Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Pertanyaan Sekitar ‘illat (Alasan Hukum) Pengkafiran Aparat Keamanan (Polisi Dan Tentara) Thaghut?

Pertanyaan Sekitar ‘illat (Alasan Hukum) Pengkafiran Aparat Keamanan (Polisi Dan Tentara) Thaghut?


Pertanyaan Keempat

Bila alasan dalam pengkafiran angkatan bersenjata thaghut adalah pembelaan kaum musyrikin terhadap kaum muwahhidin maka hal ini tidak terbukti dan tidak nampak kecuali saat terjadi bentrokan barisan (kontak senjata)… sedangkan banyak dari tentara mengatakan bahwa mereka dalam keadaan seperti ini akan membelot kepada barisan muwahhidin atau mereka akan menjauhi peperangan dengan muwahhidin… dan bahwa hakikat tugas mereka sekarang adalah mempertahankan tanah air dari serangan musuh dari luar, yaitu memerangi Yahudi dan yang serupa dengannya, dan sedangkan ini bukan tergolong mudaharatul musyrikin ‘alal muwahhidin (membantu kaum musyrikin terhadap muwahhidin).

Adapun kepolisian dan dinas keamanan umum, maka tugas mereka itu adalah membantu orang yang didhalimi dan mencegah kejahatan seperti pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dan yang serupa itu… sedangkan ini bukan kekafiran. Dan bila hal itu dibiarkan tentulah masyarakat menjadi kacau lagi tidak ada yang mengendalikan dan tidak ada yang membuatnya jera… maka bagaimana pendapat anda dalam hal ini?

Jawaban:

Pertama-tama ketahuilah bahwa ‘illah (alasan) pengkafiran kami terhadap angkatan bersenjata para thgahut itu bukan hanya nushratul musyrikin ‘alal muwahiddin (pembelaan kaum musyrikin terhadap muwahhidin) dan andaikata keadaannya seperti itu saja tentulah orang yang ikut serta dalam pasukan thaghut tanpa memerangi muwahhidin berarti dia hanya sebagai orang yang memperbanyak barisan orang-orang kafir dan anshar mereka.

Dan keadaan mereka itu telah kami tuturkan dalam banyak tempat, dan mereka itu adalah orang-orang yang Allah namakan dalam Kitab-Nya sebagai orang-orang yang dhalim kepada diri mereka sendiri, seperti orang yang masuk Islam di Mekkah dan mereka teledor dalam hijrah darinya ke Madinah.

Kemudian kaum musyrikin memaksa mereka keluar dari barisannya pada perang Badar, sehingga bila orang muslim menembakkan panahnya maka ia mengenai pada salah seorang dari mereka itu, maka itu menurunkan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri mereka, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat hijrah di bumi itu”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (An Nisa: 97)

Dan mereka itu diperlakukan sebagaimana barisan yang mana mereka berada di dalamnya, karena biasanya orang muslim itu tidak mampu memilah, terutama di tengah kecamuk peperangan antara orang yang keluar sebagai muqatil (yang berperang) dengan orang yang keluar sebagai orang yang memperbanyak barisan mereka saja, bahkan hukum asal pada status jaisy ini adalah ia itu jaisy yang keluar memerangi kaum muslimin, sedangkan ia adalah barisan yang dhahirnya memerangi, menentang dan menantang agama Allah… maka orang muslim diudzur bahkan diberi pahala dengan sebab memberlakukan hukum kafir -di dunia- terhadap individu-individunya selagi belum nampak baginya suatu yang menyelisihi hal itu dari salah seorang mereka, maka dia menjauhinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menuturkan dalam Al Fatawa hadits Jaisy (pasukan) yang menyerang Ka’bah, dan ditengah mereka itu ada orang yang berpapasan lewat dan dipaksa serta orang yang bukan bagian dari mereka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah membenamkan mereka dari awal sampai akhir, kemudian mereka dibangkitkan di akhirat di atas niat mereka. Dan dalam hal ini ada pengingatan bagi kita bahwa kita memperlakukan orang-orang yang seperti mereka di dunia dengan dhahir dan Allah-lah yang menangani batin, oleh sebab itu Syaikh rahimahullah berkata (Allah ta’ala telah membinasakan pasukan yang ingin mengotori kehormatan-Nya -orang yang dipaksa di tengah mereka dengan orang yang tidak dipaksa- padahal Dia mampu untuk memilah di antara mereka, dan padahal Dia membangkitkan mereka di atas niatnya, maka bagaimana wajib atas mukminin mujahidin memilah antara orang yang dipaksa dengan yang lainnya, sedangkan mereka tidak mengetahui hal itu?! Bahwa seandainya seseorang mengklaim bahwa ia keluar dalam keadaan dipaksa, maka hal itu tidak manfaat baginya dengan sekedar klaimnya) selesai 28/537.

Kemudian beliau menuturkan kisah penawanan Al ‘Abbas dalam perang Badar dan pengklaimannya bahwa ia dipaksa, serta sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak menerima klaimnya itu. Jadi pemilihan itu tidak wajib atas kita selagi hal itu sulit dilakukan, namun yang benar adalah dikatakan: bahwa pemilihan diri itu wajib atas orang yang memperbanyak barisan pasukan ini dan dia mengklaim bahwa ia bukan bagian dari mereka dan bukan bagian dari anshar mereka, maka yang wajib atas dia adalah menjauhi mereka dan keluar dari barisan mereka bila ia ingin selamat…

Dan hukum semacam ini hanyalah diberlakukan, dikarenakan pasukan ini diarahkan untuk memerangi dien ini, nampak tujuannya yaitu memerangi Ka’bah. Jadi orang yang berada di dalamnya adalah orang yang memerangi agama Alllah atau orang yang memperbanyak barisan orang-orang yang memerangi agama Allah…

Syaikh Muhammad Ibnu Abdullatif Alu Asy Syaikh: (Barangsiapa tidak mampu keluar dari tengah kaum musryikin dan mereka memaksanya keluar bersama mereka, maka statusnya adalah sama dengan status mereka dalam hal (kebolehan) dibunuh dan diambil hartanya bukan dalam status kafir. Dan adapun bila ia keluar bersama mereka dengan keinginan sendiri dan tidak dipaksa untuk memerangi kaum muslimin, dan dia membantu mereka dengan badan hartanya maka tidak diragukan bahwa status dia sama dengan status mereka dalam status kafir) selesai dari Majmu’ah Ar Rasa-il Wal Masa-il 2/135.

Jadi ucapan beliau perihal orang-orang yang memperbanyak jumlah barisan mereka saja adalah: bahwa status mereka sama dengan status kaum musyrikin itu dalam hal (kebolehan) dibunuh dan diambil hartanya bukan dalam status kafir…. yaitu: bahwa kita di dunia ini memberlakukan terhadap mereka hukum orang-orang kafir, dalam hal penghalalan darah mereka dan perampasan harta mereka sebagai ghanimah. Dan ini, karena kita diperintahkan untuk menghukumi berdasarkan dhahir, adapun hakikat urusan mereka dan keimanan yang mereka klaim di dada mereka, maka ini dikembalikan kepada Allah, Dia Subhanahu Wa Ta’alaakan membangkitkan mereka dan menghisab mereka di atasnya di hari kiamat. Jadi pasukan mana saja yang alasan pengkafirannya hanya membantu kaum musyrikin atas kaum muwahhidin, maka sesungguhnya kita memperlakukan orang yang memperbanyak barisan mereka di dunia ini sebagaimana perlakuan terhadap orang-orang kafir selagi tidak nampak di hadapan kita hakikat orang mu’ayyan (tertentu) di antara mereka, dan bahwa dia itu tidak memerangi kaum muwahhidin, maka kita menjauhinya bila kita mampu atas hal itu, dan bila tidak maka kita diudzur dan maka kita mendapat pahala dalam hal memberlakukan hukum-hukum dhahir terhadapnya. Sedangkan pemisahan diri dan pemilahan itu adalah dituntut dari dia dan bukan dari kita karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghati-hatikan dari sikap memperbanyak jumlah barisan orang-orang kafir dan Beliau berlepas diri dari orang yang tidak memisahkan diri dari mereka, di mana Beliau bersabda: (Saya berlepas diri dari orang yang menetap di tengah orang-orang musyrik) padahal ucapan ini berkenaan dengan orang yang sekedar menetap di Darul Kufri maka bagaimana dengan orang yang keluar bersama pasukan mereka yang kafir lagi memerangi agama Allah seraya memperbanyak jumlah barisan mereka?

Dan wajib diketahui bahwa memerangi muwahhidin sebagai bentuk nushrah bagi kaum musyrikin itu tidak hanya terjadi dengan pedang atau meriam dan senapan… akan tetapi lebih luas dari itu di mana ia bisa jadi dengan pengintaian, memata-matai, tipu muslihat, pemberian laporan, pengusiran, penangkapan, penahanan dan yang lainnya, karena semua itu pada hakikatnya adalah pengokohan bagi kekuasaan orang-orang kafir dan pembelaan bagi syirik dan kaum musyrikin serta penghalang-halangan dari jalan kaum muwahhidin yang berupaya untuk membela diennullah yang menegakkan syariatnya. Maka barangsiapa mengklaim bahwa ia akan membelot saat memerangi kaum muwahhidin kepada mereka dan bahwa ia tidak akan memerangi mereka, maka hendaklah dia sejak awal menjauhi hal ini semuanya dan hendaklah dia berlepas diri darinya dan bila tidak, maka dia pada hakikatnya adalah orang yang memerangi mereka dan agama mereka lagi membela dan membantu kaum musyrikin dari kalangan hamba hukum dan anshar UUD, terhadap mereka.

Bila ini sudah jelas, maka ketahuilah bahwa kami saat mengatakan: bahwa alasan takfier kami kepada anshar thaghut dan ‘asakirul qanun (aparat penegak hukum/UU) adalah “tawalliy dan nushrah” maka kapan saja alasan ini didapatkan maka hukum itu ada pula, dan bila alasan itu tidak ada maka hukum itu tidak ada pula, maka seseungguhnya kami memaksudkan dua hal dengan hal itu:

Pertama: tawalliy pada kaum musyrikin dan nushrah mereka.

Ke dua: tawalliy kepada syirik, kekafiran dan thaghut mereka.

Adapun hal pertama, yaitu tawalliy kepada kaum musyrikin dan nushrah mereka, maka ini hanya menjadi kekafiran yang jelas lagi nampak bila ia adalah tawalliy dan nushrah kepada mereka terhadap muwahhidin, dan telah lalu rincian dalam hal ini. Adapun bila hakikat nushrah mereka itu adalah dalam memerangi Yahudi atau komunis atau kaum kafir lainnya, maka ini termasuk jenis bab yang dibuatkan oleh para fuqaha dalam (membantu kaum musyrikin dalam memerangi kaum musyrikin)[1] dan ini bukan termasuk bahasan kita di sini, dan siapa yang ingin rincian di dalamnya maka hendaklah ia merujuk pada tempat-tempatnya dari kitab-kitab fiqih. Akan tetapi kami mengingatkan dia agar tidak membahas masalah ini sebagai sekedar masalah fiqih yang dijauhkan dari bendera jahiliyyah yang buta.

Dan kebenaran yang wajib diperhatikan di sini adalah bahwa jaisy (polisi atau tentara) di payung pemerintahan-pemerintahan kafir hari ini, meskipun mereka mengklaim bahwa ia didirikan dan berdiri untuk tujuan menghadang musuh dari luar -seperti yang mereka katakan- maka ia pada kakikatnya tidak melakukan hal itu kecuali demi melindungi kekuasaan thaghut dan demi mengokohkan sistim kafir, oleh sebab itu ia tidak membedakan antara musuh dengan musuh (yang lain), di mana setiap orang yang memusuhi pemerintahan maka ia itu musuhnya walaupun ia tergolong muwahhidin pilihan…

Jadi yang menjadi acuan bukanlah klaim dan istilah serta apa yang diklaim dan ditulis di peraturan-peraturan angkatan bersenjata ini berupa latar belakang pendirinya dan tujuan-tujuannya, namun yang dianggap adalah hakikat hal itu dan keberadaannya sebagai penjaga yang sebenarnya bagi sistim yang berkuasa, baik itu berasal dari musuh dari luar ataupun dari dalam, tidak ada perbedaan -bagi mereka- itu dikarenakan kendalinya ada di tangan thaghut, kroni-kroninya dan kaki tangannya. Si thaghutlah yang mengarahkannya sesuka dia, karena dia itu di negeri kami yang tertindas mereka namakan sebagai “panglima tertinggi angkatan bersenjata”.[2]

Sebagaimana wajib diketahui bahwa sekedar adanya ‘azzam (niat) atau janji dan ‘ahd (bai’at) atau akad dan sumpah mutlak yang dikomitmeni oleh individu-individu tentara/polisi dan selain mereka, atau kesepakatan umum yang mereka tampakan untuk membela kaum musyrikin hamba UU terhadap setiap orang yang memusuhi mereka, meskipun musuh itu dari kalangan muwahhidin maka ini saja cukup untuk memvonis kafir terhadap dhahir pelakunya. Karena Allah ta’ala sendri telah memvonis dengan vonis seperti ini terhadap sebagian orang yang menampakkan Islam dan mengklaim iman dengan sebab sekedar mereka menjanjikan kepada orang-orang Yahudi dan bersepakat bersama mereka untuk membantunya menghadapi kaum muslimin, pada saat kaum muslimin memerangi kaum Yahudi itu, di mana Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لإخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (١١) لَئِنْ أُخْرِجُوا لا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الأدْبَارَ ثُمَّ لا يُنْصَرُونَ

“Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya bila kamu diusir, niscaya kamipun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu”. Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tiada akan menolongnya, sesungguhnya jika mereka menolongnya niscaya mereka akan berpaling lari kebelakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan” (Al Hasyr: 11-12)

Perhatikanlah bagaimana Allah ta’ala mengikatkan persaudaraan antara orang-orang yang menampakkan Islam itu dengan orang-orang Yahudi, (yaitu mengkafirkan mereka) dengan sebab sekedar penjalinan kesepakatan dan akad, walaupun mereka itu tidak jujur dalam akadnya itu… sungguh Allah ta’ala telah mengabarkan bahwa mereka itu tidak jujur dalam kesepakatan ini dan bahwa mereka itu tidak akan membantu kaum Yahudi saat peperangan terjadi. Dan ini seperti apa yang diklaim oleh banyak orang-orang yang sesat yang menyia-nyiakan umur mereka dalam melindungi thaghut dan hukumnya dan dalam memperbanyak jumlah kaum musyrikin, padahal sesungguhnya mereka itu tidak akan membantu budak UU terhadap muwahhidin bila peperangan terjadi…!! Bahkan mereka akan menjauhi muwahhidin di saat pertempuran… akan tetapi mereka tidak bisa lulus dari diklat-diklatnya dan tidak menerima tugasnya sehingga mereka berjanji terlebih dahulu untuk membela kaum musyrikin UU dan melindungi sistim kafir, serta meraka bersumpah untuk loyal (setia) penuh kepada thaghut…

Maka hendaklah mereka mengetahui bahwa mereka itu telah keluar dari Islam dengan sebab kesepakatan mereka ini dan dengan sebab janji dan sumpah mereka untuk tawalliy dan nushrah yang penuh kepada orang-orang kafir dalam memerangi setiap orang walaupun ia itu tergolong muwahhidin, serta untuk menyerahkan kendali mereka kepada orang-orang kafir itu, sebagai tentara, militer, dan anshar dengan syarat mereka tidak menolak untuk mentaati dan membela mereka di tempat mana saja mereka ditempatkan. Dan setiap orang adalah bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan dia lebih mengetahui perihal kekotoran dirinya dari kesuciannya. Maka hendaklah ia segera lari kepada Tuhan dan Pelindungnya, agar ia menjadi bagian dari barisan tentara tauhid bukan bagian dari barisan ahli syirik dan tandid.

Bagaimanapun keadaannya kami kembali mengatakan: seandainya benar klaim si penanya bahwa sisi ini dari (alasan tawalliy dan nushrah) yaitu (membela kaum musyrikin untuk memerangi muwahhidin) adalah tidak ada pada tentara atau polisi atau dinas-dinas serupa, karena hal itu tergolong tugas khusus dinas intelijen atau yang serupa dengan mereka yang spesial melakukan tipu daya terhadap muwahhidin dan memerangi mereka, dan bahwa hal ini tidak ada pada ketentaraan dan kepolisian serta yang lainnya kecuali saat terjun langsung memerangi muwahhidin, umpamanya tentara turun ke jalan untuk memerangi anshar syariah, sebagaimana yang terjadi sekarang di Al Jazair.

Kami katakan: seandainya benar klaim ini, maka masih ada bagian ke dua dari alasan yang kami utarakan, yaitu nushrah kemusyrikan, kekafiran, thaghut dan UU itu sendiri. Karena sesungguhnya Allah tatkala menjadikan tauhid sebagai tuntunan dan hak bagi-Nya atas hamba-hamba-Nya, maka dia memerintahkan mereka untuk mentauladani Millah Ibrahim dalam hal itu, sebagaimana telah yang kami rinci dalam tempat lain, sedangkan hal itu tidak terealisasi kecuali dengan keberlepasan diri dari syirik dan para pelakunya…

Yaitu dari kaum musyrikin yang beribadah kepada selain Allah… dan dari kemusyrikan-kemusyrikan mereka serta tuhan-tuhan mereka yang bathil itu sendiri…

Di mana Allah ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada bagi kamu suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya. Saat mereka berkata pada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan diri apa yang kamu ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nampak di antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian selamanya sehingga kamu beriman kepada Allah saja” (Al Mumtahanah: 4)

Dan Allah ta’ala berfirman tentang Ibrahim:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

“Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah” (Maryam: 48)

Dan berfirman:

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Maka ketika Ibrahim telah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang kamu sembah selain Allah” (Maryam: 49)

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berkata tentang para pemuda Ashabul Kahfi:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah”. (Al Kahfi: 16)

Jadi bagi orang yang ingin merealisasikan tauhid yang merupakan hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan yang merupakan pusat poros keselamatan, maka ia harus menggabungkan antara sikap menjauhi ibadah dan nushrah thaghut dan kemusyrikan dengan sikap menjauhi tawalliy dan nushrah aparat penegak dan budak hukum.

Bila seseorang mengklaim bahwa tentara atau polisi atau yang serupa dengan mereka itu tidak memerangi muwahhidin atau bahwa di antara mereka ada orang yang menjauhi sikap membantu kaum musyrikin terhadap muwahhidin atau bahwa ia itu taubat dan mendapat petunjuk dan terus ia ingkar terhadap kesepakatannya bersama mereka untuk membantu dalam menghadapi muwahhidin atau yang lainnya, atau bahwa ia itu tidak akan melakukan hal itu bila peperangan terjadi atau tragedi datang…

Namun mana mereka itu dari sikap menjauhi nushrah dari kemusyrikan itu sendiri dan dari sikap tawaliy terhadap undang-undang buatan, serta dari sikap melindungi dari ajaran agama baru (demokrasi) dan hukum yang kafir…?

Bukankah mereka itu sebagaimana yang mereka banggakan dan mereka sematkan nama kepada diri mereka sendiri, adalah mata yang selalu terjaga melindungi undang-undang…?! Mereka menghabiskan umur mereka dan mereka mengorbankan jiwa raga mereka dalam melindungi, menjaga, melaksanakan dan megokohkan undang-undang itu?? bukankah mereka pelindung dan penjaga UUD, yang memaksakan manusia untuk merujuk kepada undang-undang dan lembaga-lembaga hukumnya?!

Maka di mana sikap menjauhi syirik itu bila mereka memang seperti apa yang mereka klaim akan menjauhi kaum musyrikin?!?

Kemudian bila ada yang bertanya: Bagaimana solusi gantinya?! Dan bagaimana kita mencegah kejahatan dan bagaimana kita melindungi harta, jiwa dan kehormatan? Sebagaimana yang diisyaratkan dalam pertanyaan si penanya, dan sebagaimana seperti yang didengung-dengungkan selalu oleh aparat thaghut dan barisan penegak undang-undang saat kami mengajak mereka untuk berlepas diri dari syirik dan kebatilan mereka…

Maka kami katakan: Sungguh bahaya adalah lebih besar dan lebih dahsyat dari itu. Dan meskipun hal ini tidak tercapai dalam kondisi seperti ini kecuali dengan nushrah ajaran (hukum) thaghut dan tawalliy kepada syirik dan para pelakunya maka tetap saja tidak boleh seseorang menjadikan dirinya sebagai domba tebusan yang jatuh ke dalam neraka jahannam seraya kekal di dalamnya, dengan dalih melindungi kehormatan manusia atau jiwa mereka atau harta mereka. Hal-hal pokok tersebut meskipun ia adalah maslahat-maslahat yang mu’tabarah (dianggap), akan tetapi lebih besar dari itu semuanya adalah maslahat tauhid yang wajib atas setiap orang memurnikannya bagi Allah ta’ala, dan Allah ta’ala akan menanyakan kepada dia tentangnya sebelum Dia bertanya kepada dia tentang sesuatu dari maslahat-maslahat itu karena untuk hal itu Dia menciptakannya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali mereka beribadah kepada-Ku” (Adz Dzariyat: 56)

Para ahli tafsir: yaitu supaya mereka beribadah kepada-Ku saja…

Dan untuk perealisasian hal itu maka Dia mengatur para Rasul semuanya, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan kami tidak mengutus sebelum engkau seorang Rasulpun melainkan kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Illah (yang berhak diibadati) kecuali Aku, maka beribadahlah kalian kepada-Ku” (Al Anbiya: 25)

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُو

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (para Rasul itu mengatakan) kepada umatnya: “Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut itu” (An Nahl: 36)

Dan ia adalah hak Allah yang paling khusus atas hamba-hamba-Nya, oleh sebab itu ia disebutkan secara khusus dalam hadits Mu’adz, yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (Hak Allah atas para hamba adalah mereka mengibadatinya dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya…).

Dan tidak halal menelantarkan hak ini atau menghancurkannya dan menggugurkannya serta menyia-nyiakannya, dengan dalih untuk mendapatkan hak-hak atau maslahat-maslahat dunia, dan tidak ragu bahwa dalam pengguguran maslahat-maslahat yang mereka jadikan sebagai dalih adalah terdapat mafsadah-mafsadah yang besar, akan tetapi lebih besar dari itu semuanya adalah mafsadah syirik yang membatalkan tauhid lagi mengekalkan orang dengan sebabnya dalam neraka Jahannam, menghapuskan amalan seleuruhnya dan mengharamkan surga atasnya.

Sedangkan kami telah menjabarkan kepadamu dalam tempat lain bahwa dien (falsafah/hukum/sistem) pemerintah-pemerintah ini dan UU-nya adalah berdiri di atas ajaran kafir dan penetapan sekutu-sekutu pembuat hukum di samping Allah ‘Azza Wa Jalla, maka silahkan rujuk hal itu di tempatnya supaya kamu mengetahui bahwa syirik adalah mafsadah (kerusakan) terbesar dalam kehidupan ini secara mutlak, karena ia adalah dosa yang tidak Allah ampuni selamanya, bila pelakunya mati di atasnya, sebagai mana firman-Nya ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) penyekutuan terhadap-Nya dan Dia akan mengampuni selainnya bagi orang yang dikehendaki-Nya” (An Nisa: 48)

Oleh sebab itu kami katakan pertama-tama kepada orang yang bertanya tentang solusi ganti…!!

Solusi ganti bila kamu menjauhi syirik yang mengekalkan dalam neraka adalah; surga yang luasnya langit dan bumi yang disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa… Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”(Ali Imran: 185).

Bila dikatakan: Ini benar, tapi apa solusi untuk menjaga maslahat-maslahat itu?

Maka kami katakan: solusi itu tidak bisa dengan cara membela dien (sistem) syirik dan undang-undang buatan dan tidak pula dengan mengokohkan pilar-pilarnya, karena sesungguhnya orang berakal yang jeli lagi mengamati undang-undang mereka, ia akan mendapatkan bahwa ia pada hakikatnya tidaklah melindungi maslahat-maslahat itu, bahkan justeru total sebaliknya, ia malah menggugurkan, menghancurkan dan berperan andil siang-malam dalam merobohkan maslahat-maslahat itu. Kami telah merinci hal itu dan menjabarkannya dengan dalil-dalil yang shahih dan contoh-contoh yang jelas dari undang-undang mereka dalam hal-hal terpenting (dlaruriyyat) seluruhnya yang mana syariat datang untuk melindunginya, yaitu dien, nasab (keturunan), kehormatan, akal dan harta, dan kami telah menjabarkannya dalam kitab kami (Kasyfun Niqab ‘An Syari’atil Ghaab)… barangsiapa menghendakinya maka silahkan dia merujuk hal itu agar ia mengetahui secara meyakinkan bahwa undang-undang yang mereka klaim bahwa ia mencegah kejahatan dan melindungii harta jiwa, darah, dan kehormatan, ia pada hakikatnya adalah sebab utama dalam kejahatan dan faktor pertama dalam penumpahan darah muwahhidin dan keterjagaan darah orang-orang kafir dan musyrikin, dan ialah sebab utama dalam pembukaan pintu-pintu diyaatsah (sikap tidak cemburu terhadap zina dan yang semacamnya yang dilakukan keluarga) dan memudahkan pelacuran, kerusakan dan perzinahan dengan cara menelantarkan hududullah dan dengan melindungi, menjaga dan melegalkan rumah-rumah bordil, bar-bar dan diskotik, dan ia juga sebab utama dalam menjaga dan melindungi harta yang haram, dan menjaga riba, suap, pajak, denda, dan yang lainnya, dalam waktu yang bersamaan ia membuka pintu lebar-lebar bagi para aparat hukumnya untuk memakan harta manusia dengan bathil dan menjarah usaha mereka dalam bingkai perlindungan undang-undang ini dan pengguguran had pencurian dan menggantinya dengan sangsi-sangsi yang rendah yang menyemangati dan mempermudah pencurian… dan bahwa ia adalah sebab utama dalam pengguguran nikmat akal dengan cara pelegalan khamr dan pengizinan serta pelegalan jual-belinya, serta menjaga dan melindungi hal itu disertai pengguguran hududullah yang bisa membuatnya jera, serta hal-hal dlaruriyyat dan maslahat-maslahat lainnya yang mana undang-undang ini pada hakikatnya berperan dalam penghancuran dan penggugurannya, bukan menjaga dan melindunginya sebagaimana yang di klaim secara dusta dan bohong oleh para pelindung dan para arbabnya. Dan semua itu telah kami jelaskan dan kami rinci dalam kitab kami tersebut dengan dalil-dalil dari undang-undang mereka yang beraneka ragam, sebagaimana telah kami jelaskan bahwa perlindungan dan perealisasian maslahat-maslahat itu tidaklah terjadi dengan melindungi, menjaga, membela dan menerapkan dien (sistim/hukum/falsafah) thaghut dan undang-undangnya, akan tetapi hal itu hanya akan terealisasi dalam payung hukum Allah dan syariat-Nya dan dengan menerapkan hudud-Nya yang tinggi lagi suci. Dan sampai hal itu terwujud dan terealisasi dalam dunia realita, maka tidak boleh bagi siapa saja menjadi tentara untuk membela musuh-musuh syariat dan menjadi aparat pelindung hukum yang menggugurkan dan melawannya, namun yang wajib atasnya adalah dia menggerakkan para pemudanya dalam upaya merobohkan para thaghut itu dan undang-undang kafir yang membatalkan dienul islam dan menghabiskan umurnya dalam membela syariat Allah, sehingga dia menjadi tentara dari tentara-tentara tauhid dan syariat, yang berupaya keras dalam rangka memberlakukannya, mengokohkannya, meninggikannya dan mengembalikan kekuasaannya pada dunia realita seraya memulai oleh dirinya sendiri dan orang-orang yang dibawah pengendaliannya. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At Tahrim: 6)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya perihal kepemimpinannya…) maka orang yang jujur lagi peduli hendaklah bersegera dlaruriyat dan maslahat-maslahat itu pada dirinya dan keluarganya terlebih dahulu, dan hendaklah dia memulai dengan dien dan tauhidnya terlebih dahulu, dia menjaganya dari kerusakan-kerusakan dien thaghut yang syirik dan undang-undang yang kafir.

Maka hati-hatilah dari penelantaran hal itu dengan dalih syubhat-syubhat dan hujjah-hujjah iblis yang kosong melompong itu, karena sesungguhnya Allah ta’ala akan menanyakannya sebelum dia menanyakannya tentang kejahatan yang ada di masyarakat atau yang lainnya, Dia akan menanyakannya pertama-tama tentang dirinya sendiri dan apa yang dia telantarkan perihal pentauhidan Sang Pencipta yang merupakan hak Allah subhanahu wa ta’ala yang paling khusus, kemudian tentang orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya dan sikap aniaya terhadap mereka.

Jadi kesimpulannya: kami katakan: bahwa hal yang wajib atas setiap orang yang masih berada dalam barisan tentara, polisi dan aparat penegak undang-undang buatan (ansharul qanun) adalah dia bersegera dan cepat-cepat melarikan diri dari dien (hukum/sistim/falsafah) syirik ini kepada Allah ta’ala, dia mengEsakan-Nya ta’ala dan mentauhidkan-Nya dengan ibadah, hukum, ketaatan, dan penyandaran kewenangan hukum, serta dia bersungguh-sungguh dalam nushrah hukumnya, supaya ia menjadi bagian dari anshar dien dan tentara-Nya, yang telah Dia ta’ala firmankan perihal mereka:

وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (١٧٣)

“Dan sesungguhnya tentara kami itulah yang pasti menang” (Ash Shafat: 173)

Dan hati-hati jangan sampai dia masih tetap berada dalam barisan tentara iblis yang telah Allah firmankan perihal mereka:

فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ (٩٤) وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ (٩٥)

“Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya” (Asy Syu’ara: 94-95)

Kemudian bila dia tetap berada di tengah mereka seraya memperbanyak jumlah barisan mereka lagi mengklaim bahwa dia tidak akan membantu atau tawalliy kepada hukum mereka yang syirik dan bahwa ia tidak akan membantu mereka terhadap muwahhidin yaitu bahwa alasan yang karena sebabnya kami mengkafirkan mereka itu tidak ada pada diri dia, maka kami katakan kepadanya: bahwa iman menurut ahlussunnah adalah ucapan, amalan dan keyakinan, sehingga wajib atas dirimu bila kamu memang benar jujur dalam klaimmu ini, (wajib) amalanmu ini membenarkan keyakinanmu, dengan cara kamu menjauhi thaghut, supaya dengan hal itu kamu menampakkan dan merealisasikan tauhid yang mana semua Rasul diutus dengannya dalam bentuk ucapan, amalan dan keyakinan. Dan selagi kamu memperbanyak barisan syirik dan para pelakunya lagi tampil nampak dengan penampilan ansharnya, para aparatnya, tentaranya, dan para pelindungnya lagi bergabung kepada mereka juga berlindung dengan kekuatan senjata dan undang-undang mereka, maka kamu ini belum menjauhi nushrah thaghut sesuai apa yang nampak di hadapan kami, sehingga kami diudzur bahkan mendapatkan pahala insyaAllah atas pemberlakuan hukum-hukum dhahir ini yang kamu tampakkan kepada kami. Dan Rabb kami tidak membebani kami untuk mengorek hati kamu supaya kami mengetahui apa yang kamu sembunyikan di hati kamu dan apa yang kamu klaim di dalamnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata (Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk mengorek hati manusia).

Al Bukhari telah meriwayatkan dari Umar Ibnul Khaththab radliallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: (…barangsiapa menampakkan kebaikan di hadapan kami maka kami mempercayainya dan medekatkannya, dan sedikitpun dari rahasianya tidak diserahkan kepada kami, Allahlah yang akan memperhitungkan rahasia hatinya. Dan barangsiapa yang menampakkan keburukan dihadapan kami, maka kami tidak mempercayainya dan tidak membenarkannya, meskipun dia berkata bahwa batinnya baik).

Sebagaimana kita tidak dibebani apa yang tidak kita mampu yaitu berupa pemilahan -sebagaimana apa yang telah lalu- namun justeru orang yang memperbanyak barisan syirik dan musyrikin itulah yang dibebani untuk memisahkan diri dari mereka dan menjauhi mereka, dia diperintahkan untuk memilah antara kekafiran dengan iman dan antara tauhid dengan tandid (syirik) dan bila tidak maka sesungguhnya perlakuan terhadap dia bagi kami adalah tetap, berdasarkan dhahir yang mana dia tidak lepas darinya, dan batinnya bila memang dia jujur adalah diserahkan kepada Allah ta’ala di hari kiamat, Dia membangkitkannya di atasnya dan menghisab dia berdasarkan hal itu, kemudian bila Allah mengetahui bahwa dia itu memang benar tidak menjadi pembela kemusyrikan dan undang-undang dan bahwa dia tidak membantu kaum musyrikin atas muwahhidin, maka Allahlah yang akan memperhitungkan dia dan Dialah yang akan menanganinya sedang Dia itu tidak akan mendhalimi sedikitpun. Akan tetapi pertanyaan yang kami ingingkan jawaban dari dia terhadapnya sekarang adalah:

Bagaimana kami mengetahui darinya hal seperti itu di dunia tanpa dia sendiri memisahkan diri dari syirik dan ansharnya, selagi dia menjadi penjaga mereka dan tentara bagi undang-undang dan kemusyrikan mereka serta memperbanyak jumlah barisan mereka?!

Dan pertanyaan yang paling berbahaya dan paling menakutkan yang dilontarkan malaikat kepadanya di hari saat dia meninggalkan dunia ini di awal fase kehidupan akhirat, di mana mereka langsung menyambutnya dengan pertanyaan: “Dibarisan mana kalian ini”?! (An Nisa: 97), Yaitu dipihak mana dan dibarisan mana serta dijajaran mana…?! Apakah di barisan tauhid, tentaranya dan ansharnya?! Ataukah di barisan syirik, tentaranya dan ansharnya?!

Maka lekaslah kamu menjauhi syirik dan para pelakunya… Lekaslah… dan lekaslah… Dan bila tidak maka neraka… dan neraka…

* * *

Dari risalah:
Pancaran Tauhid Dari Penjara Sawaqah

Penulis:

Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy

Alih bahasa:

Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

[1] Sebagai contoh silahkan lihat Sunan Al Baihaqi (Kitab As Siyar) 9/142 (bab tawanan yang digunakan oleh kaum musyrikin untuk memerangi kaum musyrikin).

[2] Oleh sebab itu bila genggaman dan pengendalian thaghut dan kroni-kroninya sangat kokoh terhadap militer – dan biasanya – memang seperti itu di negeri-negeri kita yang terjajah – maka sesungguhnya engkau melihat tentara pada saat genting turun ke jalanan, dan mengarahkan senjatanya kepada rakyat sendiri, sebagaimana hal itu terjadi di Afghanistan, dan sebagaimana hal itu sedang terjadi pada hari ini di Al jazair, bahkan kadang ia mengarahkannya kepada pemerintah itu sendiri bila berupaya keluar dari politik kafir si thaghut sebagaimana hal itu terjadi di beberapa negara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: