Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Membongkar Syubhat Murji-ah Gaya Baru #3

Membongkar Syubhat Murji-ah Gaya Baru #3


Syubhat:

Dalih Mereka Buat Para Thaghut Musyarri’in Dengan Ungkapan
“Kufrun Duna Kufrin”

Bila engkau telah memahami apa yang telah lalu semuanya dan engkau memahami bahwa kekafiran itu bisa jadi berupa ucapan atau amalan yang mengeluarkan pelakunya dari millah Islam, maka ketahuilah bahwa mereka itu -maksudnya Murji-atul ‘Ashri- hanyalah melakukan kamuflase dalam kebatilan ini semuanya, mereka mencampuradukkan dan melakukan pengkaburan dalam rangka menutupi (kekafiran) para thaghut masa kini dari kalangan para penguasa yang membuat Undang-Undang yang tidak Allah izinkan, dan untuk meringankan dari kedurjanaan mereka yang keji ini, terus mereka menjadikannya dari bagian dosa-dosa dan amalan yang tidak membatalkan dan tidak menghancurkan keimanan, dan kemudian mereka menghukumi Islam para thaghut itu dan membangun konsekuensi di atasnya berupa muwalah, wilayah, dan tawalliy serta apa yang menjadi cabang dari hal itu berupa keharaman harta, darah, dan kehormatan mereka serta keharusan membela, mendukung dan membantunya, kemudian menamakan orang yang mengkafirkan mereka dan yang mengajak untuk melawan, memberontak dan dari mereka dan dari tentara, anshar dan kroni-kroninya sebagai orang Khawarij. Dan mereka berdalil terhadap mereka dengan apa yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu tentang bantahan beliau terhadap Khawarij: “Sesungguhnya bukanlah kekafiran yang kalian yakini.” Sesungguhnya itu bukan kekafiran yang mengeluarkan dari millah: “Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka merekalah orang-orang kafir. [QS. Al Maidah: 44] Kufrun duna kufrin.

Selama kita dalam konteks membantah syubhat-syubhat mereka, maka tidak ada halangan bila kami di sini menuturkan ringkasan ungkapan ulama di dalamnya dari sisi ilmu hadist, kemudian sesudahnya saya iringi dengan ringkasan ungkapan ulama di dalamnya dari sisi kandungan fiqhnya sebagai bentuk penjelasan akan al haq dan pembongkaran terhadap talbis.
Penjelasan ungkapan yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas dari sisi isnad

Atsar ini diriwayatkan dari jalur Sufyan Ibnu Uyainah dari Hisyam Ibnu Hujair dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Sesungguhnya bukan kekafiran yang kalian yakini, sesungguhnya ia bukan kekafiran yang mengeluarkan dari millah:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka merekalah orang-orang kafir.” [QS. Al Maidah: 44] kufrun duna kufrin.” HR. Al Hakim dan yang lainnya dari jalur Hisyam Ibnu Hujair Al Makkiy.

Sedangkan Hisyam Ibnu Hujair ini dinilai dlaif oleh para imam terpercaya, dan dia atas riwayatnya ini tidak seorang pun yang me-mutaba’ah-nya.

Ahmad Ibnu Hanbal berkata tentang (Hisyam) “Ia tidak kuat” dan berkata: “Makkiy adalah dlaiful hadits” sedang ini adalah celaan dari sisi riwayah.

Dan didlaifkan pula oleh Yahya Ibnu Sa’id Al Qaththan dan beliau membuang haditsnya, serta didlaifkan pula oleh Ali Ibnu Al Madiniy, Al Uqailiy menuturkannya dalam Adl Dluafa dan begitu juga dengan Ibnu ‘Addly.

Dan Hisyam itu shalih dalam diennya, oleh sebab itu Ibnu Syubramah berkata: “Di Mekkah tidak ada yang seperti dia.”

Dan Ibnu Ma’in berkata: “shalih”[1] Ini adalah dalam dien atau ibadah, dengan dalil bahwa Ibnu Ma-in sendiri telah berkata tentangnya: Dlaif sekali.

Al Hafidl Ibnu Hajar berkata: Shaduq lahuu auhaam.

Saya berkata: Bisa jadi ini termasuk auham-nya, karena ungkapan semacam ini diriwayatkan lagi tsabit dari Ibnu Thawus, maka bisa saja dia keliru terus menisbatkannya kepada Ibnu ‘Abbas.

Ali Ibnu Al Madiniy berkata: “Sufyan mengklaim, berkata: Hisyam Ibnu Hujair adalah telah menulis kitab-kitabnya tidak sesuai kebiasaan orang-orang, yaitu perkiraan terhadapnya, sehingga terjadi kekaburan atasnya.” Dari Ma’rifatir Rijal 2/203.

“Hisyam itu tergolong ahli Mekkah sedangkan Sufyan adalah orang yang tahu dan kenal akan ahli Mekkah” Al Uqailiy meriwayatkan dengan isnadnya dari Ibnu Uyainah bahwa ia berkata: Kami tidak mengambil darinya kecuali apa yang tidak kami dapatkan pada selainnya.

Maka sahlah bahwa atsar ini tergolong riwayat yang mana Hisyam menyendiri dengannya, karena ia termasuk riwayat Ibnu Uyainah darinya.

Abu Hatim berkata: “Haditsnya ditulis” dan ini juga tergolong shighat tamridl dan tadl’if, karena ini berarti bahwa haditsnya tidak diterima secara menyendiri akan tetapi hanya diambil dalam mutaba’at saja.

Oleh sebab itu Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya kecuali mutaba’ah atau disertai dengan yang lainnya, sedangkan hadits-haditsnya tergolong hadits-hadits yang dikritik terhadap Ash Shahihain.

Adapun Al Bukhari maka ia tidak meriwayatkan baginya kecuali satu hadits saja, yaitu hadits Sulaiman Ibnu Dawud ‘alaihissalam: “Sungguh saya akan menggilir 90 istri malam ini… hingga akhir hadits”, beliau tuturkan dalam kaffarat sumpah dari jalan Hisyam, dan di-mutaba’ah-i dalam kitab An Nikah dengan riwayat Abdullah Ibnu Thawus. Dan sudah ma’lum bahwa Al Hafizh Ibnu Hajar termasuk adatnya dalam muqaddimah Fathul Bari adalah membela orang yang dikomentari tanpa haq dan beliau membelanya dengan segenap ilmu yang beliau miliki. Adapun orang yang nampak kelemahannya menurut beliau dan bahwa Al Bukhari tidak berpatokan kepada mereka saja namun hanya memutuskan mereka dalam mutaba’at atau dibarengkan, maka macam mereka itu beliau tidak bersusah payah membela mereka namun beliau menyebutkan mutaba’at yang ada bagi mereka dalam Ash Shahih dan cukup. Dan begitu juga beliau lakukan terhadap Hisyam Ibnu Hujair (rujuk Al Muqaddimah).

Adapun Muslim maka begitu juga tidak ada padanya kecuali lewat jalur dia kecuali dua hadits, dan beliau tidak meriwayatkan riwayatnya kecuali dibarengi. Dan dalam hal ini silakan rujuk apa yang dikatakan Syaikh Al Harawi dalam kitabnya “Khulashatul Qaul Al Mufhim ‘Ala Tarajim Rijalil Imam Muslim.”

Dan khulashah-nya bahwa diketahui dari apa yang telah lalu bahwa tidak ada hujjah bagi orang yang berupaya menguatkan Hisyam dengan berdalih dengan periwayatan Al Bukhari dan Muslim lewat jalurnya, karena keduanya tidak meriwayatkan lewat jalurnya secara menyendiri namun mutaba’ah, sedangkan ini tergolong dalil yang menunjukkan terhadap penilaian lemahnya bila menyendiri.

Oleh sebab ini semuanya tidak ada yang menilai tsiqah Hisyam Ibnu Hujair kecuali kaum mutasahilun, seperti Ibnu Hibban, karena sesungguhnya ia sangat masyhur dengan sikap tasahul dalam hal tautsiq, dan begitu juga Al ‘Ajaly, Al Mu’allim Al Yamaniy berkata: tautsiq Al ‘Azali telah saya dapatkan dengan istiqra (pengkajian) seperti tautsiq Ibni Hibban: persis atau lebih luas.” Al Anwar Al Kasyifah hal: 68.

Al Albany berkata: Al ‘Ajaly terkenal dengan sikap tasahul dalam tautsiq, persis seperti Ibnu Hibban, maka tautsiq-nya tertolak bila menyelisihi ucapan para imam yang terpercaya kritik dan jarh mereka.” Lihat As Silsilah Ash Shahihah hal 7/633.

Dan begitu juga tautsiq Ibnu Sa’ad, di mana mayoritas pengambilannya adalah dari Al Waqidiy Al Matruk sebagaimana yang dituturkan Ibnu Hajar dalam Muqaddimah Al Fath pada biografi Abdurrahman Ibnu Syuraih.

Bila ini adalah keadaan orang yang mereka tautsiq, maka riwayat-riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah dengan tautsiq mereka ini.

Maka bagaimana sedangkan mereka itu telah ditentang oleh para imam yang kokoh serta dia telah didlaifkannya, seperti Ahmad, Ibnu Main, Yahya Ibnu Sa’id Al Qaththan, Ali Ibnu Al Madiniy dan yang lainnya.

Khulashah pendapat: Bahwa Hisyam Ibni Hujair itu lemah yang mana hujjah tidak bisa tegak dengannya secara menyendiri saja, ya memang ia layak dalam mutaba’at sebagaimana yang telah engkau ketahui, sedangkan orang-orang yang berhujjah dengannya tidak menuturkan baginya mutabi’ atas riwayat Ibni ‘Abbas ini, sehingga nyata kuatlah kedlaifannya dan ketidaksahan memastikan penisbatannya kepada Ibnu ‘Abbas.

Bahkan justru Ibnu Jarir Ath Thabary telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dengan isnad yang shahih dalam tafsir ayat ini selain itu, berkata: Al Hasan Ibnu Yahya telah mengabarkan, ia berkata: Abdurrazzaq telah mengabarkan kami, ia berkata: Mu’ammar telah mengabarkan kami dari Ibnu Thawus dari ayahnya, berkata: Ibnu ‘Abbas ditanya tentang firman-Nya ta’ala:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” [QS. Al Maidah: 44], berkata: Ia dengannya adalah kekafiran. Ibnu Thawus berkata: “Dan ia tidak seperti orang yang kafir terhadap Allah, malaikat-malaikat-Nya dan rasul-rasul-Nya.”[2] Selesai[3]
Penjelasan titik penerapan ungkapan itu dan yang semisalnya

Ini dari sisi riwayah, adapun dari sisi dirayah, maka kami katakan: Bahwa ucapan Ibnu ‘Abbas ini bila memang shahih -karena memang telah sah yang dekat dengan maknanya dari selain beliau- maka ia adalah bantahan terhadap Khawarij yang ingin mengkafirkan al hakamain, Ali, Mu’awiyah dan kaum muslimin yang bersama mereka sebab perseteruan dan putusan yang terjadi di antara mereka tentang status khilafah, shuluh dan apa yang terjadi di antara al hakamain ‘Amr Ibnul ‘Ash dan Abu Musa Al Asy’ari, karena kejadian itu adalah awal kemunculan mereka -sebagaimana yang sudah ma’lum- terus mereka berkata: “Kalian telah mengangkat orang-orang itu sebagai pemutus.”:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang kafir” [QS. Al Maidah: 44][4]

Dan tidak ragu bahwa mereka dalam hal itu adalah keliru lagi sesat, karena yang terjadi di antara sahabat itu walaupun sebagian mereka aniaya terhadap sebagian yang lain bukanlah kekafiran yang mengeluarkan dari millah sama sekali. Dan Ali radliyallahu ‘anhu telah mengutus Abdullah Ibnu ‘Abbas kepada Khawarij dalam rangka ber-munadharah dengan mereka dalam hal itu, maka beliau menuju mereka dan mereka pun berbicara dengannya, beliau berkata: “Kalian dendam terhadap al hakamain, sedangkan Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا

“Maka utuslah juru damai (hakam) dari keluarga laki-laki dan juru damai dari keluarganya (istri).” (An Nisa: 35)…maka bagaimana dengan ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam… Mereka berkata kepadanya: Apa yang Allah serahkan putusannya kepada manusia dan Dia perintahkan mereka untuk meninjaunya maka itu terserah mereka, sedang yang Dia putuskan dan sudah berlaku maka hamba tidak punya hak meninjau di dalamnya. Maka Ibnu ‘Abbas berkata: Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ

“menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu.” (QS. Al Maidah: 95) Mereka berkata: Kamu jadikan putusan dalam buruan dan tanaman dan (putusan) antara wanita dengan suaminya seperti putusan dalam darah kaum muslimin? Dan mereka berkata kepadanya: Apakah menurut kamu Amr Ibnu ‘Ash itu adil sedangkan kemarin dia itu memerangi kita? Bila ia adil berarti kami tidak adil, dan kalian dalam urusan Allah telah mengangkat orang sebagai pemutus.”

Dan inti bukti adalah setelah terjadi munadharah ini maka jumlah banyak dari mereka kembali kepada kebenaran sedang yang lain bersikukuh di atas kesesatannya dan memisahkan diri dari pasukan Ali setelah kejadian al hakamain ini, dan mereka itulah asal Khawarij.

Kemudian Murjia-tul ‘Ashr sengaja mengambil ucapan yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas dan yang serupa dengannya dari ucapan-ucapan lain yang bersumber dari sebagian tabi’in seperti Thawus, anaknya dan Abu Mijlaz, yang mana semuanya tentang Khawarij, dan mereka berlari girang dengannya, untuk mereka tempatkan secara dusta dan mengada-ada pada tempat yang bukan tempatnya, realita yang bukan realitanya dan kondisi yang yang bukan kondisinya, dengan dalil bahwa lafazh yang dijadikan hujjah oleh mereka ini di dalamnya ada ucapan Ibnu ‘Abbas sembari sambil mengkhithabi orang-orang tertentu tentang kejadian tertentu: “Sesungguhnya ia bukan kekafiran yang kalian yakini” maka kalimat “Yang kalian yakini” adalah khithab terhadap Khawarij dan orang-orang yang mengikuti mereka pada zamannya dalam kasus yang ma’lum lagi ma’ruf, jadi ucapannya bukan dalam penafsiran ayat, namun dalam manath yang keliru yang dikomentari oleh Khawarij sembari keliru di dalamnya, dengan dalil bahwa ayat ini pada dasarnya berbicara tentang kufur yang mengganti aturan Allah, baik mereka itu Yahudi atau yang lainnya, dan akan datang rincian ini. Maka apakah masuk akal bila Ibnu ‘Abbas atau yang lainnya dari kalangan ahlul Islam berkata tentang penggantian orang-orang Yahudi atau yang lainnya terhadap hukum atau had dari hududullah -seperti diyat atau had zina- adalah pada manath yang bathil yang mana Khawarij ingin menempatkannya di dalamnya, dan ia bukan dalam penjelasan dan penafsiran ayat itu… maka perhatikanlah dan janganlah kamu terperdaya dengan talbis-talbis kaum sesat.

Al ‘Allamah As Salafiy Ahmad Muhammad Syakir berkata dalam catatan kakinya terhadap Umdatut Tafsir tentang atsar ini: “dan atsar-atsar -dari Ibnu ‘Abbas dan yang lainnya- ini tergolong apa yang dipermainkan oleh orang-orang yang menyesatkan pada zaman kita ini dari kalangan yang intisab kepada ilmu dan kalangan lainnya yang telah berani terhadap dien ini: “Mereka menjadikannya sebagai udzur atau pelegalan bagi undang-undang berhala jadi-jadian yang telah diterapkan secara aniaya di atas negeri Islam.” 4/156

Dan beliau rahimahullah dalam tempat itu juga menukil ta’liq saudaranya Mahmud Syakir terhadap atsat-atsar yang serupa, di dalamnya Abu Mijlaz sedang beliau adalah dari kalangan tabi’in mengkritisi sebagian kalangan Khawarij di zamannya, Ath Thabariy menuturkannya dalam tafsirnya 10/348, berkata: Ya Allah, saya berlepas diri di hadapan-Mu dari kesesatan, wa ba’du: Sesungguhnya kalangan penebar keraguan dan fitnah dari kalangan yang tampil berbicara di zaman kita ini, dia telah mencari-cari alasan pengudzur buat para penguasa dalam sikapnya meninggalkan al hukmu bimaa anzalallah dan dalam memberikan keputusan berkenaan dengan darah, kehormatan dan harta dengan syariat Allah yang telah Dia turunkan dalam kitab-Nya, serta dalam sikap mereka menjadikan qanun ahli kufri sebagai syariat (aturan yang berlaku) di negeri Islam. Dan tatkala dia mendapatkan dua atsar ini, maka dia menjadikannya sebagai pendapat yang dengannya dia memandang kebenaran putusan hukum dalam hal harta dan kehormatan juga darah dengan selain apa yang telah Allah turunkan dan bahwa menyelisihi syariat Allah adalah dalam al qadla al ‘aam (putusan/hukum yang umum) adalah tidak membuat kafir orang yang ridla dengannya dan yang mengamalkan di atasnya…”

Dan beliau menuturkan munasabah atsar-atsar ini dan bahwa ia itu adalah munadharah bersama Khawarij yang ingin mengkafirkan para penguasa zaman mereka dengan maksiat yang tidak sampai pada kekafiran, kemudian ia berkata: Jadi pertanyaan mereka itu bukan tentang apa yang dijadikan hujjah oleh ahli bid’ah zaman kita, berupa putusan hukum dalam hal harta, kehormatan, dan darah dengan undang-undang yang menyelisihi ahlu Islam dan bukan pada dalam hal pengguliran qanun (UU) yang mesti diterapkan terhadap ahlul Islam dengan cara merujuk hukum kepada hukum selain hukum Allah dalam kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perbuatan ini adalah keberpalingan dari hukum Allah, bentuk kebencian akan dien-Nya, dan sikap lebih mengedepankan hukum-hukum orang kafir terhadap hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan ini adalah kekafiran yang tidak seorang pun dari ahlu kiblat dengan berbagai ragamnya ragu akan kekafiran orang yang mengatakannya dan yang mengajak kepadanya.” Selesai.

Bila orang obyektif yang diberikan taufiq untuk mencari al haq telah mengetahui ini semua serta paham penempatan ucapan yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas dan kalangan salaf lainnya itu[5], serta (paham) akan realita (waqi’) yang mana ucapan itu dilontarkan, juga (mengetahui) ciri orang-orang yang mana ucapan itu diarahkan terhadap mereka dan bentuk ucapan-ucapan mereka itu, terus dia melihat dengan mata bashirah terhadap realita yang kita ada di dalamnya berupa pembuatan hukum yang tidak Allah izinkan dan menjadikan hukum-hukum yang rendah berupa sampah Undang-Undang buatan dan hawa nafsu manusia sebagai pengganti hukum-hukum Allah, aturan-aturan-Nya serta hudud-Nya yang suci, maka pasti mengetahui kebobrokan talbis yang besar dan penyesatan yang nyata itu yang dilakukan oleh Murji-atul ‘Ashr dengan menempatkan nushush itu pada realita-realita yang sangat berbeda dengan realita yang mana nushush itu dilontarkan, sebagai bentuk penutupan akan kebijakan yang dilakukan di zaman ini dan para pelakunya.

Apakah Muawiyah, Ali dan para sahabat yang bersama mereka di hari saat kaum Khawarij menghadang mereka dengan hujjah-hujjahnya itu, mereka mengklaim memiliki wewenang membuat hukum di samping Allah? Atau apakah mereka itu membuat Undang-Undang dan UUD kafir yang menegaskan bahwa (kekuasaan Legislatif/pembuatan hukum) itu berada dengan amir dan majelis rakyat (seperti MPR/Dewan Perwakilan Rakyat,ed) sesuai Undang-Undang Dasar[6] sebagaimana itu realita pada negara-negara yang disebut Islam pada hari ini?

Sungguh jauh sekali para sahabat dari berbuat ini, dan sangat-sangat-sangat tidak mungkin mereka melakukan itu, bahkan jauh sekali Murji-ah zaman mereka dari kekafiran yang nyata ini.

Dan kemudian apakah para sahabat membuat undang-undang menurut hukum rakyat dan keinginan mereka atau mengikuti keinginan mayoritas dan menjadikan hal itu sebagai pengganti hudud Allah Ta’ala yang tinggi lagi suci…?

Jauh sekali sahabat dari hal itu dan bahkan jauh sekali orang-orang dungu, orang-orang gila, para pengekor dan kalangan awam pada zaman itu dari kekafiran nyata macam ini. Mana mungkin hal seperti itu terbayang ada pada mereka, sedangkan mereka itulah orang-orang yang telah menyirami tanah dengan darah mereka yang suci dalam rangka kejayaan dan kemenangan syari’at dienullah.

Dan kami hanya mengatakan, seandainya seseorang melakukan hal seperti itu pada masa itu, tentulah Khawarij tidak menghujjahkannya dengan nash-nash yang tidak sharih dalam bab tasyri’, seperti firman-Nya Ta’ala:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang kafir.” [QS. Al Maidah: 44] Dan tatkala mereka meninggalkan nash-nash lain yang tegas dan qath’iy dilalah-nya[7] terhadap kekafiran para pembuat hukum/UU/UUD (musyarri’in) dan bahwa mereka itu Thawaghit dan Arbab yang diibadati selain Allah, seperti firman-Nya ta’ala:

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Bila kalian menuruti mereka maka sesungguhnya kalian itu orang-orang musyrik.” [QS. Al An’am: 121] dan firman-Nya ta’ala:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan bagi mereka dari dien ini apa yang tidak Allah izinkan.” [QS. Asy Syura: 21], dan firmannya ta’ala:

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan Dia tidak menyertakan seorang pun dalam hukum-Nya.” [QS. Al Kahfi: 26] dan ayat lain yang serupa yang tidak mungkin samar atas para sahabat yang mana para sahabat meremehkan bacaan Al Qur’annya bila dibandingkan dengan bacaan Khawarij itu, atau firman-Nya ta’ala:

وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai arbab selain Allah.” [QS. Ali Imran: 64], dan firman-Nyata’ala:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“mereka (Yahudi dan Nashrani) telah menjadikan alim ulama dan rahin-rahib mereka sebagai arbab selain Allah.” [AtTaubah: 31] dan yang lainnya, namun ternyata mereka tidak menyebutkan satu pun dari itu, karena tidak satupun darinya yang bisa pas diterapkan kepada kasus mereka itu. Dan tidak mungkin hal seperti ini samar terhadap Ibnu ‘Abbas seandainya kasus mereka berkisar seputar itu, bagaimana sedangkan beliau adalah Habrul Qur’an dan perawi sebab nuzul firman-Nya ta’ala:

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan bila kalian menuruti mereka maka sesungguhnya kalian itu adalah orang-orang musyrik.” (QS. Al An’am: 121)

Al Hakim telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih dari beliau radliyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata: (Sesungguhnya sekelompok dari kaum musyrikin mendebat kaum muslimin dalam masalah sembelihan dan pengharaman bangkai, mereka berkata: “Kalian makan dari (daging hewan) yang kalian bunuh dan kalian tidak makan dari (daging hewan) yang Allah bunuh? Maka Allahta’ala:

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan bila kalian menuruti mereka maka sesungguhnya kalian itu adalah orang-orang musyrik.” [QS. Al An’am: 121].

Maka ini menunjukkan bahwa pembuatan hukum/UU/UUD atau orang yang mengikuti hukum buatan selain Allah walaupun dalam satu masalah adalah musyrik kafir terhadap Allah, berbeda dengan hakim atau qadli yang aniaya yang tidak merujuk kepada aturan dan dien (hukum) selain dien (hukum) Allah[8] dan tidak menjadikan bagi dirinya atau bagi yang lainnya wewenang pembuatan hukum, terus dia memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan, dengan makna zhalim, aniaya dan hawa nafsu bukan dengan makna tasyri’ (pembuatan hukum) dan penggantian hukum (istibdal), maka ini tidak lebih dari statusnya sebagai hakim yang zhalim lagi aniaya, dan tidak menjadi kafir walau memutuskan dengan gambaran seperti ini seratus kali selama tidak menghalalkannya…)

Seandainya kasus mereka ini seperti bencana kita ini, tentulah beliau radliyallahu ‘anhu dan para sahabat lainnya tidak akan pernah sungkan dalam takfier orang yang melakukannya. Karena mengetahui benar kalau tasyri’ (pembuatan/penetapan hukum) walau dalam satu kasus atau satu masalah pada hal yang tidak boleh kecuali bagi Allah adalah syirik akbar terhadap Allah, kufrun fauqa kufrin, zhulmun fauqa zhulmin, dan fisqun fauqa fisqin, bahkan sesungguhnya sekedar memalingkan haq tasyri’ atau mengklaimnya bagi seseorang dari makhluk ini (amir atau presiden atau raja atau rakyat atau MPR) adalah syirik dan kufur akbar, sama saja baik ia membuat hukum atau tidak, dan sama saja apakah orang yang memalingkan hal itu mengikuti hukum buatan mereka ataupun tidak… sehingga nampaklah bahwa realita mereka itu berbeda dengan realita kita dan fitnah mereka berbeda dengan fitnah yang menimpa kita, maka pahamilah perbedaan antara dua realita dan dua kasus, dan hati-hatilah dari pencampurbauran dan talbis yang menghantarkan kepada ridla thaghut dan Iblis.
Kehujjahan ucapan shahabiy

Ya taruhlah wahai saudara-saudara setauhid bahwa Ibnu ‘Abbas -sedang ia adalah manusia yang tidak ma’shum, bisa benar dan bisa salah- memaksudkan dengan ucapan yang dinisbatkan kepadanya realita kita ini -dan itu adalah mustahil sebagaimana yang engkau ketahui karena saat itu tidak ada hal yang serupa dengannya- maka apakah kita benturkan perkataan Ibnu ‘Abbas dengan firman Allah dan sabda Rasul serta dalam suatu masalah dari masalah-masalah tauhid yang mana para Rasul semuanya di atas dengannya, yaitu al kufru bitthaghut yang mana ia adalah separuh kalimah tauhid?

Tidak ragu bahwa jawaban atas hal ini dipahami oleh para penuntut ilmu yang masih dini apalagi orang yang intisab kepada ilmu, dakwah dan du’at, karena tidak ada hujjah dalam dien kita selain firman Allah dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bukankah Ibnu ‘Abbas itu sendiri yang berkata sebagai bantahan terhadap orang yang menghujjatinya dalam masalah Mut’atul Hajji (haji tamattu’) dengan perbuatan Abu Bakar dan Umar, sedangkan mereka berdua adalah mereka radliyallahu ‘anhu: “Hampir saja turun menimpa kalian batu dari langit, karena saya mengatakan Rasulullah telah mengatakannya, dan kalian malah berkata: Abu Bakar berkata dan Umar berkata.”

Dan kami katakan berulang-ulang: Tidak mungkin Ibnu ‘Abbas ngawur atau rancu atau menyelisihi dalam hal inti dari inti-inti dien seperti ini, sedangkan ia adalah Turjumanul Qur’an, namun yang kami maksud adalah mengingatkan bahwa ucapan shahabiy itu bukan dien dan bukan hujjah dalam dienullah saat ada perselisihan, maka apa gerangan bila dikira-kirakan bahwa itu menyelisihi firman Allah atau sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[9]

Namun yang mendesak kami untuk mengingatkan dengan hal-hal yang umum diketahui adalah apa yang sering sekali kami mendengarnya dari Murji-ah zaman kita yang membela-bela para thaghut, yaitu berupa sikap mendahulukan di hadapan Allah dan membenturkan firman-Nya yang nyata jelas tentang syiriknya menjadikan makhluk sebagai arbab dengan bentuk tasyri’, tahlil, dan tahlim dengan ucapan yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas itu (kufrun duna kufrin).
Penjelasan

Bahwa al hukmu dengan makna tasyri’ adalah kekafiran dengan sendirinya, berbeda dengan al hukmu dengan makna al jaur (aniaya) dalam vonis, maka ada rincian di dalamnya dan bahwa kekafiran para thaghut dan kaki tangan mereka pada hari ini adalah termasuk macam pertama

Dan dalam rangka menghabisi semua syubhat Murji-atul ‘Ashr dan para penerus Jahm dan Bisyr Al Mirrisiy, tinggal kami mengingatkan al akh al muwahhid terhadap makna al hukmu bighairi maaanzalallah yang mana Allah ta’alavonis pelakunya dengan vonis syirik dan kufur yang mengeluarkan dari millah tanpa disebutkan bersamanya istihlal dan i’tiqad atau yang lainnya sebagai qa’id (batasan) untuk hal itu, dan bahwa itu adalah tasyri ‘aam dan mulzam (yang mesti diterima) yang dijadikan para thaghut masa kini sebagai hak mereka dan bagi para pengikut mereka dari kalangan rakyat dengan perantaraan parlemen kafir mereka, dan ia adalah suatu amalan dari amalan-amalan kekafiran murni yang pelakunya dikafirkan tanpa dikatakan padanya apakah ia menghalalkan atau tidak, dan apakah ia meyakini atau tidak, berbeda dengan al jaur dalam putusan dan vonis sedang ia komitmen dengan Islam dan ajarannya serta tidak mengganti suatu pun darinya, maka ini ada rincian yang masyhur lagi ma’lum di dalamnya antara orang yang meyakini lagi menghalalkan atau orang yang maksiat lagi mengikuti hawa nafsu atau syahwat dan yang lainnya. Dan rincian yang akhir ini dijadikan talbis oleh Murji-atul ‘Ashr dan para Syaikhnya terhadap umat dan manusia dengan menempatkan rincian itu pada macam pertama yang kufur yang muncul dari para thaghut masa kini, di mana kaum Murji-atul ‘Ashr ini mengeluarkan kebejatan-kebejatan mereka yang keji ini di hadapan mereka bahwa itu adalah maksiat yang mana para pelakunya tidak kafir kecuali dengan istihlal dan juhud.

Maka engkau mesti mengetahui makna tasyri’ yang mana ia berkaitan dengan syirik dan tauhid, serta engkau memahami perbedaan antara hal itu dengan al hukmu yang berkaitan dengan al furu’ (cabang-cabang) supaya hilang darimu talbis Murji-atul ‘Ashr dan isykal yang bisa terjadi pada dirimu dalam ucapan sebagian salaf saat mereka menggabungkan antara al hukmu bighairi maa anzalallah dengan sebagian dosa-dosa yang tidak mengkafirkan yang mana Rasulullah telah menamainya sebagai kekafiran, dan mereka menggolongkan sebagian itu semuanya dalam al kufru ashghar yang pelakunya tidak dikafirkan kecuali dengan istihlal, maka sesungguhnya mereka memaksudkan dengan al hukmu di sini maknanya yang tidak mengeluarkan dari millah bukan makna tasyr’iy tabdiliy yang muncul dari para thaghut masa kini. Dan dari jenis ini adalah ucapan Ibnul Qoyyim hal (61) dan halaman lainnya dari Kitabushshalah: “Dan bila ia memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan, atau melakukan apa yang dinamakan kekafiran oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ia komitmen dengan Islam dan ajaran-ajarannya, maka telah ada padanya kekafiran dan keislaman.” Selesai. Perhatikan ucapannya “sedangkan ia komitmen dengan Islam dan ajaran-ajarannya”, tentu engkau mengetahui bahwa mereka tidak memaksudkan dalam ungkapan-ungkapan semacam ini al hukmu bighairi maa anzalallah dengan gambarannya yang bersifat tasyri’iy kufriy pada zaman kita ini…[10].

Kepada rincian dan pemilahan ini Syaikh Sulaiman Ibnu Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab telah mengisyaratkan dalam kitabnya At Taudlih ‘An Tauhidil Khallaq Fi Jawabi Ahlil Iraq hal: 141, di mana beliau membagi al hukmu bighairi ma anzalallah kepada dua macam… Satu macam syirky yang menohok tauhid dan satu macam lagi dalam al furu’…

Dan beliau menjelaskan bahwa macam pertama adalah kekafiran haqiqiy yang tidak ada iman di dalamnya. Dan adapun macam ke dua,[11] maka beliau menyebutkan rincian yang ma’ruf di dalamnya ada dua bentuk:

Bila lisan tidak mengakui dan hati tidak tunduk[12], maka ia juga kekafiran haqiqiy yang tidak ada keimanan karenanya.

Dan adapun bila ia mengakui dengan hatinya dan menyatakan dengan lisannya terhadap hukum Allah namun ia melaksanakan kebalikannya secara zhahir dalam furu’ secara khusus, maka ia bukan kekafiran yang memindahkan dari millah, dan ia menuturkan dalam hal ini atsar-atsar yang di antaranya ucapan Thawus: “Al Hukmu (memutuskan) dalam furu’ dengan selain apa yang telah Allah turunkan disertai pengakuan akan hukum-Nya serta mencintainya bukanlah hal yang mengeluarkan dari millah.” Dan beliau menjelaskan macam ini di tempat lain dalam kitabnya hal: 143 dengan ucapan: “Tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan dalam al furu’ yang bukan tergolong ashluddin disertai pengakuan akan hukum Allah di dalam hatinya dan ucapannya, dan (disertai) mencintainya, memilihnya, dan tunduk kepadanya di dalam keduanya (hati dan lisannya).” Selesai.

Perhatikan pemilahan Murji-atul ‘Ashri mencampurkan antara keduanya karena kejahilan, atau talbis dan tadlis, terus mereka menerapkan macam yang terakhir terhadap para thaghut masa kini yang membuat hukum, maka begitu juga Khawarij telah mencampurkan dan bermaksud menjadikan macam terakhir seperti yang awal walaupun tidak disertai dengan istihlal atau juhud, oleh sebab itu Syaikh Sulaiman berkata dalam tempat yang pertama: “Dan Khawarij telah cenderung kepada umum berdasarkan zhahir ayat, dan mereka berkata sesungguhnya ia adalah nash bahwa setiap orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan maka ia kafir, sedangkan setiap orang yang telah berbuat dosa, maka ia itu telah memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan, sehingga wajib ia itu menjadi kafir. Dan telah terjalin ijma’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah atas pernyataan yang menyelisihi mereka, sedang kami tidak mengkafirkan kecuali orang yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, berupa tauhid, justru dia malah memutuskan dengan lawannya, dia melakukan syirik, muwalah kepada para pelakunya dan membantu mereka atas kaum muwahhidin.” Selesai.

Saya katakan: Dan begitu juga kami sesungguhnya orang-orang yang kami kafirkan dengan sebab al hukmu bighairi maa anzalallah, kami tidak mengkafirkan mereka karena putusan mereka dengan furu’ dengan arti aniaya dalam vonis dan yang lainnya tanpa istihlal, sebagaimana ia thariiqah Khawarij. Dan kami kafirkan mereka hanya karena putusan mereka dengan selain apa yang telah Allah turunkan itu tergolong macam tasyri’iy syirkiy yang bertentangan dengan ashluttauhid, dan karena mereka mengikuti hakam (pemutus hukum) dan musyarri’ (pembuat hukum) selain Allah ‘Azza wa Jalla, serta mencari dien (hukum) dan syari’at (aturan) selain dien dan syari’at-Nya dan juga karena sikap tawalliy mereka terhadap ahlisysyirki dan para thaghutnya dengan berbagai ragamnya, serta sikap dukungan terhadap mereka atas kaum muwahhidin.

Pahamilah ini dan janganlah engkau termasuk orang yang terpengaruh oleh talbis-talbis dan pengkaburan Murji-atul ‘Ashri dan bedakanlah antara apa yang para Rasul dan para pengikutnya melakukan takfier dengannya, dengan apa yang mana kaum Khawarij serta sebangsanya melakukan takfier dengannya.

Kemudian ketahuilah, bahwa tasyri’ dan istibdal (mengganti) adalah kekafiran murni yang tidak boleh dikatakan di dalamnya, apakah dia istihlal, atau meyakini atau juhud. Batasan-batasan ini hanyalah berlaku pada macam terakhir yang mana Khawarij ngawur di dalamnya.

Ahlul Kitab yang tentang mereka Allah turunkan firman-Nya ta’ala: “Mereka menjadikan alim ulama dan rahib-rahib mereka sebagai arbab selain Allah,” [QS. At Taubah: 31] telah kafir dengan sebab tasyri’ taat kepada para pembuat hukum dalam hal itu serta mengikuti mereka terhadap aturan-aturan/hukum-hukum/UU/UUD yang mereka buat, dan tidak boleh dikatakan bahwa mereka kafir karena keyakinan mereka bahwa itu diharamkan secara sebenarnya atau dibolehkan secara sebenarnya atau bahwa mereka menghalalkan tasyri’ (istihlal qalbiy) atau bahwa mereka meyakini bahwa mereka memiliki hak dalam uluhiyyah atau rububiyyah.

Syaikh Abdul Majid Asy Syadzily berkata dalam Haddul Islam Wa Haqiqatul Imanhal. 431: Sesungguhnya makna “mereka menghalalkannya” atau “mereka mengharamkannya” bukanlah maknanya (i’tiqad) dengan makna ilmu (mengetahui) akan kebenaran sesuatu dan mengabarkan tentangnya, akan tetapi mengamalkan sesuai dengan tuntunan pengharaman dan penghalalan mereka berupa memutuskan dan merujuk hukum kepadanya..”

Dan orang-orang Yahudi tatkala mengganti had zina, dan mereka bersepakat dan ber-ijtima terhadap hukum selain hukum Allah, mereka tidak meyakini kebolehan zina atau menghalalkannya, tetapi mereka tetap meyakini keharamannya dengan pengharaman Allah terhadapnya, dan mereka tidak juga mengklaim atau mengatakan bahwa hukum yang mereka buat itu dari sisi Allah atau lebih adil, serta mereka tidak pula mereka menegaskan sikap istihlal mereka terhadap tasyri’ atau bahwa mereka meyakini bahwa mereka memiliki wewenang membuat hukum/UU (haq tasyri’) atau hal serupa dengannya, namun justru mereka menjadi kafir dengan sekedar kesepakatan mereka dan kemufakatannya terhadap suatu hukum dan tasyri’ (aturan) selain hukum dan tasyri’ Allah, dan mereka itu menjadi arbab bagi orang yang mentaati dan mengikuti mereka serta bersepakat bersama mereka atas tasyri’ itu.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullahberkata dalam Kitabuttauhid: “Siapa yang mentaati ulama dan umara dalam pengharaman apa yang Allah halalkan atau dalam penghalalan apa yang telah Allah haramkan, maka ia telah menjadikan mereka sebagai arbab selain Allah.” Selesai.

Orang yang mengikuti aturan para pembuat hukum yang bertentangan dengan syari’at Allah adalah orang musyrik yang telah menjadikan tuhan (rabb) selain Allah, sedangkan si pembuat hukum/UU/UUD itu sendiri adalah thaghut kafir yang menyekutukan dirinya bersama dengan Allah dalam uluhiyyah hukum dan tasyri’… Dia ta’alaberfirman: “Dan Dia tidak menyertakan seorang pun dalam hukum-Nya.” [QS. Al Kahfi: 26] dan dalam qira’ah Ibnu ‘Amir sedang ia tergolong sab’ah: “Dan janganlah kamu menyebutkan seorang pun dalam hukum-Nya.” [QS. Al Kahfi: 26] dengan shighat nahyi (bentuk karangan), sedangkan tasyri’ (pembuatan hukum/UU/UUD) bisa jadi penyekutuan atau isytirak (berserikat) bersama Allah dalam hukum, dan keduanya adalah kekafiran murni.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam risalahnya “Tis’iniyyah”: Penetapan wajib dan tahrim tidak lain adalah bagi Allah dan Rasul-Nya, siapa orangnya memberikan sanksi atas perbuatan atau (atas) meninggalkan tanpa perintah Allah dan Rasul-Nya serta dia menjadikan hal itu sebagai dien (ajaran/pegangan/acuan), maka dia telah menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah serta sama dengan kaum murtaddin yang beriman kepada Musailamah Al Kadzdzab, dan ia tergolong orang yang dikatakan Allah “Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan bagi mereka dari dien ini apa yang tidak Allah izinkan.” [QS. Asy-Syura: 21]. (Hal: 14 dalam Majmu’ah Fatawa Ibnu Taimiyyah juz 5 cet. Darul Fikr)

Syaikh Asy Syinqithi rahimahullah berkata dalam Adlwaul Bayan juz 7 hal 169: Dan tatkala tasyri’ (aturan) dan seluruh hukum, baik itu syar’iyyah ataupun kauniyyah qadariyyah adalah termasuk wewenang khusus Rububiyyah maka setiap orang yang mengikuti aturan selain aturan Allah maka ia telah menjadikan si musyarri (pembuat hukum/UU/UUD/aturan) itu sebagai rabb (tuhan) dan mempersekutukan dia bersama Allah.” Selesai.

Dan berkata hal 173: “Dan bagaimanapun keadaannya maka tidak ada keraguan bahwa setiap orang yang mentaati selain Allah dalam aturan yang menyelisihi dengan apa yang Allah syari’atkan maka ia telah mempersekutukan dia bersama Allah.”

Dan berkata di tempat lain: Dan dipahami dari ayat-ayat ini, seperti firman-Nya:

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan Dia tidak menyertakan seorang pun dalam hukum-Nya.” [QS. Al Kahfi: 26] bahwa orang-orang yang mengikuti aturan/hukum/UU/UUD produk para musyari’in selain apa yang telah Allah tetapkan sesungguhnya mereka itu musyrikun billah. Dan mafhum ini ada dijelaskan dalam ayat-ayat lain, seperti firman-Nya tentang orang yang mengikuti aturan syaithan dalam pembolehan bangkai, dengan klaim bahwa ia adalah sembelihan Allah:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan janganlah kalian makan dari hewan yang tidak disebutkan nama Allah atasnya, karena ia adalah fisq, dan sesungguhnya syaitan-syaitan membisikkan kepada wali-wali mereka untuk mendebat kalian. Dan seandainya kalian menaati mereka maka sesungguhnya kalian adalah orang-orang musyrik.” [QS. Al An’am: 121], dimana Dia tegaskan bahwa mereka itu musyrikin dengan sebab menuruti mereka…” Selesai.

Dan dalam firman-firman-Nya ta’ala:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apa engkau tidak memperhatikan orang-orang yang mengklaim bahwa mereka itu telah beriman kepada apa yang diturunkan terhadapmu dan (kepada) apa yang diturunkan sebelummu, mereka itu ingin berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir terhadapnya, dan syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh” [QS. An Nisaa’: 60], beliau berkata juz 4 hal 83: Dan dengan nushush samawiyyah yang telah kami sebutkan ini nampaklah dengan sejelas-jelasnya bahwa orang-orang yang mengikuti qawanin wadl’iyyah yang disyari’atkan syaithan lewat lisan wali-walinya seraya menyelisihi apa yang disyari’atkan Allah ‘Azza wa Jalla lewat lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak ada yang meragukan kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang telah Allah hapus bashirahnya dan Dia butakan dari cahaya wahyu, seperti mereka.” Selesai.

Abdul Majid Asy Syadziliy berkata dalam kitabnya Haddul Islam Wa Haqiqatul Iman[13]: “Dan tidak ada bedanya dalam tasyri’ (pembuatan hukum/UU) ini antara ibahah (pembolehan) dengan yang lainnya. Di mana si pembuat hukum/UU tidaklah memerintahkan untuk minum atau menghalalkan minum, namun itu kembali kepada dien (keyakinan/agama) setiap individu di masyarakat, sedangkan si pembuat hukum itu memisahkan antara dien dengan negara dan dia itu pembuat hukum negara, sedang agama (dien) dalam pandangan dia adalah hubungan antara hamba dengan Tuhannya, sehingga taat kepada dia dalam hal itu tidak ada urusannya dengan perbuatan dan tidak pula dengan istihlal namun dalam sikap si anggota masyarakat menghormati pembolehan ini serta mengakui akan haq dia dalam pelaksanaan tugasnya.[14]

Dan tidak ada pula urusannya dengan keyakinan dengan arti mengetahui akan perintah, karena kaum Yahudi saat bersepakat atas sanksi dera dan pencorengan wajah sebagai ganti rajam, mereka itu tetap merasa berdosa dengan sebab itu sehingga mereka mencari jalan keluar fiqh baginya, dan karenanya mereka berkata: “Pergilah kepada Nabi ini, karena sesungguhnya dia telah diutus dengan membawa peringanan, kemudian bila dia memberi fatwa kalian dengan dera dan tahmim maka ia adalah hujjah bagi kalian di sisi Allah”,

وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا

“dan bila kalian tidak diberi hal itu maka hati-hatilah.” [Al Maidah: 41]

Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad Al Qanna’iy berkata dalam kitabnya Haqiqatul Iman hal. 95 seputar sebab turun firman-Nya ta’ala:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan maka merekalah orang-orang kafir.” [Al Maidah: 44]: “Sungguh tergolong yang maklum dalam sebab nuzul ayat ini adalah bahwa kaum Yahudi hanyalah merubah hukum yang ada dalam Taurat tanpa membuangnya darinya, dan tanpa meyakini bahwa di sana ada hukum baru yang turun dari sisi Allah, namun mereka hanya merubahnya dengan tetap membiarkan hukum yang asli ada, dan itu terjadi karena sekedar terasa berat hal itu atas mereka dan ketidakmampuan mereka untuk melaksanakannya karena sebab kefasikan mereka. Ath Thabari berkata dalam tafsir firman-Nyata’ala: “Dan bagaimana mereka menjadikan kamu sebagai hakim, sedangkan di sisi mereka ada Taurat.” [Al Maidah: 43]: “Dan di sisi mereka ada Taurat yang telah Aku turunkan kepada Musa, dan yang mereka akui, dan bahwa apa yang ada di dalamnya berupa hukum maka ia tergolong Hukum-Ku. Mereka mengetahui hal itu sembari tidak merasa asing dengannya dan tidak bisa mengingkarinya, dan mereka mengetahui bahwa hukum-Ku di dalamnya terhadap pezina muhshan adalah rajam. Dan mereka padahal mengetahui akan hal itu namun mereka berpaling.” Dia berkata: “Mereka meninggalkan memutuskan hukum dengannya setelah mengetahui akan hukum Aku di dalamnya sebagai bentuk kelancangan terhadap-Ku dan pembangkangan terhadap-Ku.”

Dan al haq bahwa pendapat ini dalam masalah tersebut tidak mengandung mukabarah, karena dalam manthuq ungkapan dan dalam mafhum-nya tidak ada sedikitpun isyarat terhadap apa yang mereka klaim bahwa ia adalah al haq al ilahiy yang sesuai tuntutannya sebagian Nashara dan Yahudi merubah hukum-hukum berdasarkan apa yang mereka yakini pada para alim ulama mereka bahwa wahyu masih senantiasa turun kepada mereka supaya mereka merubah apa yang ada pada mereka dengan keinginan Allah. Ini adalah suatu hal sedangkan apa yang datang tentang kekafiran orang yang merubah hukum-hukum ini disertai mengakuinya adalah hal lain.” Selesai.

Dan dekat darinya macam yang telah disebutkan Syaikhul Islam dalam Ash-Sharimul Maslul hal. 521 saat beliau berbicara tentang macam-macam istihlal: Dan terkadang dia mengetahui bahwa Allah mengharamkannya dan dia mengetahui bahwa Rasul hanyalah mengharamkan apa yang telah Allah haramkan, kemudian dia menolak dari komitmen dengan tahrim ini dan dia i’nad (membangkang)[15] terhadap yang mengharamkan, maka ini lebih dahsyat kekafirannya dari orang yang sebelumnya.” Selesai.

Dan begitu juga Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata dalam Kasyfusy Syubuhat hal (28): “Tidak ada perselisihan bahwa tauhid itu mesti terbukti dengan hati, lisan, dan amal. Bila sesuatu darinya lenyap maka orang itu bukanlah muslim, kemudian bila dia mengenal tauhid dan tidak mengamalkannya maka dia itu kafir mu’anid seperti Fir’aun, Iblis dan yang serupa dengannya. Dan ini banyak manusia keliru di dalamnya, mereka mengatakan: ini haq dan kami paham ini serta kami bersaksi bahwa inilah kebenaran, namun kami tidak kuasa melakukannya, dan tidak boleh -yaitu tidak diterima dan tidak bisa berjalan- pada penduduk negeri kami, kecuali orang yang sejalan dengan mereka serta alasan-alasan lainnya. Dan orang miskin ini tidak tahu bahwa keumuman tokoh-tokoh kekafiran mengetahui al haq dan mereka tidak meninggalkannya kecuali karena sesuatu dari alasan-alasan itu, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلا

“Mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit” (QS. At Taubah: 9) dan ayat-ayat lainnya.” Selesai.

Dan serupa dengan ini atau bahkan lebih dahsyat apa yang diklaim oleh sebagian para thaghut masa kini bahwa mereka itu mengakui syari’at Allah dan dien-Nya dan bahwa ialah yang paling afdhal, paling sempurna, paling baik dan wajib diberlakukan serta yang lainnya, terus mereka menjadikan bagi mereka wewenang pembuatan hukum/UU/UUD sebagaimana yang telah lalu dari UUD-UUD mereka, dan mereka mengganti hududullah dan Hukum-Hukum-Nya dengan Undang-Undang dan aturan-aturan mereka yang busuk. Mereka itu mengklaim bahwa mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada apa yang diturunkan kepada beliau dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, terus mereka menempatkan diri mereka sebagai arbab yang membuat hukun dan thaghut-thaghut yang memperhamba manusia terhadap mereka dan mengharuskan mereka untuk mengikuti aturan-aturan mereka yang bersebrangan dengan syari’at Allah dan mentaatinya serta mereka menghalangi pemberlakukan syari’at Allah. Maka perbuatan mereka ini pada bentuknya adalah perbuatan dan amalan kekafiran yang mengeluarkan dari millatu Islam, dan kita tidak mencari di dalamnya tentang i’tiqad dan istihlal.

Al Imam Ibnu Hazm berkata dalam Al Fashl 3/245 dalam penjelasan firman Allah ta’ala:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syetan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” [QS. At Taubah: 37]. Dan sesuai ketentuan bahasa yang mana Al Qur’an turun dengannya bahwa ziyadah (tambahan) dalam sesuatu itu tidak terjadi kecuali darinya bukan dari selainnya.

Sehingga sah-lah bahwa penangguhan bulan itu adalah kekafiran, sedang ia adalah tergolong perbuatan, yaitu penghalalan apa yang Allahta’ala haramkan.

Siapa yang menghalalkan apa yang telah Allah haramkan sedang dia mengetahui bahwa Allah ta’ala telah mengharamkannya, maka ia kafir dengan perbuatan itu sendiri….” Selesai.

Perhatikan ucapannya: “Sedangkan ia adalah tergolong perbuatan” dan ucapannya “siapa yang menghalalkan apa yang Allah haramkan sedang dia mengetahui bahwa Allah ta’ala telah mengharamkannya, maka ia kafir dengan perbuatan itu sendiri” maka dari mana hal itu menunjukan kepada i’tiqad.

Dan dalam hal ini ada faidah, yaitu bahwa istihlal sebagaimana ia terjadi dengan i’tiqad tanpa amalan sesekali dan dengan i’tiqad bersama amalan pada kali yang lain, maka sesungguhnya ia terjadi juga dengan sekedar amalan.[16]

Jadi i’tiqad dalam hal istihlal atau tahlil bukanlah batasan dalam kekafiran, namun ia adalah tambahan di dalamnya. Tidak ragu bahwa minum khamr atau jatuh dalam zina atau makan riba, semua ini tidak sama dengan membuat hukum untuk hal itu dengan cara menetapkan UU, kepres, dan aturan-aturan yang menggantikan hududullah atau yang memperenteng lagi mempermudah khamr dan zina atau yang melegalkan lagi membolehkan riddah dan riba dengan disertai penjagaan hal itu, perlindungannya, kesepakatan, persekongkolan atasnya dan kemufakatannya sebagai sistem bagi pemerintahan. Yang pertama adalah hal yang dikatakan saat berbicara tentang takfir, apakah ia menganggap halal atau tidak, karena ia adalah dosa-dosa yang tidak mengkafirkan.

Adapun yang ke dua, maka ia adalah kekafiran tasyri’, tahlil dan tahrim, dan di dalamnya tidak usah menghiraukan keyakinan walaupun pelakunya bersumpah sejuta kali bahwa ia tidak menganggap halal, kami katakan kepadanya:

لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Jangan kalian mencari-cari alasan, sebab kalian telah kafir.” [QS. At Taubah: 66] dan Allah telah mendustakan kalian dan menamakan iman kalian yang kalian klaim sebagai pengakuan.

Karena sungguh perbedaan yang sangat-sangat besar antara orang yang ber-mu’amalah riba seraya merasa berdosa sembari mengharap kenikmatan dunia dengan orang yang melegalkan riba bagi manusia, dia membuatkan Undang-Undang untuknya, dia melindungi yayasan-yayasan dan bersepakat dan bermufakat terhadapnya.

Dan juga perbedaan yang besar antara orang yang minum khamr seraya merasa berdosa dengan orang yang melegalkan meminumnya bagi manusia, dia memberi izin bar-bar untuk menjualnya, melindunginya, serta mengganti had Allah dalam khamr dengan hukum-hukum dan Undang-Undang yang rendah.

Dan perbedaan besar juga antara orang yang berzina seraya merasa berdosa karena lebih mementingkan kehinaan dengan orang yang mengganti had zina dan melegalkan pelacuran dengan Undang-Undang yang menjadikan zina sebagai pidana saja pada haq suami dan ditanyanya dan bila suami ridla maka tidak ada pidana dan sanksi, namun ia boleh menurut mereka…[17]

Tasyri’ (pembuatan hukum/UU/UUD) dan tahrimul halal atau tahlilul haram sebagaimana yang telah engkau pahami adalah perbuatan kekafiran murni dan bukan seperti dosa-dosa lain yang disyaratkan di dalamnya keyakinan penganggapan halal, dan terkadang ditambahkan kepadanya i’tiqad, sehingga menjadi kufur murakkab dan tambahan dalam kekafiran, dan ia itu bukan batasan atau syarat bagi kekufuran di sini, karena kaum musyrikin yang menghalalkan bulan-bulan haram dengan cara menukarnya dengan waktu-waktu lain, mereka itu mengetahui dan meyakini dalam benak jiwa mereka bahwa bulan-bulan haram di sisi Allah adalah bulan-bulan yang pertama itu bukan yang mereka ada-adakan dan bukan yang mereka tetapkan serta bukan yang mereka ganti. Dan begitu juga inilah keyakinan Yahudi saat mereka (mengganti) had zina atau (mereka sepakat) atau (mereka kompromi) atau (mereka bersekongkol)[18] atas suatu hukum lain dari diri mereka sendiri, dan mereka itu tidak menghalalkan zina dan tidak menyatakan atas istihlal qalbiy mereka terhadap tasyri’ dan tabdil, jadi kekafiran atau sebabnya di sini adalah perbuatan tabdil atau tasyri’ atau ittifaq atau ijtima’ atau kompromi atau kemufakatan atas hukum bukan syari’at Allah ta’ala. Sama saja baik mereka mengatakan kami mengakui dalam hati kami atau mengingkari bahwa bulan-bulan yang Allah haramkan adalah yang benar atau bahwa had zina yang telah Allah turunkan ialah yang benar, atau tidak mengatakan, maka keyakinan itu tidak ada guna untuk menyebutkannya di sini kecuali dalam rangka penambahan dalam kekafiran, karena perbuatan mereka itu dengan sendirinya adalah kekafiran dan penyekutuan bersama Allah dalam hukum-Nya, sedangkan siapa yang menyekutukan dirinya bersama Allah dalam tasyri’ (pembuatan hukum) maka ia telah merampas/menggugat Allah, sedangkan para pengikutnya, ansharnya dan para penyokongnya atas itu adalah orang-orang yang beribadah kepadanya.
***

Bersambung….

[1] Bisa jadi maksud Ibnu Ma-in, shalahuddin (baik agamanya), dan bisa jadi ini shighat dari shighat-shighat tadl’if dan tamridl, karena beliau dan Imam Ahmad melakukan itu. Ibnu Hibban berkata dalam biografi Abdurrahman Ibnu Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Hanzhalah Al Anshari: Dia sering keliru dan ngawur, Ahmad dan Yahya memberikan penilaian miring tentangnya dan berkata: “Shalih”

Lihat Muqaddimah Al Fath karya Ibnu Hajar, dan lihat Al Majruhin karya Ibnu Hibban

[2]Saya berkata: dan begitu juga diriwayatkan oleh Muslim Ibnu Nashr Al Marwazi dalam Ta’dhim Qadri Ash Shalat hal 570, dan di jalan yang shahih ini ada penegasan bahwa ucapannya “dan dia tidak seperti orang yang kafir terhadap Allah …..” adalah mudraj (disisipkan) dari ucapan Ibnu Thawus, dan ia bukan dari ucapan Ibnu Abbas sebagaimana yang terkadang dipahami dari zhahir riwayat (Sufyan dari Mu’ammar) yang mujmal pada Ath Thabariy, maka riwayat unu menjadi penjelas baginya. Ini seandainya riwayat itu shahih, karena memang sebagian ahlul hadits telah mendlaifkannya berdasarkan ‘an’anah Sufyan, karena ia tertuduh tadlis.

[3]Dan ia diambil dan diringkas dari bantahan Asy Syaikh Abu Ayyub Ibnu Nur Al Barqawy terhadap orang yang menshahihkan lafazh ini, saya ingin menguraikan di sini sebagai tambahan faidah bagi pencari Al Haq dan saya tidak terlalu banyak menisbatkan dalam patokan terhadap pentadl’ifan atsar ini, karena sudah ma’lum bagi saya bahwa maknanya tsabit dari sebagian salaf, namun penisbatan saya hanyalah pada apa yang datang sesudah ini.

[4] Tatkala Kitab Tahkim dibawakan terhadap orang-orang dan didengar oleh Urwah Ibnu Hudair saudara Abu Bilal, maka dia berkata: Apakah dalam dienullah kalian angkat orang-orang sebagai pemberi putusan (Tidak ada putusan kecuali milik Allah) dan ia mengayunkan pedangnya terus dia menebas tunggangan orang yang membaca kitab itu, dan itu adalah awal kemunculan Khawarij.

Lihat Al Farqu Bainal Firaq dalam penuturan Al Muhakkimah Al Ula, dan Al Bidayah Wan Nihayah 7/278…. dan yang lainnya.

[5] Karena sesungguhnya banyak dari salaf seperti Al Imam Ahmad, saat mereka berbicara tentang firman Allah ta’ala: “Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44) mereka menukil apa yang masyhur seputar ayat ini berupa ucapan sahabat dan tabi’in dan mereka menafsirkannya dengan ungkapan-ungkapan itu, karena mereka mengetahui manath (tempat ruang lingkup penerapan) yang mana ungkapan-ungkapan itu dikatakan di dalamnya, terus mereka mengakui ungkapan-ungkapan itu dan memberikan bukti dengannya pada manathnya atau yang serupa dengannya, maka tidak halal menukil ucapan-ucapan mereka dan isytisyhadnya pada selain manathnya, karena itu adalah dusta atas nama mereka dan penisbatan terhadap mereka apa yang tidak pernah mereka katakan, kecuali dengan dalil dari ucapan mereka yang menunjukkan bahwa mereka itu dari pemahaman-pemahaman yang sakit ini, namun demikian tidak ada yang ma’shum setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian bila terjadi hak seperti itu dari salah seorang di antara mereka, maka kami akan mengatakan: “setiap orang diambil dan ditolak dari ucapannya kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

[6] Materi ini adalah ayat 51 dari UUD Kuwait, dan saudaranya yang tidak syar’i UUD Mesir no. 86 dan dengan lafazh: “Majelis rakyat memegang kekuasaan legislatif”, dan saudaranya dalam UUD Yordania no. 25 dan dengan lafazh: “Kekuasaan legislatif dipegang oleh Majelis Rakyat dan Raja…” Ini tergolong apa yang ada di tangan saya saat ini berupa UUD mereka, dan siapa yang ingin tambahan silakan merujuknya.

[7] Nash qath’iy dilalah adalah nash yang menunjukkan kepada makna tertentu yang dia pahami darinya dan tidak mengandung takwil dan tidak ada peluang untuk memahami makna lainnya darinya, sedangkan zhanniy dilalah adalah nash yang menunjukkan kepada suatu makna namun ada kemungkinan untuk ditakwil dan dipalingkan dari makna ini serta dimaksudkan darinya makna yang lain.

[8] Dan untuk makna seperti ini Abu Mijlaz telah mengisyaratkan dalam ucapannya tentang syari’at Allah: “Ia adalah dien mereka yang mereka amalkan.” Dalam munadlarahnya bersama Khawarij seraya mengisyaratkan kepada para penguasa zamannya yang tidak membuat dien (hukum/UU) selain dienullah, dan mereka tidak mengganti dan tidak pula menetapkan undang-undang, namun muncul dari mereka sebagian kesalahan yang mana Khawarij ingin mengkafirkan mereka dengannya. Dan silakan atsar-atsar dalam hakl itu ditafsir firman-Nya Ta’aalaa: “Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan….” (Al Maidah: 44) dari tafsir Ath Thabariy dan Ta’liqat Mahmud Syakir terhadapnya.

[9] Dikecualikan ucapan shahabiy “dalam sebab nuzul” karena hukumnya adalah hukum rafa’ (marfu’)

Dan serupa dengan setiap apa yang tidak mungkin diucapkan dari sisi pendapat, sebagaimana yang ma’lum, tapi disyaratkan shahabiy itu bukan tergolong orang yang banyak meriwayatkan dari Bani Israil.

[10] Dan ini dekat dengan pembagian gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah akan dua macam al hukmu bi ghairi maa anzalallahu dalam Minhajus Sunnah 5/131 pada firman-Nya Ta’aalaa:

“Demi Tuhanmu, mereka itu tidak beriman sehingga mereka menjadikanmu hakim dalam apa yang mereka perselisihkan” di mana beliau berkata: siapa yang tidak iltizam (konsisten) mengacu kepada Allah dan Rasul-Nya dalam apa yang mereka perselisihkan, maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya bahwa dia itu tidak beriman).

Dan berkata juga: (Dan siapa yang tidak iltizam hukum Allah dan Rasul-Nya maka ia kafir). (Dan adapun orang yang iltizam dengan hukum Allah dan Rasul-Nya lahir batin, namun dia maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, maka dia sama seperti orang-orang seperti dia dari kalangan ahli maksiat). Selesai.

[11] Dan ia adalah hal yang mana Khawarij dan Murji-ah masa kini ngawur di dalamnya.

[12]Dan ini adalah isyarat terhadap juhud, istihlal dan yang lainnya.

[13] Hal 383 Terbitan Universitas Ummul Qura

[14] Dan ini adalah hal yang bersumpah terhadapnya anggota Parlemen syirik dan para menteri dalam sumpah setia kepada UUD yang syirik yang mereka lakukan sebelum memegang jabatan.

Lihat ayat 91 dan 126 dari UUD Kuwait dan ayat 43, 79 dan UUD Yordania.

[15] “’Inad dan tafdlil” adalah kata-kata yang dipermainkan Murji-atul ‘Ashri untuk melariskan keislaman para thaghut pembuat hukum saat mereka terang-terangan menyatakan dalam waktu yang mana mereka memerangi dien dan merobohkannya dengan segenap sarana dan cara yang mereka mampu di dalamnya, mereka mengatakan: “Tidak ragu bahwa hukum Allah adalah yang paling utama dan kami berharap bisa memberlakukannya, dan kalian berdoalah buat kami dan bantulah kami.” Dan talbis-talbis mereka lainnya yang diwahyukan (dibisikkan) kepada mereka oleh syaithan-syaithan jin dan manusia dari kalangan para penasehat (mustasyar) thaghut yang mengetahui benar kepandiran dan kedunguan Murji-ah masa kini yang tampil untuk dakwah dan sebagai du’at, karena mayoritas para penasehat thaghut itu seandainya engkau menelusuri sejarah mereka tentulah engkau dapatkan mereka itu memiliki akar/latar belakang bersama jama’ah-jama’ah irja ini, dan tidak ada yang menghantarkan mereka kepada jabatan-jabatan mereka ini kecuali madzhab irja dan istihsan serta istihlah (penilaian maslahat) jama’ah-jama’ahnya. Dan saya bertanya tentang gambaran realita yang kita rasakan, langsung saja, demi Allah Tuhan kalian, apakah di sana ada yang lebih besar ‘inad, dan sikap pemerangannya terhadap dien ini dan syari’at-Nya, serta lebih pengutamaannya akan hukum thaghut terhadap syari’at-Nya daripada orang yang mengetahui dan mengenal serta terang-terangan menyatakan bahwa dia mengetahui dan mengenal bahwa hukum Allah dan syari’at-syari’at-Nya lebih utama dari hukum thaghut, namun bersama pengetahuan dia dan penegasannya ini, dia tidak memilih kecuali hukum thaghut dan syari’atnya, dan ia bukanlah sekedar pilihan yang bersifat pribadi murni, namun dia justru mengharuskan manusia untuk mengikutinya dan masuk di dalamnya serta memberi hukuman kepada orang yang meninggalkannya dan melanggar batasan-batasannya, disertai pelanggaran dia terhadap batasan-batasan Allah siang malam, pelegalannya dan ajakannya bahkan perintahnya kepada manusia untuk melanggarnya dengan pintu-pintu dan berbagai sarana. Bila hal seperti ini bukan i’nad maka di dunia ini seluruhnya tidak ada i’nad, oleh sebab itu engkau akan melihat dari ucapan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab setelah ini bahwa beliau memvonis i’nad terhadap orang yang meninggalkan tauhid setelah mengetahuinya dan beliau menjadikan dia seperti Fir’aun dan iblis, maka bagaimana gerangan dengan orang yang memerangi tauhid dan berupaya untuk menghancurkannya, padahal dia menegaskan akan pengetahuannya, sehingga orang yang meninggalkan inti tauhid bisa saja kafir mu’ridl (yang berpaling) atau a’lim mu’anid, sedangkan mu’anid itu tidak mesti muharib dalam semua kondisinya, namun di sana ada mu’anid muharib (yang memerangi) dan di sana ada mu’anid (yang berpaling lagi komit dengan kebalikannya), dan tidak ragu bahwa para thaghut itu tergolong mu’anidin muharibin demi Tuhan Ka’bah, serta hal ini tidak samar kecuali atas orang-orang buta. Dan begitu juga tafdlil dengan lisan, dan ia lebih nyata dengan perbuatan, sedangkan tafdlil itu tidak lain adalah memilih suatu yang lebih utama, mengikutinya dan memegangnya.

[16] Dan tergolong bab ini pemilahan ahlul ‘ilmi antara orang yang berzina dengan mahramnya wal’iyadzu billah dengan orang yang menikahi salah seorang mahramnya, di mana dia melakukan akad nikah terhadapnya, silakan rujuk Tahdzibul Atsar karya Ath Thabariy 3/441, Zadul Ma’ad dan yang lainnya, di mana mereka menuturkan dalam hal ini apa yang diriwayatkan Al Imam Ahmad, At Tirmidzi, Abu Dawud, An Nasa’i dan yang lainnya, dan ia adalah shahih dari Al Bara’ bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim paman Al Bara’ kepada laki-laki yang menikahi (mantan) istri bapaknya (ibu tirinya) untuk membunuhnya,” dan dalam riwayat dari Mu’awiyah Ibnu Qurrah dari bapaknya (bahwa beliau membagi lima hartanya)… maka ini menunjukkan bahwa dia dibunuh sebagai orang kafir, sedang semua riwayat menuturkan bahwa mereka meggusur dia keluar dan memenggal lehernya dan mereka tidak menanyakannya, apakah dia menikahinya seraya meyakini kehalalan hal itu atau tidak meyakini…. sehingga sahlah bahwa istihlal itu bisa berbentuk amalan.

[17] Untuk mengenal contoh-contoh atas hal itu dalam undang-undang mereka yang busuk, silakan rujuk kitab kami “Kasyfu Niqab ‘An Syari’atil Ghab”.

[18] Ini adalah kata-kata yang mana sebab kekafiran dikaitkan dengan dalam hadits-hadits yang datang tentang urusan kaum Yahudi dan kekafiran mereka karena sebab mengganti hukum Allah, dan ia adalah manath (sebab) vonis dengan kekafiran, serta dalam hadits-hadits itu tidak ada penuturan akan i’tiqad atau juhud atau istihlal, silakan rujuk hadits-hadits itu dan hafallah supaya dengannya engkau membungkam mulut-mulut Murji-atul ‘Ashr.

Dan persis seperti ini adalah apa yang diisyaratkan oleh Syaikh Abdul Majid Asy Syadziliy dalam “Haddul Islam Wa Haqiqatul Iman” hal: 428 dalam kata-kata yang disifati di dalamnya orang yang menjadikan alim ulama dan para rahib sebagai arbab, dan dia sekutukan mereka bersama Allah dalam tahlil dan tahrim, pada jalan-jalan hadits ‘Addiy, di mana disebutkan: “maka mereka mengikutinya” maka mereka menurutinya. “Kalian mengambil ucapan mereka” “maka mereka mengharamkannya dan menghalalkannya” dan yang serupa dengannya, dan tidak ada dalam satu riwayatpun “maka mereka meyakini bahwa ia halal” namun yang dimaksud hanyalah komitmen mereka terhadap tahrim dan tahlil mereka, kompromi dan bermufakat atasnya dan menjadikannya sebagai undang-undang dan hukum.

Karena kompromi, bermufakat dan bersepakat terhadap suatu aturan selain aturan Allah serta komitmen dengannya walau dalam satu had atau satu hukum adalah berbeda dengan sekedar taat kepada pembuat hukum atau kepada yang lainnya dalam maksiat terhadap Allah walaupun itu berbilang, dan yang disebutkan di dalamnya batasan istihlal atau i’tiqad, keduanya adalah dua amalan yang berbeda yang mana Murji-atul ‘Ashri ngawur di dalamnya. Dan bisa jadi mereka itu beralasan dengan sebagian ucapan Syaikhul Islam yang mana beliau menetapkan di dalamnya syarat itu dalam kekafiran orang-orang yang mengikuti para pembuat hukum dalam maksiat-maksiat saja dan ini adalah haq (benar) tidak ada keraguan di dalamnya, akan tetapi ia adalah hal di luar kemufakatan dan kesepakatan atas suatu hukum atau had atau ajaran selain ajaran Allah yang dilakukan oleh Yahudi dan mereka kafir dengannya tanpa penyebutan i’tiqad, dan ia adalah yang dipraktekkan oleh para thaghut dan budak-budaknya hari ini. Adapun orang yang meyakini tahrim apa yang diharamkan oleh para pembuat hukum, maka ia itu musyrik kafir baik ia komitmen dengannya ataupun tidak, sedang ini tidak ada kaitannya dengan materi kita. Dan perlu diingat bahwa perincian beliau 7/70 adalah tentang status para pengikut bukan orang-orang yang diikuti, dan bahasan ini telah kami paparkan dalam tulisan kami “Ar Risalah Ats Tsalatsiniyyah tentang tahdzir dari Akhthaa-uttakfir”, itu dikarenakan orang yang taat kepada musyarri’ tidak mesti dia itu mengikuti produk hukumnya lagi bermufakat terhadapnya serta komitmen dengannya dalam setiap keadaan, namun terkadang dia ditaati oleh sebagian ahli maksiat dalam maksiat kepada Allah saja, maka perbuatan mereka itu bukan kekafiran kecuali disertai istihlal, sehingga wajib melakukan rincian dalam status para pengikut karena adanya keadaan-keadaan seperti ini dan karena adanya ihtimal. Adapun para pembuat hukum yang menjadikan dirinya sebagai tandingan bagi Allah, terus mereka memberikan kepada diri mereka dan yang lainnya dari kalangan anggota dewan/majelis suatu hak khusus dari hak-hak khusus ketuhanan (tasyri’/penetapan hukum), sehingga tergolong kebodohan sebagaimana yang telah lalu menempatkan rincian itu terhadap orang-orang macam mereka, apakah mereka menganggap halal atau meyakini!?

Ketahuilah sesungguhnya para thaghut itu telah mengumpulkan antara dua kekafiran besar, mereka sebagai pembuat hukum dan dalam waktu yang sama mereka juga sebagai pengikut para pembuat hukum internasional, mereka bermufakat dan bersepakat terhadap hukum/ajaran-ajarannya serta berkumpul bersama mereka di atasnya… sungguh mereka telah mengumpulkan kekafiran di atas kekafiran dan kegelapan satu sama lain di atas yang lainnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: