiap kondisi suatu yang selaras dengannya, terkadang beliau tuturkan faraaidl yang nampak yang mana thaifah mumtani’ah diperangi karena meninggalkannya, seperti shalat dan zakat. Dan terkadang menyebutkan suatu yang wajib atas si penanya, siapa yang memenuhi shalat dan shaum namun ia tidak memiliki zakat yang mesti ia tunaikan…dst. “hingga akhir ucapannya, silakan rujuk Al Fatawa 7/605, 607.

[10]Lihat contoh-contoh yang tegas akan hal ini dari tulisan-tulisan mereka dalam kitab kami “Tabshirul ‘Uqala Bi Talbisat Ahlit Tajahhum Wal Irja.”

[11] Sebagaimana sebagian mereka menghujjahi saya –sedang dia sangat disayangkan tergolong orang-orang yang intisab kepada thalabul ilmi– dengan firman-Nya ta’ala “Dan tidaklah mayoritas mereka beriman kepada Allah melainkan mereka itu menyekutukan (Nya).” Atas mungkinnya seseorang menyekutukan Allah dengan syirik akbar namun Al Iman tidak lepas darinya dan tempat kembalinya adalah tetap tempat kembali kaum muwahhdin, dan dia menamakannya “kafir maliyy” dan ia adalah ucapan yang tidak pernah seorangpun mendahului dia dalam hal ini, namun justru yang benar yang dipakai dalam lafadh ini menurut ahlul ilmi adalah ucapan mereka “fasiq maliyy” yaitu bahwa dia maksiat yang mana ia tidak dinisbatkan kecuali kepada millahnya yang kafir.

Dan adapun pendapat dalam tafsir ayat ini adalah sangat jelas lagi terkenal dan mudah didapat dalam tafsir Ahlus Sunnah manapun.

Dan khulashah apa yang dikatakan di dalamnya bila ia dibawa kepada syirik akbar tidak akan keluar dari hal-hal berikut ini:

  • Bisa saja dimaksud dengannya kaum musyrikin dari kalangan para penyembah berhala yang beriman terhadap Rububiyyah: (Dan bila kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, tentulah mereka berkata: “Allah”) dan mereka menyekutukan dalam ibadah.
  • Atau dimaksudkan kaum munafikin, mereka beriman dengan lisan dan kafir dengan hati mereka.

Macam iman ini seluruhnya dengan sepakat tidak menyelamatkan dari neraka, dan orang-orangnya dengan sepakat tempat kembalinya bukan tempat kembali kaum muwahhidin. Dan tidak boleh iman yang disebutkan dalam ayat itu dibawa kepada iman kaum muslimin yang menyelamatkan dari neraka, kecuali bila dimaksud dengan syirik yang disebutkan berbarengan dengannya adalah syirik ashghar. Dan ini pada hakikatnya termasuk hal yang diketahui umum di kalangan para penuntut ilmu yang masih yunior, akan tetapi perseteruan kadang membuat buta dan tuli.

[12]Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar dan syarahnya Nuzhatun Nadhar telah mentarjih sikap menolak riwayat ahlul bid’ah bila riwayatnya tergolong yang menguatkan dan membela bid’ahnya, sedangkan ia di sini tergolong bab ini, maka apa gerangan bila ini disertai tadlis dan idlthirab.

[13] Berbeda dengan orang yang Al Qur an telah sampai kepadanya terus dia berpaling darinya dan tidak merealisasikan tauhid, maka sesungguhnya ia dikenakan hukuman dengan sebab (pelanggaran) furu’ dan ushul dan ia tidak diudzur dengan suatupun dari hal itu menurut pendapat yang shahih. Allah ta’ala berfirman: “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka). Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,” hingga “maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari para pemberi syafa’at.” (QS. Al Muddatstsir: 42-48).

Dan firman-Nya ta’ala: “Sesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Yang Maha Agung dan tidak menganjurkan (manusia) untuk memberi makan orang miskin.” Perhatikan dalam keberadaan mereka itu dikenakan hukuman dengan sebab penelantaran furu’ dan ushul, dan bahasan dalam hal ini sangatlah panjang, sedang rinciannya bisa engkau dapatkan dalam risalah kami “Al Farqul Mubin Baina ‘Udzri Bil Jahli Wal I’radl ‘Aniddien.”

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: