Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Bantahan Terhadap TAHDZIR MINAT TAKFIER (Bagian 1)

Bantahan Terhadap TAHDZIR MINAT TAKFIER (Bagian 1)


Penulis:

Al Imam Al Mujadid Ats Tsani
Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammah Ibnu Abdil Wahhab
-rahimahullah-

Segala puji hanya milik Allah saja, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi penutup.

Ketahuilah, wahai orang yang mencari kebenaran lagi ingin mengapai keikhlasan dan kejujuran. Sesungguhnya telah sampai kepada kami beberapa lembar kertas yang berasal dari orang yang busuk, yang berisi tahdzir dari takfier. Tanpa tahqieq (pengkajian yang benar) dan tanpa tahrier (pembahasan yang tepat), dimana dia mengatakan di dalamnya: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam bantahannya terhadap Khawarij dan Mu’tazilah.

Saya katakan: ini adalah ungkapan orang tak memiliki ilmu, dan kami tidak akan menjelaskan kebodohan dan kerancuan yang terdapat di dalamnya, karena orang yang cakap pasti mengetahui kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalamnya.

Kemudian dia mengatakan: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Dan mereka yang mengada-adakan landasan-landasan pokok (ushul), yang mereka klaim bahwa tidak mungkin membenarkan Rasul kecuali dengannya, dan bahwa mengetahui landasan-landasan pokok tersebut merupakan syarat dalam keimanan lagi wajib atas semua individu, mereka adalah ahlu bid’ah menurut ulama salaf, para imam, jumhur ulama umat ini yang hebat, serta menurut orang-orang yang mengikuti mereka dengan cara baik. Sesungguhnya landasan-landasan itu adalah bathil menurut akal lagi bid’ah dalam syari’at ini, sampai ia mengatakan: Dan di antara sifat ahlu bidah adalah bahwa mereka menjadikannya sebagai bagian dari keimanan yang harus dipenuhi, mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka dalam masalah itu, serta mereka menghalalkan darahnya, seperti perlakuan Khawarij, Jahmiyah, Rafidlah, Mu’tazilah, dan yang lainnya.

Sedangkan Ahlussunnah, mereka itu tidak mengada-adakan ungkapan yang (tidak ada dasarnya), dan mereka tidak mengkafirkan orang yang keliru dalam ijtihadnya, meskipun orang yang menyelisihi mereka menghalalkan darah mereka itu, sebagaimana para shahabat radliyallahu ‘anhum tidak mengkafirkan Khawarij, padahal Khawarij itu mengkafirkan mereka dan menghalakan darah kaum muslimin yang menyelisihi mereka. Dan dia (orang busuk itu) terus menuturkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang Khawarij, Jahmiyyah, Mu’tazilah dan yang lainnya secara terpotong. Dia mengambil darinya apa yang dia maksudkan dengannya pengkaburan dan penyesatan, serta dia justeru meninggalkan perkataan yang jelas lagi rinci dari ungkapan itu.

Dan kami tidak bisa membawa ungkapannya yang dia sengaja nukil dari Syaikhul Islam dan yang lainnya itu kepada maksud yang baik, dan tidak ada kebutuhan yang menuntut untuk membawanya kepada tujuan itu, karena di Jazirah Arab dan sekitarnya tidak ada orang yang berpandangan seperti pandangan Khawarij, dan yang mengkafirkan para shahabat dan yang lainnya dari kalangan kaum mu’minin dengan sebab dosa yang padahal pelakunya tidak boleh dikafirkan, dan tidak ada pula (di Jazirah ini) orang yang mengatakan al manzilah bainal manzilatain dan yang mengingkari qadar seperti Mu’tazilah, dan tidak pula orang yang ghuluw (kultus) terhadap ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang mempertuhankan mereka seperti Rafidlah.

Dan bila keadaannya seperti itu, maka diketahuilah bahwa dia itu memaksudkan dengan nukilan-nukilannya itu dalam rangka menghantam pengikut dakwah Islamiyyah ini yang muncul di Nejd,[1] yang mana jumlah besar dari umat ini mengambil manfaat dengan keberadaan dakwah (tauhid) ini dan mereka pun berpegang teguh dengan pokok-pokok yang terdapat dalam Al Kitab dan Assunnah, serta mereka menguatkannya dengan ijma salaful ummah dan dengan apa yang telah ditetapkan oleh para imam pengikut salaf, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Al ‘Alamah Muhammad Ibnu Qayyim Al Jauziyyah serta para pendahulu mereka dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Orang ini melakukan kerancuan itu tidak lain karena sebab keyakinannya yang rusak, sehingga dia tidak memandang syirik jaliyy (akbar) ini sebagai dosa besar yang mana pelakunya harus dikafirkan. Kemudian dia justeru mengarahkan panah pengingkaran dan celaannya terhadap orang yang mengingkari kemusyrikan dan yang menjauhi pelakunya serta mengkafirkan mereka dengan landasan Al Kitab, Assunnah, dan Ijma.

Sedangkan tidak samar lagi bahwa di antara orang yang paling dahsyat pengingkarannya terhadap syitik adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ulama sunnah yang semisal dengan beliau tatkala kemusyrikan menyebar pada zaman mereka serta merajalela. Maka mereka pun mengingkarinya, dan mereka menjelaskan bahwa ini adalah kemusyrikan yang nyata yang pernah dilakukan oleh kaum musyrikin terdahulu, sebagaimana hal itu akan datang dalam ungkapan beliau (Ibnu Taimiyyah) rahimahullah ta’ala.

Sehingga di antara kaum musyrikin itu ada yang mengkafirkan ahlut tauhid hanya dengan sebab pemurnian ibadah mereka (hanya kepada Allah) dan dengan sebab pengingkaran mereka terhadap ahlu syirik dan tandid, kemudian karena sebab ini mereka mengatakan “kalian adalah Khawarij, kalian ahlu bid’ah”[2] sebagaimana realita seperti ini diisyaratkan oleh Al ‘Alamanah dengan ungkapannya[3]:

“Kenapa saya disamakan dengan Khawarij yang mengkafirkan dengan sebab dosa, karena takwil yang tidak tepat, mereka memiliki nash-nash yang mereka kurang mampu memahaminya, sehingga mereka keliru karena sebab kurangnya pengetahuan, sedangkan lawan kami telah mengkafirkan kami dengan sebab sesuatu yang merupakan puncak tauhid dan keimanan”.

Sedangkan orang ini telah meniti jalan orang yang mengkafirkan (muwahhid) dengan sebab pemurnian tauhidnya. Bila kita mengatakan: “Tidak boleh diibadati kecuali Allah, tidak boleh diseru kecuali Dia, tidak boleh menggantungkan harapan kecuali kepada-Nya, tidak boleh tawakkal kecuali kepada-Nya dan ibadah-ibadah lainnya yang tidak layak kecuali bagi Allah, serta bahwa orang yang memalingkan ibadah itu kepada selain Allah, berarti dia itu orang kafir lagi musyrik”, maka dia itu mengatakan: Kalian telah berbuat bid’ah, kalian telah mengkafirkan umat Muhammad, kalian Khawarij, kalian mubtadi’ah!

Dia mengambil dari perkataan Syaikhul Islam tentang ahlul bid’ah apa yang dia (maksudnya orang busuk itu, Pent) tulisannya dalam rangka menyindir ahlut tauhid,[4] padahal tidak samar apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam tentang para pelaku syirik, beliau rahimahullah berkata: “Siapa yang menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah, dia menyeru perantara itu, dia memohon kepadanya, dan dia bertawakal terhadapnya, maka dia itu kafir dengan ijma”.

Padahal apa yang dijadikan bahan penipuan oleh orang busuk ini terhadap orang-orang bodoh: adalah bahwa Syaikhul Islam rahimahullah menyebutkan tentang ahlul maqaalaat al khafiyyah (masalah-masalah keyakinan yang mengandung kekafiran yang sifatnya masih samar), bahwa sesungguhnya ungkapan tersebut meskipun itu adalah kekafiran, akan tetapi tidak selayaknya pelakunya itu dikafirkan hingga hujjah tegak atasnya. Dan berikut ini adalah perkataan beliau rahimahullah.

Beliau berkata: Menafikan sifat-sifat Allah adalah kekafiran, mendustakan bahwa Allah bisa dilihat di akhirat adalah kekafiran, mengingkari keberadaan Allah ada di atas Arasy adalah kekafiran, dan keyakinan-keyakinan yang serupa dengan hal-hal itu. Sungguh mengkafirkan orang mu’ayyan dari mereka itu, dimana dia divonis bahwa dia itu bersama orang-orang kafir,adalah tidak boleh dilakukan kecuali bila tegak atasnya hujjah yang ternyata jelas dengannya bahwa mereka itu adalah memang salah.

Coba perhatikan perkatannya: Dari mereka itu, dimana dia divonis bahwa dia itu bersama orang-orang kafir, dan perkatannya: Kecuali bila tegak atasnya hujjah, beliau memaksudkan dengan penyebutan orang-orang kafir di sini adalah kaum musyrikin, sebagaimana penjabarannya akan datang dalam perkataan Syaikh ini dan yang lainnya.

Dan kami bihamdillah: telah kosong negeri-negeri kami dari para ahlul bid’ah, para pemegang keyakinan/ungkapan-ungkapan ini dan justeru yang menjadi sumber perselisihan antara kami dengan banyak orang adalah dalam hal peribadatan terhadap berhala-berhala yang mana Allah telah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk melarangnya dan memusuhi para pelakunya. Kami mengajak terhadap apa yang didakwahkan oleh semua rasul, berupa tauhid dan ikhlas, dan kami melarang apa yang telah dilarang oleh para Rasul, berupa syirik terhadap Allah dalam hal rububiyyah dan uluhiyyah-Nya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?” (Az Zukhruf: 45)

Al Qur’an dari awal hingga akhir adalah menjelaskan tentag syirik ini, melarang darinya, dan menetapkan tauhid, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي (١٤) فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ (١٥) لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ (١٦) وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِي (١٧) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ (١٨)

“Katakanlah: “Hanya Allah saja yang aku ibadati dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) dienku”. Maka ibadatilah oleh kalian (hai orang-orang musyrik), apa yang kalian kehendaki selain Dia. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku. Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak mengibadatinya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.(Az Zumar: 14-18)

Dan tauhid ini termasuk ushul (pegangan pokok) kami bihamdillah, sedangkan penulis lembaran-lembaran itu mengatakan ini bid’ah, ya… memang ia adalah bid’ah menurut macam orang-orang yang mengatakan:

مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلا اخْتِلاقٌ

“Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan”,(Shad: 7)

Perhatikanlah perkataanlah perkataan Syaikhul Islam rahimahullah yang tidak bisa dikaburkan, karena sesungguhnya beliau tatkala menyebutkan orang-orang yang telah beliau isyaratkan sebelumnya dari kalangan orang-orang yang memiliki keyakinan bid’ah itu, beliau mengatakan: dan ini bila terjadi dalam maqaalaat khafiyyah (pendapat-pendapat yang samar), maka bisa dikatakan sesungguhnya dia itu keliru lagi sesat di dalamnya yang belum tegak hujjah atasnya, akan tetapi hal itu terjadi pada kelompok-kelompok dari mereka dalam hal-hal yang jelas, yang mana orang-orang awam dan orang-orang khusus dari kaum muslimin, mengetahui bahwa hal itu adalah bagian dari dienul Islam, bahkan orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengannya dan mengkafirkan orang yang menyalahinya, seperti perintah ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, larangan beribadah kepada selain Allah, baik itu malaikat, para nabi, matahari, bulan, bintang, patung dan yang lainnya. Sesungguhnya hal ini (perintah bertauhid dan larangan berbuat syirik) adalah tergolong ajaran Islam yang paling jelas, seperti perintah Allah untuk mendirikan shalat, mewajibkannya, serta mengagungkan kedudukannya.

Dan seperti memusuhi orang-orang Yahudi, Nasrani, kaum musyrikin, shabiah, dan majusi, seperti pengharaman fawaahisy (perbuaan-perbuatan keji) riba, judi, dan yang lainnya. Kemudian ternyata engkau mendapatkan banyak dari tokoh mereka itu jatuh dalam penyimpangan-penyimpangan ini sehingga mereka itu menjadi murtad, selesai perkataan Ibnu Taimiyyah.

Dan amati ucapannya: dan seperti memusuhi orang-orang Yahudi, Nasrani, kaum musyrikin… hingga akhir.

Dan orang-orang yang dikomentari oleh Syaikhul Islam: bahwa mereka itu menjadi murtad dengan sebab penyelisihan mereka terhadap sebagian syari’at, itulah pula yang kami katakan dan itulah yang selalu dipegang oleh imam Islam ini seluruhnya, serta inilah yang dijadikan alasan orang tadi dan orang-orang yang semisal dengannya dari kalangan orang-orang yang menyimpang, dari tauhid untuk mendendam kami.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Dan siapa orangnya yang meyakini bahwa dengan sekedar mengucapkan dua kalimah syahadat, orang masuk surga dan tidak masuk neraka, maka dia itu orang sesat yang menyelisihi Al Kitab As Sunnah dan Ijma. Selesai ucapannya.

Syaikhul Islam menyebutkan, bahwa Al Fakhru Ar Razii telah menyusun kitab As Sirrul Maktuum Fi ‘Ibadatin Nujuum, maka dia menjadi murtad, kecuali bila setelah itu dia taubat kembali. Beliau telah mengkafirkan Al Fakhru Ar Razi secara ta’yin tatkala ia menghiasi kemusyrikan.[5]

Dan beliau berkata setelah menyebutkan alasan dalam larangan menjadikan kuburan sebagai masjid, serta larangan shalat saat matahari terbit dan saat terbenam, beliau berkata: Maka sebagai bentuk penutupan jalan (menuju kemusyrikan) adalah tidak melakukan shalat di waktu ini, meskipun orang yang shalat itu tidak mendirikan shalat kecuali kepada Allah dan tidak menyeru kecuali terhadap Allah, ini supaya tidak menjerumuskan kepada penyeruan dan shalat terhadap-Nya, dan ini adalah di antara penyebab kemusyrikan yang dengannya telah sesat orang-oarng dari kalangan terdahulu dan yang kemudian, sehingga hal itu menjadi merebak di tengah-tengah orang yang mengaku Islam, dan dia mengarang kitab sesuai dengan ajaran kaum musyrikin, seperti Abi Mi’syar Al Balkhi, Tsabit Ibnu Qurrah dan lainnya yang telah jatuh ke dalam kemusyrikan dan beriman kepada Jibt dan Thaghut, padahal mereka itu tergolong orang yang menisbatkan kepada ilmu[6], sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut” (An Nisa: 51)

Lihatlah kepada sang imam ini yang mana orang yang telah Allah sesatkan hatinya menisbatkan kepada beliau, bahwa beliau tidak mengkafirkan secara mu’ayan, bagaimana itu bisa, sedangkan beliau telah menyebutkan tentang Al Fakhru Ar Razi, Abu Mi’syar, serta para penulis lainnya yang sangat terkenal, bahwa mereka itu telah kafir dan murtad dari Islam.

Dan coba amati perkatannya: sehingga hal itu menjadi merebak di tengah-tengah orang yang mengaku Islam, supaya engkau mengetahui kemusyrikan terhadap Allah yang telah terjadi di tengah-tengah umat akhir-akhir ini, dan beliau (Ibnu Taimiyyah) telah meyebut Ar Arazi dalam bantahan beliau terhadap ahli kalam, serta beliau menyebutkan kitab susunannya Assirrul Maktum, dan beliau berkata: “Sungguh ini adalah kemurtaddan yang nyata dengan kesepakatan kaum muslimin”

Dan beliau berkata dalam Ar Risalah As Sunniyyah: dan setiap orang yang ghuluw (mengkultuskan) Nabi, atau orang shaleh, dan dia menjadikan padanya bagian dari sifat ilahiyyah, seperti dia mengatakan: Wahai tuanku fulan tolonglah saya, atau selamatkan saya, atau berilah saya rizki, atau tutupilah kekurangan saya ini, atau (mengatakan) saya berada dalam pencukupanmu, serta ungkapan-ungkapan yang sejalan dengannya, maka masing-masing dari hal ini adalah kemusyrikan dan kesesatan, yang mana pelakunya diperintahkan untuk taubat, bila dia taubat (maka dilepaskan), dan bila ternyata tidak mau bertaubat maka dia harus dibunuh.

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengutus para rasul dan tidak menurukan kitab-kitab-Nya kecuali supaya Dia sajalah yang diibadati, dan tidak menyertakan ilah yang lain bersama-Nya. Sedangkan orang yang mengeru tuhan-tuhan yang lain bersama Allah, seperti Al Masih, malaikat, dan patung. Sungguh mereka itu tidak meyakini bahwa tuhan-tuhan itu menciptakan makhluk ini, tidak pula menurunkan hujan, dan tidak pula menumbuhkan pepohonan, dan justeru mereka hanya mengibadatinya atau beribadah kepada kuburannya atau terhadap patungnya seraya mengatakan:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya” (Az Zumar: 3)

Dan mengatakan:

هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah” (Yunus: 18)

Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang melarang dilakukan doa (penyeruan) terhadap sorangpun selain Allah, baik doa ibadah maupin doa isti’anah (perintaan pertolongan). Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلا (٥٦) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

“Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya.” Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah” (Al Isra: 56-57)

Kemudian beliau berkata: Ibadah kepada Allah saja, yang tidak ada sekutu bagi-Nya adalah pokok dien ini, dan ia adalah pokok tauhid yang dengannya Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Dia Subhanahu Wa Ta’ala befirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (An Nahl: 36)

Dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka beribadahlah kalian kepada-Ku” (Al Anbiyaa: 25)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merealisasikan tauhid dan beliau mengajarkannya kepada umatnya, sampai pernah ada seorang laki-laki berkata kepadanya: “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”, maka beliau mengatakan “Apakah kamu telah menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah? Akan tetapi katakan sesuai dengan kehendak Allah saja”. Dan beliau melarang dari bersumpah dengan selain Allah, beliau berkata:

من حلف بغير الله فقد أشرك

“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah berbuat syirik”

Dan beliau berkata saat sakit yang menghantarkan beliau kepada ajalnya:

لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Semoga Allah melaknat bangsa Yahudi dan Nasrani, karena mereka telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai mesjid”

Ini dalam rangka beliau menghati-hatikan apa yang telah mereka lakukan. Beliau berkata juga:

اللهم لا تجعل قبري وثناً يعبد

“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kuburanku sebagai berhala yang diibadati”

Dan sabdanya:

لا تتخذوا قبري عيدا ولا تجعلوا بيوتكم قبورا وحيثما كنتم فصلوا علي فإن صلا تكم تبلغني ‏

“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘ied, dan jangan (jadikan) rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan bacalah shalawat kepadaku dimana saja kalian berada, karena ucapan shalawat kalian ini sampai kepadaku”

Oleh karena itu para imam Islam ini telah sepakat bahwa tidak disyari’atkan membangun mesjid di atas kuburan dan tidak pula shalat di sisinya, ini dikarenakan di antara sebab terbesar peribadatan terhadap berhala adalah karena pengagungan terhadap kuburan. Dan oleh sebab itu para ulama sepakat bahwa wajib atas orang yang ingin mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di kuburannya untuk tidak mengusap tembok kamarnya dan tidak pula menciumnya, karena pengusapan itu hanya dilakukan terhadap Baitullah, maka tidak boleh rumah makhluk diserupakan dengan Baitullah.

Semua ini dalam rangka merealisasikan tauhid yang merupakan pokok dien ini dan kepalanya yang mana Allah tidak menerima amalan kecuali dengannya. Dia mengampuni bagi yang bertauhid, dan tidak mengampuni bagi orang yang meninggalkannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (٤٨)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisaa: 48)

Oleh sebab itu kalimah tauhid adalah ucapan yang paling utama lagi paling agung. Selesai.

Saya berkata: Maka tidak tersisa -bihamdillah- bagi orang yang membuat keraguan, hujjah dalam perkataan ulama setelah rincian, penjabaran, dan penjelasan ini. Dan sungguh indah sekali apa yang dikatakan oleh Al ‘Alamah Ibnu Qayyim rahimahullah:

Ilmu itu masuk ke hati setiap orang yang diberi taufiq
Tanpa ada juru pintu dan tanpa permintaan izin
Dan ilmu itu ditolak oleh orang yang terhalang karena kehinaannya
Ya Allah, janganlah Engkau binasakan kami dengan kehinaan

Dan beliau rahimahullah memiliki rincian yang sangat indah dalam kitabnya Madarijus Salikin, saat menjelaskan jenis dosa-dosa yang perlu ditaubati darinya, yaitu ada 12 jenis yang semuanya disebutkan dalam Kitabullah ‘Azza wa Jalla, pertama: kekafiran, kedua: kemusyrikan. Macam-macam kekafiran ada lima: kufur takdzib (mendustakan), kufur istikbar wa ibaa’ (peniolakan) yang disertai pembenaran, kufur i’radl (keberpalingan), kufur syakk (keragu-raguan), dan kufur nifaq, dan beliau menjelaskan semua macam ini.

Kemudian beliau berkata: Dan adapun syirik, maka ini ada dua macam: akbar dan asghar. Syirik akbar tidak mungkin Allah ampuni kecuali dengan bertaubat darinya, yaitu menjadikan tandingan bagi Allah, dia mencintainya sebagaimana dia mencintai Allah, dan ini adalah syirik yang mengandung penyamaan tuhan-tuhan kaum musyrikin dengan Rabbul ‘Alamiin. Dan oleh sebab itu mereka mengatakan kepada tuhan-tuhannya di dalam neraka:

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٩٧) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (٩٨)

“Demi Allah: Sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam”. (Asy Syu’araa: 97-98)

Padahal mereka mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta segala sesuatu. Tuhan dan penguasanya, sedangkan tuhan-tuhan mereka itu tidak menciptakan, tidak memberikan rizki, tidak mematikan dan menghidupkan. Dan penyamaan ini hanyalah dalam hal kecintaan, pengagungan, dan ibadah, sebagaimana keadaan kaum musyrikin dunia masa sekarang ini.

Bahkan mereka semua itu mencintai ma’buudaat-nya (tuhan-tuhan yang mereka ibadati), mengagungkanya, dan muwalaah kepadanya dengan meninggalkan Allah. Banyak dari mereka bahkan mayoritasnya lebih mencintai tuhan-tuhannya daripada mencintai Allah, mereka berbunga-bunga saat tuhan-tuhan mereka disebutkan, melebihi kebahagiaan mereka saat Allah sajalah yang disebut, dan mereka marah bila ma’buudaat dan tuhan-tuhan mereka dari kalangan para masyayikh dicela, melebihi kemarahan mereka saat seseorang mencela Allah Rabbul ‘Alamiin.

Bila salah satu kehormatan dari kehormatan-kehormatan (aturan) aalihah dan ma’buudaat mereka dilanggar, maka mereka marah seperti marahnya singa saat berperang.[7] Sedangkan bila kehormatan-kehormatan (aturan) Allah dilanggar, maka mereka itu tidaklah berang karenanya, bahkan justeru bila orang yang melanggar tersebut memberi mereka sesuatu, maka mereka berpaling darinya (maksudnya tidak mempermasalahkannya), dan hati mereka sama sekali tidak mengingkarinya. Semua ini telah kami dan selain kami saksikan secara terang-terangan dari mereka itu.

Engkau bisa melihat salah seorang di antara mereka telah menjadikan dzikir terhadap ilah dan ma’buud-nya selain Allah di lisanya bila ia berdiri, bila ia duduk, bila ia tersandung, dan bila ia merasa takut. Dzikir terhadap ilah dan ma’buudnya selain Allah adalah hal yang umum pada hati dan lisannya, sedangkan dia sama sekali tidak mengingkarinya, dan justeru mengklaim; bahwa itu adalah pintu kebutuhannya kepada Allah, pemberi syafa’at baginya di sisi Allah, serta wasilahnya kepada Allah. Dan begitulah para hamba berhala itu juga sama. Kadar pengagungan inilah yang ada di hati mereka dan selalu terus diwariskan oleh kaum musyrikin sesuai dengan perbedaan tuhan-tuhan mereka. Orang-orang dulu menjadikan tuhannya dari batu, sedangkan yang lain menjadikan tuhannya dari manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman seraya menghikayatkan tentang para pendahulu kaum musyrikin:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya”

Kemudian Allah memvonis mereka bahwa mereka itu pendusta lagi sangat kafir, dan Dia mengabarkan bahwa Dia tidak memberinya hidayah:

إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Az Zumar: 3)

Inilah keadaan orang yang menjadikan pelindung selain Allah, dia mengklain bahwa pelindung itu mendekatkan dirinya kepada Allah.[8] Sungguh berat sekali orang bisa terlepas dari hal ini, bahkan sungguh sangat berat sekali orang yang mengingkari perbuatan ini.

Dan apa yang ada dalam benak hati kaum musyrikin[9] dan para pendahulunya: Adalah bahwa tuhan-tuhan mereka itu memberikan syafa’at bagi mereka di sisi Allah, padahal ini adalah inti kemusyrikan, dan Allah telah mengingkari mereka karena hal itu di dalam kitab-Nya dan mengugurkannya. Dia menggambarkan bahwa syafa’at itu seluruhnya milik Allah, dan sesungguhnya tidak ada seorang pun yang memberikan syafa’at di sisinya kecuali bagi orang yang telah Allah beri izin untuk memberikan syafa’at baginya, dan dia telah meridhai ucapan dan perbuatannya, yang mana mereka itu adalah kaum muwahhidin yang tidak mengangkat para pemberi syafa’at selain Allah, karena sesungguhnya Dia Subhanahu Wa Ta’ala memberikan izin kepada orang yang dikehendaki-Nya untuk memberikan syafa’at bagi mereka, sebab mereka itu tidak menjadikan mereka sebagai pemberi syafa’at selain Allah, sehingga dia menjadi orang yang paling bahagia mendapatkan syafa’at orang yang diizinkan untuknya, yaitu ahlu tauhid yang tidak menjadikannya pemberi syafa’at selain Allah.

Syafa’at yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah syafa’at yang bersumber dari izin-Nya bagi orang yang mentauhidkan-Nya. Sedangkan syafa’at yang dinafikan oleh Allah adalah syafa’at syirkiyyah dalam hati kaum musyrikin yang menjadikan para pemberi syafa’at selain Allah, maka mereka itu diperlakukan dengan kebalikan tujuannya dari syafa’at mereka itu, dan sedangkan yang beruntung mendapatkan syafa’at adalah kaum muwahhidin.

Perhatikan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah, yang mana ia bertanya kepada beliau: “Siapakah orang yang paling bahagia mendapatkan syafa’atmu ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Orang yang paling bahagia mendapatkan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah”. Bagaimana beliau menjadikan sebab terbesar diraihnya syafa’at beliau adalah pemurnian tauhid, lain halnya apa yang diyakini oleh kaum musyrikin: yaitu bahwa syafa’at itu bisa diraih dengan cara menjadikan mereka sebagai para pemberi syafa’at, beribadah kepada mereka, dan muwaalaah kepada mereka dengan meninggalkan Allah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membalikan apa yang ada dalam klaim mereka yang dusta, dan beliau mengabarkan; bahwa sebab diraihnya syafa’at adalah pemurnian tauhid, kemudian Allah mengizinkan pemberi syafa’at untuk memberi syafa’at.

Dan di antara kebodohan orang musyrik ini: Keyakinannya bahwa orang yang mengangkat wali atau pemberi syafa’at, maka ia (pemberi syafa’at/wali) itu bisa memberikan syafa’at terhadapnya dan memberikan manfaat kepadanya di sisi Allah, sebagaimana halnya orang-orang dekat raja dan para penguasa bisa memberikan manfaat kepada orang yang muwaalaah terhadapnya, dan mereka tidak mengetahui bahwa satu makhlukpun tidak bisa memberikan syafa’at di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya, sedangkan Allah tidak memberikan izin syafa’at kecuali terhadap orang yang ucapan dan amalannya Dia ridhai, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala dalam syarat pertama:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya” (Al Baqarah: 255)

Dan dalam syarat kedua:

وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah” (Al Anbiyaa: 28)

Dan tinggal syarat ketiga: yaitu Allah tidak ridha terhadap ucapan dan amalan kecuali dengan tauhid dan ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan tentang dua kalimat ini orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian akan ditanya, sebagaimana yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah: Dua kalimat yang tentang keduanya orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian akan ditanya: “Apa yang kalian ibadati? dan dengan apa kalian menyambut para rasul?”

Ini adalah tiga landasan pokok yang menubangkan pohon kesyirikan dari hati orang yang mencerna dan memahaminya. Tidak ada syafa’at kecuali degan izin-Nya, dan Dia tidak mengizinkan kecuali terhadap orang yang ucapan dan amalannya diridhai, sedangkan Dia tidak meridhai dari ucapan dan amalan kecuali tauhid kepada-Nya dan ittiba’ terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengampuni orang-orang yang menjadikan tandingan bagi-Nya, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

“Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka”. (Al An’am: 1)

Dan berdasarkan pendapat yang paling benar dari dua pendapat yang ada: Mereka mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah dalam hal ibadah, muwaalaah, dan mahabbah, sebagaimana dalam ayat yang lain:

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٩٧) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (٩٨)

“Demi Allah: Sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kalian dengan Tuhan semesta alam”. (Asy Syu’araa: 97-98)

Dan sebagaimana dalam ayat Al Baqarah:

يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

“Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah” (Al Baqarah: 165)

Engkau bisa melihat orang musyrik itu, keadaan dan perbuatannya mendustakan ucapannya, dimana dia mengatakan: “Kami tidak mencintai mereka seperti kecintaan kami terhadap Allah, dan kami tidak mempersamakan mereka dengan Allah”, kemudian ternyata dia marah karena mereka dan karena kesucian mereka bila dilanggar, melebihi kemarahannya karena Allah. Dia merasa bahagia bila mereka disebut-sebut, dan dia berbunga-bunga terutama bila diceritakan tentang (kelebihan) mereka yang tidak ada pada diri mereka, seperti mampu menolong orang yang meminta pertolongan, membukakan kesulitan, memenuhi kebutuhan, dan bahwa mereka itu adalah pintu antara Allah dengan hamba-hamba-Nya, sehingga engkau bisa melihat orang musyrik itu berbahagia, senang, hatinya rindu, pengagungannya meluap-luap, tunduk terhadap mereka dan penuh dengan loyalitas.

Bersambung…..

[1] Dan anehnya sejarah itu kembali berulang, dimana banyak orang yang mengklaim pengikut salaf, akan tetapi mereka menempatkan nukilan-nukilan dari Ibnu Taimiyyah tentang ahlu bid’ah yang keliru dalam ijtihad, taqlid dan jahil, atau takwil sehingga mereka tidak bisa dikafirkan sebelum ditegakkan hujjah atas mereka, terus mereka terapkan pada pelaku syirik akbar dan para thaghut, dengan maksud menghadang para muwahhidin dari mengkafirkannya.(Pent).

[2] Kalau sekarang para musuh dakwah itu menuduh para muwahhidin yang mengkafirkan para pelaku syirik akbar dan para thaghut dengan julukan yang sama, yaitu Khawarij atau Takfiriy. Mereka mengatakan: “Jangan kafirkan saudaramu”. Aneh sekali apakah para pelaku syirik dan para tahghut itu saudara kalian… wahai orang jahil? Apakah kalian ridha mengikat persaudaraan dengan para pelaku syirik akbar, sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah menafikan persaudaraan antara para pelaku syirik dengan kaum msulimin. Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Bila mereka bertaubat (dari syiriknya), mendirikan shalat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudara kalian dalam dien ini” (At Taubah: 11). (Pent).

[3] Ya, memang tuduhan Khawarij itu selalu berulang terhadap para Muwahhidin, saat mereka mendakwahkan Laa ilaaha illallaah yang sebenarnya. Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah bersama para pengikutnya dituduh Khawarij karena mereka mengkafirkan para pelaku kemusyrikan yang masih mengucapkan dua kaliah syahadat, shalat, zakat, shaum, dan haji. Dan begitu juga kau muwahhidin mengakafirkan para pelaku syirik kuburan dan syirik aturan, maka para pebela thaghut itu pun memvonis mereka sebagai orang-orang Khawarij, dan mereka mengarahkan panah permusuhannya terhadap kami, sedangkan para thaghut dan para penyebah kuburan merasa tentram dari hujatan mereka. Sungguh yang lebih dekat kepada perbuatan Khawarij itu adalah mereka, karena mereka membiarkan para penyembah berhala Pancasila, UUD buatan, Demokrasi dan mereka menyerang kaum muwahhidin. (Pent).

[4] Maksudnya bahwa orang busuk itu mengambil perkataan Ibnu Taimiyyah tentang pengkafirkan ahlu bid’ah, terus dia terapkan kepada para pelaku syirik seraya menghadang dengannya pengkafirkan yang dilakukan kaum muwahhidin terhadap para pelaku syirik. Mereka menerapkan pengudzuran karena jahil, takwil, ijtihad, taqlid yang dikatakan Syaikhul Islam tentang ahlul bid’ah terus mereka terapkan bagi para pelaku kemusyrikan. Pent.

[5] Padahal Syaikhul Islam tidak pernah bertemu dengan Ar Razi, karena Ar Razi meninggal tahun 604 H sedangkan Ibnu Taimiyyah lahir 661 H. Apakah beliau memberikan penjelasan kepadanya sebelum dikafirkan, wahai para ahlu bid’ah??? (Pent)

[6] Zaman sekarang seperti orang yang memiliki gelar dalam ilmu syari’at akan tetapi dia menyusun kitab tentang bolehnya boleh beristighatsah kepada yang sudah meninggal dunia, atau oprang yang menyusun kitab tentang boleh masuknya dalam sistem demokrasi, serta menghiasi sistem demokrasi dengan dasar-dasar yang kotor lagi busuk, mereka itu adlah tergolong orang-orang yang beriman kepada Jibt dan thaghut. Pent

[7] Seperti bila thaghut (presiden dan rengrengannya) dihina, maka para hamba dan aparat thaghut itu marah dan berang melebihi kemarahan mereka bila Allah Subhanahu Wa Ta’ala dilecehkan. Bila undang-undang yhaghut, falsafah thaghutiyyah, serta sistem demokrasi berserta orang-orangnya dihina dan dilecehkan, maka para budak dan aparat thaghut akan dengan sigap menindak orang yang menghinanya tersebut dan mereka membawanya ke meja hijau atau minimal diinterogasi, ini berbeda halnya bila aturan dan hukum Allah dilanggar, maka dahi mereka sama sekali tidak berkerut. (Pent).

[8] Jadi tujuan mereka itu adalah baik, ingin dekat dan mengagungkan Allah, akan tetapi cayanya syirik akbar, dan Allah tetap memvonis mereka sebagai orang kafir. Begitu juga orang yang menjadikan demokrasi sebagai jalan penegakkan syari’at, tujuannya baik, akan tetapi cara dan sarananya syirik, maka dia itu kafir juga, bagaimana orang mengejar syari’at dengan mengorbankan tauhid ?!! (Pent).

[9] Yang dimaksud dengan kaum musyrikin dalam ungkapan di sini adalah orang yang mengaku Islam, shalat, shaum, zakat, haji, akan tetapi dia melakukan syirik akbar atau melegalkannya.(Pent).


2 Komentar

  1. abu aman mengatakan:

    Anggapan bahwa Ibnu Taimiyah telah mengafirkan Al-Fakhr Ar-Razi secara ta’yin perlu ditinjau ulang. Kitab “As-Sirr Al-Maktum” juga dipertanyakan penisbatannya kepada Al-Fakhr Ar-Razi. Bagi yang bisa berbahasa Arab, silakan periksa tautan berikut: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=291452

  2. abu aman mengatakan:

    Ada lagi tambahan penjelasan tentang “As-Sirr Al-Maktum” dan Ar-Razi dari tautan berikut:
    http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=235902
    http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=294709

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: