Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Kisah Syuhada » :: Yarmuk War ( Bagian 2 ) ::

:: Yarmuk War ( Bagian 2 ) ::


Persiapan Pasukan Islam

Pada peperangan ini tentara Romawi keluar dalam jumlah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Khalid juga membawa jumlah pasukan besar rang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Arab. Khalid membawa sebanyak 30-40 regu, dan pada setiap regu terdiri dari 1000 orang pasukan.

Abu Ubaidah mengambil posisi di jantung pasukan, sementara di sayap kanan dipimpin oleh Amru bin al-Ash yang ditemani oleh Syarahbil bin Hasanah, dan di sayap kiri dipimpin oleh Yazid bin Abu Sufyan, Khalid mengangkat untuk tiap regu pasukan seorang pemimpin.

Sebagai mata-mata dan pencari informasi di serahkan kepada Qubats bin Asyam, dan sebagai pemungut harta rampasan perang diserahkan kepada Abdullah bin Mas’ud, yang menjadi Qadhi ketika itu adalah Abu ad- Darda’. Bertindak sebagai pemberi nasehat dan motifasi kepada pasukan adalah Abu Sufyan bin Harb, dan Qari mereka waktu itu adalah al-Miqdad bin al-Aswad sambil mengeli-lingi pasukan membacakan kepada mereka surat al-Anfal dan ayat Jihad.

Di sisi lain pasukan Romawi maju dengan kesombongannya membawa pasukan besar hingga menutupi seluruh tempat yang ada, baik daerah yang lapang maupun daerah yang sulit seolah-olah mereka awan hitam, mereka berteriak-teriak mengangkat suara tinggi-tinggi, sementara para pendeta berjalan mengelilingi tentara membacakan Injil sambil memotifasi mereka untuk giat berperang.

Khalid membawa kudanya menuju Abu Ubaidah dan berkata kepada-nya, “Aku akan memberikan usulan.” Abu Ubaidah menjawab, “Katakanlah apa usulmu, aku akan mendengar dan mematuhrnya.” Khalid berkata, “Musuh pasti menyiapkan pasukan besar yang tak dapat dihalangi untuk dapat membobol pertahanan kita. Aku khawatir pertahanan sayap kiri dan sayap kanan kita akan kebobolan. Oleh karena itu menurut pendapatku kita harus membagai pasukan berkuda menjadi dua pasukan. Satu pasukan ditempat-kan di belakang sayap kanan, dan yang lain ditempatkan di sayap kiri. Hingga apabila pasukan Romawi berhasil menjebol pertahanan kita di sayap kiri atau sayap kanan, para pasukan berkuda dapat berperan membantu mereka. Dan kita datang menyerbu mereka dari belakang.”

Abu Ubadiah berkata pada Khalid,” Alangkah jitu idemu itu.”

Segera Khalid masuk ke dalam barisan berkuda yang berada di belakang pertahanan sayap kanan dan Qeis bin Hubairah di sayap kiri. Khalid memerintahkan Abu Ubaidah agar mundur ke belakang dari posisi tengah ke belakang, agar jika ada dari tentara Islam yang berlari mundur akan merasa malu melihatnya dan kembali ke medan pertempuran.

Abu Ubaidah menyerahkan posisi tengah yang sebelumnya ia tempati kepada Sa’id bin Zaid, salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin Rasulullah masuk surga. Kemudian Khalid bergerak ke tempat para wanita sambil memberikan instruksi kepada mereka agar bersiap-siap dengan písau belati serta

Bekal Keimanan Para Sahabat

Ketika kedua pasukan saling berhadap-hadapan, dan perang tanding mulai terjadi, Abu Ubaidah memberikan nasehat kepada kaum muslimin,

“ Wahai Hamba Allah, bantulah agama Allah pasti Dia akan membantu kalian dan mengokohkan kaki kalian, sesungguhnya janji Allah adalah benar. Wahai kaum muslimin! Bersabarlah kalian, sesungguhnya kesabaran akan menyelamatkan kalian dari kekufuran dan membuat ridha Rabb kalian dan menjauhkan kalian dari celaan. Jangan sampai kalian meninggalkan tempat dan jangan memulai maju menyerbu mereka. Tetapi seranglah mereka ter-lebih dahulu dengan panah, dan berlindunglah kalian dengan perisai kalian, perbanyak diam kecuali dzikir kepada Allah dalam diri kalian, hingga aku menginstruksikan sesuatu kepada kalian insya Allah.“

Mu’adz bin Jabal berjalan mengingatkan manusia dan berkata, “Wahai Ahli al-Qur’an, para penghafal Kitabullah, penolong kebenaran dan para wali-wali al- Haq, sesungguhnya rahmat dan surga Allah tidak akan diper-oleh dengan berandai-andai. Dan Allah tidak akan memberikan ampunan dan rahmatNya kecuali kepada orang yang jujur dan membenarkanNya. Tidakkah kalian mendengar firman Allah:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia meneguhkan orang-orang sebelum mereka…” (An-Nur. 55).“

Amru bin al-Ash berkata, “Wahai kaum muslimin, tundukkan pandang-an kalian, dan duduklah di atas lutut-lutut kalian. Bersiap-siaplah memanah, jika mereka menyerbu masuk ke barisan kalian, tunggulah hingga ketika mereka berada di ujung pedang maka terkam dan habisi mereka laksana singa menerkam. Demi Allah yang ridha terhadap kejujuran dan akan memberinya ganjaran, Yang membenci dusta serta memberikan hukuman atasnya. Demi Allah yang memberikan ganjaran kebaikan dengan kebaikan pula, aku telah mendengar bahwa kaum muslimin pasti akan menaklukkan negeri ini, wilayah demi wilayah dan benteng demi benteng. Maka janganlah kalian merasa gentar dengan jumlah kalian yang tidak sebanding dengan -jumlah pasukan mereka. Jika kalian benar- benar dan sungguh-sungguh memerangi mereka, pasti kepala mereka akan berterbangan lepas dari leher.“

Abu Sufyan berkata, “Wahai kaum muslimin, ketahuilah bahwa kalian sekarang berada di negeri Ajam, jauh dari keluarga, jauh dari Amirul Mukminin dan bantuan kaum muslimin. Demi Allah kalian sekarang berhadapan .dengan tentara musuh yang jumlah mereka berlipat ganda dari jumlah kalian. Mereka sangat dendam terhadap kalian, dan mereka berjuang mati-matian demi mempertahankan diri, anak, istri, harta dan tanah air mereka. Demi Allah tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari mereka, dan tidak akan dapat kalian capai Ridha Allah besok kecuali dengan jujur, bersungguh-sungguh dalam menghadapi musuh dan bersabar dalam setiap kondisi yang tidak kalian sukai. Bertahanlah kalian dengan pedang-pedang kalian dan saling tolong-menolonglah kalian. Itulah benteng yang hakiki.” Kemudian ia berangkat menemui kaum wanita dan memberikan nasehat kepada mereka.

Abu Hurairah juga turut memberikan wejangannya kepada para tentara dan berkata, “Berlombalah kalian mengejar para bidadari surga dan untuk bertemu Rabb kalian di surga yang penuh kenikmatan. Sesungguhnya Rabb kalian sangat cinta kepada kalian dalam situasi dan kondisi seperti ini. Ingatlah bahwa orang- orang yang bersabar memiliki kemuliaan yang khusus.”

Saif bin Umar meriwayatkan dengan sanadnya dari para gurunya, “Dalam tentara kaum muslimin terdapat 1000 orang sahabat nabi, 100 dari mereka adalah para pasukan yang ikut dalam perang Badar.

Abu Sufyan bediri di setiap regu tentara dan berkata, “Allah! Allah! Sesungguhnya kalianlah utusan Arab dan penolong Islam, sebaliknya mereka adalah utusan Romawi dan penolong kemusyrikan. Ya Allah sesungguhnya hari ini adalah bagian dari hari-hari milikMu. Ya Allah turunkan bantuanMu untuk hamba-hambaMu.“

Salah seorang dari tentara Nasrani berkata kepada Khalid bin Walid, “Alangkah banyaknya personil tentara Romawi dan alangkah sedikitnya tentara kalian!!” Khalid menjawab, “Celakalah engkau, apakah kau kira aku takut terhadap tentara Romawi yang banyak? Sesungguhnya tentara itu baru dianggap banyak jika berhasil memenangkan perang, dan akan dipandang sedikit jika mereka kalah, bukan karena jumlah pasukan yang banyak! Demi Allah alangkah baik sekiranya orang berambut pirang ini menarik ucapannya karena mereka merasa bangga dengan jumlah yang lebih banyak berlipat ganda.“

Sementara ketika itu kuda Khalid dalam kondisi letih karena jauhnya perjalanan yang ditempuhnya dari Iraq.

Perundingan-Perundingan Sebelum Peperangan Terjadi

Ketika dua pasukan telah mendekat, Abu Ubaidah, Yazid bin Abu Sufyan maju ke arah tentara Romawi. keduanya membawa Dhirar bin al-Azur, Harits Ibnu Hisyam, dan Abu Jandal bin Suhail, mereka berteriak sambil menyeru, “Kami ingin bertemu untuk berunding dengan kalian!” Maka mereka diberi izin untuk berjumpa dengan Tazariq. Ketika itu Tazariq tengah duduk di dalam tenda yang terbuat dari sutera.

Para sahabat berkata kepada mereka, “Kami tidak dihalalkan memasuki tenda ini. Lalu pemimpin mereka memerintahkan agar karpet dari sutera dibentangkan dan mereka dipersilahkan duduk di atasnya. Para Sahabat berkata, “Kami tidak dibolehkan duduk di atasnya.” Akhirnya Tazariq duduk dengan mereka di tempat yang mereka inginkan. Mereka mengadakan pe-rundingan untuk damai. Para sahabat mendakwahi mereka agar masuk ke dalam agama Allah, namun sayang perundingan ini berakhir tanpa mem-bawa hasil, akhirnya
merekapun kembali ke pasukan.

Al-Walid bin Muslim menyebutkan, bahwa Bahan meminta kepada Khalid agar berjumpa dengannya di antara dua pasukan yang sedang berhadapan untuk berdamai, Bahan berkata kepada Khalid, “Kami telah mengetahui bahwa perut laparlah yang telah mengeluarkan kalian dari negeri kalian, maka maukah kalian jika aku berikan kepada setiap pasukan kalian 10 dinar lengkap beserta makanan dan pakaian, dengan syarat kalian harus kembali ke negeri kalian, dan pada tahun depan datanglah kembali padaku dan aku akan memberikan jatah yang serupa?” Khalid menjawab, ” Sesungguhnya bukanlah perut lapar dan kemiskinan yang mengeluarkan kami dan negeri kami sebagaimana yang engkau sebutkan tadi. Tetapi sebenarnya kami adalah sekelompok manusia peminum darah, dan telah sampai kepada kami berita bahwa tidak ada darah yang lebih segar daripada darah kalian, bangsa Romawi. Untuk itulah kami datang ke sini Mendengar perkataan itu para sahabat Bahan berkomentar, “Demi Allah ucapan seperti ini baru pertama kali kita dengar dari bangsa Arab.“

Pertempuran Mulai Berkobar

Ketika persiapan telah matang, dan perundingan menemui jalan buntu, Khalid maju menemui Ikrimah bin Abu Jahal dan al-Qa’qa’ bin Amru -keduanva pemimpin pasukan pertahanan sayap kiri dan kanan-serta menginstruksikan kepada keduanya untuk memulai penyerangan. Segera keduanya maju dan mengajak musuh untuk melayani mereka adu senjata perang tanding. Maka mulailah para pahlawan dan jagoan tiap pasukan maju. Dan perang tanding itu mulai membuat suasana memanas.

Sementara Khalid berdiri di antara barisan sambil menyaksikan regu-regu yang terdiri dari para jagoan perang mulai beraksi berperang tanding dean tentara musuh, sambil mengirimkan para sahabatnya untuk menga-tur strategi bertempur sebaik mungkin.

Salah Seorang Panglima Romawi Masuk Islam

Salah seorang panglima besar Romawi yang bernama Jarajah keluar barisannya dan meminta kepada Khalid bin Walid agar mau menemui nya. Khalid segera menemuinya dan kedua kuda mereka berhadap-hadapan leher. Jarajah berkata, “Wahai Khalid beritahukan aku dan jujurlah, sebab orang merdeka tidak akan berbohong, dan janganlah engkau membohongiku sesungguhnya orang yang mulia tidak akan berbohong terhadap orang yang berhubungan dengan Allah. Apakah Allah pernah menurunkan kepada Nabi kalian sebuah pedang yang diberikannya kepadamu hingga setiap kali engkau hunus terhadap musuhmu pasti mereka akan kalah?” Khalid menjawab, “Tidak.” Jarajah kembali bertanya, “Jadi kenapa engkau dijuluki pedang Allah?” Khalid menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengutus NabiNya kepada kami. Nabi tersebut menyeru kami, tetapi kami malah berlari men-jauhinya. Kemudian sebagain dari kami membenarkannya dan sebagian mendustakannya. Aku termasuk salah seorang yang mendustakannya dan menjauhinya hingga Allah menunjuki hati kami untuk beriman kepadanya dan membai’atnya. Lalu beliau berkata kepadaku, ‘Engkau adalah pedang Allah yang
terhunus terhadap kaum musyrikin259.’ Beliau juga mendoakan agar aku diberi kemenangan. Sejak itulah aku disebut dengan Pedang Allah. Jadilah aku orang yang paling keras terhadap orang-orang musyrik.“

Jarajah berkata, “Wahai Khalid apa yang kalian serukan?”

Khalid menjawab, “Kami menyeru agar manusia bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah HambaNya dan Rasul-Nya. Dan agar mereka membenarkan seluruh syariat yang beliau bawa dari Allah.“

Jarajah bertanya, “Bagaimana jika orang itu tidak mau menerima dakwah kalian?”

Khalid menjawab, “Maka kami serukan mereka agar mem-bayar upeti, dan kami siap melindungi mereka.”

Jarajah bertanya, “Jika mereka tetap tidak mau membayar upeti?”

Khalid menjawab, “Maka kami akan mengumumkan perang terhadap mereka.“

Jarajah bertanya, “Apa kedudukan bagi orang yang menerima seruan kalian dan masuk ke dalam agama kalian pada hari ini?“

Khalid menjawab, “Kedudukannya sama dengan kami dalam seluruh kewajiban yang dibebankan Allah kepada kami. Orang yang mulia di antara kami, orang biasa, orang yang pertama masuk Islam dan yang terakhir seluruhnya sama kedudukannya.“

Jarajah bertanya, “Apakah orang yang hari ini masuk ke dalam agama kalian akan memiliki ganjaran yang sama dengan yang masuk sebelumnya?“

Khalid menjawab, “Ya, bahkan lebih banyak.”

Jarajah bertanya, “Bagaimana bisa sama sementara kalian telah mendahului-nya?”

Khalid menjawab, “Sesunguhnya kami menerima Islam dengan pepe-rangan dan kami membai’at Nabi kami sementara beliau hidup di tengah-tengah kami. Selalu datang kepadanya berita dari langit dan beliau memberi-takannya kepada kami al-Qur’an, menunjukkan kepada kami mukjizat-mukjizat. Maka pasti orang yang melihat apa yang telah kami lihat dan mendengar apa yang telah kami dengar tentang hujjah-hujjah dan keajaiban mukjizat akan beriman dan membai’at beliau. Namun kalian tidak melihat apa yang kami lihat, dan belum pernah mendengar apa yang kami dengar mengenai mukjizatnya dan perkara-perkara luar biasa lainnya. Maka barang siapa masuk agama kami dengan niat yang benar dan jujur akan lebih utama dari kami.“

Jarajah berkata, “Demi Allah apakah engkau menjawab pertanya-anku dengan jujur dan tidak berbohong padaku?“

Khalid menjawab, “Demi Allah aku telah menjawab pertanyaanmu dengan benar dan Allah sebagai saksi atas apa yang kau tanyakan.“

Ketika itu Jarajah membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam barisan Khalid, sambil berkata, “Ajarkan aku Islam.“

Khalid segera membawanya ke tenda dan menyediakan satu bejana air lalu menyuruhnya mandi, kemudian shalat bersamanya dua raka’at.

Melihat pembelotan Jarajah pasukan Romawi menyerbu ke barisan kaum muslimin, maka kaum muslimin mulai berlari dari posisinya kecuali pasukan yang ditugaskan menjaga, yang dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal, dan al-Harits Ibnu Hisyam.

( bersambung bagian 3 )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: