Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1) » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 14)

Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 14)


(3) Hadits Tentang Qudrah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( قال رجل لم يعمل حسنة قط لأهله، إذا مات فحرقوه ثم اذروا نصفه في البر ونصفه في البحر ، فو الله لئن قدر الله عليه ليعذبنه عذابا لا يعذبه أحدا من العالمين ، فلما مات الرجل فعلوا ما أمرهم فأمر الله البر فجمع ما فيه وأمر البحر فجمع ما فيه ثم قال لم فعلت هذا ؟ قال من خشيتك يا رب وأنت أعلم فغفر الله له )

“Seorang pria yang tidak beramal satupun kebaikan berkata kepada keluarganya (bahwa) bila ia mati maka bakarlah dia kemudian taburkanlah separuh (abu)nya di daratan dan separuhnya di lautan, demi Allah seandainya Allah kuasa terhadapnya tentu benar-benar Dia akan mengadzabnya dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakkan kepada seorangpun. Kemudian tatkala orang itu mati, maka mereka melakukan apa yang dia perintahkan kepada mereka, maka Allah memerintahkan daratan sehingga ia mengumpulkan apa yang ada di dalamnya dan Dia memerintahkan lautan sehingga ia mengumpulkan apa yang ada di dalamnya, kemudian Dia berkata: “Kenapa kamu lakukan hal ini?” Orang itu berkata: “Karena takut dari-Mu wahai Rabb, sedangkan Engkau adalah lebih mengetahui”, maka Allah-pun mengampuni baginya).[1]

Ia adalah hadits mutawatir yang telah datang dari Abu Hurairah, Abu Sa’id, Hudzaifah dan yang lainnya.

Takwil Para Ulama Terhadap Hadits Ini:

An Nawawiy rahimahullah berkata: (Para ulama berselisih prihal pentakwilan hadits ini, di mana satu kelompok berkata: Tidak sah membawa hadits ini kepada keadaan bahwa orang itu bermaksud menafikan qudrah Allah, karena sesungguhnya orang yang ragu pada qudrah Allah ta’ala adalah kafir, padahal dia telah mengatakan di akhir hadits bahwa yang mendorong dia untuk melakukan hal ini hanyalah karena khasyyatullah ta’ala (rasa takut kepada Allah ta’ala), sedangkan orang kafir itu tidak takut kepada Allah ta’ala dan tidak diampuni. Mereka itu berkata: Maka hadits ini memiliki dua takwil: Pertama: Bahwa maknanya “Seandainya Allah menetapkan adzab terhadap saya” dikatakan dari qadara dengan ditakhfif (tidak ditasydid) dan qaddara dengan ditasydid, dengan satu makna. Kedua: Bahwa qadara maknanya adalah dlayyaqa (mempersempit/membatasi), seperti firman Allah ta’ala:

﴿ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ﴾

“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (Al Fajr: 16)

Dan ia adalah salah satu pendapat dari sekian pendapat dalam penafsiran firman Allah ta’ala:

﴿ وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadati selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Al Anbiya: 87)

Satu kelompok berkata: Lafadh itu sesuai dhahirnya, akan tetapi pria ini mengatakannya dalam kondisi dia tidak bisa mengendalikan ucapannya dan tidak memaksudkan hakikat maknanya serta (tidak) meyakininya, namun dia mengucapkannya dalam keadaan diliputi rasa ketercengangan, rasa takut dan kalut yang dasyat di mana lenyap rasa kesadarannya dan pengawasan terhadap ucapannya, sehingga ia itu sama dengan orang yang tidak sadar dan orang yang lupa, sedangkan keadaan seperti ini adalah tidak berkonsekuensi hukuman di dalamnya, dan ia itu sama seperti pria lain yang mengatakan dalam keadaan tak sadar karena saking bahagianya tatkala dia mendapatkan lagi unta tunggangannya “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu” maka dia tidak kafir dengan sebab rasa kalut dan lupa.

Dan telah ada dalam hadits ini dalam selain riwayat Muslim ucapannya “فلعلي أضل الله ”(Maka saya berharap lepas dari Allah) yaitu saya lepas dari-Nya, dan ini menunjukan bahwa ucapannya “لئن قدر الله” adalah sesuai dhahirnya.

Dan satu kelompok berkata: Ini adalah tergolong majaz ucapan orang-orang Arab dan badi’ul isti’mal (keindahan penggunaan ungkapan) yang mereka namakan mazjusysyakki bil yaqin (pencampuran keraguan dengan keyakinan), seperti firman-Nya ta’ala:

﴿ قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴾

“Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya Kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (Saba: 24)

Di mana gambarannya adalah gambaran keraguan sedangkan yang dimaksud dengannya adalah keyakinan.

Dan satu kelompok mengatakan: pria ini tidak mengetahui satu sifat dari sifat-sifat Allah, sedangkan para ulama telah berselisih pendapat prihal pengkafiran orang yang jahil terhadap satu sifat. Al Qadli ‘Iyadl berkata: Dan di antara yang mengkafirkannya dengan sebab itu adalah Ibnu Jarir Ath Thabari, dan ia adalah pendapat Abu Hasan Al Asy’ariy di awal-awal, sedangkan ulama lain mengatakan bahwa dia tidak dikafirkan dengan sebab kejahilan terhadap satu sifat, dan dia tidak keluar dengannya dari nama iman, berbeda halnya dengan pengingkarannya, dan kepada pendapat ini Abul Hasan Al Asy’ari telah rujuk dan ia menjadi pendapatnya yang baku, karena dia itu tidak meyakini hal itu dengan keyakinan yang memastikan kebenarannya dan memandangnya sebagai dien (ajaran) dan syari’at, namun yang dikafirkan itu adalah orang yang meyakini bahwa keyakinanya itu adalah benar, dan mereka itu berkata: Seandainya manusia ditanya tentu didapatkan bahwa orang yang mengetahuinya itu sedikit.

Dan satu koelompok mengatakan: Pria ini adalah hidup di zaman fatrah saat sekedar tauhid bisa bermanfaat sedangkan tidak ada taklif sebelum datangnya syari’at menurut pendapat yang shahih, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

﴿ مَّنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً ﴾

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Al Isra: 15)

Dan satu kelompok berkata: Bisa saja dia berada di zaman yang mana pada syari’at mereka ada kebolehan memaafkan orang kafir berbeda dengan syari’at kami, dan itu adalah tergolong hal yang dibolehkan oleh akal menurut Ahlussunnah, dan kita mencegahnya dalam syari’at kita hanyalah dengan syari’at, yaitu firman Allah ta’ala:

﴿ إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisaa: 48)

Dan dalil-dalil lainnya wallahu a’lam).[2]

Dilalah Pentakwilan Para Ulama Terhadap Hadits Ini:

Tatkala dhahir hadits ini adalah musykil, maka para ulama terpaksa melakukan takwil terhadapnya, sedangkan termasuk hal maklum bahwa para ulama itu tidak beranjak kepada takwil kecuali saat dlarurat, dan mereka melangkah kepadanya saat ada hal yang menuntut pentakwilan itu, umpamanya (dhahir nash itu menyelisihi kaidah baku yang sudah diketahui secara pasti dari dien ini atau menyelisihi nash yang lebih kuat sanadnya darinya).[3]

Dan Imam Muslim rahimahullah telah membuat bab di dalam Shahihnya, di mana beliau berkata:

( باب الدليل على أن من مات على التوحيد دخل الجنة قطعا )

(Bab dalil yang menunjukan bahwa barangsiapa yang mati di atas tauhid, maka dia pasti masuk surga).

Dan An Nawawiy rahimahullah berkata setelah menetapkan bahwa tidak:

( يخلد في النار من مات على التوحيد ولو عمل من المعاصي ما عمل ، كما أنه لا يدخل الجنة أحد مات على الكفر ولو عمل من أعمال البر ما عمل …فإذا تقررت هذه القاعدة ، حمل عليها جميع ما ورد من أحاديث الباب وغيرها ، فإذا ورد حديث في ظاهره مخالفة وجب تأويله عليها ليجمع بين نصوص الشرع )

(kekal di dalam neraka orang yang mati di atas tauhid walaupun dia telah melakukan berbagai maksiat, sebagaimana tidak akan masuk surga seorangpun yang mati di atas kekafiran walaupun dia telah melakukan berbagai amal kebaikan… bila kaidah ini sudah baku, maka dibawa kepadanyalah semua hal-hal yang datang dari hadits-hadits permasalahan ini dan yang lainnya, di mana bila datang suatu hadits yang secara sepintas menyelisihi(nya) maka wajib mentakwilnya kepadanya agar semua nash-nash syar’iy bisa digabungkan).[4]

Al Hafidh berkata:

( وأظهر الأقوال أنه قال ذلك في حال دهشته وغلبة الخوف عليه حتى ذهب تعقله لما يقول ، ولم يقله قاصدا لحقيقة معناه ، بل في حالة كان فيها كالغافل والذاهل والناسي الذي لا يؤاخذ بما يصدر منه ، وأبعد الأقوال قول من قال : إنه كان في شرعهم جواز المغفرة للكافر )

(Dan pendapat yang paling nampak adalah bahwa orang itu mengucapkan hal itu dalam keadaan keterkalutannya dan rasa takut yang menyelimutinya sehingga lenyap pengawasan akalnya terhadap apa yang dia katakan, dan dia tidak mengatakannya seraya memaksudkan hakikat maknanya, akan tetapi dalam keadaan yang mana di dalamnya dia itu seperti orang yang lengah, linglung dan lupa yang mana tidak dikenakan sangsi atas apa yang muncul darinya. Sedangkan pendapat yang paling jauh adalah pendapat orang yang mengatakan: Sesungguhnya di dalam syari’at mereka itu ada kebolehan ampunan bagi orang kafir).[5]

Pendapat yang dianut Al Hafidh adalah perlu ditinjau lagi, apalagi sesungguhnya hadits itu adalah tentang luasnya rahmat Allah. Dan bagaimanapun pentakwilan ulama itu, maka sesungguhnya pentakwilan ulama terhadap hadits ini adalah dalil terbesar yang menunjukan bahwa bukan termasuk kaidah mereka sikap mengudzur dengan sebab kejahilan bagi orang yang terjatuh ke dalam kekafiran kepada Allah, dan kalau tidak demikian tentulah para ulama itu akan mengatakan “bahwa orang itu telah jatuh dalam kekafiran dan dia itu diudzur dengan sebab kejahilan” sehingga para ulama itu tidak susah payah melakukan takwil.

Pria Itu Adalah Muwahhid Yang Tidak Jahil Terhadap Qudrah Allah:

Seandainya pria itu jahil terhadap qudrah Allah tentu dia tidak akan menyuruh keluarganya untuk melakukan apa yang mereka lakukan, namun cukuplah baginya mereka menguburnya dengan keadaan seadanya dan dia mengatakan (seandainya Allah kuasa terhadap saya tentu benar-benar Dia akan mengadzab saya dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakkan kepada seorangpun). Dan Al Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih dan menambahkan:

( لم يعمل خيرا قط إلا التوحيد )

“Yang tidak mengamalkan kebaikan sama sekali kecuali tauhid”

Sedangkan pertentangan itu adalah hanya prihal orang yang jahil terhadap tauhid.

Dan dalam satu riwayat milik Muslim

( فإنني لم أبتهر عند الله خيرا ، وإن الله يقدر أن يعذبني)

”Karena sesungguhnya saya tidak membanggakan di sisi Allah suatu kebaikanpun, dan sesungguhnya Allah kuasa untuk mengadzab saya” [6]

Maka ini menunjukan bahwa pria ini adalah tidak jahil terhadap qudrah Allah untuk membangkitkannya dan mengadzabnya. An Nawawiy berkata: (dan sesungguhnya Allah kuasa untuk mengadzab saya) adalah begitu teksnya dalam mayoritas manuskrif di negeri kami, dan beliau menukil kesepakatan para perawi dan para penulis manuskrif terhadapnya, begitu dengan pengulangan “إن” dan pengguguran kata “أن” yang kedua dalam sebagian manuskrif yang menjadi pegangan, sehingga atas dasar ini maka “إن” yang pertama adalah syarthiyyah (bermakna syarat), dan taqdirnya adalah sesungguhnya Allah kuasa untuk mengadzab saya, dan ini adalah sejalan dengan riwayat yang lalu. Adapun menurut riwayat jumhur yaitu penetapan “أن” yang kedua bersama yang pertama maka ada perselisihan prihal pen-taqdir-annya…

Dan ia boleh sesuai dhahirnya sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang mengatakan ini, akan tetapi makna ucapannya di sini adalah “bahwa Allah Maha Kuasa untuk mengadzab saya bila kalian mengubur saya dengan keadaan saya ini, adapun bila kalian meleburkan jasad saya dan menaburkan saya di daratan dan lautan maka Dia tidak Kuasa terhadap saya, sedangkan jawaban terhadap hal ini adalah seperti yang telah lalu, dan dengan ini semua riwayat bisa disatukan, wallahu ‘alam).[7]

Orang Yang Jahil Terhadap Qudrah Allah Untuk Melakukan Mumtani’aat (Hal-Hal Yang Dianggap Mustahil) Adalah Diudzur Bersama Pengakuannya:

Pria ini hanyalah jahil terhadap Qudrah Allah Untuk Melakukan Mumtani’aat (Hal-Hal Yang Dianggap Mustahil), sedangkan mumtani’at itu adalah keluar dari lingkaran qudrah di mana ia tidak diketahui kecuali lewat syari’at.

Ad Dahlawiy berkata sesungguhnya pria yang disebutkan di dalam hadits itu: (adalah meyakini bahwa Allah itu memiliki sifat qudrah yang sempurna, akan tetapi qudrah itu hanyalah pada mumkinat (hal-hal yang mungkin) bukan pada mumtani’at, sedangkan dia itu mengira bahwa pengumpulan abunya yang bertebaran separuhnya di daratan dan separuhnya di lautan adalah hal yang tidak mungkin (mumtani’), maka hal itu tidak dijadikan sebagai pengurangan, di mana dia mengambil kadar ilmu yang dia miliki dan tidak dianggap kafir).[8]

Ibnu Hazm berkata:

( …فهذا إنسان جهل إلى أن مات أن الله عز وجل يقدر على جمع رماده وإحيائه ، وقد غفر له لإقراره وخوفه وجهله)

(….maka ini adalah orang yang jahil sampai mati bahwa Allah ‘azza wa jalla kuasa untuk mengumpulkan abunya dan menghidupkannya, dan Dia mengampuninya karena pengakuannya dan rasa takutnya serta kejahilannya).[9]

Hal ini adalah yang diduga oleh pria itu sebagai bagian dari mumtani’at, adapun pernyataan bahwa orang itu adalah jahil terhadap qudrah Allah secara muthlaq maka pernnyataan ini adalah kebodohan yang murni, karena bagaimana bisa masuk akal ada seseorang takut kepada dzat yang lemah yang tidak kuasa terhadap sesuatupun?

Ibnul Qayyim telah menuturkan dalam konteks pembicaraannya tentang hukum orang yang mengingkari satu hal fardlu dari faraidl islam ini, di mana beliau berkata:

( أما من جحد ذلك جهلا أو تأويلا ، يعذر فيه صاحبه ، كحديث الذي جحد قدرة الله وأمر أهله أن يحرقوه ويذروه في الريح ومع هذا فقد غفر له الله ورحمه لجهله ، إذا كان ذلك الذي فعله مبلغ علمه ، ولم يجحد قدرة الله على إعادته عنادا أو تكذيبا )

(Adapun orang yang mengingkari hal itu karena kejahilan atau takwil, maka pelakunya diudzur di dalamnya, seperti hadits prihal orang yang mengingkari qudrah Allah dan memerintahkan keluarganya agar membakarnya dan menaburkannya di angin, namun demikian Allah telah mengampuninya dan merahmatinya karena kejahilannya, bila yang dia lakukan itu adalah kadar ilmu yang telah sampai kepadanya, dan dia tidak mengingkari qudrah Allah terhadap pengembaliannya karena pembangkangan atau pendustaan).[10]

Ibnul Wazir berkata:

( وإنما أدركته الرحمة لجهله وإيمانه بالله والمعاد ، ولذلك خاف العقاب ، وأما جهله بقدرة الله على ما ظنه محالا فلايكون كفرا ، إلا لو علم أن الأنبياء جاؤوا بذلك ، وأنه ممكن مقدور ثم كذبهم أو أحدا منهم لقوله تعالى: ﴿ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً ﴾وهذا أرجى حديث لأهل الخطإ في التأويل )

(Sebab dia mendapatkan rahmat itu hanyalah karena kejahilannya dan keimanannya kepada Allah dan kebangkitan, oleh sebab itu dia takut kepada adzab. Adapun kejahilannya kepada qudrah Allah terhadap apa yang dia anggapnya suatu yang mustahil maka dia itu tidak menjadi kafir, kecuali bila dia mengetahui bahwa para nabi telah datang dengannya, dan bahwa hal itu adalah hal yang mungkin lagi di bawah qudrah-Nya terus dia mendustakan mereka atau salah seorang dari mereka, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: ”Dan Kami tidak mungkin mengadzab sehingga Kami mengutus seorang rasul” (Al Isra: 15) dan ini adalah hadits yang paling diharapkan bagi orang-orang yang keliru dalam takwil).[11]

Bersambung…

Baca jugar artikel terkait lainnya:

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 8)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 9)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 10)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 11)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 12)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 13)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 15)
[1] Al Bukhari – Kitabut tauhid 7560 dan Muslim – Kitabut Taubah – 2756.
[2] Syarh Muslim 7/7470.
[3] Ushul Fiqhi Milik Muhammad Abu Zahrah hal 107 dan silahkan rujuk Al Muwafaqat (3/9, 10, 261)
[4] Syarh 1/217.
[5] Fathul Bari 6/604.
[6] Muslim 2757.
[7] Syarh Muslim 17/38, 84.
[8] Hujjatullahil Balighah 1/60.
[9] Al Fashl 3/252.
[10] Madarijus Salikin 1/367.
[11] Iitsarul Haq ‘Alal Khalqi 436.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: