Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » THORIQUNA menghadirkan risalah terbaru dari Daar Al Kholwah #Jihad Melawan Hawa Nafsu# Al Akhi Zubair as Sundie

THORIQUNA menghadirkan risalah terbaru dari Daar Al Kholwah #Jihad Melawan Hawa Nafsu# Al Akhi Zubair as Sundie


Jihad Melawan Hawa Nafsu

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘alamiin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Imamul Mujahidin Nabi akhir zaman Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para shahabatnya serta orang-orang yang mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.

Pembahasan tentang hakikat jiwa itu amatlah penting khususnya, khususnya bagi seorang mujahid. Karena dari jiwalah benih benih yg rusak akan menjalar keseluruh anggota tubuh dan yang pertama kali terkena adalah Qalbu.

Oleh karenanya Rasulullah selalu meminta kepada Allah agar terlindung dari kejahatan jiwa :

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا

“Sesungguhnya pujian itu milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, dan memohon ampunan dari-Nya, serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami.”

Adapun riwayat yang selalu kita dengar tentang jihad melawan hawa nafsu lebih besar, itu bukanlah Ucapan Rasulullah.
Sebagaimana di sebutkan “kita kembali dari jihad kecil (perang melawan orang kafir) menuju jihad yang besar (yaitu) melawan hawa nafsu”.
Syaikhul Islam berkata “laa ashlalahu (tidak ada asalnya),dan tidak seorangpun dari ahli ma’rifah (orang orang yang punya pengetahuan) terhadap ucapan ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan perbuatannya meriwayatkannya. Dan Jihad (melawan) orang kafir adalah termasuk amalan paling agung bahkan seutama utama yang seorang insan bertathawu’ dengannya” [1].

Dan asal hadits di atas adalah hanya ucapan Ibrahim bin Abi ‘Ublah sebagaimana dalam biografi beliau dalam[2]. Al Ajluni berkata” ia (hadits ini) adalah masyur pada lisan lisan manusia dan ia adalah dari ucapan Ibrahim bin Abi ‘ublah dalam al Kuna karya An Nasa’i”[3]. Dan hadits ini di dhoifkan oleh Sheikh Albani bahkan memvonis hadits ini sebagai hadits “munkar”[4].

Bahkan ini menyelisihi firman allah :

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ´uzur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” (QS. An Nisa : 95)
Firman_Nya :

كُتِبَ عَلَيْكُمُالْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS : 216)
Bahkan Ummahatul Mu’minien ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha ingin ikut berjihad di karenakan keutamaan jihad[5] dan masih banyak nash dari alQuran dan sunnah mengenai keutamaan jihad dan mujahidin.

Lalu sejauh manakah kita harus mengetahui hakikat Jihad melawan Nafs (jiwa) kita? Karena tidak dapat kita pungkiri ini merupakan perkara penting yang akan melengkapi dan mempengaruhi seorang mujahid ketika berada di front ataupun sendiri, juga berpangaruh terhadap dirinya maupun sekitarnya. Karena segala sesuatunya baik atau buruk atas dorongan jiwa.
Allah Jalla wa ‘Ala membagi jiwa manusia menjadi 3 sifat, yaitu

1. Jiwa Muthma’innah (jiwa yang tenang)
sebagaimana firman Nya :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةًمَّرْضِيَّةً

“Hai jiwa yang tenang,Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya” (QS. Al Fajr : 27-28)

Nafsul Muthma’innah yaitu jiwa yang tenang menuju Allah dengan senantiasa berdzikir kepada_Nya, merindukan pertemuan dengan_Nya. Jiwa yang beruntung, yang diberi kabar gembira ketika wafatnya.
Syaikh Sayyid Qutb brkata “ini adalah kelemah lembutan yang menyenangkan ruh ruh ahli jannah sejak panggilan pertama “HAI JIWA YANG TENANG” terhadap Rabbnya. Yang tenang menempuh jalan Nya dan tenang terhadap Qodar Nya. Juga tenang di waktu senang dan susah, di waktu lapang dan di waktu sempit, di waktu terhalang dan di waktu mendapatkan pemberian. Tenang tanpa ragu, jiwa yang tenang tanpa menyimpang. Tanpa bergoncang di jalan, dan tanpa merasa takut pada hari yang menakutkan dan mengerikan. Selanjutnya ayat ayat tersebut mencurahkan nuansa keamanan, keridloan,kepuasan dan ketenangan.”[6]
Jiwa seorang mukmin merasa tenang dengan apa yang Allah janjikan dan membenarkannya. Jiwa yang tunduk kepada Alloh saja, mentauhidkan Nya, yakin bahwa Allah adalah Rabbnya. Hatinya tunduk kepada perintah Nya dan taat kepada Nya serta yakin dengan perjumpaan denganNya.
Jiwa yang merasa tentram bersama Allah dalam ibadah, dalam keta’atan, dalam berdzikir kepada Nya serta tenang dengan kecintaan dengan Nya. Tetap dalam keadaan ini sampai Allah memanggilnya dengan penuh kelemah lembutan.

2. Jiwa Lawwamah (jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri).

Jalla wa ‘Ala berfirman :

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al Qiyamah : 2)
Mujahid berkata : “yaitu jiwa yang menyesali atas apa yang terlewatkan darinya dan mencela dirinya”. Hasan al Bashri berkata : “tidak seorangpun dari penduduk langit dan bumi melainkan mencela dirinya sendiri di hari kiamat”. Sedangkan ibnu Jarir berkat : “semua pendapat ini berdekatan maknanya dan yang paling cocok dengan zhohir ayat adalah jiwa yang mencela dirinya sendiri atas kebaikan dan keburukannya serta menyesali kebaikan kebaikan yang luput darinya.
Inilah jiwa lawwamah, yang sadar, yang menjaga diri, selalu merasa takut, yang berhati hati dan selalu memperhatikan sekelilingnya, dan menjadi jelas baginya hakikat hawa nafsunya serta waspada terhadap tipu dayanya. Maka inilah jiwa yang mulia menurut pandangan Allah, sehingga di sebut Nya bersama dengan menyebut hari kiamat.[6]

3. Jiwa La amaratu bis suu.
Allah ‘Azza wa Jall berfirman :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Qs. Yusuf 53).

Jiwa yang memerintahkan untuk mengikuti apa yang di inginkan, yang melenceng dan mengikuti kebathilan. Maka jiwa semacam inilah sarang kejelakan karena ammarah di sini maknanya selalu memerintah.
Maksudnya telah menjadi kebiasaan dan adatnya karena sifat kebodohan dan kezhaliman yang ada padanya. Ia terus seperti itu kecuali yang di rahmati Allah. Kalaulah bukan karena rahmat Allah maka tidak satu jiwapun akan suci dari sifat sifat tercela ini.

Dan jika jiwa ini telah menguasai qalbu berarti qalbu dalam bahaya yang sangat besar dan mengkhawatirkan. Oleh karena itu, sangat di perlukan upaya pengobatanya. Apalagi jiwa ini berhasil menguasai qalbu seorang Mujahid dalam perjalanan jihadnya. Wal’iyadzubillah.

Karena ketika jiwa ini telah menguasai kita maka tanpa di sadari atau tidak di sinilah letak awal kekalahan kita. Karena musuh terbesar yang tersembunyi itu bisa jadi adalah jiwa kita sendiri. Barang siapa mampu menguasai atau mengalahkan jiwanya, maka dia akan mudah dan mampu mengalahkan musuhnya.

Sudah kita ketahui dan fahami medan jihad adalah medan yang sangat berat, tempat di tempanya hati dan jiwa seorang mukmin dalam rangka mendekatkan diri kepada Rabbnya. Sejauh mana kita mengenali sifat yang ada pada jiwa kita. Berada di manakah jiwa kita.
Jadi hendaknya seorang mujahid memiliki dan sampai pada jiwa muthma’innah, karena inilah adalah jiwa para penuntut ridlo allah berakhir dengan menundukkan jiwa mereka.

Karena jiwa mengajak untuk melampaui batas dan mengutamakan kehidupan dunia. Mungkin di awal keberangkatan untuk beramal (berjihad) kita mampu mengalahkan jiwa kita. Tapi dalam perjalanannya tidak sedikit dari mujahidin ketika dia menjadi mathlubin (dpo) atau ketika tertangkap, jiwa mereka mendominasinya. Sehingga berguguranlah mereka entah itu mundur dari jalan ini atau berbalik memusuhi mujahidin baik langsung ataupun tidak langsung.

Ketika kita berada dalam jiwa lawwamah, senantiasa membuat kita waspada terhadap tipu daya jiwa. Berkata Hasan al Bashri “engkau tidak akan menjumpai seorang mukmin melainkan dia akan introspeksi dirinya “wahai jiwaku, apa yg hendak kau lakukan? Wahai jiwaku apa yang hendak kau makan, apa yang ku kehendaki dengan kata kata yang ku ucapkan? Apa yang ku inginkan merenung begini?”. Jiwa yang senantiasa sadar dan menjaga diri.

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkat : “adapun jiwa la ammaratu bis suu, kita jangan sampai terjebak olehnya. Oleh karena itu, sangat di perlukan upaya menghindarinya dan ketika kita terjebak kita harus segera mengobatinya”. Beliau jg menjelaskan bahwa pengobatanya di lakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara muhasabah dan mukhalafah. Mukhalafah artinya menentang jiwa al ammarah, tidak menuruti kemauannya. Adapun muhasabah artinya senantiasa mengintrospeksi diri.
Karena kehancuran qalbu adalah dengan tidak melakukan muhasabah dan memperturutkan kemauanya.[7]

Muhasabah terbagi dua, yaitu sebelum melakukan amalan dan setelah melakukannya.

1. Muhasabah sebelum beramal.
Hendaknya seseorang berhenti sejenak disaat awal keinginannya, tidak segera beramal sampai jelas baginya kebaikan mengamalkannya dari pada meninggalkannya. Terkhusus bagi ikhwah yang ingin melakukan Istisyhad, hendaknya sebelum beraksi untuk mengkarantina jiwanya agar tidak menguasainya. Dan apakah amalan yang akan di lakukanya karena mengharap ridlo dan balasan dari Allah ataukah menginginkan kedudukan, pujian dan berharap materi dari makhluq.
Keikhlasan dan kemantapan hati dan jiwa akan memudahkan istisyhadiyah dengan mantap dan senang. Kesuksesan terhadap individu dan beramal tidak akan tercapai kecuali salah satunya dengan muhasabah.
Hasan Al Bashri berkata : ““Sesungguhnya seorang hamba tetap dalam keadaan baik selama masih ada penasihat dari jiwanya dan muhasabah selalu menjadi pikirannya.” (-pent).

2. Muhasabah setelah beramal.
Terbagi menjadi tiga macam :
A. Muhasabah terhadap jiwa dalam hal keta’atan yang ia tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna terhadap hal Allah. Hak Allah dalam hal keta’atan ada enam, yaitu :
1. Ikhlas dalam beramal.
2. Berbuat yang terbaik untuk Allah.
3. Ittiba’ (mengikuti Rasul Nya dalam keta’atan tersebut)
4. Melaksanakan Ihsan (betul betul merasa di awasi Allah)
5. Merasakan karunia Allah.
6. Merasakan kekurangannya dalam melaksanakannya.

B. Muhasabah terhadap dirinya atas segala amalan yang di tinggalkannya lebih baik dari pada yang di kerjakannya.

C. Muhasabah terhadap amalan yang mubah atau terbiasa dilakukan, mengapa dia melakukannya?[8]

Pada praktiknya ia muhasabah terhadap amal2 yang wajib. Apabila ada kekurangan padanya dengan segera memperbaikinya. Memperhatikan larangan larangan Allah, apabila ia melangkah bersegera bertobat, istighfar serta melakukan amal shalih yang dapat menghapusnya. Selanjutnya memperhatikan hal hal yang melalaikannya, apabila dia lalai segera ia menyusulnya dengan berdzikir dan menghadapkan dirinya kepada Allah.

Muhasabah yang benar akan menghasilkan buah yang sangat di rasakan oleh jiwa yang baik. Hendaknya mujahid benar benar memperhatikan hal ini baik sebelum atau sesudah beramal. Karena inilah perjalanan yang di lakukan oleh orang orang yang mengenal Allah. Inilah yang membuat mereka putus asa dari diri mereka dan orang lain,lantas menggantungkan seluruh harapannya kepada ampunan dan rahmat Allah. Serta janji Allah bagi orang orang yang beriman.
Sukses tidaknya amalan dan cita2 kita tidak terlepas dari hal ini. Sehingga dalam perjalanan jihad ini kita tidak akan mudah terpuruk bahkan mundur karena beratnya ujian dan cobaan.
Menuju jiwa yang di ridloi Allah, agar kita di panggil oleh Nya penuh kelembutan “wahai jiwa yang muthma’innah,kembalilah kepada Rabbmu dengan hati puas lagi di ridloi”.
Agar kita terpilih di antara hambanya dalam rangka jihad di jalan Nya dan meraih cita cita kita yaitu syahid di jalan Nya. Sebagaimana fiman Nya : “… dan agar sebagian kamu di jadikan Nya syuhada” (QS. Ali Imran : 140)

Wallahu Ta’ala A’lam Bishshawab.

اللهم منزل الكتاب مجري السحابهازم الأحزاب، اهزم الصليبيينومن حالفهم من المرتدين.
اللهم اجعلهم وعتادهم غنيمة للمسلمين.
اللهم دمّرهم و زلزلهم.
اللهم أنت عضدنا وأنت نصيرنا،اللهم بك نصول وبك نجولوبك نقاتل.

الله أكبر!

ادعوا لإخوانكم المجاهدين

Doakan saudara-saudara Antum yang berjihad

بارك الله فيك

Daar al Khalwah

13 Safar 1434 H

Ikhwanukum fieddien
Al Faqir iLallah

Zubair as Sundie.

—Catatan kaki :

1. Al Fatawa 11/195,Syaikhul islam ibnu Taimiyyah.
2. Syiar ‘Alam an Nubala,
imam Adz Dzahabi. Tasdiqul Qaus, alhafizh Ibnu Hajar.
3. Kasyful Khafa’ : 1/434-435.
4. Silsilah Hadits Dhoif no 2460, Nasirudin AlBani.
5. Shohih Bukhori “kami melihat jihad adalah sebaik baik amalan.
6. Tafsir surat Al Fajr, fi zhilalil quran Sayyid Qutb.
7. Tafsir surat Al Qiyamah, fi zhilalil Quran.
8. Ighosatul Lahfan, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: