Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Kupasan Syirik Hukum Dalam Tafsir Adlwaul Bayaan » Kupasan Syirik Hukum Dalam Tafsir Adlwaul Bayaan (Bag. 3 – TAMAT)

Kupasan Syirik Hukum Dalam Tafsir Adlwaul Bayaan (Bag. 3 – TAMAT)


TEMPAT KEEMPAT

Tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilaah Yang Maha Esa, tidak ada Ilaah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah: 31)

Berkata syaikh rahimahullah:

Allah telah menyebutkan dalam ayat yang mulia dari surat Al Bara’ah ini apa yang terjadi pada diri orang-orang Yahudi dan Nashara, di antaranya mereka menisbatkan anak kepada Allah, dan hal itu diikuti langsung dengan firman-Nya:

قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (At Taubah: 30)

Bagaimana mereka berpaling dari kebenaran padahal jelas sekali hal itu dan justeru mereka mendakwakan bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa itu memiliki anak. Mereka berkata bahwa Uzair anak Allah, Al-Masih anak Allah…. Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar dari apa yang mereka katakan. Kemudian Allah menyebutkan dosa dan aib-aib mereka yang lain. Ia ‘Azza wa Jalla berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam” (At Taubah: 31)

Yaitu mereka menjadikan Al Masih Ibnu Maryam sebagai tuhan selain Allah; ayat ini telah ditafsirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau menerangkan kepada ‘Adiy Ibnu Hatim radliyallahu ‘anhu ketika ia bertanya kepada Nabi (akan makna itu). Telah dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan yang lainnya dari ‘Adiy Ibnu Hatim bahwa dia mendatangi Nabi sedang di lehernya ada salib dari emas, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Keluarkan berhala ini dari lehermu,” lalu ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah” (At Taubah: 31)

Sedangkan ‘Adiy pada zaman jahiliyah adalah seorang Nasrani, maka ia berkata: “Kami tidak pernah menyembah mereka dari selain Allah,” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Bukankah mereka mengharamkan atas kalian apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah lalu kalian mengikutinya?” Ia menjawab: “Ya”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang demikian itu adalah bentuk penyembahan terhadap mereka”. Hal inilah makna dari ayat “Mereka menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan…..” Dan hal ini merupakan tafsir Nabawi yang memutuskan bahwa setiap orang yang mengikuti pembuat syari’at/hukum yang menghalalkan dan mengharamkan yang bertentangan dengan Allah, maka sesungguhnya ia itu adalah menyembah kepadanya, ia mengambilnya sebagai tuhan, ia musyrik (menyekutukannya), kafir kepada Allah. Inilah tafsir yang benar lagi tidak ada ragu dalam kebenarannya. Alyat-ayat Al Qur’an lain sebagai penguat kebenarannya tidak terhitung jumlahnya dalam mushaf Al Qur’anul Karim. Dan insya Allah akan kami jelaskan sebagian darinya.

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa syirik kepada Allah dalam hukumnya dan syirik kepada-Nya dalam ibadah, keduanya adalah sama, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Maka orang-orang yang mengikuti selain hukum dan peraturan Allah (atau sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah) serta undang-undang yang menyelisihi syari’at Allah seraya berpaling dari cahaya langit yang diturunkan Allah kepada lisan Rasul-Nya, maka orang yang melakukan hal ini dan orang yang menyembah patung, atau sujud kepada berhala-berhala sekali-kali tidak ada perbedaan, mereka musyrik kepada Allah. Yang satu syirik dalam ibadah, sedangkan yang lain syirik dalam hukum-Nya, sedangkan syirik dalam ibadah dan syirik dalam hukum keduanya adalah sama. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman dalam syirik ibadah:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Al Kahfi: 110)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman berkenaan dengan syirik dalam hukum-Nya:

لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (Al Kahfi: 26)

Pada qira’ah Ibnu ‘Amir (yang terasuk qurra’ yang tujuh):

وَلا تُشْرِكْ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan janganlah kamu menyekutukan seorangpun dalam hukum-Nya”

Dibaca dengan sighah (bentuk ungkapan) larangan, dan kedua bacaan tersebut sama-sama menyatakan (larangan) syirik kepada Allah, oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada ‘Adiy Ibnu Hatim bahwasanya mereka (Yahudi dan Nasrani) ketika mengikuti peraturan mereka (para ulama dan pendeta) dalam penghalalan dan pengharaman serta pensyari’atan yang menyelisihi syari’at Allah, maka mereka itu menjadi penyembah sekaligus menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan. Sedang ayat-ayat Al Qur’an yang sangat jelas dalam makna ini adalah tidak terhitung. Dan di antara yang paling jelas adalah perdebatan yang terjadi antara golongan Ar Rahman dan Syaitan dalam pengharaman dan penghalalan daging bangkai. Golongan syaitan berdalil dengan wahyu dari syaitan agar menanyakan kepada Muhammad tentang siapa yang mematikan kambing yang mati. Ketika dijawab bahwa Allah ‘Azza wa Jalla yang mematikannya, mereka berhujjah dengan filsafat wahyu dari syaitan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabatnya yang mengharamkan bangkai. Mereka berkata kepada kaum muslimin: “Apa-apa yang kalian sembelih dengan tangan kalian (kalian anggap) halal sedangkan apa yang disembelih Allah dengan tangan-Nya yang mulia kalian mengatakannya haram, kalau begitu kalian lebih mulia dari Allah”. Hal ini termasuk filsafat syaitan dan wahyu dari Iblis yang mana para kafir Makkah berdalih dengannya dalam rangka mengikuti hukum syaitan, syari’atnya, dan peraturannya dengan dalih bahwa apa yang disembelih Allah lebih halal dari apa yang disembelih manusia, dan sembelihan Allah lebih suci dari apa yang disembelih manusia. Sedangkan para shahabat Nabi mengharamkan bangkai dengan wahyu Ar Rahman dalam ayat: “telah diharamkan atas kalian bangkai”, dan juga ayat: “Dia hanya mengharamkan atas kalian bangkai”.

Orang-orang muslim berdalil dengan wahyu dari langit, sedangkan mereka berdalih dengan filsafat, wahyu syaitan serta mengadakan perdebatan dan pertengkaran. Maka penguasa langit memutuskan dengan wahyu dari-Nya. Ia menurunkan Al Qur’an yang dibaca pada surat Al An’am yang menetapkan kepada makhluk-Nya bahwa siapa saja yang mengikuti peraturan, syari’at dan undang-undang yang bertentangan dengan apa yang disyari’atkan Allah atas lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia musyrik (menyekutukan) Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai tuhan. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ (١٢١)

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya -yaitu bangkai meskipun mereka mengatakannya bahwa itu sembelihan Allah dan lebih suci- Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan -yaitu bahwa memakan bangkai itu adalah suatu kefasikan, yaitu keluar dari ketaatan kepada Allah kepada ketaatan kepada syaitan- Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya -dari kalangan orang-orang kafir, seperti kuffar Makkah- agar mereka membantah kamu; -dengan wahyu dari syaitan, yaitu apa yang kalian sembelih halal sedangkan apa yang Allah sembelih kalian haramkan, jadi kalian lebih baik dari Allah- dan jika kamu menuruti mereka, -yaitu mengikuti mereka dalam aturan yang diletakan syaitan bagi para pengikutnya seraya dia memberikan dalil dengan wahyunya atas hal itu- Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik -terhadap Allah lagi menjadikan makhluk yang lalian ikuti hukumnya sebagai tuhan selain Allah-“ (Al An’am: 121)

Dan syirik yang disebutkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari agama Islam dengan ijma kaum muslimin, dan itu adalah diisyaratkan kepadanya oleh Allah dengan firman-Nya:

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ (١٠٠)

“Sesungguhnya kekuasaan-Nya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (Al Nahl: 100)

Yaitu apa yang ditegaskan oleh syaitan dalam khutbahnya di hari kiamat yang disebutkan dalam firman-Nya:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri, aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. (Ibrahim: 22)

Dan itu adalah yang dimaksud sesuai penafsiran yang paling benar dengan firman-Nya:

بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ

“bahkan mereka telah menyembah jin” (Saba: 41)

Yaitu mereka menyembah syaitan-syaitan dengan cara mengikuti undang-undang dan hukum-hukumnya yang dilontarkan kepada lisan-lisan orang-orang kafir, dan itu adalah yang telah dilarang oleh Ibrahim terhadap ayahnya:

يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan.” (Maryam: 44)

Yaitu dengan mengikuti apa yang dia tetapkan terhadapmu berupa aturan kekufuran dan maksiat yang bertentagan dengan syari’at Allah yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya. Dan ibadah ini adalah yang di mana Allah mencela dengan keras terhadap pelakunya serta Dia jelaskan tempat kembalinya yang terakhir dalam surat Yasin dangan firman-Nya:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, (Yasin: 60)

Mereka itu tidak mengibadati syaitan dengan sujud dan ruku, namun mereka menyembahnya dengan cara mengikuti aturan, hukum dan undang-undangnya, dia (syaitan) mensyari’atkan bagi mereka hal-hal yang lain dari apa yang disyari’atkan Allah, kemudian mereka itu mengikutinya dan meninggalkan apa yang telah Allah syari’atkan, sehingga dengan cara itu mereka telah menyembahnya dan menjadikannya sebagai tuhan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Adiy Ibnu Hatim radliyallahu ‘anhu, dan ini adalah hal yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Dan inilah yang dimaksud dengan firman-Nya:

وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا

“Dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,” (An Nisa: 117)

Yaitu mereka itu tidak menyembah kecuali syaitan yang durhaka, yaitu dengan bentuk ibadah (mengikuti) aturan dan syari’atnya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut” (An Nisa: 60)

Semua orang yang berhukum kepada selain apa yang telah Allah turunkan maka dia itu berhakim kepada thaghut, sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang ingin berhakim kepada thaghut, dan mereka itu mengklaim bahwa mereka itu beriman kepada Allah, sehingga Allah mengarahkan Nabi-Nya untuk heran atas kedustaan dan ketidak maluan mereka itu dengan firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku -anjuran untuk heran dari mereka- dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. (An Nisa; 60)

Syaitan dengan pensyari’atan peraturan dan hukum yang dimana mereka berjalan di atasnya menginginkan untuk menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sangat jauh.

Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah bersumpah dengan sumpah samawiy bahwa sesungguhnya tidak ada sedikitpun iman bagi orang yang tidak merujukan hukum kepada Rasulullah dalam apa yang beliau bawa dari Allah dengan penuh keikhlasan dari lubuk hati yang sangat dalam, dan ini tercantum dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٦٥)

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) sekali-kali tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuh hatinya.” (An Nisa: 65)

Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam ayat-ayat yang sangat banyak di dalam kitab-Nya bahwa hukum itu hanyalah milik-Nya saja tidak ada satu sekutupun baginya di dalam hukum-Nya, dan Dia setiap menuturkan kekhususan-Nya akan hukum selalu menyebutkan tanda-tanda yang sangat jelas yang membedakan antara Dzat yang berhak untuk menentukan hukum, memerintah, melarang, mensyari’atkan, menghalalkan dan mengharamkan dengan dzat yang tidak berhak akan itu semua, Dia ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Yusuf: 40)

Dan firman-nya ‘Azza wa Jalla:

لَهُ الْحَمْدُ فِي الأولَى وَالآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Al Qashash: 70)

Dan kami akan memberikan contoh bagi anda sekalian.

Di antaranya firman-Nya dalam surat Asy Syuraa:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (Asy Syuraa: 10)

Seolah Allah mengatakan: Dzat yang menjadi rujukan dan yang perkataan-Nya serta ketentuan-Nya menjadi acuan adalah Dzat yang memiliki sifat-sifat yang berbeda dari yang lainnya, Dia berfirman:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (Asy Syuraa: 10)

Kemudian Dia menjelaskan sifat-sifat Dzat yang memiliki hak hukum, tasyri’, penghalalan dan pengharaman, serta perintah dan larangan, Dia berfirman:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (١٠) فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١١) لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (١٢)

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku, kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Melihat. Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Asy Syuraa: 10-12)

Ini adalah sifat-sifat Dzat Yang berhak menentukan hukum, menghalalkan, mengharamkan, memerintah dan melarang.

Wahai saudara-saudara apakah anda melihat pada para kera dan para babi yang meletakan hukum-hukum buatan[1] (Qawaniin Wadl’iyyah) itu ada di antara mereka seorang yang memiliki sifat-sifat tadi -yang merupakan sifat-sifat Dzat Yang menentukan hukum, menghalalkan dan mengharamkan, serta memerintah dan melarang-??, dan di antara ayat yang menunjukan macam ini adalah firman-Nya dalam surat Al Qashash:

وَهُوَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الأولَى وَالآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٧٠)

“Dan Dialah Allah, tidak ada Ilaah (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Al Qashash: 70)

Kemudian Dia menjelaskan Dzat Yang berhak akan hukum, Dia berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلا تَسْمَعُونَ (٧١) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلا تُبْصِرُونَ (٧٢) وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٧٣)

“Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (Al Qashas: 71-73)

Apakah di antara para kera dan para babi yang meletakan peraturan-peraturan, dan mereka mengklaim bahwa mereka itu dengannya menertibkan hubungan-hubungan manusia serta mengikat urusan-urusan mereka, apakah di antara mereka itu ada yang berhak diberi sifat-sifat ini yang merupakan sifat-sifat Dzat Yang berhak untuk menentukan hukum, memerintah dan melarang, serta menghalalkan dan mengharamkan??

Dan di antaranya adalah firman-Nya di akhir surat Al Qashash:

وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٨٨)

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al Qashash: 88)

Ayat-ayat dalam hal ini adalah banyak sekali

Walhasil, bahwa tasyri’ (hak membuat hukum itu) hanya bagi Dzat Yang Maha Tinggi Yang tidak mungkin di atas-Nya ada yang memerintah, melarang serta mengatur, Dia adalah kekuasaan tertinggi. Adapun makhluk yang jahil, kafir lagi memperihatinkan sama sekali tidak ada hak untuk menghalalkan dan mengharamkan, namun yang sungguh mengherankan adalah orang-orang yang di tengah-tengah mereka ada Kitabullah dan mereka mewarisi Islam dan leluhur mereka, di sisi mereka ada Al Qur’an yang agung, cahaya yang jelas dan sunnah makhluk terbaik shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan kepada Rasul-Nya segala sesuatu, namun dengan adanya ini semua mereka berpaling darinya seraya bermain-main, karena menurut klaim mereka bahwa Islam itu tidak bisa mengatur kehidupan setelah terjadi perkembangan yang pesat!!! Mereka mencari kebenaran di tong sampah pikiran orang-orang kafir yang babi ini sedang mereka itu tidak mengetahui apa-apa sedikitpun. Ini merupakan bentuk penghapusan bashirah, kita berlindung kepada Allah, tidak ada yang membenarkannya kecuali orang yang telah melihatnya, namun kelelawar-kelelawar itu berpaling dari Al Qur’an. Al Qur’an yang agung adalah cahaya… sedangkan kelawar tidak bisa melihat cahaya, kelelawar dibutakan oleh cahaya, ia tidak bisa melihat kecuali di kegelapan malam.

Al Qur’an yang mulia, mereka berpaling darinya. Anda bisa melihat salah seorang di antara mereka yang di mana dia itu tokohnya, tanpa malu-malu dari Allah dan dari manusia dengan wajah yang tidak berair dan dengan keponggahannya, dia mengumumkan bahwa dia menentukan hukum bagi dirinya dan bagi rakyatnya yang merupakan masyarakatnya dan yang dipikul tanggung jawabnya, dia menentukan hukum dalam agama mereka, jiwa mereka, akal mereka, badan mereka, harta mereka, dan dalam kehormatan mereka dengan undang-undang bumi yang diletakan oleh babi-babi orang kafir yang bodoh-bodoh di mana mereka itu adalah anjing-anjing dan babi-babi sama seperti mereka. Mereka adalah makhluk Allah yang paling bodoh, berpaling dari cahaya langit yang ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla melalui lisan makhluk-Nya, ini merupakan bentuk penghapusan bashirah, tidak dibenarkan kecuali oleh orang yang telah melihatnya, kita berlindung darinya kepada Allah. Ya Allah, janganlah Engkau menghapus bashirah-bashirah kami dan janganlah Engkau menyesatkan kami setelah Engkau memberi kami petunjuk.

Ketahuilah wahai ikhwan, bahwa setiap orang yang congkak di hadapan Sang Pencipta ‘Azza wa Jalla tanpa rasa malu di wajahnya, dia berpaling dari apa yang Allah turunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengklaim bahwa ajaran itu tidak mampu mengatur/mengurus hubungan-hubungan dunia!!! dia mencari cahaya dan petunjuk dari kotoran-kotoran pemikiran babi-babi kafir nan durjana yang di mana mereka itu adalah orang-orang yang kebangetan bodohnya. Ketahuilah bahwa dia, Fir’aun, Hamman, Qarun itu sama statusnya dalam kekafiran, karena dia berpaling dari Allah dan dari tasyri’-Nya, dia lebih mengutamakan tasyri’ syaitan dan hukum Iblis yang disyari’atkan lewat lisan-lisan para tentaranya, dan dia itu sama sekali tidak memiliki keimanan dari arah manapun sebagaimana yang telah anda lihat dalam ayat-ayat yang banyak yang menunjukan akan hal itu serta perintah Allah terhadap Nabi-Nya agar merasa heran dari klaim mereka akan keimanan.

Maka kewajiban kaum muslimin semuanya adalah mengetahui dan meyakini dan kami mengatakan dengan tidak ada keraguan padanya bahwa wajib atas orang Islam siapa saja dia untuk mengetahui bahwa tidak ada yang halal kecuali apa yang Allah halalkan, dan tidak ada yang haram kecuali apa yang Allah haramkan, serta tidak ada agama kecuali apa yang telah Allah syari’atkan, maka selain Allah tidak ada hak akan penghalalan dan pengharaman, karena dia adalah hamba yang miskin, lemah lagi diatur, wajib atasnya agar beramal sesuai perintah Tuhannya dengan apa yang Dia syari’atkan. Ini adalah makna firman-Nya:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah” (At Taubah: 31)

Dari kaset rekaman dengan suara Syaikh rahimahullah.

Dan akhir seruan kami adalah Alhamdulillahi rabbil ‘alaamin….

******

[1] Yaitu para pemerintah dan para dewan Legislatif yang membuat hukum dan perundang-undangan. (pent)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: