Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Membongkar Syubhat Murji-ah Gaya Baru #5

Membongkar Syubhat Murji-ah Gaya Baru #5


Syubhat:

Bahwa Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam Dan Sebagian Sahabatnya Telah Mengharamkan Beberapa Hal Atas Diri Mereka Sendiri

Sebelum kami meninggalkan tempat ini ke syubhat yang lain dari syubhat-syubhat mereka, kami ingin mengingatkan akhut-tauhid kepada dua makna tahrim selain makna tasyri’iy yang lawannya adalah tahrim, salah satunya ‘urfi (makna adat yang biasa dipahami masyarakat) sedang yang lainnya adalah lughawiy (bahasa).

Sungguh Murji-atul ‘Ashri telah mempermainkan keduanya dan berupaya mengaburkan keduanya di hadapanmu dengan tasyri’ dan tabdil yang dilakoni dan dianut oleh para thaghut mereka.[1]

‘Urfi: adalah kata “tahrim” yang dipergunakan manusia dan mereka memaksudkan dengannya al yamin (sumpah), maka tidak boleh dikatakan tentang orang yang menzhihar istrinya dan berkata: “Kamu haram atasku seperti punggung ibuku” umpamanya, bahwa ia itu musyarri atau telah mengganti hukum Allah, namun itu menurut para fuqaha adalah sumpah yang dilontarkan seorang laki-laki dan dia pastikan atas dirinya untuk menjauhi istrinya dan tidak menggaulinya, karena marah atau sanksi atau yang lainnya, dan Allah ta’ala telah mencelanya serta menetapkan padanya kaffarat yang paling berat, yaitu memerdekakan budak, kemudian siapa yang tidak mendapatkannya maka ia shaum dua bulan berturut-turut sebelum keduanya berhubungan badan, kemudian siapa yang tidak mampu maka ia memberi makan enam puluh orang miskin, maka ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tahrim di sini adalah yamin (sumpah), karena tasyri’ itu tidak ada kaffarat yamin baginya wahai orang-orang yang berakal.[2]

Kemudian di sana ada perbedaan yang membedakan macam tahrim ini dari tahrim tasyri’iy yang berlawanan dengan tahlil dan ibahah (pembolehan) dan yang dilakukan kaum musyrikun menandingi Allah, yaitu apa yang dituturkan Asy Syathibiy dalam Al I’tisham bahwa orang yang mengharamkan dengan yamin, dia tidak memestikan dengan tahrim ini kecuali dirinya sendiri dan tahrim ini tidak merembet kepada orang lain. Sebagaimana keberadaan dalam tahrim kufriy yang disepakati oleh kaum musyrikin, mereka bersekongkol, bermufakat dan mengharuskan dengannya orang yang ada dalam kekuasaan mereka. Kemudian yamin tahrimiyyah (sumpah pengharaman) ini hanya berkaitan dengan pelarangan/pencegahan saja dan tidak memiliki hubungan dengan tahlil dan ibahah (pembolehan), berbeda dengan tasyri’ yang mencakup tahlil dan ibahah sebagaimana ia mencakup tahrim, dan ini hal yang jelas lagi nyata.

Termasuk macam ini -yaitu tahrim dengan (makna, ed) yamin- adalah ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam Shahihul Bukhari bahwa beliau berkata kepada sebagian istrinya: “Saya telah minum madu di sisi Zainab maka saya tidak akan mengulanginya dan saya telah bersumpah” ucapannnya shallallahu ‘alaihi wa sallam “maka saya tidak akan mengulanginya” adalah makna yang dikenal manusia berupa (tahrim) dalam makna yamin pada ucapan mereka: “Ini haram atas diri saya” atau ucapan: “haram atas saya ini dan itu bila saya tidak melakukan itu”. Dalam ucapan macam ini dan dalam ucapan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “saya tidak akan mengulanginya” tidaklah terkandung tasyri’y, tabdil, dan taqnin (pengguliran UU/UUD), juga tidak ada kompromi, atau pemufakatan atau kesepakatan sebagaimana yang dituturkan oleh musuh-musuh Allah dalam ilzamat mereka, karena tentang ucapan ini turunlah firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ

“Hai Nabi kenapa kamu mengharamkan apa yang Allah telah halalkan bagimu…” [QS. At Tahrim: 1] hingga firman-Nya:

قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ

“Sungguh Allah telah mensyari’atkan bagi kamu untuk menghalalkan sumpah-sumpah kamu (dengan kaffarah),” [QS. At Tahrim: 2]. Dan bila penghalalan hal seperti ini adalah kaffarah, maka diketahui bahwa tahrimnya itu adalah yamin bukan tasyri’ dan tabdil.

Dan setelah ini kita tidak usah menghiraukan talbisat Murji-atul ‘Ashri dan ilzamat mereka yang kufur lagi rusak saat engkau mendebat mereka tentang kekafiran para thaghut mereka yang membuat hukum, di mana mereka berdalih dengan semacam ayat-ayat ini dan berkata: Rasul telah mengharamkan, maka apakah beliau kafir???

َبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا

“Sungguh besar sekali ucapan yang keluar dari mulut-mulut mereka, mereka tidak mengucapkan kecuali kebohongan“ [QS. Al Kahfi: 5] dan engkau telah mengetahui dari uraian yang lalu bahwa ini bukan tasyri’, serta tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tasyri’ karena beliau bukanlah musyarri’ (pembuat hukum) dan tidaklah halal hal itu bagi beliau…. tidak lain ia adalah wahyu yang diwahyukan, dan beliau tidak lain adalah pemberi peringatan dan yang menyampaikan dari Dzat Pembuat Hukum Yang Esa.

Dan maknanya yang lain: adalah (tahrim) yang datang dan dimaksudkan dengannya maknanya yang lughawi (bersifat bahasa) murni, bukan isthilahi syar’iy tasyri’iy, dan ia adalah imtina’ mujarrad (menolak yang bersifat sekedar), di antara model ini adalah ucapan Imruul Qais:

Ia berjaulah untuk mengalahkanku, maka aku berkata kepadanya: “Hentikanlah”
Sesungguhnya aku adalah orang orang yang haram atasmu mengalahkanku.”

(haram) yaitu tercegah, dan ucapan yang lain:

Haram atas kedua mataku mencicipi kesenangan
dan bergembira sampai aku menemuimu wahai Hindun

(Haram di sini) yaitu terlarang atas dua mataku…. Ini meskipun tidak dimaksudkan yamin dengannya, namun tergabung dengan makna ‘urfi yang pertama.

Dan Allah ta’ala berfirman:

وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ

“Dan Kami menghalanginya dari menyusuimu sebelumnya” [QS. Al Qashash: 12]

Yang dimaksud di sini bukanlah tahrim tasyri’iy, namun al man’u (menghalangi) saja. Al Qurthubiy berkata: “Yaitu Kami halangi/cegah dia dari menyusui” dan berkata: “Dan ini adalah tahrim man’i bukan tahrim syar’iy.” Selesai.

Dan serupa dengannya firman Allah ta’ala:

فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً

“Sesungguhnya ia diharamkan atas mereka empat puluh tahun.” [QS. Al Maidah: 26] Al Qurthubiy berkata: Makna diharamkan: yaitu bahwa mereka dihalangi dari memasukinya” dan berkata juga di tempat ini juga: Maka ia adalah tahrim man’i bukan tahrim syar’iy.” Selesai

Maka perhatikanlah makna ini dan ketahuilah bahwa ia selain makna tasyri’ yang ditetapkan oleh para thaghut hari ini sebagai bagian dari wewenang, hak, dan kekuasaan mereka dan para pengikut serta parlemen mereka, terus mereka berkompromi, bermufakat dan bersepakat atasnya, kemudian bila datang kepadamu sebagian wali-wali mereka dari kalangan Murji-atul ‘Ashri yang membela-bela mereka dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan hal-hal baik yang telah Allah halalkan bagi kamu.” [Al Maidah: 87] …dan mereka berkata: “Mereka telah membuat hukum namun demikian Allah mengkhithabi mereka dengan nida (panggilan iman)…!

Maka katakan kepada mereka: Yang dimaksud dengan ini hai musuh diri kalian sendiri… adalah tahrim dengan makna lughawi murninya bukan tasyri’iy yang dipraktekkan oleh para thaghut kalian, dan yang makna ia adalah sejawat tahlil dan saudaranya.

Yang dimaksud adalah mencegah diri dari sebagian thayyibat yang telah Allah halalkan kepada hamba-hamba-Nya, dalam rangka nadzar, atau upaya hidup susah atau kependetaan, dengan dalil bahwa ayat itu turun dengan sebab jama’ah dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menjauhkan diri dari menikmati sebagian thayyibat sebagai bentuk zuhud di dunia dan hidup kasar, mereka itu tidak membuat hukum, tidak pula mengganti dan tidak juga menggulirkan undang-undang. Atau dibawa kepada makna yang lalu yaitu yamin sebagaimana disebutkan para mufassirin dalam ayat ini, dan ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa orang-orang yang ingin menjauhkan diri dari sebagian thayyibat itu mereka sungguh telah bersumpah atas hal itu, kemudian tatkala turun ayat ini maka mereka berkata: Apa yang harus kami perbuat dengan sumpah kamu? Maka Allah ta’alalangsung menurunkan setelahnya:

لا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah).” [QS. Al Maidah: 89]

Dan dengannya Asy Syafi’iy rahimahullah berdalil atas ucapannya bahwa sumpah dan janji tidak berkaitan dengan tahrimul halal dan bahwa tahrimul halal adalah laghwun (sia-sia/tidak dianggap), sehingga menurut beliau dan Malik rahimahullah tidak ada kaffarat atas orang yang mengatakan hal seperti itu. Sama saja baik yang benar itu makna ini atau itu maka keduanya tetap bukan termasuk tasyri’ sama sekali.

Bisa saja tergolong nadzar, seperti orang yang mengharamkan atas dirinya duduk dan berbicara sementara waktu dengan cara dia nadzar shaum sambil berjemur di terik matahari sambil diam tidak berbicara, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dan menyuruh dia sempurnakan shaumnya. Dan tergolong hal ini Firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala tentang Nabiyullah Ya’qub:

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum taurat diturunkan.” [QS. Ali Imran: 93]

Sungguh telah ada dalam tafsirnya bahwa beliau sakit terus nadzar atas dirinya bila Allah telah menyembuhakannya ia tidak akan makan makanan paling enak menurutnya, maka ia pun mengharamkan daging unta atas dirinya, dan itu sebelum Taurat diturunkan, kemudian beliaupun tidak dilarang dari hal seperti itu, dan dahulu mereka bila mengharamkan sesuatu atas diri mereka dengan nadzar atau dengan sumpah, maka tidak boleh bagi mereka melakukan sesuatu itu, kemudian Allah me-nasakh (menghapus) hal itu dan kaffarah sumpahpun turun. Jadi ini juga termasuk jenis sumpah atau nadzar dan bukan tergolong tasyri’ sama sekali, oleh sebab itu Asy Syathibiy menukil dalam Al I’tisham ucapan Al Qadli Ismail: “Dan hal-hal ini dan yang serupa dengannya termasuk syari’at yang ada nasikh dan mansukh di dalamnya, sedangkan nash penghapus (nasikh) adalah firman-Nya ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu haramkan thayyibat yang telah Allah halalkan bagi kamu.” [QS. Al Maidah: 87], kemudian tatkala ada larangan maka tidak boleh bagi seseorang untuk mengatakan: “Makanan ini haram bagi saya,” dan ucapan serupa itu, kemudian bila seseorang mengatakan sesuatu dari hal itu maka ucapannya itu bathil, dan bila ia sumpah atas hal itu dengan nama Allah maka baginya melakukan suatu yang lebih baik dan dia meng-kaffarati sumpahnya.” Selesai.

Maka janganlah Murji-atul ‘Ashri mentalbis kamu dengan ucapan mereka: “Ini Nabiyyullah telah membuat hukum dari dirinya dan tanpa ada perintah dari Allah, maka apakah dia kafir??? Sungguh ini bukan tahrim tasyri’, dan seandainya seperti itu tentulah penghapusnya tidak akan ayat ini yang tentang sumpah atau nadzar atau penghindaran murni dalam rangka zuhud dan taqasysyuf (menghindari yang enak-enak), kemudian dari uraian yang lalu engkau telah mengetahui bahwa pengesaan Allah dalam tasyri’ (pembuatan hukum) dan tidak menyekutukan seorangpun bersamanya dalam hal itu adalah tergolong ushuluttauhid yang disepakati oleh semua ajaran (para Nabi/Rasul), sedangkan pencorengan terhadap inti (al ashlu) ini adalah tergolong mukaffirat yang dengannya Allah kafirkan Yahudi dan Nashara sebagaimana yang telah engkau ketahui. Dan ashlu (inti) seperti ini sama sekali tidak masuk dalam bab-bab mansukh sebagaimana ia ma’lum dalam al ushul, sehingga sahlah bahwa hal seperti ini bukan tasyri’ dari Nabiyullah Ya’qub secara yaqin.

Serupa itu apa yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim tentang sekelompok orang yang bertanya kepada para istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang ibadah beliau… terus sebagian mereka berkata: “Saya akan shaum tiap hari (dahri) dan tidak akan berbuka” yang lain berkata: “Saya akan jauhi wanita dan tidak akan nikah selamanya” hingga akhir ucapan mereka. Meskipun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingkari mereka atas hal itu dan berkata: “Siapa yang benci akan tuntunanku maka ia bukan termasuk (golongan)ku.”…namun sesungguhnya semua ini tidak ada kaitannya dengan tasyri’ atau tabdil sebagaimana yang telah engkau ketahui. Mereka itu tidak membuat hukum dan tidak seorangpun di antara mereka mengklaim bahwa ia memiliki wewenang pembuatan hukum (sulthah tasyri’iyyah) sebagaimana ia adalah realita para thaghut masa kini, maka janganlah terpukau dengan syubhat-syubhat yang rendah seperti ini, karena sesungguhnya ini semuanya ada di suatu lembah dan realita para thaghut masa kini ada di lembah lain.

Ia berjalan menuju timur sedang aku berjalan menuju barat.
Sungguh jauh antara ke timur dengan yang ke arah barat

Sesungguhnya masalahnya hari ini adalah seperti apa yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Madjid Asy Syadziliy dalam kitabnya Haddul Islam dan Haqiqatul Iman hal: 376 tentang realita kita setelah beliau menuturkan teks-teks undang-undang buatan (qawanin wadl’iyyah) dan hakikat seputar UUD-nya serta teks-teksnya.

Beliau berkata: Dan sekarang… realita ini telah melampaui batasan tasyri’ muthlaq sampai pengakuan yang tegas terhadap wewenang tasyri’ bagi selain Allah. Di mana nushush syari’at tidak mendapat keabsahan sebagai undang-undang -menurut mereka- seandainya mereka ingin mengamalkannya kecuali bila muncul dari pihak yang memiliki wewenang penetapan hukum/UU -di tengah mereka- sebagai bentuk ungkapan dari keinginannya. Ini sajalah yang memberikan nushush syari’at sifat keabsahan qanun, dan status nushush syari’at dalam hal itu adalah seperti status yang lainnya berupa ‘urf (adat) atau undang-undang Prancis atau pendapat fuqaha al qanun (para pakar UU) atau apa yang telah diberlakukan oleh mahkamah-mahkamah.

Adapun munculnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka itu tidak memberikan sifat keabsahan qanun, karena Allah -bagi mereka- bukanlah sumber kedaulatan dan tasyri’ (pembuatan hukum) bukanlah termasuk hak Allah.” Selesai.

Dan berkata hal 367: Realita ini telah melampaui tingkatan maksiat atau bid’ah bahkan telah melampaui tasyri’ muthlaq sampai ke belakang hal itu, bagaimana terkabur masalah maksiat dengan masalah tasyri’ padahal di antara keduanya ada perbedaan yang sangat jauh?

“Dan bila saja bid’ah terbedakan dari maksiat dengan banyak sekali pembedaan yang jelas, dan itu tidak lain karena penetapannya atas penyerupaan tasyri’, maka apa tidak jelas perbedaan antara maksiat dengan tasyri’ muthlaq?” Selesai.

Dan mungkin bagi kami untuk mengatakan dalam khulashah tempat ini bahwa kata “tahrim” adalah kata musytarak seperti lafazh-lafazh lainnya mengandung banyak makna, sebagian maknanya lughawiy atau ‘urfiy dan sebagian lainnya syar’iy, seperti lafazh iman sesungguhnya ia menurut bahasa adalah tashdiq, namun Allah ta’ala memindahkannya kepada penamaan dan makna syar’iy selain makna lughawiy, di mana Dia menambahkannya ucapan lisan dan amal hati dan jawarih. Begitu juga kufur, sebagaimana al kufru itu memiliki makna lughawiy dan asalnya adalah penutupan sesuatu, sehingga masuk di dalamnya kufranul ‘asyir (mengingkari jasa suami), kufur nikmat dan yang lainnya berupa amalan-amalan yang mana Allah melabelkan padanya kata kufur namun tidak dimaksudkan dengannya kufur yang mengeluarkan dari millah, dan di antarnya -sebagaimana yang engkau ketahui- adalah suatu yang mengeluarkan dari millah.

Dan begitu juga keadaannya dengan kata tahrim ini, sesungguhnya ia digunakan untuk banyak makna -meskipun ia adalah tercela yang mana Allah ta’ala telah melarangnya- namun ia tidak sampai kepada syirik dan kufur, seperti imtina’ dari sebagian thayyibat yang telah Allah ta’ala halalkan, baik dengan sumpah atau dalam rangka zuhud, taqasysyuf (hidup susah) dan rahbaniyyah,[3] dan begitu juga digunakan untuk makna tasyri’ yang mana bila dipalingkan kepada selain Allahta’ala maka ia adalah syirik dan kufur akbar yang mengeluarkan dari millatul Islam.

Allah ‘Azza wa Jalla menamakan apa yang Dia kehendaki dengan apa yang Dia kehendaki, sedangkan kita tidak memiliki hak sedikitpun di dalamnya kecuali kita mengatakan: “Kami mendengar dan kami ta’at, ampunan-Mu (yang kami harapkan) Ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam Al Fashl 3/229: “Sesungguhnya kita dalam syari’at ini tidak menamakan suatu nama kecuali bila Allahta’ala memerintahkan kita untuk menamainya atau Allah membolehkan bagi kita dengan nash untuk menamainya, karena kita tidak mengetahui maksud Allah ‘Azza wa Jalla dari kita kecuali dengan wahyu yang datang dari sisi-Nya, oleh sebab itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman seraya mengingkari orang yang menamakan dalam syari’at ini sesuatu tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla:

إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (٢٣) أَمْ لِلإنْسَانِ مَا تَمَنَّى

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)-Nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya” [QS. An Najm: 23-24]

Maka sah-lah bahwa tidak ada pemberian nama yang dibolehkan bagi malaikat dan Nabi tanpa (izin) Allah ta’ala. Dan siapa yang menyelisihi ini maka ia telah mengada-ada kedustaan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla dan menyelisihi Al Quran…” Selesai.

***

Bersambung….

[1]Dan ini adalah ungkapan yang shahih, kami tidak mengada-ada atas mereka dan kami tidak menzhalimi mereka atau memfitnah mereka dengannya, karena kami di sini mengkhithabi secara khusus mereka ~orang-orang yang membela-bela para thaghut~, yang mana mereka itu selalu terang-terangan menyatakan tidak bara’ dari mereka, bahkan mereka itu bagi para thaghut adalah sebagai anshar dan tentara yang selalu siap lagi sukarela membela mereka dan melindunginya di setiap tempat dan pertemuan, dan bahkan mereka memvonis orang yang mengkafirkan para thaghut itu sebagai Khawarij !!! Dan dari ini engkau mengetahui bahwa mensetarakan mereka dengan Murji-ah dahulu adalah zhalim kepada para pendahulu, dan kami berlindung kepada Allah dari mensetarakan mereka dengannya, akan tetapi penyerupaan mereka itu hanya dalam hal nama, dari pintu syubuhat-syubuhat yang mereka warisi darinya, dan oleh sebab itu kami membedakan mereka dengan menisbatkan mereka kepada zaman kita.

[2]Tidak ada kaffarat baginya kecuali satu kaffarat saja, yaitu kaffarat riddah “kembali kepada Islam dan taubat” dan kalau tidak maka pedang….

[3] Bisa jadi penggunaan kata tahrim pada perbuatan mereka itu dalam rangka tanfir dari perbuatan tercela ini dan menganggapnya sebagai hal besar, serta tanfir dari menyerupai jalan kaum musyrikin dan tuhan-tuhan mereka yang membuat undang-undang, persis seperti penggunaan Allah Ta’ala akan kata kufur lewat lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang status banyak dari dosa-dosa yang tidak mengeluarkan dari millah sebagai bentuk tanfier darinya dan penganggapan besar akan dosanya, sehingga sebagian salaf tidak mau berbicara dalam takwilnya dari dhahirnya supaya lebih mengena dalam membuat orang kapok dan jera, karena maksiat yang Allah namakan sebagai kekafiran tidaklah seperti yang lainnya.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: