Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1) » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 13)

Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 13)


Syubhat-Syubhat Seputar Pengudzuran Dengan Sebab Kejahilan Dan Takwil

.

(1) Syubhat Bahwa Kesesatan Itu Tidak Terjadi Kecuali Setelah Ada Penjelasan (2) Kisah Al Hawariyyin (3) Hadits Tentang Qudrah (4) Hadits Dzatu Anwath (5) Hadits Sujud Mu’adz (6) Hadits Aisyah Prihal Sifat Ilmu (7) Hadits Hudzaifah Prihal Kejahilan Terhadap Faraidl

Pengembalian Yang Mutasyabih Kepada Yang Muhkam

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿ هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ ﴾

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 7)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam penafsiaran ayat ini:

( يخبر الله تعالى أن في القرآن آيات محكمات هن أم الكتاب أي بينات واضحة الدلالة لا التباس فيها على أحد ومنه آيات أخر فيها اشتباه في الدلالة على كثير من الناس أو بعضهم ، فمن رد ما اشتبه إلى الواضح منه وحكم محكمه على متشابهه عنده فقد اهتدى ومن عكس انعكس )

(Allah ta’ala mengabarkan bahwa di dalam Al Qur’an itu ada ayat-ayat muhkamat yang mana ia adalah Ummul Kitab (pokok-pokok isi Al Qur’an) yaitu ayat-ayat yang jelas lagi terang dilalahnya lagi tidak ada kesamaran di dalamnya terhadap siapapun, dan di antaranya ada ayat-ayat lain yang di dalamnya terdapat kesamaran dalam dilalahnya terhadap banyak manusia atau terhadap sebagian mereka. Barangsiapa mengembalikan apa yang tersamar kepada yang jelas darinya serta dia menjadikan yang muhkam sebagai pemutus terhadap yang mutasyabih menurutnya, maka dia itu telah mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa yang membalikannya maka dia pasti terpuruk).[1]

Dan sungguh Aisyah radliyallahu ‘anha telah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( …إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم )

“….Bila kalian melihat orang-orang yang mengikuti hal yang mutasyabih darinya, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah disebutkan Allah maka waspadalah terhadap mereka.”[2]

Dan sungguh indah apa yang dikatakan oleh Abu Qilabah:

( لا تجالسوا أهل الأهواء ولا تحدثوهم ، فإني لا آمن أن يغمروكم في ضلالتهم ، أو يلبسوا عليكم ما كنتم تعرفون )

“Jangan kalian berduduk-duduk dengan ahli ahwa (bid’ah) dan janganlah kalian mengajak mereka berbicara, karena sesungguhnya saya tidak merasa aman mereka itu menceburkan kalian ke dalam kesesatan mereka, atau mereka mengkaburkan atas kalian apa yang telah kalian ketahui.”[3]

(1) Syubhat Bahwa Kesesatan Itu Tidak Terjadi Kecuali Setelah Ada Penjelasan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿ وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ إِنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴾

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (At Taubah: 115)

Mereka berkata: Ini menunjukan bahwa dlalal (kesesatan) itu tidak terjadi kecuali setelah ada bayan (penjelasan).

(Kami katakan): Pembicaraan tentang hal ini adalah dari beberapa sisi:

Kesesatan Yang berkonsekuensi adzab.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata:

﴿ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُواْ اللّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ ﴾

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (Al Baqarah: 198)

Dan berfirman:

﴿هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴾

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (Al Jumu’ah: 2)

Asy Syaukaniy rahimahullah berkata:

( أي وإن كانوا من قبل بعثته فيهم في شرك وذهاب عن الحق )

(Yaitu sesungguhnya mereka itu sebelum pengutusan Rasul di tengah mereka adalah berada dalam kemusyrikan dan kelenyapan dari kebenaran).[4]

Jadi manusia sebelum sampainya risalah (kerasulan) kepada mereka adalah orang-orang yang sesat, dan penjelasan hal ini adalah sangat jelas di dalam Al Kitab dan Assunnah, akan tetapi mereka itu tidak diadzab atas kesesatan itu kecuali setelah tegaknya hujjah risaliyyah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿ وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللّهُ مَن يَشَاء وَيَهْدِي مَن يَشَاء وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴾

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Ibrahim: 4)

Kesesatan inilah yang mengharuskan adanya adzab kerena hujjah sudah tegak, walaupun sesungguhnya orang-orang itu sebelum tegak hujjah tersebut adalah orang-orang yang sesat, bukan bahwa mereka itu dinamakan sebagai orang-orang yang sesat setelah adanya risalah.

Begitu juga kesesatan yang disebutkan di dalam ayat itu (maksudnya ayat 115 At Taubah, pent) adalah kesesatan yang mengharuskan adanya adzab, oleh sebab itu firman-Nya “ لِيُضِلَّ ” ditafsirkan dengan “ ليعذب ” (mengadzab). Adl Dlahhak berkata dalam tafsir ayat ini:

( وما كان الله ليعذب قوما حتى يبين لهم ما يأتون وما يذرون )

(Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab suatu kaum sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang (harus) mereka lakukan dan apa yang (harus) mereka tinggalkan).[5]

Kejahilan Adalah Sebab Kesesatan:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿ قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُواْ أَوْلاَدَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُواْ مَا رَزَقَهُمُ اللّهُ افْتِرَاء عَلَى اللّهِ قَدْ ضَلُّواْ وَمَا كَانُواْ مُهْتَدِينَ ﴾

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Al An’am: 140)

Dan Allah berfirman:

﴿ لِيَحْمِلُواْ أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلاَ سَاء مَا يَزِرُونَ ﴾

“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan tanpa dasar ilmu. Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (An Nahl: 25)

Asy Syaukaniy rahimahullah berkata:

( أي قالوا هذه المقالة ليحملوا أوزارهم كاملة ، لم يكفر منها شيء لعدم إسلامهم الذي هو سبب لتكفير الذنوب ، وقيل إن اللام هي لام العاقبة لأنهم لم يصفوا القرآن بكونه أساطير لأجل أن حملوا الأوزار، ولكن لما كان عاقبتهم ذلك حسن التعليل به، كقوله تعالى ﴿ فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ ﴾، وقيل لام الأمر ﴿وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم﴾ أي ويحملون بعض أوزار الذين يضلونهم ومحل ( بغير علم ) النصب على الحال من فاعل يضلونهم أي يضلون الناس جاهلين غير عالمين بما يدعونهم إليه ، ولا عارفين بما يلزم من الآثام ، وقيل إنه حال من المفعول أي يضلون من لا علم له ، ومثل هذه الآية: ﴿وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَّعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ ﴾)

(Yaitu mereka mengatakan ungkapan ini supaya mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya, yang tidak diampuni sedikitpun darinya karena mereka tidak masuk Islam yang merupakan sebab penghapusan dosa. Ada yang mengatakan bahwa Laam itu adalah laam yang bermakna akibat, karena sesungguhnya mereka itu tidak mansifati Al Qur’an sebagai dongeng-dongeng orang terdahulu dalam rangka mereka memikul dosa-dosa itu, akan tetapi tatkala akibat akhir mereka itu adalah hal itu maka alangkah baiknya diberikan ta’lil (alasan hukum) dengannya, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (Al Qashash: 8) dan ada yang engatakan bahwa ia adalah laamul amri (laam perintah). “dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan” yaitu mereka memikul sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan, sedangkan posisi “tanpa dasar ilmu” adalah posisi nashab sebagai haal dari fa’il “ يُضِلُّونَهُم ” yaitu mereka menyesatkan manusia seraya mereka itu jahil lagi tidak mengetahui apa yang mereka ajak manusia kepadanya, dan tidak mengetahui dosa yang ditimbulkannya, dan ada juga yang mengatakan bahwa ia itu adalah haal dari maf’ul yaitu mereka menyesatkan orang yang tidak memiliki ilmu. Dan ayat ini serupa dengan ayat: “Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban- beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (Al ‘Ankabut: 13)).[6]

Dan telah ada di dalam Ash Shahihain dari hadits Abdullah Ibnu ‘Amr radliyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( إن الله لا يقبض العلم إذا انتزعه انتزاعا، وإنما يقبضه بموت العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوساً جهالا ، فسألوهم فأفتوهم بغير علم فضلوا وأضلوا )

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu bila Dia mencabutnya secara sekaligus, akan tetapi Dia hanyalah mencabutnya dengan kematian para ulama, sehingga bila Dia tidak menyisakan seorang alim-pun, maka manusia mengangkat para pemimpin yang jahil, terus mereka bertanay kepada mereka kemudian mereka memberikan fatwa kepada mereka tanpa dasar ilmu sehingga mereka sesat lagi menyesatkan.”

Maka jelaslah bahwa kejahilan itu adalah sebab bagi kesesatan mereka.

Al Bukhari telah membuat bab dalam Kitab Al ‘Itisham Bil Kitab Was Sunnah dari kitab Shahih-nya:

باب إثم من دعا إلى ضلالة أو سن سنة سيئة لقول الله تعالى: ﴿ لِيَحْمِلُواْ أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلاَ سَاء مَا يَزِرُونَ ﴾

(Bab dosa orang yang mengajak kepada kesesatan atau memberikan contoh yang buruk, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:” “(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan tanpa dasar ilmu. Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.”[7]

Muslim, Abu Dawud dan At Tirmidziy telah meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا )

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan dari pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya seraya hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dari dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya seraya hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.”[8]

Al Baghawi berkata dalam menjelaskan firman-Nya ta’ala: “ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ”: (tanpa hujjah sehingga mereka menghalang-halangi mereka dari keimanan “ أَلاَ سَاء مَا يَزِرُونَ ” (yaitu) apa yang mereka pikul). Kemudian menuturkan hadits Abu Hurairah dengan sanadnya.[9]

Penempatan Ayat Ini (At Taubah: 115):

Asy Syaukaniy berkata:

( لمانزلت الآية المتقدمة في النهي عن الاستغفار للمشركين خاف جماعة ممن كان يستغفر لهم ، العقوبة من الله بسبب ذلك الاستغفار ، فأنزل الله سبحانه: ﴿ وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ ﴾ أي أن الله سبحانه لا يوقع الضلال على قوم ، ولا يسميهم ضلالا بعد أن هداهم للإسلام والقيام بشرائعه ما لم يُقدموا على شيء من المحرمات بعد أن تبين لهم ذلك فلا إثم عليهم ولا يؤاخذون به ، ومعنى: ﴿ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ ﴾ حتى يبين لهم ما يجب عليهم اتقاؤه من محرمات الشرع: ﴿ إِنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴾ مما يحل لعباده ويحرم عليهم ، ومن سائر الأشياء التي خلقها )

(Tatkala turun ayat yang lalu tentang larangan dari memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik, maka sejumlah orang yang pernah memintakan ampunan bagi mereka merasa takut terhadap siksa dari Allah dengan sebab permintaan ampunan itu, maka Allah Subhanahu menurunkan: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka” yaitu bahwa Allah Subhanahu tidak menimpakan kesesatan kepada suatu kaum dan tidak menamakan mereka sebagai orang-orang sesat setelah Dia memberikan hidayah mereka kepada keislaman dan pelaksanaan syari’at-syari’atnya selagi mereka tidak melakukan sesuatu dari hal-hal yang diharamkan setelah hal itu nyata jelas di hadapan mereka, sehingga tidak ada dosa atas mereka dan mereka tidak dikenakan sangsi hukuman dengan sebabnya. Sedangkan makna “حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ ” yaitu sehingga dijelaskan kepada mereka apa yang wajib mereka jauhi berupa hal-hal yang diharamkan oleh syari’at ini. “Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu ” dari apa-apa yang dihalalkan bagi hamba-hamba-Nya dan yang diharamkan atas mereka, dan dari hal-hal lainnya yang telah Dia ciptakan).[10]

Karena sesungguhnya orang yang telah masuk Islam seraya merealisasikan tauhid yang merupakan intinya adalah tidak namakan orang sesat dengan sebab apa yang tidak dia ketahui dari syari’at ini dan dia tidak dikenakan sangsi hukum dengan sebab hal itu di dunia maupun di akhirat, karena dia telah masuk Islam dengan tauhid tidak dengan selainya dari faraidl itu. Bila orang itu jahil terhadap tauhid lagi mengklaim muslim maka sekedar klaim islam itu tidaklah bermanfaat baginya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir ayat 115 surat At Taubah ini:

( إنه سبحانه لا يضل قوما إلا بعد إبلاغ الرسالة إليهم حتى يكونوا قد قامت عليهم الحجة كما قال تعالى: ﴿ وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾. قال ابن جرير : يقول الله تعالى : وما كان الله ليقضي عليكم في استغفاركم لموتاكم المشركين بالضلال بعد إذ رزقكم الهداية ووفقكم للإيمان به وبرسوله ، حتى يتقدم إليكم بالنهي عنه فتتركوا ، فأما قبل أن يبين لكم كراهية ذلك بالنهي عنه ، ثم لا تتعدوا نهيه إلى ما نهاكم عنه ، فإنه لا يحكم عليكم بالضلال ، فإن الطاعة والمعصية إنما يكونان في المأمور والمنهي وأما من لم يؤمر ولم ينه فغير كائن مطيعا أو عاصيا فيما لم يؤمر به أو ينه عنه ).

(Sesungguhnya Allah subhanahu tidaklah menyesatkan suatu kaum kecuali setelah penyampaian risalah kepada mereka agar mereka itu telah tegak hujjah atas diri mereka, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (Fushshilat: 17). Ibnu Jarir berkata: Allah ta’ala berfirman: Dan Allah tidak mungkin memvonis sesat kalian dalam permintaan ampun kalian bagi mayit-mayit kalian yang musyrik setelah Dia mengkaruniakan hidayah kepada kalian dan setelah memberikan taufiq kepada kalian terhadap keimanan kepada-Nya dan Rasul-Nya, sampai Dia menyampaikan kepada kalian larangan darinya terus kalian meninggalkan. Adapun sebelum Dia menjelaskan kepada kalian ketidaksukaan terhadap hal itu dengan larangan kemudian kalian tidak melampaui larangan-Nya kepada apa yang Dia larang darinya, maka sesungguhnya Dia tidak memvonis kalian sebagai orang sesat, karena ketaatan dan maksiat itu hanyalah pada hal yang diperintahkan dan hal yang dilarang. Adapun orang yang tidak diperintah dan tidak dilarang, maka dia itu tidaklah menjadi orang yang taat atau maksiat di dalam apa yang tidak diperintahkan kepadanya atau tidak dilarang darinya).[11]

Jadi posisi penempatan ayat ini adalah berkaitan dengan perintah dan larangan yang diarahkan kepada orang yang telah merealisasikan tauhid, di mana Allah tidak akan memberikan sangsi dengan sebab melakukan perbuatan yang dilarang atau (dengan sebab) meninggalkan perbuatan yang diperintahkan kecuali setelah ada bayan (penjelasan) dan penegakkan hujjah.

Kemudian sesungguhnya kejahilan itu bukanlah penghalang dari (sematan) kesesatan dan adzab, bahkan justeru ia adalah penyebab bagi keduanya, terutama bila pelakunya itu adalah tidak lemah (memiliki kesempatan). Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

( ولفظ الضلال إذا أطلق تناول من ضل عن الهدى سواء كان عمدا أو جهلا ولزم أن يكون معذبا كقوله: ﴿وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا * رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا ﴾ وقوله تعالى: ﴿ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ﴾)

(Kata dlalal (kesesatan) itu bila dilontarkan secara muthlaq, maka ia itu mencakup orang yang tersesat dari petunjuk baik secara sengaja atau karena kejahilan, dan ia itu mesti diadzab, seperti firman-Nya: “Dan mereka berkata;: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar” (Al Ahzab: 67-68) dan firman-Nya ta’ala: “lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)).[12]

(2) Kisah Al Hawariyyin

Allah ta’ala berfirman:

﴿ إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاء قَالَ اتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴾

“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.” (Al Maidah: 112)

Al Baghawi rahimahullah berkata: (Al Kisaa-iy membaca “ هَلْ تَسْتَطِيعُ ” dengan taa dan membaca “ رَبَّكَ ” dengan me-nashab-kan baa, ia adalah qira-at Ali, Aisyah, Ibnu ‘Abbas dan Mujahid, yaitu apakah engkau bisa memohon dan meminta kepada Rabb-mu. Dan yang lain membaca “ يَسْتَطِيعُ ” dengan yaa dan “ يَسْتَطِيعُ ” dengan me-rafa’-kan baa, dan Al Hawariyyun itu tidak mengatakannya dalam keadaan ragu terhadap qudrah Allah ‘azza wa jalla akan tetapi maknanya: Apakah Rab-mu menurunkannya ataukah tidak, sebagaimana ucapan seseorang kepada temannya: “Apakah engkau bisa bangkit bersama saya” sedangkan dia mengetahui bahwa temannya itu bisa, akan tetapi dia memaksudkan apakah temannya itu melakukan hal itu ataukah tidak, dan ada yang mengatakan bahwa “ يَسْتَطِيعُ ” bermakna “ يطيع ” (mentaati) di mana dikatakan “ أطاع ” dan “ استطاع ” dengan satu makna, seperti ucapannya “ أجاب ” dan “استجاب”, maknanya “apakah Rabbmu mentaatimu dengan mengijabah permintaanmu?” Dan ada dalam suatu atsar: “ من أطاع الله أطاعه الله “ (Barangsiapa taat kepada Allah, maka Allah mentaatinya). Dan sebagian mereka menjalankannya sesuai dhahirnya, di mana mereka berkata: Orang-orang itu telah keliru dan mereka mengatakan ucapan itu sebelum terpancangnya ma’rifah dan mereka itu adalah manusia (biasa), maka Isa ‘alaihissalam mengatakan kepada mereka saat terjadi kekeliruan itu dalam rangka menganggap besar ucapan mereka tersebut “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman” yaitu janganlah kalian ragu terhadap qudrah-Nya).[13]

Ooh, sungguh sangat mengherankan nukilan-nukilan sebagian orang yang membela pengudzuran orang-orang jahil, di mana dia menukil apa yang dikatakan bahwa mereka itu adalah telah keliru dalam ucapan mereka tersebut dan itu terjadi sebelum terpancangnya ma’rifah, dan terus dia malah meninggalkan apa yang dianggap rajih (kuat) oleh Al Imam Al Mufassir Muhyissunnah ini yaitu bahwa mereka itu tidak ragu terhadap qudrah Allah berdasarkan qiraa-at yang pertama dan pernyataan-pernyataan para sahabat serta yang lainnya.

Kejahilan Terhadap Sebagian Sifat (Allah):

Telah lalu di hadapan kita madzhab Ibnu Jarir Ath Thabariy rahimahullah tentang kejahilan terhadap Sifat-Sifat Allah, di mana beliau mengkafirkan orang yang jahil terhadap sebagian Sifat Allah, beliau rahimahullah berkata:

( قد دللنا فيما مضى قبل من كتابنا هذا أنه لا يسع أحدا بلغ حد التكليف الجهل بأن الله جل ذكره ، عالم له علم وقادر له قدرة ومتكلم له كلام وعزيز له عزة وأنه خالق وأنه لا محدث إلا مصنوع مخلوق ، وقلنا من جهل ذلك فهو بالله كافر )

(Tidak seorangpun yang telah mencapai batas taklif diudzur dengan sebab kejahilan bahwa Allah jalla dzikruh itu Maha Mengetahui yang memiliki ilmu, Maha Kuasa yang memiliki qudrah, Yang Maha Berkata yang memiliki perkataan dan Maha Perkasa yang memiliki keperkasaan, dan bahwa Dia itu Maha Pencipta dan bahwa tidak ada hal baru melainkan ia itu dibuat lagi diciptakan. Dan kami katakan (bahwa) “orang yang jahil terhadap hal itu maka dia itu kafir kepada Allah”).[14]

Oleh sebab itu beliau rahimahullah berkata tentang Al Hawariyyin:

( وأما قوله: ﴿قَالَ اتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾ فإنه يعني قال عيسى للحواريين القائلين له ﴿ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاء قَالَ اتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴾ راقبوا قول الله أيها القوم وخافوه أن ينزل بكم من الله عقوبة على قولكم هذا ، فإن الله لا يعجزه شيئ أراده ، وفي شككم في قدرة الله على مائدة من السماء كفر به فاتقوا الله أن ينزل بكم نقمة ﴿ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾ يقول إن كنتم مصدقي على ما أتوعدكم به من عقوبة الله إياكم على قولكم ﴿هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاء ﴾ )

(Dan adapun firman-Nya “Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman” maka sesungguhnya ia berarti bahwa Isa berkata kepada Al Hawariyyin yang berkata kepadanya “sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman” yaitu perhatikanlah firman Allah wahai kaum dan takutlah kepada-Nya (jangan sampai) turun hukuman dari Allah kepada kalian akibat ucapan kalian ini, karena sesungguhnhya Allah tidak ada sesuatupun yang tidak Dia mampui bila Dia menginginkannya, dan sedangkan dalam keraguan kalian terhadap qudrah Allah untuk menurunkan hidangan dari langit adalah terdapat kekafiran kepada-Nya, maka bertaqwalah kalian kepada Allah jangan sampai turun siksa kepada kalian “jika kamu betul-betul orang yang beriman” berkata: Bila kalian membenarkanku terhadap apa yang aku ancam kalian dengannya berupa siksa Allah kepada kalian atas ucapan kalian “sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”).[15]

Ucapan Ibnu Hazm:

Ibnu Hazm rahimahullah telah menjadikan kejahilan mereka terhadap qudrah Allah untuk menurunkan hidangan dari langit itu sebagai bagian dari hal-hal yang mana pelakunya tidak dikafirkan, kecuali bila telah diketahui bahwa para nabi telah datang dengannya terus mereka mendustakan para nabi itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Ad Dahlawi dan Ibnul Wazir pada kisah orang yang jahil terhadap keluasan qudrah Allah ‘azza wa jalla sebagaimana ia akan datang nanti.

Ibnu Hazm berkata:

(فهؤلاء الحواريون الذين أثنى الله عز وجل عليهم ، قد قالوا بالجهل لعيسى عليه السلام ، هل يستطيع ربك أن ينزل علينا مائدة من السماء ؟ ولم يبطل إيمانهم ، وهذا ما لا مخلص منه وإنما كانوا يكفرون لو قالوا ذلك بعد قيام الحجة وتبينهم لها )

(Hawariyyun yang telah dipuji oleh Allah ‘azza wa jalla itu, telah mengatakan kepada Isa ‘alaihissalam dengan kejahilan mereka “sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” dan iman mereka itu tidak batal, dan ini adalah hal jalan keluar darinya, dan mereka itu hanya menjadi kafir seandainya mereka mengatakan itu setelah tegaknya hujjah dan setelah mereka mendapatkan kejelasannya).[16]

Orang-orang itu tidaklah ragu terhadap qudrah Allah sebagaimana yang telah dikatakan Al Baghawiy dan hal itu telah diriwayatkan dari para sahabat dan yang lainnya.

Sedangkan Ath Thabari telah berkata bahwa mereka itu telah ragu terhadap qudrah Allah, dan dhahir madzhabnya adalah bahwa mereka itu kafir terus mereka di-istitabah (disuruh taubat) di dalam ucapan Isa “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”.

Sedangkan keumuman ulama mengatakan bahwa mereka itu ragu pada qudrah Allah terhadap suatu yang mereka anggap sebagai hal yang mustahil, dan para ulama itu menjadikannya (yaitu qudrah Allah terhadap suatu yang dianggap mustahil) sebagai bagian dari Sifat-Sifat (Allah) yang mana orang yang (jahil) terhadapnya adalah diudzur dan tidak dikafirkan kecuali setelah tegaknya hujjah.

Dan tidak ada seorang-pun dari para ulama itu mengatakan bahwa mereka itu jahil (tidak mengetahui) bahwa Allah itu Qaadir (Maha Kuasa) dan terus mereka diudzur dengan sebab kejahilan mereka. Dan bagaiamana mungkin seorang muwahhid itu jahil bahwa Allah adalah Maha Kuasa, sedangkan kejahilan terhadap hal ini adalah penohokan yang fatal terhadap Uluhiyyah? Dan bagaimana bisa masuk akal, seseorang itu mengibadati suatu yang diibadati yang tidak kuasa terhadap sesuatupun? Di mana yang lemah itu adalah tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan, memiliki dan memerintah, maka bagaimana hal itu bisa dianggap apalagi bisa diibadati dan ditakuti?

Bersambung…

Baca juga artikel lainnya:

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 8)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 9)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 10)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 11)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 12)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 14)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 15)

[1] Tafsir Ibni Katsir 1/344.
[2] Al Bukhari 4547.
[3] Siyar A’lam An Nubala milik Adz Dzahabiy 4/472.
[4] Fathul Qadir dalam satu jilid hal 1778.
[5] Tafsir Al Baghawiy dalam satu jilid hal 586.
[6] Fathul Qadir dalam satu jilid hal 963.
[7] An Nahl: 25.
[8] Muslim 2674.
[9] Tafsir Al Baghawi dala satu jilid hal 707.
[10] Fathul Qadir dala satu jilid hal 740, 741.
[11] Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir 2/166.
[12] Al Fatawa 7/166.
[13] Tafsir Al Baghawi dalam satu jilid hal 407.
[14] At Tabshir hal 149.
[15] Tafsir Ath Thabari 11/253.
[16] Al Fashl 3/253.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: