Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » FAKTOR KEBODOHAN & PENGARUHNYA Terhadap Hukum-Hukum Keyakinan (Bagian 1)

FAKTOR KEBODOHAN & PENGARUHNYA Terhadap Hukum-Hukum Keyakinan (Bagian 1)


عارض الجهل
وأثره على أحكام الاعتقاد عند أهل السنة والجماعة

للشيخ

أبي العُلا بن راشد بن أبي العُلا الرّاشد

حفظه الله

FAKTOR KEBODOHAN
&
Pengaruhnya Terhadap Hukum-Hukum Keyakinan Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

 Di Susun Oleh:

Syaikh Abul ‘Ula Ibnu Rasyid Ibnu Abil ‘Ula Ar Rasyid
hafidzahullah

 Mimbar Tauhid Dan Jihad

 Alih bahasa

Abu Sulaiman Aman Abdurrahman
_________________

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MUQADDIMAH

Segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, meminta ampunan-Nya dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amalan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada seorangpun yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa sisesatkan-Nya maka tiada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak diibadati selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.(Ali Imran: 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (١)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanyaAllah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.(An Nisa: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٧٠) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (٧١)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.(Al Ahzab 70-71)

Muqaddimah ini memuat beberapa hal:

1. Nama judul riset ini:

عارض الجهل وأثره على أحكام الاعتقاد عند أهل السنة والجماعة

2. Urgensi materi ini, di mana ia itu kembali kepada beberapa hal di antaranya:

  1. Perselisihan manusia dan perpecahan mereka dalam masalah ini di samping tidak adanya batasan baku yang ditetapkan oleh para penulis di dalam permasalahan ini yang mana batasan baku itu bisa mengikatnya.
  2. Perselisihan yang terjadi di antara para penulis atau di antara orang-orang yang berbicara dalam permasalahan ini adalah ada dua kelompok:

(1) Satu kelompok yang menganggap kebodohan itu adalah udzur secara mutlak di dalam semua masalah dan di dalam semua keadaan, tanpa mempertimbangakan dlawabith (batasan-batasan) yang telah ditetapkan oleh para imam ahlus sunnah, bahkan sebagian kelompok ini berlebih-lebihan sampai menetapkan syarat-syarat yang membuat takfier mu’ayyan itu menjadi sangat mustahil dengan dalih bahwa si pelaku itu mengucapkan Laa ilaaha illallaah, sehingga mereka itu dirasuki syubhat Irja.

(2) Kelompok lain yang tidak menganggap kebodohan sebagai udzur dalam semua keadaan dan dalam semua masalah, di mana ia tergesa-gesa dan bergegas dalam mengkafirkan orang yang melakukan syirik atau kekafiran, tanpa memperhatikan dlawabith dan mawani’ (penghalang-penghalang) yang bisa menghalangi dari takfier.

  1. Mendiskusikan faktor kejahilan-kejahilan ini dan menetapkan batasan baku baginya, karena ia memiliki kaitan dengan permasalah takfier dan konsekwensi-konsekwensi serta pengaruh-pengaruhnya yang berbahaya yang dibangun di atasnya.

– Syaikhul Islam rahimahullah berkata:

“إذا تبين ذلك، فاعلم أن مسائل التكفير والتفسيق هي من مسائل الأسماء والأحكام التي يتعلق بها الوعد والوعيد في الدار الآخرة، ويتعلق بها الموالاة والمعاداة والقتل والعصمة وغير ذلك في الدار الدنيا”

“Bila hal itu sudah jelas, maka ketahuilah bahwa permasalahan takfier dan tafsiq adalah tergolong permasalah asma (nama-nama) dan ahkam yang berkaitan dengan janji dan ancaman di akhirat dan berkaitan juga dengan loyalitas, permusuhan, pembunuhan, keterjagaan, dan hal lainnya di dunia”[1]

– Syaikh Abu Bithin mufti Diyar Najdiyyah berkata saat membicarakan permasalah takfier:

“وقد استزل الشيطان أكثر الناس في هذه المسألة؛ فقصّر بطائفة فحكموا بإسلام من دلت نصوص الكتاب والسنة والإجماع على كفره، وتعدّى بآخرين فكفّروا من حكم الكتاب والسنة مع الإجماع بأنه مسلم فيا مصيبة الإسلام من هاتين الطائفتين، ومحنته من تينك البليتين”

“Dan sungguh syaitan telah menyesatkan mayoritas manusia dalam masalah ini, di mana ia telah membuat sekelompok manusia berlaku taqshir (teledor) sehingga mereka menghukumi keislaman orang yang telah divonis kafir oleh nushush Al Kitab, As Sunnah, dan Ijma, dan ia telah membuat sekelompok yang lain melapaui batas, sehingga mereka mengkafirkan orang yang telah dihukumi sebagai muslim oleh Al Kitab, As Sunnah dan Ijma. Oh, sungguh bencana bagi Islam akibat dari dua kelompok ini dan sungguh ujian baginya dari akibat dua kelompok ini.”[2]

Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Alu Asy Syaikh yang mana beliau ini tergolong ulama dakwah, berkata:

“وهذان الشيخان (ابن تيمية وابن القيم) يحكمان أن من ارتكب ما يوجب الكفر والردة والشرك يُحكم عليه بمقتضى ذلك، وبموجب ما اقترف كفراً أو شركاً أو فسقاً. إلا أن يقوم مانع شرعي يمنع من الإطلاق، وهذا له صور مخصوصة، لا يدخل فيها من عبد صنماً أو قبراً أو بشراً أو مدراً لظهور البرهان، وقيام الحجة بالرسل”

“Dua syaikh ini (Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim) memvonis orang yang melakukan kekafiran, kemurtaddan dan kemusyrikan dengan vonis yang dituntut hal itu dan dengan vonis yang dituntut oleh apa yang dia lakukan, baik itu kekafiran atau kemusyrikan atau kefasiqan, kecuali bila ada penghalang syar’iy yang menghalangi dari penyematan vonis itu, sedangkan hal ini memiliki gambaran-gambaran yang khusus yang tidak masuk di dalamnya orang yang menyembah patung atau kuburan atau orang atau bangunan karena dalil telah jelas dan hujjah sudah tegak dengan para rasul.”[3]

4. Materi ini memiliki hubungan yang erat dengan materi yang sangat urgent, yaitu (pembatal-pembatal keimanan yang bersifat ucapan dan amalan) dan pengaruh faktor kebodohan ini terhadap orang yang terjatuh atau melakukan pembatal-pembatal ini.

Orang yang mengamati keadaan dan negeri-negeri kaum muslimin tentu ia mendapatkan aneka ragam fenomena pembatal keislaman yang bersifat ucapan dan amalan, di antaranya ada yang sudah lama terjadi dan ada pula yang baru terjadi, dan tujuan kami bukanlah menuturkan semua pembatal-pembatal ini, akan tetapi kami meringkas yang paling pentingnya saja:

  1. Ibadah kepada kuburan, kubah-kubah, tempat-tempat ziarah, pohon, batu, para wali dan shalihin dengan cara berdoa kepadanya, istighatsah dan isti’anah dengannya, nadzar dan menyembelih untuknya dan thawaf di sekitarnya. Ini termasuk pembatal keislaman dengan kesepakan ulama.
  2. Menyingkirkan syari’at dari hukum dan menggantinya dengan undang-undang buatan manusia yang dengan konsekuensinya yang haram dihalalkan dan yang halal diharamkan, begitu juga hudud dan hukuman syari’at diganti dengan hukuman-hukuman buatan yang tidak diturunkan Allah. Hal ini terjadi di mayoritas negeri-negeri kaum muslimin pada hari ini. Gambaran ini adalah termasuk pembatal keimanan dengan kesepakatan ulama.
  3. Loyalitas kepada orang-orang kafir dan membantu mereka dalam memerangi kaum muslimin, juga mencintai mereka dengan kecintaan yang tulus dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dengan meninggalkan kaum mukminin dan membela mereka terhadap kaum mukminin.
  4. Memperolok-olok dan melecehkan agama dan penganutnya serta mencerca mereka lewat sarana-sarana informasi, baik itu yang dilihat, di dengar maupun yang dibaca sampai pada tahap memperolok-olok hal yang diketahui secara pasti lagi umum dari dien ini seperti surga dan neraka, hudud, hukuman, dan sangsi-sangsi syari’at serta hal lainnya yang diketahui pasti lagi umum dari dien ini, sedangkan contoh-contohnya sangat banyak.
  5. Mengingkari hal-hal yang sudah diketahui pasti lagi umum dari dien ini (maklum minaddien bidldlarurah) berupa ajaran-ajaran dan landasan-landasan pokok dien ini, dan menganggap bodoh orang yang mendakwahkannya dan yang memerintahkan manusia dengannya, sedangkan contoh-contoh atas hal itu adalah banyak.
  6. Ilhad (penyelewengan) dalam Asma dan Shifat Allah dan mengingkari sebagian shifat ini yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah atau mentakwilnya dengan pentakwilan yang mendekati pengingkarannya, seperti pengingkaran istiwa Allah di atas  Arasy-Nya dan sifat ‘Uluw-Nya di atas semua makhluk-Nya, dan yang lainnya yang mana firqah-firqah zaman dahulu telah terjatuh di dalamnya dan hal itu diikuti oleh sebagian orang-orang masa kini.[4]

Dengan merebaknya pembatal-pembatal keislaman ini dan keterjatuhan banyak manusia ke dalamnya baik individu-individu maupun kelompok yang banyak, maka sudah sewajibnya atas para du’at dan ulama untuk menjelaskan bahayanya pembatal-pembatal ini, menghati-hatikan manusia dari keterjatuhan ke dalamnya, menerangkan dalil-dalil yang menunjukan bahwa hal itu mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, serta membantah syubhat-syubhat golongan sesat yang membuat pengkaburan urusan ini di hadapan manusia atau mengecilkan bahayanya, dalam rangka pembebasan tanggung jawab bagi diri mereka di hadapan Allah dan dalam rangka menjelaskan al haq, sedangkan mereka itu sudah diambil perjanjian untuk menyampaikannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.[5]

Akan tetapi sangat disayangkan, justeru malah telah muncul dari kalangan du’at itu orang yang memandang bahwa penghati-hatian dari pembatal-pembatal ini adalah hal yang memecah belah kaum muslimin dan mencerai-beraikan persatuan mereka, di mana para du’at itu menganggap ringan status pembatal-pembatal ini padahal ia itu berbahaya, dan sebagian menganggap hanya sekedar kemungkaran biasa yang tidak berhak di namakan sebagai pembatal keislaman, dan sebagian mereka malah membela-bela orang yang melakukan pembatal-pembatal ini dengan dalih bahwa para pelaku itu mengucapkan kalimat tauhid, dan bahwa tidak mungkin mereka itu dikafirkan karena mereka itu melakukan pembatal-pembatal ini atas dasar kebodohan, tanpa mereka itu memperhatikan batasan-batasan baku yang telah ditetapkan para ulama dalam mempertimbangkan kejahilan sebagai udzur yang diterima. Sehingga akhirnya status pembatal-pembatal ini menjadi ringan di hadapan manusia karena keengganan para du’at dan ulama dari menghati-hatikan tentang bahayanya dan dari menjelaskan bahwa ia itu mengeluarkan dari Islam.

Oleh karena sebab-sebab ini maka dengan memohon pertolongan Allah ta’ala dan dengan meminta taufiq dan pelurus dari-Nya ‘Azza wa Jalla kami merasa penting untuk menulis di dalam masalah yang sangat urgent ini.

Dan penting kami katakan: Bahwa kajian ini berisi beberapa dlawabith (batasan-batasan baku) dan kaidah-kaidah penting yang menjadikannya pertengahan di antara orang-orang yang ghuluw dari dua kelompok di dalam masalah ini. Dlawabith ini adalah:

  1. Perbedaan antara masail dhahirah (permasalahan yang nampak) dengan masail khafiyyah (permasalahan yang samar) di dalam pengudzuran dengan sebab kejahilan, dan permasalahan yang tercakup di dalamnya.
  2. Pembuktian dan pembakuan masalah ushuluddien dan masalah furu’ dien ini menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah seraya membandingkannya dengan para ulama panutan lainnya.
  3. Perbedaan antara maksud yang dianggap dengan maksud yang tidak dianggap di dalam permasalah takfier, dan diskusi pelurusan syarthul qashdiy (syarat ada maksud) yang bermakna keyakinan dan niat.
  4. Perbedaan antara sifat tegak di dalam masail dhahirah dan di dalam masail khafiyyah.
  5. Perbedaan antara orang yang memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) untuk belajar dengan orang yang tidak memiliki tamakkun, dan pembakuan kaidah “ada kesempatan untuk mengetahui” dan batasan-batasannya.
  6. Pembakuan dan penetapan kaidah pengecualian orang yang baru masuk Islam (dan) orang yang hidup di pedalaman yang jauh dari keumuman tidak ada udzur dengan sebab kejahilan di dalam masail dhahirah.
  7. Pembakuan dan pembuktian perbedaan antara kufur nau’ dengan kufur mu’ayyan, dan pengkhususan para ulama panutan terhadap kaidah ini.
  8. Pembakuan dan penetapan kaidah vonis kekafiran dan keislaman, dan bahwa keduanya di sandarkan kepada hal yang dhahir (nampak).

Kajian Ini Berisi Sepuluh Pasal:

Pasal Pertama:
Berisi dua tema:

Tema pertama:
– Definisi Jahl (Kebodohan) Dan Macam-Macamnya.

Tema kedua:
– Penjelasan Makna Dalil Syar’iy Yang Merupakan Hujjah

Pasal Kedua:
Dengan judul: “Keterbuktian Pemilihan Antara Masaail Dhahirah Dengan Masaail Khafiyyah Menurut Para Ulama Panutan”.

Dan berisi beberapa tema:

Tema Pertama:
– Apa Yang Dimaksud Dengan Masaail Dhahirah.

Tema Kedua:
– Apa Yang Dimaksud Dengan Masaail Khafiyyah.

Tema Ketiga;
– Pernyataan Para Ulama Perihal Keterbuktian Pemilahan Antara Masaail Dhahirah Dengan Masaail Khafiyyah.

Tema Keempat:
– Penetapan Masalah Ushuludien Dan Furu’ Dien Ini Menurut Syaikhul Islam Seraya Membandingkannya Dengan Para Ulama Panutan Lainnya.

Pasal Ketiga:
Dengan Judul: “Diskusi Pelurusan Pensyaratan Maksud Dalam Kemunculan Maksud Atau Ucapan Kekafiran Dari Mukallaf”

Dan berisi beberapa tema:

Tema Pertama:
– Macam-Macam Maksud Dan Penjelasan Maksud Yang Mu’tabar  (Dianggap) Dan Yang Tidak Mu’tabar.

Tema Kedua:
– Dalil-Dalil Al Qur’an Yang Menunjukan Terhadap Tidak Dianggapnya Maksud Yang Bermakna Niat Dan Keyakinan.

Tema Ketiga:
– Dalil-Dalil Dari As Sunnah

Tema Kempat:
– Pernyataan-Pernyataan Ulama Panutan

Pasal Keempat:
Dengan Judul: “Perbedaan Antara Tegak Hujjah Dan Paham Hujjah Serta Sifat Tegak Hujjah Di Dalam Masaail Dhahirah Dan Masaail Khafiyyah”.

Dan berisi beberapa tema:

Tema Pertama:
– Contoh Dari Pernyataan Ulama Dalam Masalah Tegak Hujjah

Tema Kedua:
– Penegasan Ulama Dalam Menjelaskan Lafadh Hujjah.
– Kesimpulan Pasal.

Pasal Kelima:
Dengan Judul: “Kaidah Adanya Kesempatan Untuk Belajar (Perbedaan Antara Orang Yang Memiliki Tamakkun (Kesempatan/Peluang) Untuk Belajar Dan Orang Yang Tidak Memiliki Tamakkun”

Dan berisi beberapa tema:

Tema Pertama:
–      Batasan-Batasan Orang Yang Memiliki Tamakkun Dan Orang Yang Tidak Memiliki Tamakkun./

Tema Kedua:
– Nama-Nama Ulama Yang Menetapkan Kaidah Ini

Tema Ketiga:
– Pernyataan Para Ulama Dalam Menetapkan Kaidah Ini
– Kesimpulan Pasal

Pasal Keenam:
Dengan Judul: “Dalil-Dalil Dari Al Qur’an Al Karim Yang Menunjukan Terhadap Tidak Dianggapnya Kebodohan Dan Taqlid Sebagai Udzur Di Dalam Permasalahan Tauhid Bagi Orang Yang Sampai Al Qur’anul Karim Kepadanya”

Pasal Ketujuh:
Dengan Judul: “Pernyataan Para Ulama Panutan Perihal Tidak Ada Udzur Dengan Sebab Kebodohan Di Dalam Masaail Dhahirah”

Pasal Kedelapan:
Dengan Judul: “Definisi Riddah, Syarat-Syaratnya Dan Rukun-Rukunnya”

Dan berisi beberapa tema:

Tema Pertama:
–      Pernyataan Para Fuqaha Dalam Bab Riddah, Definisinya Dan Syarat-Syaratnya

Tema Kedua:
–      Kondisi-Kondisi Yang Dikecualikan Para Ulama Dalam Bab Ridah

Tema Ketiga:
Penegasan Para Ulama Panutan Perihal Tidak Dianggapnya Kebodohan Sebagai Udzur Dalam Ucapan-Ucapan Dan Perbuatan-Perbuatan Kemurtaddan Di Dalam Masalah Dhahirah.

Tema Keempat:
–      Diskusi Pelurusan Makna Istitabah

Pasal Kesembilan:
Dengan Judul “Diskusi Pelurusan Syubhat-Syubhat Paling Masyhur Yang Dijadikan Dalil Untuk Mengudzur Dengan Sebab Kebodohan Secara Umum.

Yaitu:

Tema Pertama:
1. Diskusi Pelurusan Kejadian Dzatu Anwath

Tema Kedua:
2. Diskusi Pelurusan Hadits Tentang Orang Yang Jazadnya Dibakar Menjadi Abu

Tema Ketiga:
3. Pelurusan Hadits ‘Aisyah radliyallahu ‘anha

Diskusi Keempat
4. Diskusi Pelurusan Kisah Hawariyyun

Tema Kelima:
5. Diskusi Pelurusan kisah sujud Mu’adz radliyallahu ‘anhu

Tema Keenam:
6. Diskusi Pelurusan Hadits Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu ‘anhu

Tema Ketujuh:
7. Diskusi Pelurusan kisah qawad (qishash)

Tema Kedelapan
8. Diskusi Pelurusan Klaim Ijma’

Pasal Kesepuluh:
Dengan judul: “Fatwa-Fatwa Ulama Panutan Perihal Masalah Pengudzuran Dengan Sebab Kejahilan”, dan ia itu adalah:

  1. Fatwa-Fatwa Ulama Dakwah Najdiyyah
  2. Fatwa-Fatwa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiyyah Dan Fatwa Di Saudi
  3. Fatwa-Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz Mufti Umum Negara Saudi Rahimahullah Ta’ala

Metode kami dalam kitab ini berdiri di atas riset dan penelusuran tuntas dalam setiap masalah, pentarjihan apa yang telah ditarjihkan oleh para ulama rujukan, penukilan teks-teks ucapam mereka tanpa pemotongan atau pemalingan, penukilan pemahaman mereka yang jelas terhadap nash-nash yang ada, dan tidak menepatkan teks-teks ucapan itu kepada kesimpulan-kesimpulan atau pendapat-pendapat kami yang sudah ada sebelumnya di dalam masalah ini, dan saya tidak lupa untuk mengucapkan rasa terimakasih yang bayak kepada para syaikh kami yang mulia yang telah mengrahkan kemampuan dan waktu dalam memeriksa buku ini, dan saya khususkan di antara mereka:

1. Fadlilatusy Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah (anggota Haiah Kibar Ulama Di Saudi dan anggota Lajnah Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah) atas kesediaanya untuk mengoreksi buku ini, memberi pengantar dan memberikan catatan-catatan penting, maka semoga Allah membalaskan kebaikan kepadanya.

2. Fadlilatusy Syaikh ‘Abid Ibnu Muhammad As Sufyaniy hafidzahullah (Dekan Fakultas Syari’ah Ummur Qura yang lalu) di Mekkah Al Munawarah dan sekarang sebagai guru besar fiqh dan ushul di sana, yang telah mengerahkan banyak waktunya, dan saya telah membacakan kepadanya kitab ini secara utuh kemudian beliau memberikan banyak arahan bagi saya, maka semoga Allah membalaskan kebaikan dan pahala yang banyak kepadanya.

Saya berharap dari ikhwan yang budiman, siapa saja yang membaca kitab ini dan mendapatkan di dalamnya sesuatu yang mesti diluruskan, maka hendaklah ia menyampaikannya kepada saya sebagai bentuk ketulusan dan masukan bagi saya. Dan saya memohon kepada Allah agar membalas kebaikan kepada setiap orang yang membantu pengeluaran kitab ini dan menjadikannya manfaat bagi saya dan bagi kaum muslimin… Allahumma amiin… dan Allah lah di balik tujuan ini dan Dia-lah yang menunjukan kepada jalan yang lurus.

Ditulis oleh:

Abul ‘Ula Ibnu Rasyid Ibnu Abil ‘Ula Ar Rasyid

25 Dzul Hijjah 1428 H.

PO BOX 6882

Kode Pos – Makkah Al Mukarramah

*****

PASAL PERTAMA

Tema Pertama

Muqaddimah Tentang Definisi Kejahilan

Al Jahlu secara bahasa: adalah lawan al ilmu, dan jahila adalah satu wazan dengan fahima dan salima, sedangkan tajaahala adalah memperlihatkan kejahilan dari dirinya (pura-pura bodoh) padahal ia itu tidak bodoh, dan sedangkan tajhiil adalah menuduh bodoh.[6]

Sedangkan makna secara istilah adalah meyakini sesuatu seraya menyelisihi yang sebenarnya, dan ia itu adal dua macam:

  1. Jahil Basith.
  2. Jahil Murakkab.

Jahil Basith adalah ketidaktahuan yang muncul dari orang yang statusnya bisa dimaklumi.

Jahil Murakkab adalah sebutan bagi keyakinan yang pasti yang tidak selaras dengan realita.[7]

Ibnu Mandhur berkata: Jahl adalah lawan ilmu, dan qad jahilahu fulanun jahlan wa jahalah wa jahila ‘alaih. Tajhiil adalah kamu menuduh ia bodoh. Jahalah adalah kamu melakukan perbuatan tanpa dasar ilmu. Majhalah adalah suatu yang menghantarkan kamu kepada kebodohan. Sedangkan jahiliyyah adalah keadaan yang dialami bangsa Arab sebelum Islam berupa kebodohan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, syari’at-syari’at dien ini, berbangga-banggaan dengan garis keturunan, keangkuhan, kesombongan dan yang lainnya.[8]

Kejahilan itu tergolong ‘awaridl ahliyyah, dan apakah ‘awaridl ahliyyah itu?

‘Awaridladalahbentuk jamak dari ‘aridl, yaitu amrun ‘aridl (suatu yang muncul merintangi) atau jamak dari ‘aridlah, yaitu sifat yang muncul menghadang atau penyakit yang datang mengganggu, diambil dari ungkapan ‘aradla kadza. Sedangkan makna bahwa ia itu ‘awaridl adalah bahwa ia itu bukan tergolong shifat dzatiyyah (sifat asli) sebagaimana dikatakan bahwa putih itu termasuk ‘awaridl salju dan hitam itu termasuk ‘awaridl arang.

Ulama ushul telah mendefinisikannya: bahwa ia itu adalah keadaan-keadaan yang melenyapkan ahliyyah (kelayakan menerima taklif) sedangkan ia itu bukan termasuk kemestian manusia dari sisi ia itu manusia. Dan ‘awaridl itu menurut ulama ushul terbagi menjadi dua:

  1. ‘Awaridl Samawiyyah: Yaitu suatu yang tidak ada campur tangan manusia dalam kebodohannya atau keterjadiannya, seperti: kondisi sebagai anak kecil, gila, lupa, idiot, tidur, pingsan, kondisi sebagai budak dan kematian.
  2. ‘Awaridl Muktasabah: yaitu suatu yang ada campur tangan manusia dalam keberadaannya dan keterjadiannya. Para ulama memberikan contoh baginya: Jahl (kebodohan), khatha’ (kekeliruan), mabuk, dan candaan.[9]

Definisi Ahliyyah:

Ahliyyah secara bahasa maknanya kelayakan untuk suatu hal.

Dan secara istilah adalah kelayakan orang untuk menerima hak dan kewajiban syari’at, atau untuk kemunculan tindakan sesuai dengan cara yang diperhitungkan secara syari’at. Ar Rahawi mendefinisikannya dengan ucapannya: “Ahliyyah adalah kelayakan seseorang untuk mendapatkan hak-hak syar’iy dan kewajiban-kewajibannya”. Al Jaburiy berkata: “Ahliyyah adalah kelayakan seseorang untuk meraih apa yang menjadi bagiannya berupa hak-hak dan apa yang menjadi tanggung jawabnya berupa kewajiban setelah keterpenuhan syarat-syarat yang mesti untuk keabsahan adanya hak-hak dan kewajiban-kewajiban itu atasnya”.[10]

Doktor Abdul Karim Zidan berkata: “Akan tetapi kadang muncul pada seseorang setelah kesempurnaan ahliyyah-nya itu hal-hal yang melenyapkannya atau menguranginya atau berpengaruh padanya dengan pelenyapan dan pengurangan, dan inilah yang dinamakan dengan ‘Awaridlul Ahliyyah”.[11]

Sedangkan materi kita pada kitab ini adalah kejahilan dengan posisinya sebagai salah satu dari sekian ‘Awaridl Ahliyyah dan dari keberadaanya pantas menjadi udzur, dan keadaan-keadaan yang di dalamnya ia layak menjadi udzur dan keadaan-keadaan yang di dalamnya ia tidak layak menjadi udzur. Dan yang kami maksudkan dari sekian makna al jahlu (kejahilan) adalah kejahilan yang bermakna ketidaktahuan, karena al jahlu itu memiliki aneka ragam makna yang tidak ada kaitan dengan pokok materi kita ini.

Para ulama telah membagi kejahilan dengan makna ini menjadi dua macam:

1. Kejahilan yang tidak layak menjadi udzur.
Para ulama memberikan contoh baginya seperti kejahilan orang-orang kafir terhadap sifat-sifat Allah ta’ala dan hukum-hukum akhirat, dan begitu juga kejahilan yang menyelisihi hal yang masyhur dari Al Kitab, As Sunnah dan Ijma, maka sesungguhnya ia itu bukan udzur sama sekali.

2. Kejahilan yang layak menjadi udzur.
Para ulama memberikan contoh baginya seperti kejahilan orang muslim terhadap syari’at di Darul Harbi, bagitu juga kejahilan yang terjadi pada tempat ijtihad yang shahih dengan syarat tidak menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah. Dan para ulama membedakan antara hal yang diketahui bersama-sama oleh mayoritas manusia di mana tidak diterima klaim kebodohan di dalamnya, dan para ulama mencontohkan untuk hal ini dengan pengharaman zina, membunuh, mencuri dan khamr, dengan hal yang tidak diketahui bersama-sama oleh mayoritas manusia seperti permasalah warisan, thalaq, dan memerdekakan budak. Dan mereka membedakan antara hal yang pengetahuannya masyhur di kalangan umum dengan hal yang pengetahuannya samar, di mana yang pertama mereka namakan ilmu orang-orang umum (‘ilmul ‘aamah) dan yang kedua ilmu orang-orang khusus (‘ilmul khaashshah).[12]

Ahli ushul dari kalangan Ahnaf telah membagi kejahilan pada statusnya sebagai salah satu dari ‘awaridl ahliyyah menjadi beberapa macam yang kami ringkas dalam uraian ini:

  1. Kejahilan yang muncul dari keangkuhan akal dan meninggalkan bukti yang pasti, dan kejahilan macam ini tidak menjadi udzur, seperti kejahilan terhadap tauhid, kebangkitan dan ma’ad (hari pengembalian) serta hal-hal yang diketahui secara pasti dari dien ini (maklum minaddien bidldlarurah).
  2. Kejahilan yang muncul dari syubhat yang disandarkan kepada Al Kitab dan As Sunnah, seperti kejahilan firqah-firqah yang sesat dari kalangan Ahlul Ahwa (ahli bid’ah). Dan kejahilan ini tidak menjadi udzur.
  3. Kejahilan yang muncul dari ijtihad dan dalil syar’iy yang shahih, akan tetapi dalam hal yang tidak boleh ijtihad di dalamnya, di mana ia menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan ijma. Sedangkan hukumnya: sesungguhnya ia itu walaupun udzur yang menggugurkan dosa, akan tetapi ia itu tidak menjadi udzur dalam hak qadla (putusan hukum di dunia), di mana dengan sebabnya diberlakukan hukum-hukum dan hudud bila hal itu menuntut adanya had.
  4. Kejahilan yang uncul dari ijtihad sedangkan di dalamnya ada peluang untuk ijtihad, seperti hal-hal ijtihadi yang terjadi kesalahan di dalamnya, dan ia adalah udzur, dan putusan qadli diterapkan sesuai macamnya.
  5. Kejahilan yang muncul dari syubhat dan kekeliruan, seperti seorang pria yang menggauli wanita lain yang dia kira isterinya. Ini adalah udzur yang mana had gugur dengannya menurut ulama Ahnaf.
  6. Kejahilan yang dimestikan terjadi karena kondisi yang dlarurat seperti kejahilan orang muslim terhadap hukum-hukum Islam di Darul Harbiy. Ini adalah dan had menjadi gugur dengannya.[13]

Dan di antara hal yang telah ditetapkan para fuqaha di bab kejahilan adalah bahwa tidak diterima klaim kebodohan dan pengalasan dengannya di dalam hal-hal yang masyhur di tengah manusia, berbeda halnya dengan hal yang tidak diketahui kecuali oleh kalangan khusus.[14]

Dan di antara yang telah dibakukan oleh para ulama adalah bahwa kejahilan itu tidak menjadi udzur secara muthlaq, karena seandainya menjadi udzur secara muthlaq tentulah kejahilan itu lebih baik dari ilmu (pengetahuan). Asy Syafi’i rahimahullah berkata:

(لو عُذِر الجاهل لأجل جهله لكان الجهل خيراً من العلم، إذ كان يحط عن العبد أعباء التكليف ويريح قلبه من ضروب التعنيف، فلا حجة للعبد في جهله الحكم بعد التبليغ والتمكين لئلا يكون للناس على الله حجة بعد الرسل)

(Seandainya orang bodoh diudzur karena kebodohannya, tentulah kebodohan itu lebih baik dari ilmu (pengetahuan), karena ia itu menggugurkan dari si hamba beban-beban taklif dan menenangkan hatinya dari berbagai kecaman, maka tidak ada hujjah bagi si hamba pada kejahilannya terhadap hukum setelah ada penyampaian dan kesempatan supaya tidak ada hujjah bagi manusia terhadap Allah setelah pengutusan para rasul).[15] Dan para ulama juga telah membedakan antara kejahilan orang muslim terhadap hukum-hukum Islam di Darul Islam di mana mereka tidak menganggapnya sebagai udzur, berbeda dengan kejahilannya di Darul Harbi di mana ia itu dianggap sebagai udzur sesuai rincian. Itu dikarenakan bahwa Darul Islam itu adalah tempat keterkenalan hukum-hukum Islam, berbeda halnya dengan Darul Harbi di mana ia itu bukan tempat keterkenalan hukum-hukum Islam. Para ulama berkata: “Karena Darul Harbi itu bukan tempat ketersebaran hukum-hukum Islam, sehingga kejahilan terhadap khithab (ajaran) itu karena dia itu tidak melakukan taqshir (keteledoran) dalam mencari dalil, akan tetapi kejahilan itu hanyalah datang dari arah kesamaran dalil pada dirinya di mana ia menyebar di Darul Harbi dengan sebab keterputusan penyampaian dari mereka”.[16] Dan Az Zulaily telah menukil dari fuqaha ucapan mereka: “Karena Darul Harbi itu bukan tempat bagi ketersebaran hukum-hukum dan pengetahuan terhadapnya”.[17]

Dan setelah pemaparan ringkas bagi makna-makna kejahilan secara bahasa dan istilah, dan begitu pula keadaan-keadaan yang diperbincangkan oleh fuqaha tentang kejahilan dengan statusnya sebagai bukan udzur, maka jelaslah di hadapan kita:

Bahwa masalah kejahilan dan penganggapannya sebagai udzur adalah diliputi beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Macam permasalahan yang tidak diketahui itu: apakah suatu yang diketahui dari dien ini secara pasti (maklum minaddien bidldlarurah) ataukah bukan.

2. Tempat yang mana kejahilan terjadi di dalamnya: Darul Harbi ataukah Darul Islam.

3. Keberadaan masalah itu apakah terkenal ataukah tidak terkenal, dan hal itu diungkapkan oleh para ulama dengan ungkapan: Hal yang diketahui bersama-sama oleh mayoritas manusia dan hal yang tidak diketahui bersama-sama oleh mayoritas manusia.

4. Keberadaan masalah tergolong suatu yang terjadi di dalamnya kekeliruan dan kejahilan atas dasar ijtihad yang benar, ataukah keberadaannya tidak terjadi ijtihad yang benar di dalamnya karena penyelisihannya terhadap hal yang masyhur dari Al Kitab, As Sunnah dan Ijma. Dan ulama menyebutnya sebagai (masalah-masalah yang menjadi ladang ijtihad dan masalah-masalah yang ada peluang ijtihad di dalamnya).

5. Kondisi orang yang mengalami kejahilan itu, di mana para ulama membedakan antara orang yang baru masuk dengan yang lainnya yang tidak baru masuk Islam.

6. Di antara kaidah para ulama dalam masalah kejahilan: Perbedaan kejahilan sesuai perbedaan hal yang berkaitan dengannya (yaitu hal yang terjadi kejahilan terhadapnya).

Syaikh Taqiyyudin Al Hushanniy Asy Syafi’iy berkata:

“واعلم أن الخطأ الناشئ عن الجهل يختلف حكمه بحسب اختلاف متعلق الجهل، فمن جهل تحريم شيء ممن يشترك فيه غالب الناس فإن كان قريب العهد بالإسلام، أو نشأ ببادية يخفى فيها مثل ذلك، عُذِر فيه، وإن لم يكن ممن يشترك غالب الناس في معرفة تحريمه وكان مثله يخفى عليه عُذر فيه أيضاً وإلا لم يُعذر”

“Dan ketahuilah bahwa kekeliruan yang muncul dari kebodohan itu adalah hukumnya berbeda-beda tergantung perbedaan hal yang berkaitan dengannya, barangsiapa jahil terhadap pengharaman suatu yang mana mayoritas manusia sama-sama mengetahuinya, bila dia itu orang yang baru masuk Islam atau orang yang hidup di pedalaman yang mana hal semacam itu samar di sana, maka dia diudzur di dalamnya, dan bila hal itu bukan tergolong suatu yang mana mayoritas manusia bersama-sama dalam mengetahui pengharamannya sedang hal semacam itu tersamar terhadapnya, maka dia itu diudzur juga di dalamnya, dan bila tidak semacam itu maka tidak diudzur”.[18]

7. Para ulama telah membagi kejahilan menjadi dua:

a) Macam kejahilan yang muncul akibat keteledoran pelakunya dan taqshir dia dalam melenyapkan, maka tidak udzur baginya di dalamnya.

b) Macam kejahilan yang muncul bukan dari keteledoran dan ketidak pedulian, karena ketidakadaan orang yang mengajari pelakunya, maka ini pelakunya, maka ini pelakunya diudzur.

Syaikh ‘Alauddien Al Ba’li Al Hanbali yang terkenal dengan sebutan Ibnul Lahham berkata dalam kitabnya Al Qawaid:

“إذا تقرر هذا، فها هنا مسائل تتعلق بجاهل الحكم. هل هو معذور أم لا؟ ترتبت على هذه القاعدة، فإذا قلنا يُعذَر فإنما محله إذا لم يقصّر ويفرّط في تعلم الحكم، أما إذا قصر أو فرط فلا يُعذَر جزماً”

“Bila hal ini sudah jelas, maka di sini ada permasalahan yang berkaitan dengan jahilul hukmi (orang yang tidak mengetahui hukum), apakah dia diudzur atau tidak? Permasalahan ini dibangun di atas kaidah ini. Bila kami mengatakan diudzur maka itu posisinya bila orang tersebut tidak taqshir dan teledor dalam mempelajari hukum, adapaun bila dia taqshir atau teledor maka secara pasti tidak diudzur.”[19]

Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah ta’ala berkata:

“هذه المسألة تحتاج إلى تفصيل، فنقول الجهل نوعان؛ جهل يُعذَر فيه الإنسان، وجهل لا يعذر فيه، فما كان ناشئاً عن تفريط، وإهمال مع قيام المقتضي للتعلم، فإنه لا يعذر فيه، سواء في الكفر أو المعاصي، وما كان ناشئاً عن خلاف ذلك، أي أنه لم يُهمِل ولم يفرّط، ولم يقم المقتضي للتعلم بأن كان لم يطرأ على باله أن هذا الشيء حرام، فإنه يعذر فيه”

“Masalah ini membutuhkan kepada perincian, maka kami katakan: Kejahilan itu ada dua macam; kejahilan yang mana orang diudzur di dalamnya dan kejahilan yang tidak diudzur di dalamnya. Apa yang muncul dari keteledorandan ketidakpedulian padahal kesempatan untuk belajar tersedia, maka sesungguhnya dia tidak diudzur di dalamnya, baik di dalam kekafiran ataupun maksiat, sedangkan hal yang muncul dari selain itu yaitu dia itu tidak teledor dan tidak leha-leha dan kesempatan untuk belajar juga tidak tersedia umpamanya sama sekali tidak terlintas di dalam benaknya bahwa suatu hal ini adalah haram, maka sesungguhnya dia itu diudzur di dalamnya”.[20]

Pertimbangan-pertimbangan ini kami utarakan secara global, dan akan datang nanti perincian pertimbangan-pertimbangan ini dan penegasan-penegasan para ulama terhadapnya di tempat-tempatnya dari kitab ini dengan masyi’ah Allah ta’ala.

Kami berikan muqaddimah ini dalam rangka pendasaran dan pembukaan bagi pembahasan kami tentang faktor kebodohan dan batasan-batasan baku yang wajib diperhatikan saat menjadikannya sebagai salah satu dari ‘awaridl ahliyyah (faktor-faktor penghalang kelayakan atau saat tidak menganggapnya).

Tema Kedua

Penjelasan Dalil Syar’iy Yang Menerapkan Hujjah Allah Terhadap Orang Yang Menyelisihi

Mayoritas ulama sepakat bahwa dalil-dalil syar’iy yang mu’tabar itu ada empat, yaitu: Al Kitab, As Sunnah, Ijma dan Qiyas, secara umum.

Allah ta’ala telah memerintahkan kita saat berselisih pendapat tentang apa saja agar berhakim kepada Kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya. Allah ta’ala berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa: 59)

Dan berfirman:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (١٠)

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (Asy Syuraa: 10)

Dan berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٧)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (Al Hasyr: 7)

Dan Allah ta’ala mengabarkan tentang kelompok orang yang Allah tiadakan iman dari mereka karena mereka berpaling dari hukum Allah ta’ala:

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (٤٨)

“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (An Nur: 48)

Dan Allah mensifati suatu kaum dengan kemunafikan karena mereka saat berhakim kepada Al Kitab dan As Sunnah maka mereka berpaling dari hal itu sejauh-jauhnya. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (٦١)

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (An Nisa: 61)

Dan atas dasar ini maka kami mengatakan: sesungguhnya dalil syar’iy yang merupakan hujjah adalah Kitabullah, sunnah Rasul-Nya dan ijma ummat ini. Tidak boleh bagi siapapun menentang Al Kitab dan As Sunnah dengan ucapan orang, karena ucapan-ucapan orang itu adalah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah.[21]

Oleh karena itu kami katakan: Sesungguhnya ucapan ulama itu bukan hujjah dengan sendirinya selagi tidak bersandar kepada dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah atau ijma, dan itu tidak berarti bahwa kita akan membuang ucapan-ucapan para ulama yang mu’tabarin, akan tetapi kami tidak akan menjadikan ucapan mereka sebagai hujjah terpisah dengan sendirinya, dan tidak akan juga menjadikan ucapan sebagian mereka sebagai hujjah atas sebagian yang lain. Dan juga termasuk yang perlu diperhatikan di sini adalah bukan termasuk manhaj kami di dalam kitab ini menelantarkan ucapan ulama dalam menjelaskan dan menafsirkan nushush dari Al Qur’an dan As Sunnah, karena mereka itu orang yang paling mengetahui tafsiran nushush ini dan yang paling mengetahui bahasa Arab, dan kami memegang apa yang ditarjihkan oleh mayoritas para imam dalam penafsiran nushush, berbeda dengan pendapat-pendapat yang telah dinyatakan syadz (ganjil/nyeleneh) atau marjuh (lemah) oleh para ulama. Ini kami hadirkan di hadapanmu sejumlah penegasan para ulama:

1. Asy Syafi’iyrahimahullah berkata:

“وأنه لا يلزم قول أحد بكل حال إلا بكتاب الله أو سنة رسوله صلى الله عليه وسلم، وأن ما سواهما تبع لهما”

“Dan sesungguhnya ucapan seseorang itu sama sekali tidak mengikat kecuali Kitabullah atau sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa selain keduanya adalah mengikuti kepada keduanya”.[22]

2. Ibnu Abdil Barr berkata:

“أما أصول العلم فالكتاب والسنة”

“Adapun pokok-pokok ilmu maka Al Kitab dan As Sunnah”.[23]

3. Ibnu Abdil Barr berkata:

“وقد أمر الله عز وجل بطاعته صلى الله عليه وسلم، واتباعه أمراً مطلقاً مجملاً لم يقيده بشيء –كما أمرنا باتباع كتاب الله”

“Allah ‘azza wa jalla telah telah memerintahkan untuk mentaati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikutinya dengan perintah yang muthlaq lagi global yang tidak dibatasi dengan apapun, sebagaimana Dia telah memerintahkan kita untuk mengikuti Kitabullah”.[24]

4. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah berkata:

“فلهذا كانت الحجة الواجبة الاتباع: الكتاب، والسنة، والإجماع، فهذا حق لا باطل فيه، واجب الاتباع، لا يجوز تركه بحال”

“Oleh sebab itu maka hujjah yang wajib diikuti itu adalah Al Kitab, As Sunnah, dan Ijma. Maka ini adalah kebenaran yang tidak ada kebathilan di dalamnya, wajib diikuti lagi tidak boleh ditinggalkan sama sekali”.[25]

5. Oleh sebab itu Asy Syafi’iyrahimahullah berkata:

“ومن تنازع بعد الرسول صلى الله عليه وسلم رد الأمر إلى قضاء الله، ثم قضاء رسوله صلى الله عليه وسلم، فإن لم يكن فيما تنازعوا فيه قضاء نصاً، ولا في أحدهما ردوه قياساً على أحدهما”

“Dan barangsiapa berbeda pendapat setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaklah ia mengembalikan urusan kepada putusan Allah, kemudian putusan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila di dalam apa yang mereka perselisihkan itu tidak ada putusan secara nash, dan juga tidak ada pula di dalam salah satu dari keduanya maka hendaklah mereka mengembalikan secara qiyas kepada salah satu dari keduanya.”[26]

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah berkata:

“فإذا تنازع المسلمون في مسألة وجب رد ما تنازعوا فيه إلى الله، وإلى الرسول صلى الله عليه وسلم فأي القولين دل عليه الكتاب والسنة وجب اتباعه”

“Bila kaum muslimin berselisih dalam suatu masalah, maka wajib mengembalikan apa yang mereka perselisihkan itu kepada Allah dan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian pendapat mana saja yang ditunjukan oleh Al Kitab dan As Sunnah maka wajib mengikutinya”.[27]

7. Asy Syafi’iy rahimahullah berkata:

“وأن يُجْعل قول كل أحد، وفعله تبعاً لكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم”

“Dan agar ucapan dan perbuatan setiap orang dijadikan mengikuti Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam”.[28]

8. Ibnul Qayyimrahimahullah berkata:

“وقد كان السلف يشتد عليهم معارضة النصوص بآراء الرجال، ولا يقرون على ذلك”

“Dan sungguh salaf itu sangat merasa berat bila mempertentangkan nushush dengan pendapat-pendapat para tokoh, dan mereka tidak mengakui hal itu”.[29]

8. Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Alu Asy Syaikh berkata:

“على هذا فيجب الإنكار على من ترك الدليل لقول أحد من العلماء كائناً من كان، ونصوص الأئمة على هذا، وأما من خالف الكتاب والسنة فيجب الرد عليه كما قال ابن عباس رضي الله عنه والشافعي ومالك وأحمد، وذلك مجمع عليه”

“Atas dasar ini, maka wajib melakukan pengingkaran terhadap orang yang meninggalkan dalil karena perkataan seorang ulama siapapun dia, sedangkan penegasan para Imam adalah terhadap hal ini. Adapun orang yang menyelisishi Al Kitab dan As Sunnah maka wajib dibantah sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma, Asy Syafi’iy, Malik dan Ahmad, dan hal itu adalah diijmakan”.[30]

10. Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir As Sa’diy berkata dalam tafsir firman Allah:

( فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ) [النساء: 59] “أي إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم فإن فيهما الفصل في جميع المسائل الخلافية أما بصريحهما، أو عمومهما، أو إيماء أو تنبيه، أو مفهوم، أو عموم معنى يقاس عليه ما أشبهه لأن كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم عليهما بقاء الدين، وقوله تعالى (إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ) دل على أن من لم يرد إليهما مسائل النزاع فليس بمؤمن حقيقة”

“Kemudian bila kalian berselisih pendapat tentang suatu hal maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul” (An Nisaa: 59): Yaitu kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam karena di dalam keduanya terdapat penyelesaian di dalam semua permasalahan yang diperselisihkan, baik dengan penegasan keduanya atau keumumannya atau isyarat, tanbih atau mafhum atau keumuman makna yang mana hal yang menyerupainya bisa diqiyaskan kepadanya, karena Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sandaran keberlangsungan dien ini. Dan firman-Nya: “Bila kalian beriman kepada Allah dan hari akhir” menunjukan bahwa orang yang tidak mengebalikan kepada keduanya apa-apa yang diperselisihkan adalah dia pada hakikatnya bukan orang mu’min”.[31]

11. Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashr As Sa’diy berkata dalam tafsir firman Allah ta’ala:

(وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ) [الشورى: 10] “من أصول دينكم وفروعه مما لم تتفقوا عليه يردّ إلى كتابه وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم فما حكما به فهو الحق، وما خالف ذلك فباطل”

“Dan apapun yang kalian perselisihkan tentangnya, maka putusannya diserahkan kepada Allah” (Asy Syura: 10): “Dari permasalahan ushul dan furu’ dien kalian yang tidak kalian sepakati maka dikembalikan kepada Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya, kemudian apa yang diputuskan oleh keduanya maka itulah kebenaran, dan apa yang menyelisihi hal itu maka kebathilan”.[32]

12. Asy Syaukani berkata dalam tafsir ayat yang lalu:

“معنى حكمه إلى الله أي مرده إلى كتابه، فتكون الآية عامة في كل اختلاف يتعلق بأمر الدين أنه يرد إلى كتاب الله”

“Makna putusannya diserahkan kepada Allah yaitu pengembaliannya kepada Kitab-Nya, sehingga ayat itu adalah umum dalam setiap perselisihan yang berkaitan dengan urusan dien bahwa ia itu dikembalikan kepada Kitabullah”.[33]

13. Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman An Najdiy berkata:

“ومما هو معلوم بالاضطرار من دين الإسلام: أن المرجع في مسائل أصول الدين إلى الكتاب والسنة، وإجماع الأمة المعتبر، وهو ما كان عليه الصحابة ليس المرجع في ذلك إلى عالم بعينه، فمن تقرر عنده هذا الأصل تقرراً لا يدفعه شبهة هان عليه ما قد يرى من الكلام المشتبه في مصنفات الأئمة إذ لا معصوم إلا النبي صلى الله عليه وسلم”

“Dan di antara hal yang diketahui pasti dari dienul Islam adalah bahwa rujukan di dalam permasalahan ushuluddien adalah kepada Al Kitab, As Sunnah, dan ijma umat yang mu’tabar, yaitu apa yang dianut oleh para shahabat, rujukan dalam hal itu bukan kepada orang alim tertentu. Barangsiapa yang telah terpatri dasar pokok ini pada dirinya dengan keterpatrian yang tidak bisa digoyahkan oleh syubhat apapun, maka ringankanlah terhadapnya apa yang kadang dia lihat berupa ucapan yang samar di dalam tulisan para imam, karena tidak ada yang ma’shum kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[34]

14. Asy Syaukani rahimahullah ta’ala berkata:

“وإذا وقع الرد لما اختلف فيه أهل العلم إلى الكتاب والسنة كان من معه دليل الكتاب والسنة هو الذي أصاب الحق ووافقه، وإن كان واحداً والذي لم يكن معه دليل الكتاب والسنة هو الذي لم يصب الحق بل أخطأه، وإن كان عدداً كثيراً”

“Dan bila terjadi pengembalian apa yang diperselisihkan ulama kepada Al Kitab dan As Sunnah, maka orang yang memiliki dalil Al Kitab dan As Sunnah adalah yang menempati al haq dan menyelarasinya, walaupun dia itu sendirian, dan orang yang tidak memiliki dalil Al Kitab dan As Sunnah adalah yang tidak menempati al haq akan tetapi menyelisihinya walaupun orang-orangnya jumlahnya banyak.”[35]

Dan yang menjadikan kami meletakan pembukaan ini adalah bahwa sebagian orang yang menulis di dalam permasalahan ini dan yang lainnya berpatokan di dalamnya kepada  ucapan-ucapan para ulama tanpa rujuk kepada Al kitab dan As Sunnah, dan dia menjadikan ucapan para ulama sebagai pegangan hujjah di dalamnya padahal tidak ada dalil Al Kitab dan As Sunnah yang disertakan bersamanya.

Tapi hal itu tidak berarti bahwa kami akan memaparkan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah tanpa tafsir para ulama di dalamnya, justeru kami akan tetap komitmen dengan tafsir para ulama terhadapnya, dan menyebutkan pendapat-pendapat yang dipegang oleh mereka disertai menuturkan pendapat yang dikukuhkan oleh mayoritas ulama itu. Dan hal itu tidak berarti bahwa manhaj riset kajian kami ini tidak akan berpegang kepada ucapan para ulama dan kesimpulan-kesimpulan mereka yang digali dari dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah dan yang berlandaskan kepada keduanya, sama sekali tidak begitu, karena mereka itu adalah manusia yang paling mengetahui terhadap nushush, tafsir dan syarahnya, akan tetapi siapapun tidak boleh membahas suatu permasalahan seraya berpatokan di dalam kajiannya terhadap seorang ulama saja, akan tetapi yang wajib adalah melakukan penelusuran tentang terhadap ucapan-ucapan ulama di dalam masalah itu dan begitulah permasalahan-permasalahan yang telah dikaji oleh para ulama, sedang di dalamnya tidak ada satu nash pun dari Kitab, Sunnah ataupun ijma, maka kita komitmen di dalamnya dengan apa yang telah disampaikan oleh para ulama setelah melakukan penelusuran tuntas dan pengumpulan ucapan-ucapan mereka di dalam satu masalah, dan kita komitmen dengan apa yang dikukuhkan mayoritas ulama selagi tidak menyelisihi suatu nash dan nushush syar’iyyah dan kami memohon pelurusan dan taufiq kepada Allah.

Bersambung….

 


[1] Majmu’ Al Fatawa 12/468

[2] Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah 3/338 Terbitan Dar Ibnu Khuzaimah.

[3] Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah 3/338 Terbitan Dar Ibnu Khuzaimah

[4] Silahkan lihat rincian pembatal-pembatal ini:

  1. Nawaqidlul Iman Al Qauliyyah Wal ‘Amaliyyah, tulisan Doktor Abdul ‘Aziz Al Abdillathif.
  2. Al Iman, Haqiqatuhu, Arkanuhu, Nawaqidluhu, tulisan Doktor Nu’aim Yasin.
  3. Risalah Al Wala Wal Bara’, tulisan Doktor Muhammad Ibnu Sa’id Al Qahthaniy.
  4. Risalah Al Muwalah Wal Mu’adah, tulisan Mihmas Al Jal’ud.
  5. Risalah Tahkimul Qawanin, tulisan Syaikh Muhammad ibnu Ibrahim Alu Asy Syaikh.
  6. Adlwaa ‘Alaa Ruknit Tauhid, tulisan Abdul ‘Aziz Abdul Hamid.
  7. Al Hukmu Bighairi Maa Anzalallaah, Ahwaluhu Wa Ahkamuhu, tulisan Doktor Abdurrahman Al Mahmud.
  8. Majmu’atut Tauhid, Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab dan Ibnu Taimiyyah.
  9. At Tibyan Fi Syarhi Nawaqidlil Islam, tulisan Syaikh Sulaiman Ibnu Nashir Al ‘Ulwan.

[5] Kondisi mereka dalam hal itu adalah seperti keadaan dakwah para mujaddid semisal Syaikh Muhammad Ibnu Wahhab rahimahullah.

[6] Mukhtar Ash Shihhah (hal. 115)

[7] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 16/197 cetakan pertama, Quwait.

[8] Lisanul ‘Arab 11/29

[9] Silahkan rujuk Risalah ‘Awaridlul Ahliyyah, Doktor Husen Al Jaburi hal. 126 cetakan pertama universitas ‘Umur Qura

[10] Ibid, hal 70-71

[11] Al Wajiz milik Abdil Karim Zidan hal 100-101

[12] Rujuk bentuk-bentuk dan macam-macam kejahilan, Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 16/198-199 cetakan pertama Kuwait.

[13] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 16/200

[14] Ibid

[15] Al Mantsur Fi l Qawaid ilik Az Zarkasyi 2/15-16 cetakan pertama Al Majlis Al A’la di Kuwait.

[16] Rujuk ‘Awaridlul Ahliyyah hal 348-349, Nadhariyyatudldlarurah milik Wahbah Az Zuhailiy hal 118-119

[17] Ibid, hal 119

[18] Rujuk penetapan rincian kaidah ini di Kitab Al Qawaid milik Taqiyyudin Al Hushanniy Asy Syafi’iy 2/286 terbitan Maktabah Ar Rusydi di Riyadl, Syarh Muslim milik An Nawawiy 1/250 cetakan Mathba’ah Mishriyyah, Al Asybah Wan Nadhair milik Asw Suyuthiy hal 220-221 dan Al Mantsur milik Az Zarkasyi 2/15

[19] Al Qawaid Wal Fawaid Al Ushuliyyah, hal 52 terbitan Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut.

[20] Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid 1/219 terbitan Ibnul Jauziy, dan rujuk juga Mughnil Murid Al Jami’ Li Syuruh Kitabit Tauhid, Maktabah Al Mukarramah.

[21] Rujuk Ma’alim Ushulil Fiqh ‘Indas Salaf, milik Al Jizaniy hal. 70 dan sesudahnya. Cetakan pertama, Ibnul Jauziy.

[22] Ar Risalah, hal 39

[23] Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadlihi 2/33

[24] Ibid, 2/190

[25] Majmu’ Al Fatawa 19/125

[26] Ar Risalah, hal 81

[27] Majmu’ Al Fatawa 20/12

[28] Ar Risalah, hal 198

[29] Mukhtashar Ash Shawa’iq, hal 139

[30] Fathul Majid, hal 401 cetakan pertama Darul Qalam

[31] Taisirul Karimil Mannan, hal 148 cetakan Muassasah Ar Risalah

[32] Ibid, hal. 699

[33] Fathul Qadir 4/527

[34] Al Majmu’ah Al Mahmudiyyah, risalah kedua hal. 25 Riyadl

[35] Ar Rasail As Salafiyyah Fie Ihyai Sunnah Khairil Bariyyah, risalah 1/2,3.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: