Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1) » Mawani’ Takfier yang Dianggap (Bagian 4)

Mawani’ Takfier yang Dianggap (Bagian 4)


Pembagian Dien Menjadi Ushul Dan Furu’ Serta Kaitannya Dengan Penerapan Hukum Kepada Orang Mu’ayyan

(1) Pembagian Dien

(2) Penjelasan Hal Yang Mana Kejahilan Lapang Di Dalamnya Dari Urusan-Urusan Dien Ini

(3) Penjelasan Hal Yang Mana Kejahilan Tidak Lapang Di Dalamnya Dari Urusan-Urusan Dien Ini

(4) Kesepakatan Di Dalam Ushul

(5) Penerapan Hukum Kepada Orang Mu’ayyan

(6) Masalah-Masalah Dhahirah Dan Masalah-Masalah Khafiyyah

—————————-
(1) Pembagian Dien

Al Imam Muhammad Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah berkata: (Pembahasan tentang makna-makna yang (dengannya) diketahui hakikat hal-hal yang maklum (diketahui umum) dari urusan dien ini, dan permasalahan yang mana kejahilan terhadapnya adalah terdapat kelapangan di dalamnya dari urusan dien ini dan permasalahan yang tidak ada kelapangan bagi kejahilan terhadapnya dari urusan itu, serta permasalahan yang mana mujtahid (orang yang ijtihad) yang mencari (kebenaran) diudzur dengan sebab khatha’ (kekeliruan) di dalamnya dan permasalahan yang tidak diudzur di dalamnya dengan sebab khatha’ itu: Ketahuilah –semoga Allah merahmati kalian– bahwa setiap yang diketahui oleh manusia dari urusan dien dan dunia itu tidaklah keluar dari salah satu dari dua makna:

Bisa jadi ia itu maklum (diketahui) oleh mereka dengan penjangkauan indera-indera mereka terhadapnya.
Dan bisa jadi ia itu maklum oleh mereka dengan cara berdalil terhadapnya dengan apa yang dijangkau oleh indera-indera mereka.

Kemudian semua urusan yang mana Allah menguji hamba-hamba-Nya dengannya tidaklah melampau dua makna: Pertama: Tauhidullah dan Keadilan-Nya, sedangkan yang satu lagi adalah: Syari’at-syari’at-Nya yang Dia syari’atkan bagi makhluk-Nya berupa halal, haram, putusan-putusan dan hukum-hukum.
Adapun tauhidullah dan keadilan-Nya, maka ia itu dicapai hakikat ilmunya dengan cara berdalil dengan apa yang dijangkau oleh indera.
Adapun syari’at-syari’at-Nya, maka ia itu dicapai hakikat ilmu sebagiannya secara indera dengan pendengaran dan ilmu sebagiannya dengan cara berdalil dengan apa yang dijangkau oleh indera pendengaran.

Kemudian pembahasan prihal masalah yang diketahui hakikat ilmunya darinya dengan cara berdalil adalah ada dua macam:

Pertama: Diudzur di dalamnya dengan sebab khatha’ (keliru), dan orang yang keliru di dalamnya adalah mendapatkan pahala atas ijtihad, penelitian dan pencariannya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

( من اجتهد فأصاب فله أجران ومن اجتهد فأخطأ فله أجر )

”Barangsiapa yang berijtihad kemudian menepati kebenaran, maka baginya dua pahala, dan barangsiapa berijtihad kemudian dia keliru, maka baginya satu pahala.”[1]

Kekeliruan macam itu adalah disebabkan karena dalil-dalil yang menunjukan terhadap pendapat yang benar di dalamnya adalah berselisih lagi tidak menyatu, dan pokok-pokok di dalam penunjukan terhadanya adalah terpisah-pisah lagi tidak sepakat. Walaupun memang tidak mungkin kosong dari dalil yang menunjukan terhadap pendapat yang benar di dalamnya. Terus dia memisahkan antara dalil semacam itu dengan dalil yang cacat darinya, namun sebagiannya tersamar dengan kesamaran yang terselubung atas banyak para pencarinya dan terkabur atas banyak orang yang menginginkannya.

Dan yang kedua darinya: adalah tidak diudzur dengan sebab khatha’ (kekeliruan) di dalamnya orang mukallaf yang telah sampai batasan perintah dan larangan, dan orang yang jahil terhadapnya dikafirkan. Itu adalah hal-hal yang mana dalil-dalil yang menunjukan terhadap keshahihannya adalah sepakat lagi tidak bertentangan, sejalan lagi tidak berselisih, dan ia disamping itu adalah nampak bagi indera).[2]

Perhatikanlah –semoga Allah membimbing engkau kepada apa yang dicintai dan diridlai-Nya– pembagian yang jeli dan perincian yang jelas dari Al Imam Al Muhaddits Syaikhul Mufassirin ini. Dan sungguh sangat disayangkan bahwa pembagian dien serta pemberlakuan hukum-hukumnya sesuai dengan pembagiannya kepada ushul dan furu’ adalah telah dianggap bid’ah oleh sebagian para du’at zaman sekarang tanpa dalil, sehingga mereka berdusta atas Nama Allah tanpa dasar ilmu padahal merekalah yang buruk pemahaman.

(2) Penjelasan Hal Yang Mana Kejahilan Lapang Di Dalamnya Dari Urusan-Urusan Dien Ini

Kemudian masalah semakin bertambah jelas dengan ucapan beliau rahimahullah dalam menyebutkan urusan yang mana lapang bagi seseorang untuk jahil terhadapnya dari urusan dien ini: (Dan adapun apa yang dijangkau hakikat ilmunya darinya secara indera, maka ia itu tidak wajib atas setiap orang kecuali setelah ia terbukti berada di bawah inderanya. Adapun bila belum terbukti ada di bawah inderanya, maka tidak ada jalan baginya untuk mengetahuinya, dan bila dia tidak ada jalan baginya untuk mengetahuinya, maka tidak boleh membebaninya dengan kewajiban pengamalannya di saat pengetahuan terhadapnya tidak ada. Itu dikarenakan orang yang belum sampai kepadanya kabar bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus Rasul yang memerintahkan manusia untuk mendirikan shalat lima waktu dalam sehari semalam, adalah tidak boleh diadzab karen sebab dia meninggalkan shalat lima waktu itu, karena hal itu adalah tergolong urusan (perintah) yang tidak bisa diketahui kecuali dengan mendengar, sedangkan orang yang belum mendengar hal itu dan belum sampai kepadanya hal tersebut, maka hujjah belum mengikatnya, namun yang sudah terikat dengan kewajibannya itu hanyalah orang yang sudah terbukti hujjah tegak kepadanya).[3]
(3) Penjelasan Hal Yang Mana Kejahilan Tidak Lapang Di Dalamnya Dari Urusan-Urusan Dien Ini

Kemudian beliau rahimahullah berkata dalam ucapan yang tegas lagi jelas sejelas matahari di siang bolong prihal tidak adanya udzur dengan sebab kejahilan di dalam tauhid: (Adapun hal yang tidak boleh jahil terhadapnya dari dienullah bagi orang yang di dalam hatinya tergolong ahli taklif karena adanya dalil-dalil yang dilalah (indikasi/penunjukan) terhadapnya disepakati lagi tidak diperselisihkan, yang jelas lagi tidak samar atas indera, maka ia itu adalah pen-Tauhidan Allah ta’ala, pengetahuan terhadap Asma, Shifat dan Keadilan-Nya. Itu dikarenakan bahwa setiap orang yang telah sampai batasan taklif dari kalangan orang-orang sehat dan normal, maka dia tidak akan kehilangan satu dalil-pun dan satu bukti yang nyata-pun yang menunjukannya kepada keesaan Rabb-Nya Jalla Tsana-uhu dan menjelaskan baginya hakikat kebenaran hal itu, oleh sebab itu Allah ta’ala tidak mengudzur seorangpun dengan sebab kejahilan terhadap sifat-Nya yang mana Dia disifati dengannya dan (dengan sebab kejahilan) terhadap Asma-Nya, dan justeru Allah menggolongkan dia bila mati di atas kejahilan terhadap-Nya dengan barisan orang-orang yang membangkang dan menentang-Nya setelah mereka mengetahui-Nya dan mengetahui Rububiyyah-Nya di dalam hukum-hukum dunia dan adzab akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿ قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا * أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا ﴾

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Al Kahfi: 103-105)

Di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyamakan antara orang yang beramal di atas selain apa yang diridlai-Nya yang menduga bahwa dia dalam amalannya itu melakukan apa yang mendatangkan ridla-Nya, di dalam penamaannya di dunia dengan nama musuh-musuh-Nya yang membangkang kepada-Nya lagi mengingkari Rububiyyah-Nya padahal mereka mengetahui bahwa Dia adalah Rabb mereka. Dan Dia menggabungkan dia dengan mereka di akhirat dalam sangsi dan adzab. Itu disebabkan karena apa yang telah kami jelaskan, yaitu samanya orang yang berijtihad yang keliru di dalam Ke-Esaan-Nya, Asma-Nya, Sifat-Nya dan Keadilan-Nya dengan orang yang membangkang di dalam hal itu, karena nampaknya dalil-dalil yang menunjukan yang sejalan lagi tidak berbenturan dengan indera mereka berdua dari dalil-dalil dan hujjah-hujjah (yang ada), sehingga wajiblah menyamakan di antara kedua macam orang itu dalam hal adzab dan sangsi. Dan status hukum (orang yang jahil terhadap) hal itu adalah berbeda dengan status hukum orang yang jahil terhadap syari’at).[4]
(4) Kesepakatan Di Dalam Ushul

Syaikhul Islam berkata: (Para rasul itu sepakat dalam dien yang mengumpulkan ushul (pokok-pokok) i’tiqadiyyah dan amaliyyah, di mana i’tiqadiyyah adalah seperti iman kepada Allah, para rasul-Nya dan hari akhir, sedangkan ‘amaliyyah adalah seperti amalan-amalan yang umum yang disebutkan di dalam surat Al An’am dan Al A’raf).[5]

Para ulama sepakat bahwa al haq (kebenaran) di dalam Ushuluddien itu adalah satu yang barangsiapa tidak menepatinya maka dia itu berdosa, baik dalam masalah ushul yang masih bisa menjadi ajang takwil maupun yang tidak.

Dan telah lalu di hadapan kita ucapan Ibnu Jarir rahimahullah prihal orang yang keliru dalam Tauhidullah, yaitu bahwa dia itu tidak diudzur, dan akan datang ucapannya prihal orang yang keliru dalam masalah ushul yang masih bisa menjadi ajang takwil. Dan di sini saya akan utarakan apa yang dituturkan Al Qadli ‘Iyadl dalam bantahannya terhadap Al ‘Anbari yang menganggap benar semua pendapat orang-orang yang berijtihad di dalam ushuluddin yang masih bisa menjadi ajang takwil, Al Qadli ‘Iyadl berkata:

( وفارق في ذلك فرق الأمة إذ أجمعوا سواه على أن الحق في أصول الدين واحد والمخطئ فيه آثم عاص فاسق وإنما الخلاف في تكفيره)

(Dan dia menyelisihi semua firqah umat ini, karena semuanya selain dia telah ijma bahwa al haq (kebenaran) di dalam ushuluddien itu adalah satu, sedangkan orang yang keliru di dalamnya adalah berdosa lagi maksiat lagi fasiq, namun yang diperselisihkan hanyalah masalah pengkafirannya).[6]

Oleh sebab itu orang yang menyelisihi di dalam permasalahan ushul ini adalah mubtadi’ (ahli bid’ah) yang tidak sama dengan orang yang menyelisihi di dalam permasalahan furu’. Al Baghawi berkata saat berbicara prihal penghajran ahli bid’ah:

( هذا الهجران والتبري والمعاداة لأهل البدع المخالفين في الأصول أما الاختلاف في الفروع بين العلماء فاختلاف رحمة أراد الله ألا يكون على المؤمنين حرج في الدين فذلك لا يوجب الهجران والقطيعة)

(Penghajran, keberlepasan dan permusuhan ini adalah terhadap ahli bid’ah yang menyelisihi di dalam permasalahan ushul, adapun perselisihan di dalam permasalahan furu’ di antara ulama, maka perselisihan rahmat yang mana Allah menginginkan agar tidak adanya kesulitan di dalam dien ini atas kaum mukminin, maka hal itu tidak mengharuskan adanya penghajran dan pemutusan hubungan).[7]

Dan akan datang tambahan penjelasan untuk masalah ini dalam pembicaraan tentang takwil dengan izin Allah.

Dien Itu Ada Ushul Dan Furu’

Ini tidak diingkari kecuali oleh orang jahil (bodoh) atau mukabir (orang yang mengingkari hal yang nyata di depan mata), dan tidak menampakkan selain itu kecuali orang yang melakukan takwil yang mana orang-orang jahil tidak mengetahui maksudnya, terus mereka malah mencari kesesatan dan meniti jalan taqlid.

Dan telah lalu di hadapan kita pembagian Ibnu Jarir rahimahullah, dan begitu juga apa yang dilakukan oleh para ulama seluruhnya. Dan mana mungkin diketahui bidang lapangan ijtihad tanpa pembagian dien ini kepada ushul dan furu’?

Dan apakah mungkin menyamakan hal yang mana keimanan tidak sah kecuali dengannya dengan hal-hal yang merupakan kesempurnaan-kesempurnaannya? Dan bukankah tidak ada satu kitab Ushul Fiqh pun melainkan di dalamnya ada pembagian dien ini kepada dua bagian ini (yaitu ushul dan furu’)?

Pokok iman adalah tauhid, sedangkan pokok tauhid adalah peribadatan kepada Allah saja dan sikaf kufur terhadap segala yang diibadati selain-Nya. Sedangkan batasan bakunya; bahwa ia adalah suatu yang mana seseorang menjadi muslim dengannya walaupun dia jahil kepada selain hal itu, yang mana hal selain hal pokok ini seseorang tidak menjadi muslim walaupun dia melakukan semuanya selagi dia tidak merealisasikan hal pokok itu yang merupakan pokok dari segala pokok.

Syaikhul Islam berkata:

( التوحيد أصل الإيمان وهو الكلام الفارق بين أهل الجنة وأهل النار وهو ثمن الجنة ولا يصح إسلام أحد إلا به )

(Tauhid adalah inti keimanan dan ia adalah ucapan yang memisahkan antara ahli surga dengan ahli neraka, dan ia adalah harga pembayaran surga, serta keislaman siapapun tidak sah kecuali dengannya).[8]

Dan beliau rahimahullah berkata:

( والدين القائم بالقلب من الإيمان علما وحالا هو الأصل والأعمال الظاهرة هي الفروع وهي كمال الإيمان فالدين أول ما يبنى من أصول ويكمل بفروعه كما أنزل الله بمكة أصوله من التوحيد والأمثال التي هي المقاييس العقلية والقصص والوعد والوعيد ثم أنزل بالمدينة لما صار له قوة فروعه الظاهرة من الجمعة والجماعة.. فأصوله تمد فروعه وتثبتها وفروعه تكمل أصوله وتحفظها )

(Dien yang tegak di dalam hati berupa keimanan baik keilmuan dan keadaan (amalan) adalah al ashlu (hal pokok/inti), sedangkan amalan dhahir adalah furu’ (cabang-cabang) dan ia itu adalah kesempurnaan iman. Sedangkan dien itu pertama kali dibangun adalah dari ushul (hal-hal pokok) dan disempurnakan dengan furu’nya, sebagaimana Allah menurunkan di Mekkah ushulnya berupa tauhid dan perumpamaan-perumpamaan yang merupakan tolak ukur yang bersifat akal, kisah-kisah, janji dan ancaman, kemudian tatkala dien sudah memiliki kekuatan Dia menurunkan di Madinah furu’nya yang dhahirah berupa Jum’at dan jama’ah…. Jadi ushulnya menopang furu’nya dan mengokohkannya, sedangkan furu’nya menyempurnakan ushulnya dan melindunginya).[9]

Tidak Diajak Kepada Furu’ Orang Yang Tidak Mengakui Al Ashlu (Hal Pokok)

Ibnu Taimiyyah berkata:

( وأصل الإسلام أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، فمن طلب بعبادته الرياء والسمعة فلم يحقق شهادة ألا إله إلا الله ومن خرج عما أمر به الرسول من الشريعة وتعبد بالبدعة فلم يحقق شهادة أن محمدا رسول الله. وإنما يحقق هذين الأصلين من لم يعبد إلا الله ولم يخرج عن شريعة رسول الله صلى الله عليه وسلم التي بلغها عن الله )

(Ashlul Islam (pokok Islam) adalah syahadat Laa ilaaha Illallaah wa anna Muhammad Rasulullah, barangsiapa mencari riya dan sum’ah dengan ibadahnya, maka dia itu tidak merealisasikan syahadat Laa ilaaha illallaah, dan barangsiapa keluar dari apa yang diperintahkan Rasul berupa syari’at ini dan dia malah beribadah dengan bid’ah, maka dia itu tidak merealisasikan syahadat Muhammad Rasulullah. Sedangkan yang merealisasikan dua hal pokok ini hanyalah orang yang tidak beribadah kecuali kepada Allah dan tidak keluar dari syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau sampaikan dari Allah).[10]

Dan berkata:

( فالدعوة إلى الله تكون بدعوة العبد إلى دينه، وأصل ذلك عبادته وحده لا شريك له كما بعث الله بذلك رسله وأنزل كتبه) إلى أن قال ( فالرسل متفقون في الدين الجامع للأصول الاعتقادية والعملية فالاعتقادية كالإيمان بالله وبرسله وباليوم الآخر والعملية كالأعمال العامة المذكورة في الأنعام والأعراف) إلى أن قال ( ولهذا كان الخطاب في السور المكية ( يأيها الناس) لعموم الدعوة إلى الأصول، إذ لا يدعى إلى الفروع من لا يقر بالأصل )

(Dakwah ilallah itu adalah dengan mendakwahi orang kepada dien-Nya, sedangkan ashl (pokok dien) itu adalah beribadah kepada-Nya saja lagi tidak ada sekutu bagi-Nya sebagaimana Allah telah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya dengan hal itu) sampai beliau berkata: (Para rasul itu sepakat dalam dien yang mengumpulkan ushul (pokok-pokok) i’tiqadiyyah dan amaliyyah, di mana i’tiqadiyyah adalah seperti iman kepada Allah, para rasul-Nya dan hari akhir, sedangkan ‘amaliyyah adalah seperti amalan-amalan yang umum yang disebutkan di dalam surat Al An’am dan Al A’raf) sampai berkata: (Oleh sebab itu khithab di dalam surat-surat Makkiyyah adalah (wahai manusia) karena keumuman dakwah kepada ushul, karena tidak diajak kepada furu’ orang yang tidak mengakui ashl (hal inti).[11]

Perhatikanlah wahai saudara seiman dengan mata keobyektifan ucapan beliau tentang ushuluddien dan tentang hal paling inti dari ushul ini yang mana ia adalah peribadatan kepada Allah saja lagi tidak ada sekutu baginya, yang mana orang tidak didakwahi kepada selainnya dari hal ushul itu sebelum dia merealisasikannya, apalagi hal furu’.

Dan di antara yang menguatkan hal ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz Ibnu Jabal Ke Yaman dan berkata kepadanya:

( إنك ستأتي قوما أهل كتاب فإذا جئتهم فادعهم إلى أن يشهدوا ألا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فإن هم أطاعوا لذلك.. الحديث )

”Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum ahli kitab, bila kamu telah datang kepada mereka, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadati selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian bila mereka telah mentaati hal itu…..”[12]

Syaikh Abdurrahman Assa’diy berkata prihal tauhid ibadah:

( أعظم الأصول التي يقررها القرآن ويبرهن عليها توحيد الألوهية والعبادة وهذا الأصل العظيم أعظم الأصول على الإطلاق وأكملها وأفضلها وأوجبها وألزمها لصالح الإنسانية )

(Ushul terbesar yang ditetapkan dan diberikan bukti dalil oleh Al Qur’an adalah tauhid uluhiyyah dan ibadah, dan pokok yang besar ini adalah ushul paling besar secara muthlaq, paling sempurna, paling utama dan paling wajib serta paling pasti bagi kebaikan insaniyyah).[13]

Dan berkata juga:

( وهو الذي خلق الله الخلق لأجله وشرع الجهاد لإقامته وجعل الثواب الدنيوي والأخروي لمن قام به وحققه والعقاب لمن تركه ، وبه يحصل الفرق بين أهل السعادة القائمين به، وأهل الشقاوة التاركين له ، فعلى المرء أن يبذل جهده في معرفته وتحقيقه والتحقق به ويعرف حده وتفسيره، ويعرف حكمه ومرتبته ويعرف آثاره ومقتضياته وشواهده وأدلته وما يقويه وينميه وما ينقضه أو ينقصه لأنه الأصل الأصيل لا تصح الأصول إلا به فكيف بالفروع؟ )

(Ia adalah hal yang mana Allah telah menciptakan semua makhluk untuk merealisasikannya, dan Dia telah mensyari’atkan jihad untuk penegakkannya, dan Dia telah menjadikan pahala duniawi dan ukhrawiy bagi orang yang menegakkannya dan merealisasikannya serta menjadikan siksa bagi orang yang meninggalkannya, dan dengannya terjadi pemilahan antara orang-orang yang bahagia yang menegakkannya dengan orang-orang yang binasa yang meninggalkannya. Sehingga wajib atas manusia untuk mengerahkan segenap usahanya dalam mengetahuinya, merealisasikannya, memastikannya, mengetahui batasannya dan tafsirnya, dan mengetahui hukumnya dan kedudukannya, serta mengetahui pengaruh-pengaruhnya, konsekuensi-konsekuensinya, bukti-buktinya dan dalil-dalilnya, serta apa yang menguatkannya dan menumbuhkannya, dan juga mengetahui apa yang membatalkanya atau menguranginya, karena ia adalah al ashlul ashil (pokok yang paling inti) yang mana unshul tidak sah kecuali dengannya, maka bagaimana gerangan dengan furu’?)[14]

Kesalahan Orang Yang Mengklaim Bahwa Pembagian Dien Kepada Ushul Dan Furu’ Adalah Bid’ah

Sebagian orang yang mengedepankan taqlid dan tidak memberikan perhatian kepada sikap penelitian yang cermat telah berpegang kepada suatu ungkapan potongan milik Syaikhul Islam dalam bantahan beliau kepada firqah-firqah yang sesat yang membangun paham-pahamnya di atas ushul dan furu’ yang bersumber dari akal semata dan membangun di atas penyelisihan terhadap paham-paham mereka itu hukum-hukum yang beraneka ragam. Maka Syaikhul Islam menyebutkan bahwa pembagian itu di atas model seperti itu adalah bid’ah, dan tidak ada keraguan lagi dala hal itu. Adapun klaim bahwa dien yang dibawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu tidak terbagi kepada ushul dan furu’, maka klaim ini tidak dilontarkan oleh orang yang telah mencicipi rasa ilmu atau telah diberikan bagian terkecil dari pemahaman. Syaikhul Islam ini telah berbicara tentang ushul dan furu’ yang diletakkan oleh ahlul ahwa (bid’ah) seraya menyelisihi apa yang dibawa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana tidak ada satu firqah pun melainkan dia itu memiliki ushul yang mana keislaman seseorang digantungkan kepada perealisasian ushul yang mereka klaim itu, sedangkan furu’ adalah di bawah itu. Barangsiapa mengambil ucapan Syaikhul Islam dari awal sampai akhir tentu ia memahami hal itu. Di mana Syaikhul Islam telah menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya, yang isinya: Apakah boleh ikut terjun di dalam apa yang diperbincangkan oleh manusia berupa permasalahan-permasalahan di dalam ushuluddien yang tidak pernah ada penjelasan dari penghulu kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah tidak boleh?

Bila dikatakan boleh: Maka apa ia itu? Maka beliau rahimahullah menjawab:

(Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘Alamin (Adapun masalah pertama) maka ucapan penanya apakah boleh ikut terjun di dalam apa yang diperbincangkan oleh manusia berupa permasalahan-permasalahan di dalam ushuluddien yang tidak pernah ada penjelasan dari penghulu kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah tidak boleh? Pertanyaan yang muncul sesuai apa yang ia ketahui dari realita ajaran-ajaran bid’ah yang bathil itu.

Sesungguhnya permasalahan-permasalahan yang tergolong Ushuluddien yang berhak untuk dikatakan sebagai Ushuluddien, yaitu dein yang mana Allah telah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan Kitab-Nya dengan membawa hal itu adalah tidak boleh dikatakan bahwa penjelasan di dalamnya tidak pernah ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ini adalah ucapan yang kontradiksi padanya, karena keberadaannya sebagai bagian dari Ushuluddien adalah mengharuskan keberadaannya sebagai bagian paling penting dari urusan dien ini dan bahwa ia tergolong hal yang dibutuhkan di dalam dein ini.

Kemudian peniadaan penjelasan di dalamnya dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengharuskan dua hal:

Yaitu bisa jadi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menelantarkan urusan-urusan yang penting yang dibutuhkan oleh dien dan beliau tidak menjelaskannya atau beliau telah menjelaskannya namun umat tidak menukilnya. Sedangkan kedua kemungkinan ini adalah bathil secara pasti, dan (kemungkinan-kemungkinan semacam itu) adalah tergolong peluang hujatan terbesar kaum munafiqin kepada dien ini. Kemungkinan ini dan yang semacamnya hanyalah diduga oleh oleh orang yang jahil terhadap hakikat-hakikat apa yang dibawa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau jahil terhadap apa yang dipahami manusia dengan hati mereka, atau jahil kepada keduanya secara bersamaan. Di mana kejahilan dia terhadap yang pertama adalah mengharuskan ketidaktahuannya terhadap apa yang dicakup oleh ajaran Rasul itu berupa Ushuluddien dan Furu’nya, sedangkan kejahilannya terhadap yang kedua adalah mengharuskan dia untuk memasukan ke dalam al haqaiq al ma’qulah (hakikat-hakikat yang dipahami secara akal) apa yang dia dan orang-orang semacam dia namakan sebagai ‘aqliyyat (hal-hal yang rasional), padahal ia itu sebenarnya adalah jahliyyat (hal-hal kebodohan). Dan sedangkan kejahilannya terhadap kedua hal itu secara bersamaan adalah mengharuskan dia untuk mengira termasuk ushuluddien sesuatu yang bukan bagian darinya berupa permasalahan-permasalahan dan sarana-sarana yang bathil, dan mengira bahwa Rasul tidak menjelaskan apa yang semestinya diyakini di dalam hal itu, sebagaimana itu adalah realita kelompok-kelompok dari berbagai macam ragam manusia baik kalangan cendikiawan mereka apalagi kalangan awamnya…. padahal segala apa yang dibutuhkan manusia untuk diketahuinya, diyakininya dan dibenarkannya dari permasalahan-permasalahan ini adalah telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan penjelasan yang memuaskan lagi memutus udzur, karena ini adalah tergolong hal terbesar yang disampaikan Rasul dengan penyampaian yang jelas dan telah dijelaskannya kepada manusia. Dan ia adalah tergolong hal terbesar yang mana Allah telah menegakkan hujjah dengannya kepada hamba-hamba-Nya di dalamnya dengan para rasul yang telah menjelaskannya dan menyampaikannya.

Dan yang menjadi tujuan hanyalah mengingatkan bahwa di dalam Al Qur’an dan Al Hikmah An Nabawiyyah itu terdapat semua Ushuluddien dari berbagai permasalahan dan dalil-dalil yang berhak untuk menjadi Ushuluddien. Dan adapun apa yang dimasukan oleh sebagian manusia ke dalam sebutan ini berupa kebathilan, maka ia itu sama sekali bukan termasuk Ushuluddien walaupun orang itu memasukannya ke dalamnya, seperti permasalahan-permasalahan dan dalil-dalil yang rusak, seperti penafian Shifat, qadar dan permasalahan-permasalahan semacam itu).[15]
(5) Penerapan Hukum Kepada Orang Mu’ayyan

Bahaya Takfier Tanpa Hak

Sesungguhnya termasuk hal yang tidak ada keraguan di dalamnya adalah bahwa di antara bahaya lisan terbesar adalah pelontaran takfier tanpa hak, karena mengkafirkan orang muslim itu adalah seperti membunuhnya. Dan masalahnya tidak berhenti pada besarnya dosa si pelaku, akan tetapi ia memiliki konsekuensi-konsekuensi bahaya di atasnya serta membuka dari pintu-pintu fitnah apa yang menjadikan orang mukmin tidak berani melakukan takfier secara muthlaq kecuali dengan dalil-dalil yang tegas dan hujjah-hujjah yang terang.

Al ‘Allamah Asy Syaukaniy rahimahullah berkata: (Ketahuilah bahwa memvonis orang muslim dengan vonis keluar dari dienul Islam dan masuk dalam kekafiran adalah tidak layak dilakukan oleh orang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir kecuali dengan dalil yang lebih terang dari matahari di siang bolong, karena sesungguhnya telah ada di dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan dari jalur banyak sahabat bahwa “Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya wahai kafir, maka tuduhan itu telah kembali kepada salah satu dari keduanya” begitu di dalam Shahih Al Bukhari, dan di dalam lafadh lain dalam Ash Shahihain dan yang lainnya[16] “Barangsiapa memanggil seseorang dengan sematan kafir atau mengatakan (wahai) musuh Allah, sedangkan dia itu tidak seperti itu, melainkan tuduhan itu kembali kepadnya” dan di dalam satu lafadh dalam Ash Shahih “maka telah kafir salah satunya” maka di dalam hadits dan hadits-hadits yang semakna dengannya terdapat penjeraan yang paling dasyat dan peringatan yang paling besar dari ketergesa-gesaan di dalam mengkafirkan).[17]

Kesalahan Orang Yang Menghati-Hatikan Dari Takfier Secara Muthlaq

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di sela-sela penuturan beliau terhadap beberapa faidah fiqh yang ada dalam perang Futuh Mekkah:

( وفيها أن الرجل إذا نسب المسلم إلى النفاق والكفر متأولا وغضبا لله ورسوله ودينه لا لهواه وحظه فإنه لا يكفر بذلك. بل لا يأثم ، بل يثاب على نيته وقصده. وهذا بخلاف أهل الأهواء والبدع، فإنهم يكفرون ويبدعون لمخالفة أهوائهم وبدعهم ونحلهم وهم أولى بذلك ممن كفروه وبدعوه)

(Dan di dalamnya terdapat faidah bahwa seseorang bila mencap munafiq atau kafir seorang muslim karena takwil dan marah karena Allah dan Rasul-Nya serta dien-Nya bukan karena hawa nafsu dan kepentingannya, maka dia itu tidak kafir dengan sebab itu, bahkan tidak berdosa, bahkan diberikan pahala atas niat dan maksudnya. Ini berbeda dengan Ahlul Ahwa wal Bida’, di mana sesungguhnya mereka itu mengkafirkan dan memvonis bid’ah (orang lain) karena menyelisihi keinginan mereka, bid’ah mereka dan paham mereka, padahal mereka itu adalah lebih utama dengan vonis itu daripada orang yang mereka kafirkan dan mereka vonis bid’ah).[18]

Ini adalah tergolong hal yang menggugurkan pernyataan orang-orang yang menghati-hatikan dari takfier secara total, hatta walaupun bukti dalil orang yang divonis kafir itu adalah seterang matahari di siang bolong, di mana orang-orang itu mengatakan “apa yang kalian petik dari takfier itu dan apa yang ditimbulkan di atas hal itu?”

Syaikh Abdullah Ibnu Abdirrahman Abu Bithin rahimahullah berkata:

( ومن العجب أن بعض الناس إذا سمع من يتكلم في معنى هذه الكلمة نفيا وإثباتا عاب ذلك ، وقال: لسنا مكلفين بالناس والقول فيهم، فيقال له بل أنت مكلف بمعرفة التوحيد الذي خلق الله الجن والإنس لأجله، وأرسل جميع الرسل يدعون إليه، ومعرفة ضده وهو الشرك الذي لا يُغفر ولا عذر لمكلف في الجهل بذلك ، ولا يجوز فيه التقليد لأنه أصل الأصول فمن لم يعرف المعروف ويُنكر المنكر فهو هالك، لا سيما أعظم المعروف وهو التوحيد وأكبر المنكرات وهو الشرك)

(Dan termasuk yang mengherankan adalah bahwa sebagian orang bila mendengar orang yang berbicara prihal makna kalimat (laa ilaaha illallaah) ini yang berisi penafian dan itsbat (penetapan), maka dia mencelanya dan malah berkata: Kami tidak diperintahkan untuk menilai manusia dan menjelaskan status mereka. Maka dikatakan kepadanya: Justeru kamu diwajibkan untuk memahami tauhid yang merupakan tujuan Allah dari menciptakan jin dan manusia dan yang mana semua rasul mengajak kepadanya, dan diwajibkan juga mengetahui lawannya yaitu syirik yang merupakan dosa yang tidak diampuni dan tidak ada udzur bagi mukallaf dalam kebodohan terhadapnya serta tidak boleh taqlid di dalamnya, karena ia adalah ashlul ushul (pokok dari segala pokok). Barangsiapa tidak mengenal hal ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran, maka dia itu binasa, apalagi hal ma’ruf terbesar yaitu tauhid dan hal mungkar terbesar yaitu syirik).”[19]

Maka cukuplah bagi seseorang dia itu bersikap teliti dalam mencari al haq, bersikap ikhlash dan jujur di dalam menerapkan hukum kepada orang yang berhak mendapatkannya, kemudian bila dia menepati kebenaran, maka itulah yang diharapkan, dan bila keliru maka dia itu diudzur, bahkan dia itu mendapatkan pahala atas niat dan maksudnya, sebagaimana yang telah lalu dari Ibnul Qayyim rahimahullah.

Hati-Hati Di Dalam Hal Yang Diperselisihkan

Al ‘Allamah Abu Bithin berkata: (Apa yang diperselisihkan oleh para ulama apakah itu kekafiran atau bukan, maka kehati-hatian di dalam dien ini adalah tawaqquf dan tidak memberanikan diri terhadapnya selagi di dalam masalah ini tidak ada nash yang sharih dari Al Ma’shum shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaithan telah mentergelincirkan mayoritas manusia di dalam masalah ini, di mana sebagian kelompok telah berbuat taqshir (teledor/pengenteng-entengan) di mana mereka menghukumi keislaman orang yang mana nash-nash Al Kitab, Assunnah dan ijma telah menunjukan terhadap kekafirannya, sedangkan pihak lain telah melampaui batas di mana mereka mengkafirkan orang yang mana nash-nash Al Kitab, Assunnah dan ijma telah menghukumi bahwa dia itu muslim).[20]

Kufur Nau’ Dan Kufur Mu’ayyan

Ini adalah masalah paling penting di dalam bahasan ini dan disekitar itulah terjadi pertentangan, di mana satu kelompok telah keliru di mana ia mengatakan bahwa kufur nau’ itu tidak mengharuskan adanya takfir mu’ayyan secara muthlaq, sedangkan pihak lain telah keliru juga di mana ia mengatakan bahwa setiap orang yang jatuh ke dalam kekafiran itu adalah kafir secara ta’yin walaupun apa saja bentuk kekafirannya. Sedangkan yang benar adalah adanya perincian yang dibangun di atas apa yang telah kami utarakan di dalam pendahuluan-pendahuluan tadi prihal apa yang berkaitan dengan Ushuluddien dan Furu’nya.

Di mana sesungguhnya orang yang menggugurkan Ashluddien dengan kejahilan atau takwil atau melakukan permasalahan-permasalahan kekafiran yang nampak, maka tidak boleh tawaqquf dari mengkafirkannya secara ta’yin. Berbeda halnya dengan permasalahan-permasalahan di bawah itu berupa furu’ (cabang-cabang) dien dan al masail al khafiyyah (permasalahan yang khafiy/samar), maka orang mu’ayyan tidak dikafirkan di dalamnya sehingga memenuhi tiga hal:
Ucapan atau perbuatannya itu adalah kekafiran.
Terbukti bahwa orang mu’ayyan ini telah melakukannya.
Terpenuhi padanya syarat-syarat takfier dan tidak ada padanya mawani’ takfier.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

( وهكذا الأقوال التي يكفر قائلها، قد يكون الرجل لم تبلغه النصوص الموجبة لمعرفة الحق، وقد تكون عنده ولم تثبت عنده أو لم يتمكن من فهمها وقد يكون عرضت له شبهات يعذره الله بها ،فمن كان من المؤمنين مجتهدا في طلب الحق وأخطأ فإن الله يغفر له خطأه كائنا ما كان)

(Dan begitu juga ucapan-ucapan yang mana orang yang mengucapkannya dikafirkan, bisa jadi orang itu belum sampai kepadanya nash-nash yang mengharuskan untuk ma’rifatul haq, dan bisa jadi sudah sampai kepadanya namun tidak terbukti (shahih) baginya atau ia tidak memiliki kesempatan dari memahaminya, dan bisa jadi muncul kepadanya syubhat-syubhat yang Allah mengudzur dia dengannya. Barangsiapa dia itu tergolong kaum mukminin lagi dia bersungguh-sungguh dalam mencari al haq namun dia keliru, maka sesungguhnya Allah mengampuni baginya kesalahannya siapa saja dia itu).[21]

Dan perhatikan ucapannya (Barangsiapa dia itu tergolong kaum mukminin lagi dia bersungguh-sungguh dalam mencari al haq…) supaya engkau mengetahui bahwa beliau berbicara tentang orang-orang yang keliru dari kalangan ahli kiblat, dan akan datang penjelasan hal itu saat berbicara tentang rukhshah khatha’ (rukhshah kekeliruan) bagi ahlul iman.

Dan beliau rahimahullah berkata:

إنه إذا قيل ( من قال كذا فهو كافر ، اعتقد المستمع لأن هذا اللفظ شامل لكل من قاله ، ولم يتدبروا أن التكفير له شروط وموانع قد تنتفي في حق المعين، وأن تكفير المطلق لا يستلزم تكفير المعين إلا إذا وجدت الشروط وانتفت الموانع، يبين هذا أن الإمام أحمد وعامة الأئمة الذين أطلقوا هذه العمومات ، لم يكفروا من تكلم بهذا الكلام بعينه..)

Sesungguhnya bila dikatakan (barangsiapa mengatakan begini maka dia kafir, maka si pendengar meyakini bahwa lafadh ini mencakup setiap orang yang mengucapkannya, dan mereka tidak mentadabburi bahwa takfier itu memiliki syarat-syarat dan penghalang-penghalang yang kadang tidak ada pada orang mu’ayan, dan bahwa takfier muthlaq itu tidak memstikan takfier mu’ayyan kecuali bila syarat-syaratnya ada dan penghalang-penghalangnya tidak ada. Hal ini dijelaskan bahwa Imam Ahmad dan semua para imam yang melontarkan lontaran-lontaran umum ini tidaklah mengkafirkan orang yang berbicara dengan ucapan ini secara ta’yin…)[22]

Ucapan beliau rahimahullah ini sering dipegang oleh sekelompok orang yang tidak memahami maksud beliau dengan ucapannya itu, sehingga mereka berlebih-lebihan dalam menggunakan syuruth dan mawani’ takfier, dan mereka tidak membatasinya dengan apa yang dibatasi oleh Syaikh rahimahullah. Beliau rahimahullah telah menuturkan inti masalah yang sedang beliau bicarakan tentangnya, yaitu masalah Khalqul Qur’an dan hal yang semakna dengannya dari permasalahan ushul yang masih bisa menjadi ajang takwil, maka hal-hal ini kadang tersamar (khafiy) sehingga pelakunya tidak dikafirkan kecuali setelah pelenyapan syubhatnya dan penegakkan hujjah terhadapnya.

Dan di antara ucapan yang suka mereka pegang erat juga adalah ucapan Syaikhul Islam:

( وليس لأحد أن يكفر أحدا من المسلمين وإن أخطأ وغلط حتى تقام عليه الحجة وتبين له المحجة ، ومن ثبت إسلامه بيقين لم يزل ذلك عنه بالشك ، بل لا يزول إلا بعد إقامة الحجة وإزالة الشبهة)

(Dan seorangpun tidak boleh mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin walaupun dia itu keliru dan salah sehingga hujjah ditegakkan kepadanya dan penerangan dijelaskan kepadnya. Dan barangsiapa yang keislamannya itu telah terbukti secara jelas (yaqin), maka keislaman itu tidak lenyap darinya dengan keraguan, akan tetapi ia itu tidak lenyap kecuali setelah penegakkan hujjah dan pelenyapan syubhat).[23]

Di mana engkau melihat orang-orang itu tidak membatasi ucapan ini saat mereka berhujjah terhadap lawannya, akan tetapi ternyata egkau bisa melihat sebagian mereka itu mengkafirkan orang yang menghina Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum penegakkan hujjah kepadanya dan sebelum pelenyapan syubhat darinya bila dia menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena syubhat yang ada padanya atau karena kejahilan yang mendorongnya kepada tindakan itu, (sikap ini) menyelisihi kaidah mereka sendiri yang mana Syaikh Al Albani dan yang lainnya tetap memegangnya secara erat sehingga mereka mengudzur orang yang menghina Allah dan Nabi itu karena kejahilannya dan karena keburukan tarbiyyahnya.

Syaikhul Islam telah berkata di banyak tempat bahwa di dalam penetapan vonis kafir itu tidak disyaratkan adanya maksud untuk kafir, berbeda dengan sikap tawaqquf dari takfier sampai tegak hujjah dan lenyapnya syubhat, yang mana sikap ini konsekuensinya adalah tidak seorangpun dikafirkan kecuali bila dia itu bermaksud untuk kafir sebagai pembangkangan.

Jadi apa yang menjadikan orang-orang itu melontarkan ucapan-ucapan semacam ini dan tidak menuturkan batasan baginya? Dan apa yang menjadikan sebagian mereka mengecualikan beberapa masalah seperti menghina Allah dan Rasul-Nya dan sujud kepada berhala atau matahari…. itu tidak lain adalah karena pengguguran terhadap ashluddien (inti dien) ini.
(6) Masalah-Masalah Dhahirah Dan Masalah-Masalah Khafiyyah

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata di dalam suratnya kepada Ahmad Ibnu Abdil Karim saat membantah syubhatnya dan melenyapkan syubhatnya prihal ucapan Syaikhul Islam tentang takfier mu’ayyan:

( وإذا كان كلام شيخ الإسلام ليس في الشرك والردة ، بل في المسائل الجزئيات سواء كانت في الأصول أو الفروع ، ومعلوم أنهم يذكرون في كتبهم في مسائل الصفات أو مسألة القرآن أو مسألة الاستواء أو غير ذلك ، مذهب السلف ويذكرون أنه الذي أمر الله به ورسوله والذي درج عليه هو وأصحابه ، ثم يذكرون مذهب الأشعري أو غيره ويرجحونه ويسبون من خالفه. فلو قدرنا أنه لم تقم الحجة على غالبهم قامت على هذا المعين الذي يحكي المذهبين ، مذهب رسول الله صلى الله عليه وسلم ومن معه …فكلام الشيخ في هذا النوع، يقول: إن السلف كفروا النوع وأما المعين فإن عرف الحق وخالفه كفر بعينه وإلا لم يكفر ).

(Dan bila ucapan syaikh ini bukan berkenaan dengan kemusyirikan dan kemurtaddan, akan tetapi berkenaan dengan masalah-masalah juz-iyyah baik ia itu termasuk ushul ataupun furu’, dan sudah diketahui bahwa mereka menuturkan dalam kitab-kitab mereka –dalam masalah-masalah sifat (Allah), atau masalah Al-Qur’an, atau masalah istiwa atau yang lainnya– madzhab salaf, dan mereka menuturkan bahwa ialah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta yang dianut oleh beliau dan para sahabatnya, kemudian mereka menuturkan madzhab Al Asy’ariy atau yang lainnya, dan mereka menguatkannya dan menghina orang yang menyelisihinya. Terus seandainya kita perkirakan bahwa hujjah itu belum tegak terhadap mayoritas mereka, maka hujjah itu telah tegak terhadap orang mu’ayyan ini yang menghikayatkan dua madzhab ini, yaitu madzhab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang bersamanya…. Maka ucapan Syaikh prihal macam ini, adalah beliau berkata: Sesungguhnya salaf mengkafirkan nau’ dan adapun orang mu’ayyan bila dia itu mengetahui kebenaran dan terus dia menyelisihinya, maka dia itu kafir secara ta’yin dan bila tidak demikian maka dia tidak dikafirkan).[24]

Kemudian beliau menuturkan ucapan Syaikhul Islam yang menambah permasalahan semakin jelas, di mana beliau menuturkan ucapannya saat mengomentari para ahli kalam dan kelompok-kelompok yang sesat:

( وهذا إذا كان في المقالات الخفية فقد يقال إنه فيها مخطئ ضال، لم تقم عليه الحجة التي يكفر صاحبها لكن ذلك يقع في طوائف منهم في الأمور الظاهرة التي يعلم المشركون واليهود والنصارى أن محمدا صلى الله عليه وسلم بعث بها، وكفر من خالفها مثل أمره بعبادة الله وحده لا شريك له ، ونهيه عن عبادة أحد سواه من النبيين والملائكة وغيرهم، فإن هذا من أظهر شعائر الإسلام. ثم تجد كثيرا من رؤوسهم وقعوا في هذه الأنواع فكانوا مرتدين وكثير منهم تارة يرتد عن الإسلام ردة صريحة، وتارة يعود إليه مع مرض في قلبه ونفاق والحكاية عنهم في ذلك مشهورة، وقد ذكر ابن قتيبة من ذلك طرفا في أول مختلف الحديث، وأبلغ من ذلك أن منهم من صنف في الردة كما صنف الرازي في عبادة الكواكب وهذه ردة عن الإسلام باتفاق المسلمين)

(Ini bila terjadi dalam maqalat khafiyyah ((keyakinan-keyakinan yang samar) bisa dikatakan bahwa ia di dalamnya keliru lagi sesat yang belum tegak terhadapnya hujjah yang mana penganutnya dikafirkan, akan tetapi hal itu terjadi pada segolongan mereka dalam masalah-masalah yang nyata yang mana kaum musyrikin, Yahudi dan Nashrani mengetahui bahwa Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus dengannya dan mengkafirkan orang yang menyelisihinya, seperti perintahnya untuk beribadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan larangannya dari mengibadati suatupun selain-Nya baik itu para nabi, para malaikat dan yang lainnya; karena sesungguhnya ini adalah ajaran Islam yang paling nampak. Kemudian kamu mendapatkan dari banyak tokoh mereka telah terjatuh dalam hal-hal semacam ini, maka mereka menjadi murtad. Dan banyak dari mereka kadang murtad dari Islam dengan kemurtadan yang nyata, dan kadang dia kembali kepada Islam bersama penyakit dan nifaq dalam hatinya. Dan hikayat tentang mereka dalam hal itu sangatlah masyhur, dan Ibnu Qutaibah telah menyebutkan sedikit dari hal itu di awal “Mukhtalaful Hadits”. Dan lebih dasyat dari itu semua adalah bahwa di antara mereka ada yang menulis prihal kemurtaddan sebagaimana Al Fakhru Ar Raziy(7) telah menulis tentang peribadatan kepada bintang, sedang ini adalah kemurtaddan dari Islam dengan kesepakatan kaum muslimin). Selesai.

Terus Syaikh Muhammad memberikan komentar terhadap ucapan Ibnu Taimiyyah ini dengan ungkapannya:

( فانظر كلامه في التفرقة بين المقالات الخفية وبين ما نحن فيه من كفر المعين)

(Maka lihatlah ucapan beliau dalam hal membedakan antara masalah-masalah khafiyyah (yang samar) dengan masalah yang kita bicarakan ini dalam hal kekafiran orang mu’ayyan).[25]

Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini telah dituturkan oleh Al ‘Allamah Abdullah Ibnu Abdirrahman Abu Bithin rahimahullah dalam jawabannya terhadap pertanyaan yang datang kepada beliau tentang makna ucapan Syaikhul Islam prihla takfier mu’ayyan, di mana beliau berkata:

( فانظر إلى تفريقه بين المقالات الخفية والأمور الظاهرة، فقال في المقالات الخفية التي هي كفر ، قد يقال إنه فيها مخطئ ضال لم تقم عليه الحجة التي يكفر صاحبها ولم يقل ذلك في الأمور الظاهرة، فكلامه ظاهر في الفرق بين الأمور الظاهرة والخفية، فيكفر بالأمور الظاهرة حكمها مطلقا ، وبما يصدر منها من مسلم جهلا… ولا يكفر بالأمور الخفية جهلا كالجهل ببعض الصفات )

(Maka lihatlah ucapan beliau dalam hal membedakan antara masalah-masalah khafiyyah (yang samar) dengan masalah-masalah yang dhahirah (nampak), di mana beliau berkata prihal maqalat khafiyyah (keyakinan-keyakinan yang samar) yang merupakan kekafiran “bisa dikatakan bahwa ia di dalamnya keliru lagi sesat yang belum tegak terhadapnya hujjah yang mana penganutnya dikafirkan” dan beliau tidak mengatakan ucapan semacam itu di dalam masalah-masalah dhahirah. Jadi ucapan beliau ini sangat jelas membedakan antara permasalahan yang dhahirah dengan yang khafiyyah, di mana beliau mengkafirkan (pelakunya) secara total dengan sebab (pelanggaran) hal-hal yang dhahirah (nampak) hukumnya dan dengan sebab apa yang muncul dari hal itu dari diri orang muslim karena kejahilan…. dan beliau tidak mengkafirkan dengan sebab hal-hal yang khafiy karena kejahilan seperti jahil terhadap sebagian shifat (Allah)).[26]

Kesalahan Dalam Pemuthlaqan

Dengan pemilahan ini nampak jelaslah di hadapan engkau kekeliruan dalam pelontaran pernyataan bahwa melakukan kekafiran itu tidaklah mengharuskan pelakunya dikafirkan, karena masalahnya kembali kepada macam kekafiran itu sendiri. Bila kekafiran itu adalah di dalam masaail dhahirah, maka pelakunya langsung dikafirkan secara total, Syaikh Abdullah dan Ibrahim yang mana keduanya adalah putera Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman dan Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman berkata:

( وأما قول القائل: نقول بأن القول كفر ، ولا نحكم بكفر القائل فإطلاق هذا جهل صرف ، لأن هذه العبارة لا تنطبق إلا على المعين ومسألة تكفير المعين مسألة معروفة إذا قال قولا يكون القول به كفرا، فيقال من قال بهذا القول فهو كافر ، لكن الشخص المعين إذا قال بذلك لا يحكم بكفره حتى تقوم عليه الحجة التي يكفر بها تاركها. وهذا في المسائل الخفية التي قد يخفى دليلها على بعض الناس كما في مسائل القدر والإرجاء ونحو ذلك مما قاله أهل الأهواء، فإن بعض أقوالهم تضمن أمورا كفرية من رد أدلة الكتاب والسنة المتواترة ، فيكون القول المتضمن لرد بعض النصوص كفرا ولا يحكم على قائله بالكفر لاحتمال وجود مانع كالجهل ، وعدم العلم بنقض النص أو بدلالته، فإن الشرائع لا تلزم إلا بعد بلوغها)

(Adapun ucapan orang: “Kami mengatakan bahwa ucapannya adalah kekafiran, namun kami tidak menghukumi kafir orang yang mengatakannya” maka pelontaran ucapan semacam ini secara muthlaq adalah kebodohan tulen, karena ungkapan ini tidaklah terterap kecuali kepada orang mu’ayyan, sedangkan masalah takfier mu’ayyan itu adalah masalah yang sudah dikenal (yaitu) bila orang mengucapkan suatu ucapan yang merupakan kekafiran, maka dikatakan: bahwa orang yang mengucapkan ucapan ini maka dia itu kafir, akan tetapi orang mu’ayyan bila mengucapkan ucapan itu maka dia itu tidak dikafirkan sampai tegak kepadanya hujjah yang mana orang yang meninggalkan hujjah itu menjadi dikafirkan. Ini adalah di dalam masaail khafiyyah yang kadang dalilnya tersamar atas sebagian manusia, sebagaimana di dalam permasalahan qadar, irja dan permasalahn semacam itu yang dianut oleh ahlil ahwa (bid’ah), karena sesungguhnya pendapat-pendapat mereka itu mengandung hal-hal yang bersifat kekafiran berupa penolakan terhadap dalil-dalil Al Kitab dan Assunnah Al Mutawatirah, sehingga pendapat yang mengandung penolakan sebagian nushush itu adalah kekafiran, akan tetapi orang yang menganutnya tidak divonis kafir karena kemungkinan adanya penghalang (dari pengkafiran) seperti kejahilan dan belum sampainya ilmu perihal pengguguran terhadap nash itu atau terhadap dilalahnya, karena sesungguhnya syari’at itu adalah tidak mengikat kecuali setelah ia itu sampai).[27]

(Bersambung…)

Baca juga artikel terkait lainnya:

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1)

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 2)

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 3)

–> Mawani’ Takfier yang Dianggap (Bagian 4)

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 5)

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 6)

[1] Al Bukhari (6919) dan Muslim (1716).

[2] At Tabshir Fi Ma’alimid Dien milik Ibnu Jarir Ath Thabari hal 112-113.

[3] At Tabshir Fi Ma’alimid Dien milik Ibnu Jarir Ath Thabari hal 115-116.

[4] At Tabshir Fi Ma’alimid Dien milik Ibnu Jarir Ath Thabari hal 116-118.

[5] Al Fatawa 15/158.

[6] Asy Syifa Bi Ta’rifi Huquqil Mushthafa Bi Syarhi Nuridien Al Qari 5/395.

[7] Syarhus Sunnah 1/229.

[8] Al Fatawa 24/235.

[9] Al Fatawa 10/355.

[10] Al Fatawa 11/617.

[11] Al Fatawa 15/158-160.

[12] Al Bukhari dalam Az Zakat (1996) dan Muslim dalam Al Iman (29).

[13] Al Qawa’id Al Hisan 192.

[14] Al Haqqul Mubin Fi Tauhidil Anbiya wal Mursalin 57.

[15] Al Fatawa 3/293-303 dengan ikhtishar.

[16] Al Bukhari (6045) dan Muslim (61)

[17] Assailul Jarrar cetakan pertama dalam satu jilid hal: 978.

[18] Zadul Ma’ad 3/423.

[19] ‘Aqidatul Muwahhidin, Al Intishar Li Hizbillahil Muwahhidien: 11. Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah 3/183.

[20] Ad Durar Assaniyyah 10/375.

[21] Al Fatawa 23/346.

[22] Al Fatawa 12/487-488.

[23] Al Fatawa 12/250.

[24] Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah 3/296, rujuk Ad Durar Assaniyyah 10/63.

(7) Al Fakhru Ar Raziy adalah Abu Abdillah, Fakhruddin Muahmmad Ibnu Umar Ibnul Husen Ar Raziy, dilahirkan di Rayy tahun 554 dan ia dinisbatkan kepada kota itu, dan meninggal dunia di Harrat tahun 606 H, Imam mufassir yang banyak karya tulisnya. Ini maknanya bahwa ia meninggal dunia berpuluh-puluh tahun sebelum Ibnu Taimiyyah lahir di mana beliau lahir tahun 661H. (pent)

[25] Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah 3/297-298, rujuk Ad Durar Assaniyyah 10/63-74.

[26] Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah 3/315, rujuk Ad Durar Assaniyyah 10/360-375..

[27] Aqidatul Muwahhidin hal 451, Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah 3/301 dan Kasyfusysyubhatain hal 83.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: