Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1) » Mawani’ Takfir Yang Dianggap (Bagian 6)

Mawani’ Takfir Yang Dianggap (Bagian 6)


(2) Kejahilan Yang Pelakunya Diudzur

Sesungguhnya kejahilan yang pelakunya diudzur dan dia masuk surga bila mati di atas ashlul iman (tauhid) adalah kejahilan terhadap syari’at atau kejahilan terhadap sebagian shifat Allah, selagi pelakunya tidak memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) dari mengetahui (ilmu), bukan kejahilan terhadap ashluddien (tauhid), karena sesungguhnya orang yang mati di atas kemusyrikan di dalam ashluddien adalah dinamakan musyrik walaupun dia tidak memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) dari mengetahui (ilmu), akan tetapi dia tidak diadzab sampai hujjah ditegakkan kepadanya. Adapun bila dia itu memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) dari mengetahui (ilmu) dan dia mati di atas syirik dan kejahilannya, maka dia itu diadzab atas kemusyrikkannya.

Macam-Macam Manusia Dalam Pencarian Kebenaran.

1) Orang yang berusaha keras mencari kebenaran namun tidak mendapatkan kecuali orang yang menunjukannya kepada kebatilan.

Orang semacam ini tidak dikenakan sangsi karena sebab kebodohannya, Ibnu Hazm berkata: (Dan adapun orang yang telah sampai kepadanya khabar yang tidak shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun khabar itu dishahihkan bagi dia oleh orang yang melakukan takwil atau orang jahil atau orang fasiq yang tidak dia ketahui kefasiqkannya, maka ini adalah batas maksimal (ijtihad) upaya keras orang ini, dan Allah ta’ala tidak membebaninya lebih dari kemampuannya dan apa yang belum sampai kepadanya, sehingga dia itu bila melakukan apa yang telah sampai kepadanya dari kebatilan itu, maka dia itu diudzur dengan sebab kejahilannya lagi tidak ada dosa atasnya, karena dia itu tidak menyengaja cenderung kepada dosa, sedangkan amalan itu adalah tergantung kepada niat, sehingga dia itu mujtahid yang mendapatkan pahala satu kali dalam maksudnya kepada kebaikan dengan niatnya itu).[1]

Ini adalah status orang yang merealisasikan tauhid namun tidak mengetahui faraidl dan hukum-hukum, maka dia tidak dikenakan sangsi hukum dengan sebab kejahilannya berdasarkan kesepakatan. Adapun bila orang tidak merealisasikan tauhid karena tidak memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) dari hal itu, maka status dia itu adalah sama dengan status orang-orang yang tidak memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) yang belum sampai hujjah kepada mereka di dunia ini dan mereka kelak di hari kiamat akan diuji, sebagaimana yang ada di dalam hadits ‘Arashat, akn tetapi hal itu tidak menghalangi dari penyematan vonis musyrik kepadanya, karena dia itu tidak merealisasikan tauhid, dan dikarenakan sesungguhnya vonis musyrik itu sudah berlaku sebelum tegaknya hujjah risaliyyah.

2) Orang yang berusaha keras mencari kebenaran namun tidak mendapatkan kecuali sebagiannya.

Orang bila merealisasikan tauhid, namun faraidl tidak dia ketahui dan dia tidak memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) dari mengetahuinya karena jarangnya orang yang mengetahuinya atau (jarangnya orang yang) menunjukan dia kepadanya, maka orang ini tidak dikenakan sangsi dengan sebab apa yang tidak dia dapatkan dan apa yang tidak dia ketahui setelah dia mengerahkan usaha dan upayanya yang keras dalam peraihannya.

Contoh orang semacam ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhari:

( أن زيد بن عمرو بن نفيل خرج إلى الشام يسأل عن الدين و يتبعه، فلقي عالما من اليهود فسأله عن دينهم فقال: إني لعلى أن أدين دينكم فأخبرني فقال: لا تكون على ديننا حتى تأخذ بنصيبك من غضب الله ، قال زيد: ما أفر إلا من غضب الله وما أحمل من غضب الله شيئا أبدا وأنى أستطيعه؟ فهل تدلني على غيره، قال ما أعلمه إلا يكون حنيفا قال زيد وما الحنيف؟ قال دين إبراهيم ، لم يكن يهوديا ولا نصرانيا ولا يعبد إلا الله ، فخرج زيد فلقي عالما من النصارى ، فذكر مثله فقال: لن تكون على ديننا حتى تأخذ بنصيبك من لعنة الله، قال ما أفر إلا من لعنة الله، ولا أحمل من لعنة الله ولا من غضبه شيئا أبدا وأنى أستطيع ؟ فهل تدلني على غيره؟ قال ما أعلمه إلا أن يكون حنيفا قال وما الحنيف؟ قال دين إبراهيم لم يكن يهوديا ولا نصرانيا ولا يعبد إلا الله فلما رأى زيد قولهم في إبراهيم عليه السلام خرج فلما برز رفع يديه فقال: اللهم إني أشهد أني على دين إبراهيم )

(Bahwa Zaid Ibnu ‘Amr Ibnu Nufail keluar menuju Syam bertanya tentang dien dan untuk mengikutinya, maka ia berjumpa dengan seorang alim dari Yahudi maka iapun bertanya kepadanya tentang dien mereka, terus ia berkata: “Sesungguhnya saya bisa saja menganut dien kalian, maka kabarkanlah kepada saya!” Maka si alim itu berkata: “Engkau tidak bisa berada di atas dien kami sampai engkau mengambil bagianmu dari murka Allah,” maka Zaid berkata: “Saya tidak lari kecuali dari murka Allah, dan saya tidak mau memikul sedikitpun dari murka Allah selamanya dan mana mungkin saya mampu melakukannya? Maka apakah engkau mau menunjukan saya kepada yang lainnya?” Dia berkata: “Saya tidak mengetahuinya kecuali ia itu agama hanif,” Zaid bertanya: “Apakah hanif itu?” Dia berkata: “Dien Ibrahim, ia bukan Yahudi dan bukan Nashrani dan ia tidak beribadah kecuali kepada Allah,” maka Zaid keluar, kemudian ia berjumpa dengan orang alim Nashara, maka ia mengatakan hal serupa, terus si alim itu berkata: “Engkau tidak bisa berada di atas dien kami sampai engkau mengambil bagianmu dari laknat Allah,” maka Zaid berkata: “Saya tidak lari kecuali dari murka Allah, dan saya tidak mau memikul sedikitpun dari laknat Allah dan dari murka-Nya selamanya, dan mana mungkin saya mampu melakukannya? Maka apakah engkau mau menunjukan saya kepada yang lainnya?” Dia berkata: “Saya tidak mengetahuinya kecuali ia itu agama hanif,” Zaid bertanya: “Apakah hanif itu?” Dia berkata: “Dien Ibrahim, ia bukan Yahudi dan bukan Nashrani dan ia tidak beribadah kecuali kepada Allah,” maka tatkala Zaid melihat ucapan mereka tentang Ibrahim ‘alaihissalam, maka ia keluar, kemudian tatkala sudah ada di tanah lapang maka ia mengangkat kedua tangannya dan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya berada di atas dien Ibrahim).[2]

Ibnu Hajar berkata di dalam riwayat Ibnu Ishaq:

( وكان يقول: اللهم لو أعلم أحب الوجوه إليك لعبدتك به، ولكني لا أعلمه ثم يسجد على الأرض براحته)

(Dan ia itu mengatakan: “Ya Allah seandainya saya mengetahui cara yang paling Engkau cintai tentu saya beribadah kepada Engkau dengannya, akan tetapi saya tidak mengetahuinya,” kemudian ia sujud dengan tapak tangannya di tanah).[3]

Bila engkau telah memahami hal ini dan engkau mengetahui bahwa musyrikin arab sebelum diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk ahli neraka, sebagaimana yang telah lalu di dalam hadits “Sesungguhnya ayahku dan ayahu itu di neraka” dan hadits Banul Muntafiq serta yang lainnya, maka nampak jelaslah di hadapanmu perbedaan antara orang yang memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) yang selamat dengan orang jahil yang berpaling.

Dan seperti ini juga -yaitu keselamatan dengan perealisasian tauhid dan penetapan sangsi hukum kepada orang yang memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) yang berpaling- adalah hadits Hudzaifah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( يدرس الإسلام كما يدرس وشي الثوب ، حتى لا يدرى ما صيام ولا صلاة ولا نسك ولا صدقة ، وليسرى على كتاب الله تعالى في ليلة فلا يبقى في الأرض منه آية ، وتبقى طوائف من الناس الشيخ الكبير والعجوز الكبيرة يقولون: أدركنا آباءنا على هذه الكلمة لا إله إلا الله فنحن نقولها) فقال صلة بن زفر لحذيفة فما تغني عنهم لا إله إلا الله وهم لا يدرون ما صلاة ولا صيام ولا نسك ولا صدقة؟ فأعرض عنه حذيفة في الثالثة فقال ( يا صلة تنجيهم من النار ، تنجيهم من النار) رواه ابن ماجه وابن حبان والحاكم وقال صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه ، ووافقه الذهبي ، قال ابن حجر ( رواه ابن ماجه بسند قوي عن حذيفة )

“Islam lenyap pelan-pelan seperti lenyapnya hiasan pakaian, sampai tidak diketahui apa itu shaum, shalat, nusuk dan shadaqah, dan sungguh akan jalarkan terhadap Kitabullah ta’ala dalam satu malam sehingga tidak tersisa di muka bumi darinya satu ayatpun, dan tersisalah sekelompok dari manusia (yaitu) pria lanjut usia dan nenek-nenek renta, mereka mengatakan: “Kami mendapatkan leluhur-leluhur kami di atas kalimat ini yaitu Laa ilaaha illallaah, maka kami mengatakannya juga” Shilah Ibnu Zufar berkata kepada Hudzaifah: “Apa manfaatnya bagi mereka kalimat Laa ilaaha illallaah itu sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, shaum, nusuk dan shadaqah?” Maka Hudzaifah berpaling darinya pada yang ketiga terus berkata: “Wahai Shilah, (kalimat) itu menyelamatkan mereka dari neraka, ia menyelamatkan mereka dari neraka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim dan berkata: Ia itu shahih sesuai syarat Muslim tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya, dan disepakati oleh Adz Dzahabiy. Ibnu Hajar berkata: (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang kuat dari Hudzaifah).[4]

Mereka itu selamat dengan tauhid yang telah mereka realisasikan, dan mereka tidak dikenakan sangsi dengan sebab faraidl yang tidak mereka ketahui karena sebab tidak adanya tamakkun (kesempatan/peluang) dari mendapatkannya.

3) Orang yang tidak berusaha mencari kebenaran padahal dia memiliki tamakkun (kesempatan/peluang).

Maka orang ini adalah dosa lagi tidak ada udzur baginya, dia dikenakan sangsi di dunia dan akhirat dengan sebab dosanya, karena hujjah telah tegak terhadapnya. Ibnul Qayyim berkata:

( اعتراف العبد بقيام حجة الله عليه من لوازم الإيمان أطاع أم عصى فإن حجة الله قامت على العبد بإرسال الرسول وإنزال الكتب وبلوغ ذلك إليه وتمكنه من العلم به سواء علم أو جهل فكل من تمكن من معرفة ما أمر الله به ونهى عنه فقصر عنه ولم يعرفه فقد قامت عليه الحجة)

(Pengakuan si hamba akan tegaknya hujjah Allah terhadapnya adalah termasuk kemestian iman, baik dia itu taat atau maksiat, karena sesungguhnya hujjah Allah itu telah tegak terhadap si hamba dengan pengutusan Rasul, penurunan Kitab-Kitab, sampainya hal itu kepadanya serta adanya tamakkun (kesempatan/peluang) dari mengetahuinya, baik dia itu mengetahui ataupun tidak mengetahui. Setiap orang yang memiliki tamakkun (kesempatan/ peluang) dari mengetahui apa yang Allah perintahkan dan apa yang dilarang-Nya, terus dia teledor darinya dan tidak mengetahuinya, maka hujjah itu sudah tega terhadapnya).[5]

Orang-Orang Zaman Jahiliyyah Itu Di Neraka Karena Hujjah Sudah Tegak Atas Mereka

Bila saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegakkan hujjah terhadap musyrikin Quraisy dan yang lainnya dengan dien Ibrahim padahal jarang sekali orang yang mengetahuinya atau mengetahui sebagiannya, di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan orang yang berusaha keras mencarinya dan mendapatkan sebagiannya, dan Dia mengadzab orang yang tidak berusaha untuk mencarinya dan mati di atas kemusyrikannya, maka bagaimana manusia diudzur di negeri-negeri Islam dengan sebab kejahilan padahal banyak para ulama, ilmu menyebar dan syi’ar-syi’ar dien ini nampak.

Dan tatkala Zaid Ibnu ‘Amr Ibnu Nufail itu sampai kepada dien yang haq, maka hal itu menunjukkan bahwa orang-orang jahiliyyah itu memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) untuk mendapatkannya, oleh sebab itu maka mereka tergolong ahli neraka, sebagaimana yang ditunjukan oleh firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

﴿ وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ﴾

“Dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.” (Ali Imran: 103)

Dan sebagaimana hadits Anas dalam Shahih Muslim:

( إن أبي وأباك في النار ).

“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”

Dan sebagaimana dalam hadits Laqith Ibnu Amir dalam rombongan Banul Muntafiq, di dalamnya ada sabda Rasul:

( لعمر الله ما أتيت عليه من قبر عامري أو قرشي من مشرك فقل أرسلني إليك محمد فأبشرك بما يسوءك ، تجر على وجهك وبطنك في النار) رواه عبد الله بن أحمد في “السنة” وابن أبي عاصم والطبراني وابن منده …

“Demi Allah, sungguh kamu tidak melewati kuburan orang musyrik mana saja baik orang Amiriy atau Quraisy, maka katakan: “Muhammad telah mengutus saya kepada kamu untuk memberi kabarmu dengan kabar yang menakutkan kamu, kamu digusur di atas wajah dan perutmu di dalam api neraka.” (Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Ahmad dalam Assunnah juga Ibnu Abi Ashim, Ath Thabaraniy dan Ibnu Mandah…)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang hadits ini:

( هذا حديث كبير مشهور، جلالة النبوة بادية على صفحاته تنادي عليه بالصدق. وصححه بعض الحفاظ حكاه شيخ الإسلام الأنصاري)

(Ini adalah hadits yang besar lagi masyhur, keagungan kenabian sangat nampak di wajah hadits ini, yang mengumandangkan kebenarannya, dan hadits ini dishahihkan oleh sebagian para huffadh, di mana hal itu telah dihikayatkan oleh Syaikhul Islam Al Anshari).[6]

(3) Macam-Macam Ahli Bid’ah

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam Nuniyyah-nya (2/403) dengan syarah Ahmad Ibnu Ibrahim Ibnu Isa di sela-sela pembicaraannya tentang ahli bid’ah:
هم عندنا قسمان أهل جهالة
جمع وفرق بين نوعيها هما
فذوو العناد فأهل كفر ظاهر
متمكنون من الهدى والعلم بالـ
لكن إلى أرض الجهالة أخلدوا
لم يبذلوا المقدور في إدراكهم
فهم الآلى لا شك في تفسيقهم
والوقف عنــدي فيهـمُ لست الــذي
وذوو العناد وذانك القسمان
في بدعة لا شك يجتمعان
والجاهلون فإنهم نوعان
ـأسباب ذات اليسر والإمكان
واستسهلوا التقليد كالعميان
للحق تهوينا بهذا الشان
والكفر فيه عندنا قولان
بالكفــر أنعتهــــــم و لا الإيمـــان

Mereka menurut kami ada dua macam, yaitu ahli kebodohan
Dan ahli pembangkangan, dan itulah dua macam golongan
Penyatuan dan pemisahan di antara kedua macamnya adalah dalam
Kebid’ahan keduanya menyatu tanpa diragukan
Para pembangkang adalah ahli kekafiran yang terang
Sedang kaum yang jahil adalah ada dua golongan
Orang-orang yang punya kesempatan untuk cari petunjuk dan ilmu
Dengan sarana yang mudah dan banyaknya peluang
Namun mereka lebih cenderung kepada kebodohan dan
Mempermudah sikap taqlid bagaikan orang buta
Tak mau kerahkan kemampuan yang mereka miliki dalam
Pencarian kebenaran karena memperenteng urusan ini
Maka mereka itu adalah yang tidak diragukan kefasikannya
Sedang vonis kafir di dalamnya ada dua pendapat menurut kami
Namun saya bersikap tawaqquf pada mereka, sehingga saya
Bukan orang yang sifati dia dengan kufur maupun iman

Kemudian beliau mulai menuturkan macam yang lain, di mana beliau berkata:
والآخرون فأهل عجز عن بلـــو
بالله ثم رسوله ولقائــه
قوم دهاهم حسن ظنهمُ بما
وديانة في الناس لم يجدوا سوى
لو يقدرون على الهدى لم يرتضوا
فأولاء معذورون إن لم يظلموا
غ الحق مع قصد ومع إيمان
وهم إذا ميزتهم ضربان
قالته أشياخ ذووا أسنان
أقوالهم فرضوا بها بأمان
بدلا به من قائل البهتان
ويكــــفروا بالجهــــل والعـــدوان

Dan yang lain adalah orang yang tidak kuasa dari mencapai kebenaran
Padahal memiliki niat yang kuat dan memiliki keimanan
Kepada Allah, Rasul-Nya dan perjumpaan dengan-Nya
Sedang mereka itu bila engkau bedakan adalah ada dua golongan
Satu golongan yang terpukai dengan husnudhdhan mereka kepada
Apa yang dikatakan para guru yang memiliki pengalaman dan
Keshalihan, di tengah manusia mereka tak mendapatkan selain
Ucapan-ucapan mereka, sehingga relalah dengannya dengan rasa tenang
Andai mereka mampu mendapatkan petunjuk tentu mereka tak merelakan
Pengganti darinya berupa pendapat yang tak berdalil
Maka mereka itu adalah diudzur bila tidak aniaya
Dan mereka kafir dengan kebodohan dan aniaya

Maka perhatikanlah -semoga Allah merahmatimu- ucapan Al Imam Al Muhaqqiq ini, di mana beliau berbicara tentang ahli bid’ah, bagaimana beliau telah sangat bagus dalam melakukan pengklasifikasian dan telah sangat jeli dalam pembagian.

Di mana beliau membagi ahli bid’ah kepada orang-orang yang membangkang dan orang-orang yang jahil.

Adapun orang-orang yang membangkang, maka sangat nampak kekafiran mereka itu, sedangkan orang-orang yang jahil, maka mereka itu ada dua macam:

(1) Orang-orang yang memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) yang lebih cenderung betah kepada taqlid dan kebodohan, sehingga mereka teledor dalam pencarian al haq, maka tidak diragukan prihal kefasikan mereka itu, adapun pengkafiran mereka itu maka ada dua pendapat, sedangkan syaikh rahimahullah memilih tawaqquf.

(2) Orang-orang yang tidak kuasa (mencari kebenaran) lagi beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari akhir, lagi tidak teledor dalam pencaian al haq, seandainya mereka mendapatkan ajaran petunjuk tentu mereka mengikutinya, akan tetapi mereka tidak mendapatkan selain ucapan para guru yang mana mereka berbaik sangka kepada mereka, maka mereka itu adalah diudzur dengan sebab kejahilan mereka yang tidak teledor dalam pelenyapannya lagi mereka itu tidak dikenakan sangsi dengan sebab kekeliruan yang mereka lakukan dengan sebab hal itu.

Sedangkan yang lain adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari akhir, akan tetapi urusan tersamar atas mereka dengan sebab mereka meniti jalan-jalan kesesatan yang disertai kebaikan niat mereka, maka orang-orang itu dikatakan oleh syaikh:
فأولاء بين الذنب والأجريــــــن أو
إحداهما أو واسع الغفـــــــران

Mereka itu antara dosa dan dua pahala atau
Salah satunya atau lapangnya ampunan

Dan saya sangat heran sekali dari orang yang menuturkan ucapan Ibnul Qayyim:
فأولاء معذورون إن لم يظلمــــــوا
ويكفروا بالجهل والعــــــدوان

Maka mereka itu adalah diudzur bila tidak aniaya
Dan mereka kafir dengan kebodohan dan aniaya

Dan berdalil dengannya terhadap pengudzuran dengan sebab kejahilan, padahal sesungguhnya Ibnul Qayyim hanyalah berbicara tentang ahli bid’ah seraya menjelaskan batasan makna tamakkun. Oh alangkah bahayanya kebodohan itu dan alangkah mirisnya sikap lalai dan taqlid ini.

Syari’at Itu Mengikat Orang Yang Memiliki Tamakkun

Abu Muhammad Ibnu Hazm rahimahullah berkata: (Saya melihat orang-orang yang berpendapat “bahwa syari’at-syari’at itu tidak mengikat orang yang tidak mengetahuinya dan (tidak mengikat) orang yang hal itu belum sampai kepadanya,” Ia (Ibnu Hazm) berkata: Ini adalah pendapat yang batil, justeru syari’at-syari’at itu mengikatnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus kepada manusia seluruhnya dan kepada jin seluruhnya dan kepada setiap orang yang belum dilahirkan bila hal itu sampai setelah dia dilahirkan.

Abu Muhammad berkata: (Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman seraya memerintahkan Rasulullah untuk mengatakan:

﴿ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا ﴾

“Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua,” (Al A’raf: 158)

Ini adalah umum yang tidak seorangpun dikhususkan darinya, dan Dia berfirman:

﴿ أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى ﴾

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (Al Qiyamah: 36)

Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggugurkan keberadaan seseorang itu dibiarkan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang, di mana Allah ‘azza wa jalla menggugurkan hal keadaan seperti ini, akan tetapi orang itu diudzur dengan sebab kejahilannya dan ketidakmampuannya dari mengetahui saja. Adapun orang yang telah sampai kepadanya penyebutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana saja dia itu berada di belahan bumi ini, maka sudah menjadi kewajiban dia untuk mencarinya, dan bila telah sampai kepadanya peringatan Rasul maka sudah menjadi kewajiban dia untuk membenarkannya, mengikutinya, mencari dien yang menjadi keharusan baginya serta keluar dari negerinya untuk mencarinya, dan bila tidak melakukan hal itu maka dia berhak untuk divonis kafir dan kekekalan di dalam neraka dan adzab dengan nash Al Qur’an. Semua yang telah kami utarakan itu adalah menggugurkan pendapat orang dari kalangan Khawarij yang mengatakan bahwa sejak diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka wajib atas semua manusia yang ada di belahan ujung bumi untuk beriman kepadanya dan mengetahui syari’at-syari’atnya, dan bila mereka mati dalam keadaan seperti itu maka mereka mati sebagai orang-orang kafir yang pasti masuk neraka. pendapat ini digugurkan oleh firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

﴿ لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ ﴾

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya,” (Al Baqarah: 286)

Sedangkan mengetahui yang ghaib itu bukan dalam kesanggupan seorangpun.

Bila mereka mengatakan: Ini adalah hujjah kelompok yang mengatakan bahwa tidak mengikat seorangpun sesuatu dari syari’at ini sehingga hal itu sampai kepadanya,” Kami katakan: Tidak ada hujjah bagi mereka di dalamnya, karena setiap yang ditaklifkan kepada manusia adalah berada dalam kesanggupan mereka…. namun mereka itu diudzur dengan sebab ghaibnya hal itu dari mereka dan mereka tidak ditaklif dengan hal itu dengan pentaklifan yang mana mereka diadzab dengannya bila tidak melakukannya, namun mereka itu ditaklifnya dengan pentaklifan orang-orang yang tidak diadzab sehingga hal itu sampai kepada mereka. Dan barangsiapa telah sampai kepadanya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memiliki perintah yang bersifat global dari suatu hukum sedangkan nash-nya belum sampai kepada dia, maka sudah menjadi kewajiban dia untuk mengerahkan kemampuan dirinya dalam mencari perintah itu, dan kalau tidak dia lakukan maka dia itu maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla. Alla Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿ فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ ﴾

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (An Nahl: 43)[7]

Bila para ulama tidak mengudzur orang yang mampu untuk belajar, maka bagaimana dengan orang yang telah sampai kebenaran kepadanya dan dia malah enggan kecuali (bersikukuh di atas) kebatilan dengan sebab sikap taqshir (teledor)nya dalam pencarian kebenaran dan keberpalingannya dari apa yang telah datang kepadanya.

Dan sungguh telah tepat sekali Abdul Qadir ‘Audah saat berkata: (Di antara prinsif dasar paling penting di dalam syari’at islam ini adalah bahwa orang yang melakukan kesalahan tidaklah dikenakan sangsi atas perbuatan yang diharamkan kecuali bila dia mengetahui dengan pengetahuan yang sempurna terhadap pengharamannya. Dan bila dia tidak mengetahui pengharaman, maka tanggung jawab terangkat darinya. Cukuplah dalam pengetahuan terhadap pengharaman itu adanya kesempatan untuk mengetahui, di mana bila seseorang telah mencapai usia baligh dan dia memiliki kesempatan untuk mengetahui apa yang diharamkan atas dirinya baik itu dengan merujuk kepada nash-nash yang mengharamkannya ataupun dengan bertanya kepada orang yang mengetahui, maka dia itu dianggap sebagai orang yang mengetahui perbuatan-perbuatan yang diharamkan, dan dia tidak bisa beralasan dengan kejahilan atau berhujjah dengan ketidaktahuan, oleh sebab itu para fuqaha mengatakan: “Di negeri Islam tidak diterima udzur ketidaktahuan terhadap hukum.”

Orang mukallaf dianggap mengetahui terhadap hukum-hukum dengan adanya kesempatan untuk mengetahui bukan dengan terbuktinya pengetahuan itu, karena hal itu menghantarkan kepada kesulitan dan membuka lebar pintu klaim ketidaktahuan, serta menggugurkan pelaksanaan nash-nash. Ini adalah kaidah umum di dalam syari’at Islam dan tidak ada pengecualian baginya. Dan bila para fuqaha memandang diterimanya alasan ketidaktahuan terhadap hukum dari orang yang hidup di pedalaman yang tidak berbaur dengan kaum muslimin, atau dari orang yang baru masuk islam sedang dia itu tidak tinggal di tengah kaum muslimin, maka sesungguhnya hal ini pada realitanya bukanlah pengecualian (dari kaidah ini), namun jesteru ia adalah penarapan kaidah pokok ini yang menghalangi dari penetapan sangsi kepada orang yang tidak mengetahui pengharaman sehingga ilmu menjadi mudah didapatkan, sedangkan orang-orang semacam mereka itu tidak memiliki kemudahan untuk mencari ilmu, dan mereka itu tidak dianggap sebagai orang-orang yang mengetahui hukum-hukum syari’at. Adapun bila orang yang mengklaim ketidaktahuan itu adalah hidup di tengah kaum muslimin atau di tengah ahli ilmu, maka klaim ketidaktahuan itu tidak diterima darinya).[8]

Pembicaraan beliau ini adalah tentang hukum-hukum syari’at bukan tentang tauhid, karena beliau tidak mungkin mengatakan bahwa “mereka itu tidak dianggap mengetahui tauhid” sebagaimana beliau katakan pada “hukum-hukum syari’at” karena sesungguhnya mengetahui tauhid itu adalah syarat dalam perealisasian iman di mana tauhid itu adalah ashlul ushul (pokok dari segala pokok) yang memasukan orangnya dalam lingkaran iman walaupun semua syari’at tidak dia ketahui, karena kejahilan terhadap faraidl (hal-hal wajib) dan muharramat (hal-hal yang diharamkan) selagi orangnya merealisasikan ashlul ushul (tauhid) adalah pelakunya itu tidak dikenakan sangsi dan dosa selagi dia itu tidak memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) untuk mengetahui.

Ibnu Qudamah Al Hanbali rahimahullah berkata:

( ولا حد على من لم يعلم تحريم الزنا، قال: عمر وعثمان وعلي : لا حد إلا على من علمه ، وبهذا قال عامة أهل العلم ، فإن أدعى الزاني الجهل بالتحريم وكان يحتمل أن يجهله كحديث العهد بالإسلام والناشئ ببادية قبل منه لأنه يجوز أن يكون صادقا، وإن كان ممن لا يخفى عليه ذلك كالمسلم الناشئ بين المسلمين وأهل العلم ، لم يقبل لأن تحريم الزنا لا يخفى على من هو كذلك فقد علم كذبه ، وإن ادعى الجهل بفساد نكاح قبل قوله لأن عمر قبل قول المدعي الجهل بتحريم النكاح في العدة، ولأن مثل هذا يجهل كثيرا ويخفى على غير أهل العلم)

(Tidak ada hadd terhadap orang yang tidak mengetahui pengharaman zina. Umar, Utsman dan Ali berkata: Tidak ada hadd kecuali atas orang yang mengetahuinya,” Ini adalah pendapat semua ulama, bila pezina mengklaim tidak mengetahui pengharaman sedangkan dia itu ada kemungkinan untuk tidak mengetahuinya seperti orang yang baru masuk Islam dan orang yang hidup di pedalaman, maka klaim itu diterima darinya karena dia itu bisa jadi jujur. Namun bila dia itu tergolong orang yang tidak mungkin hal itu tersamar atasnya seperti orang muslim yang hidup di tengah kaum muslimin dan ahli ilmu, maka klaim itu tidak diterima, karena pengharaman zina itu tidak tersamar atas orang yang seperti itu, maka diketahuilah kebohongannya, dan bila dia mengklaim tidak mengetahui rusaknya pernikahan maka ucapannya diterima, karena Umar telah menerima ucapan orang yang mengaku tidak mengetahui pengharaman pernikahan di masa ‘iddah, dan karena sesungguhnya hal semacam ini adalah banyak tidak diketahui dan tersamar terhadap selain ahli ilmu).[9]

Begitula engkau melihat pada ucapan para ulama pengudzuran orang yang tidak mengetahui hal-hal semacam ini dengan syarat-syarat yang disebutkan dalam batasan tamakkun (kesempatan/ peluang) untuk mengetahui, dan mereka tidak menyebutkan bahwa orang yang menggugurkan tauhid itu diudzur dengan sebab kejahilan atau diudzur orang yang tidak mengetahui sesuatu yang mana iman tidak sah kecuali dengan mengetahuinya, karena mustahilnya hal seperti itu, dan seandainya hal itu mungkin terjadi tentulah mereka menuturkannya di tempat ini.

Orang Yang Jahil Terhadap Sesuatu Yang Di Bawah Tauhid Adalah Tidak Dikafirkan Sebelum Diberitahu.

Abu Muhammad Ibnu Hazm berkata:

( ومن لم تبلغه واجبات الدين فإنه معذور ولا ملامة عليه وقد كان جعفر بن أبي طالب وأصحابه رضي الله عنهم بأرض الحبشة ورسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة والقرآن ينزل والشرائع تشرع فلا يبلغ إلى جعفر وأصحابه أصلا، لانقطاع الطريق جملة من المدينة إلى أرض الحبشة وبقوا كذلك ست سنين فما ضرهم ذلك في دينهم شيئا إذا عملوا بالمحرم وتركوا المفروض )

(Orang yang belum sampai kepadanya kewajiban-kewajiban dien ini, maka sesungguhnya dia itu diudzur dan tidak ada celaan terhadapnya, karena Ja’far Ibnu Abi Thalib dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum berada di negeri Habasyah sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Madinah dan Al Qur’an turun juga syari’at-syari’at disyari’atkan namun hal itu sama sekali tidak sampai kepada Ja’far dan para sahabatnya, karena terputusnya jalan secara total dari Madinah ke negeri Habasyah, dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu enam tahun, namun hal itu tidak membahayakan mereka dalam dien mereka sedikitpun bila mereka melakukan apa yang diharamkan dan meninggalkan apa yang difardlukan).[10]

Dan sudah maklum bahwa Ja’far dan para sahabatnya adalah telah merealisasikan tauhid dan mengamalkan apa yang dituntutnya, namun apa yang tidak mereka ketahui dari syari’at-syari’at yang belum sampai kepada mereka adalah sama sekali tidak membahayakan mereka. Oh alangkah mengherankannya sikap orang yang mengatakan bahwa Ibnu Hazm mengudzur orang yang jahil terhadap tauhid seraya berdalil dengan ucapan Ibnu Hazm ini, sungguh orang yang melakukan hal itu tidaklah perhatian terhadap hal ini disamping dia itu tidak melakukan pengamatan yang benar, justeru dia malah meniti jalan orang-orang yang lalai dan mengikuti cara orang-orang yang bodoh.

Ibnu Qudamah berkata: (Tidak ada perselisihan di antara para ulama prihal kekafiran orang yang meninggalkannya -yaitu shalat- seraya mengingkari kewajibannya bila dia itu tergolong macam orang yang tidak wajar tidak mengetahui hal itu. Bila orang itu tergolong orang yang tidak mengetahui kewajiban seperti orang yang baru masuk islam dan orang yang tinggal di selain negeri Islam atau (hidup) di pedalaman yang jauh dari pemukiman dan ahli ilmu, maka dia itu tidak dihukumi kafir, dan ia itu harus diberi penjelasan hal itu dan diterangkan kepadanya dalil-dalil kewajibannya, kemudian bila dia mengingkarinya setelah itu maka dia itu kafir. Adapun orang yang mengingkari kewajiban shalat sedangkan dia hidup di pemukiman di antara ahli ilmu, maka dia itu dikafirkan dengan sekedar pengingkarannya, dan begitu juga hukumnya pada bangunan-bangunan Islam seluruhnya yaitu zakat, shaum dan haji, karena ia adalah prinsif-prinsif dasar Islam dan dalil-dalil kewajibannya adalah hampir tidak samar, karena Al Kitab dan Assunnah sarat dengan dalil-dalilnya serta ijma-pun telah terjalin terhadapnya, sehingga tidak mengingkarinya kecuali orang yang membangkang kepada Islam, dia menolak dari komitmen dengan hukum-hukum Islam lagi tidak menerima Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma umat ini… dan begitu juga setiap orang yang jahil terhadap sesuatu yang pantas dia tidak mengetahuinya, maka tidak dikafirkan sampai diberitahu hal itu dan lenyap syubhatnya dan terus dia menghalalkannya setelah itu).[11]

Ibnu Hazm berkata: (Dan seandainya seseorang mengganti Al Qur’an seraya keliru lagi jahil, atau shalat menghadap selain kiblat dala kondisi seperti itu juga, maka hal itu tidak mencoreng pada diennya menurut siapapun dari penganut islam ini sampai hujjah tegak atas dia akan hal itu).[12]

Orang-Orang Yang Tidak Memiliki Tamakkun (Kesepatan/Peluang) Untuk Mengetahui

Orang-orang yang tidak memiliki tamakkun untuk mengetahui adalah seperti orang yang masuk islam di negeri kafir harbi asli atau orang yang baru masuk islam atau orang yang hidup di pedalaman yang jauh.

Syaikhul Islam berkata:

( اتفق الأئمة على أن من نشأ ببادية بعيدة عن أهل العلم والإيمان وكان حديث العهد بالإسلام فأنكر شيئا من هذه الأحكام الظاهرة المتواترة فإنه لا يحكم بكفره حتى يعرف ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم )

(Para imam telah sepakat bahwa orang yang hidup di pedalaman yang jauh dari ahli ilmu dan iman sedangkan dia itu baru masuk Islam, terus dia mengingkari sesuatu dari hukum-hukum yang dhahirah mutawatirah (permasalahan yang nampak lagi mutawatir), maka sesungguhnya dia itu tidak dikafirkan sampai diberitahu apa yang dibawa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam).[13]

Sedangkan hal terbesar yang dibawa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Laa ilaaha illallaah, sedangkan orang yang sudah masuk Islam maka tidak diragukan bahwa dia itu telah mengetahui makna Laa ilaaha illallaah dan mengamalkan tuntutannya, oleh sebab itu dia menjadi muslim, kemudian kapan saja nampak darinya pembatal Laa ilaaha illallaah pada maknanya yang paling tinggi, maka hal itu menunjukan terhadap pembangkangannya atau terhadap kejahilannya kepadanya serta kerusakan ikatan keislamannya.

Pertimbangan Negeri Dan Tempat Dugaan Adanya Ilmu

Wajib atas mukallaf (untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengakui semua apa yang dibawa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa urusan keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir dan apa yang diperintahkan dan dilarang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana saat dia mengakui semua apa yang dikabarkan dan apa yang diperintahkannya maka harus ada pembenarannya dan ketundukan kepadanya dalam apa yang diperintahkannya. Adapun rincian, maka wajib atas mukallaf untuk mengakui apa yang telah terbukti di sisinya bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkannya dan memerintahkannya, dan adapun apa yang dikabarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam namun belum sampai kepadanya bahwa beliau mengabarkannya dan dia tidak memiliki tamakkun untuk mengetahui hal itu, maka dia itu tidak diberi sangsi atas sikap dia meninggalkan pengakuan terhadapnya secara terperinci sedangkan ia itu masuk dalam pengakuannya terhadap hal global yang umum. Kemudian bila dia berpendapat dengan pendapat yang menyelisihi hal itu seraya melakukan takwil maka dia itu keliru yang diampuni kekeliruannya, bila terjadi darinya sikap tafrith (teledor) dan aniaya, oleh sebab itu wajib atas para ulama dari kewajiban itu apa yang tidak wajib atas individu-individu orang umum, dan wajib atas orang yang hidup di negeri ilmu dan iman dari hal itu apa yang tidak wajib atas orang yang hidup di negeri kebodohan).[14]

(4). Kejahilan Terhadap Sifat Allah.

Al Imam Ibnu Jarir rahimahullah berkata: (Pembahasan prihal Sifat-Sifat Allah yang pengetahuan terhadapnya bisa didapatkan secara khabar (wahyu) bukan secara istidlal (berdalil): Adapun hal yang tidak sah ikatan iman menurut kami bagi siapapun dan vonis kafir tidak lenyap kecuali dengan mengetahuinya, maka ia itu adalah apa yang telah kami utarakan, itu dikarenakan bahwa apa yang telah kami utarakan sebelumnya dari sifat-Sifat Allah tersebut adalah tidak diudzur dengan sebab kejahilan terhadapnya seorangpun yang telah mencapai batas taklif, (baik) dia itu tergolong orang yang telah datang kepadanya seorang rasul dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala ataupun belum datang seorang rasulpun kepadanya, (baik) dia itu menyaksikan makhluk selain dirinya sendiri ataupun tidak menyaksikan seorang makhluk-pun selain dirinya sendiri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki Asma Dan Sifat yang ada di dalam Kitab-Nya dan telah dikabarkan oleh Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya yang mana tidak seorangpun boleh menyelisihinya setelah tegak kepadanya hujjah bahwa Al Qur’an turun dengannya dan telah sah di sisinya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pemberitahuan hal tersebut darinya. Kemudian bila dia menyelisihi hal itu sebelum hujjah tegak kepadanya dari sisi khabar sesuai apa yang telah saya jelaskan dalam hal yang tidak ada jalan untuk mengetahui hakikat ilmunya kecuali secara indera, maka orang yang jahil diudzur dengan sebab kejahilan terhadapnya, karena pengetahuan hal itu tidak bisa didapatkan dengan akal, pengamatan dan pikiran, dan itu seperti pemberitahuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa Dia itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan bahwa Dia itu memiliki Dua Tangan berdasarkan firman-Nya:

﴿ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاء ﴾

“(tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (Al Maidah: 64)

Dan bahwa Dia memiliki Tangan Kanan, berdasarkan firman-Nya:

﴿ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴾

“Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya,” (Az Zumar: 67)

Dan bahwa Dia memiliki Wajah, berdasarkan firman-Nya:

﴿ وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴾

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al Qashash: 88)[15]

Dan beliau menyebutkan Sifat-Sifat yang lainnya yang bisa menjadi ajang takwil, di mana beliau menetapkan bahwa Allah itu memiliki Telapak Kaki, dan bahwa Dia itu tertawa, turun setiap malam ke langit terendah, Dia itu tidak pecak, dan bahwa kaum mukminin melihat-Nya di hari kiamat dengan pandangan mereka serta bahwa Dia itu memiliki Jemari, kemudian beliau rahimahullah berkata:

( فإن هذه المعاني التي وصفت ونظائرها مما وصف الله عز وجل بها نفسه أو وصفه بها رسوله ص مما لا تدرك حقيقة علمه بالفكر والروية، ولا نكفر بالجهل بها أحدا، إلا بعد انتهائها إليه )

(Sesungguhnya makna-makna yang telah disebutkan ini dan yang semisal dengannya dari sifat-sifat yang mana Allah telah mensifati Diri-Nya dengannya atau telah disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya adalah hal-hal yang tidak bisa didapatkan hakikat pengetahuannya dengan cara berpikir dan pengamatan, dan kami tidak mengkafirkan seorangpun dengan sebab kejahilan terhadapnya kecuali setelah hal itu sampai kepadanya).[16]

Asy Syafi’iy rahimahullah berkata:

( لله أسماء وصفات لا يسع أحدا ردها ومن خالف بعد ثبوت الحجة عليه فقد كفر ، وأما قبل قيام الحجة فإنه يعذر بالجهل، لأن علم ذلك لا يدرك بالعقل ولا الروية والفكر )

(Allah memiliki Asma dan Sifat yang tidak boleh bagi seorangpun menolaknya, dan barangsiapa menyelisihi setelah hujjah tegak terhadapnya maka dia itu kafir. Dan adapun sebelum tegak hujjah, maka sesungguhnya dia itu diudzur dengan sebab kejahilan, karena pengetahuan terhadap hal itu tidak bisa didapatkan dengan akal, pengamatan dan pemikiran).[17]

Seolah-olah bahwa apa yang bisa didapatkan pengetahuannya dengan akal, pengamatan dan pemikiran adalah tidak diudzur dengan sebab kejahilannya, dan ini serupa sekali dengan ucapan Ibnu Jarir. Dan saya isyaratkan di sini bahwa orang-orang yang mengudzur dengan sebab kejahilan secara muthalq adalah mereka itu menukil ucapan-ucapan para imam semacam ini dalam rangka berdalil terhadap keumuman kaidah pengudzuran dengan sebab kejahilan, dan mereka tidak melakukan perincian dan tidak membatasinya dengan batasan-batasannya yang telah maklum.

Sifat-Sifat Yang Tidak Diudzur Dengan Sebab Kejahilannya

Ketahuilah semoga Allah merahmatimu bahwa pengudzuran dengan sebab kejahilan terhadap Sifat itu tidaklah secara muthalq. Ibnu Jarir rahimahullah berkata:

( قد دللنا فيما مضى قبل من كتابنا هذا أنه لا يسع أحدا بلغ حد التكليف الجهل بأن الله جل ذكره ، عالم له علم وقادر له قدرة ومتكلم له كلام وعزيز له عزة وأنه خالق وأنه لا محدث إلا مصنوع مخلوق ، وقلنا من جهل ذلك فهو بالله كافر )

(Telah kami utarakan dalil-dalil sebelumnya dari kitab kami ini bahwa tidak seorangpun yang telah mencapai batas taklif diudzur dengan sebab kejahilan bahwa Allah jalla dzikruh itu Maha Mengetahui yang memiliki ilmu, Maha Kuasa yang memiliki qudrah, Yang Maha Berkata yang memiliki perkataan dan Maha Perkasa yang memiliki keperkasaan, dan bahwa Dia itu Maha Pencipta dan bahwa tidak ada hal baru melainkan ia itu dibuat lagi diciptakan. Dan kami katakan (bahwa) “orang yang jahil terhadap hal itu maka dia itu kafir kepada Allah”).[18]

Sifat-Sifat ini adalah orang yang jahil terhadapnya tidaklah diudzur, karena ia itu menohok secara dasar terhadap Uluhiyyah dan Rububiyyah.

Bersambung…

Baca juga artikel terkait yang lainnya:

–> Menanggapi Syubhat Yang Disebarkan arrahmah.com Yang Menetapkan Status Keislaman PARA THAGHUT DAN ANSHARNYA
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 2)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 3)
–> Mawani’ Takfier yang Dianggap (Bagian 4)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 5)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 6)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 7)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 8)

[1] Al Ihkam 1/65.

[2] Al Bukhari (3827)

[3] Fathul Bari 7/145.

[4] Fathul Bari 13/16.

[5] Madarijus Salikin 1/239.

[6] Mukhtashar Ash Shawa’iq Al Mursalah hal 379-380.

[7] Al Fashl Fil Milal Wal Ahwa Wan Nihal 4/106.

[8] At Tasyri Al Jina’iy Al Islami 1/430-431.

[9] Al Mughni Ma’asy Syarhil Kabir 10/156.

[10] Al Fashl 4/60.

[11] Al Mughni 1/131-132.

[12] Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam 1/131 dan silahkan rujuk Al Fatawa 11/407.

[13] Al Fatawa 11/407.

[14] Majmu Al Fatawa 3/327-328.

[15] At Tabshir hal: 132-133.

[16] At Tabshir hal: 139.

[17] Fathul Bari 13/418.

[18] At Tabshir hal 149.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: