Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Pembagian Dien Kepada Ushul dan Furu’

Pembagian Dien Kepada Ushul dan Furu’


Sebagian orang yang biasa mengudzur para thaghut dan kaum musyrikin dengan sebab kebodohan, mereka itu mengatakan bahwa pembagian dien ini kepada ushul dan furu’ adalah bid’ah dan tidak ada dasarnya. Mereka berdalih dengan ucapan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang tidak mereka pahami maksudnya, yaitu ucapannya:

(وَمَا قَسَّمُوا الْمَسَائِلَ إلَى مَسَائِلِ أُصُولٍ يَكْفُرُ بِإِنْكَارِهَا وَمَسَائِلِ فُرُوعٍ لَا يَكْفُرُ بِإِنْكَارِهَا . فَأَمَّا التَّفْرِيقُ بَيْنَ نَوْعٍ وَتَسْمِيَتِهِ مَسَائِلَ الْأُصُولِ وَبَيْنَ نَوْعٍ آخَرَ وَتَسْمِيَتِهِ مَسَائِلَ الْفُرُوعِ فَهَذَا الْفَرْقُ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ لَا عَنْ الصَّحَابَةِ وَلَا عَنْ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ وَلَا أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ وَإِنَّمَا هُوَ مَأْخُوذٌ عَنْ الْمُعْتَزِلَةِ وَأَمْثَالِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ وَعَنْهُمْ تَلَقَّاهُ مَنْ ذَكَرَهُ مِنْ الْفُقَهَاءِ فِي كُتُبِهِمْ )

(Dan mereka itu tidak membagi permasalahan kepada permasalahan ushul yang mana orang menjadi kafir dengan pengingkarannya dan permasalahan furu’ yang mana orang tidak menjadi kafir dengan pengingkarannya. Adapun pemilahan antara suatu macam dan menamakannya sebagai permasalahan ushul dengan macam yang lain dan menamakannya sebagi permasalahan furu’, maka pemilahan ini adalah tidak memiliki dasar baik dari sahabat ataupun dari orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik ataupun dari para imam Islam ini, akan tetapi ia itu hanyalah diambil dari mu’tazilah dan para ahli bid’ah semacam mereka dan dari merekalah sebagian para fuqaha yang menuturkan hal itu dalam kitab-kitab mereka telah mengambilnya). [Majmu Al Fatawa 23/346]

Itulah ucapan Ibnu Taimiyyah yang disimpulkan oleh sebagian orang bahwa pembagian dien menjadi ushul dan furu’ itu adalah bid’ah, dan bahwa pembagian permasalahan kepada permasalahan yang tidak ada udzur karena kejahilan di dalamnya adalah pemahaman bid’ah yang tidak ada dasarnya dari salaf.

Sebelum menjelaskan kesalahan pemahaman terhadap ucapan Ibnu Taimiyyah ini, perlu kami ingatkan bahwa di antara tuntunan ulama baik dahulu maupun sekarang di dalam memahami pemahaman seorang ulama tertentu dalam suatu permasalahan adalah menngumpulkan semua ucapan orang alim itu dalam masalah tersebut dan membandingkan ucapan-ucapannya itu satu sama lain serta mengembalikan ucapannya yang mutasyabih (samar) kepada yang jelas (muhkam), sehingga nampak jelaslah di hadapan mereka apa yang dimaksud oleh orang alim itu dan akhirnya bisa memahami ucapan-ucapan orang alim itu dengan pemahaman yang benar, berbeda halnya dengan ahi bid’ah yang hanya menuturkan ucapan-ucapan yang seolah-olah mendukung mereka dan meninggalkan apa yang bisa mematahkan mereka.

Adapun untuk menjawab kesalahan paham terhadap ucapan Ibnu Taimiyyah bahwa pembagian dien kepada ushul dan furu’ adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya dari salaf, maka kami katakan bahwa pernyataan ini adalah penolakan dan pengingkaran terhadap suatu yang maklum lagi banyak disebutkan di dalam kitab-kitab para ulama baik salaf maupun khalaf.

Di sini kami akan menyebutkan sebagian teks-teks ucapan dari salaf bahkan dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah sendiri yang menetapkan kebenaran pemilahan dien menjadi ushul dan furu’:

1. Al Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata:

( لا عذر لأحد في جهله معرفة خالقه، لأن الواجب على جميع الخلق معرفة الرب سبحانه وتوحيده، لما يري من خلق السماوات والأرض وخلق نفسه وسائر ما خلق الله تعالى.

فأمر الفرائض فمن لم يعملها ولم تبلغه فإن هذا لم تقم عليه الحجة الحكمية ).

(Tidak ada udzur bagi seorangpun dalam ketidaktahuannya terhadap ma’rifah Penciptanya, karena hal yang wajib atas semua makhluk adalah ma’rifah Rabbnya Subhanahu Wa Ta’ala dan mentauhidkan-Nya, dikarenakan tanda-tanda kekuasaan yang dilihatnya dari penciptaan langit dan bumi dan penciptaan dirinya dan semua makhluk Allah ta’ala.

Dan adapun faraidl (hal-hal yang diwajibkan), maka barangsiapa tidak mengetahuinya dan hal itu belum sampai kepadanya maka sesungguhnya orang ini adalah belum tegak hujjah hukmiyyah terhadapnya). [Badaiush shanai milik Al Kasaniy juz 7/132]

2. Al Imam Asy Syafi’iy rahimahullah:

( لله تعالى أسماء وصفات جاء بها كتابه واخبر بها نبيه صلى الله عليه و سلم أمته لا يسع أحدا من خلق الله تعالى قامت عليه الحجة ردها لأن القرآن نزل بها وصح عن رسول صلى الله عليه و سلم القول بها فيما روى عنه العدل فإن خالف ذلك بعد ثبوت الحجة عليه فهو كافر فأما قبل ثبوت الحجة عليه فمعذور بالجهل لأن علم ذلك لا يدرك بالعقل ولا بالروية والفكر ولا يكفر بالجهل بها احد الا بعد انتهاء الخبر إليه به)

(Allah ta’ala memiliki Nama-Nama dan Sifat-Sifat yang mana Kitab-Nya datang dengannya dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkannya kepada umatnya, yang mana seorangpun dari makhluk Allah yang telah tegak hujjah kepadanya tidak diudzur saat menolaknya, karena Al Qur’an telah turun dengan membawanya dan telah sah penetapannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam apa yang diriwayatkan oleh orang-orang adil darinya, kemudian bila dia menyelisihi hal itu setelah hujjah tegak terhadapnya maka dia kafir. Dan adapun sebelum hujjah tegak terhadapnya, maka dia itu diudzur dengan sebab kejahilan, karena pengetahuan hal itu tidak didapati dengan akal, pengamatan dan pikiran, dan seorangpun tidak dikafirkan dengan sebab kejahilan terhadapnya kecuali setelah sampainya khabar (hujjah) kepadanya). [Itsbat shifat Al ‘Uluww milik Asy Syaikh Al Imam Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Abu Muhammad hal. 124]

Seolah hal yang bisa didapati dengan akal, pengamatan dan pikiran adalah tidak diudzur dengan sebab kejahilan terhadapnya. Dan ini serupa dengan ucapan Ibnu Jarir berikut ini:

3. Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah berkata:

( فأما الذي لا يجوز الجهل به من دين الله لمن كان في قلبه من أهل التكليف لوجود الأدلة متفقةً في الدلالة عليه غير مختلفةٍ.

ظاهرةً للحس غير خفية، فتوحيد الله تعالى ذكره، والعلم بأسمائه وصفاته وعدله، وذلك أن كل من بلغ حد التكليف من أهل الصحة والسلامة، فلن يعدم دليلاً دالاً وبرهاناً واضحاً يدله على وحدانية ربه جل ثناؤه، ويوضح له حقيقة صحة ذلك؛ ولذلك لم يعذر الله جل ذكره أحداً كان بالصفة التي وصفت بالجهل وبأسمائه، وألحقه إن مات على الجهل به بمنازل أهل العناد فيه تعالى ذكره، والخلاف عليه بعد العلم به، وبربوبيته في أحكام الدنيا، وعذاب الآخرة فقال –جل ثناؤه-: {قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالاً. الذين ضل سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعاً. أولئك الذين كفروا بآيات ربهم ولقائه فحبطت أعمالهم فلا نقيم لهم يوم القيامة وزناً}.

فسوى –جل ثناؤه- بين هذا العامل في غير ما يرضيه على حسبانه أنه في عمله عاملٌ بما يرضيه في تسميته في الدنيا بأسماء أعدائه المعاندين له، الجاحدين ربوبيته مع علمهم بأنه ربهم، وألحقه بهم في الآخرة في العقاب والعذاب. وذلك لما وصفنا مناستواء حال المجتهد المخطئ في وحدانيته وأسمائه وصفاته وعدله، وحال المعاند في ذلك في ظهور الأدلة الدالة المتفقة غير المفترقة لحواسهما، فلما استويا في قطع الله –جل وعز- عذرهما بما أظهر لحواسهما من الأدلة والحجج، وجبت التسوية بينهما في العذاب والعقاب.).

(Adapun hal yang tidak boleh tidak mengetahuinya dari dienullah ini bagi orang yang tergolong ahli taklif karena adanya dalil-dalil yang disepakati dilalah terhadapnya lagi tidak diperselisihkan yang jelas lagi tidak samar bagi indra, maka ia itu adalah pentauhidan Allah ta’ala dzikruh, dan pengetahuan terhadap Asma, Sifat dan keadilan-Nya. Itu dikarenakan bahwa setiap orang yang sudah sampai pada batas taklif dari kalangan orang-orang yang sehat lagi normal, maka dia itu tidak akan kehilangan dallil yang menunjukkan dan bukti yang jelas yang mengarahkannya kepada Wahdaniyyah (ke-Esa-an) Rabbnya jalla tsaunahu dan menjelaskan kepadanya hakikat kebenaran hal itu, oleh sebab itu Allah Jalla dzikruh tidak mengudzur seorangpun dengan sebab kejahilan terhadap sifat-Nya yang mana Dia disifati dengannya dan (dengan sebab kejahilan) terhadap Asma-Nya, dan justeru Allah menggolongkan dia bila mati di atas kejahilan terhadap-Nya dengan barisan orang-orang yang membangkang dan menentang-Nya setelah mereka mengetahui-Nya dan mengetahui Rububiyyah-Nya di dalam hukum-hukum dunia dan adzab akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Al Kahfi: 103-105)

Di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyamakan antara orang yang beramal di atas selain apa yang diridlai-Nya yang menduga bahwa dia dalam amalannya itu melakukan apa yang mendatangkan ridla-Nya, di dalam penamaannya di dunia dengan nama musuh-musuh-Nya yang membangkang kepada-Nya lagi mengingkari Rububiyyah-Nya padahal mereka mengetahui bahwa Dia adalah Rabb mereka. Dan Dia menggabungkan dia dengan mereka di akhirat dalam sangsi dan adzab. Itu disebabkan karena apa yang telah kami jelaskan, yaitu samanya orang yang berijtihad yang keliru di dalam Ke-Esaan-Nya, Asma-Nya, Sifat-Nya dan Keadilan-Nya dengan orang yang membangkang di dalam hal itu, karena nampaknya dalil-dalil yang menunjukkan yang sejalan lagi tidak berbenturan dengan indera mereka berdua dari dalil-dalil dan hujjah-hujjah (yang ada), sehingga wajiblah menyamakan di antara kedua macam orang itu dalam hal adzab dan sangsi. Dan status hukum (orang yang jahil terhadap) hal itu adalah berbeda dengan status hukum orang yang jahil terhadap syari’at).[1]

4. Al Imam Utsman Ibnu Sa’id Ad Darimiy rahimahullah:

Beliau berkata dalam bantahannya terhadap seorang Jahmiy:

( وقد علمتم يقينا أنا لم نخترع هذه الروايات ولم نفتعلها بل رويناها عن الأئمة الهادية الذين نقلوا أصول الدين وفروعه إلى الأنام ).

(Dan kalian telah mengetahui secara pasti bahwa kami tidak mengada-ada riwayat-riwayat ini dan tidak pula kami membuat-buatnya akan tetapi kami meriwayatkannya dari para imam pembimbing yang menyampaikan kepada manusia ushuluddien dan furu’-nya). [Ar Radd ‘Alal Jahmiyyah hal 97]

Dan berkata juga:

( وهي هذه الآثار وهي أصول الدين وفروعه )

(Dan ia itu adalah atsar-atsar ini, dan ia itu adalah ushuluddien dan furu’nya). [Naqdlu Ad Darimiy ‘Ala Bisyr Al Murrisiy juz 2/659]

5. Al Imam Abu ‘Ubaidah Al Qasim Ibnu Salam rahimahullah berkata dalam kitabnya “Al Iman”:

( كذلك في الحديث المثبت عنه أنه قال : (( الإيمان بضعة وسبعون جزءا أفضلها شهادة أن لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق))

قال أبو عبيدة حدثنا أبو أحمد الزبيري عن سفيان بن سعيد عن سهيل بن أبي صالح عن عبد الله بن دينار عن أبي صالح عن أبي هريرة بهذا الحديث وإن كان زائدا في العدد فليس هو بخلاف ما قبله وإنما تلك دعائم وأصول وهذه فروعها زائدات في شعب الإيمان من غير تلك الدعائم )

(Begitu juga di dalam hadits yang tsabit (terbukti) darinya bahwa beliau berkata, “iman itu ada tujuh puluh sekian juz, yang paling utama adalah syahadat laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan”.

Abu Ubaidah berkata: Telah mengabari kami Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyan Ibnu Sa’id dari Suhail Ibnu Abi Shalih dari Abdullah Ibnu Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah perihal hadits ini, bila ada tambahan bilangan maka ia itu bukan menyelisihi yang sebelumnya, namun sesungguhnya itu adalah pilar-pilar dan ushul sedangkan ini adalah furu’nya sebagai tambahan pada cabang-cabang iman dari selain pilar-pilar itu). [Kitabul Iman 24-25]

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

( فتدبر هذا المقام فإنه كثيرا ما يجول في الشريعة وغيرها أصولا وفروعا )

(Maka renungilah bahasan ini, karena ia itu sering disinggung di dalam syari’at ini dan yang lainnya berupa ushul dan furu’). [Majmu Al Fatawa juz 5/451]

Dan berkata pula:

( قال المفسرون لمذهبهم ( أي أهل السنة ) إن له أصولا وفروعا وهو مشتمل على أركان وواجبات )

(Para pentafsir madzhab mereka (yaitu Ahlussunnah) berkata: sesungguhnya ia itu memiliki ushul dan furu’, dan ia itu meliputi rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban). [Majmu Al Fatawa juz 12/472]

Itu sebagian ucapan salaf dan Ibnu Taimiyyah yang menegaskan secara jelas terhadap pembagian dien ini menjadi ushul dan furu’, jadi jelas kelirulah orang yang mengatakan bahwa itu bid’ah atau tidak ada dasarnya. Camkanlah!

Dan ulama salaf yang lain pun tidak menyelisihi dalam pembagian ini.

Dan adapun jawaban terhadap kesalahan pemahaman bahwa pembagian permasalahan menjadi permasalahan yang ada udzur karena kejahilan di dalamnya dan permasalahan yang tidak ada udzur karena kejahilan di dalamnya adalah pembagian yang bid’ah lagi tidak ada dasarnya dari salaf, maka kami katakan:

Bahwa setelah kita mengetahui bahwa di dalam Ahlussunnah ada permasalahan ushhul dan furu’ yang mana satuan-satuan dari kedua hal itu adalah apa yang sudah maklum di dalam kitab-kitab Ahlussunnah, akan tetapi kami tidak mengatakan bahwa setiap masalah dari permasalahan ushuluddien itu tidak ada udzur dengan sebab kejahilan di dalamnya, karena suatu masalah itu bisa saja termasuk permasalahan ushul seperti sebagian sifat Allah yang ditetapkan oleh dalil-dalil syar’iy (seperti betis, tertawa dan yang serupa itu) namun orang yang jahil terhadapnya atau orang yang mengingkarinya dengan takwil tidaklah dikafirkan kecuali bila hujjah tegak terhadapnya, dan itu bisa jadi karena kesamaran dalil atau nash yang menetapkannya atau bisa jadi karena tidak mengetahui penunjukan nash terhadap penetapannya.

Jadi kami tidak mengatakan bahwa setiap masalah dari permasalahan ushul i’tiqad itu dikafirkan orang yang jahil terhadapnya atau orang yang mengingkarinya karena takwil. Akan tetapi di dalamnya ada rincian dimana ada yang diudzur dengan sebab kejahilan terhadapnya seperti sebagian sifat Allah yang tidak diketahui kecuali lewat dalil syar’i, dan ada juga yang tidak diudzur dengan sebab kejahilan terhadapnya seperti tauhid yang merupakan pokok dari segala permasalahan ushul yang mana Allah telah menurunkan kitab-kitab karenanya dan Dia telah mengutus semua Rasul untuk mengajak kepadanya, serta Dia telah menegakkan berbagai dalil dan hujjah terhadapnya dari setiap sisi.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,(An Nahl: 36)

Dan berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ (٢٥)

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (Al Anbiya: 25)

Dan ia itu adalah yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya:

الأنبياء إخوة لعلات أمهاتهم شتي ودينهم واحد

“Para Nabi itu adalah saudara-saudara sebapak, ibu-ibu mereka berbeda-beda sedangkan dien mereka adalah satu.”

Al Imam Al Baghawi rahimahullah berkata:

(يريد : أن أصل دين الأنبياء واحد، وإن كانت شرائعهم مختلفة )

(Maksudnya: Bahwa pokok dien para nabi itu satu, walaupun syari’at-syari’at mereka berbeda-beda). [Syarh As sunnah, milik Al Baghawi juz 13/200]

As Sayuthiy berkata:

( والمعني أنهم متفقون في أصل التوحيد وشرائعهم مختلفة )

(Maknanya bahwa mereka itu sepakat dalam ashlut tauhid (pokok tauhid) sedangkan syari’at-syari’at mereka berbeda-beda). [Syarh Muslim juz 5/449]

Al Imam Ibnul Qayyim berkata:

(شبه دين الأنبياء الذين اتفقوا عليه من التوحيد وهو عبادة الله وحده لا شريك له والإيمان به وبملائكته وكتبه ورسله ولقائه بالأب الواحد لاشتراك جميعهم فيه وهو الدين الذي شرعه الله لأنبيائه كلهم )

(Dien para nabi yang disepakati mereka berupa tauhid yaitu peribadatan kepada Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, iman kepada-Nya, kepada semua malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan perjumpaan dengan-Nya diserupakan dengan satu bapak karena kesamaan semua nabi di dalamnya yaitu dien yang Allah syari’atkan bagi nabi-nabi-Nya semuanya). [Badaiul Fawaid juz 3/719]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

(وَعِبَادَةُ اللَّهِ وَحْدَهُ : هِيَ أَصْلُ الدِّينِ وَهُوَ التَّوْحِيدُ الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ بِهِ الرُّسُلَ وَأَنْزَلَ بِهِ الْكُتُبَ فَقَالَ تَعَالَى : { وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ }

(Dan peribadatan kepada Allah saja: Adalah ashluddien (pokook dien) dan dialah tauhid yang dengannya Allah telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab. Dia ta’ala berfirman: “Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?”(Az Zukhruf: 45). [Majmu Al Fatawa juz 3/397]

Dan juga sesungguhnya para ulama telah menegaskan bahwa di antara permasalahan furu’ ada permasalahan yang mana seseorang tidak diudzur dengan sebab kejahilan terhadapnya, bila hal itu masyhur di tengah kaum muslimin atau diketahui dari dien ini secara pasti, kecuali bila orang yang mengingkari hal itu adalah orang yang baru masuk Islam atau hidup di negeri yang tidak mendengar dakwah Islam.

Jadi kami tidak mengatakan bahwa setiap ushul i’tiqad itu dikafirkan orang yang jahil terhadapnya atau orang yang mengingkarinya.

Dan kami juga tidak mengatakan bahwa setiap furu’ syari’at tidak dikafirkan orang yang jahil terhadapnya atau orang yang mengingkarinya.

Oleh sebab itu engkau mengetahui bahwa seorangpun tidak boleh menghujjah kami dengan ucapan Ibnu Taimiyyah yang mana beliau berkata di dalamnya tentang Ahlussunnah: (Dan mereka itu tidak membagi permasalahan kepada permasalahan ushul yang mana orang menjadi kafir dengan pengingkarannya dan permasalahan furu’ yang mana orang tidak menjadi kafir dengan pengingkarannya).

Dan sungguh ucapan beliau rahimahullah ini adalah benar dan kami menerimanya. Dimana yang benar adalah melakukan perincian pada masing-masing dari dua permasalahan ini sesuai apa yang telah lalu.

Dan inilah yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim muridnya dengan ucapannya:

( فإن كثيرا من مسائل الفروع يكفر جاحدها وكثير من مسائل الأصول لا يكفر جاحدها )

(Karena sesungguhnya banyak dari permasalahan furu’ dikafirkan orang yang mengingkarinya dan banyak dari permasalahan ushul tidak dikafirkan orang yang mengingkarinya).

Kemudian sesungguhnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak memaksudkan dengan ushul dan furu’ yang beliau ingkari tadi ushul dan furu’ yang dianut oleh Ahlussunnah, akan tetapi yang beliau maksudkan dalam pengingkarannya itu adalah permasalahan yang diada-adakan oleh ahli bid’ah dari kalangan ahli kalam yang mana di dalamnya mereka mengekor kepada Mu’tazilah, Jahmiyyah dan Rafidlah. Yaitu permasalahan yang mereka namakan sebagai ushuluddien dan mereka jadikan keislaman tergantung kepadanya, padahal sesungguhnya banyak dari ushul versi mereka itu -bila bukan semuanya- adalah tidak berhak sama sekali untuk disandarkan kepada dien ini apalagi menjadi ushul-nya.

Dan mereka itu membangun kaidah di atas hal tersebut bahwa setiap orang yang keliru di dalamnya atau tidak mengetahuinya atau mengingkarinya maka dia itu kafir menurut mereka.

Permasalahan yang dinamakan sebagai ushuluddien oleh para ahli kalam itu adalah: (Permasalahan ‘Ardl, Jauhar, Imtina’ul hawadits, keimaman dua belas imam dan yang lainnya)

Dan mereka itu mengkafirkan orang yang mentakwil dan orang yang jahil terhadap permasalahan ini dengan klaim bahwa ia itu tergolong permasalahan ushuluddien.

Rafidlah umpamanya, mereka mengklaim bahwa imamah itu adalah termasuk ushuluddien yang mana keislaman seseorang tidak sah tanpa menganut dan meyakini hal itu.

Saya akan menghadirkan kepadamu -wahai saudara pembaca- sebagian teks ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah agar jelas di hadapanmu bahwa maksud beliau itu adalah membantah terhadap mu’tazilah dan orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan ahli bid’ah.

Beliau rahimahullah berkata:

( وإنما الغرض على أن في القرآن والحكمة النبوية عامة أصول الدين من المسائل التي تكون من أصول الدين، أما ما يدخله بعض الناس في هذا المسمي من الباطل فليس ذلك من أصول الدين، وإن أدخله من أدخله، من المسائل والدلائل الفاسدة، مثل نفي الصفات والقدر ونحو ذلك من المسائل )

(Dan yang dimaksud hanyalah menjelaskan bahwa di dalam Al Qur’an dan Al Hikmah An Nabawiyyah terdapat keseluruhan ushuluddien dari permasalahan-permasalahan yang tergolong ushuluddien. Adapun apa yang dimasukkan oleh sebagian orang ke dalam penamaan ini berupa kebatilan, maka hal itu bukan termasuk ushuluddien walaupun dimasukkan ke dalamnya oleh orang yang memasukkannya, berupa permasalahan-permasalahan dan dalil-dalil yang rusak, seperti penafian sifat Allah, Qadar dan permasalahan-permasalahan serupa itu). [Mukhtashar Al Fatawa Al Mishriyyah hal 222]

Dan berkata juga:

(كَمَا أَنَّ طَائِفَةً مِنْ أَهْلِ الْكَلَامِ يُسَمِّي مَا وَضَعَهُ ” أُصُولَ الدِّينِ ” وَهَذَا اسْمٌ عَظِيمٌ وَالْمُسَمَّى بِهِ فِيهِ مِنْ فَسَادِ الدِّينِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ . فَإِذَا أَنْكَرَ أَهْلُ الْحَقِّ وَالسُّنَّةِ ذَلِكَ قَالَ الْمُبْطِلُ : قَدْ أَنْكَرُوا أُصُولَ الدِّينِ . وَهُمْ لَمْ يُنْكِرُوا مَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُسَمَّى أُصُولَ الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنْكَرُوا مَا سَمَّاهُ هَذَا أُصُولَ الدِّينِ وَهِيَ أَسْمَاءٌ سَمَّوْهَا هُمْ وَآبَاؤُهُمْ بِأَسْمَاءِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ )

(Sebagaimana sesungguhnya sekelompok dari ahli kalam menamakan apa yang ditetapkannya sebagai “ushuluddien”. Padahal ini adalah nama yang agung sedangkan suatu yang dinamainya adalah mengandung pengrusakan agama Allah dengan kadar yang Allah ketahui. Kemudian bila Ahlul haq Wassunnah mengingkari hal itu maka orang sesat mengatakan: “Mereka telah mengingkari ushuluddien”. Padahal mereka itu tidak mengingkari suatu yang pantas dinamakan ushuluddien, akan tetapi mereka hanyalah mengingkari suatu yang dinamakan ushuluddien oleh orang sesat ini, sedangkan ia itu hanyalah nama-nama yang dinamakan oleh mereka dan bapak-bapak mereka dengan nama-nama yang sama sekali Allah tidak menurunkan satu dalilpun). [Majmu Al Fatawa juz 4/56]

Di sana ada ucapan-ucapan lain Syaikhul Islam yang menjelaskan bahwa yang dimaksud beliau itu adalah apa yang dimasukkan oleh ahli kalam ke dalam ushuluddien padahal ia bukan bagian darinya.

Lihat: (Dar-u Ta’arudlil ‘Aqli Wan Naqli juz 1/144)

Dan kitab (Minhaj As Sunnah juz 3/22-23)

Dan berkata juga rahimahullah:

( وَالسَّلَفُ وَالْأَئِمَّةُ – الَّذِينَ ذَمُّوا وَبَدعُوا الْكَلَامَ فِي الْجَوْهَرِ وَالْجِسْمِ وَالْعَرَضِ تَضَمَّنَ كَلَامُهُمْ ذَمَّ مَنْ يُدْخِلُ الْمَعَانِيَ الَّتِي يَقْصِدُهَا هَؤُلَاءِ بِهَذِهِ الْأَلْفَاظِ فِي أُصُولِ الدِّينِ : فِي دَلَائِلِهِ وَفِي مَسَائِلِهِ : نَفْيًا وَإِثْبَاتًا )

(Salaf dan para imam yang mencela dan membid’ahkan pembicaraan dalam hal Jauhar, Jism dan ‘ardl, ucapan mereka (salaf) itu mengandung celaan terhadap orang yang memasukkan makna-makna yang dimaksudkan oleh mereka itu dengan lafadh-lafadh ini di dalam ushuluddien; ke dalam dalil-dalilnya dan ke dalam masalahnya: baik penafian maupun penetapan). [Majmu Al Fatawa juz 3/308]

Dan berkata juga rahimahullah:

(وَأَنَّ مَا هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ أُصُولُ الدِّينِ الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ بِهِ رَسُولَهُ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُنْهَى عَنْهَا بِحَالِ بِخِلَافِ مَا سُمِّيَ أُصُولَ الدِّينِ وَلَيْسَ هُوَ أُصُولًا فِي الْحَقِيقَةِ . لَا دَلَائِلَ وَلَا مَسَائِلَ، أَوْ هُوَ أُصُولٌ لِدِينِ لَمْ يَشْرَعْهُ اللَّهُ بَلْ شَرَعَهُ مَنْ شَرَعَ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ )

(Dan bahwa suatu yang memang benar-benar ushuluddien yang mana Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawanya, maka sama sekali tidak boleh dilarang darinya, berbeda dengan sesuatu yang dinamakan ushuluddien padahal sebenarnya ia itu bukan ushul, bukan dalil-dalilnya dan bukan pula masalah-masalahnya, atau ia itu adalah ushul bagi dien yang tidak Allah syariatkan namun disyariatkan oleh orang yang mensyariatkan dari dien ini apa yang tidak Allah izinkan) [Majmu Al Fatawa juz 3/308-309]

Selesai

Penterjemah: Materi ini diterjemahkan semuanya dari Kitab Al Idlah Wat Tabyin Fi Anna Fa’ilay Syirki Jahlan Laisa Minal Muslimin Pasal Kedua milik Syaikh Abu Az Zubair Asy Syinqithiy, kecuali alenia pertama maka ia ucapan penterjemah.

Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

Akhir Sya’ban 1433 H.- Lapas Salemba Jakarta

*****


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: