Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Fatwa-Fatwa Tentang Pelaku Syirik Akbar (Bag. 2 – TAMAT)

Fatwa-Fatwa Tentang Pelaku Syirik Akbar (Bag. 2 – TAMAT)


Pertanyaan Kedua
Masalah Takfier Mu’ayyan Dan Tegaknya Hujjah

__________

Dan juga telah ditanya Syaikh Abdullah Ibnu Abdurrahman Aba Buthain rahimahullah tentang perkataan Syaikhul Islam Taqiyyudin rahimahullah dalam bantahanya terhadap Ibnul Bakri: Oleh sebab itu para ahli ilmu dan sunnah tidak mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka, meskipun orang yang menyelisihi tersebut mengkafirkan mereka, karena kufur adalah hukum syar’iy, sehingga tidak boleh orang memberikan hukuman (kepada yang menyelisihinya) dengan hukum yang sama, seperti orang yang berdusta terhadapmu dan menzinahi isterimu, maka tidak boleh kamu berdusta kepadanya dan menzinahi isterinya, karena zina dan dusta adalah haram karena hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan begitu juga takfier adalah hak Allah, sehingga kita tidak mengkafirkan kecuali orang yang telah dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan juga: Sesungguhnya takfier orang mu’ayyan dan kebolehan membunuhnya tergantung terhadap tegaknya hujjah nabawiyyah yang mana orang yang menyelisihinya dikafirkan, sebab tidak setiap orang yang jahil akan sesuatu dari dien ini dikafirkan -hingga beliau berkata:- oleh sebab ini dahulu saya katakan kepada orang-orang Jahmiyyah dari kalangan Huluuliyyah dan Nufaah yang mana mereka itu menafikan keberadaan Allah di atas Arasy: Saya seandainya sepakat dengan kalian, maka saya kafir, karena saya mengetahui bahwa ucapan kalian adalah kekafiran, sedangkan kalian menurut saya adalah tidak kafir, karena kalian adalah orang-orang jahil…. hingga akhir ucapannya, apa makna tegaknya hujjah??

Maka beliau menjawab: Segala puji bagi Allah Rabbul ‘Alamin, perkataan syaikh (Ibnu Taimiyyah) rahimahullah mengandung dua masalah.

Masalah pertama: Kita tidak mengkafirkan orang yang telah mengkafirkan kita.

Dhahir ucapanya: Sesungguhnya sama saja baik dia (orang yang mengkafirkan kita) itu muta’awwil (melakukan ta’wil) atau tidak, dan sedangkan sejumlah ulama telah menegaskan: “Bahwa bila dia mengatakan itu karena takwil, maka dia itu tidak dikafirkan”, dan Ibnu Hajar Al Haitamiy menukil dari sejumlah ulama-ulama madzhab Syafi’iy bahwa mereka tegas-tegasan mengkafirkan orang tadi bila tadi bila tidak melakukan ta’wil, terus (Ibnu Hajar) menukil dari Al Mutawalliy, bahwa dia berkata: “Bila orang muslim berkata wahai kafir, tanpa ta’wil, maka dia itu kafir.” Ia (Ibnu Hajar) berkata: “Dan ia diikuti dalam hal itu oleh jama’ah dari ulama”

Mereka berhujjah dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما

“Bila seseorang mengatakan kepada saudarnya:[1] “Wahai kafir,” maka salah satu dari keduanya telah kembali dengan tuduhan itu,”

Sedangkan orang yang dituduh kafir itu adalah orang muslim, maka dia (yang menuduh) itu kafir. Mereka mengatakan: Karena dia menamakan Islam sebagai kekafiran. Dan sebagian mereka memprotes ta’liil (pembuatan alasan dengan alasan) ini, yaitu ucapan mereka: “Sesungguhnya dia menamakan Islam sebagai kekafiran.” Dia (maksudnya sebagian ulama itu) berkata: Makna ini tidak bisa difahami dari lafadznya, dan itu bukanlah yang dimaksud, justeru yang dimaksud dan makna lafadz yang sebenarnya adalah: Sesungguhnya kamu tidak berada di atas dienul Islam yang merupakan kebenaran, tapi kamu adalah orang kafir, dien kamu bukanlah Islam, sedangkan saya berada di atas dienul Islam. Inilah yang dimaksud dengan lafadz ini tanpa diragukan lagi.

Karena sesungguhnya dia itu hanya menuduhkan sifat kekafiran kepada orang, bukan kepada dienul Islam. Dai menafikan dari orang tersebut keberadaannya di atas dienul Islam, sehingga dengan ucapan seperti ini tidaklah dia itu dikafirkan, akan tetapi dia itu mesti diberikan ta’dzir (sangsi) dengan sebab celaan yang keji ini, yaitu dengan tuduhan yang tidak layak baginya.

Dan pendapat mereka dengan hadits tadi mengharuskan mereka mengatakan bahwa orang yang berkata kepada seorang yang ahli ibadah: “Wahai fasiq!” adalah kafir, karena dia menamakan ibadah sebagai kefasikan, dan saya kira tidak seorangpun yang mengatakannya, dan justeru yang dia maksud adalah bahwa kamu ini menjadi fasiq, dan kamu melakukan suatu kefasikan di samping ibadah kamu itu, bukan maksudnya bahwa ibadah kamu adalah kefasikan. Selesai.

Dan dzahir perkataan An Nawawi dalam Syarah Muslim selaras dengan hal itu, karena beliau tatkala telah menuturkan hadits itu, berkata: Dan hadits ini tergolong apa yang dianggap oleh para ulama sebagai nash-nash yang musykilaat, sesungguhnya mahdzab ahlul haq adalah; bahwa orang muslim itu tidak boleh dikafirkan dengan sebab perbuatan-perbuatan maksiat, seperti membunuh, zina, dan begitu juga perkataan kepada saudaranya “wahai kafir” dengan tanpa meyakini bathilnya dienul Islam.[2]

Kemudian beliau menghikayatkan beberapa makna dalam ta’wil hadits itu:

Pertama: Sesungguhnya hadits itu dibawa kepada makna orang yang menghalalkan, sedangkan makna “kembali dengan hal itu” maksudnya dengan kalimat kekafiran tersebut.

Kedua: Celaan dia kepada saudaranya dan maksiat pengkafirannya itu kembali kepadanya.

Ketiga: Dibawa kepada orang-orang Khawarij yang mengkafirkan kaum mukminin. Ini dinukil oleh Al Qadliy ‘Iyadh dari Malik, dan ini adalah pendapat yang lemah, karena madzhab yang shahih lagi terpilih yang dipegang oleh kebanyakan ulama dan para muhaqqiqun: Bahwa Khawarij itu tidak dikafirkan, sebagaimana ahlul bid’ah yang lainnya.

Keempat: Maknanya; sesungguhnya tuduhan bisa menghantarkan kepada kekafiran, karena maksiat adalah penghantar kepada kekafiran, dan dikhawatirkan atas orang yang terlalu sering melakukannya adalah akibatnya yang buruk itu menjatuhkan dia kepada kekafiran. Dan ini dikuatkan oleh riwayat Abu ‘Uwanah dalam Mustakhraj Muslim: “Bila dia itu seperti apa yang dia katakan (berarti tuduhan itu benar) dan bila tidak, maka dia kembali dengan kekafiran.”

Kelima: Sungguh dia telah kembali dengan kekafirannya, dan yang kembali itu bukanlah hakikat kekafiran, akan tetapi pengkafiran (takfier). Keberadaan dia menjadikan saudaranya yang mukmin sebagai orang kafir, maka seolah-olah dia itu telah kafir dengan dirinya sendiri, bisa karena dia mengakfirkan orang yang setara dengannya dan bisa karena dia mengkafirkan orang yang tidak dikafirkan kecuali orang kafir yang meyakini bathilnya Islam. Selesai.

Ibnu Daqieq Al ‘Ied mengatakan dalam penafsiran sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ومن دعا رجلا بالكفر وليس كذلك إلا حارعليه

“Siapa yang menuduh orang lain dengan kekafiran, sedangkan yang dituduh itu tidak seperti itu, berarti tuduhan itu kembali kepadanya”.

Ini adalah ancaman yang sangat besar bagi orang yang berani mengkafirkan seorang dari kaum muslimin, sedangkan yang dituduh itu tidak seperti itu. Ini adalah perangkap yang besar, yang mana terjatuh ke dalamnya banyak dari kalangan ulama yang berselisih dalam hal akidah[3] dan mereka saling mengkafirkan.

Kemudian beliau menukil dari Al Ustadz Abu Ishaq Al Isfiraaiiniy, dia berkata: “Saya tidak mengakfirkan kecuali orang yang telah mengkafirkan saya”.

Beliau (Ibnu Daqieq) berkata: Bisa jadi perkataan (Abu Ishaq) ini samar atas sebagian manusia dan membawanya ke dalam penafsiran yang tidak shahih, sedangkan makna ucapan beliau yang seyogyanya menjadi acuan: adalah sesungguhnya beliau melihat hadits ini yang menuntut bahwa orang yang menuduh kafir saudaranya, sedangkan dia itu tidak seperti itu, maka tuduhan kafir itu kembali kepadanya, dan begitu juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Siapa yang mengatakan kepada saudarnya: “wahai kafir” maka salah satu dari keduanya telah kembali dengan tuduhan itu”.

Dan pembicara (maksudnya Abu Ishaq) ini mengatakan: Hadits ini menunjukan bahwa kekafiran itu menempel kepada salah satu dari dua orang itu, bisa yang mengkafirkan dan bisa jadi yang dikafirkan. Bila sebagian orang mengkafirkna saya, maka kekafiran itu jatuh kepada salah satu di antara kami, sedangkan saya meyakini benar bahwa saya ini bukan orang kafir, maka kekafiran itu kembali kepada dia.

Dzahir perkataan Abu Ishaq adalah sesungguhnya tidak ada perbedaan antara orang yang melakukan takwil dengan yang lainnya. Wallahu a’lam.

Apa yang dinukil oleh Al Qadliy dari Malik yaitu menetapkah hadits itu terhadap Khawarij adalah selaras dengan salah satu riwayat dari Ahmad dalam hal pengkafiran Khawarij. Pendapat ini dipilih oleh sejumlah ulama-ulama madzhab Hambali dan yang lainnya, karena mereka (Khawarij) itu telah mengkafirkan banyak para shahabat, mereka menghalalkan darah dan harta para shahabat seraya mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Para ulama tidak mengudzur mereka dengan takwilnya yang bathil, akan tetapi mayoritas para fuqaha tidak mengkafirkan mereka karena pentakwilannya. Dan siapa yang menghalalkan membunuh orang-orang yang terjaga darahnya dan (menghalalkan) mengambil harta mereka tanpa syubhat dan tanpa takwil, maka dia telah kafir, dan bila istihlaal mereka dengan takwil seperti Khawarij maka tidak dikafirkan. Wallahu a’lam.

Masalah kedua: Sesungguhnya takfier orang mu’ayyan dan kebolehan membunuhnya adalah tergantung terhadap sampainya hujjah nabawiyyah kepadanya, yang mana orang yang menyelisihinya dikafirkan…… hingga akhir perkataan Syaikhul Islam.

Perkataan beliau ini menjelaskan tentang orang yang belum sampai dakwah kepadanya, dan beliau menegaskan hal itu di tempat lain. Ibnu ‘Aqil menukil dari para tokoh madzhab (Hambali): “Bahwa orang itu tidak disiksa”, dan beliau berkata: Sesungguhnya Allah telah memaafkan orang yang beramal dan memlapaui batas, karena dakwah belum sampai kepadanya dan dia telah mengamalkan cabang dari kebaikan.

Dan hal itu dikuatkan dengan dalil yang ada dalam Shahih Muslim secara mar’fu’:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ وَلا يَهُودِيٌّ ، وَلا نَصْرَانِيٌّ فَمَاتَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak mendengar akan keberadaanku seorangpun dari umat ini, baik Yahudi atau Nasrani terus dia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang dengannya aku diutus, melainkan dia itu calon di antara penghuni neraka”

(An Nawawi) berkata dalam Syarah Muslim: “Orang Yahudi dan Nasrani dikhususkan (disebut), karena mereka itu memiliki kitab”, beliau berkata: Dan dalam mafhuum-nya bahwa orang yang belum sampai dakwah Islam kepadanya, maka dia itu diudzur. Beliau berkata: Dan ini sejalan dengan kaidah yang sudah berlaku dalam Al Ushuul bahwa tidak ada hukum sebelum datangnya syari’at menurut pendapat yang shahih. Selesai.

Al Qadli Abu Ya’la berkata dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا (١٥)

“Dan Kami tidak mungkin meng’azab sehinggas Kami mengutus utusan” (Al Israa: 15)

Dalam ayat ini ada dalil bahwa mengetahui Allah itu tidak wajib secara akal, akan tetapi ia wajib dengan syari’at, yaitu diutusnya para rasul, dan sesungguhnya bila orang mati sebelum hal itu, maka tidak boleh dipastikan dia diadzab di neraka. Selesai.

Dan tentang orang yang belum sampai hujjah kepadanya atau pendapat lain: “bahwa dia itu disiksa,” pendapat ini dipilih oleh Ibnu Hamid, dia berhujjah dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (٣٦)

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (Al Qiyamah: 36). Wallahu a’lam.

Orang yang telah sampai kepadanya risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Al Qur’an telah sampai kepadanya, maka berarti hujjah telah tegak atasnya, sehingga dia tidak diudzur dalam hal tidak beriman kepada Allah,[4] malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka tidak ada udzur dengan kejahilan baginya setelah itu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengabarkan akan kejahilan banyak orang-orang kafir, padahal Dia tegas-tegasan mengkafirkan mereka itu. Allah juga mensifati orang-orang Nasrani dengan sifat kejahilan, padahal tidak ada seorang muslim pun yang meragukan kekafiran mereka, dan kita memastikan bahwa mayoritas orang-orang Yahudi dan Nasrani pada hari ini adalah orang-orang jahil lagi bertaqlid, dan kita tetap meyakini kekafiran mereka dan kekafiran orang yang meragukan kekafiran mereka.

Sungguh Al Qur’an telah menunjukan bahwa keraguan dalam Ushuluddin adalah kekafiran, sedangkan keraguan (syakk) itu adalah bimbang antara dua hal, seperti orang yang tidak memastikan kejujuran dan kedustaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seperti orang yang tidak memastikan terjadi atau tidaknya hari kebangkitan, dan yang lainnya seperti orang yang tidak meyakini wajib atau tidaknya kewajiban shalat, atau tidak meyakini haram atau tidaknya keharaman berzina. Dan ini semua adalah kekafiran dengan ijma para ulama, orang yang keadaanya seperti ini tidak diudzur dengan alasan bahwa ia tidak memahami hujjah-hujjah Allah dan penjelasan-penjelasan-Nya karena tidak ada udzur baginya setelah hujjah itu sampai kepadanya, meskipun dia itu tidak memahaminya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala sungguh telah mengabarkan tentang orang-orang kafir bahwa mereka itu tidak faham. Dia berfirman:

وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا

“Padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (kami letakkan) sumbatan di telinganya”. (Al An’am: 25)

Dan Dia berfirman:

فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلالَةُ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ (٣٠)

“Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan sebagai auliyaa (pelindung mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Al A’raf: 30)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa mereka itu tidak memahami, akan tetapi Dia tidak mengudzur mereka dengan alasan bahwa mereka itu tidak memahami, dan justeru Al Qur’an tegas-tegasan mengkafirkan macam orang-orang kafir ini, sebagaimana dalam firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا (١٠٣)الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (١٠٤)أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (١٠٥)

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Al Kahfi: 103-105)

Syaikh Abu Muhammad Muwaffaquddien Ibnu Qudamah rahimahullah berkata tatkala berbicara dalam masalah: Apakah setiap mujtahid itu benar atau tidak? Dan beliau mentarjih bahwa tidak setiap mujtahid itu benar, akan tetapi kebenaran hanyalah dalam satu pendapat dari sekian pendapat para mujtahid. Beliau berkata: Dan Al Jahizh mengklaim bahwa orang yang menyelisihi millah Islam, bila dia itu mengamati kemudian tidak mampu mencapai kepada kebenaran, maka dia itu diudzur lagi tidak berdosa, -hingga Ibnu Qudamah mengatakan- Adapun yang diyakini oleh Al Jahizh adalah bathil secara meyakinkan dan kekafiran terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta penolakan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Karena sesungguhnya kita meyakini dengan pasti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk masuk Islam dan mengikutinya, beliau mencela mereka atas sikap ngototnya, beliau memerangi mereka semuanya dan beliau membunuh orang yang sudah baligh di antara mereka, padahal kita mengetahui bahwa orang yang mu’anid (membangkang) lagi mengetahui itu tergolong sedikit, dan justeru mayoritasnya adalah kaum muqallidin yang meyakini (memegang) ajaran leluhurnya secara taqlid, dan mereka itu tidak mengetahui mu’jizat dan kejujuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ayat-ayat Al Qur’an yang menujukan atas hal ini adalah sangat banyak, seperti firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ (٢٧)

“Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Shaad: 27)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٢٣)

“Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Fushilat: 23)

وَإِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ (٧٨)

“Dan mereka hanya menduga-duga” (Al Baqarah: 78)

وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ (١٨)

“Dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang yang dusta.” (Al Mujadillah: 18)

وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ (٣٠)

“Dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Al A’raf: 30)

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (١٠٤)

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 104)

Dan secara umum sesungguhnya celaan terhadap orang-orang yang mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk hal yang tidak terhitung dalam Al Kitab dan Al Sunnah. Selesai.

Beliau rahimahullah menjelaskan bahwa seandainya kita tidak mengkafirkan kecuali orang yang mu’aanid lagi mengetahui, maka kita berarti harus menghukumi keislaman mayoritas orang-orang Yahudi dan Nasrani, sedangkan ini adalah tergolong kebathilan yang nampak. Dan ucapan Syaikh Taqiyyudin rahimahullah: “Sesungguhnya takfier dan pembunuhan itu tergantung kepada sampainya hujjah.” Menunjukan bahwa kedua hal ini, yaitu takfier dan pembunuhan secara mutlak tidak tergantung kepada paham akan hujjah, akan tetapi tergantung pada sampainya hujjah, jadi paham akan hujjah adalah lain dan sampainya hujjah adalah hal lain pula.

Seandainya hukum ini tergantung kepada paham akan hujjah, maka tentu kita tidak mengkafirkan dan tidak membunuh kecuali orang yang telah kita ketahui bahwa dia itu mu’anid (membangkang) saja, padahal ini adalah kebathilan yang sangat jelas, dan justeru di akhir perkataanya (maksudnya Taqiyyudin Ibnu Taimiyyah) rahimahullah menunjukan bahwa beliau menganggap paham akan hujjah (sebagai syarat) dalam hal-hal yang samar atas banyak manusia, dan di dalamnya tidak terdapat penohokan terhadap tauhid dan risalah, seperti jahil akan sebagian sifat (Allah Subhanahu Wa Ta’ala).

Adapun hal-hal lain yang merupakan sesuatu yang menohok tauhid dan menohok keimanan terhadap risalah, maka beliau rahimahullah telah terang-terangan menjelaskan dalam banyak tempat akan kekafiran dan para pelakunya dan keharusan membunuhnya setelah disuruh taubat (istitabah), dan beliau tidak mengudzur mereka dengan sebab kejahilan, padahal kita memastikan bahwa sebab keterjerumusan mereka ke dalam hal-hal itu tidak lain adalah kejahilan akan hakikatnya, dan seandainya mereka mengetahui bahwa itu adalah kekafiran yang mengeluarkan dari Islam, tentulah mereka tidak tidak melakukannya.

Dan hal seperti ini dalam ungkapan syaikh rahimahullah adalah banyak sekali, seperti perkataannya dalam sebagian kitab-kitabnya: Setiap orang yang mengkultuskan nabi, atau orang shaleh, dan menjadikan padanya macam dari sifat ilahiyyah, seperti dia menyerunya selain Allah, (atau) seperti mengatakan; Wahai fulan, selamatkan saya, atau rahmatillah saya, atau tolonglah saya, atau tutupilah kekurangan saya, atau saya bertawakal kepadamu, atau saya berada dalam pencukupanmu, atau engkau cukup sebagai pelindung saya, dan ungkapan-ungkapan lainnya yang merupakan di antara kekhususan rububiyyah yang tidak layak kecuali bagi Allah, semua hal ini adalah syirik dan kesesatan, pelakunya disuruh taubat, bila dia taubat (dia dilepas) dan bila tidak maka dia dibunuh. Selesai.

Dan perkatannya juga: Siapa orangnya yang menjadikan perantara-perantara antara dia dengan Allah, dia menyeru kepada mereka, dia tawakal kepadanya, dan memohon terhadapnya, maka dia kafir dengan ijma.

Dan perkataannya: Siapa orangnya yang meyakini bahwa ziarahnya ahlidz dzimmah ke gereja-gereja itu mereka adalah betuk taqarrub kepada Allah, maka dia itu murtad, dan bila dia tidak mengetahui hal itu diharamkan, maka dia diberitahu, dan bila besikukuh, maka menjadi murtad.

Dan berkata juga: Siapa yang mencela para shahabat, atau (mencela) salah seorang dari mereka dan celaannya ini disertai dengan klaim bahwa Ali itu adalah ilah atau nabi atau bahwa Jibril itu keliru (dalam menyampaikan wahyu), maka kami tidak meragukan kekafirannya, bahkan tidak ragu lagi akan kekafiran orang yang tawaqquf dalam mengkafirkannya.

Dan beliau berkata juga: Siapa yang mengklaim bawa para shahabat itu murtad setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali beberapa orang saja yang tidak sampai sekian belas orang, atau bahwa mereka itu fasiq, maka tidak ragu lagi akan kafirnya orang yang mengatakan hal itu, bahkan siapa yang ragu akan kekafirannya, maka dia itu kafir. Selesai.

Lihatlah pengkafiran beliau terhadap orang yang ragu, sedangkan orang yang ragu itu adalah jahil. Jadi beliau tidak memandang kejahilan itu sebagai udzur dalam hal-hal seperti itu.

Beliau berkata di sela-sela perkatannya, beliau berkata: Dan karenanya mereka mengatakan: Siapa yang maksiat karena dasar istikbaar (menyombongkan diri/penolakan akan perintah) seperti Iblis, maka dia telah kafir dengan kesepakatan, dan siapa yang maksiat karena syahwat, maka itu tidak kafir menurut Ahlussunnah, serta siapa melakukan hal-hal yang haram seraya menghalalkannya, maka dia kafir dengan kesepakatan.

Dan beliau berkata: Istihlaal adalah keyakinan bahwa itu halal, dan hal ini bisa jadi dengan keyakinan bahwa Allah tidak mengharamkannya, dan bisa juga dengan ketidak adanya keyakinan bahwa Allah telah mengharamkannya, sedangkan ini adalah karena suatu cacat dalam keimanannya terhadap rububiyyah atau risalah, dan bisa juga berupa pengingkaran murni tanpa ada pendahuluan yang dia jadikan, dan terkadang dia mengetahui bahwa Allah mengharamkannya, kemudian dia menolak komitmen dengan pengharaman ini dan membangkang, maka ini adalah lebih dahsyat kekafirannya daripada yang sebelumnya. Selesai.

Dan perkataan beliau rahimahullah dalam hal seperti ini adalah banyak, dimana beliau tidak mengkhususkan pengklafiran hanya terhadap mu’anid (orang yang membangkang), padahal sudah dipastikan bahwa mayoritas mereka itu adalah orang-orang jahil yang tidak mengetahui bahwa apa yang mereka ucapkan atau mereka lakukan itu adalah kekafiran, maka itu tidak diudzur dengan sebab kejahilanya dalam hal-hal seperti ini, karena di antaranya ada hal yang menohok tauhid yang merupakan kewajiban yang paling mendasar, dan di antaranya ada yang mengandung penohokan terhadap risalah dan penolakan nash-nash Al Kitab dan Assunnah yang nampak yang sudah diijmakan oleh ulama kaum muslimin.

Para ulama salaf dan para imam telah menegaskan kekafiran orang-orang tertentu karena sebab ucapan-ucapan yang muncul dari mereka, padahal sudah diketahui bahwa mereka itu tidak mu’anid, oleh sebab itu para fuqaha rahimahumullah mengatakan: Siapa yang mengingkari wajibnya ibadah yang lima, atau mengingkari halalnya roti dan yang lainnya, atau mengingkari haramnya khamr dan yang lainnya, atau ragu akan hal itu, sedangkan orang seperti dia itu tidak wajar ridak mengetahuinya, maka dia kafir. Dan bila orang seperti dia itu wajar tidak mengetahui, maka diberitahu akan hal itu, bila bersikukuh setelah diberitahu, maka dia kafir dan harus dibunuh. Para fuqaha tidak mengkhususkan hukum tersebut terhadap orang yang mu’anid. Dan mereka menyebutkan dalam bab hukum orang murtad hal-hal yang banyak, baik ucapan dan perbuatan yang mana pelakunya menjadi murtad dengannya, dan mereka tidak membatasi hukum itu bagi orang yang mu’anid saja.

Syaikh (Ibnu Taimiyyah) berkata juga: Dan tatkala sekelompok dari kalangan shahabat dan tabi’in menghalalkan khamr (bagi orang khusus) seperti Qudamah dan shahabatnya, dan mereka mengira bahwa khamr itu dibolehkan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh berdasarkan pemahaman mereka terhadap satu ayat dalam surat Al Maidah, maka para shahabat sepakat; seperti Umar, Ali, dan yang lainnya bahwa mereka itu disuruh taubat, bila mereka bersikukuh atas istihlaal-nya itu maka mereka kafir, dan bila mengakui (keharamannya) maka mereka itu didera. Para shahabat tidak mengkafirkan mereka secara langsung dengan sebab istihlaal-nya karena adanya suatu syubhat sampai dijelaskan kebenaran kepada mereka, sehingga bila mereka bersikukuh maka mereka kafir.

Dan beliau berkata juga: Kita mengetahui dengan pasti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyari’atkan bagi seorangpun untuk menyeru orang yang sudah meninggal dunia, baik itu para nabi, orang-orang shaleh atau yang lainnya, baik dengan kata istighatsah atau yang lainnya, sebagaimana beliau tidak pernah mensyari’atkan bagi umatnya untuk sujud terhadap orang yang sudah mati atau sujud menghadapnya dan yang lainnya. Bahkan kita secara pasti mengetahui bahwa beliau telah melarang itu semua, dan bahwa hal itu adalah bagian dari syirik yang telah yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, namun karena meratanya kejahilan[5] dan jarangnya pengetahuan akan peninggalan risalah pada banyak orang-orang mutaakhirin, maka tidak mungkin mengkafirkannya dengan hal itu sehingga dijelaskan kepada mereka apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selesai.

Lihatlah ucapan beliau: “Maka tidak mungkin mengkafirkannya dengan hal itu sehingga dijelaskan kepada mereka apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dan beliau tidak mengatakan: “Sehingga jelas bagi mereka, dan kita memastikan pembangkangan dari mereka setelah mengetahuinya”.

Beliau rahimahullah berkata dalam sebagian kitab-kitabnya tatakala beliau menyebutkan sebagian apa yang dilakukan banyak orang berupa kekufuran dan perbuatan yang membuat keluar dari Islam, beliau bekata: Dan ini adalah banyak lagi menjadi fenomena umum, apalagi di pelosok-pelosok dan daerah-daerah besar yang mana sifat jahiliyyah, kekafiran, dan kemunafikan menjadi fenomena umum. Mereka itu sungguh memiliki keajaiban-keajaiban kejahilan, kedzaliman, dusta, nifaq, dan kesesatan yang sangat dahsyat, yang tidak bisa disebutkan di sini.

Dan bila dalam maqaalat khafiyyah, maka bisa dikatakan di dalamnya bahwa dia itu adalah keliru lagi sesat yang mana belum tegak atasnya hujjah, yang mana pelakunya bisa dikafirkan dengannya, akan tetapi hal itu terjadi dari segolongan orang di antara mereka dalam hal-hal yang nyata (dzahir) yang mana orang-orang khusus dan orang-orang awam dari kaum muslimin mengetahuinya bahwa itu termasuk dienul Islam, bahkan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrikin pun mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di utus dengannya dan mengkafirkan orang-orang yang menyelisihinya, seperti perintahnya hanya untuk ibadah hanya kepada Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, dan larangannya dari ibadah kepada selain Allah, seperti malaikat, para nabi, dan yang lainnya, sesungguhnya hal ini adalah syiar Islam yang paling jelas.

Dan seperti hal itu pula: adalah memusuhi orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrikin, dan seperti pengharaman fawaahisy (perbuatan-perbuatan keji), riba, khamr, judi, dan yang lainnya, kemudian engkau ternyata mendapatkan banyak dari kalangan tokoh-tokoh mereka terjatuh dalam hal-hal ini, maka mereka itu adalah murtaddun, meskipun bisa jadi mereka itu bertaubat darinya atau kembali (kepada Islam) -hingga beliau mengatakan:- Dan lebih dahsyat lebih itu: Bahwa di antara mereka ada orang yang menyusun kitab dalam dien kaum musyrikin serta kemurtaddan dari Islam, seperti Ar Raziy yang telah menyusun kitabnya dalam (materi) ibadah kepada bintang, dia menegakkan dalih-dalih atas baik dan manfaatnya (ibadah) itu, serta dia mendorong orang untuk melakukannya, sungguh ini adalah riddah dari Islam dengan kesepakatan kaum muslimin, meskipun bisa jadi dia itu kembali kepada Islam (sesudahnya). Selesai.

Lihatlah kepada pemilahan beliau antara maqaalat khafiyyah dengan hal-hal yang nyata (dhahir), dimana beliau mengatakan dalam maqaalat khafiyyah yang merupakan kekafiran, bisa dikatakan: “Sesungguhnya dia itu di dalamnya keliru lagi sesat, yang mana belum tegak atasnya hujjah yang mana pelakunya bisa dikafirkan (dengannya).” Dan beliau tidak mengatakan hal itu dalam masalah-masalah yang dzahirah (nampak/jelas).

Perkataan beliau ini sangatlah jelas dalam membedakan antara Al Umuur Al Mukaffirah Al Khafiyyah (hal-hal yang membuat kafir yang samar), beliau mengkafirkan secara langsung dengan sebab (pelanggaran) dalam hal-hal yang dzahir hukumnya dan dengan apa yang dilakukan oleh orang muslim karena ketidak tahuan akan hal-hal itu, seperti penghalalan yang haram atau perbuatan atau pengucapan yang syirik setelah diberitahu.

Dan beliau tidak mengkafirkan dengan hal-hal yang samar karena kejahilan, seperti jahil akan sebagian sifat-sifat (Allah) dan yang lainya, sehingga orang yang jahil akan hal itu tidak dikafirkan, ini seperti perkataan beliau kepada orang-orang Jahmiyyah: “Kalian bagi saya tidaklah dikafirkan karena kalian adalah orang-orang jahil,” dan perkataan “bagi saya” memberikan penjelasan bahwa tidak mengkafirkan mereka itu bukanlah hal yang diijmakan, akan tetapi beliau memilihnya sebagai pendapat pribadinya. Dan ucapannya dalam masalah ini menyelisihi apa yang sudah masyhur dalam madzhab Hambali, karena pendapat yang shahih dalam madzhab adalah mengkafirkan mujtahid yang mengajak (orang lain) untuk (menganut paham yang menyatakan bahwa) Al Qur’an itu makhluq, penafian rukyatullah (melihat Allah di surga), atau rafdl (ajarana rafidlah), serta yang lainnya, dan menganggap fasiq orang yang bertaqlid.

Al Majdu (yaitu kakek Ibnu Taimiyyah) rahimahullah berkata: Sesungguhnya setiap bid’ah yang mana da’i-nya (penyeru terhadap bid’ah itu) telah kami kafirkan, maka sesungguhnya kami menghukumi fasiq orang yang taqlid di dalamnya, seperti orang yang mengatakan Khalqul Qur’an (Al Qur’an itu makhluk), atau (orang yang mengatakan) bahwa ilmu Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu makhluk, atau bahwa nama-nama-Nya itu makhluk, atau (orang yang megatakan) bahwa Dia itu tidak dilihat di akhirat, atau mencaci para shahabat, atau bahwa iman itu sekedar keyakinan, serta pernyataan yang serupa dengan hal-hal itu. Sesungguhnya orang yang mengetahui sebagian bid’ah-bid’ah ini, dia mendakwahkanya, dan dia berdebat (untuk memenangkannya), maka dia itu dihukumi kafir, ini adalah vonis yang telah ditegaskan oleh Imam Ahmad dalam banyak tempat. Selesai.

Lihatlah bagaimana para ulama mevonis mereka kafir, padahal mereka itu jahil, sedangkan syaikh rahimahullah memilih tidak mengkafirkan mereka dan mereka itu fasiq menurut beliau, dan hal senada adalah pendapat Ibnul Qayyim rahimahullah, di mana beliau berkata: Dan kefasikan i’tiqad adalah seperti kefasikan ahlul bid’ah yang beriman kepada Allah dan hari akhir,[6] mereka mengharamkan apa yang telah Allah haramkan, dan mereka mewajibkan apa yang telah Allah wajibkan, akan tetapi mereka menafikan banyak dari apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, karena kejahilan, takwil dan taqlid kepada para syaikh, dan begitu juga mereka menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka itu (di antaranya) seperti Khawarij Mariqah, banyak dari kalangan Rafidlah, Qadariyyah dan Mu’tazillah, banyak dari kalangan Jahmiyyah yang bukan ghulaah (ekstrem atau jahmiyyah murni).

Sedangkan Ghulatul Jahmiyyah adalah seperti Ghulatul Rafidlah, kedua kelompok itu sama sekali tidak memiliki tempat sedikitpun dalam Islam ini, dan oleh sebab itu mereka telah dikeluarkan oleh banyak kalangan salaf dari yang 72 golongan, dan mereka (para salaf) mengatakan: “Mereka itu di luar millah”. Selesai.

Dan secara umum: Wajib atas orang yang jujur terhadap dirinya sendiri untuk tidak berbicara dalam masalah ini kecuali dengan dasar ilmu dan dalil dari Allah, dan hati-hatilah dia dari mengeluarkan seseorang dari Islam dengan sekedar pemahamnya dan istihsaan (anggapan baik) menurut akalnya, karena mengeluarkan dari Islam atau memasukan orang ke dalamnya adalah urusan dien ini yang paling besar. Dan sebenarnya kita sudah dicukupkan tentang penjelasan masalah ini (oleh para ulama terdahulu), sebagaimana masalah-masalah lainnya, bahkan hukumnya secara umum adalah hukum dien ini yang paling jelas, sehingga wajib atas kita mengikuti dan meninggalkan ibtida’ (mengada-ada), sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’uud radliyallahu ‘anhu: “Ittiba-lah kalian dan janganlah kalian mengada-ada, karena kalian telah dicukupkan”.

Dan juga: Apa yang dipertentangakan oleh para ulama tentang status hal itu kekufuran atau bukan, maka hal itu merupakan bentuk kehati-hatian karena dien ini adalah tawaqquf dan tidak memberanikan diri masuk di dalamnya, selama dalam masalah itu tidak ada nash yang sharih dari Nabi yang ma’shum shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh syaitan telah menggelincirkan mayoritas manusia dalam masalah ini, yang mana dia menjerumuskan satu kelompok orang dalam sikap taqshir, sehingga mereka menghukumi Islam orang yang mana nash-nash Al Kitab dan As Sunnah serta Ijma telah menunjukan kekafiran orang tersebut, dan syaitan menjerumuskan kelompok yang lain ke dalam sikap malampaui batas, sehingga mereka mengkafirkan orang yang mana Al Kitab, As Sunnah, dan Ijma telah menghukuminya sebagai orang muslim.

Dan termasuk hal yang sangat mengherankan: Sesungguhnya salah seorang si antara mereka bila ditanya tentang satu masalah dalam thaharah, atau masalah jual beli dan yang lainnya, maka dia tidak memfatwakan dengan sekedar pemahamannya. Dan istihsaan akalnya, akan tetapi dia mencari perkataan ulama dan kemudian dia memfatwakan dengan apa yang telah dikatakan oleh para ulama. Maka bagaimana dia berpatokan dalam hal yang besar ini yang mana ini adalah urusan dien yang paling besar dan paling berbahaya terhadap sekedar pemahamannya dan istihsaan-nya.

Ooh… mushibah besar tehadap Islam adalah dengan sebab dua kelompok manusia ini ! dan ujiannya adalah berasal dari dua bencana ini !!

Dan kami memohon kepada-Mu Ya Allah, kemurahan untuk memberikan hidayah kepada kami terhadap jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan karunia terhadap mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat. Dan shalawat semoga Allah limpahkan kepada Muhammad.

(Diambil dari Ad Durar As Saniyyah: 10/351-375).

Alih Bahasa:

Ustadz Abu Sulaiman Aman Abdurrahman
-fakkallahu ‘asrah-

*******

[1] Sedangkan pelaku syirik akbar karena kejahilan atau bahkan dia itu mengetahuinya bukanlah sebagai saudara muslim, sehingga orang yang mengkafirkannya tidak masuk ke dalam kandungan ancaman hadits ini, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala: “Bila mereka taubat (dari syirik akbar), mereka mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudara kalian dalam dien ini.” (At Taubah: 11). Sehingga orang yang menakut-nakuti kaum muwahhidin yang mengkafirkan para thaghut dan para pelaku syirik akbar dengan hadits ini, sungguh mereka adalah orang-orang yang jahil, bahkan sesat lagi menyesatkan. Dan bahkan tidak sedikit yang jatuh dalam kekafiran dan riddah. Jadi kaum muwahhidin tidaklah usah memperhatikan hujatan mereka, karena hujatan mereka itu adalah sangat menguntungkan kaum musyrikin dan para thaghut, serta membahayakan tauhid ini dan kaum muwahhidin. Merekalah justeru yang lebih layak dikatakan sebagai kaum khawarij, karena mereka itu memerangi kaum muwahhidin, dan justeru dekat dengan kaum musyrikin dan para thaghut. Dan di antara bentuk kedekatan mereka dengan para thaghut adalah adanya lembaga yang menisbatkan dirinya kepada salaf, akan tetapi di antara visi dan misinya adalah membantu pemerintah thaghut!!! (Pent).

[2] Jadi menuduh kafir saudara muslim itu bukanlahg kekafiran, akan tetapi dosa besar. (Pent)

[3] Akidah bukan tauhid, karena kalau tauhidnya berbeda, dia bukan muwahhid lagi, bukan ahlul kitab, tapi kalau akidah menyimpang dari akidah ahlussunnah, bisa jadi tauhidnya sama, dan yang keliru dalam akidahnya, berarti dia sesat lagi ahli bid’ah, kecuali kalau sudah ditegakkan hujjah dan diberi penjelasan, terus bersikukuh, maka dia dikafirkan. (Pent)

[4] Tauhid adalah inti iman kepada Allah, dan lawannya adalah syirik. (Pent)

[5] Yang beliau tawaqquf itu adalah vonis kafir, karena zaman itu beliau hukumi dengan zaman fatrah. Beliau berkata dalam Al Fatawa: “Bila ilmu melemah, dan kemampuan (untuk mencarinya) juga melemah, maka masa itu menjadi masa fatrah”. Dan para imam dakwah Najdiyyah telah ijma bahwa masa munculnya Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab adalah zaman fatrah, dan bahwa munculnya Syaikh Ibnu Taimiyyah adalah zaman fatrah dan meratanya kejahilan (lihat Al Haqaaiq Ali Al Khudlair: 15), sehingga tidak dikafirkan terlebih dahulu sehingga diberi penjelasan, namun ini berbeda dengan musyrik, nama ini menempel dengan langsung saat seseorang menyekutukan Allah tanpa ada hubungannya dengan hujjah risaliyyah. Syaikhul Islam berkata: “Nama musyrik telah tetap sebelum ada risalah, karena orang itu menyekutukan Tuhannya dan menetapkan tandingan baginya…” (Al Fatawa: 20:38). (Pent).

[6] Yang harus diingat, sesungguhnya orang-orang quburiyyun itu bukanlah tergolong Alul Ahwa wal Bida’ dan bahkan bukan termasuk Ahlus Sunnah, mereka itu semuanya di luar Islam, dan para ulama menamakan mereka itu sebagai Ghulaah/Ghaaliyah. Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman mengatakan dalam Kasyfu Asy Syubhatain: 64 : “Jahmiyyah dan ‘Ubbadul Qubur itu bukanlah kaum muslimin”, dan berkata dala halaman 40: “Dan begitu juga ‘Ubabadul Qubur, sesungguhnya mereka itu bukanlah termasuk ahlul ahwa wal bida’, akan tetapi salaf menamakan mereka sebagai Al Ghulaah, karena keserupaan mereka dengan orang-orang Nasrani dalam al ghuluww kepada para nabi dan orang-orang shaleh”. Sedangkan ada syaikh maz’uum (Khalid Al Musyaiqih -hadahullah-) yang mengaku pengikut salaf pada masa sekarang, dia mengatakan bahwa “Ubbadul Qubur yang jahil itu adalah kaum muwahhiduun!!!!?!! Dan perlu diketahui bahwa yang termasuk jajaran quburiyyun pada masa sekarang adalah orang-orang parlemen, kaum demokrat, nasionalis, sosialis, liberal, para abdi undang-undang buatan, abdi negara-negara kafir, abdi penguasa thaghut, dan lain sebagainya (Lihat Ath Thabaqaat, Ali Al khudlair: 1). (Pent)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: