Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1) » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 15)

Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 15)


(4) Hadits Dzatu Anwath

Dari Abu Waqid Al Laitsiy berkata:

خرجنا مع رسول الله ص إلى حنين ونحن حديثوا عهد بكفر ، وللمشركين سدرة يعكفون عليها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط ، فمررنا بسدرة فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط ، فقال ص ( الله أكبر قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل ﴿ اجْعَل لَّنَا إِلَـهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ ﴾ لتركبن سنن من قبلكم )

(Kami dahulu keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain, sedangkan kami adalah orang-orang yang baru masuk Islam, sedang kaum musyrikin mempunyai sebatang pohon yang mana mereka duduk berkeliling di sekitarnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya yang dikenal dengan sebutan Dzatu Anwath, kemudian kami melewati sebatang pohon, maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, jadikanlah bagi kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath!.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: (Allahu Akbar, kalian telah mengatakan -Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya- seperti apa yang dikatakan Bani Israel; “Jadikan bagi kami tuhan sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan, (Musa) berkata: “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh” (Al A’raf: 138) sungguh benar-benar kalian bakal mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian)[1]
A. Indikasi Hadits Ini

Para ulama besar telah menegaskan bahwa orang-orang itu telah meminta sekedar penyerupaan, dimana mereka menginginkan sebatang pohon untuk bertabarruk dengannya dan meminta pertolongan (kepada Allah dengan bertabarruk dengannya), oleh sebab itu Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab telah menuturkan hadits ini di bab: Barangsiapa bertabarruk dengan pohon atau batu atau yang lainnya, dan beliau menyebutkan beberapa faidah dari hadits ini dalam beberapa masalah: (….

Ketiga: Mereka tidak melakukannya….
Ketujuh: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengudzur mereka, akan tetapi beliau membantah mereka dengan ucapannya: “Allahu Akbar, sesungguhnya ia adalah jalan, sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian”, dimana beliau mengecam urusan ini dengan tiga hal ini.
Kesebelas: Bahwa syirik itu ada syirik akbar dan ada syirik ashghar karena mereka itu tidak menjadi murtad dengan sebab ini.
Keempat belas: Penutupan jalan-jalan yang menuju kepada kerusakan)[2]

Ini adalah penegasan dari beliau bahwa orang-orang itu hanyalah melakukan syirik ashghar, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecam keras hal itu dikarenakan apa yang mereka minta itu adalah jalan yang bisa menghantarkan kepada syirik yang mengeluarkan dari agama Islam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup jalan itu.

Abu Bakar Ath Thurtusyi berkata dalam Al Hawadits Wal Bida’:

(فانظروا رحمكم الله أينما وجدتم سدرة أو شجرة يقصدها الناس ويعظمونها ويرجون البرء والشفاء من قبلها ويضربون بها المسامير والخرق فهي ذات أنواط فاقطعوها)

(Maka lihatlah -semoga Allah merahmati kalian- dimana saja kalian dapatkan pohon yang dituju oleh manusia, dan mereka mengagungkannya, mengharapkan kesembuhan darinya, dan mereka menancapkan paku-paku dan kain-kain padanya, maka ia adalah Dzatu Anwath, maka tebanglah)

Semua hal-hal ini adalah dibawah syirik akbar, dan inilah hakikat Dzatu Anwath.

Dan termasuk hal yang maklum bahwa penyerupaan itu datang untuk pengecaman yang keras, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مدمن الخمر كعابد وثن

“Pecandu khamr adalah seperti penyembah berhala”[3]

Sebagaimana musyabbah (yang diserupakan) itu tidak menyamai musyabbah bih (yang diserupakan dengannya) dalam semua sifatnya, namun hanya pada satu sifat darinya atau pada sebagiannya. Jarir Ibnu Abdillah Al Bajaliy radliyallahu ‘anhu telah berkata: “Dahulu kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terus beliau memandang bulan di malam bulan purnama kemudian berkata:

سترون ربكم كما ترون هذا القمر لا تضامون في رؤيته …الحديث

“Kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini seraya kalian tidak tersamarkan dalam melihatnya”[4]

Penyerupaan di sini hanyalah dalam hal melihat dan hal kejelasan, bukan dalam hal bentuk.

Begitulah sesungguhnya permintaan orang-orang itu adalah seperti permintaan Banu Israil dalam menyerupai kaum musyrikin, namun sesungguhnya permintaan ini adalah penyerupaan terhadap mereka dalam syirik asghar, dan adapun permintaan Banu Israil, maka ia itu dalam penyerupaan terhadap mereka dalam syirik akbar.

Dan berapa banyak permintaan semacam ini akhirnya menghantarkan ke dalam keterjatuhan pada syirik akbar, oleh karena itu beliau mengungkapkannya dengan hal yang bisa berujung dengannya dalam rangka menutup jalan, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecam keras orang yang berkata kepadanya “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”, maka beliau berkata: “Apakah aku dijadikan tandingan bagi Allah.”[5] Karena hal itu bisa menghantarkan kepada keterjerumusan dalam syirik akbar.
B. Orang-Orang Itu Mengetahui Benar Laa Ilaaha Illallaah

Bagaimana mungkin kaum dari bangsa Arab masuk Islam sedang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memperkenalkan kepada mereka ilah (tuhan) mereka yang mana mereka berserah diri kepada-Nya, atau beliau meneguhkan dari mereka penjelasan apa yang telah Allah fardlukan atas mereka pada waktu itu berupa kalimat ini, dimana Allah ta’ala berfirman tentang mereka:

أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu hanya satu Tuhan saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shad: 5)

Itu dikarenakan Al Qur’an itu telah turun dengan lisan mereka untuk menegakkan hujjah atas mereka dan memutus alasan dari mereka, dimana Dia ta’ala berfirman:

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (Fushilat: 3)

Maka bagaimana mungkin orang kafir bisa memahami makna kalimat tauhid namun orang mukmin malah tidak mengetahui?
C. Pernyataan Ulama Muhaqqiqin

Ini adalah pemahaman ulama yang jelas dan pernyataan mereka yang selaras dengan kaidah-kaidah syari’at ini.

Asy Syathibi berkata saat berbicara tentang sikap menyerupai ahli kitab dalam bid’ah-bid’ah mereka:

( فقوله حتى تأخذ أمتي بما أخذ القرون قبلها ) يدل على أنها تأخذ بما أخذوا به إلا أنه لا يتعين في الإتباع لهم اتباع أعيان بدعهم ، بل قد تتبعها في أعيانها وتتبعها في أشباهها فالذي يدل على الأول قوله ( لتتبعن سنن من كان قبلكم ..الحديث ) فإنه قال فيه ( لو دخلوا جُحر ضَبٍ خرب لتبعتموهم ) والذي يدل على الثاني قوله فقلنا يا رسول الله : اجعل لنا ذات أنواط ، فقال عليه السلام : هكذا كما قالت بنو إسرائيل اجعل لنا إلها ) الحديث ، فإن اتخاذ ذات أنواط يشبه اتخاذ الآلهة من دون الله لا أنه هو نفسه ، فلذلك لا يلزم الاعتبار بالمنصوص عليه ما لم ينص عليه مثله من كل وجه والله أعلم )

(Maka sabdanya: “Sampai umatku mengambil apa yang telah diambil oleh umat-umat sebelumnya” menunjukan bahwa umat ini mengambil apa yang telah mereka ambil namun mengikuti mereka itu tidak selalu mengikuti dzat bid’ah-bid’ah mereka, akan tetapi bisa jadi mengikutinya dalam dzat bid’ahnya dan bisa jadi mengikutinya dalam hal-hal yang menyerupainya. Maka yang menunjukan kepada macam pertama adalah sabdanya: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan kaum sebelum kalian…” dimana beliau berkata di dalamnya: “Seandainya mereka masuk ke dalam lubang hewan dlabb yang seram, tentu kalian mengikuti mereka juga”. Sedangkan yang menunjukan kepada macam kedua, adalah ucapannya: “Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, jadikanlah bagi kami Dzatu Anwath,” maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Beginilah sebagaimana Banu Israil berkata: “Jadikanlah tuhan bagi kami…” Dimana sesungguhnya menjadikan Dzatu Anwath itu menyerupai sikap menjadikan tuhan-tuhan selain Allah bukan bahwa itu adalah hal itu sendiri, oleh sebab itu tidaklah mesti mengambil penganggapan dengan apa yang ditegaskan terhadapnya selagi tidak menegaskan terhadapnya hal yang serupa dengannya dari setiap sisi, Wallahu A’lam)[6]

Maka amatilah ucapannya (Dimana sesungguhnya menjadikan Dzatu Anwath itu menyerupai sikap menjadikan tuhan-tuhan selain Allah, bukan bahwa ia itu adalah hal itu sendiri), kemudian lihatlah apa yang diklaim oleh orang-orang yang membela-bela orang-orang bodoh lagi memberikan kesamaran terhadap orang-orang sesat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

( ولما كان للمشركين شجرة يعقلون بها أسلحتهم ويسمونها ذات أنواط فقال بعض الناس: يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط فقال : الله أكبر قلتم كما قال قوم موسى لموسى اجعل لنا إلها كما لهم آلهة ، إنها السنن ، لتركبن سنن من كان قبلكم ،فأنكر النبي ص مجرد مشابهتهم الكفار في اتخاذ شجرة يعكفون عليها معلقين عليها أسلحتهم فكيف بما هو أظم من ذلك من مشابهتهم المشركين أو هو الشرك بعينه )

(Dan tatkala kaum musyrikin itu memiliki sebatang pohon yang mana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka padanya dan menamainya Dzatu Anwath maka sebagian orang berkata: “Wahai Rasulullah, jadikanlah bagi kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath,” maka beliau berkata: “Allahu Akbar, kalian telah mengatakan sebagaimana kaum Musa berkata kepada Musa: “Jadikanlah bagi kami tuhan sebagaimana mereka memiliki tuhan, sesungguhnya ia adalah jalan, sungguh kalian akan benar-benar mengikuti jalan orang-orag sebelum kalian”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari sekedar penyerupaan mereka terhadap orang-orang kafir dalam menjadikan pohon yang mana berupa duduk di sekelilingntya seraya menggantungkan senjata-senjata mereka padanya, maka bagaimana dengan sesuatu yang lebih dahsyat dari itu, berupa penyerupaan mereka terhadap kaum musyrikin dalam syirik itu sendiri).[7] Ini Syaikhul Islam menegaskan bahwa mereka itu meminta sekedar penyerupaan orang-orang kafir dalam menjadikan pohon yang mana mereka duduk disekelilingnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya, dan mereka tidak meminta syirik itu sendiri. Maka kenapa orang-orang berpaling dari pemahaman para imam muhaqqiqin dan malah beralih taqlid kepada orang-orang yang lebih rendah dari mereka, dan malah mengambil pendapat yang ditolak oleh nash-nash syar’iy dan kaidah-kaidahnya.
(5) Hadits Sujud Mu’adz

Ibnu Maajah (1853) meriwayatkan dari hadits Abdullah Ibu Abi Aufa berkata:

لما قدم معاذ من الشام سجد للنبي ص قال : قال ( ما هذا يا معاذ ؟ ) قال : أتيت الشام فوافقتهم يسجدون لأساقفتهم وبطارقتهم فوددت في نفسي أن أفعل ذلك بك، فقال صلى الله عليه سلم ( لا تفعلوا فإني لو أمرت أحدا أن يسجد لغير الله لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها … الحديث ) ( السلسة الصحيحة 1203)

“Tatkala Mu’adz datang dari Syam maka ia sujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Apa ini wahai Mu’adz?”, Ia berkata: “Saya datang ke Syam, maka saya bertepatan dengan mereka sedang sujud kepada uskup-uskup dan patrik-patrik mereka, maka saya berkeinginan di dalam diri saya ini untuk melakukan hal itu kepada engkau”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Janganlah kalian lakukan, karena sesungguhnya saya seandainya (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah tentu saya perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya…” (As Silsilah Ash Shahihah: 1203), maka orang-orang mengatakan sesungguhnya Mu’adz mengibadati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sujud ini, akan tetapi beliau mengudzurnya dengan sebab kejahilannya.
A. Sujud Tahiyyah (penghormatan)

Para ulama muhaqqiqin dan keumuman ahli tafsir berpendapat bahwa sujud tahiyyah itu dahulu adalah disyari’atkan dan bahwa sujud Mu’adz kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah dalam rangka tahiyyah, sebagaimana yang ada dalam firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.(Al Baqarah: 34)

Dimana Ibnu Katsir rahimahullah telah menukil dari para mufassirin: (mereka berkata: ini adalah sujud tahiyyah, salam dan ikram sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana, dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan, dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf: 100)

Dimana hal ini adalah disyari’atkan pada umat-umat terdahulu, akan tetapi ia dinasakh di dalam millah kita. Mu’adz berkata: “Saya tiba di Syam, maka saya melihat mereka sujud kepada uskup-uskup dan ulama-ulama mereka. Maka engkau wahai Rasulullah adalah lebih berhak untuk dilakukan sujud kepada engkau,” maka beliau berkata: “Seandainya aku memerintahkan orang untuk sujud kepada orang, tentu aku perintahkan wanita sujud kepada suaminya, karena begitu besar hak suami terhadapnya,” dan ini dikuatkan oleh Ar Razi, sebagian mereka mengatakan (bahwa) justeru sujud itu kepada Allah, sedangkan Adam adalah kiblat di dalamnya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

أَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam” (Al Isra: 78)

Dan dalam permisalan ini ada tinjauan. Dan pendapat yang paling nampak adalah bahwa pendapat yang pertama adalah lebih utama, dan sujud itu adalah kepada Adam sebagai pernghormatan, pengagungan, pemuliaan dan salam, dan sujud ini adalah ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena ia adalah perealisasian terhadap perintah-Nya ta’ala.[8]

Asy Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya terhadap firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.(Al Baqarah: 34)

Dan dalam ayat ini terdapat keutamaan yang besar bagi Adam ‘alaihissalam dimana Allah menyuruh Malaikat sujud kepadanya. Dan ada yang mengatakan bahwa sujud itu kepada Allah dan bukan kepada Adam, namun mereka menghadap Adam saat sujud itu, dan pendapat ini tidak perlu karena sujud kepada manusia itu bisa saja boleh dalam sebagian syari’at sesuai apa yang dituntut oleh maslahat. Dan ayat ini menunjukan bahwa sujud itu kepada Adam, dan begitu juga ayat yang lain, yaitu firman Allah ta’ala:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Al Hijr: 29)

Dan firman-Nya:

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana, dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf”. (Yusuf: 100)

Maka pengharaman sujud kepada selain Allah di dalam syari’at Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lah memestikan seperti itu di dalam syari’at yang lain.[9]

Dan beliau rahimahullah berkata di dalam tafsir firman-Nya ta’ala:

وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا

“Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf”. (Yusuf: 100)

Yaitu kedua orang tua dan saudara-saudara dan maknanya bahwa mereka itu menyungkur sujud kepada Yusuf, dan hal itu adalah boleh dalam syari’at mereka sebagai bentuk penghormatan. Ada yang mengatakan bahwa itu bukan sujud, akan tetapi ia itu sekedar isyarat, dan itu adalah penghormatan mereka…)[10]

Dan beliau rahimahullah berkata dalam tafsir firman Allah ta’ala:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (٢٩)

“Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kalian seraya bersujud kepadanya” (Al Hijr: 29)

(Dan di dalamnya ada dalil yang menunjukan bahwa yang diperintahkan itu adalah sujud, bukan sekedar membungkuk sebagaimana yang dikatakan. Dan sujud ini adalah sujud tahiyyah, dan takrim bukan sujud ibadah, dan Allah memiliki hak untuk memuliakan orang yang dikehendakinya dari makhluk-makhluk-Nya bagaimana Dia kehendaki dengan apa yang dikehendaki-Nya. Dan ada yang mengatakan sujud itu kepada Allah ta’ala sedangkan Adam adalah kiblat bagi mereka)[11]
B. Mu’adz Mengetahui Tauhid

Termasuk hal yang diketahui bahwa Mu’adz radliyallahu ‘anhu adalah tergolong shahabat yang paling berilmu, apalagi ia telah dipilih oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendebat ahli kitab dan mengajak mereka kepada agama ini. Dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman dan beliau berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi ke suatu kaum yaitu Ahli Kitab, bila engkau sudah datang kepada mereka, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang haq) kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah…”[12]

Al Hafidz berkata dalam Fathul Bari:

( قوله ” إنك ستأتي قوما أهل كتاب” هي التوطئة للوصية لتستجمع همته عليها ، لكون أهل الكتاب أهل علم في الجملة فلا تكون العناية في مخاطبتهم كمخاطبة الجهال من عبدة الأوثان )

(Sabdanya: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi ke suatu kaum yaitu ahli kitab,” adalah pembuka bagi wasiat agar tekadnya terfokus kepadanya, dikarenakan ahli kitab itu secara umum adalah ahli ilmu, sehingga perhatian dalam berinteraksi dengan mereka tidaklah seperti berinteraksi dengan orang-orang bodoh, dari kalangan penyembah berhala)[13]

Al Qurthubi berkata dalah Al Mufhim:

( وإنما نبهه على هذا ليتهيأ لمنظارتهم ويعد الأدلة لإفحامهم لأنهم أهل علم سابق بخلاف المشركين وعبدة الأوثان )

(Sebab beliau mengingatkannya terhadap hal ini adalah agar ia mempersiapkan diri untuk ber-munadharah dengan mereka dan mempersiapkan dalil-dalil untuk mematahkan hujjah mereka, karena mereka itu adalah ahli dalam hal ilmu terdahulu, berbeda dengan kaum musyrikin dan para penyebah berhala)[14]

Maka apakah masuk akal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih di antara para shahabatnya orang yang beliau udzur dengan sebab kejahilannya terhadap tauhid untuk mendebat orang yang selevel ahli kitab yang ahli dalam dalam berdebat?
C. Sujud Mu’adz Itu Dalam Rangka Tahiyyah

Dan dari uraian yang lalu, maka kita mendapatkan bahwa sujud Mu’adz radliyallahu ‘anhu itu bukan dalam rangka ibadah, akan tetapi ia itu dalam rangka tahiyyah, dan ikram, sedangkan macam sujud ini dahulu adalah disyari’atkan dalam ajaran-ajaran terdahulu kemudian dinasakh dalam syari’at kita, dan para ulama seperti Ibnu katsir, Al Qurthubi, dan yang lainnya telah berdalil terhadap hal itu dengan hal itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

( ولا يجوز أن يتنفل على طريقة العبادة إلا لله وحده لا للشمس ولا للقمر ولا لملك ولا لنبي ولا لصالح ولا لقبر نبي ولا لصالح هذا في جميع الملل ، وقد ذكر ذلك في شريعتنا حتى نهى أن نتنفل على وجه التحية والإكرام للمخلوقات ولهذا نهى النبي ص معاذا أن يسجد له وقال : ( لوكنت آمرا أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها من عظم حقه عليها ) ونهى عن الانحناء في التحية ونهاهم أن يقوموا خلفه في الصلاة وهو قاعد )

(Dan tidak boleh melakukan nafilah dengan menyerupai bentuk ibadah kecuali bagi Allah saja, tidak kepada Matahari, bulan, malaikat, nabi, orang shaleh, kuburan nabi, maupun kuburan orang shaleh, ini adalah dalam semua ajaran, dan hal itu adalah disebutkan dalam syari’at kita sampai (Allah) melarang melakukan nafilah dalam rangka tahiyyah dan ikram kepada makhluk, oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Mu’adz dari sujud kepadanya dan berkata kepadanya, “Seandainya aku memerintahkan seseorang sujud kepada seseorang, tentu aku perintahkan isteri untuk sujud kepada suaminya karena begitu besar hak suaminya terhadapnya.” Dan beliau melarang dari membungkuk dalam penghormatan, dan melarang mereka dari berdiri di belakangnya di dalam shalat, sedang beliau duduk)[15]

Asy syaukani berkata saat berbicara tentang sujud kepada selain Allah:

( فلا بد من تقييده بأن يكون بسجوده هذا قاصدا لربوبية من سجد له ، فإنه بهذا السجود قد أشرك بالله عز وجل ، وأثبت معه إلها آخر ، وأما إذا لم يقصد إلا مجرد التعظيم كما يقع كثيرا لمن دخل على ملوك الأعاجم أنه يقبل الأرض تعظيما له فليس هذا من الكفر في شيء وقد علم كل من كان من الأعلام أن التكفير بالإلزام من أعظم مزالق الأقدام )

(Maka ia harus dibatasi bahwa dia itu dengan sujudnya ini memaksudkan rububiyyah (ketuhanan) orang yang dia sujud kepadanya, maka sesungguhnya, ia dengan sujud ini telah menyekutukan Allah ‘Azza wa Jallah, dan dia menetapkan bersamanya tuhan yang lain. Dan adapun bila dia tidak memaksudkan kecuali sekedar pengagungan sebagaimana hal itu sering terjadi pada orang yang masuk kepada raja-raja ‘Ajam dimana ia mencium bumi sebagai pengagungan kepadanya, maka ini bukan termasuk kekafiran, sedangkan semua ulama telah mengetahui bahwa takfir dengan ilzam itu tergolong sumber ketergelinciran terbesar)[16]

Asy syaukani rahimahullah mengkafirkan orang yang sujud dengan sujud ibadah kepada selain Allah karena ia memaksudkan rububiyyah orang yang dia sujud kepadanya, dan beliau tidak membatasi hal itu dengan syarat bahwa ia mengetahui bahwa itu adalah kekafiran.

Adapun ucapan beliau pada hadits Mu’adz: (Dan di dalam hadits ini ada dalil yang menunjukan bahwa orang yang sujud kepada selain Allah karena kejahilan adalah tidak kafir)[17] Maka dikarenakan sesungguhnya orang itu bisa jadi tidak mengetahui bahwa sujud tahiyyah itu adalah dilarang, terus ia sujud seraya memaksudkan tahiyyah dan ikram, maka dia diudzur karena adanya ihtimal (kemungkinan), bukan bahwa ia beribadah kepada selain Allah karena kejahilan. Dan bukan termasuk masalah ini sujud kepada berhala atau apa saja yang diibadati, karena hal itu tidak memiliki kemungkinan selain ibadah.

Oleh sebab itu telah ada dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah;

( كل من آمن برسالة نبينا محمد ص وسائر ما جاءه به الشرع إذا سجد بعد ذلك لغير الله من ولي وصاحب قبر أو شيخ طريق يعتبر كافرا مرتدا عن الإسلام مشركا مع الله غيره في العبادة ولو نطق بالشهادتين وقت سجوده ،بإتيانه لما ينقض قوله من سجوده لغير الله ، لكنه قد يعذر لجهله فلا تنزل به العقوبة حتى يعلم وتقام عليه الحجة ، ويمهل ثلاثة أيام إعذارا إليه ليراجع نفسه ، عسى أن يتوب فإن أصر على سجوده لغير الله بعد البيان قتل لردته ، لقول النبي ص ( من بدل دينه فاقتلوه ) أخرجه الإمام البخاري في صحيحه عن ابن عباس رضي الله عنهما ، فالبيان وإقامة الحجة للإعذار إليه قبل إنزال العقوبة به ، لا ليسمى كافرا بعد البيان ، فإنه يسمى كافرا بما حدث منه )

(Setiap orang yang beriman kepada kerasulan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua apa yang dibawa oleh syari’at ini, bila ia sujud setelah itu kepada selain Allah baik itu kepada wali, penghuni kubur, atau syaikh thariqat, maka dia itu dianggap kafir lagi murtad dari Islam lagi menyekutukan Allah dengan yang lain di dalam ibadah walaupun dia itu mengucapkan dua kalimat syahadat saat sujudnya itu, dikarenakan dia itu mendatangkan apa yang menggugurkan ucapannya berupa sujudnya kepada selain Allah, akan tetapi dia itu bisa jadi diudzur dengan sebab kejahilannya dimana hukum sangsi tidak dikenakan kepadanya sampai dia diberitahu dan ditegakkan hujjah terhadapnya, dan dia diberi tenggang waktu selama tida hari sebagai pemberian kesempatan baginya agar dia mengoreksi dirinya dengan harapan dia taubat. Kemudian bila dia bersikukuh di atas sujudnya kepada selain Allah setelah penjelasan itu, maka dia dibunuh karena kemurtaddannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” Dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam shahihnya dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma. Penjelasan dan penegakkan hujjah itu adalah untuk pemberian kesempatan kepadanya sebelum pemberian sangsi terhadapnya, bukan untuk dinamakan kafir setelah penjelasan itu, karena dia itu dinamakan kafir dengan sebab apa yang terjadi darinya).[18]
D. Penasakah (Penghapusan) Sujud Tahiyyah Dengan Hadits Mu’adz Dan Dilalahnya.

Al Baghawi berkata dalam tafsirnya terhadap firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (٣٤)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al Baqarah: 34)

( قوله “اسجدوا” فيه قولان : الأصح أن السجود كان لآدم على الحقيقة وتضمن معنى الطاعة لله عز وجل بامتثال أمره ، وكان ذلك سجود تعظيم وتحية لا سجود عبادة، كسجود إخوة يوسف له في قوله عز وجل ﴿ وَخَرُّواْ لَهُ سُجَّدًا ﴾ ولم يكن فيه وضع الوجه على الأرض إنما كان انحناء ، فلما جاء الإسلام ، أبطل ذلك بالسلام.

وقيل معنى قوله: ﴿ اسْجُدُواْ لآدَمَ ﴾ ( أي إلى آدم ، فكان آدم قبلة والسجود لله ، كما جعلت الكعبة قبلة للصلاة والصلاة لله عز وجل )

(Firman-Nya “Sujudlah kalian,” di dalamnya ada dua pendapat. Pendapat yang shahih bahwa itu adalah kepada Adam secara sebenarnya dan ia mengandung makna ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan perealisasian perintah-Nya dan ia itu adalah sujud ta’dhim dan tahiyyah bukan sujud ibadah, seperti sujud saudara-saudara Yusuf kepadanya di dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla: “Dan mereka (semua) menyungkur sujud kepadanya” (Yusuf: 100), dan di dalamnya ada peletakan wajah di bumi, namun ia itu hanyalah membungkuk, kemudian tatkala datang Islam maka ia mengugurkan hal itu dengan salam.

Dan ada yang mengatakan makna firman-Nya ta’ala: “Sujudlah kalian kepada Adam” (yaitu ke arah Adam, dimana Adam adalah arah kiblat, sedangkan sujudnya kepada Allah, sebagaimana Ka’bah dijadikan kiblat untuk shalat sedangkan shalatnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla”))[19]

Dan beliau berkata dalam tafsirnya terhadap firman Allah ta’ala: “Dan mereka (semua) menyungkur sujud kepadanya”:

( يعني يعقوب وخالته وإخوته، وكانت تحية الناس يومئذ [ لملوكهم ] السجود ولم يُرد بالسجود وضع الجباه على الأرض ، وقيل وضعوا الجباه على الأرض وكان ذلك على طريق التحية والتعظيم لا على وجه العبادة ، وكان ذلك جائزا في الأمم السابقة ، فنسخ في هذه الشريعة )

(Yaitu Ya’qub dan bibinya serta saudara-saudaranya, sedangkan penghormatan manusia di saat itu [kepada raja-raja mereka] adalah sujud, dan yang dimaksud sujud (di sini) bukanlah meletakan kening di bumi, dan ada yang mengatakan bahwa mereka meletakan kening di bumi, dan hal itu dalam rangka tahiyyah dan pengagungan atas dasar ibadah, sedangkan hal itu adalah boleh pada umat-umat yang lalu, kemudian ia dinasakh dalam syari’at ini)[20]

Ini adalah pernyataan para ulama bahwa sujud tahiyyah itu adalah sudah dikenal lagi disyari’atkan, akan tetapi ia itu dinasakh di dalam syari’at ini. Dengan apa gerangan ia itu dinasakh? Jawabannya, ia itu dinasakh dengan hadits Mu’adz, ini di antara yang menunjukan bahwa sujud Mu’adz itu adalah untuk tahiyyah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari hal itu, sebagaimana yang telah dituturkan oleh Al Qurthubiy dan Ibnu Taimmiyyah serta hal itu diisyaratkan kepadanya oleh ibnu Katsir dan yang lainnya.
(6) Hadits ‘Aisyah Tentang Sifat Ilmu

Di dalamnya bahwa ia pergi menyusul di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau tiba di Baqi’, kemudian ‘Aisyah mendahuluinya ke rumahnya terus berbaring, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( فلتخبريني أو ليخبرني اللطيف الخبير ، قالت قلت يا رسول الله بأبي أنت وأمي ، فأخبرته ، قال فأنت السواد الذي رأيت أمامي قلت نعم ، فلهدها في صدرها ، لهدة أوجعتها ثم قال أظننت أن يحيف الله عليك ورسوله قالت : ( مهما يكتمه الناس يعلمه الله … الحديث )

(“Engkau hendak memberitahukannya kepadaku atau Dzat Yang Maha Lembut lagi Mengetahui akan memberitahukan kepadaku.” Ia (‘Aisyah) berkata: saya berkata: “wahai Rasulullah, Ayah dan Ibuku jadi tebusanmu, maka saya memberitahukan kepadanya,” beliau berkata: “Jadi engkau bayang-bayang hitam yang aku lihat di depanku?” saya berkata: “Ya”, maka beliau menusuknya di dadanya dengan tusukan (tangan) yang menyakitinya, kemudian beliau berkata: “Dan engkau kira Allah dan Rasul-Nya akan berbuat aniaya kepadamu?” Ia (‘Aisyah) berkata: “(Bagaimanapun manusia menyembunyikannya maka Allah mengetahuinya?….)”[21]

Orang-orang yang mengudzur mengatakan sesungguhnya ‘Aisyah radliyallahu ‘anha ragu perihal ilmu Allah, sedangkan orang yang ragu itu adalah jahil.

Padahal kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya adalah bahwa ucapan ‘Aisyah “Ya” adalah pengkuan terhadap sifat ilmu Allah dan itu sangat jauh sekali dari keraguan.

An Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarah Shahih Muslim:

( قالت مهما يكتم الناس يعلمه الله نعم… هكذا هو في الأصول وهو صحيح وكأنها لما قالت : مهما يكتم الناس يعلمه الله صدقت نفسها فقالت نعم )

(‘Aisyah berkata: “Bagaimanapun manusia menyembunyikannya, maka Allah mengetahuinya? Ya….” begitu ia dalam manuskrip-manuskrip induk, dan ia itu benar, seolah ‘Aisyah saat ia berkata: “Bagaimanapun manusia menyembunyikannya maka Allah mengetahuinya” maka ia membenarkan dirinya terus berkata: “Ya”.[22]
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Tidak Akan Mengakui Kebathilan Dan Tidak Akan Mengakhirkan Penjelasan Dari Waktu Yang Membutuhkan

Tidak mungkin terjadi ‘Aisyah radliyallahu ‘anha ragu perihal ilmu Allah ta’ala terus ia tidak mendapatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikitpun teguran dan penjelasan terhadap apa yang terjatuh ke dalamnya.

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingkari dengan keras terhadap orang-orang yang berkata “jadikan bagi kami Dzatu Anwath” padahal mereka itu baru masuk Islam, sebagaimana beliau mengingkari terhadap orang yang berkata: “Atas kehendak Allah dan kehendak engkau,” maka beliau berkata: “Apakah aku dijadikan tandingan bagi Allah”

Maka bagaimana mungkin beliau tidak mengingkari terhadap isterinya dan orang paling dekat kepadanya dan menjelaskan al haq kepadanya, padahal para ulama sudah menukil kesepakatan bahwa tidak boleh mengakhirkan penjelasan dari waktu kebutuhan.

Ibnu Qudamah berkata:

( ولا خلاف في أنه لا يجوز تأخير البيان عن وقت الحاجة )

(Dan tidak ada perselisihan bahwa tidak boleh mengakhirkan penjelasan dari waktu kebutuhan)[23]

Asy Syaukani berkata:

( قال ابن السمعاني : لا خلاف في امتناع تأخير البيان عن وقت الحاجة إلى الفعل ، ولا خلاف في جوازه إلى وقت الفعل )

(Ibnu As Sam’aniy berkata: Tidak ada perbedaan perihal tidak bolehnya mengakhirkan penjelasan dari waktu kebutuhan kepada perbuatan, dan tidak ada perbedaan perihal kebolehannya sampai waktu perbuatan)[24]

Bila masalahnya seperti itu, maka tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan suatu yang sangat mendesak untuk direalisasikan seperti urusan keyakinan. Ini menunjukan bahwa ‘Aisyah radliyallahu ‘anha tidak terjatuh ke dalam suatu yang dilarang yang butuh penjelasan, dan ini sangatlah jelas lagi tidak samar.
(7) Hadits Huzaifah

Para pengudzur itu berdalih juga dengan hadits Hudzaifah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( يدرس الإسلام كما يدرس وشي الثوب حتى لا يدرى ما صيام ولا صلاة ولا نسك ولا صدقة وليسرى على كتاب الله تعالى في ليلة فلا يبقى في الأرض منه آية ، وتبقى طوائف من الناس ، الشيخ الكبير والعجوز الكبيرة ، يقولون أدركنا آباءنا على هذه الكلمة : لا إله إلا الله فنحن نقولها). فقال صلة بن زفر فما تغني عنهم “لا إله إلا الله “وهم لا يدرون ما صلاة ولا صيام ولا نسك ولا صدقة ؟ فأعرض عنه حذيفة فرددها ثلاثا كل ذلك يعرض عنه حذيفة ، ثم أقبل عليه في الثالثة ، فقال : ( يا صلة تنجيهم من النار ، تنجيهم من النار)

(Islam menjadi lenyap sebagaimana hiasan pakaian menjadi lenyap sampai tidak diketahui apa shaum, apa shalat, nusuk dan shadaqah, dan akan diperjalankan terhadap Kitabullah ta’ala pada satu malam sehingga tidak tersisa di muka bumi ini satu ayatpun darinya, dan tersisalah beberapa kelompok manusia, kakek tua renta dan nenek lanjut usia, mereka mengatakan; Kami mendapatkan leluhur kami di atas kalimat ini “Laa ilaaha illallaah,” maka kami mengatakannya). Maka Silah Ibnu Zufar berkata: “Apa manfaatnya bagi mereka Laa ilaaha illallaah sedangkan mereka itu tidak mengetahui apa shalat, shaum, nusuk, dan shadaqah?” Maka Hudzaifah berpaling darinya, maka Silah terus mengulang-ngulang tiga kali, setiap itu Hudzaifah berpaling darinya, kemudian pada kali ke tiga Hudzifah menghadap kepadanya terus berkata: (Wahai Silah, kalimat itu menyelamatkan mereka dari neraka, menyelamatkan mereka dari neraka).[25]

وفيه دليل على العذر بالجهل فيما دون التوحيد في “بعض الأمكنة أو الأزمنة حيث ينتشر الجهل ويضعف نور النبوءة فيخفى على بعض الناس كثير من الأحكام الظاهرة المتواترة كوجوب الصلاة والصوم ، ولكن لا بد من الإقرار الذي عليه مدار النجاة ، لأنه بدون الإقرار لا يكونون مسلمين )

Di dalamnya ada dalil pengudzuran dengan sebab kejahilan dalam hal yang dibawah tauhid di sebagian tempat atau masa dimana di sana kejahilan merajalela dan redup cahaya kenabian sehingga tersamar atas sebagian manusia, banyak permasalahan hukum-hukum yang dhahir yang mutawatir seperti kewajiban shalat dan shaum, akan tetapi harus ada iqrar yang mana ia adalah tolak ukur keselamatan, karena tanpa iqrar maka mereka tidak menjadi orang Islam).[26]

Saya sangat heran sekali terhadap orang-orang yang membela-bela kaum musyrikin yang mengibadati selain Allah di atas kejahilan seraya berdalih dengan hadits ini. Ini adalah kelalaian yang sangat, karena kita berbicara tentang orang yang jahil terhadap tauhid, seperti orang yang jatuh dalam peribadatan kepada selain Allah, semisal memohon kepada mayit dalam kondisi sulit dan lapang, maka mana posisi meninggalkan shalat dan faraidl lainnya karena lenyapnya ilmu dari hal itu?

Hadits itu hanyalah perihal pengudzuran orang yang merealisasikan tauhid yang tidak memiliki tamakkun (kesempatan/peluang) dari ilmu, dan ini sangat jelas. Oleh sebab itu Hudzaifah berkata bahwa: “Kalimat itu menyelamatkan mereka dari neraka”, sedang sudah maklum bahwa tidak selamat dengannya kecuali orang yang mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekwensinya, sebagaimana telah lalu dalam hakikat tauhid. Dan kalau tidak demikian maka tentu ia mengharuskan untuk mengatakan apa yang dikatakan Murji’ah bahwa sekedar mengucapkan kalimat itu adalah cukup, ini disamping bahwa di dalam sanad hadits ini ada orang yang dituduh menganut paham Murji’ah.

Bersambung…

Baca juga artikel lainnya:

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 9)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 10)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 11)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 12)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 13)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 14)
[1] Diriwayatkan At Tirmidzi dan dishahihkannya (2180), Ahmad (5/218), Abdurrazaq dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah (76)
[2] Kitab At Tauhid hal. 137-138, Majmu’ah At Tauhid.
[3] Diriwayatkan Ibnu Maajah, Kitabul Asyribah (3375) As Silsilah Ash Shahihah (677) dari Abu Hurairah
[4] Diriwayatkan Al Bukhari (554). Muslim (633), Abu Dawud (4729) dan At Tirmidzi (2551)
[5] Diriwayatkan oleh Ahmad (1/224) dishahihkan oleh Ahmad Syakir, Al bukhari dalam Al Adabul Mufrid (783), An Nasaai dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah (988), Ibnu Maajah (2117) dan dalam sanadnya ada Al Ajlah, ia meriwayatkannya dari Yazid Ibnul Ashamm dari Ibnu ‘Abbas, dan tentang Al Ajlah ada perbincangan, sedangkan haditsnya adalah hasan, dan hadits ini dihasankan oleh Al Albaniy
[6] Al I’tisham 2/245-246
[7] Iqtidla Ash Shirathil mustaqim Hal. 314
[8] Tafsir Ibni katsir: 1/121
[9] Fathul Qadir dalam satu jilid hal. 81
[10] Fathul Qadir hal. 870
[11] Fathul Qadir hal. 926
[12] HR. Al Bukhari (1496) dan Muslim (29)
[13] Fathul Bari 3/419
[14] Al Mufhim Syarh Shahih Muslim: 1/181
[15] Al Fatawa 1/74-75
[16] As Sailul Jarrar, cetakan pertama dalam satu jilid hal. 979 dalam fasal riddah
[17] Nailul Authar: 6/234
[18] Fatwa Abdullah Ibnu Qu’ud, Abdurrazaq ‘Afifi dan Abdul ‘Aziz Ibnu Baz, fatawa nomor (4400) Al Lajnah Ad Daimah: 1/220
[19] Tafsir Al Baghawi dalam satu jilid hal. 26
[20] Tafsir Al Baghawi hal. 663
[21] HR. Muslim dala Shahihnya -Kitabul Janaiz- Bab. ma yuqalu ‘inda dukhulil qubur wad dua li ahliha (975)
[22] Syarh Shahih Muslim, An Nawawi: 7/44
[23] Raudlatun Nadhir Wa Junnatul Munadhir hal. 96
[24] Irsyadul Fuhul hal. 173
[25] HR. Ibnu Maajah dan diriwayatkan Al Hakim dan berkata: Shahih sesuai syarat Muslim, dan ia dituturkan Al Baniy dalam Ash Shahihah (87)
[26] Nawaqidul Iman Al I’tiqadiyyah: 1/231


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: