Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Kupasan Syirik Hukum Dalam Tafsir Adlwaul Bayaan » Kupasan Syirik Hukum Dalam Tafsir Adlwaul Bayaan (Bagian 2)

Kupasan Syirik Hukum Dalam Tafsir Adlwaul Bayaan (Bagian 2)


TEMPAT KETIGA

Tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah” (Asy Syuraa: 10)

Berkata rahimahullah:

Firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah” (Asy Syuraa: 10)

Ayat yang mulia ini menunjukan bahwa segala hukum yang diperselisihkan oleh manusia maka keputusannya hanya kembali kepada Allah, tidak kepada yang lainnya, dan itu telah dijelaskan pada ayat-ayat yang banyak.

Maka syirik (penyekutuan) terhadap Allah dalam masalah hukum adalah seperti syirik kepada-Nya dalam masalah ibadah. Allah berfirman tentang hukum-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al Kahfi: 26)

Dan dalam qira’at/bacaan Ibnu ‘Amir dari Qira’ah sab’ah:

وَلا تُشْرِكْ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan janganlah engkau menyekutukan seorangpun dalam menetapkan keputusan-Nya” (Al Kahfi: 26) dengan shighat larangan.

Dan Allah telah berfirman tentang penyekutuan dalam ibadah-Nya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (١١٠)

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Al Kahfi: 110)

Dan kedua perkara tersebut adalah sama sebagaimana yang akan engkau lihat penjelasannya insya Allah.

Dengan demikian engkau mengetahui bahwa yang halal adalah apa-apa yang telah dihalalkan Allah, dan yang haram adalah apa-apa yang telah diharamkan Allah, dan dien adalah apa yang telah disyari’atkan Allah. Maka setiap syari’at (hukum) dari selain-Nya adalah bathil. Sedangkan pengamalannya sebagai pengganti syari’at Allah dengan berkeyakinan bahwa hal tersebut adalah sama atau lebih baik dari hukum Allah, maka itu adalah (kufrun bawwah) kekafiran yang jelas yang tidak ada perselisihan di dalamnya.[1]

Al Qur’an telah menerangkan dalam ayat yang banyak bahwa tidak ada hukum selain hukum Allah, dan bahwa mengikuti hukum selain hukum Allah adalah kekufuran kepada-Nya. Di antara ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Al Hukum itu milik Allah saja adalah firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Yusuf: 40)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ

“Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”. (Yusuf: 67)

قُلْ إِنِّي عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَكَذَّبْتُمْ بِهِ مَا عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ (٥٧)

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik”. (Al An’am: 57)

Dan firman-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al Maidah: 44)

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al Kahfi: 26)

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al Qashash: 88)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

لَهُ الْحَمْدُ فِي الأولَى وَالآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al Qashash: 70)

Dan ayat-ayat tentang ini sangat banyak

Dan telah kami jelaskan dalam surat Al Kahfi dalam pembicaraan tentang firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al Kahfi: 26)

Adapun ayat yang menjelaskan bahwa mengikuti selain hukum Allah adalah kafir, maka ayat seperti ini banyak sekali, seperti firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya kekuasaan (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (An Nahl: 100)

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al An’am: 121)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ

“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan?” (Yasin: 60)

Dan ayat semacam ini banyak sekali sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam surat Al Kahfi

MASALAH

Ketahuilah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menerangkan di banyak tempat tentang sifat-sifat Dzat yang berhak menentukah hukum. Dan kewajiban setiap orang yang berakal adalah mengamati sifat-sifat yang disebutkan yang insya Allah akan kami jelaskan sekarang, serta membandingkannya dengan sifat-sifat manusia yang membuat undang-undang (Qawaniin wadl’iyyah). Kemudian perhatikan apakah cocok sifat-sifat sang pemilik hak tasyri’ di sifatkan kepada manusia pembuat undang-undang? Jika sesuai dengan sifat-sifat tersebut -dan ini sama sekali tidak akan sesuai- maka ikutilah hukum-hukum mereka.

Dan bila telah jelas secara meyakinkan bahwa mereka itu lebih rendah, lebih lemah dan lebih kecil, maka tempatkan mereka sesuai dengan kedudukannya, dan jangan biarkan mereka melewati batas kedudukannya sampai ke tingkat rububiyyah.

Maha Suci Allah dari adanya sekutu-sekutu dalam ibadah, hukum atau kekuasaan-Nya.

Di antara ayat-ayat Qur’aniyyah yang menjelaskan tentang sifat pemilik hak membuat hukum dan tasyri’ adalah firman Allah:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (Asy Syuraa: 10)

Kemudian Dia berfirman seraya menjelaskan sifat pemilik hukum:

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (١٠) فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١١) لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (١٢)

“(yang mempunyai sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku, kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. Kepunyaan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (Asy Syuraa: 10-12)

Apakah di antara orang-orang kafir para perusak yang membuat syari’at-syari’at syaithaniyyah itu ada orang yang berhak disifati bahwasanya dia adalah tuhan yang segala urusan diserahkan kepada-Nya, yang segala sesuatu berserah kepada-Nya, dan bahwa dia itu adalah pencipta langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dan sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan pasangan bagi manusia dan menciptakan bagi mereka delapan binatang ternak berpasangan yang disebut dalam ayat:

ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ مِنَ الضَّأْنِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْمَعْزِ اثْنَيْنِ الآ يَة

“(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba, sepasang dari kambing………….” (Al An’am: 143)

Dan sesungguhnya Dia, “tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha Melihat”

Dan sesungguhnya Dia, “Kepunyaan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi”

Dan sesungguhnya Dia, “Melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”

Maka wajib atas kalian wahai kaum muslimin memahami sifat-sifat Dzat yang berhak menetapkan syari’at, menghalalkan, dan mengharamkan. Dan janganlah kalian menerima hukum dari orang kafir yang hina, rendah, dan jahil.

Dan ayat yang semakna dengan ayat ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa: 59)

Maka firman-Nya فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ seperti firman-Nya فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ (maka keputusannya kembali kepada Allah)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terheran-heran setelah ayat فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ terhadap orang-orang yang mengklaim beriman kemudian mereka juga menginginkan mehaakamah (berhukum) kepada yang tidak punya sifat-sifat Dzat Pemilik hukum, yang disebut Al Qur’an sebagi thaghut. Maka setiap yang berhukum kepada selain syari’at Allah maka ia telah berhukum kepada Thaghut, dan yang demikian itu dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An Nisa: 60)

Maka kafir terhadap thaghut yang telah Allah tegaskan dalam ayat itu merupakan syarat dalam keimanan sebagaimana penjelasan-Nya dalam ayat:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat”. (Al Baqarah: 256)

Maka dipahami dari ayat ini bahwa siapa yang tidak mengingkari thaghut, maka ia itu tidak berpegang kepala tali yang teguh. Dan siapa yang belum berpegang kepada tali kepada tali yang teguh maka dia terjerumus bersama orang-orang yang binasa.

Dan dari ayat yang menjelaskan hal tersebut adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Kepunyaan-Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (Al Kahfi; 26)

Apakah di antara orang-orang kafir yang jahat yang membuat hukum itu ada orang yang layak dikatakan dikatakan baginya bahwa ia memiliki semua yang tersembunyi di langit dan di bumi? Apakah pendengaran dan penglihatannya itu dapat menguasai semua yang didengar dan dilihat? Dan bahwa tidak ada seorangpun selain dia yang dapat menjadi penolong?

Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar dari hal yang demikian itu.

Di antara ayat-ayat yang menunjukan hal itu adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al Qashash: 88)

Maka di antara orang-orang kafir yang jahat yang membuat undang-undang itu ada orang mempunyai hak untuk dikatakan bahwasanya ia adalah Tuhan Yang Maha Esa? Dan bahwasanya sesuatu itu binasa kecuali wajahnya? Dan bahwasanya setiap makhluk itu kembali kepadanya?

Maha Suci Tuhan kami Yang Maha Agung dan Maha Suci dari adanya makhluk yang disifati dengan sifat-Nya.

Dan di antara ayat yang berhubungan dengan ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ (١٢)

“Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Al Mu’min: 12)

Maka apakah di antara orang-orang kafir yang durjana yang pembuat undang-undang syaithaniyyah itu ada oang yang berhak disifat dalam kitab samawi sebagai Dzat Yang maha Tinggi dan Maha Besar?

Maha Suci Engkau Ya Allah dari segala hal yang tidak layak dengan kesempurnaan-Mu.

Dan di antara ayat yang menjelaskan hal ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَهُوَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الأولَى وَالآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٧٠) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلا تَسْمَعُونَ (٧١) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلا تُبْصِرُونَ (٧٢) وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٧٣)

“Dan Dialah Allah, tidak ada ilaah (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (Al Qashsash: 70-73)

Maka apakah di antara pembuat undang-undang itu ada orang yang berhak dikatakan bahwa ia memiliki pujian di awal dan di akhir, dan bahwa dia yang menggilirkan malam dan siang, yang dengan itu semua Dia menjelaskan kesempurnaan keuasaan-Nya dan kebesaran nikmat-Nya atas makhluk-Nya.

Maha Suci Pencipta langit dan bumi, Allah Maha Sempurna untuk mempunyai sekutu dalam dalam hukum, ibadah, atau kekuasaan-Nya.

Di antara ayat yang berhubungan dengan hal itu adalah firman-Nya:

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٤٠)

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)

Maka apakah di antara mereka itu ada orang yang berhak untuk dikatakan bahwa ia adalah satu-satunya ilaah yang berhak disembah, dan bahwa ibadah hanya kepadanya itu adalah agama yang lurus?

Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar daeri apa-apa yang dikatakan orang-orang dzalim.

Dan di antaranya adalah firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Keputusan memutuskan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”. (Yusuf: 67)

Maka apakah di antara mereka itu ada orang yang berhak untuk ditawakali dan berhak diserahi urusan segala sesuatu?

Dan di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ (٤٩) أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٥٠)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al Maidah: 46-50)

Maka apakah di antara para pembuat syari’at itu ada orang yang berhak dikatakan bahwa hukunya itu adalah apa yang telah diturunkan Allah dan bahawsannya hukumnya itu bertentangan dengan pengikut hawa nafsu? Dan apabila berpaling darinya, maka Allah akan mengadzabnya dengan sebab sebagian dosa-dosanya? Karena dosa-dosa itu tidak diperhitungkan semuanya (diadzab karenanya) kecuali di akhirat. Dan sesungguhya tidak ada hukum yang lebgih bagus dari hukumnya bagi orang-orang yang meyakininya.

Maha Suci Allah dari setiap apa yang tidak sesuai dengan kesempurnaan dan kebesaan-Nya.

Di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”. (Al An’am: 57)

Maka apakah mereka itu berhak disifati sebagai Dzat yang menerangkan yang sebenarnya dan bahwa dia adalah pemberi keputusan yang paling baik?

Dan di antarnya firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلا وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (١١٤)

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” (Al An’am: 114)

Maka apakah di antara mereka-mereka yang tadi disebutkan ada orang yang berhak disifati bahwa sesungguhnya dia yang menurunkan kitab ini secara rinci, yang mana para ahli kitab bersaksi bahwa dia diturunkan dari Tuhanmu dengan haq, dan sesungguhnya peraturan itu sempurna kalimatnya secara benar dan adil, yaitu benar dalam pemberitaan dan adil dalam hukum, dan bahwasannya tidak ada pengganti dari kalimatnya dan dia maha mendengar lagi maha mengetahui?

Maha Suci Tuhan kita, alangkah Agung-Nya adalah langkah Mulia-Nya.

Dan di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ (٥٩)

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?” (Yunus: 59)

Maka apakah di antara mereka itu ada orang yang berhak disifati bahwasanya dia yang menurunkan rizki bagi seluruh makhluk dan tidak ada penghalalan dan pengharaman kecuali dengan izinnya? Karena di antara hal yang sudah pasti diketahui adalah bahwa orang yang menciptakan rezki dan yang menurunkannya dialah yang berhak menentukan penghalalan dan pengharaman?

Maha Suci Allah ‘Azza wa Jalla dari adanya sekutu dalam penghalalan dan pengharaman.

Dan di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (٤٤)

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al Maidah: 44)

Maka adakah yang berhak disifati dengan sifat ini? Maha Suci Allah dari hal yang demikian.

Di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ (١١٦) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١١٧)

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta: “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (An Nahl: 116-117)

Ayat ini telah menjelaskan bahwa para pembuat undang-undang selain apa yang disyari’atkan Allah sesungguhnya lisan-lisan mereka itu tidak lain hanyalah membuat kedustaan belaka, karena mereka mengada-adakannya atas Allah, dan sesungguhnya mereka tidak akan beruntung, tetapi hanya menikmati sedikit kemudian diadzab dengan adzab yang pedih. Yang demikian ini sangat jelas perbedaan antara sifat-sifat mereka dengan sifat-sifat yang memiliki hak penghalalan dan pengharaman.

Di antara Allah ‘Azza wa Jalla:

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَذَا فَإِنْ شَهِدُوا فَلا تَشْهَدْ مَعَهُمْ

“Katakanlah: “Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini”, jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut pula menjadi saksi bersama mereka” (Al An’am: 150)

Maka firman-Nya قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ adalah sibghah ta’jiiz (menganggap lemah lawan). Mereka itu tidak mampu untuk menjelaskan sandaran pengharaman ini. Dan yang demikian itu jelas sekali bahwa selain Allah tidak memiliki sifat penghalalan dan pengharaman. Dan dikarenakan tasyri’ (penetapan hukum) dan semua macam hukum itu baik hukum syari’at atau kauniyyah qadariyyah (hukum yang Allah tetapkan di alam ini) adalah bagian dari kekhususan rububiyyah Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana yang telah dijelaskan oleh ayat-ayat tadi, maka terbuktilah bahwa setiap orang yang mengikuti aturan (tasyri’) selain aturan Allah maka berarti dia itu telah menjadikan pembuat syari’at tersebut sebagai tuhan dan dia itu menyekutukannya bersama Allah.

Ayat-ayat yang berhubungan dengan ini cukup banyak telah kami kemukakan berkali-kali, dan kami akan menyebutkan kembali dari ayat-ayat itu yang kami nilai sudah cukup. Dan di antaranya -dan ini tergolong yang paling jelas dan paling gamlang- yaitu bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terjadi perhelatan antara hizburrahman dengan hizbusysyaithan dalam satu hukum dalam hukum-hukum pengharaman dan penghalalan. Hizburrahman mengikuti tasyri’ Ar Rahmah dalam pengharaan sesuatu itu dengan wahyu-Nya. Sedang hizbusysyaithan mengikuti wahyu syaithan dan penghalalannya.

Dan Allah telah menghukumi di antara keduanya serta memutuskan perselisihan di antara mereka dengan fatwa langit, yaitu Al Qur’an yang dibaca pada surat Al An’am. Yaitu sesungguhnya syaithan ketika ‘mewahyukan’ kepada wali-walinya, ia berkata kepada mereka: “Tanyakan kepada Muhammad tentang kambing yang menjadi bangkai, siapa yang mematikannya?” Maka mereka (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya) menjawab pertanyaan mereka bahwa Allah-lah yang mematikannya. Lalu mereka berkata: “Jika begitu bangkai adalah sembelihan Allah, dan kenapa kalian mengatakan bahwa apa yag disembelih Allah itu haram? Padahal kalian mengatakan bahwa apa-apa yang kalian sembelih dengan tangan-tangan kalian adalah halal. Kalau demikian berarti sembelihan kalian lebih baik dan lebih halal daripada sembelihan Allah?”

Maka Allah -dengan ijma para ulama- menurunkan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya”

Yaitu bangkai meskipun orang-orang kafir menngklaimnya bahwa Allah menyembelihnya dengan tangan-Nya Yang Mulia dengan pisau dari Emas:

وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan”

Dan firman-Nya وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ maksudnya adalah keluar dari ketaatan kepada Allah dan mengikuti tasyri’ syaithan:

وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ

“Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.”

Yaitu dengan perkataan mereka: “Apa-apa yang kalian sembelih adalah halal dan apa-apa yang Allah sembelih adalah haram, maka dengan demikian kamu lebih baih baik daripada Allah dan lebih halal sembelihannya,” kemudia fatwa langit dari tuhan semesta alam menjelaskan tentang hukum antara dua kelompok itu dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al An’am: 121)

Ini merupakan fatwa langit dari Al Khaliq yang menjelaskan bahwa siapa yang mengikuti syari’at syaithan yang bertentangan dengan syari’at Allah maka ia musyrik kepada Allah

Ayat yang mulia ini biasa dijadikan contoh oleh sebagian ulama ahli nahwu buat bahasan membuang laam muwaththi’ah lil qasam (lam yang diperuntukan untuk sumpah), dan dalil yang menunjukan atas laam muwaththi’ah yang dibuang itu adalah tidak disertainya ungkapan إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ dengan faa’, karena kalau seandainya kalimat itu adalah kalimat syarath yang tidak didahalui oleh qasam (sumpah) tentu dikatakan فَإِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ sesuai kaidah nahwu yang dikatakan dalam kitab Al Khulashah:
شَرْطًا لإِنْ أَوْ غَيْرِهَا لَمْ يَنْجَعِلْ
وَاقْرِنْ بِفَاحَتْمًا جَوَابًا لَوْ جُعِل

Dan sertakanlah Fa’ suatu keharusan pada jawab yang diperuntukan buat syarat In atau yang lainnya.

Ini adalah madzhab Sibawaih, dan inilah yang benar. Dan dibuangnya huruf fa’ dalam contoh itu karena keperluan syair.

Dan adapun apa yang diklaim oleh sebagian ahli nahwu bahwa membuang faa itu adalah boleh secara mutlaq dan itu ada bukinya di dalam dua ayat dalam Kitabullah:

Pertama firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Dan kedua firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dengan dibuang huruf fa’ pada qira’ah Nafi, dan Ibnu ‘Amir yang termasuk qira’ah yang tujuh, merupakan penyelisihan terhadap kebenaran.

Akan tetapi penyebab bolehnya membuang huruf fa’ dalam ayat (إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ ) adalah taqdirul qasam al mahdzul (mentaqdirkan adanya qasam yang dibuang) sebelum syarat yang dibuktikan dengan dibuangnya faa’ sebagai mana kaidah nahwu dalam kitab Al Khulashah:
جَوَابَ مَا أَجَّرْتَ فَهُوَ مُلْتَزِمٌ
وَا حْذِفْ لَدَى اجْتِمَاعِ شَرْ طٍ وَقَسَمٍ

Di saat berkumpulnya syarat dan qasam, maka buanglah jawaban yang paling akhir (dari keduanya), dan ini adalah keharusan

Dengan demikian maka kaliamat : إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ merupakan jawaban dari sumpah (qasam) yang dikira-kirakan, sedangkan jawab syaratnya adalah dibuang, sehingga dalam ayat itu tidak ada dalil akan dibuangnya faa’ yang tadi disebutkan.

Adapun penyebab bolehnya membuang faa’ dalam ayat بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِ يْكُمْ adalah karena status maa’ dalam qira’ah Nafi’ dan Ibnu ‘Amir adalah sebagai isim maushul sebagaimana yang ditegaskan oleh banyak ahli tahqiq, jadi maknanya: والذي أصا بكم من مصيبة كائن وواقع بسبب ما كسبت أيديكم (dan apa yang menimpa kalian berupa mushibah adalah terjadi dan terbukti dengan sebab apa yang kalian usahakan).

Adapun menurut qira’ah jumhur, maka maa’ adalah maushulah (isim maushul), sedangkan masuknya fa’ dalam khabar adalah boleh sebagaimana meniadakannya adalah boleh juga, sehinga kedua qira’ah itu berjalan di atas ketentuan yang boleh.

Dan contoh masuknya faa’ ke dalam khabar maushul adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Dan hal ini banyak terdapat dalam Al Qur’an, dan sebagian mereka: Sesungguhnya maa’ dalam qira’ah jumhur adalah syarthiyyah (syarat), sehingga disertakannya fa’ dalam jawabannya adalah wajib, sedang berdasarkan qiara’ah Nafi’ dan Ibnu ‘Amir maka maa’ adalah isim maushul tidak lain lagi sebagaimana tahqiqnya insya Allah.

Dan keberadaan maa’ sebagai syarthiyyah dalam satu qira’ah, dan sebagai isim maushul dalam qira’ah yang lain adalah tidak ada masalah, sebagaimana yang telah kami ketengahkan bahwa dua qira’at dalam satu ayat adalah bagaikan dua ayat. Dan di antara ayat-ayat yang semakna dengan ayat lain dalam surat Al An’am (An Nahl. ed) adalah firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ (١٠٠)

“Sesungguhnya kekuasaanNya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya Jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (An Nahl: 100)

Allah menegaskan akan pengangkatan syaitan sebagai pemimpin mereka yaitu dengan mengikuti apa yang dihiaskan oleh syaitan terhadap mereka berupa kekufuran dan kemaksiatan yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh para rasul, kemudian Dia menegaskan bahwa hal itu adalah penyekutuan terhadap-Nya dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla: “Dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” Dan Dia menegaskan bahwa ketaatan dalam hal itu -seperti apa yang disyari’atkan syaitan terhadap mereka dan dihiasinya- merupakan bentuk peribadatan terhadap syaitan.

Dan telah diketahui bahwa siapa yang menyembah syaitan maka ia telah menyekutukan Ar Rahman, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (٦٠) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦١) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلا كَثِيرًا

“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu”. (Yasin: 60-62)

Dan masuk di dalam golongan mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti aturan syaitan secara pasti.

أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ

“Maka apakah kamu tidak memikirkan ?” (Yasin: 62)

Kemudian Allah menjelaskan tempat kembali terakhir bagi orang-orang yang menyembah syaitan di dunia ini dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (٦٣) اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (٦٤) الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (٦٥)

“Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya), masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yasin: 63-65)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi-Nya Ibrahim:

يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (٤٤)

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.” (Maryam: 44)

Perkataan-Nya: “Janganlah kalian menyembah syaitan”, yaitu dengan mengikuti apa yang disyari’atkan syaitan yang menyalahi apa yang disyari’atkan Allah berupa kekufuran dan kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا (١١٧)

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,” (An Nisa: 117)

Firman-Nya: “Dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka”. Maksudnya mereka itu tidak menyembah kecuali syaitan yang durhaka. Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلائِكَةِ أَهَؤُلاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ (٤٠) قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ (٤١)

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”. Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha suci Engkau. Engkaulah pelindung Kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (Saba: 40-41)

Firman-Nya ‘Azza wa Jalla: “bahkan mereka telah menyembah jin”, yaitu mengikuti syaitan dan mentaatinya dalam apa yang mereka syari’atkan dan apa yang mereka hiasi terhadap mereka, berupa kekufuran dan maksiat sesuai penafsiran yang paling shahih dari dua penafsiran yang ada.

Dan syaitan mengetahui bahwa ketaatan kepadanya yang telah disebutkan tadi adalah penyekutuan dengannya, sebagaimana para syaitan mengakuinya dan berlepas diri dari mereka di akhirat, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla telah menegaskan dalam surat Ibrahim:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٢)

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (Ibrahim: 22)

Sungguh mereka sebenarnya telah mengakui bahwa mereka itu menyekutukan Allah dengan syaitan di dunia, dan syaitan tidak mengingkari kemusyrikan mereka itu kecuali pada hari kiamat.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan makna yang kami jelaskan ini dalam haditsnya ketika ditanya ‘Adiy Bin Hatim radliyallahu ‘anhu tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٣١)

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilaah yang Esa, tidak ada Ilaah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taunah: 31)

Bagaimana cara mereka menjadikan tuhan? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sesungguhnya mereka menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan kemudian kalian mengikutinya. Maka yang demikian itu adalah menjadikan mereka sebagai tuhan”.

Dan di antara dalil yang paling jelas di antara hal ini adalah bahwa orang-orang kafir jika menghalalkan sesuatu, mereka mengetahui bahwa Allah mengharamkannya, dan apabila mereka mengharamkan sesuatu, mereka mengetahui bahwa Allah menghalalkannya. Sesungguhya mereka menambah kekufuran yang baru dengan hal itu bersama dengan kekafiran yang pertama, dan yang demikian itu dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (٣٧)

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (At Taubah: 37)

Dan bagaimanapun keadaannya tidak ragu lagi bahwa setiap orang yang mentaati selain Allah dalam tasyri’ yang bertentangan dengan apa yang disyari’atkan Allah, maka ia telah menyekutukan Allah dengannya, sebagaimana yang ditunjukan oleh firman-Nya:

وَكَذَلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ

“Dan demikianlah syuraaka mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka” (Al An’am: 137)

Allah menamakan mereka sekutu-sekutu ketika (mereka orang-orang musyrik) mentaati mereka dalam hal membunuh anak. Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢١)

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy Syuraa: 21)

Allah telah menamakan orang-orang yang mensyari’atkan dalam dien ini apa yang tidak diizinkan Allah sebagai tandingan-tandingan. Yang menambah jelas hal ini adalah apa yang Allah sebutkan tentang syaitan pada hari kiamat. Sesunggihnya ia berkata kepada orang yang menyekutukan-Nya di dunia, “sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersukutukan aku (dengan Allah) sejak dulu”. Sedangkan penyekutuannya yang tersebut itu tidak lebih dari sekedar syaitan itu mengajak mereka untuk mentaatinya, terus mereka mengikutinya.

Sebagaimana telah jelas hal ini pada firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٢)

“Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri, aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (Ibrahim: 22)

Dan hal ini sangat jelas sebagaimana yang anda perhatikan.

*******

Bersambung….

 

————————————————————————————————

[1] Dan sudah dipastikan bahwa orang yang membuat undang-undang dari mereka sendirinya atau mengambil dari negara lain, sudah dipastikan dia itu meyakini bahwa undang-undang yang mereka ambil atau mereka buat itu lebih baik dari hukum Islam meskipun lisannya mengingkarinya, ini yang disebut dengan talazum antara dzahir dengan bathin dalam kaidah ahlus sunnah wal jama’ah. (Pent)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: