Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1) » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 9)

Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 9)


(2) Takwil Yang Mu’tabar

Pembicaraan Tentang Takwil.
Definisi Takwil.

Takwil secara bahasa: (Takwil adalah diambil dari kata ” آل يؤول “ yang artinya “kembali”, kita katakan “آل الأمر إلى كذا” yaitu urusan kembali kepadanya, sedangkan “مآل الأمر” adalah tempat kembali urusan. An Nadlr Ibnu Syumail berkata sesungguhnya takwil itu diambil dari kata “الإيالة” yaitu siasat, dikatakan “لفلان علينا إيالة” yaitu si fulan memiliki penguasaan terhadap kami, dan “ فلان أيل علينا” yaitu si fulan menguasi kami, sehingga orang yang melakukan takwil seolah bagaikan orang yang mengendalikan ucapan yang dia berbuat di dalamnya. Ibnu Faris berkata dalam Fiqhul ‘Arabiyyah: Takwil adalah akhir urusan dan nasib akhirnya, dikatakan “مآل هذا الأمر” adalah tempat akhirnya, sedangkan kalimat takwil ini adalah dibentuk dari kata “الأول” yaitu akibat akhir dan tempat akhir.

Sedangkan secara ishthilah: Takwil adalah pemalingan ucapan dari dhahirnya kepada maknanya yang muhtamal, yaitu membawa makna yang dhahir kepada makna muhtamal yang lemah. Dan ini mencakup takwil yang shahih dan takwil yang rusak, dan bila engkau menginginkan definisi takwil yang shahih, maka engkau menambahkan pada definisinya ungkapan “dengan dalil yang menjadikannya rajih (kuat)” karena tanpa dalil atau bersama dalil yang lemah atau dalil yang setara maka ia itu adalah takwil yang rusak. Ibnu Burhan berkata: Bab ini adalah bahasan ushul yang paling manfaat dan paling agung, dan tidak tergelincir orang yang tergelincir kecuali dengan takwil yang rusak).[1]
Syarat-Syarat Takwil.

Pertama: Ia itu selaras dengan makna bahasa atau kebiasaan penggunaan atau kebiasaan Pemilik syari’at ini, sehingga setiap pentakwilan yang keluar dari hal ini maka ia itu bukan takwil yang benar.

Kedua: Adanya dalil yang menunjukan bahwa yang dimaksud dengan lafadh itu adalah makna yang mana ia dibawa kepadanya bila memang tidak sering digunakan padanya.

Ketiga: Bila takwil itu dilakukan dengan qiyas, maka qiyas-nya harus qiyas yang jaliy (jelas) bukan yang khafiy (samar), dan ada yang mengatakan bahwa ia itu mesti tergolong hal yang bisa dikhususkan dengannya sesuai dengan apa yang telah lalu, dan ada yang mengatakan bahwa tidak boleh dilakukan takwil dengan qiyas sama sekali.
Macam-Macam Takwil.

Takwil itu sendiri terbagi menjadi tiga bagian, di mana ia itu bisa jadi dekat sehingga menjadi kuat dengan sedikit adanya penguat, dan bisa jadi ia itu jauh sehingga tidak menjadi kuat kecuali dengan penguat yang sangat kuat, dan bisa jadi ia itu tidak mungkin lagi tidak dikandung maknanya oleh lafadh itu sehingga ia itu tertolak lagi tidak bisa diterima. Dan bila hal ini sudah engkau ketahui, maka jelaslah di hadapanmu mana takwil yang bisa diterima dan mana takwil yang tertolak, dan tidak butuh kepada pendalilan yang banyak sebagaimana yang terjadi pada banyak kitab-kitab Ushul).[2]

Pembicaraan Tentang Ijtihad

Asy Syaukaniy rahimahullah berkata dalam Assailul Jarrar:

“الاجتهاد في اللغة مأخوذ من الجهد وهو المشقة والطاقة ، فيختص بما فيه مشقة ليخرج عنه ما لا مشقة فيه. قال الرازي في المحصول : هو في اللغة عبارة عن استفراغ الوسع في أي فعل كان. يقال استفرغ وسعه في حمل الثقيل ولا يقال استفرغ وسعه في حمل النواة ، وأما في عرف الفقهاء ، فهو استفراغ الوسع في النظر فيما لا يلحقه فيه لوم مع استفراغ الوسع فيه. وهذا سبيل مسائل الفروع ، وكذلك تسمى هذه المسائل مسائل الاجتهاد والناظر فيها مجتهد ، وليس هكذا حال الأصول)

“Ijtihad secara bahasa adalah diambil dari jahd yang artinya masyaqqah (kesulitan) dan thaaqah (kemampuan), sehingga ia itu khusus pada sesuatu yang mengandung kesulitan supaya dikeluarkan darinya sesuatu yang tidak ada kesulitan di dalamnya. Ar Raziy berkata dalam Al Mahshul: Ia secara bahasa adalah pengerahan segenap kemampuan pada pekerjaan apa saja. Dikatakan “ia mengerahkan segenap kemampuannya dalam membawa beban berat” dan tidak dikatakan “dia mengerahkan segenap kemampuannya dalam membawa satu biji kurma”. Dan adapun dalam kebiasaan para fuqaha, maka ijtihad itu adalah pengerahan segenap kemampuan dalam mengamati apa yang tidak ada celaan di dalamnya dengan disertai pengerahan segenap kemampuan di dalamnya. Dan ini adalah jalan permasalahan-permasalahan furu, dan begitu juga permasalahan ini disebut juga sebagai permasalahan-permasalahan ijtihad, dan orang yang melakukan pengamatan di dalamnya disebut mujtahid, namun tidak demikian keadaan permasalahan ushul).[3]
Kapan Mujtahid Mendapatkan Pahala.

Di sana ada dua syarat yang harus terealisasi:

(1) Si mujtahid itu adalah orang alim yang memiliki alat ijtihad lagi mengetahui Ushul lagi mengetahui ijma dan bentuk-bentuk qiyas, sehingga orang jahil itu bukanlah orang yang pantas berijtihad.

(2) Dia berijtihad dalam furu’ dhanniyyah muhtamalah (permasalah furu’ yang tidak ada dalil pemutus di dalamnya), sehingga permasalahan ushul itu bukan bidang untuk dilakukan ijtihad di dalamnya.

Abu Ath Thayyib Al ‘Adhim Aabadiy berkata:

( في شرح سنن أبي داود عند كلامه عن حديث ( إذا اجتهد الحاكم فأصاب..) (قال الخطابي : إنما يؤجر المخطئ على اجتهاده في طلب الحق لأن اجتهاده عبادة ، ولا يؤجر على الخطأ بل يوضع عنه الإثم فقط. وهذا فيمن كان جامعا لآلة الاجتهاد عارفا بالأصول عالما بوجوه القياس، فأما من لم يكن محلا للاجتهاد فهو متكلف ولا يعذر بالخطأ بل يخاف عليه الوزر ويدل عليه قوله صلى الله ( القضاة ثلاثة واحد في الجنة واثنان في النار) وهذا إنما هو في الفروع المحتملة للوجوه المختلفة دون الأصول التي هي أركان الشريعة وأمهات الأحكام التي لا تحمل الوجوه ولا مدخل فيها للتأويل فإن من أخطأ فيها كان غير معذور في الخطأ وكان حكمه في ذلك مردودا ) )

(Dalam Syarah Sunan Abi Dawud saat membicarakan hadits “Bila hakim berijtihad….” (Al Khaththabiy berkata: Sesungguhnya orang yang keliru diberi pahala atas ijtihadnya hanyalah dalam pencarian kebenaran, karena ijtihadnya itu adalah ibadah, dan dia tidak diberi pahala atas kesalahannya akan tetapi ditiadakan darinya dosa saja. Sedangkan (keutamaan) ini adalah pada orang yang memiliki alat ijtihad lagi memahami ushul lagi mengetahui bentuk-bentuk qiyas. Adapun orang yang tidak memenuhi syarat ijtihad, maka dia itu adalah orang yang mengada-ada (memaksakan diri) dan tidak diudzur dengan sebab kesalahan (khatha), bahkan dia itu dikhawatirkan memikul dosa, dan ini ditunjukan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Orang-orang yang memutuskan itu ada tiga macam, satu di dalam surga dan dua masuk neraka), dan ijtihad ini hanyalah dilakukan di dalam permasalahan furu’ yang memiliki banyak kemungkinan yang berbeda, bukan permasalahan ushul yang mana ia adalah pilar-pilar syari’at ini dan induk-induk hukum yang tidak memiliki banyak makna serta tidak ada peluang untuk takwil, karena sesungguhnya orang yang keliru di dalamnya adalah tidak diudzur di dalam kekeliruan itu, dan hukumnya (putusannya) di dalam hal itu adalah tertolak)).[4]

An Nawawiy rahimahullah berkata dalam komentarnya terhadap hadits: “Bila hakim berijtihad….”:

( أجمع المسلمون على أن هذا الحديث في حاكم عالم أُهل للحكم، فإن أصابه فله أجران ، أجر باجتهاده وأجر بإصابته وإن أخطأ فله أجر باجتهاده، وفي الحديث محذوف تقديره إذا أراد الحاكم فاجتهد ، قالوا فأما من ليس بأهل للحكم فلا يحل له الحكم فإن حكم فلا أجر له بل هو آثم ولا ينفذ حكمه سواء وافق أم لا. لأن اتفاقيته ليست صادرة عن أصل شرعي فهو عاص في جميع أحكامه سواء وافق الصواب أم لا ، وهي مردودة كلها ولا يعذر في شيء من ذلك )

(Kaum muslimin telah ijma bahwa hadits ini adalah prihal hakim yang alim yang memiliki kelayakan untuk memutuskan, kemudian bila ia menepati kebenaran maka ia mendapatkan dua pahala, satu pahala dengan sebab ijtihadnya dan satu pahala dengan sebab penepatannya terhadap kebenaran, dan bila dia keliru maka dia mendapatkan satu pahala dengan sebab ijtihadnya. Dan di dalam hadits itu ada suatu yang dibuang yang taqdirnya “bila hakim ingin berijtihad terus dia berijtihad”. Para ulama berkata: Adapun orang yang bukan ahli untuk memutuskan, maka dia tidak halal memutuskan, kemudian bila dia memutuskan maka tidak ada pahala baginya bahkan dia itu dosa dan putusannya tidak berlaku baik menepati kebenaran maupun tidak, karena penepatannya itu adalah bukan muncul dari dasar syar’iy, sehingga dia itu maksiat dalam semua putusannya baik menepati kebenaran maupun tidak, dan ia itu tertolak semuanya serta dia tidak diudzur sedikitpun dari hal itu).[5]

Kebenaran Di Dalam Ushuluddien Itu Adalah Satu

Asy Syaukaniy rahimahullah berkata dalam Irsyadul Fuhul: (Masalah Ketujuh: Mereka berselisih dalam masalah-masalah yang mana setiap mujtahid adalah benar di dalamnya dan masalah-masalah yang mana kebenaran di dalamnya adalah bersama salah seorang di antara mujtahidin. Sedangkan ringkasan pembahasan dalam hal itu adalah terealisasi di atas dua cabang:

Cabang pertama: ‘Aqliyyat, dan ia itu ada beberapa macam:

Macam pertama: Masalah yang mana kesalahan di dalamnya adalah menjadi penghalang dari ma’rifah (mengetahui) Allah dan Rasul-Nya, seperti dalam penetapan ilmu (pengetahuan) terhadap Sang Pencipta, tauhid dan keadilan. Mereka berkata: Permasalahan ini kebenaran di dalamnya adalah satu, sehingga barangsiapa menepatinya maka dia menepati kebenaran dan barangsiapa keliru di dalamnya maka dia kafir.

Macam kedua: Seperti masalah “Allah dilihat di akhirat” dan “khalqul qur’an” dan “keluarnya muwahhidin dari neraka serta masalah-masalah yang serupa itu, maka kebenaran di dalamnya adalah satu, barangsiapa menepatinya maka dia menepati kebenaran, dan barangsiapa keliru di dalamnya maka ada yang mengatakan bahwa dia itu kafir, dan di antara yang mengatakan pendapat ini adalah Asy Syafi’iy, sehingga di antara murid-murid Asy Syafi’iy ada yang membawa penadapat itu kepada dhahirnya dan di antara mereka ada yang membawanya kepada kufur nikmat.

Macam ketiga: Bila masalahnya bukan masalah dieniyyah…..seperti dalam permasalahan penyusuna badan-badan).[6]

Ahmad Ibnu Abdirrahman Halulu berkata dalam Syarh Jam’il Jawami’: (Tidak ada kesamaran bahwa orang yang benar dalam masaail ‘aqliyyah adalah satu, Waliyyudien menghikayatkan ijma atas hal ini dari Al Amidiy dan yang lainnya, kemudian sesungguhnya orang yang keliru dalam masaail ‘aqliyyah ini bila dia keliru dalam hal yang tidak menghalanginya dari ma’rifatullah dan ma’rifah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana masalah “Allah dilihat di akhirat”[7] dan masalah “ke-makhluq-kan amal perbuatan”[8] maka dia itu dosa dari sisi keberpalingan dari al haq, dan dia keliru dari sisi tidak menepati kebenaran, serta dia mubtadi’ (ahli bid’ah) dari sisi dia mengatakan pendapat yang menyelisihi Assalaf Ash Shalih. Dan bila dia keliru dalam hal yang berpengaruh kembali kepada keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya seperti orang-orang yang menafikan islam dari kalangan Yahudi dan Nashara, maka mereka itu orang-orang yang keliru lagi dosa juga kafir, dan ini adalah hal yang diijmakan oleh ulama umat ini, dan tidak ada perbedaan di dalam hal itu antara mujtahid dengan yang lainnya, dan tidak usah dihiraukan penyelisihan ‘Amr Ibnu Bahr Al Jahidh dan Abdullah Ibnu Al Hasan Al ‘Anbariy dalam pendapatnya….).[9]

Khatha’ (Kekeliruan) Dalam Ma’rifatullah Dan Ke-Esaan-Nya

Ibnu Mandah berkata: (Bab penuturan dalil bahwa mujtahid yang keliru dalam Ma’rifatullah Dan Ke-Esaan-Nya adalah seperti mu’anid (orang yang membangkang). Allah ta’ala berfirman seraya mengabarkan tentang kesesatan dan pembangkangan mereka:

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (١٠٤)

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 103-104)).[10] Dan ini adalah sama dengan yang diutarakan oleh Ath Thabari rahimahullah dalam At Tabshir hal 118.

Al Baghawiy berkata sesungguhnya:

( الكافر الذي يظن أنه في دينه على الحق والجاحد والمعاند سواء )

(Orang kafir yang mengira bahwa dia berada di atas kebenaran di dalam agamanya adalah sama dengan orang kafir yang mengingkari dan orang (kafir)yang mu’anid (membangkang)).[11]

Kekeliruan Dalam Hal Yang Bisa Menjadi Ajang Takwil.

Al Qadli ‘Iyadl berkata:

( وذهب عبيد الله بن الحسن العنبري إلى تصويب أقوال المجتهدين في أصول الدين فيما كان عرضة للتأويل ، وفارق في ذلك فرق الأمة إذ أجمعوا سواه على أن الحق في أصول الدين واحد، والمخطئ فيه آثم عاص فاسق وإنما الخلاف في تكفيره )

(Ubaidullah Ibnul Hasan Al ‘Anbariy berpendapat bahwa semua pendapat mujtahidin dalam ushuluddien yang masih bisa menjadi ajang takwil itu adalah benar, dan dia dengan pendapatnya ini telah menyelisihi semua firqah umat ini, karena mereka selain dia telah ijma bahwa kebenaran dalam ushuluddien itu adalah satu, sedangkan orang yang keliru di dalamnya adalah berdosa lagi maksiat juga fasiq, namun yang diperselisihkan itu hanyalah prihal pengkafirannya).[12]

Permasalahan Ushuluddien yang masih bisa menjadi ajang takwil itu biasa disematkan oleh para ulama kepada masalah-masalah “iman itu ucapan dan amalan” dan “Khalqul Qur’an” dan “masalah Allah dilihat di akhirat” dan masalah “Sifat-Sifat Allah” serta yang lainnya.

Al ‘Adhim Aabadiy berkata: (Dan Abdurrahman berkata juga: Saya bertanya kepada bapakku dan kepada Abu Zar’ah tentang madzhab-madzhab Ahlussunnah dalam Ushuluddien dan apa yang kami dapatkan salaf menganutnya dan meyakininya dari hal itu? Maka ia berkata: Kami mendapatkan para ulama di semua negeri baik itu Hijaz, Iraq, Mesir, Syam dan Yaman, maka ternyata madzhab mereka itu adalah bahwa iman itu ucapan dan amalan yang bertambah dan berkurang, Al Qur’an itu kalamullah bukan makhluq dengan semua sisinya, qadar yang baik dan buruknya adalah dari Allah, bahwa Allah itu di atas ‘Arasy terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana yang Dia sifati Diri-Nya sendiri dengan Sifat-Sifat itu di dalam Kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya tanpa menetapkan bagaimana hakikatnya, Dia itu meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang seperti Dia dan Dia itulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat).[13]

Ushul yang masih bisa menjadi ajang takwil ini adalah diperselisihkan oleh salaf prihal pengkafiran orang yang keliru di dalamnya, sedangkan yang benar adalah tidak ada pengkafiran di dalam hal yang masih bisa menjadi ajang takwil, akan tetapi orang yang keliru di dalamnya adalah ditetapkan dosa dan divonis sebagai ahli bid’ah.

Adapun syirik akbar seperti memohon kepada orang yang sudah mati (atau kepada[14]) selain Allah dalam hal yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah, i’tikaf di kuburan mereka serta tangisan pengharapan pelenyapan segala kesulitan dan pemenuhan segala hajat, maka ini adalah pengguguran terhadap tauhid yang merupakan inti paling pokok dari ushuluddien itu.

Meninggalkan Pengkafiran Ahli Bid’ah Yang Komitmen Dengan Tauhid.

Asy Syaukani rahimahullah berkata:

( وأما المخطئ في الأصول المجتهد، فلا شك في تأثيمه وتفسيقه وتضليله واختلف في تكفيره وللأشعري قولان ، قال إمام الحرمين وابن القشيري وغيرهما وأظهر مذهبه ترك التكفير وهو اختيار القاضي في كتاب ” المتأولين” وقال ابن عبد السلام: رجع الإمام أبو الحسن الأشعري عند موته عن تكفير أهل القبلة لأن الجهل بالصفات ليس جهلا بالموصوف. قال الزركشي وكان الإمام أبو سهل الصعلوكي لا يكفر ، فقيل له ألا تكفر من يكفرك فعاد إلى القول بالتكفير وهذا مذهب المعتزلة فهم يكفرون خصومهم ويكفر كل فريق منهم الآخر.

وقد حكى إمام الحرمين عن معظم أصحاب الشافعي ترك التكفير وقال إنما يكفر من جهل وجود الرب أو علم وجوده ولكن فعل فعلا أو قال قولا أجمعت الأمة على أنه لا يصدر ذلك إلا عن كافر.”

واعلم أن التكفير لمجتهدي الإسلام بمجرد الخطإ في الاجتهاد في شيء من مسائل العقل ، عقبة كؤود لا يصعد إليها إلا من لا يبالي بدينه ولا يحرص عليه، لأنه مبني على شفا جرف هار، وعلى ظلمات بعضها فوق بعض ، وغالب القول به ناشئ عن العصبية وبعضه ناشئ عن شبه واهية ليست من الحجة في شيء ولا يحل التمسك بها في أيسر أمر من أمور الدين فضلا عن هذا الأمر الذي هو مزلة الأقدام ومدحضة كثير من علماء الإسلام)

(Dan adapun orang yang keliru lagi mujtahid di dalam ushul, maka tidak diragukan prihal penetapan dosa baginya, vonis fasiq dan vonis sesat baginya, akan tetapi diperselisihkan prihal pengkafirannya, dan Al Asy’ariy memiliki dua pendapat, Imamul Haramain dan Ibnul Qusyairiy serta yang lainnya berkata: Pendapatnya (Al Asy’ariy) yang paling nampak adalah tidak mengkafirkan, dan ia itu adalah pilihan Al Qadli dalam kitab “Al Muta’awwilin” sedangkan Ibnu Abdissalam berkata: Al Imam Abul Hasan Al Asy’ariy saat kematiannya rujuk dari pengkafiran ahli kiblat, karena kejahilan terhadap Sifat itu bukanlah kejahilan terhadap Yang Disifati (yaitu Allah, pent). Az Zarkasyiy berkata: Al Imam Abu Sahl Ash Shu’lukiy tidak mengkafirkan, maka dikatakan kepadanya apakah engkau tidak mengkafirkan orang yang mengkafirkanmu, maka ia kembali kepada pendapat yang mengkafirkan, dan ini adalah pendapat Mu’tazilah di mana mereka itu adalah mengkafirkan lawan mereka dan bahkan setiap kelompok dari mereka saling mengkafirkan yang lain.

Imaul Haramain telah menghikayatkan dari mayoritas pengikut Asy Syafi’iy sikap tidak mengkafirkan, dan berkata: yang dikafirkan itu hanyalah orang yang tidak mengetahui keberadaan Ar Rabb atau mengetahui keberadaan-Nya akan tetapi dia melakukan perbuatan atau mengatakan suatu ucapan yang mana umat telah ijma bahwa hal itu tidak muncul kecuali dari orang kafir.” Dan ketahuilah bahwa pengkafiran terhadap para mujtahidin Islam dengan sekedar kekeliruan dalam ijtihad dalam sesuatu yang tergolong permasalahan akal adalah tebing yang curam yang tidak berani mendakinya kecuali orang yang tidak peduli dengan agamanya dan tidak mau menjaganya, karena ia itu dibangun di atas tepi jurang yang curam dan di atas kegelapan-kegelapan yang berlapis-lapis, dan mayoritas pendapat pengkafiran itu adalah muncul dari sikap ‘ashabiyyah dan sebagiannya muncul dari subhat-syubhat yang lemah yang sama sekali bukan hujjah, dan tidak halal berpegang kepadanya dalam permasalahan yang paling ringan dari urusan dien ini apalagi dalam hal ini yang merupakan tempat ketergelinciran kaki dan keterpelesetan banyak ulama islam).[15]

Dan telah datang dari hadits Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة ، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله).

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadati selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka mendirikan shalat dan mereka menunaikan zakat, kemudian bila mereka melakukan hal itu maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam, sedangkan penghitungan mereka atas Allah”

Al Hafidh berkata:

( وفيه دليل على قبول الأعمال الظاهرة والحكم بما يقتضيه الظاهر والاكتفاء في قبول الإيمان بالاعتقاد الجازم خلافا لمن أوجب تعلم الأدلة وقد تقدم مافيه ، ويؤخذ منه ترك تكفير أهل البدع المقرين بالتوحيد الملتزمين بالشرائع)

(Dan di dalamnya ada dalil terhadap penerimaan amalan dhahir dan penghukuman berdasarkan apa yang dituntut oleh dhahir serta pencukupan dalam penerimaan keimanan dengan keyakinan yang pasti, berbeda dengan orang yang mewajibkan pengkajian dalil-dalil dan telah lalu apa yang ada di dalamnya, dan diambil darinya sikap meninggalkan pengkafiran ahli bid’ah yang mengakui tauhid lagi komitmen dengan syari’at-syari’at).[16]

Ahli bid’ah itu biasa dilontarkan oleh para ulama kepada orang-orang yang mentakwil dalam permasalahan Al Wa’du, Al Wa’id, masalah apakah Allah dilihat di akhirat, penciptaan amalan hamba serta hal-hal yang serupa itu sesuai rincian yang bisa dilihat di tempatnya.[17]

Udzur Dengan Sebab Takwil.

Dari uraian yang lalu kita bisa menyimpulkan bahwa tidak ada kekafiran dengan sebab takwil yaitu di dalam takwil suatu yang masih bisa menjadi ajang takwil, walaupun tetap ada status dosa bagi orang yang mentakwil yang keliru di dalam hal itu. Adapun di dalam permasalahan furu’ yaitu tempat ajang ijtihad, maka mujtahid yang keliru di dalamnya adalah diudzur dengan sebab takwil, dan tidak berdosa bahkan dia mendapatkan pahala sesuai kadar niatnya dan ijtihadnya.

Al Hafidh berkata dalam Al Fath -Kitabush Shalah – dalam hadits yang mana di dalamnya ada seseorang di antara sahabat menuduh Malik Ibnu Ad Dukhsyum sebagai orang munafiq, berkata dalam faidah-faidah hadits itu: (Dan di antaranya adalah barangsiapa menuduh orang yang menampakkan keislaman sebagai munafiq dan tuduhan serupa itu dengan sebab ada qarinah yang ada padanya, maka dia tidak dikafirkan dengan sebab hal itu dan bahkan tidak divonis fasiq akan tetapi dia itu diudzur).[18]

Syaikhul Islam berkata:

( وإذا كان المسلم متأولا في القتال أو التكفير لم يكفر بذلك كما قال عمر بن الخطاب لحاطب بن أبي بلتعة: يا رسول الله : دعني أضرب عنق هذا المنافق ، ولم يُكفر النبي صلى الله عليه وسلم لا هذا ولا هذا بل شهد للجميع بالجنة..)

(Dan bila orang muslim itu melakukan takwil dalam peperangan atau dalam pengkafiran, maka dia itu tidak kafir dengan sebab hal itu, sebagaimana Umar Ibnul Khaththab radliyallahu ‘anhu mengatakan kepada Hathib Ibnu Abi Balt’ah: Wahai Rasulullah, biarkan saya memenggal leher orang munafiq ini” dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkafirkan ini dan ini, akan tetapi beliau mempersaksikan syurga bagi semuanya…)[19]

Adapun orang yang melakukan takwil dalam hal yang sudah maklum minaddien bidldlarurah dengan suatu macam takwil, maka dia itu disuruh taubat, dan bila tidak taubat maka dia dikafirkan dan dibunuh, contoh hal ini adalah kejadian Qudamah Ibnu Madh’un, di mana Abdurrazzaq telah meriwayatkan bahwa Qudamah memandang kebolehan meminum khamr bagi sebagian orang khusus seraya berdalil dengan firman Allah ta’ala:

﴿ لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُواْ إِذَا مَا اتَّقَواْ وَّآمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَواْ وَّآمَنُواْ ثُمَّ اتَّقَواْ وَّأَحْسَنُواْ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴾

“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al Maidah: 93)

Di mana Umar telah menugaskan Qudamah menjadi gubernur Bahrain, maka isterinya dan Abu Hurairah serta yang lainnya telah bersaksi bahwa ia telah minum khamr, maka Umar menghadirkannya dan memecatnya, kemudian tatkala ingin menegakkan had terhadapnya maka ia berdalil dengan ayat itu, maka Umar berkata kepadanya: Sesungguhnya kamu telah salah takwil” dan para sahabat telah ijma untuk menyuruh dia dan teman-temannya bertaubat, bila mereka mengakui keharaman khamr maka ditegakkan had terhadap mereka, dan bila tidak mengakuinya maka mereka kafir, maka merekapun rujuk dari pendapat mereka dan para sahabatpun sepakat untuk mendera mereka dan tidak mengkafirkan mereka.

Dan semacam orang-orang yang melakukan takwil itu Ibnu Taimiyyah berkata tentang mereka: (Mereka itu diistitabah dan ditegakkan hujjah atas mereka, kemudian bila mereka bersikukuh maka mereka kafir saat itu, dan tidak divonis kafir sebelum itu, sebagaimana para sahabat tidak menghukumi kekafiran Qudamah Ibnu Madh’un dan teman-temannya tatkala mereka keliru takwil dalam apa yang mereka telah keliru di dalamnya)[20]

Maka seperti hal ini dan yang serupa dengannya dari hal-hal yang tergolong Sifat Allah, orang yang keliru di dalamnya tidak dikafirkan kecuali setelah pelenyapan syubhat dan penegakkan hujjah. Adapun yang berkaitan dengan tauhidullah dan peng-Esaan-Nya dengan ibadah, maka orang yang keliru di dalamnya adalah kafir dan tidak diudzur dengan takwil yang dia klaim, statusnya dalam hal itu adalah sama dengan status orang-orang yang memerangi dienullah yang mempermainkan kehormatan agama-Nya lagi menghalalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah orang-orang yang mempermainkan syari’at Allah lagi mengklaim takwil sedangkan dia tidak mengikuti jalur-jalurnya, dan dala hal ini telah berkata Ibnu Wazir:

( لا خلاف في كفر من جحد ذلك المعلوم بالضرورة للجميع وتستر باسم التأويل فيما لا يمكن تأويله، كالملاحدة في تأويل جميع الأسماء الحسنى بل جميع القرآن والشرائع والمعاد الأخروي من البعث والقيامة والجنة والنار )

(Tidak ada perselisihan dalam kekafiran orang yang mengingkari hal yang maklum secara pasti oleh semua dan dia berselubung dengan nama takwil dalam hal yang tidak mungkin bisa ditakwil, seperti orang-orang malahidah (orang-orang mulhid/kafir) dalam pentakwilan semua Al Asma Al Husna bahkan semua Al Qur’an, syari’at dan hal-hal yang terjadi di akhirat seperti kebangkitan, kiamat, surga dan neraka).[21]

Bersambung…

Baca juga artikel lainnya:

–> Menanggapi Syubhat Yang Disebarkan arrahmah.com Yang Menetapkan Status Keislaman PARA THAGHUT DAN ANSHARNYA
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 2)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 3)
–> Mawani’ Takfier yang Dianggap (Bagian 4)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 5)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 6)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 7)

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 8)
[1] Irsyadul Fuhul hal 298, tahqiq Abu Mush’ab Muhammad Ibnu Sa’id Al Badriy, Mu’assasah Al Kutub Ats Tsaqafiyyah, cetakan ketujuh 1417 H/1997 M.
[2] Irsyadul Fuhul hal 300-301.
[3] Assailul Jarrar hal 13, cetakan pertama dalam satu jilid, Dar Ibni Haz.
[4] ‘Aunul Ma’bud 9/488/489.
[5] Syarah Shahih Muslim milik An Nawawi 12/13.
[6] Irsyadul Fuhul 433.
[7] Ahlussunnah menatapkan bahwa Allah dilihat di surga oleh orang-orang mukmin, sedangkan ahli bid’ah mengatakan bahwa Allah nanti tidak dilihat. (pent).
[8] Ahlussunnah mengatakan bahwa perbuatan manusia itu adalah ciptaan Allah dan Dia-lah yang mengtaqdirkannya, sedangkan ahli bid’ah dari kalangan qadariyyah mengatakan bahwa perbuatan manusia itu bukan Allah yang meng-taqdir-kannya. (pent)
[9] Adl Dliyaa Allami’ Syarhu Jam’il Jawami’ 2/513.
[10] Kitab At Tauhid milik Ibnu Mandah 1/314.
[11] Tafsir Al Baghawi cetakan pertama dalam satu jilid, hal 461.
[12] Asy Syifaa Bi Ta’rif Huquqil Mushthafa Bi Syarhi Nuriddin Al Qari 5/393.
[13] ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud 13/48.
[14] Yang dalam kurung ini adalah tambahan dari penterjemah agar konteksnya tepat. (pent).
[15] Irsyadul Fuhul hal: 434.
[16] Al Fath 1/252 cetakan pertama dalam tiga jilid.
[17] Silahkan Rujuk Minhajus Sunnah 3/60.
[18] Fathul Bari 1/523.
[19] Al Fatawa 3/284.
[20] Al Fatawa 7/610.
[21] Iitsarul Haq ‘Alal Khalqi hal 415.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: