Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Membongkar Syubhat Murji-ah Gaya Baru (Pasal – Penjelasan Bahwa Di Antara Perbuatan Dan Ucapan Ada Yang Merupakan Kekafiran Dengan Sendirinya)

Membongkar Syubhat Murji-ah Gaya Baru (Pasal – Penjelasan Bahwa Di Antara Perbuatan Dan Ucapan Ada Yang Merupakan Kekafiran Dengan Sendirinya)


Pasal

Penjelasan Bahwa Di Antara Perbuatan Dan Ucapan
Ada Yang Merupakan Kekafiran Dengan Sendirinya

Ketahuilah, bahwa syubhat ini bukanlah syubhat yang baru, namun ia adalah hal kuno yang diwarisi oleh para muqallid yang jahil itu dari guru-guru mereka dari kalangan orang-orang yang menyimpang dan sesat, semacam Jahm Ibnu Shafwan, Bisyr Ibnu Ghiyats Al Mirrisiy dan yang lainnya, baik lewat jalur al wijadah atau bisikan syaitan.

Di antara ucapan yang dinisbatkan kepada Bisyr Al Mirrisiy adalah ucapannya yang sangat keji: “Bahwa sujud kepada matahari dan bulan bukanlah kekafiran tapi ia adalah ciri atas kekafiran.” Jadi ia adalah ‘aqidah Jahm dan para pengikutnya.

Oleh sebab itu Al Imam Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al Muhalla 13/498 pada konteks bahasan beliau tentang hinaan terhadap Allah ta’ala: “Dan adapun hinaan terhadap Allah ta’ala maka tidak ada di atas bumi ini seorang muslim pun yang menyelisihi bahwa ia adalah kekafiran dengan sendirinya (kufrun mujarrad), namun Jahmiyyah dan Asy’ariyyah yang mana keduanya adalah dua kelompok yang tidak dianggap, mereka menegaskan bahwa hinaan terhadap Allah ta’ala dan menyatakan kekafiran, bukanlah kekafiran, sebagian mereka berkata: akan tetapi ia adalah dalil bahwa dia mengakui kekafiran, bukan bahwa dia itu kafir secara meyakinkan dengan sebab hinaan terhadap Allah ta’ala.”

Saya berkata: “Amati hal ini dan keselarasannya dengan ucapan para du’at yang telah kami sebutkan tadi itu…”

Ibnu Hazm berkata: “Dan dasar mereka dalam hal ini adalah dasar yang buruk yang keluar dari ijma Ahlul Islam, yaitu bahwa mereka mengatakan: Al Iman itu adalah tashdiq dengan hati saja meskipun ia menyatakan kekafiran.”[1]

Berkata juga di halaman 499: Kemudian dikatakan kepada mereka, dikarenakan mencela Allah ta’ala itu bukan kekafiran menurut kalian, maka dari mana kalian mendapatkan alasan bahwa ia adalah dalil terhadap kekafiran?

Bila mereka berkata: “Karena orang yang mengucapkannya divonis dengan vonis kafir.”

Maka dikatakan kepada mereka: Dia divonis itu dengan ucapannya itu bukan dengan apa yang ada di dalam hatinya yang tidak diketahui kecuali oleh Allah ta’ala. Maka dia itu hanya divonis kafir dengan sebab ucapannya saja, jadi ucapannyalah yang merupakan kekafiran. Sungguh Allah ta’ala telah mengabarkan tentang orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka suatu yang tidak ada di hati mereka, terus mereka menjadi kafir dengan sebab itu, seperti kaum Yahudi yang mengetahui kebenaran nubuwwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mereka mengetahui anak-anak mereka, namun demikian mereka itu kafir terhadap Allah ta’ala secara pasti lagi meyakinkan karena mereka melontarkan kalimat kekafiran.

Dalam tempat yang sama beliau rahimahullah berkata: “Dan mereka (Ahlus Sunnah) tidak berselisih bahwa di dalamnya -yaitu Kitabullah- ada penamaan kekafiran dan pemastian vonis kafir terhadap orang yang melontarkan ungkapan-ungkapan yang sudah dikenal, seperti firman-Nya ta’ala: “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu Al Masih Ibnu Maryam.” [QS. Al Maidah: 17], dan firman-Nya ta’ala: “Dan sungguh mereka telah mengucapkan kalimat kekafiran itu dan mereka telah kafir setelah keislaman mereka.” [QS. At Taubah: 74], maka terbukti secara sah bahwa kekafiran di sini adalah ucapan.”

Dan beliau berkata dalam Al Fashl[2]: “Dan adapun Asy’ariyyah maka mereka berkata: Sesungguhnya hinaan orang yang menampakkan keIslaman terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dengan bentuk celaan yang paling busuk dan pernyataan pendustaan terhadap keduanya dengan lisan tanpa alasan taqiyyah dan tidak pula hikayah[3], serta pengakuan bahwa dia itu menganut hal itu, maka satupun dari hal itu bukanlah kekafiran. Kemudian mereka khawatir akan bantahan seluruh ahlul Islam terhadap mereka, maka mereka segera mengatakan: “Namun itu adalah dalil bahwa di dalam hatinya ada kekafiran.”

Bahkan beliau dalam tempat yang sama menukil dari Asy’ariyyah bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Iblis tidak menjadi kafir dengan sebab ia durhaka kepada Allah ta’ala dengan bentuk tidak sujud kepada Adam dan tidak pula dengan sebab ucapannya (saya lebih baik darinya), namun ia kafir hanya dengan pengingkaran terhadap Allah Ta’ala yang ada di dalam hatinya.

Kemudian beliau berkata: “Dan ini menyelisihi Al Qur’an, dan menerka-nerka yang tidak diketahui kebenarannya kecuali orang yang diberitahu oleh Iblis itu sendiri, namun si Syaikh (Iblis) itu tidak tsiqah (tidak bisa dipercaya) dalam apa yang dia kabarkan…”

Dan berkata halaman 76: “Dan telah kami berikan bantahan habis terhadap penganut pendapat yang terlaknat ini dalam kitab kami yang berjudul Al Yaqin Fin Naqdli ‘Alal Mulhidin Al Muhtajjin ‘An Iblis Al La’iin wa Saa-iril Kaafirin.

Saya berkata: Dan saya belum menemukan kitab ini, namun beliau mengatakan dalam kitabnya Al Fashlu Fil Milal wal Ahwa wan Nahl dalam bantahannya terhadap Al Jahmiyyah dan Al Murji-ah suatu yang mencukupkan dan memuaskan orang yang dahaga. (lihat Al Juz ke tiga hal 239 dan seterusnya…)[4]

Dan di antara hal itu adalah ucapannya: “Dan adapun ucapan mereka bahwa hinaan terhadap Allah ta’ala bukanlah kekafiran dan begitu juga hinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia adalah dalil bahwa di dalam hatinya ada kekafiran,” beliau berkata: Maka ia adalah sekedar klaim, karena Allah ta’ala berfirman: “Mereka bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah kafir sesudah Islam.” [QS. At Taubah: 74]

Allah -ta’ala- menegaskan bahwa di antara ucapan itu ada yang merupakan kekafiran.

Dan Dia ta’ala berfirman:

إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

“Apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” [QS. An Nisaa: 140]

Allah ta’ala menegaskan bahwa di antara pembicaraan akan ayat-ayat Allah ta’ala ada yang merupakan kekafiran dengan sendirinya yang bisa didengar.

Dia ta’ala berfirman:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (٦٥) لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (٦٦)

“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu sekalian berolok-olok?” jangan kamu mencari-cari alasan, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu, maka Kami akan mengazab golongan yang lain.” [QS. At Taubah: 66]

Dia -ta’ala- menegaskan bahwa memperolok-olok Allah ta’ala atau ayat-ayat-Nya atau seorang dari rasul-rasul-Nya adalah kekafiran yang mengeluarkan dari Al Iman, dan Allah -ta’ala- tidak mengatakan dalam hal itu bahwa Aku telah mengetahui bahwa di dalam hatinya ada kekafiran, akan tetapi Dia Memvonis kafir mereka dengan perolok-olokan itu sendiri.

Dan siapa mengklaim selain ini maka dia telah menisbatkan ucapan kepada Allah apa yang tidak pernah Dia katakan serta berdusta atas nama Allah ta’ala.” Selesai 3/244.

Beliau berkata juga dalam Al Fashl 3/253 dalam bantahannya terhadap Ahlul Irja: (Seandainya seseorang berkata: Sesungguhnya Muhammad -‘alaihishshalatu wassalam- adalah kafir dan semua yang mengikutinya adalah kafir, dan terus dia diam sedangkan dia bermaksud bahwa mereka itu kafir terhadap thaghut, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Siapa yang kafir terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak mungkin putus.” [Al Baqarah: 256], tentu tidak seorangpun dari Ahlul Islam berselisih bahwa orang yang mengatakan hal ini divonis kafir.

Begitu juga seandainya ia berkata bahwa Iblis, Fir’aun dan Abu Jahal adalah mu’minin, tentu seorangpun dari Ahlul Islam tidak menyelisihi bahwa orang yang mengatakannya divonis kafir, padahal dia memaksudkan bahwa itu mu’minin terhadap ajaran kafir…” Selesai.

Saya berkata: “Maka absahlah bahwa kita mengkafirkannya dengan sekedar ucapan dan perkataan kafirnya, dan kita tidak memiliki urusan dengan rahasia keyakinannya. Begitulah setiap orang menampakkan ucapan atau amalan kafir, maka kami mengkafirkannya dengan sekedar ucapan atau perbuatan itu, karena keyakinan yang disimpannya tidak diketahui, kecuali oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya aku tidak diutus untuk mengorek isi hati manusia”[5] sehingga orang yang mengklaim selain ini adalah orang yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, sedangkan orang yang mengklaim mengetahui yang ghaib tidak ragu adalah dusta.

Dan Allah ta’ala bersaksi bahwa Ahlul Kitab mengetahui al haq dan menyembunyikannya, mereka mengetahui bahwa Allah ta’ala haq dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Rasulullah adalah haq, dan mereka menampakkan dengan lisan mereka hal yang menyelisihinya, sedangkan Allahta’ala sama sekali tidak menamakan mereka kafir, kecuali dengan apa yang nampak dari mereka dengan lisan dan perbuatan mereka.”[6]

Dan Allah ta’ala berfirman:

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (١٣)وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

“Maka tatkala mu’jizat-mu’jizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: “Ini adalah sihir yang nyata.” Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” [QS. An Naml:13-14]

Ibnu Hazm berkata: “Dan ini juga nash yang jelas yang tidak mengundang pentakwilan bahwa orang-orang kafir mengingkari dengan lisan mereka ayat-ayat (mu’jizat-mu’jizat) yang dibawa oleh para nabi -‘alaihimushshalatu wassalam- dan mereka meyakini dengan hati mereka bahwa ia adalah haq.”[7]

Dan beliau rahimahullah berkata: Sebagian mereka berhujjah pada tempat ini dengan ucapan Al Akhthal An Nashraniy semoga Allah melaknatnya, di mana dia berkata:

Sesungguhnya ucapan itu adanya di hati dan hanyasanya
Dijadikan lisan sebagai dalil atas apa yang ada di hati[8]

Beliau berkata: Maka jawaban kami terhadap ihtijaj ini adalah kami mengatakan: Terlaknat, terlaknat orang yang melontarkan bait syair ini, dan terlaknat pula orang yang menjadikan ucapan Nashraniy ini sebagai hujjah dalam dienullah ‘Azza wa Jalla. Dan ini bukan tergolong bab lughah (bahasa) yang mana bisa dijadikan hujjah di dalamnya dengan ucapan orang Arab meskipun dia kafir, akan tetapi ia adalah masalah ‘aqliyyah, di mana akal dan hissiy (hal yang kongkrit bisa diraba indra) mendustakan baik ini, dan masalah syar’iyyah, di mana Allah ‘Azza wa Jalla lebih benar dari orang Nashrani terlaknat ini di mana Dia ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

“Mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada di hati mereka.” [QS. Ali Imran: 167]

Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa di antara manusia ada orang yang mengatakan dengan lisannya suatu yang tidak ada di dalam hatinya, berbeda dengan ucapan Al Akhthal la’anahullah.

Adapun kami akan membenarkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mendustakan Al Akhthal, dan semoga Allah melaknat orang yang menjadikan Al Akhthal sebagai hujjah dalam dien-Nya, dan cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” Selesai3/261.

Dan berkata 3/262: “Dan Dia ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ (٢٥) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الأمْرِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ (٢٦) فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ (٢٧) ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah: “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan. Sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridloan-NYA, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” [QS. Muhammad: 25-28][9]

Beliau berkata: Allah ta’ala menjadikan mereka murtad kafir setelah mereka mengetahui al haq dan setelah jelas petunjuk bagi mereka dengan sebab ucapan mereka terhadap orang-orang kafir apa yang telah mereka ucapkan saja. Dan Dia ta’ala mengabarkan kepada kita bahwa Dia mengetahui rahasia mereka, serta Dia ta’ala tidak mengatakan bahwa itu adalah juhud atau tashdiq, bahkan telah sah bahwa dalam rahasia mereka itu ada tashdiq, karena petunjuk telah jelas di hadapan mereka, sedangkan orang yang telah jelas baginya sesuatu maka sama sekali tidak mungkin mengingkarinya dengan hati.

Dan beliau rahimahullah berkata tentang firman-Nya ta’ala:

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ

“Mereka bersumpah dengan (Nama) Allah bahwa mereka tidak mengatakan (ucapan yang menyakitimu), padahal sungguh mereka telah mengatakan kalimat kekafiran dan mereka telah kafir setelah mereka Islam.” [QS. At Taubah: 74] : “Maka sahlah dengan nash Al Qur’an bahwa orang yang mengucapkan kalimat kekafiran tanpa taqiyyah, maka dia telah kafir setelah keislamannya, kemudian sah pula bahwa orang yang meyakini keimanan dan dia mengucapkan kekafiran, maka dia itu di sisi Allah ta’ala adalah kafir dengan nash Al Qur’an.” Hal 339 dari kitab Ad Durrah Fiima Yajibu I’tiqadu.

Dan Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” [QS. Al Hujurat: 2]

Ini adalah nash yang jelas dan khithab terhadap kaum mu’minin bahwa iman mereka gugur secara keseluruhan dan amalan mereka hapus dengan sebab meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada pengingkaran sama sekali dari mereka, dan seandainya ada pengingkaran dari mereka tentulah mereka menyadarinya, sedangkan Allah ta’ala mengabarkan kita bahwa hal itu terjadi sedang mereka tidak menyadari. Sehingga sahlah bahwa di antara amalan badan ada yang merupakan kekafiran yang menggugurkan keimanan pelakunya secara total.

Di antara amal badan ada yang bukan kekafiran, namun itu harus sesuai dengan apa yang Allah tetapkan dalam itu semua dan tidak boleh ditambahi.

Saya berkata: “Dan ini adalah al haq yang tidak ada keraguan di dalamnya.”

Dan tidak seperti apa yang dikatakan oleh kaum Khawarij yang sesat bahwa seluruh dosa dari amalan badan adalah kekafiran yang membatalkan keislaman.

Dan tidak juga seperti apa yang dikatakan Murji-atul ‘Ashr yang sesat bahwa seluruh amalan dan dosa di pelakunya tidak dikafirkan kecuali dengan i’tiqad.

Namun al haq adalah bahwa di antara sekedar amalan ada yang membatalkan dan merobohkan al iman sebagaimana telah nampak dan jelas di hadapan anda. Dan di antaranya ada yang menafikan kamalul iman saja, sehingga ia menguranginya dan tidak menggugurkannya kecuali dengan istihlal atau juhud.

Rincian ini telah disia-siakan dan ditinggalkan Khawarij dengan sebab sikap ifrath mereka dan Murji-ah dengan sebab tafrith mereka. Sedang keduanya adalah dua kelompok yang sesat, bahkan ada ungkapan yang dinisbatkan kepada Ibrahim An-Nakhai: Sungguh fitnah Murji-ah lebih ditakutkan terhadap umat ini dari fitnah Azariqah.”[10]

Dan ucapannya: “Khawarij lebih saya udzur daripada Murjiah.”[11]

Dan Al Auza’iy berkata: Yahya dan Qatadah mengatakan: “Tidak ada satupun dari ahwa yang lebih mereka takutkan atas umat ini daripada Irja.”[12]

Dan tidak ragu lagi bahwa Irja adalah reaksi balik atas fitnah khuruj (penentangan) terhadap pemerintah yang aniaya dan akibat yang ditimbulkan karenanya berupa pemenjaraan, pembunuhan dan berbagai penindasan, karena Irja itu awal muncul dan penyebarannya adalah setelah kekalahan Abdurrahman Ibnul Asy’ats,[13] akan tetapi ia adalah reaksi balik yang tidak terkekang dengan batasan-batasan syai’at, seperti keadaan Murji-atul ‘Ashr dalam kerancuan-kerancuan mereka yang pada umumnya adalah reaksi balik atas sikap ghulatul mukafffirah di zaman ini, bahkan atas ahlul haq yang mengkafirkan orang yang telah dikafirkan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dalil, persis seperti sikap mudahanah dan kecenderungan mereka terhadap para pemerintah thaghut, maka ia pada umumnya adalah reaksi balik terhadap penganiayaan para thaghut terhadap ahluttauhid, pemenjaraan dan penyiksaan mereka.

Sedangkan pencari al haq tidak terkendali oleh reaksi balik ini, akan tetapi ia menyandarkan patokannya terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sifat Ath Thaifah Adh Dhahirah Al Manshurah: “Mereka tidak dirugikan oleh orang yang menyelisihi mereka dan orang yang menggembosi mereka.” Sehingga ia tidak terganggu atau menyimpang atau terpengaruh oleh ahlul ifrath maupun ahlut tafrith, namum ia tetap tegak di atas jalan yang putih yang diwariskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsampai ia berjumpa dengan Allah.

Dan setelah kami uraikan kepada Anda mayoritas ucapan Al Imam Ibnu Hazm dalam masalah ini, maka kami akan beranjak kepada ucapan Syaikh kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah seraya meminta fatwanya dalam masalah ini. Dan tidak ada maksud kami di balik itu selain memutus kerongkongan kaum sesat Murji-atul ‘Ashr yang sering mengutip sebagian ucapan beliau rahimahullah, karena hujjah itu bukanlah ucapan Ibnu Hazm atau ucapan Ibnu Taimiyyah atau yang lainnya, akan tetapi hujjah adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan siapa orangnya yang tidak merasa puas dengan firman Allah dan sabda Rasul-Nya, maka tidak perlu kami menyibukkan diri dengan orang-orang itu. Allah ta’ala berfirman:

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

“Dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman sesudah (firman) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.” [QS. Al Jaatsiyah: 6]

Siapa yang tidak merasa cukup dengan dua hal itu
Maka semoga Allah tidak melindungi dia dari keburukan kejadian zaman
Siapa yang tidak merasa puas dengan keduanya
Maka Tuhan Pemilik Arsy Melemparnya dengan pengurangan dan keterhalangan
Sesungguhnya pembicaraan ini adalah bersama orang-orang besar
Dan bukan dengan orang-orang hina lagi rendah

Beliau rahimahullah berkata dalam kitabnya Ash Sharimul Maslul: “Sesungguhnya menghina Allah atau menghina Rasul-Nya adalah kekafiran lahir dan batin, baik orang yang menghina itu meyakini bahwa itu diharamkan ataupun ia menghalalkannya atau lalai dari keyakinannya. Ini adalah madzhab para fuqaha dan seluruh Ahlus Sunnah yang mengatakan bahwa Al Iman itu ucapan, dan amalan…” sampai ucapannya: “Dan begitu juga ulama madzhab kami dan yang lainnya mengatakan: Siapa yang menghina Allah maka dia kafir baik bercanda maupun main-main…” Beliau berkata: “Dan inilah yang benar lagi dipastikan… Dan berkata Al Qadli Abu Ya’la dalam Al Mu’tamad: Siapa yang menghina Allah atau menghina Rasul-Nya maka dia itu kafir baik ia menganggap halal hinaannya ataupun tidak menghalalkannya, terus bila ia berkata: saya tidak menghalalkan itu.” Maka ucapan itu tidak diterima darinya….”

Dan berkata juga (515): “Dan wajib diketahui bahwa pendapat yang menyatakan bahwa kekafiran orang yang menghina (Allah dan Rasul-Nya) itu padahal yang sebenarnya hanyalah karena dia menganggap halal hinaannya itu, adalah kesalahan keji dan kekeliruan yang besar….”

Dan sebab keterjerumusan orang yang terjerumus dalam kekeliruan ini hanyalah dengan sebab apa yang mereka cerna dari ucapan sekelompok muta’akhkhiril mutakallimin, yaitu Jahmiyyah wanita yang menganut madzhab Jahmiyyah pertama yang mengatakan bahasa Al Iman itu sekedar tashdiq yang ada di dalam hati ….”

Dan berkata hal (517): “Sesungguhnya hikayat yang disebutkan dari fuqaha bahwa bila ia menganggap halal, maka ia kafir dan bila tidak maka tidak kafir, adalah tidak memiliki dasar, namun hanyalah dinukil dari Al Qadli dari kitab sebagian mutakallimin.”[14]

Dan berkata hal (516): “Sesungguhnya meyakini halalnya hinaan (terhadap Allah atau Rasul-Nya) adalah kekafiran baik itu disertai adanya hinaan atau tidak.”[15]

Dan berkata pula: “Sesungguhnya bila yang menjadikan kafir itu adalah i’tiqad kehalalan, maka dalam hinaan tersebut tidak ada yang menunjukkan bahwa orang yang menghina itu menganggap halal, sehingga wajib untuk tidak dikafirkan apalagi bila ia berkata saya meyakini bahwa ini haram[16] dan saya mengatakan hanya karena dongkol, kedunguan, iseng, atau main-main sebagaimana yang dikatakan oleh kaum munafiqun:

إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ

“Kami hanyalah senda gurau dan main-main.” [QS. At Taubah: 65]

Bila dikatakan: “Mereka itu tidak menjadi kafir,” maka ini menyelisihi nash Al Qur’an.

Dan bila dikatakan: “Mereka itu menjadi kafir.” Maka itu takfir tanpa sebab yang memestikan (takfir) bila ia tidak menjadikan hinaan itu sebagai hal yang mengkafirkan.

Dan ucapan orang yang mengatakan: “Saya tidak membenarkannya dalam hal ini”, adalah tidak lurus, karena takfir tidak boleh dengan hal yang muhtamal. Dan bila ia telah berkata: (Saya meyakini bahwa itu dosa dan maksiat dan saya melakukannya), maka bagaimana ia kafir bila hal itu bukan kekafiran?

Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Jangan kamu mencari alasan, sungguh kamu telah kafir setelah kamu beriman” [At Taubah: 66], dan Dia tidak mengatakan: “kalian telah dusta dalam ucapan kalian: “Kami hanyalah sendau gurau dan main-main” Allah tidak mendustakan mereka dalam alasan ini sebagaimana Dia mendustakan mereka dalam sekalian apa yang mereka tampakkan berupa alasan yang memestikan bersihnya mereka dari kekafiran seandainya mereka itu benar.

Bahkan dia menjelaskan bahwa mereka kafir setelah beriman dengan sebab canda dan main-main ini, dan bila telah jelas bahwa madzhab salaful ummah dan kalangan khalaf yang mengikuti mereka bahwa ucapan ini adalah kekafiran dengan sendirinya, baik si pelaku menghalalkannya ataupun tidak, maka dalil atas hal itu adalah semua yang telah kami ketengahkan.” Selesai dari Ash Sharimul Maslul hal 517.

Dan beliau rahimahullah berkata dalam tafsir firman-Nya ta’ala:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran”. [QS. An Nahl: 106]

Beliau berkata: “Seandainya mengucapkan kekafiran itu bukan kekafiran kecuali bila ia melapangkan dada dengannya, maka tentulah orang yang dipaksa tidak akan dikecualikan. Namun tatkala Allah mengecualikan yang dipaksa maka diketahuilah bahwa siapa orang yang mengucapkan kekafiran seraya tidak dipaksa maka ia telah melapangkan dadanya dengan kekafiran itu, dan ia adalah hukum dan bukan batasan buat hukum tersebut.”

Perhatikanlah ucapan terakhir “…ia adalah hukum dan bukan batasan buat hukum tersebut.”Karena ia sangat penting. Maka orang yang melontarkan kalimat kekafiran tanpa udzur syar’i maka ia itu kafir yang telah melapangkan dadanya dengan kekafiran itu, dan tidak dikatakan kita mesti melihat sampai mengetahui apa yang ada di dadanya, apakah dia meyakini atau menghalalkan atau tidak?

Dan begitu juga orang yang menghina Allah, Rasul-Nya dan Dien-Nya adalah melapangkan dadanya terhadap kekafiran dengan hinaannya ini walaupun dia tidak memberitahukan hal itu kepada kita. Begitu juga orang yang sujud kepada berhala dengan kemauan sendiri maka dia telah melapangkan dadanya terhadap kekafiran dengan perbuatannya ini, dan tidak boleh dikatakan kita menunggu dulu apakah dia menghalalkan atau tidak, karena perbuatan-perbuatan ini adalah perbuatan-perbuatan yang mengkafirkan dengan sendirinya. Dan begitu juga orang yang membuat hukum/Undang-Undang di samping Allah (musyarri’) atau orang yang mengikuti dan yang mencari penentu hukum (hakam), musyarri’, dan ma’bud selain Allah, maka dia itu telah melapangkan dadanya untuk kekafiran dengan sebab menjadikan dirinya sebagai thaghut yang diibadati dalam hal itu atau dengan sebab dia mengikuti thaghut, komitmen terhadapnya dan tahakum kepada aturannya, dan kita tidak boleh mengatakan kita melihat dulu apakah dia menghalalkan pembuatan hukum/UU/UUD bersama Allah dan meyakini atau tidak meyakininya.

Dan begitu juga orang yang memperolok-olok sesuatu dari ajaran Allah maka dia kafir dengan sebab perolok-olokannya itu sendiri lagi dia melapangkan dadanya untuk kekafiran meskipun dia tidak memberitahukan hal itu kepada kita, sehingga kita mengkafirkan dia dengan sebab sekedar istihza-nya itu dan kita tidak tawaqquf sampai menanyakan kepada dia tentang keyakinannya dan istihlal-nya, bahkan andaikata dia menegaskan bahwa dia tidak meyakini dan tidak istihlal maka tetap saja kami kafirkan dia dan kami katakan kepadanya sebagaimana yang Allah ta’ala katakan:

لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Jangan kalian cari-cari alasan, sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” [QS. At Taubah: 66].

Itu adalah vonis kafir sebagaimana yang dituturkan Syaikhul Islam dan bukan qaid (batasan) bagi kekafiran sebagaimana yang dijadikan oleh Murji-atul ‘Ashr. Dan seandainya hal yang ghaib lagi tersembunyi ini dianggap sebagai qaid bagi kekafiran dalam ’amal mukaffirah (perbuatan-perbuatan yang mengkafirkan) tentulah Dienullah ini akan menjadi bahan mainan di tangan setiap zindiq.

Karena tidak ada seorang kafir pun ataupun musyrik melainkan dia mengklaim bahwa ia menyembunyikan ihsan, taufiq, iman, dan sikap lurus.[17]

Dan Allah Sang Pembuat Hukum Yang Maha Bijaksana hanyalah mengkaitkan hukum-hukum syari’at -yang di antaranya takfier- di dunia ini dengan alasan-alasan dan sebab-sebab yang nyata lagi mudlabith, dan Dia tidak mengaitkan dengan sebab-sebab yang samar atau ghaib atau bathin, karena ini semua mengiringi hukum-hukum akhirat.

Kemudian kufur takdzib dan juhud itu tidak lain adalah salah satu macam dari macam-macam kekafiran dan ia bukan satu-satunya macam sebagaimana yang ma’lum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata juga dalam Al Fatawa 7/560: “Orang-orang yang berpaham dengan paham Jahmdan Ash Shalihiy telah menegaskan bahwa menghina Allah dan Rasul-Nya, dan melontarkan tatslits (trinitas) serta setiap kalimat dari kalimat-kalimat kekafiran bukanlah kekafiran secara hukum bathin (di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala) namun ia adalah dalil dalam hukum dhahir terhadap kekafiran, dan bersama ini bisa saja orang yang menghina lagi mencela (Allah dan Rasul-Nya) ini dalam hukum bathin adalah orang yang mengenal Allah lagi bertauhid dan beriman kepada-Nya.

Dan bila ditegakkan atas mereka hujjah dengan bentuk nash atau ijma’ bahwa orang ini kafir lahir bathin.

Maka mereka berkata: Ini menuntut bahwa hal itu mengharuskan adanya takdzib yang tersembunyi. Maka dikatakan kepada mereka: Sesungguhnya kami mengetahui bahwa menghina Allah dan Rasul-Nya secara sukarela tanpa paksaan, bahkan siapa yang melontarkan kalimat-kalimat kekafiran secara sukarela lagi tidak dipaksa, serta siapa yang memperolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya maka dia itu kafir lahir bathin. Dan bahwa orang yang mengatakan: Bahwa orang seperti ini bisa saja secara bathin adalah mu’min kepada Allah dan ia hanya kafir secara dhahir, maka ia telah mengatakan hal yang telah ma’lum kerusakannya secara pasti dari dien ini. Allah telah menyebutkan kalimat-kalimat kuffar dalam Al Qur’an dan Dia vonis kafir mereka dan menyatakan keberkahan mereka akan ancaman-Nya dengan sebab itu.

Seperti firman-Nya:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan: “Bahwa Allah itu salah satu dari yang tiga.” [QS. Al Maidah: 73]

Juga firman-Nya:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan: “Bahwa Allah itu adalah Al Masih putera Maryam.” [QS. Al Maidah: 72]

Dan yang serupa itu.” Selesai secara ikhtisar.

Dan berkata juga tentang ayat Surat An Nahl itu sendiri: “Dan sudah ma’lum bahwa Dia tidak memaksudkan dengan kekafiran di sini sekedar keyakinan hati, karena hal itu tidak bisa dipaksakan kepada seseorang, sedangkan Dia telah mengecualikan orang yang dipaksa, dan Dia tidak memaksudkan orang yang mengucapkan dan meyakini, karena Dia telah mengecualikan orang yang dipaksa, sedangkan orang tidak bisa dipaksa untuk meyakini dan mengucapkan, namun hanya bisa dipaksa untuk mengucapkan saja, sehingga diketahuilah bahwa Dia memaksudkan orang yang melontarkan kalimat kekafiran, maka atasnya murka dari Allah dan baginya ‘adzab yang pedih, serta bahwa dia kafir dengan hal itu kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tentram dengan keimanan, namun orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran dari kalangan orang-orang yang dipaksa maka dia kafir juga.

Sehingga orang yang mengucapkan kekafiran itu menjadi kafir kecuali orang yang dipaksa, yaitu (dia dipaksa) terus mengucapkan dengan lisannya kalimat kekafiran sedangkan hatinya tentram dengan keimanan.

Dan Allah ta’ala berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olokan:

لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Janganlah kalian mencari-cari alasan, sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman.” [QS. At Taubah: 66]. Dia menjelaskan bahwa mereka itu kafir dengan sebab ucapan itu padahal mereka itu tidak meyakini kebenarannya, dan ini adalah bab yang luas.” Dari Ash Sharimul Maslul: hal 524.

Dan beliau rahimahullah telah menegaskan dalam Ash Sharimul Maslul juga hal: 222 bahwa meyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendoakan pada saat beliau masih hidup agar mati seandainya muncul dari orang muslim, tentulah dia menjadi murtad dengannya.

Dan hal 453 beliau menyebutkan bahwa membunuh Nabi adalah tergolong macam kekafiran terbesar meskipun si pembunuh mengklaim bahwa ia tidak membunuhnya sambil menghalalkan, dan beliau menyebutkan dari Ishaq Ibnu Rahwiyah bahwa ini ijma’ dari kaum muslimin.

Dan berkata juga dalam kitab yang sama hal (178): Dan secara umum siapa yang mengucapkan atau melakukan suatu yang merupakan kekafiran, maka ia kafir dengan hal itu, meskipun tidak bermaksud untuk menjadi kafir, karena tidak bermaksud kafir seorang pun kecuali apa yang Allah kehendaki.”

Dan tentunya dikecualikan dari ithlaq ini -sebagaimana yang telah kami nukilkan di hadapan anda sebelumnya dari ucapan Ibnu Hazm- orang yang melontarkan kekafiran atau mengucapkannya dalam rangka taqiyyah atau hikayat atau hal lain yang dikecualikan syariat.

Bila Murji-atul ‘Ashr berceloteh dan berkata: Tunggu, apa pengecualian ini dan apa yang menjadikan orang yang mengucapkan kekafiran di sini keluar dari apa yang telah kalian tetapkan sebelumnya, yaitu bahwa orang yang mengucapkan kekafiran dan yang melakukannya adalah kafir walaupun dia tidak meyakini.

Maka kami katakan: Ia dikecualikan dalam tempat-tempat ini dengan nash firman Allah ta’ala, sedangkan Allah ‘Azza Wa Jalla Dialah yang menamai dan mensifati apa yang Dia kehendaki dengan apa yang Dia kehendaki. Dzat yang melabelkan nama kafir terhadap orang yang melakukan perbuatan-perbuatan atau yang mengucapkan ucapan-ucapan mukaffirah adalah Dia Subhanahu Wa Ta’ala sendiri yang mengecualikan kondisi-kondisi ini. Dan perhatikanlah bantahan manjaniqul maghrib (bomber kawasan barat) Ibnu Hazm terhadap para syaikh dan para pendahulu kalian dari kalangan Murji-ah terdahulu seputar syubhat ini. Beliau rahimahullah berkata dalam Al Fashl 3/250: Sungguh telah kami katakan bahwa penamaan itu bukan hak kita namun ia haq Allah ta’ala…

Tatkala Dia ta’alamemerintahkan kita untuk membaca Al Qur’an, sedangkan di dalamnya Dia ta’ala telah menghikayatkan kepada kita ucapan orang-orang kafir dan Dia telah mengabarkan kita bahwa Dia tidak ridla akan kekafiran bagi hamba-hamba-Nya, maka keluarlah dengan hal itu si pembaca Al Qur’an dari kekafiran kepada ridla Allah ‘Azza Wa Jalla dan keimanan dengan penghikayatan dia terhadap apa yang Allah ta’ala tegaskan.

Dan tatkala Allah ta’ala memerintahkan kita untuk menunaikan kesaksian dengan al haq, di mana Dia berfirman:

إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“kecuali orang yang bersaksi dengan al haq sedang mereka mengatahuinya.” [QS. Az Zukhruf: 86], maka saksi yang mengabarkan tentang orang kafir akan kekafirannya keluar dari menjadi kafir dengannya kepada ridla Allah ‘Azza Wa Jalla dan al iman.

Dan tatkala Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا

“kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tentram dengan keimanan (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran.” [QS. An Nahl: 106] maka orang yang tsabit paksaannya keluar dengan sebab penampakan kekafirannya dari status kufur kepada rukhshah Allah ta’ala dan keteguhan di atas al iman.

Dan tinggal tersisalah orang yang menampakkan kekafiran bukan dalam rangka membaca, saksi, penghikayatan, dan ikrar, atas kemestian hukum kafir baginya dengan ijma umat, yaitu penetapan vonis kafir baginya, dan dengan vonis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hal itu serta dengan nash Al Qur’an bahwa orang yang mengucapkan kalimat kekafiran adalah kafir.

Dan firman-Nya ta’ala: “akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekufuran.” Tidaklah seperti apa yang mereka duga berupa meyakini kekafiran saja, namun setiap orang yang melontarkan ucapan yang mana orangnya divonis kafir oleh Ahlul Islam bukan dalam rangka membaca, saksi, penghikayatan, dan paksaan, maka dia itu telah melapangkan dadanya untuk kekafiran yang diharamkan atas Ahlul Islam dan atas Ahlul Kufri untuk mengucapkannya, baik mereka meyakininya atau tidak…” Selesai.

Dan tidak ada salahnya bila saya mengutarakan di sini untuk tambahan ucapan-ucapan lain yang tersebar milik para imam lainnya selain Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyyah seputar materi ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Kitabush Shalah hal 53. Syu’abul Iman itu ada dua macam: qauliyyah (ucapan) dan fi’liyyah (perbuatan), dan begitu juga syu’abul kufri ada dua macam: qauliyyah dan fi’liyyah.

Di antara syu’abul iman al qauliyyah adalah syu’bah (satu cabang) yang kelenyapannya mengharuskan kelenyapan al iman, dan begitu juga syu’abul iman al fi’liyyah adalah sesuatu yang kelenyapannya mengharuskan kelenyapan al iman.

Begitu juga syu’abul kufri al qauliyyah, sebagaimana orang menjadi kafir dengan sebab mendatangkan kalimat kekafiran tanpa dipaksa, yaitu satu cabang dari syu’abul kufri, maka begitu juga dia menjadi kafir dengan sebab melakukan satu syu’bah dari syu’abul kufri seperti sujud kepada berhala dan menghinakan mushhaf.” Selesai.

Dan darinya engkau mengetahui bahwa al kufru al ‘amaliy tidak semuanya ashghar menurut ahlul ‘ilmi, akan tetapi di antaranya ada yang merupakan kekafiran yang mengeluarkan dari millah, berbeda dengan apa yang selalu didengung-dengungkan oleh Murji-ah masa kini.

Ibnul Wazir berkata dalam kitabnya Litsaarul Haq ‘Alal Khalqi Fi Raddil Khilaafaat Ilal Madzhabil Haq hal: 395: Sungguh telah berlebihan Syaikh Abu Hasyim dan ashhab-nya juga yang lainnya di mana mereka mengatakan: Ayat ini -maksudnya “akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran” [QS. An Nahl: 106]- menunjukkan bahwa orang yang tidak meyakini kekafiran dan ia mengucapkan kekafiran yang nyata, menghina para rasul seluruhnya, berlepas diri dari mereka semua serta mendustakan mereka tanpa ada ikrah sedang dia mengetahui bahwa itu kekafiran, maka sesungguhnya ia itu tidak kafir. Dan ini adalah zhahir pilihan Az Zamakh Syariy dalam Al Kasysyaf, di mana dia menafsirkan melapangkan dada dengan enaknya jiwa dengan kekafiran dan dengan meyakininya secara bersama-sama. Dan ini semua tertolak karena dua hal:

Pertama: ucapan mereka ini menyelisihi firman-Nya ta’ala: “Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah satu dari yang tiga.” [QS. Al Maidah: 73]. Allah memvonis kafir orang yang mengatakan hal itu tanpa syarat, lalu yang dipaksa keluar dengan nash dan ijma’ dan tinggallah yang lainnya. Seandainya seorang mukallaf mengatakan tanpa dipaksa ucapan Nashara yang dinashkan Al Qur’an bahwa itu kekafiran dan ia tidak meyakini kebenaran apa yang dia ucapkan dan mereka tidak mengkafirkannya, padahal sesungguhnya dia itu -karena sebab pengetahuannya akan keburukan ucapannya- wajib menjadi lebih besar dosanya daripada sebagian keadaan, berdasarkan firman-Nya ta’ala: “Sedang mereka mengetahuinya.” [QS. Az Zukhruf: 86], maka mereka justru membalikannya, di mana mereka menjadikan orang yang jahil akan dosanya sebagai orang kafir, sedangkan orang alim yang mengingkari dengan lisannya padahal dia mengetahui (dijadikan) sebagai orang muslim !!

Ke dua: Bahwa hujjah mereka itu berkisar antara dua dilalah zhanniyyah yang telah diperselisihkan di dalamnya dalam furu’ zhanniyyah, salah satunya: Pengkiyasan orang yang sengaja terhadap yang dipaksa dan pemastian bahwa ikrah itu adalah sifat yang mulgha seperti keberadaan orang yang menyatakan trinitas[18] adalah Nashrani, dan ini adalah rendah sekali, serta seperti ini tidak diterima dalam furu’ zhanniyyah. Ke duanya: keumuman mafhum “akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran.” [QS. An Nahl: 106] sesungguhnya tidak ada hujjah bagi mereka dalam mantuq-nya secara pasti lagi disepakati, dan dalam mafhum ada perselisihan yang masyhur apa ia hujjah zhanniyyah, disertai kesepakatan bahwa ia bukan hujjah qath’iyyah, kemudian dalam itsbat keumuman baginya ada khilaf, sedangkan hujjah mereka di sini adalah dari keumumannya juga dan ia lebih lemah darinya.” Selesai.

Ibnu Qudamah Al Maqdisy rahimahullah berkata dalam Al Mughniy 8/151: “Mempelajari dan mengajarkan sihir adalah haram, kami tidak mengetahui di dalamnya perselisihan di antara ahlul ilmi.”

Ashhab kami berkata: “Dan tukang sihir kafir dengan sebab mempelajari dan mempraktekannya, baik dia meyakini keharamannya ataupun kebolehannya”. Selesai.

Dalam Al Hawi lil Fatawa: “Siapa yang kafir dengan lisan seraya dengan kemauan sendiri sedang hatinya tetap tenang dengan keimanan, maka dia itu kafir dan bukan mu’min di sisi Allah.” Dan ini selaras dengan ucapan Syaikhul Islam dalam ayat ikrah di surat An Nahl.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Kasyfusy Syubuhat hal 22 setelah beliau mengingkari terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa kekafiran itu tidak terjadi kecuali dengan takdzib, atau ingkar atau juhud: “Kalau begitu apa artinya bab yang dituturkan para fuqaha di setiap madzhab? (bab hukum orang murtad), yaitu orang muslim yang menjadi kafir setelah keislamannya, terus mereka menuturkan macam-macamnya yang banyak, masing-masing darinya membuat (orangnya/pelakunya) kafir dan darah serta hartanya halal, bahkan mereka itu menyebutkan banyak hal sepele menurut orang yang melakukannya, seperti ucapan yang dia lontarkan dengan lisannya tanpa hatinya, atau ucapan yang dia lontarkan dalam rangka bercanda atau bermain-main.

Dan dikatakan juga: Orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ

“Mereka bersumpah dengan (Nama) Allah (bahwa) mereka tidak mengucapkan (ungkapan yang menyakitimu), dan sungguh mereka telah mengucapkan kalimat kekafiran serta mereka kafir setelah keimanan mereka.” [QS. At Taubah: 74], apa kamu tidak mendengar Allah mengkafirkan mereka dengan suatu kalimat, padahal mereka itu berada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berjihad bersamanya, shalat bersamanya, mereka zakat, haji, dan bertauhid?

Begitu juga orang-orang yang telah Allah firmankan tentang mereka:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (٦٥) لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian meperolok-olok? Janganlah kalian mencari-cari alasan, sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” [QS. At Taubah: 65-66]. Orang-orang yang Allah tegaskan bahwa mereka telah kafir setelah mereka beriman, mereka itu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Tabuk, mereka melontarkan ungkapan yang mereka sebutkan bahwa mereka mengucapkannya dalam bentuk canda. Selesai.

Dan beliau berkata pula dalam Kasyfusy Syubuhat hal 29: Engkau harus memahami dua ayat dari Kitabullah, pertama: Apa yang lalu dari firman-Nya, “Jangan kalian mencari-cari alasan, sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman.” [QS. At Taubah: 66]. Bila engkau telah mengetahui benar bahwa sebagian sahabat yang memerangi Romawi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kafir dengan sebab kalimat yang mereka lontarkan dalam bentuk canda dan main-main, maka jelaslah bagimu bahwa orang yang mengucapkan kekafiran atau melakukannya karena takut akan kekurangan harta atau kedudukan, atau karena mudarah (berlembut-lembut) kepada seseorang adalah lebih dahsyat daripada orang yang mengucapkan kalimat itu dalam rangka bercanda dengannya.

Dan ayat ke dua adalah firman-Nya ta’ala: “Siapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (maka dia mendapatkan kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dengan iman.” [QS. An Nahl: 106], Allah tidak mengudzur dari kalangan mereka, kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tetap tenang dengan al iman. Adapun selain ini maka ia telah kafir setelah ia beriman, baik ia melakukannya karena takut atau mudarah atau karena berat dengan tanah airnya atau keluarganya atau bangsanya atau hartanya, atau melakukannya dalam bentuk canda atau motif-motif lainnya kecuali yang dipaksa, sedangkan ayat ini menunjukkan atas hal ini dari dua sisi:

Pertama: Firman-Nya “kecuali orang yang dipaksa” [QS. An Nahl: 106] tidak dikecualikan kecuali yang dipaksa, sedang sudah ma’lum bahwa orang tidak bisa dipaksa kecuali terhadap perbuatan atau ucapan, dan adapun keyakinan hati maka tidak seorangpun bisa dipaksa terhadapnya.

Ke dua: Firman-Nya ta’ala “yang demikian itu dikarenakan mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat.” [QS. An Nahl:107]. Allah menyatakan dengan tegas bahwa kekafiran dan ‘adzab ini bukan karena sebab keyakinan atau khayalan, atau karena sebab benci kepada dien atau karena cinta terhadap kekafiran, akan tetapi: sebabnya adalah bahwa ia memiliki kepentingan dunia dalam hal itu, terus dia mengutamakannya daripada dien.” Selesai.

Cucu beliau Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah berkata dalam kitabnya At Taudlih ‘An Tauhidil Khallaq Fi Jawabi Ahlil Iraq hal (42): Orang murtad secara syar’iy adalah orang yang kafir setelah dia Islam baik berupa ucapan atau keyakinan atau perbuatan.”

Dan berkata hal 101: Dan sebagaimana kekafiran itu dengan sebab keyakinan maka ia terjadi juga dengan sebab ucapan, seperti menghina Allah atau Rasul-Nya atau dien-Nya atau istihza’ dengannya, Allah ta’ala berfirman:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (٦٥)لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah: Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu memperolok-olok? Jangan cari-cari alasan, karena kalian telah kafir setelah kalian beriman.” [QS. At Taubah: 65-66]

Dan juga dengan perbuatan, seperti melempar mushhaf ke kotoran, sujud kepada selain Allah dan yang lainnya.

Dan dua hal ini meskipun ada keyakinan di dalamnya, namun ucapan dan perbuatan dimenangkan terhadapnya karena nampaknya kedua hal itu.” Selesai.

Beliau berkata juga dalam kitabnya Ad Dala-il: “Dan para ulama telah ijma’ bahwa orang yang mengucapkan kekafiran seraya bercanda bahwa ia kafir.” Selesai.

Syaikh Hamd Ibnu Ali Ibnu ‘Atiq rahimahullah berkata sebagai bantahan terhadap orang yang mengklaim bahwa orang yang mengucapkan kekafiran itu tidak menjadi kafir kecuali bila dia meyakininya dan melapangkan dadanya untuknya serta jiwanya tentram dengannya: “Semoga Allah membinasakanmu hai hewan, bila kamu mengklaim bahwa tidak menjadi kafir kecuali orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka apakah ada orang yang mampu memaksa seseorang untuk merubah keyakinannya dan melapangkan dadanya untuk kekafiran -beliau mengisyaratkan kepada ayat paksaan di surat An Nahl- dan akan kami jelaskan Insya Allah bahwa ayat itu menunjukkan kepada kekafiran orang yang mengucapkan kekafiran dan melakukannya meskipun dia membencinya di dalam batin selama ia tidak dipaksa. Dan adapun bila dadanya lapang dengan kekafiran dan tentram jiwanya dengannya maka itu kafir secara muthlaq baik dipaksa maupun tidak.”[19]

Dan beliau pun berkata dalam rangka menggugurkan pendapat itu juga: “Dan pendapat ini bertentangan dengan sharihul ma’qul dan shahihul manqul serta itu menapaki jalan selain jalan kaum mu’minin, karena Kitabullah, sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma-ul ummah telah sepakat bahwa orang yang mengucapkan kekafiran dan tidak dikecualikan dari hal itu kecuali orang yang dipaksa. Dan adapun orang yang melapangkan dadanya dengan kekafiran yaitu ia membukanya, melapangkannya, jiwa tentram dengannya serta ridla maka ini kafir lagi musuh Allah dan Rasul-Nya, meskipun tidak mengucapkan dengan lisan dan tidak pula melakukannya dengan anggota badannya.” Selesai hal 59

Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Ad Durar As Saniyyah juz Mukhtasharat Ar Rudud hal 214: “Dan juga para fuqaha telah memutuskan dalam hukum murtad bahwa orang bisa kafir dengan ucapan atau perbuatan yang dia lakukan meskipun dia bersyahadat laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah, dia shalat, shaum, dan bersedekah, sehingga ia menjadi murtad yang mana apa yang dia ucapkan atau lakukan itu menghapuskan amalan, terutama bila ia mati di atas hal itu, sehingga hapusnya amalan dia itu diijmakan.” Selesai.

Al Qanna’iy berkata dalam Haqiqatul Iman hal (90): “Kemudian mereka itu telah berkata -tanpa dalil yang mu’tabar- bahwa orang muslim bagaimanapun perbuatan yang dia lakukan maka ia tidak kafir dengan hal itu selama keyakinan dia masih benar di dalamnya. Dan mereka memberlakukan hal itu dalam semua amalan, dan mereka tidak membedakan antara perbuatan-perbuatan kekafiran dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Mereka menjadikan rusaknya keyakinan sebagai syarat dalam kekafiran orang yang melakukan semua perbuatan dari ‘amal jawarih apapun bentuknya. Sedangkan yang benar bahwa masalah ini memiliki rincian, di mana kita wajib membedakan antara perbuatan-perbuatan yang mana pelakunya dikafirkan dengan perbuatan-perbuatan maksiat pada umumnya. Sesungguhnya melakukan suatu amalan dari amalan-amalan kekafiran yang nyata yang mengeluarkan dari millah -dalam kondisi kepastian tidak adanya penghalang apapun- adalah berarti secara pasti merupakan kerusakan keyakinan hati tanpa ragu lagi, termasuk seandainya ia tidak menyatakan akan hal itu atau juga termasuk andai ia tidak bermaksud akan hal itu. Dan inilah tuntunan apa yang nampak dari penganggapan syari’at akan talazum antara zhahir dengan bathin …” Selesai.

Ingatlah bahwa perbedaan antara ini dengan ucapan Murji-ah, bahwa ia di sini adalah hukum, sedangkan Murji-ah maka mereka menjadikannya sebagai batasan dan syarat untuk kekafiran.

Dan sesungguhnya disebutkan di sini (hal) rusaknya keyakinan, dan para ulama memasukkan dalam hal itu amalan hati di samping dengan tashdiq. Adapun Murji-ah maka mereka membatasinya pada kerusakan tashdiq yang mana ia adalah juhud atau takdzib.

Ini adalah pintu yang luas sekali, seandainya kami menelusurinya tentulah pembahasan kita akan panjang dan lembaran-lembaran seperti ini akan sempit. Ia adalah hal yang ma’ruf lagi masyhur dalam kitab-kitab Ahlul ‘Ilmi, dan saya tidak mengira hal ini samar terhadap para pemula, namun ta’ashshub dan hawa nafsulah yang membuat buta dan tuli.

Kalangan madzhab Hanafi -padahal mereka itu menyelisihi jumhur dalam masalah amal dan dalam status masuknya dalam penamaan iman- namun demikian mereka mengkafirkan dalam banyak hal yang diucapkan oleh seseorang dengan lisannya atau melakukannya dengan anggota badannya, seperti memasang ikat pinggang Nashara di pinggangnya atau menghadiahkan sebutir telur kepada orang Majusi di hari raya mereka (Nairuz) atau orang yang menggunakan firman Allah sebagai pengganti ucapannya, seperti orang yang mengatakan saat sesak padat manusia “lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.” [QS. Al Kahfi: 99], atau berseteru dalam hal harta terus dikatakan kepadanya: “laa haula wa laa quwwata illaa billaah” kemudian dia malah berkata: “Apa yang bisa saya lakukan dengan la haula, (la haula) tak bisa memberi roti untuk dimakan, atau mengatakan: senampan dendeng lebih baik dari thalabul ‘ilmi, atau mengatakan: “labbaik”, sebagai jawaban terhadap orang yang mengatakan: “Hai kafir atau hai Nashraniy” atau berkata kepada anaknya: “Hai anak Majusi atau hai anak Yahudi,” atau mengatakan: Kaum Nashara itu lebih baik dari kaum muslimin,” atau berkata: “pemerintah zaman kita ini adil,” dimana dia menamakan kezhaliman yang diharamkan sebagai keadilan, atau berkata: “Seandainya si fulan masuk surga, maka saya tidak mau masuk…” dan contoh lainnya yang banyak dalam kitab-kitab mereka, karena merekalah yang paling banyak berbicara dalam bab ini, dan banyak dari ucapan mereka ini telah dikumpulkan oleh Muhammad Ibnu Ismail Ar Rasyid Al Hanafi dalam kitabnya Al Badr Ar Rasyid Fil Alfadh Al Mukaffirat silakan rujuk bila engkau mau.

Seperti hal itu pula banyak pada kalangan Asy Syafi’iyyah: Taqiyuddin Abu Bakar Ibnu Muhammad Al Husainiy Asy Syafi’iy dalam kitabnya Kifayatul Akhyar Fi Halli Ghayatil Ikhtishar[20] berkata dalam definisi Riddah: “Ia adalah kembali dari Islam kepada kekafiran dan memutus keislaman, dan itu bisa terjadi terkadang dengan ucapan dan terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan keyakinan. Dan masing-masing dari tiga macam ini di dalamnya terdapat banyak masalah yang hampir tidak terhitung…”

Kemudian beliau menuturkan hal yang banyak dari perbuatan dan ucapan yang mengkafirkan seperti apa yang kami paparkan dari ucapan para ulama madzhab Hanafi. Di antaranya ucapan 2/431: “Dan seandainya ia melakukan perbuatan yang diijmakan oleh kaum muslimin bahwa itu tidak muncul kecuali dari orang kafir, meskipun dia itu mengaku Islam bersama perbuatannya itu, seperti sujud kepada salib atau berjalan menuju gereja bersama ahli gereja dengan busana mereka berupa sabuk (tertentu) dan yang lainnya maka ia itu kafir.” Selesai.

Ibnu Hajar Al Haitamy Asy Syafi’i dalam hal mukaffirat telah menyusun satu kitab yang beliau namakan “Al I’lam Biqawathi’il Islam” di dalamnya beliau sebutkan dari bab ini hal yang banyak dari madzhab Asy Syafi’i dan beliau menuturkan ucapan-ucapan Al Hanafiyyah, Al Malikiyyah, dan Al Hanabilah.

Begitu juga Al Malikiyyah, Al Qadli ‘Iyadl telah menuturkan di akhir kitabnya Asy Syifa Bita’rif Huquqil Mushthafa sejumlah dari lafazh-lafazh mukaffirah dan beliau tegaskan akan penukilan ijma terhadapnya.

Begitu juga halnya dengan Al Hanabilah, sungguh mereka dalam bab-bab hukum murtad telah menuturkan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang mana pelakunya divonis kafir. Dan dalam hal itu silakan rujuk Al Iqna dan syarahnya dalam bahasan Nawaqidlul Islam dan hukum orang murtad, di mana mereka menyebutkan lebih dari 400 pembatal keIslaman… Banyak di antaranya tergolong bab ini.

* * *

[1] Yaitu selama Al Iman menurut mereka adalah keyakinan dengan hati saja dan tidak ada campur tangan amalan di dalamnya, maka ia tidak menjadi batal menurut mereka kecuali dengan keyakinan, sedangkan Murji-ah masa kita ini meskipun di antara mereka ada yang menyelisihi Murji-ah dahulu dalam penamaaan Al Iman dan definisinya sebagai definisi saja, namun mereka itu sejalan dengan para pendahulunya itu, mereka mengikutinya dan mereka mempromosikannya.

[2] Al Fashl Fil Milal wal Ahwa Wan Nihal cetakan Darul Jail juz 5 hal 75.

[3] Yaitu penukilan dan pemberitaan dalam rangka penghikayatan, maka sesungguhnya hal itu dikecualikan tanpa perselisihan.

[4] Dan sudah ma’lum pujian Syaikhul Islam dalam Al Fatawa 4/18-19 dan ucapan sesungguhnya terhadap Ibnu Hazm dalam Masailul Iman dan bantahannya terhadap Murji-ah.

[5]Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Maghaziy (40, 60)

[6] Al Fashl 3/259

[7] Al Fashl 3/243

[8]Berkata dalam Al Imta’ wal Mu-anasah: (Bait ini dipalsukan terhadap Al Akhthal, padahal ia tidak ada di dalam Diwannya, namun ia sebenarnya milik Dlamdlam, dan lafazhnya: Sesungguhnya bayan itu ada di dalam hati…

[9]Surat Muhammad ayat 25 – 28, dan silahkan rujuk ucapan Al ‘Allamah Asy Syinqithy dalam Tahkimul Qawanin seputar ayat-ayat ini dalam tafsirnya yang bagus Adlwaul Bayan, karena ia sangat penting.

[10] Kitabussunnah karya Abdullah Ibnu Ahmad 1/313.

[11] Rujukan yang sama 1/337. Bersenanglah Murji-atul ‘Ashr dan para syaikhnya bahwa mereka lebih sesat daripada Khawarij, itulah cap yang selalu mereka tuduhkan terhadap Ahlul Haq secara dusta dan fitnah.

[12]Rujukan yang sama 1/318

[13]Adz Dzahabi menuturkan dari Qatadah, berkata: “Irja ini hanyalah muncul setelah kekalahan Ibnul Asy’ats” 5/275 Siyar ‘Alamin Nubala. Ibnul Asy’ats ini khuruj terhadap pemerintah saat itu dengan disertai sejumlah ahlul ilmi, dan terjadi antara mereka dengan Al Hajjaj banyak peperangan yang pada banyak tempat Al Hajjaj kalah sampai akhirnya datang perang Jamajim tahun 82 atau 83 H di Irak, yang mana kemenangan diraih Al Hajjaj, dan setelah kekalahan ini muncullah Irja.

[14]Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menyebutkan dalam Al Fatawa 7/403 bahwa sebagian fuqaha serabutan antara pendapat salaf dengan pendapat Jahmiyyah dalam masalah ini dengan sebab bahwa mereka mengambil pembahasan masalh-masalah ini dari kitab-kitab ahli kalam yang membela pendapat Jahmiyyah dalam masailul iman, sehingga engkau bisa melihat mereka terkadang membela pendapat para imam, dan terkadang menuturkan apa yang menyelarasi pendapat Jahm. Dan beliau menyebutkan bahwa Al Qadli Iyadl tatkala mengetahui hal ini dari ucapan para sahabatnya maka beliau mengingkarinya dan membela pendapat Malik dan Ahlus Sunnah, dan sungguh ia telah baik dalam hal itu.

[15] Saya berkata: Dan ini sejalan dengan bantahan muridnya Ibnul Qayyim rahimahullah terhadap orang yang mentakwil firman-Nya ta’ala: “Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang kafir” bahwa perbuatannya itu adalah juhud…, dimana beliau berkata dalam Madarijus Salikin: “Dan ini adalah pentakwilan yang marjuh (lemah), karena juhud itu sendiri adalah kekafiran baik ia memutuskan ataupun tidak.”

[16]Dan hal serupa ucapan Muhammad Ibnu Ibrahim Alu Asy Syaikh dalam fatawanya 6/189: orang yang menerapkan qanun (UU/UUD) itu seandainya berkata: “Saya meyakini bahwa ini batil” maka ini tidak ada pengaruhnya, bahkan justru ia adalah pengguguran akan syari’at, sebagaimana seandainya seorang berkata: “Saya menyembah berhala dan saya yakin bahwa ia adalah batil.”

[17] Syaikhul Islam berkata dalam Al Fatawa (7/561): Dan juga telah datang sejumlah Yahudi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata: Kami bersaksi bahwa engkau Rasul.” Dan mereka tidak menjadi muslim dengan sebab itu, karena mereka mengatakan hal itu dalam konteks pemberitahuan tentang apa yang ada dalam benak mereka, yaitu kami mengetahui dan memastikan bahwa kamu Rasulullah, beliau berkata: “Kenapa kalian tidak mengikuti saya?” mereka berkata: Kami takut dari orang-orang Yahudi.”

Maka diketahuilah bahwa sekedar mengetahui dan pemberitahuan tentangnya bukanlah keimanan, sehingga menyatakan keimanan dengan konteks insyaa yang mengandung iltizam dan inqiyad.

Dan ini tergolong ini, sekedar ikhbar tentang keyakinan mereka akan al iman dan keinginan berbuat ihsan dan lurus serta bahwa mereka di dadanya meyakini bahwa syariat Allah lebih utama dari UU mereka, dan mereka meyakini wajibnya tahkimusysyari’ah, semua ini yang digunakan Murjiatul ‘Ashr untuk menambali kekafiran para thaghut itu, adalah tidak berguna bagi mereka sama sekali, selama mereka tidak komitmen dengan hal itu dan tidak tunduk terhadapnya, bahkan justru mereka itu mencampakkannya dan menggugurkannya, serta mereka mengamalkan UU/UUD mereka, mendahulukannya atas syariat Allah, membuat hukum di samping hukum Allah yang tidak Dia izinkan, mereka memerangi wali-wali Allah yang bertauhid yang berlepas diri dari aturan-aturan mereka, dan mereka loyalitas, membela serta memuliakan musuh-musuh Allah yang komitmen lagi mengikuti serta melindungi undang-undang mereka.

[18] Yaitu orang yang mengatakan trinitas dengan dipaksa.

[19] Hal (48) dari Risalah (Ad Difa’ ‘An Ahlis Sunnah Wal Atba’) dari Majmu’ah Rasail Hamid Ibnu ‘Atiq – terbitan Dar Al Hidayah – Riyadl.

[20] terbitan Darul Fikr, Aman.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: