Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » FAKTOR KEBODOHAN & PENGARUHNYA Terhadap Hukum-Hukum Keyakinan (Bagian 2)

FAKTOR KEBODOHAN & PENGARUHNYA Terhadap Hukum-Hukum Keyakinan (Bagian 2)


 PASAL KEDUA

Keterbuktian Pemilahan Antara Masail Dhahirah Dengan Masaail Khafiyyah Menurut Para Ulama Dan Permasalahan Yang Tergabung Di Dalamnya

Muqaddimah Pasal

Sesungguhnya di sana ada hal penting yang mana penelantarannya menyebabkan kesamaran dan ketidakjelasan pada banyak orang yang mengkaji masalah ini di dalam bidang riset dan penelitian, yaitu bahwa para ulama telah sepakat bahwa pengudzuran dengan sebab kejahilan itu berbeda-beda tergantung permasalahan-permasalahannya, di mana mereka membedakan antara masail dhahirah yang mana tidak ada udzur bagi mukallaf dalam kejahilan terhadapnya, dengan masail khafiyyah yang terjadi di bawah bab Al Udzru Bil Jahli. Dan para ulama itu mengungkapkan tentang permasalahan-permasalahan ini dengan ungkapan-ungkapan yang beragam yang kembali semuanya kepada satu makna:

Ungkapan-Ungkapan Para Ulama Tentang Masalah-Masalah Ini:

Masaail Dhahirah dan Masaail Khafiyyah,[1] masalah-masalah yang kejahilan terhadapnya lapang bagi mukallaf yang mana mereka menamakannya sebagai ilmu kalangan khusus dan masalah-masalah yang kejahilan terhadapnya tidak lapang bagi mukallaf[2] yang mana mereka menamakannya sebagai ilmu kalangan umum, masalah-masalah yang mana pemilik syari’at mentolerir dalam kejahilan terhadapnya[3] dan masalah-masalah yang mana pemilik syari’at tidak mentolerir dalam kejahilan terhadapnya, masalah-masalah yang tergolong ushuluddien dan masalah lain yang biasa disebut dengan masalah-masalah furu’,[4] masalah-masalah yang mana kejahilan di dalamnya layak menjadi udzur bagi mukallaf dan masalah-masalah yang mana kejahilan di dalamnya tidak layak menjadi udzur,[5] masalah-masalah qath’iy yang diketahui dari dien ini secara pasti,[6] dan masalah-masalah yang tidak diketahui dari dien secara pasti, kejahilan yang tidak dianggap sebagai udzur sedang hal itu adalah di dalam masalah-masalah yang jelas tidak ada rukhshah bagi siapapun dalam kejahilan terhadapnya dan kejahilan dalam tempat-tempat ijtihad pada masalah-masalah yang tidak masyhur,[7] hal-hal yang dhahirah yang barangsiapa tidak merealisasikannya maka ia itu mendustakan Allah dan rasul-rasul-Nya dan masalah-masalah yang samar dalil-dalilnya,[8] kekeliruan dalam ilmu hukum-hukum dan kekeliruan dalam ilmu tauhid, kekeliruan yang diampuni sedang palakunya mendapatkan pahala dan kekeliruan kekafiran sedangan pelakunya mendapatkan dosa,[9] masail dhahirah yang mana hujjah ditegakkan di dalamnya dengan Kitabullah dan sampainya, dan masail lain yang khafiyyah yang harus ada di dalamnya penegakkan hujjah dan pemberian pemahaman hujjah itu,[10] masail yang samar dalilnya atas sebagian orang dari kalangan ahli bid’ah dan masail dhahirah jahiliyyah yang diketahui dari dien ini secara pasti yang tidak ada udzur di dalamnya dengan sebab kejahilan,[11] perselisihan dalam ushul syar’iyyah yang mana seorangpun tidak diudzur di dalamnya dan perselisihan dalam masail far’iyyah,[12] juga penyelisihan dalam ashlul Islam di mana vonisnya adalah kekafiran dan penyelisihan dalam selain ashl (pokok) ini.[13]

Jangan seorangpun mengira bahwa masalah-masalah ini adalah muthlaq lagi tidak ada batasan-batasan bakunya (dlawabith) atau hudud (rambu-rambu) yang dengannya diketahui dan dibatasi macam permasalahan-permasalahan yang disebutkan ini, karena para ulama telah menjelaskan hakikat masalah ini dan hal-hal yang masuk di dalam setiap macamnya.

Tema Pertama

Dlawabith (Batasan-Batasan Baku) Yang Dengannya Para Ulama Menentukan Masalah-Masalah Yang Mana Kejahilan Dianggap Sebagai Udzur Di Dalamnya Dan Yang Tidak Dianggap Sebagai Udzur:

Para ulama telah membatasi masail yang mana orang jahil diudzur di dalamnya dan masail yang mana orang jahil tidak diudzur di dalamnya dengan dlawabith pemilahan di antara dua macam itu, dan mereka telah menyebutkan hal-hal yang masuk dalam ruang lingkup dua macam masalah ini, dan kami telah menelusuri penegasan para ulama perihal dlawabith ini, dan kami merangkumnya sebagaimana berikut ini:

Pertama: Dlawabith Masaail Dhahirah yang mana kejahilan tidak dianggap sebagai udzur di dalamnya.

  1. Sesungguhnya ia adalah masail yang diketahui dari dien ini secara pasti yang mana orang mukallaf yang berakal tidak boleh mengetahuinya.
  2. Sesunggguhnya ia adalah permasalahan-permasalahan yang mana dalil di dalamnya adalah muhkam yang tidak masuk di dalamnya syubhat dan takwil.
  3. Sesungguhnya ia adalah masail ijma’iyyah (masalah-masalah yang diijmakan) yang ada secara nash di dalam Kitabullah ‘azza wa jalla dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang saling disampaikan oleh para penganut Islam, kalangan awam mereka dari kalangan khusus mereka, dan tidak masuk di dalamnya kesalahan atau kesamara atau takwil
  4. Sesungguhnya ia adalah masalah-masalah yang tidak sulit bagi orang mukallaf melenyapkan kejahilan terhadapnya dari dirinya, karena Allah telah mengutus para rasul-Nya dengan membawanya kepada makhluk-Nya, dan dikarenakan ia adalah termasuk pilar-pilar dien ini dan ushulnya yang diketahui oleh kalangan umum dan kalangan khusus dari kaum muslimin bahwa ia itu termasuk bagian dien mereka, di mana ia itu nampak lagi jelas.

Kedua: Dlawabith Masaail Khafiyyah yang mana kejahilan dianggap sebagai udzur di dalamnya.

  1. Masail yang tidak diketahui secara pasti dari dien ini karena kesamarannya dan ketidakmasyhurannya, di mana ia itu termasuk ilmu kalangan khusus, bukan termasuk ilmu kalangan umum.
  2. Kejahilan terhadapnya adalah muncul dari syubhat yang disandarkan kepada Al kitab den As Sunnah, oleh sebab itu terjadi kesalahan dan takwil.
  3. Sulit bagi mukallaf melenyapkan kejahilan dari dirinya, karena kesamarannya dan karena adanya pertentangan di dalamnya di antara Ahlus Sunnah dari kalangan salaf dengan selain mereka.[14]

Tema Kedua

Hal-Hal Yang Tergolong Masaail Dhahirah

(1) Tauhid uluhiyyah yang biasa dinamakan dengan tauhidul ibadah, tauhidul qashdi dan tauhidul ‘amaliy. Dan ia adalah yang karenanya Allah mengutus para rasul dan dengannya Dia menurunkan kitab-kitab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“وعبادة الله وحده هي أصل الدين، وهو التوحيد الذي بعث الله به الرسل وأنزل به الكتب، فقال تعالى: (وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رُّسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِن دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ) [الزخرف: 45]“

Peribadatan kepada Allah saja adalah ashluddien, dan ia ialah tauhid yang dengannya Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Allah ta’ala berkata: “Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?” (Az Zukhruf: 45).[15]

Dan juga termasuk dalam masail dhahirah ini tauhid rububiyyah.

(2) Dan masuk dalam masail dhahirah juga perasalahan-permasalahan syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam, seperti syirik peribadatan kepada kuburan dan pemalingan ibadah kepada selain Allah seperti doa dan nadzar, dan hal itu telah ditegaskan sebagai bagian dari syirik akbar oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al Imam Asy Syaukani dalam Ad Durrun Nadlid, Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan, Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab, Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Alu Asy Syaikh dan yang lainnya”

(3) Masail ma’lumah minaddien bidldlarurah (masalah-masalah yang diketahui dari dien ini secara pasti, atau apa yang dinamakan dengan “syara’i dhahirah mutawatirah”: seperti shalat lima waktu, zakat, haji, shaum, pengharaman fawahisy, zina dan khamr, atau apa yang dinamakan dengan ma’lum minaddien bidldlarurah, maka tidak ada udzur dengan sebab kejahilan juga di dalam macam ini kecuali orang yang baru masuk Islam atau orang yang hidup di pedalaman yang jauh, maka diudzur karena sebab tidak sampai (hujjah) dan tidak adanya kesempatan untuk belajar bukan karena sebab sekedar kejahilan, karena kejahilan bila ada kesempatan untuk belajar adalah bukan udzur di dalam masalah-masalah ini.

Para ulama memandang bahwa hal yang masyhur tersebar dari permasalahan furu’ dan syiar-syiar Islam yang lainnya yang mana mayoritas manusia mengetahuinya secara bersama-sama, maka klaim ketidaktahuan di dalamnya tidak diterima, dan dalam hal ini As Suyuthi rahimahullah berkata:

“كل من جهل تحريم شيء مما يشترك فيه غالب الناس، لم يقبل إلا أن يكون قريب عهد بالإسلام، أو نشأ ببادية بعيدة عن العلماء ويخفى فيها مثل ذلك: كتحريم الزنا، والقتل، والسرقة، والخمر، والكلام في الصلاة، والأكل في الصوم، وقتل من شهد على غيره بارتكاب جريمة القتل فقُتِل، فإذا رجع الشاهد عن شهادته، وقال مع الشاهد الآخر: تعمدنا الكذب، ولم نعلم أنه –أي المشهود عليه- يقتل بشهادتنا؛ لأن ذلك لا يخفى على عوام الناس”

“Setiap orang yang tidak mengetahui pengharaman sesuatu yang diketahui secara bersama-sama oleh mayoritas manusia adalah tidak diterima  (klaimnya) kecuali bila dia itu baru masuk atau hidup di pedalaman yang jauh dari ulama dan samar di dalamnya hal semacam itu, seperti pengharaman zina, membunuh, mencuri, khamr, berbicara di dalam shalat, makan di saat shaum, membunuh orang yang bersaksi atas orang lain bahwa ia melakukan pembunuhan terus si tertuduh dibunuh kemudian bila saksi rujuk dari kesaksiannya dan ia berkata bersama saksi yang lain: “Kami sengaja berbohong dan kami tidak mengetahui bahwa orang yang tertuduh itu dibunuh dengan kesaksian kami” karena hal itu tersamar atas orang-orang awam”.[16]

Dan berkata: Al Imam Zainuddien Ibnu Rajab Al Hanbaliy:

“إذا زنا من نشأ في دار الإسلام بين المسلمين، وادعى الجهل بتحريم الزنا لم يقبل قوله، لأن ظاهر الحال يكذبه، وإن كان الأصل عدم علمه بذلك”

“Bila berzina orang yang tumbuh di Darul Islam di tengah kaum muslimin dan dia mengklaim tidak mengetahui pengharaman zina, maka ucapannya tidak diterima, karena realita keadaan mendustakannya, walaupun hukum asalnya adalah dia tidak mengetahui hal itu.”[17]

Al Imam An Nawawiy rahimahullah berkata seraya membedakan antara orang-orang yang menolak bayar zakat pada zaman shahabat dengan selain mereka dari kalangan yang menolak bayar zakat di zamannya, beliau berkata: “Kemudian bila dikatakan: Bagaimana engkau menta’wil urusan kelompok yang menolak bayar zakat sesuai dengan status yang engkau anut dan engkau menjadikan mereka sebagai ahlul baghiy? Dan apakah bila satu kelompok dari kaum muslimin pada zaman kita ini mengingkari kewajiban zakat, dan menolak dari menunaikannya, apakah status mereka itu sama dengan status ahlul baghiy? Maka kami katakan: Tidak sama, karena sesungguhnya orang yang mengingkari kewajiban zakat pada zaman-zaman ini adalah kafir berdasarkan ijma kaum muslimin, sedangkan perbedaan antara mereka ini dengan mereka itu adalah bahwa mereka itu diudzur dengan sebab-sebab dan hal-hal yang tidak ada keserupaannya di zaman ini:

– Dekatnya zaman dengan zaman pensyari’atan yang terjadi di dalamnya penggantian hukum dengan nasakh.

– Dan juga sesungguhnya orang-orang itu adalah jahil terhadap urusan-urusan dien dan baru masuk Islam sehingga syubhat itu masuk pada diri mereka makanya mereka diudzur. Adapun hari ini maka dienul Islam telah menyebar dan telah masyhur di tengah kaum muslimin pengetahuan perihal kewajiban zakat itu sampai orang khusus dan orang umumpun telah mengetahuinya dan berserikat di dalam pengetahuan terhadapnya antara orang ‘alim dan orang jahil, sehingga seorangpun tidak diudzur dengan ta’wilnya dalam pengingkaran terhadapnya”.[18]

Asy Syaukani rahimahullah berkata: “Maka orang yang meninggalkan shalat dari kalangan masyarakat adalah kafir, dan berstatus kafir juga orang yang mengerjakannya sedang dia tidak cakap dari menunaikan dzikir-dzikir dan rukun-rukunnya yang mana shalat tidak sah kecuali dengannya, karena ia meninggalkan hal fardhu yang tergolong kefardhuan yang paling penting terhadapnya dan hal wajib yang tergolong kewajiban  paling ditekankan, sedangkan dia tidak mengetahui hal yang mana shalat tidak sah kecuali dengannya, padahal dia memiliki kesempatan (untuk belajar) dan adanya orang yang mengajari dia perihal shalat ini.”[19]

Tema Ketiga

Hal-Hal Yang Tergolong Masaail Khafiyyah

Adapun masail khafiyyah yang di dalamnya harus ada penegakkan hujjah, penjelasan dan pemberian pemahaman, maka tergolong di dalamnya banyak hal yang di antaranya:

(1)   Masail Asma dan Shifat Allah. Dan perihal ini Al Imam Asy Syafi’iy berkata:

“لله أسماء وصفات لا يسع أحد ردها، ومن خالف بعد ثبوت الحجة عليه فقد كفر، وأما قبل قيام الحجة فإنه يعذر بالجهل؛ لأن علم ذلك لا يدرك بالعقل، ولا الرَّوُيَّة والفكر، فنثبت هذه الصفات وننفي عنه التشبيه كما نفاه عن نفسه، فقال: (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ) [الشورى: 11]“

“Bagi Allah Asma dan Shifat yang seorangpun tidak menolaknya. Barangsiapa menyelisihi setelah hujjah tegak terhadapnya maka dia kafir, dan adapun sebelum tegak hujjah maka sesungguhnya dia itu diudzur dengan sebab kejahilan, karena pengetahuan terhadap hal itu tidak didapatkan dengan akal, pengamatan dan pikiran, maka kita menetapkan shifat ini dan kita meniadakan tasybih (penyerupaan) dari Allah sebagaimana dia telah meniadakannya dari diri-Nya, di mana Dia berfirman: “Dia tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Asy Syuura: 11).[20]

(2)     Keyakinan-keyakinan berbagai firqah yang menyelisihi keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan yang menyelisihi nash-nash syar’iy, seperti masalah-masalah yang terjatuh di dalamnya Murji’ah atau firqah-firqah yang menyelishi Ahlussunnah dalam hal Shifat dan Iman, dan yang dinamakan oleh sebagian ulama sebagai Masail Nadhariyyah (permasalahan teoritis) atau masail pertentangan Ahlussunnah dengan firqah-firqah yang menyelisihi.

Dan dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

“والتحقيق في هذا: أن القول قد يكون كفراً كمقالات الجهمية الذين قالوا: إن الله لا يتكلم، ولا يُرى في الآخرة، ولكن قد يخفى على بعض الناس أنه كفر، فيطلق القول بتكفي[ر القائل، كما قال السلف: من قال: القرآن مخلوق فهو كافر، ومن قال إن الله لا يرى في الآخرة فهو كافر ولا يكفر الشخص المعين حتى تقوم عليه الحجة كما تقدم”

“Dan kesimpulan yang benar dalam hal ini adalah bahwa ucapan itu bisa jadi merupakan kekafiran seperti pernyataan-pernyataan Jahmiyyah yang menyatakan bahwa Allah itu tidak berbicara dan tidak dilihat di akhirat, akan tetapi kadang samar atas sebagian manusia bahwa ia itu kekafiran, maka dilakukan takfier muthlaq terhadap orang yang mengatakannya, sebagaimana ucapan salaf: Barangsiapa mengatakan Al Qur’an itu makhluk maka dia kafir dan barangsiapa mengatakan bahwa Allah tidak dilihat di akhirat maka dia kafir, akan tetapi orang mu’ayyan tidak dikafirkan sampai hujjah tegak terhadapnya sebagaimana yang sudah lalu.[21]

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di tengah pembicaraannya tentang jalan-jalan ahli bid’ah yang sepakat di atas ashlul Islam akan tetapi mereka menyelisihi dalam sebagian ushul seperti Khawarij, Mu’tazillah, dan Murji’ah:

“فهؤلاء أقسام أحدها: الجاهل المقلد الذي لا بصيرة له، فهذا لا يكفر ولا يفسق ولا ترد شهادته، إذ لم يكن قادراً على تعلم الهدى”

“Mereka itu ada beberapa macam, pertama: orang jahil yang taqlid lagi tidak memiliki bashirah, maka orang ini tidak divonis kafir dan fasiq dan juga tidak ditolak kesaksiannya bila dia tidak mampu untuk mempelajari petunjuk”.[22]

Teks-teks ucapan ini berbicara tentang ahli bid’ah yang sepakat di atas ashlul Islam yang menyelishi dalam sebagian ushul i’tiqadiyyah (keyakinan) yang dianggap sebagai bagian masail khafiyyah yang mana orang jahil terhadapnya atau yang mengingkarinya tidak dikafirkan sampai hujjah ditegakkan kepadanya, seperti Mu’tazillah yang menyelisihi dalam penetapan syafa’at, shirath dan haudl (telaga) dan mereka menetapkan iradah (keinginan) bagi si hamba dalam menciptakan perbuatan-perbuatannya, dan hal selain itu dari masalah-masalah yang disebutkan para ulama bahwa ia termasuk maqalat khafiyyah (keyakinan-keyakinan yang samar).

(3)   Masalah-masalah furu’ yang ilmunya tidak masyhur di kalangan umum dan bukan tergolong hal yang ma’lum minaddien bidldlarurah

Dalam hal ini Al Imam An Nawawi berkata: “Dan begitulah urusannya pada setiap orang yang mengingkari sesuatu dari hal yang sudah diijmakan dari urusan-urusan dien ini, bila pengetahuannya telah menyebar seperti shalat yang lima waktu, shaum ramadlan, mandi janabah, pengharaman zina, khamr dan menikahi mahram dan hukum-hukum lainnya, kecuali dia itu orang yang baru masuk Islam dan belum mengetahui batasan-batasannya, sesungguhnya bila dia itu mengingkari sesuatu darinya karena kebodohan terhadapnya maka dia tidak kafir, dan statusnya adalah sama dengan status orang-orang itu dalam status tetap keislamannya. Dan adapun suatu yang diijmakan itu hanya diketahui lewat kalangan orang-orang khusus saja seperti pengharaman memadu wanita dengan bibinya (baik dari pihak bapak maupun ibu) dan bahwa pembunuh secara sengaja itu tidak mendapatkan warisan dan bahwa nenek itu mendapat seperenam warisan serta hukum-hukum yang serupa itu, maka sesungguhnya orang yang mengingkarinya adalah tidak kafir, akan tetapi dia diudzur di dalamnya karena pengetahuan tentangnya tidak menyebar di kalangan umum”.[23]

Tema Keempat

Penuturan Ungkapan Para Ulama Dan Madzhab-Madzhab Mereka Dalam Menjelaskan Keterbuktian Pemilahan Antara Masaail Dhahirah Dengan Masaail Khafiyyah Dalam Pengudzuran Dengan Sebab Kejahilan

Bisa saja orang mengatakan: Dari mana kalian memilah antara masail dhahirah dengan masail khafiyyah dalam masalah pengudzuran? Maka kami katakan dengan memohon pertolongan Allah: Sesungguhnya pemilahan ini ada dalam pernyataan banyak ulama.

  • Ungkapan para ulama madzhab Hanafi dalam pemilahan antara masail dhahirah dengan masail khafiyyah dalam hal pengudzuran dengan sebab kejahilan:

(1) Al Imam Abu Hanifah dalam riwayat Abu Yusuf Ya’qub Ibnu Ibrahim darinya berkata:

“لا عذر لأحد في جهله معرفة خالقه؛ لأن الواجب على جميع الخلق معرفة الرب –سبحانه وتعالى- وتوحيده، لما يرى من خلق السماوات والأرض، وسائر ما خلق الله، فأما الفرائض فمن لم يعلمها ولم تبلغه فإن هذا لم تقم عليه حجة حكمية”

“Tidak ada udzur bagi seorangpun dalam kejahilannya terhadap ma’rifah tentang Khaliq-nya karena hal yang wajib atas semua makhluk adalah mengenal Rabb-nya Subhanahu Wa Ta’ala, dan mentauhidkan-Nya karena apa yang dia lihat berupa penciptaan langit dan bumi serta ciptaan Allah lainnya. Dan adapun faraidl maka barangsiapa tidak mengetahuinya dan belum sampai kepadanya, maka sesungguhnya orang ini belum tegak hujjah hukmiyyah terhadapnya.”[24]

(2) Syaikh Mulla Ali Al Qariy Imam madzhab Abi Hanifah di zamannya berkata: “Kemudian ketahuilah bahwa bila dia mengucapkan ucapan kekafiran seraya mengetahui kandungannya dan tidak meyakini maknanya namun ucapan itu muncul darinya tanpa ikrah (paksaan) akan tetapi atas dasar kerelaan dalam melontarkannya, maka dia itu dihukumi kafir, berdasarkan pendapat yang dipilih menurut sebagian mereka bahwa iman itu adalah gabungan tashdiq dan iqrar,[25] sehingga dengan pelontaran ucapan kekafiran itu maka iqrar terganti dengan pengingkaran. Adapun bila dia melontarkan ucapan itu sedang dia tidak mengetahui bahwa ia itu ucapan kekafiran, maka di dalam Fatawa Qadli Khan ada penghikayatan perselisihan tanpa pentarjihan, di mana ia berkata: Dikatakan bahwa dia itu tidak kafir karena diudzur dengan sebab kejahilan, dan dikatakan pula bahwa dia itu kafir dan tidak diudzur dengan sebab kejahilan. Saya katakan: dan yang paling nampak adalah yang pertama kecuali bila hal itu tergolong suatu yang diketahui dari dien ini secara pasti (ma’lum minaddien bidldlarurah) maka dia itu kalau demikian adalah kafir dan tidak diudzur dengan sebab kejahilan.”[26]

(3) Syaikh Ali Al Qariy berkata dalam konteks pembicaraannya tentang ushuluddien: “Dan ia itu dikarenakan bahwa batasan ushuluddien itu adalah ilmu yang membahas di dalamnya tentang apa yang wajib diyakini, dan ia itu ada dua macam:

  1. Macam yang mana kejahilan terhadapnya mencoreng keimanan: seperti ma’rifatullah ta’ala dan Shifat-Nya yang tsubutiyyah dan yang salbiyyah, kerasulan dan urusan akhirat.
  2. Dan macam yang mana kejahilan terhadapnya tidak membahayakan, seperti menganggap lebih utama para nabi atas para malaikat, di mana As Subkiy telah menuturkannya dalam suatu tulisannya bahwa seandainya orang hidup sepanjang umurnya dan tidak terbesit di dalam benaknya pengunggulan para nabi atas  malaikat tentu Allah tidak menanyakan hal itu kepadanya”.[27]

(4) Syaikh Mulla Ali Al Qariy juga berkata seraya menjelaskan pemilahan yang telah kami ketengahkan kepadamu batasan-batasan ini: Al Qadli ‘Iyadl berkata: Dan begitu juga kaum muslimin telah ijma atas pengkafiran orang yang menghalalkan pembunuhan orang muslim, yaitu secara dhalim, atau minum khamr yaitu secara sukarela, atau zina dan begitu juga riba dan riya atau hal-hal lainnya yang diharamkan Allah setelah dia mengetahui pengharamannya, dan di dalamnya ada isyarat bahwa kejahilannya adalah udzur, dan bisa jadi ini adalah berkaitan dengan orang yang baru masuk Islam atau baru baligh, karena mengingkari suatu yang diketahui dari dien ini secara pasti adalah kekafiran secara ijma.”[28]

(5) Syaikh Mulla Ali Al Qariy berkata dalam mensyarah ungkapan ini: “Dan yang dimaksud dengan daqaiq (rincian) ilmu tauhid adalah hal-hal yang mana keraguan dan syubhat di dalamnya adalah menafikan keimanan dan membatalkan keyakinan terhadap Dzat Allah ta’ala dan Shifat-Nya serta (membatalkan) pengetahuan cara orang yang beriman kepada-Nya terhadap keadaan-keadaan akhiratnya. Kemudian tawaqquf pada sebagian hukum adalah tidak menafikan keimanan, karena hukum-hukum itu termasuk Syari’at Islam, di mana perselisihan dalam ilmu hukum itu adalah rahmat[29] sedangkan perselisihan dalam ilmu tauhid adalah kesesatan dan bid’ah, dan juga kesalahan dalam ilmu hukum adalah diampuni, bahkan pelakunya dapat pahala, berbeda halnya dengan kesalahan dalam ilmu kalam, maka sesungguhnya ia itu kekafiran dan dosa dan pelakunya dapat dosa.”[30]

Dan yang dimaksud dengan ucapan beliau rahimahullah: “dan kesalahan dalam ilmu kalam” adalah ilmu tauhid, karena beliau berkata dalam definisi ilmu kalam: “adalah ilmu tentang keyakinan-keyakinan agama dengan dalil-dalil yang bersifat yaqin”.[31] Di mana telah berjalan kebiasaan para ulama di zamannya dalam menamakan ilmu aqaid dan tauhid dengan ilmu kalam, dan penulis (Ali Al Qariy) adalah tergolong orang yang paling sering mencela ilmu kalam, di mana beliau telah berkata tentang ilmu kalam yang tercela yang dijadikan sebagai pijakan jalan untuk men-tahrif (menyelewengkan) makna-makna Al Kitab dan As Sunnah, serta menjadikan akal sebagai pengendali nushush syar’iyyah, beliau berkata tentang macam ilmu kalam ini: “Apa engkau tidak memperhatikan bahwa syaithan itu bila ingin melenyapkan keimanan seorang hamba kepada Rabb-nya, maka sesungguhnya dia tidak melenyapkannya darinya kecuali dengan menaburkan keyakinan-keyakinan yang bathil di hatinya, dan di antaranya adalah pembicaraan dalam ilmu kalam dan malah meninggalkan ilmu terhadap hukum-hukum Islam yang diambil dari Al Kitab dan As Sunnah,” dan di antara yang memperjelas maksud penulis adalah ucapannya: “Dan di antaranya bahwa berkata dengan berlandaskan pikiran dan akal yang kosong dari fiqh dan syari’at adalah bid’ah dan kesesatan, maka lebih bid’ah dan sesat lagi bila hal itu dilakukan dalam ilmu tauhid dan Shifat.”[32]

(6) Dan beliau berkata juga dan kontek pernyataannya tentang ahli kiblat dan definisi mereka: “Kemudian ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan ahli kiblat adalah orang-orang yang sepakat di atas hal-hal yang tergolong dlaruriyyat dien (pokok-pokok dien ini) seperti hudutsul ‘alam (bahwa alam itu diciptakan), penggiringan jasad untuk dibangkitkan, pengetahuan Allah terhadap hal-hal global dan segala rincian, serta permasalahan-permasalahan yang serupa itu. Barangsiapa sepanjang umurnya mengkomitmeni ketaatan dan ibadat namun ia itu meyakini bahwa alam itu qadim atau ia menafikan hari kebangkitan atau menafikan ilmu (pengetahuan) Allah terhadap rincian-rincian sesuatu (juziyyat), maka dia itu bukan termasuk ahli kiblat. Dan bahwa yang dimaksud dengan tidak boleh mentakfier seorangpun dari ahli kiblat menurut Ahlussunnah: Adalah tidak boleh dikafirkan selagi tidak ditemukan sesuatupun dari tanda-tanda kekafiran dan ciri-cirinya, dan tidak muncul darinya sesuatupun dari hal-hal yang mengharuskan vonisnya. Kemudian bila engkau telah mengetahui hal itu maka ketahuilah bahwa ahli kiblat itu sepakat atas apa yang telah kami utarakan berupa ushul aqidah, namun mereka berselisih pada ushul yang lain, seperti masalah Shifat, penciptaan perbuatan, keumuman iradah, qidamul kalam, kebolehan melihat Allah dan hal-hal serupa itu yang tidak dipertentangkan bahwa kebenaran di dalamnya adalah satu.

Dan mereka berselisih juga apakah orang yang menyelisihi kebenaran di dalam keyakinan dan pendapat semacam tadi itu dikafirkan ataukah tidak? Maka madzhab Asy’ariy dan mayoritas pengikutnya mengatakan bahwa ia itu tidak kafir, dan perkataan Asy Syafi’iy rahimahullah memberikan isyarat kepada pendapat ini: Saya tidak menolak kesaksian ahlul ahwa kecuali Khaththabiyyah, karena mereka itu menghalalkan dusta.”[33]

Syaikh ini di dalam ungkapannya yang telah kami nukil itu sebagaimana yang engkau lihat, membedakan antara hal-hal yang tergolong dlaruriyyat dien yang ma’lumah minaddien bidldlarurah, seperti hari kebangkitan, ilmu Allah ta’ala terhadap segala sesuatu dan peribadatan kepada Allah saja lagi tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan masalah-masalah lainnya “yaitu masail khafiyyah” seperti: permasalahan melihat Allah, baqaul a’radl dan hal-hal samar lainnya, maka tercegah sesuai ungkapan penulis pengkafiran orang-orang yang melakukan takwil dengan sesuatu darinya. Dan dengan hal itu nyatalah di hadapan kita pemilahan-pemilahan para ulama itu antara masail yang terjadi di dalamnya pentakwilan para penganut firqah-firqah dan madzhab-madzhab yang sepakat di atas ashlul Islam yaitu tauhid, dengan yang lainnya berupa masail dhahirah yang diketahui dari dien ini secara pasti yang mana takwil di dalamnya tidak diterima dan tidak diudzur dengannya.

  • Ucapan ulama madzhab Syafi’iy dan Maliki perihal pemilahan antara masail dhahirah dengan masail khafiyyah dalam pengudzuran dengan sebab kejahilan.

(7) Al Imam Asy Syafi’iy berkata: “Ilmu itu ada dua: Ilmu kalangan umum yang tidak boleh tidak diketahui oleh seorangpun yang akalnya masih sehat dan ia berkata: Dan seperti apa? Saya berkata: Seperti shalat lima waktu, dan bahwa Allah telah mewajibkan shaum bulan Ramadlan atas manusia, haji ke Baitullah bila mereka mampu, zakat pada harta mereka, dan bahwa Allah telah mengharamkan atas mereka zina, pembunuhan, pencurian dan khamr, dan hal yang semakna dengan ini yang telah Allah wajibkan atas para hamba untuk memahaminya, mengamalkannya dan memberikannya dari diri dan harta mereka, dan untuk mereka menahan diri darinya dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Dan macam ilmu ini semuanya ada secara nash di dalam Kitabullah dan ada secara merata di tengah umat Islam, orang-orang awam mereka menukilnya dari para pendahulunya juga dari kalangan orang-orang awam mereka, mereka menghikayatkannya dari Rasulullah dan mereka tidak berselisih dalam penghikayatannya dan dalam pengwajibannya atas mereka. Ilmu ini yang mana tidak mungkin terjadi di dalamnya kekeliruan dalam berita dan tidak mungkin juga terjadi takwil, dan tidak boleh berselisih di dalamnya. Ia berkata: Maka apa macam ilmu yang kedua? Maka saya berkata kepadanya: Apa yang dibebankan kepada hamba berupa furu’ faraidl dan hukum-hukum yang khusus baginya serta yang lainnya yang di dalamnya tidak ada penegasan Al Kitab dan tidak ada pada mayoritasanya penegasan As Sunnah, bila ada di dalam sesuatu darinya, maka ia itu hanya tergolong berita-berita dari orang-orang khusus bukan berita-berita dari orang-orang umum.”[34]

Sepertinya ucapan Asy Syafi’iy rahimahullah ini sangat jelas menerangkan bahwa di sana ada hal-hal dari ilmu yang tidak boleh bagi seorang muslim pun untuk tidak mengetahuinya selagi akalnya masih normal. Bila saja Al Imam Asy Syafi’iy telah menganggap shalat yang lima waktu dan hal-hal yang difardhukan itu sebagai bagian dari ilmu yang tidak mungkin terjadi kekeliruan bersama khabar di dalamnya dan begitu juga tidak mungkin terjadi takwil dikarenakan umat telah ijma terhadap faraidl ini, maka sesungguhnya tauhid adalah lebih utama lagi untuk digolongkan di dalamnya, karena tauhid adalah tergolong faraidl yang paling besar dan dengannya kitab-kitab diturunkan dan para rasul diutus.

(8) Ucapan Al Imam Al Qarafiy Al Malikiy: Al Imam Al Qarafiy berkata tentang doa-doa kaum shufiyyah yang di dalamnya terdapat ucapan-ucapan yang merupakan kemusyrikan dan kekafiran yang mengeluarkan dari agama Islam: Dan ketahuilah bahwa kebodohan terhadap apa yang diakibatkan oleh doa-doa ini bukanlah udzur di sisi Allah, karena kaidah syar’iyyah telah menunjukan bahwa setiap suatu yang mana orang mukallaf bisa melenyapkannya, maka ia itu tidak menjadi hujjah bagi orang jahil di sisi Allah”, kemudian berkata: “Ya, kejahilan yang tidak mungkin dihindari menurut kebiasaan adalah menjadi udzur, umpamanya seandainya orang menikahi saudarinya seraya mengiranya wanita ajnabiyyah, dan pangkal kerusakan yang masuk terhadap orang di dalam doa-doa ini adalah kejahilan, maka hati-hatilah darinya dan ambisilah untuk mencari ilmu, karena ia adalah keselamatan, dan waspadalah terhadap kebodohan karena dialah kesesatan…”[35]

(9) Dan perincian ucapan ini dari kitab yang istimewa “Al Furuq” milik Imam Al Qarafiy dan catatan-catatan pinggirannya, penjelasannya adalah sebagaimana berikut:

Al Imam Al Qarafiy berkata: “Dan ketahuilah bahwa kejahilan itu ada dua macam:

Macam pertama: kejahilan yang diberikan kelapangan oleh Pemilik syari’at ini di mana Dia memaafkan orangnya, sedangkan batasan bakunya adalah bahwa segala yang sulit menghindar darinya secara kebiasaan, maka ia itu dimaafkan.

Macam kedua: kejahilan yang tidak diberikan kelapangan oleh Pemilik syari’at ini di mana Dia tidak memaafkan orang yang melakukannya, sedangkan batasan bakunya adalah bahwa segala yang tidak sulit dan tidak susah menghindar darinya adalah tidak dimaafkan. Dan macam ini berlaku secara baku di dalam ushuluddien dan ushul fiqhi serta sebagian macam furu’. Adapun ushuluddien, maka dikarenakan Pemilik syari’at ini tatkala memperketat sekali di dalam seluruh keyakinan-keyakinan, sehingga seandainya orang mengerahkan kemampuannya dan mencurahkan segenap upayanya untuk melenyapkan kejahilan dari dirinya perihal satu Shifat dari Shifat-Shifat Allah atau perihal sesuatu dari ushuluddien yang wajib diyakini, terus kejahilan itu tidak lenyap, tentulah dia dengan meninggalkan keyakinan itu menjadi dosa lagi kafir lagi kekal dalam neraka, menurut pendapat yang masyhur dari madzhab-madzhab itu.”[36]

(10) Al Imam Al Qarafiy berkata dalam kitabnya “Al Furuq” dalam konteks pembicaraannya tentang sebagian doa-doa yang muncul dari orang-orang shufi yang jahil yang di dalamnya terdapat kekafiran dan kemusyrikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam sedangkan ia tidak mengetahui apa yang diakibatkan oleh doa-doa ini, beliau berkata: “dan ketahuilah bahwa kejahilan terhadap apa yang diakibatkan oleh doa-doa ini bukanlah udzur bagi si orang yang berdoa di sisi Allah ta’ala, karena kaidah syar’iyyah telah menunjukan bahwa setiap kejahilan yang bisa dilenyapkan oleh orang mukallaf adalah tidak bisa menjadi hujjah bagi orang jahil, karena Allah ta’ala telah mengutus para rasul-Nya kepada makhluk-Nya dengan risalah-risalah-Nya dan Dia mewajibkan atas mereka semua untuk mengetahuinya terus mengamalkannya, sehingga ilmu dan amal itu adalah wajib, kemudian barangsiapa meninggalkan belajar dan beramal kemudian dia tetap dalam kondisi jahil, maka dia itu telah maksiat kepada Allah dengan dua maksiat karena ia meninggalkan dua kewajiban, dan bila mengetahui tapi tidak mengamalkannya maka dia telah maksiat dengan satu maksiat dengan sebab meninggalkan amal itu, dan barangsiapa mengetahui dan mengamalkan maka dia telah selamat….” sampai beliau berkata di akhir pebicaraannya seraya menjelaskan bahwa di sana ada macam kejahilan lain yang sulit menolaknya atas orang mukallaf, yaitu hal yang mana orang jahil diudzur di dalamnya, di mana beliau berkata: “Ya, kejahilan yang tidak mungkin dihindari menurut kebiasaan adalah menjadi udzur, umpamanya seandainya orang menikahi saudarinya seraya mengiranya wanita ajnabiyyah, atau meminum khamr yang ia kira cuka, atau memakan makanan yang najis yang ia kira suci lagi mubah, maka kejahilan-kejahilan ini diudzur dengan sebabnya; karena seandainya di syaratkan keyakinan penuh di dalam hal-hal semacam ini dan yang serupa dengannya, tentu dirasa berat oleh orang-orang mukallaf, maka mereka itu diudzur dengan hal itu….”

Al Imam Ibnu Asy Syath di dalam kitabnya “Tahdzibul Furuq” telah mengakui kaidah yang agung ini di dalam pemilahan antara masail yang ada pengudzuran di dalamnya dengan masail yang tidak ada pengudzuran di dalamnya, dan beliau menyetujui Al Imam Al Qarafiy Al Malikiy atas hal itu dan mengomentari dengan ucapannya: “Berkata: Dan ketahuilah bahwa kejahilan terhadap apa yang diakibatkan oleh doa-doa ini….” saya berkata: (Ucapan ini milik Abnu Asy Syath): Apa yang dikatakannya di dalam pasal ini semuanya adalah benar, kecuali apa yag dikatakannya bahwa hukum asal pada doa itu adalah pengharaman, dan pengambilan dalil atas hal itu dengan firman Allah ta’ala saat menghikayatkan tentang Nuh: “Sesungguhnya saya berlindung kepada Engkau dari meminta kepada-Mu apa yang saya tidak memiliki ilmu tentangnya”, maka dalam pernyataan ini ada koreksian, dan yang paling nampak bahwa hukum asal pada doa itu adalah dianjurkan kecuali apa yang dilarang oleh dalil.”[37] Selesai sesuai teks ucapannya.

(11) Al Imam Al Qarafiy Al Malikiy di bawah judul perbedaan yang kesembilan puluh empat antara kaidah suatu yang mana kejahilan bukan udzur di dalamnya, berkata: “ketahuilah bahwa Pemilik syari’at telah memberikan kelapangan pada kejahilan-kejahilan di dalam syari’at di mana Dia memaafkan pelakunya, atau memberikan sangsi dengan sebab kejahilan-kejahilan di mana Dia tidak memaafkan pelakunya, sedangkan batasan baku kejahilan yang dimaafkan itu adalah kejahilan yang biasanya sangat sulit dihindarkan, dan apa yang tidak sulit dan tidak sukar dihindari maka ia itu dimaafkan. Dan hal itu memiliki banyak contoh. Pertama: orang yang menggauli wanita lain di malam hari yang ia kira isterinya atau budaknya, maka dia dimaafkan karena penelitian hal itu adalah termasuk hal yang sukar atas manusia.” …..kemudian Al Qarafiy menuturkan contoh-contoh lain bagi orang yang meminum air najis atau khamr atau membunuh orang muslim yang ia kira kafir harbiy, dan beliau berkata setelah itu: “Dan kelimanya: Hakim memutuskan dengan para saksi palsu sedang dia tidak mengetahui keadaan mereka itu, maka dia itu tidak berdosa di dalam hal itu, karenanya sukarnya menghindari dari hal itu atas dia, dan qiyaskanlah terhadap hal itu hal yang muncul terhadapmu dari hal serupa itu; karena sukarnya menghindari dari hal itu atas dia, dan qiyaskanlah terhadap hal itu hal-hal yang muncul terhadapmu dari hal serupa itu. Sedangkan hal selain itu maka dia itu ditaklif dengannya, dan barangsiapa melakukannya bersama kejahilan maka dia itu telah berdosa terutama dalam keyakinan-keyakinan; dikarenakan sesungguhnya Pemilik syari’at ini tatkala memperketat sekali di dalam keyakinan-keyakinan ushuluddien, sehingga seandainya orang mengerahkan kemampuannya dan mencurahkan segenap upayanya untuk melenyapkan kejahilan dari dirinya perihal satu Shifat dari Shifat-Shifat Allah atau perihal sesuatu dari ushuluddien yang wajib diyakini, terus kejahilan itu tidak lenyap, tentulah dia dengan meninggalkan keyakinan itu menjadi dosa lagi kafir yang kekal di dalam neraka, menurut pendapat yang masyhur dari madzhab-madzhab itu….”[38]

Abul Qasim Ibnu Asy Syath berkata seraya mengakui ucapan yang berharga ini dalam kaidah pemilahan, dengan ucapannya: “Berkata: “Perbedaan yang kesembilan puluh empat antara kaidah suatu yang mana kejahilan bukan udzur di dalamnya dengan kaidah suatu yang mana kejahilan adalah udzur di dalamnya….” saya berkata: (ucapan ini milik Ibnu Asy Syath) Apa yang dikatakannya di dalamnya “beliau maksudkan Al Qarafiy di dalam ucapannya yang lalu yang tadi dinukil di atas” adalah benar, selain pemuthlaqkan beliau terhadap kata dhann (mengira) pada penggaulan wanita ajnabiyyah dan masalah yang bersamanya, karena sesungguhnya beliau bila memaksudkan hakikat dhann yang terbesit di benak orangnya kemungkinan kebalikannya, maka saya tidak memandang pendapat itu benar…”.[39] Selesai dari Tahdzibul Furuq milik Al Imam Abul Qasim Ibnu Asy Syath yang terkenal dengan sebutan Ibnu Asy Syath Al Maliki.

Adapun Shifat yang mana orang yang jahil terhadapnya dikafirkan oleh Al Imam Al Qarafiy, maka ia adalah Shifat yang berkaitan dengan rububiyyah yang wajib diketahui oleh setiap orang agar ia mati di atas tauhid, seperti mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Pencipta alam semesta, dan mengetahui bahwa Dia itu Hidup, berbeda dengan Shifat lain yang tidak ditetapkan kecuali dengan syari’at dan wahyu, dan yang mana pengkafiran orang yang jahil terhadapnya adalah ajang perselisihan ulama, walaupun yang rajih  (kuat) yang dipilih oleh Asy Syafi’iy dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah serta yang lainnya adalah pendapat yang tidak mengkafirkan orang yang jahil terhadapnya sebelum penegakkan hujjah terhadapnya, dan akan ada perincian hal itu dalam hukum pengkafiran orang yang jahil terhadap Shifat.[40]

(12) Kaidah ini secara panjang lebar telah dinukil oleh Ibnul Husen Al Makkiy Al Malikiy di dalam kitabnya “Al Qawa’id As Sunniyyah Fil Asrar Al Fiqhiyyah 2/163” di catatan pinggiran Al Furuq, beliau berkata: “Dan ketahuilah bahwa kejahilan itu ada dua macam: Macam Pertama: Kejahilan yang diberikan kelapangan oleh Pemilik syari’at ini di mana Dia memaafkan orangnya, sedangkan batasan bakunya adalah bahwa segala yang sulit menghindar darinya secara kebiasaan, maka ia itu dimaafkan. Dan hal itu memiliki banyak contoh, pertama: orang yang menggauli wanita lain di malam hari yang ia kira isterinya atau budaknya, maka dia dimaafkan karena penelitian hal itu adalah termasuk hal yang sukar atas manusia….” sampai berkata: “Macam Kedua: kejahilan yang tidak diberikan kelapangan oleh pemilik syari’at ini, di mana Dia tidak memaafkan orang yang melakukannya. Sedangkan batasan bakunya adalah bahwa segala yang tidak sulit dan tidak sukar menghindar darinya adalah tidak dimaafkan. Dan macam ini berlaku secara baku di dalam ushuluddien dan ushul fiqhi serta sebagian macam furu’. Adapun ushuluddien maka dikarenakan Pemilik syari’at ini tatkala memperketat sekali di dalam seluruh keyakinan-keyakinan, sehingga seandainya orang mengerahkan kemampuannya dan mencurahkan segenap upayanya untuk melenyapkan kejahilan dari dirinya perihal satu Shifat dari Shifat-Shifat Allah atau perihal sesuatu dari ushuluddien yang wajib diyakini, terus kejahilan itu tidak lenyap, tentulah dia dengan meninggalkan keyakinan itu menjadi dosa lagi kafir yang kekal di dalam neraka, menurut pendapat yang masyhur dari madzhab-madzhab itu”.[41]

(13) Al Imam Al Qarafiy menuturkan juga di dalam kitabnya “Syarh Tanqihil Fushul” ucapan yang penting perihal pemilahan yang telah jelas batasan bakunya di dalam ungkapannya yang telah lalu penukilannya, kemudian berkata setelah itu: “Oleh karena itu Allah tidak mengudzurnya dengan sebab kejahilan di dalam ushuluddien secara ijma.”[42]

Bersambung….

[1] Seperti inilah hal itu diungkapkan oleh Al Imam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al Fatawa 4/54, dan Syaikh Mujaddid Muhammad Ibnu Abdil Wahhab, Ad Durar As Saniyyah 8/244.

[2] Ini adalah ungkapan Al Imam Asy Syafi’iy dalam Ar Risalah, hal 357.

[3] Ini adalah ungkapan Syihabuddin Al Qarafi Al Maliki dalam kitab Al Furuq 2/149 – 163

[4] Ini adalah ungkapan Al Imam Ibnu Taimiyyah dalam Syarhul ‘Umdah dan dinukil darinya oleh Al Imam Abu Bithin dalam Al Intishar hal 10.

[5] Ini adalah ungkapan Syaikh Abu Zahrah dalam Ushul Fiqh, hal 277.

[6] Ini adalah ungkapan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dalam komentarnya terhadap kitab Al Bayan Al Adhhar hal 41, terbitan Al Manar.

[7] Ini adalah ungkapan Syaikh Abdul Karim Zidan dalam Al Wajiz, hal 122  – 13, terbitan Ar Risalah

[8] Ini adalah ungkapan Syaikh Bahauddien Al Maqdisiy Al Hanbali dalam Al Uddah 2/317, terbitan Dar Hira.

[9] Ini adalah ungkapan Syaikh Mula ‘Ali Al Qariy Al Hanbali dalam Syarhul Fiqhil Akbar, hal 165.

[10] Ini adalah ungkapan Al ‘Allamah Asy Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman Al Hanbali dalam Risalah Al Hukmu Takfir Mu’ayyan, hal 19.

[11] Ini adalah ungkapan Al Imam Al ‘Allamah Sulaiman Ibnu Sahman Al Hanbali dalam kitab Adl Dliya Asy Syariq, hal 170 – 172, terbitan Darul Manar tahun 1344.

[12] Ad Durar As Saniyyah 1/148 -150, terbitan Darul Ifta, Saudi.

[13] Tabdid Adhdhalam, Sulaiman Al Jabhan, hal 63 tanpa tempat cetakan.

[14] Silahkan rujuk dlawabith permasalahan yang mana orang jahil di dalamnya di udzur dan permasalahan yang mana orang jahil di dalamnya tidak diudzur: Di dalam referensi-referensi berikut ini:

  1. Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 16/200
  2. Syarhul Fiqhil Akbar 169
  3. Ar Risalah, milik Asy Syafi’iy 357 – 360
  4. Al I’lam Bi Qawathil Islam 76
  5. Al Furuq, milik Al Qarafiy 2/149 – 4/264
  6. Majmu’ Al Fatawa 4/54
  7. Al Bayan Al Adhhar 10
  8. Ad Durar As Saniyyah 10/437 – 438
  9. Risalah Takfiril Mu’ayyan 41
  10. Fatawa Wa Tanbihat, milik Ibnu Baz 136 – 142
  11. Fatawa As Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 2/190
  12. Jami Ulumil Wal Hikam 83

[15] Majmu’ Al Fatawa 3/397. Dan penting kami ingatkan bahwa pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam bab tauhid uluhiyyah itu terbagi menjadi tiga:

  1. Syirik akbar yang mengeluarkan dari millah, seperti memohon kepada selain Allah atau penyembelihan baginya dan nadzar untuknya.
  2. Syirik asghar, dan masuk di dalamnya syirik khafiy -sumpah dengan selain Allah ta’ala-.
  3. Hal-hal dan jalan-jalan yang bisa menghantarkan kepada syirik, seperti tabarruk dengan orang shalih, mantera-mantera dan azimat-azimat yang tidak disyari’atkan.

Macam yang pertama adalah masuk dalam masail dhahirah, berbeda dengan macam yang kedua dan yang ketiga di mana sebagian ulama menganggapnya tergolong hal yang diudzur dengan sebab kejahilan di dalamnya karena kesamarannya sehingga pelakunya tidak dikafirkan karena ia bukan tergolong pembatal keislaman.

Silahkan rujuk dalam macam-macam bagian ini “Fathul Majid Syarhu Kitab At tauhid” dan “Taisirul Aziz Al Hamid Syarh Kitabit Tauhid”

[16] Al Asybah Wan Nadlair milik Al Imam As Suyuthiy hal 220, terbitan Dar Ihya Al Kutub Al Arabiyyah, Kairo.

[17] Al Qawaid Fi Madzhabil Imam Ahmad, milik Ibnu Rajab hal 323, Darul Fikri Beirut.

[18] Syarh Muslim, Al Imam An Nawawiy 1/205, terbitan Mathba’ah Mishriyyah tahun 1347

[19] Ar Rasail Adz Dzahabiyyah Fi Ihya Sunnah Khairil Bariyyah yang kedua hal 29 milik Al Imam Asy Syaukani, terbitan Maktabah Ibni Taimiyyah

[20] Dinukil oleh Adz Dzahabiy dalam Al ‘Uluw Lil ‘Aliyyil Ghaffar hal 177, Ibnul Qayyim dalam Ijtima’ul Juyusy hal 59, dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bariy 13/407.

Perlu diperhatikan bahwa Shifat yang masuk dalam masaail khafiyyah adalah Shifat yang diperselisihkan antara Ahlussunnah dengan selain mereka, seperti istiwa, ‘uluw dan ru’yah, berbeda dengan Shifat yang merupakan kemestian rububiyyah seperti qudrah dan ilmu, maka Shifat ini tergolong masaail dhahirah karena keterkaitannya dengan tauhid rububiyyah. Silahkan rujuk “Tidak diudzurnya orang jahil dalam Shifat yang berkaitan dengan rububiyyah” dalam Al Furuq milik Al Qarafiy 2/149.

[21] Al Iman Al Ausath, hal 161 terbitan Al Furqan.

[22] Dinukil oleh Al Qasimi dalam Tafsirnya 5/1309

[23] Syarh Muslim milik An Nawawi 1/205

Catatan: Penting kami tambahkan seputar pembagian kepada masaail dhahirah dan khafiyyah ini bahwa pembagian ini dengan meninjau bahwa masaail dhahirah itu adalah masail yang jelas dan dalil-dalilnya juga, tidak terjadi di dalamnya kesamaran atau takwil, dan tidak terjadi di dalamnya perselisihan antara Ashlussunnah dengan selain mereka, beda halnya dengan masaail khafiyyah, di mana ia itu tidak diketahui kecuali oleh orang-orang khusus, dan telah terjadi di dalamnya perselisihan antara Ahlussunnah dengan selain mereka, dan telah keliru di dalamnya orang yang keliru dari kalangan para imam, dan tidak selamat dari kesalahan di dalamnya kecuali para ulama muhaqqiqin, dan ia itu seperti permasalahan (Iman – Shifat). Adapun keberadaan dhuhur (kenampakkan) dan khafa (kesamaran) adalah hal relatif (nisbiy) di mana ini adalah berkaitan dengan kaidah lain, yaitu kesamaran ilmu dan ketersebarannya di satu tempat ke tempat yang lain atau kaidah adanya kesempatan untuk mengetahui, dan akan datang perincian kaidah ini di pasal terpisah insya Allah.

Dan mungkin termasuk penting untuk disyaratkan secara khusus oleh kami bahwa penegasan-penegasan para ulama terhadap masail semacam ini bisa dirujuk dalam: Al intishar Li Hizbillahil Muwahhidin hal 10, Al Qarafiy dalam Al Furuq, Nadhariyyah Adl Dlarurah Asy Syar’iyyah hal 118 – 119, juga Al Furuq 2/149, Syarh Al Fiqhil Akbar hal 230, Haddul Islam hal 566, Majmu’ Ar Rasail Al mahmudiyyah hal 15 – 16, Adl Dliya Asy Syariq milik Ibnu Sahman hal 170, Majmu’ah Mu’allafat Asy Syaikh Muhammad Ibni Abdil Wahhab hal 159 – 160, juga Risalah Hukmi Takfiril Mu’ayyan hal 15, dan Syaikh Abdul Karim Zidan dalam Al Wajiz hal 118 – 119.

[24] Badius Shanai milik Al Kasaniy 9/4378, Syarhul Fiqhil Akbar milik Mulla Ali Al Qariy hal 207 terbitan Beirut.

[25] Ini adalah madzhab Murji’ah dalam Bab Iman dan akan datang nanti insya Allah koreksi terhadapnya.

[26] Syarhul Fiqhil Akbar hal 244-245

[27] Syarhul Fiqhil Akbar hal 169

[28] Syarhusy Syifa, Mulla Ali Al Qariy juz 2.

[29] “Ini tidak benar, karena rahmat itu adalah dengan ruju’ kepada Al Kitab dan As Sunnah dalam apa yang diperselisihkan.

Faidah: ini adalah faidah yang disampaikan Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah dalam komentarnya terhadap ucapan Syaikh Ali Al Qariy”

[30] Syarhul Fiqhil Akbar hal 165. (Perselisihan itu semuanya adalah tercela, baik dalam ilmu hukum maupun dalam ilmu tauhid, dan bukan seperti apa yang dituturkan oleh mushanif (penulis) rahimahullah. Begitu Syaikh Al Fauzan memberikan komentar dalam catatannya dalam kitab ini.

[31] Ibid, 169

[32] Al Fiqhul Akbar dengan Syarh Ali Al Qariy hal 10

[33] Al Fiqhul Akbar dengan Syarh Ali Al Qariy hal 230. Telah mendominasi pada diri penulis kitab itu penggunaan istilah-istilah yang biasa digunakan oleh Asya’irah dan Maturidiyyah karena beliau terpengaruhi oleh mereka, sedangkan ini adalah istilah-istilah yang baru yang tidak pernah digunakan oleh salaf. Dan semoga Allah memaafkan bagi semua.

[34] Ar Risalah milik Al Imam Asy Syafi’iy hal 357 – 360 dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, terbitan Maktabah At Turats.

[35] Al I’lam Bi Qawathi’il Islam yang dicetak bersama Az Zawajir milik Ibnu Hajar Al Hartsamiy hal 76 terbitan Asy Sya’bu.

[36] Al Furuq 2/149 dan yang sesudahnya, terbitan Beirut, dan dalam sebagian ucapan beliau rahimahullah ada yang perlu dikoreksi, yaitu ucapannya (seandainya orang mengerahkan kemampuannya dan mencurahkan segenap usahanya….) sampai akhir ucapannya, dan akan datang penjelasan yang benar dalam hal itu di pasal tersendiri dengan izin Allah.

[37] Al Furuq milik Al Qarafiy 4/264, terbitan Beirut, bersama dengan Tahdzibul Furuq milik Ibnu Asy Syath, halaman yang sama.

[38] Al Furuq milik Al Imam Al Furuq Al Malikiy 2/149 – 150, Beirut.

[39] Tahdzibul Furuq milik Al Imam Ibnu Asy Syath Al Mujtahid Al Ma’ruf 2/149 di pingiran Al Furuq.

[40] Silahkan rujuk perselisihan ulama dalam pengkafiran orang yang jahil terhadap Shifat di dalam “Diskusi Pelurusan Klaim Ijma” di pasal syubhat-syubhat yang paling masyhur di kitab ini.

[41] Al Qawaid As Sunniyyah Fil Asrar Al Fiqhiyyah milik Al Imam Al Malikiy Muhammad Ibnu Husen 2/163, pinggiran Al Furuq.

[42] Syarh Tanqihil Fushul milik Al Qarafiy hal 439, Beirut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: