Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1) » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 8)

Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 8)


Riddah (Kemurtaddan)

(1) Kemurtaddan Menurut Para Fuqaha.

Definisi Riddah (Kemurtaddan):

Al Munawiy Asy Syafi’iy berkata: (Riddah adalah kembali dari sesuatu kepada yang lainnya, sedangkan secara syar’iy ia adalah pemutusan keislaman dengan niat atau ucapan atau perbuatan mukaffir (yang mengkafirkan)).[1]

Assubki berkata: (Takfier adalah hukum syar’iy yang sebabnya adalah pengingkaran Rububiyyah atau Ke-Esaan atau Kerasulan, atau ucapan atau perbuatan yang mana Pemilik syari’at ini telah menghukuminya sebagai kekafiran walaupun ia itu bukan pengingkaran).[2]

Al Qarafiy Al Malikiy berkata: (Asal kekafiran adalah penodaan khusus terhadap kehormatan Rububiyyah, baik dengan sebab kejahilan terhadap keberdaan Sang Pencipta atau Sifat-Sifat-Nya Yang Tinggi, atau kekafiran itu dengan sebab perbuatan seperti melepar mushhaf ke kotoran atau sujud kepada berhala atau keluar masuk gereja di hari-hari raya mereka dengan mengenakan pakaian orang-orang nashara dan melakukan kegiatan mereka…..).[3]

Khalil berkata dalam Mukhtasharnya: (Riddah itu adalah kekafiran orang muslim dengan ketegasan atau ucapan yang berkonsekuensi kekafiran atau perbuatan yang mengandung kekafiran seperti melempar mushhaf ke kotoran, mengenakan zanar (ikat pinggang khusus orang kafir), dan sihir….).[4]

Ibnu An Najjar Al Hanbaliy berkata dalam syarahnya terhadap kitab Al Muntaha: (Berkata: (Bab hukum orang murtad) dan ia (murtad) secara bahasa adalah orang yang kembali (kepada kekafiran walaupun) dia itu (orang mumayyiz dengan sebab ucapan atau keyakinan atau keraguan atau perbuatan) tanpa dipaksa (walaupun dia itu bercanda) setelah keislamannya).[5]

Perhatikanlah bagaimana beliau menyebutkan “keraguan” dan penyebutan ini adalah banyak sekali dalam kitab-kitab para ulama, sedangkan orang yang ragu itu adalah orang yang jahil, sebagaimana yang telah lalu, kemudian beliau membatasi hal itu dengan “tanpa paksaan” untuk mengeluarkan orang yang dipaksa, kemudian setelah menuturkan sebagian hal-hal yang diharamkan yang mana orang yang menghalalkannya dikafirkan maka beliau berkata: (Adapun barangsiapa menghalalkan sesuatu dari apa yang telah disebutkan dan yang serupa itu dengan tanpa takwil (atau dia itu sujud kepada bintang atau yang semacam itu) seperti matahari, bulan dan patung, maka dia itu kafir, karena hal itu adalah kemusyrikan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:

﴿ إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (An Nisa: 116).

(atau mendatangkan ucapan atau perbuatan yang jelas perolok-olokan terhadap agama ini maka dia itu kafir, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

﴿ وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ * لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ ﴾

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Jangan kalian mencari-cari alasan, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (At Taubah: 65-66).[6]

Perhatikan bagaimana beliau batasi kekafiran orang yang menghalalkan sebagian yang haram dengan (batasan) tidak takwil, namun beliau tidak melakukan pembatasan itu terhadap orang yang sujud kepada bintang atau matahari atau bulan atau berhala atau mendatangkan ucapan atau perbuatan yang jelas perolok-olokan terhadap agama ini, karena ia itu adalah penyekutuan Allah dan kekafiran terhadap-Nya yang tidak ada udzur bagi pelakunya kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya teguh dengan keimanan.

‘Alauddien Al Kasaniy Al Hanafiy berkata: (Pasal…. Adapun rukun kemurtaddan, maka ia itu adalah pelontaran ucapan kekafiran di lisan setelah adanya keimanan, karena riddah maknanya adalah kembali dari keimanan, jadinya kembali dari keimanan adalah dinamakan riddah dalam ‘urf (kebiasaan) syari’at ini).[7]

Ibnu Burhaniddien Ibnu Mazih Al Hanafiy (wafat 616 H) berkata dalam Al Muhith:

من أتى بلفظة الكفر مع علمه أنها لفظة الكفر عن اعتقاد فقد كفر ، و إن لم يعتقد أو لم يعلم أنها لفظة كفر ولكن أتى بها عن اختيار فقد كفر عند عامة العلماء ولا يعذر بالجهل… ) نقله عالم بن العلاء الدهلوي ( ت 786 هـ ) مقرا عليه ( الفتاوى التتار خانية 5/458 ).

(Barangsiapa mendatangkan ucapan kekafiran sedangkan dia itu mengetahui bahwa ia adalah ucapan kekafiran atas dasar keyakinan, maka dia itu kafir. Dan bila tidak meyakini atau tidak mengetahui bahwa ia adalah ucapan kekafiran namun dia mendatangkannya tanpa paksaan maka dia itu kafir menurut semua ulama dan tidak diudzur dengan sebab kejahilan….) dinukil oleh ‘Alim Ibnul ‘Alla Ad Dahlawiy (wafat 786 H) seraya menyetujuinya (Al Fatawa At Tattar Khaniyyah 5/458).

Sebagaimana ungkapan itu dijadikan rujukan oleh Muhammad Ibnu Faramuz Al Hanafiy (wafat 885 H) dalam Durarul Hukkam Syarh Ghurarul Ahkam (1/324), sebagaimana hal itu disetujui juga oleh Abdurrahman Ibnu Zadah Damad dala Majma’ul Anhur Fi Syarhi Multaqal Abhur (2/487), dan hal ini sangat terkenal lagi sering disebut dalam kitab-kitab madzhab Hanafiy.

Kemurtaddan Tanpa Niat Atau Tanpa Disadari

Al Imam Muhammad Ibnu Ismail Ash Shan’aniy rahimahullah berkata:

( صرح الفقهاء في كتب الفقه في باب الردة أن من تكلم بكلمة الكفر يكفر وإن لم يقصد معناها )

(Para fuqaha telah menegaskan di dalam kitab-kitab fiqh di dalam bab riddah bahwa barangsiapa mengucapkan ucapan kekafiran maka dia itu kafir walaupun tidak memaksudkan maknanya).[8]

Al Imam Muhammad Ibnu Ali Asy Syaukaniy rahimahullah berkata:

( وكثيرا ما يأتي هؤلاء الرعايا بألفاظ كفرية فيقول هو يهودي ليفعلن كذا وليفعلن كذا فيرتد تارة بالقول وتارة بالفعل وهو لا يشعر )

(Sering sekali masyarakat itu mengucapkan ucapan-ucapan kekafiran, umpamanya dia mengatakan “dia Yahudi hendaklah dia melakukan ini dan itu” sehingga terkadang dia menjadi murtad dengan sebab ucapan dan kadang dengan sebab perbuatan sedangkan dia tidak menyadari).[9]

(2) Penyadaran Dan Pelenyapan Syubhat Setelah Adanya Vonis Murtad.

Keterjatuhan Dalam Kekafiran Itu Menjadikannya Murtad.

Dan hal itu telah nampak secara jelas dalam ucapan para ulama yang lalu dalam bab-bab riddah.

Al Imam Asy Syaukaniy rahimahullah berkata dalam tafsirnya terhadap firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

﴿ يَحْلِفُونَ بِاللّهِ مَا قَالُواْ وَلَقَدْ قَالُواْ كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُواْ بَعْدَ إِسْلاَمِهِمْ وَهَمُّواْ بِمَا لَمْ يَنَالُواْ وَمَا نَقَمُواْ إِلاَّ أَنْ أَغْنَاهُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ مِن فَضْلِهِ فَإِن يَتُوبُواْ يَكُ خَيْرًا لَّهُمْ وَإِن يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الأَرْضِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ ﴾

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan Perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” (At Taubah: 74)

Asy Syaukani berkata: (Yaitu sesungguhnya mereka itu telah menjadi kafir dengan sebab ucapan ini setelah sebelumnya mereka menampakkan keislaman walaupun mereka itu kafir secara bathin, dan maknanya bahwa mereka itu telah melakukan hal yang menjadikan mereka kafir seandainya memang keislaman mereka selama ini adalah sah).[10]

(3) Mayoritas Kemurtaddan Adalah Karena Syubhat.

Abu Bakar Ibnu Muhammad berkata setelah mendefinisikan riddah dan setelah menuturkan macam-macamnya, dan apakah disunnahkan peng-istitabah-an orang murtad itu ataukah diwajibkan, beliau berkata: (Dan pendapat yang benar bahwa istitabah itu adalah wajib) kemudian berkata: (Karena pada umumnya kemurtaddan itu terjadi karena sebab syubhat yang muncul di hadapan orangnya, maka tidak boleh dibunuh sebelum syubhat itu dihilangkan, istitabah dari kemurtaddan macam ini adalah adalah seperti orang-orang kafir harbiy di mana sesungguhnya kita tidak membunuh mereka sebelum sampainya dakwah dan penampakkan mu’jizat).[11]

Al Khaththab berkata dalam Mawahibul Jalil Syarh Mukhtashar Khalil: (Ibnul ‘Arabiy berkata dalam awal Kitab At Tawassuth Fi Ushuliddien: Apakah tidak engkau lihat bahwa orang murtad itu dianjurkan untuk diberi tenggang waktu oleh para ulama, karena bisa jadi dia itu menjadi murtad karena sebab keraguan, maka dia diberi tenggang waktu dengan harapan dia itu mau meninjau keraguan dengan keyakinan dan kejahilan dengan ilmu, dan hal itu tidak wajib karena terealisasinya ilmu dengan tinjauan yang benar yang pertama). Maka ini adalah sangat jelas prihal tidak dianggapnya kejahilan dan syubuhat sebagai udzur.

Pemilik kitab Al Fiqhu ‘Alal Madzahib Al Arba’ah berkata: setelah menuturkan definisi riddah dan setelah menuturkan sebab-sebabnya, kemudian beliau memulai berbicara tentang istitabah (menyuruh taubat) orang murtad, beliau berkata:
(Al Hanafiyyah berkata: Orang muslim bila menjadi murtad dari Islam -wal ‘iyadzu billlahi ta’ala- maka ditawarkan Islam kepadanya, bila dia itu memiliki syubhat yang dia utarakan maka syubhat itu dilenyapkan darinya, karena bisa jadi ada syubhat pada dien ini yang mengganggu dia maka kemudian dilenyapkan darinya…
Asy Syafi’iyyah berkata: Orang muslim bila menjadi murtad -wal ‘iyadzu billlahi- maka wajib atas imam memberinya tangguh tiga hari, dan tidak halal baginya membunuh dia sebelum itu, karena kemurtaddan orang muslim dari agamanya itu biasanya karena ada syubhat, maka harus ada tenggang waktu yang memungkinkan dia di dalamnya untuk mencari kejelasan…
Al Malikiyyah berkata: Wajib atas imam untuk memberi tenggang waktu tiga hari tiga malam bagi orang murtad…. orang murtad itu wajib diberi tenggang waktu seukuran itu hanyalah dalam rangka menjaga darah dan dalam rangka menolak hudud dengan sebab syubuhat.
Al Hanabilah berkata: Dalam salah satu riwayat-riwayat mereka sesungguhnya wajib pemberian istitabah tiga hari seperti Al Malikiyyah dan Asy Syafi’iyyah, dan dalam satu riwayat yang lain dari mereka bahwa istitabah itu tidak wajib). [12]

Ini semuanya secara jelas menggugurkan kaidah pengudzuran dengan sebab kejahilan dan syubuhat, karena para ulama semua madzhab itu mensematkan vonis kafir terhadapnya dengan sekedar keterjatuhannya dalam kekafiran, apalagi kalau dia itu menyekutukan Allah dan menggugurkan ashluddien (tauhid), kemudian para ulama itu memberikan tenggang waktu baginya untuk melenyapkan syubhatnya dan mengajarkannya ilmu setelah kejahilannya.

Istitabah Orang Murtad Dikarenakan Kebodohannya.

Al Imam Asy Syaukaniy rahimahullah berkata:

( لا يخفى عليك ما تقرر في أسباب الردة من أنه لا يعتبر في ثبوتها العلم بمعنى ما قاله من جاء بلفظ كفري أو فعل فعلا كفريا )

(Tidak samar atasmu apa yang telah baku dalam sebab-sebab kemurtaddan, bahwa dalam keterbuktian kemurtaddan itu tidaklah dianggap (disyaratkan) adanya ilmu (pengetahuan) terhadap apa yang dikatakan oleh orang yang mendatangkan ucapan kekafiran atau melakukan perbuatan kekafiran).[13]

Dan para fuqaha telah menegaskan bahwa orang yang keluar dari islam tanpa dasar ilmu itu adalah murtad, akan tetapi dia itu di-istitabah. Al Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

( قال الطحاوي : ذهب هؤلاء إلى أن حكم من ارتد عن الإسلام حكم الحربي الذي بلغته الدعوة ، فإنه يقاتل من قبل أن يدعى ، قالوا : وإنما تشرع الاستتابة لمن خرج عن الإسلام لا عن بصيرة ، فأما من خرج عن بصيرة فلا )

(Ath Thahawiy berkata: Mereka itu berpendapat bahwa hukum orang yang murtad dari Islam itu adalah sama dengan hukum kafir harbiy yang telah sampai dakwah kepadanya, di mana dia itu diperangi sebelum didakwahi. Mereka berkata: Istitabah itu hanyalah disyari’atkan bagi orang yang keluar dari Islam tanpa dasar bashirah (pengetahuan), dan adapun orang yang keluar atas dasar bashirah maka tidak (diharuskan istitabah)).[14]

Al Bukhari rahimahullah telah menuturkan hadits orang-orang yang berkata bahwa Ali adalah tuhan mereka dalam “bab hukum murtad dan murtaddah dan peng-istitabah-an mereka” dan begitu juga Asy Syaukani berkata dalam “Nailul Authar” (Dan hadits yang disebutkan dalam bab tersebut adalah dijadikan dalil zindiq itu dibunuh tanpa perlu istitabah, namun pendapat ini dikorekasi dengan kenyataan bahwa telah ada di dalam sebagian jalur-jalur hadits itu bahwa Amirul Mukminin Ali radliyallahu ‘anhu telah meng-istitabah mereka sebagaimana dalam Fathul Bari dari jalur Abdullah Ibnu Syarik Al ‘Amiriy dari ayahnya, berkata: Dikatakan kepada Ali: Sesungguhnya di sini di pintu mesjid ada orang-orang yang mengklaim bahwa engkau adalah tuhan mereka, maka Ali memanggil mereka, terus ia berkata kepada mereka: “Binasalah kalian apa yang kalian katakan?” Maka mereka berkata: “Engkau adalah tuhan kami dan pencipta kami dan pemberi rizqi kami” maka Ali berkata: “Celakalah kalian, aku ini hanyalah hamba seperti kalian, aku makan seperta kalian makan dan aku minum seperti kalian minum…” Al Hafidh berkata: Isnadnya shahih).[15]

Mereka itu murtad karena apa yang mereka yakini pada Ali radliyallahu ‘anhu, dan tidak menjerumuskan mereka ke dalam hal itu kecuali kebodohan, maka mereka di-istitabah, dan istitabah itu bukanlah penegakkan hujjah yang mana orang yang meninggalkan hujjah itu dikafirkan, akan tetapi ia itu hanyalah istitabah (penyuruhan taubat) yang mana masuk di dalamnya penegakkan hujjah dalam hal seperti ini, karena sematan musyrik itu telah berlaku atas diri mereka dengan sekedar pengakuan mereka terhadap kemusyrikan yang mana mereka telah terjatuh ke dalamnya.

Kemudian ketahuilah bahwa orang-orang yang berdebat membela-bela para pelaku kemusyrikan itu setiap kali mereka mendapatkan kata istitabah, maka mereka mengatakan bahwa ia itu adalah penegakkan hujjah supaya mereka mengudzur pelakunya. Dan begitu juga dalam hadits-hadits prihal orang-orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka itu (yaitu para pembela pelaku syirik) mengatakan bahwa mereka itu diudzur dengan sebab kejahilan mereka. Sungguh sikap ini adalah kesalahan yang fatal dan penyelisihan terhadap apa yang telah ditetapkan oleh para ulama, karena hal semacam ini (yaitu penghinaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah tidak diudzur pelakunya walaupun pelakunya tidak memaksudkan penghinaan, sebagaimana yang telah dikukuhkan oleh Syaikhul Islam rahimahullah di dalam Ash Sharimul Maslul, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memaafkan mereka, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam itu memiliki hak untuk memaafkan dan menggugurkan haknya, sedangkan kita tidak memiliki hak kecuali menuntut hak beliau secara sempurna sebagaimana hal itu telah dijelaskan dan dikukuhkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Adz Dzimmah.

Catatan

Di sini wahai pembaca yang budiman saya mengingatkan engkau terhadap suatu masalah yang penting yaitu bahwa meninggalkan faraidl (syari’at-syari’at yang diwajibkan) itu bukanlah kekafiran dengan sendirinya kecuali bila disertai ilmu (pengetahuan) terhadapnya. Dan begitu juga penghalalan hal-hal yang diharamkan dan pengingkaran sebagian Sifat Allah, maka hal-hal ini adalah tergolong hal yang mana tauhid bisa sah walaupun jahil terhadap hal-hal tersebut, akan tetapi setelah mengetahui dan (setelah) penegakkan hujjah terhadapnya maka sesungguhnya orang yang menghalalkan hal yang haram itu adalah kafir seperti orang yang meninggalkan faraidl…

Adapun peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau menghina-Nya atau menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini adalah kemusyrikan dan kekafiran dengan sendirinya walaupun disertai kejahilan. Oleh sebab itu -untuk menambah penjelasan- kami tidak mengatakan bahwa Zaid Ibnu ‘Amar Ibnu Nufail itu melakukan kekafiran karena kejahilannya terhadap faraidl dan terus ia diudzur, namun yang kami katakan adalah bahwa ia itu sama sekali tidak melakukan kekafiran, karena meninggalkan faraidl itu hanyalah menjadi kekafiran dengan sampainya hal itu dan setelah mengetahuinya atau adanya tamakkun terhadapnya. Oleh sebab itu Sufyan Ibnu Uyainah rahimahullah berkata saat membantah Murjiah:

( وترك الفرائض متعمدا من غير جهل ولا عذر هو كفر)

(Dan meninggalkan faraidl secara sengaja dengan tanpa kejahilan dan tanpa udzur adalah kekafiran).[16]

Di mana beliau membatasi keberadaan meninggalkan faraidl itu sebagai kekafiran dengan adanya ilmu (pengetahuan) terhadapnya.

Vonis Murtad Kepada Orang Mu’ayyan Menurut Para Fuqaha

Syaikh Abdullah Ibnu Abdirrahman Aba Bithin rahimahullah berkata dalam jawabannya terhadap pertanyaan yang datang kepada beliau yang di antara isi pertanyaannya “apakah boleh mengkafirkan orang secara ta’yin” maka beliau menjawab:

( … إذا ارتكب شيئا من المكفرات فالأمر الذي دل عليه الكتاب والسنة وإجماع العلماء على أنه كفر ، مثل الشرك بعبادة غير الله سبحانه وتعالى ، فمن ارتكب شيئا من هذا النوع أو جنسه فهذا لا شك في كفره. ولا بأس بمن تحققت منه شيئا من ذلك أن تقول كفر فلان بهذا الفعل يبين هذا أن الفقهاء يذكرون في باب حكم المرتد أشياء كثيرة ، يصير بها المسلم كافرا ويفتتحون هذا الباب بقولهم: من أشرك بالله كفر. وحكمه أن يستتاب فإن تاب وإلا قتل ، والاستتابة إنما تكون من معين. ولما قال بعض أهل البدع عند الشافعي إن القرآن مخلوق ، قال كفرت بالله العظيم. وكلام العلماء في تكفير المعين كثير ، وأعظم أنواع الكفر الشرك بعبادة غير الله وهو كفر بإجماع المسلمين ، ولا مانع من تكفير من اتصف بذلك ، كما أن من زنى قيل فلان زان ومن رابى قيل فلان مراب )

(….Bila dia melakukan sesuatu dari mukaffirat, maka masalah yang ditunjukan oleh Al Kitab, As Sunnah dan ijma ulama adalah bahwa dosa seperti syirik dengan cara beribadah kepada yang lain bersama (peribadatan kepada) Allah adalah kekafiran. Siapa orangnya melakukan sesuatu dari macam ini dan jenisnya, maka orang ini tidak diragukan lagi kakafirannya dan tidak apa-apa bila engkau mengetahui benar bahwa perbuatan ini muncul dari seseorang, engkau mengatakan si fulan telah kafir dengan sebab perbuatan ini. Dan ini dibuktikan bahwa para fuqaha dalam bab hukum orang murtad menyebutkan banyak hal yang bisa membuat seorang muslim menjadi murtad lagi kafir, dan mereka memulai bab ini dengan ucapan mereka: Siapa yang menyekutukan Allah maka dia telah kafir dan hukumnya dia itu disuruh bertaubat, bila dia taubat, dan bila tidak maka dibunuh, sedang istitaabah (menyuruh taubat) itu hanyalah terjadi pada orang mu’ayyan. Dan tatkala sebagian ahli bid’ah mengatakan di hadapan Asy Syafi’iy, maka Asy Syafi’iy berkata: Kamu telah kafir kepada Allah Yang Maha Agung. Dan perkataan ulama tentang takfir mu’ayyan adalah banyak sekali, sedangkan macam Syirik yang terbesar ini adalah ibadah kepada selain Allah, dan itu adalah kekafiran dengan ijma kaum muslimin, dan tidak ada larangan dari mengkafirkan orang yang memiliki sifat itu, karena orang yang berzina dikatakan si fulan berzina, dan orang yang memakan riba dikatakan si fulan pemakan riba).[17]

Fatwa (4400) Dari Lajnah Daimah lil Ifta

Jawaban terhadap pertanyaan tentang udzur dengan sebab kejahilan:

( كل من آمن برسالة نبينا محمد ص وسائر ما جاء به في الشريعة ، إذا سجد بعد ذلك لغير الله من ولي وصاحب قبر أو شيخ طريق يعتبر كافرا مرتدا عن الإسلام مشركا مع الله غيره في العبادة ولو نطق بالشهادتين وقت سجوده بإتيانه لما ينقض قوله من سجوده لغير الله ، لكنه قد يعذر لجهله فلا تنزل به العقوبة حتى يعلم وتقام عليه الحجة ويمهل ثلاثة أيام إعذارا إليه ليراجع نفسه عسى أن يتوب فإن أصر على سجوده لغير الله بعد البيان قتل لردته ، لقول النبي ص ( من بدل دينه فاقتلوه ) أخرجه الإمام البخاري في صحيحه عن ابن عباس رضي الله عنهما ، فالبيان وإقامة الحجة للإعذار إليه قبل إنزال العقوبة به لا ليسمى كافرا بعد البيان ، إنما يسمى كافرا بما حدث منه ) إفتاء : عبد الله بن قعود وعبد الرزاق عفيفي وعبد العزيز بن باز.

(Setiap orang yang beriman kepada kerasulan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada semua yang beliau bawa dalam syari’at ini, bila orang itu setelah itu sujud kepada selain Allah, baik itu kepada wali atau penghuni kubur atau syaikh thariqat, maka dia itu divonis kafir murtad dari Islam lagi menyekutukan yang lain bersama Allah di dalam ibadah, walaupun dia itu mengucapkan dua kalimah syahadat di saat sujudnya itu, dengan sebab dia mendatangkan apa yang membatalkan apa yang telah dia ucapkan berupa sujud kepada selain Allah, akan tetapi kadang diudzur dengan sebab kejahilannya di mana tidak diterapkan sangsi hukuman kepadanya sampai dia mengetahui dan ditegakkan hujjah kepadanya serta diberi tenggang waktu tiga hari dalam rangka memberikan kesempatan kepadanya barangkali dia merujuk kepada dirinya dengan harapan dia bertaubat, kemudian bila dia bersikukuh terhadap sujudnya kepada selain Allah setelah ada penjelasan itu maka dia dibunuh karena kemurtaddannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia” (Dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma). Penjelasan dan penegakkan hujjah itu adalah untuk pemberian kesempatan kepadanya sebelum penerapan sangsi hukuman terhadapnya bukan untuk supaya dia dinamakan orang kafir setelah penjelasan, sungguh dia itu hanyalah dinamakan kafir dengan sebab apa yang muncul darinya). Ifta: Abdullah Ibnu Qu’ud, Abdurrazzaq ‘Afifiy dan Abdul ‘Aziz Ibnu Baz.[18]

Ini adalah dibangun di atas jarangnya keberadaan perlakuan sujud untuk selain ibadah, sehingga pemalingan sujud (ibadah) ini kepada yang diibadati selain Allah adalah syirik kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan wali dan syaikh thariqat itu adalah diibadati manusia. Beda halnya bila sujud itu dilakukan oleh manusia dalam rangka tahiyyah (penghormatan) dan ikraam, maka sujud semacam ini adalah tergolong hal yang muhtamal, sehingga pelakunya tidak dikafirkan sampai diketahui bahwa dia memaksudkan sujud ibadah dengannya.

Dan akan datang pembicaraan tentang masalah ini saat berbicara tentang hadits Mu’adz radliyallahu ‘anhu dan bantahan terhadap orang-orang yang meletakkan ucapan Asy Syaukaniy rahimahullah bukan pada tempatnya.

Bersambung….

Baca juga artikel terkait lainnya:

–> Menanggapi Syubhat Yang Disebarkan arrahmah.com Yang Menetapkan Status Keislaman PARA THAGHUT DAN ANSHARNYA
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 2)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 3)
–> Mawani’ Takfier yang Dianggap (Bagian 4)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 5)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 6)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 7)

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 8)

[1] At Tauqif ‘Ala Muhimmatit Ta’rif hal 176.

[2] Fatawa Assubkiy 2/586.

[3] Anwarul Buruq Fi Anwa’ul Furuq 1/224.

[4] Mukhtashar Khalil Ibni Ishaq hal: 281.

[5] Ma’unatu Ulin Nuha Syarhun Muntaha 8/541.

[6] Ma’unatu Ulin Nuha 8/546.

[7] Badaiush Shanai Fi Tartibisy Syarai 7/134.

[8] Tathhirul I’tiqad ‘An Adranil Ilhad hal 30.

[9] Ad Dawaul ‘Ajil hal 14.

[10] Fathul Qadir hal: 719

[11] Kifayatul Akhyar 2/123.

[12] Al Fiqhu ‘Alal Madzahib Al Arba’ah – Abdurrahman Al Juzairiy – 5/374-375.

[13] Ad Durr An Nadlid hal 43.

[14] Fathul Bari 12/281.

[15] Nailul Authar 9/57.

[16] Kitab Assunnah milik Abdullah Ibnu Ahmad 1/347-348.

[17] Ad Durar Assaniyyah 10/416-417.

[18] Fatawa Allajnah Addaimah 1/220.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: