Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Di Bawah Naungan Pedang

Di Bawah Naungan Pedang


Di Bawah Naungan Pedang

Segala puji bagi Alloh yang telah menurunkan Al Qur’an kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadiknnya bengkok. Sholawat dan salam selalu tercurah kepada Imamul mujahidin Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

Alloh Jalla wa ‘Ala brfirman :

-ayat-

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al Hadid : 25)

Syaikh Sa’adi mengatakan salah satu fungsi atau manfaat diciptakanya besi adalah sebagai alat peperangan,seperti pedang, tombak dan lainya. Dalam satu riwayat dari Abi Bakr bin Abdullah bin Qaysy dari bapaknya,aku mendengar bapaku berkata ketika berada dalam peperangan “sesungguhnya pintu-pintu jannah berada di bawah naungan pedang” maka berdirilah seorang lelaki dan berkata “wahai Abu Musa apakah engkau mendengar Rasululloh berkata demikian?” bapaku berkata “ya”. Lelaki itupun kembali keteman-teman dan mengucapkan salam kepada mereka. Kemudian dia mematahkan sarung pedangnya lalu maju berperang melawan musuh sampai ia terbunuh /syahid” (HR. Muslim dan Ahmad)

Syaikh Abu Yahya Al Libiy hafizhohulloh berkata,ada beberapa faedah yang dapat di ambil dari hadits syarif ini :

– keutamaan jihad d jalan Alloh,dan ini merupakan jalan menuju jannah.

Berkata imam Nawawi Rohimahulloh,maknanya adalah jihad merupakan jalan untuk memasuki jannah dan salah satu kunci untk memasukinya.

– mengajak agar setiap kaum muslimin untuk menjadi seorang mujahid di jalan Alloh.

– hendaknya kita mengikuti Nabi Shallalloh ‘alaih wa Sallam dalam mengobarkan semangat kaum muslimin untuk senantiasa berjihad dan cinta terhadap jihad.

Menjadi Muharridl (provotokar) adalah suatu keharusan,karena ini adalah syari’at yang di turunkan Alloh kepada Nabi-Nya. Bukan malah menjadi penggembos, penghalang atau penebar syubhat kepada kaum muslimin untuk tidak berjihad. Jadilah seorang provokator untuk menyalakan kembali api yang telah lama mati,mencambuk jiwa yang malas dan banci dan agar singa singa islam kembali bangkit untuk mengembalikan ‘izzah Islam dan kaum muslimin.

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman :

“Wahai Nabi,kobarknlah semangat kaum mu’minin” (QS. Al Anfal : 65),

dalam ayat yang lain Alloh brfirman :” kobarknlah semangat kaum mukminin untuk berperang”.

Jadi jika ada seorang,siapapun dia. Lalu dia menghalang halangi para pemuda untuk berjihad,dengan ucapannya ( yang menebarkan syubhat ) hingga menjadi lemahlah semangat kaum muslimin,serta memadamkan semangat para pemuda untuk membalas kezholiman kaum kuffar dan menghukum para penguasa murtad. Maka dia telah berma’siat kepada Alloh dan Rasul-Nya.

Wahai para pemuda islam,wahai para singa islam,wahai para askar suatu tanzhim atau jama’ah. Dengarlah nasehat dari seorng ulama mujahid yang Alloh telah mengkaruniakan kepadany syahadah. Dengarlah nasihat dari Asy Syahid Abdulloh Azzam rohimahulloh :”Ketahuilah,pemimpin pergerakan tidak kuasa atas kamu untuk mencegah kamu berjihad atau kamu meninggalkan jihad demi dakwah lantas menjauhkan kamu dari medan perang.jangan sekali kali meminta pembenaran kepada siapapun tentang jihad. Sebab kebeneranya sudah pasti”

– adanya seorang ulama yang terjun langsung di medan jihad yang swlalu memberi semangat kepada para mujahidin dengan keberadaany di front dan lisanya. Ketahuilah, tidaklah seorang itu dikatakan berilmu sampai dia mengamalkan ilmu yang ada padany. Jangan seperti keledai yang mampu menahan dan membawa berjilid jilid kitab tapi tidak mememahami dengan benar apa yang di bawanya. Maka, apa gunanya ilmu yang kita miliki tentang jihad dan cabang serta keutamaanya tapi kita tidak mau mengamalkanya (berjihad). Dalam suatu riwayat, ada seorang ulama salaf  ketika menjelang kematianya dia menangis, ketika ditanya oleh para sahabatnya kenapa dia sampai menangis. Lalu dia menjawab “aku menangisi kakiku yang belum pernah terkena debu jihad dijalan Alloh.” Subhanalloh!! lalu bagaimana dengan kita, bagaimana dengan para ulama kita sekarang!?

– seorang mujahid senantiasa bersungguh sungguh untuk meraih jannah,berjihad serta teguh di atas jalan jihad. Dalam salah satu riwayat,Rasululloh bersabda “sebaik baik manusia adalah orang yang selalu memegang tali kekang kudanya, ketika terdengar suara hiruk pikuk musuh dia langsung menerjang musuh hingga dia membunuh atau terbunuh (Al Hadits).

Inilah salah satu tabi’at manusia terbaik di antara umat Muhammad Shallallohu ‘alaih salam,yang mana mereka memburu jannah di bawah kilatan pedang dan desingan peluru. Jiwa mereka hidup dengan dipenuhi kecintaan terhadap kesyahidan,yang tidak ada kematian setelahnya. Amirul Mukminin Umar bin Khoththob Radliyallahu ‘anh pernah bertanya kepada Rasululloh “Bukankah orang yang terbunuh di antara kita akan masuk jannah,dan orang yang terbunuh di antara mereka masuk neraka??” Rasululloh menjawab “benar”.( HR. Bukhori ). Lalu kenapa kita masih takut dan ragu untuk berjihad melawan kaum salibis dan sekutunya?, menghukum para penguasa murtad dan membalas keganasan kaum Budhis yang telah membantai kaum muslimin di Rohingya?. Dan juga untuk menegakan Dien-Nya di bumi ini khususnya Indonesia. Bukankah jika kita terbunuh oleh mereka kita akan masuk jannah?!.

Wallohi, jika kita tidak mau berjihad maka kita akan terus berada dalam kehinaan dan kesesatan yang nyata. Sedang Rasul bersabda “Aku di utus dengan pedang menjelang kiamat. Dijadikan rizqiku di bawah naungan tombak dan dijadikn hina orang yang menyelisihiku”. Di jadikn hina orang yang tidak mau hidup di bawah naungan pedang,dijadikan hina di mata musuh musuh islam. Dan akan hinalah serta bermaksiatlah orang yang memiliki pedang (senjata) tapi hanya disimpan dan untuk berbangga bangga dengannya.

Satu nasehat untuk kita semua dari hadits yang diriwayatkan Utbah bin Amir Radliyalloh ‘anhu berkata, Rasululloh bersabda “Barangsipa yang belajar memanah (menembak) kemudian dia meninggalkanya sungguh dia telah bermaksiat” (HR. Muslim) dalam riwayat lain “bukan dari golongan kami”

Wallohu Ta’ala A’lam Bishshowab.

Daar al Kholwah

saudara kalian yang mencintai kalian karena Alloh

Fatih Abdurahman Hasan As Sundee


2 Komentar

  1. Abu Faris mengatakan:

    bismillah semioga allah manuntunku ke jalan yang mulia ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: