Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1) » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 12)

Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 12)


Mumtani’un

(Orang-Orang Yang Melindungi Diri Dengan Kekuatan)

(1) Individu Sama Statusnya Dengan Kelompok Pada Mumtani’un

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿ وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاء لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ * قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ ﴾

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?” Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” (Al Mu’min: 47-48)

Dan berfirman:

﴿ وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ * قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءكُم بَلْ كُنتُم مُّجْرِمِينَ ﴾

“Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya”. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman”. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.” (Saba: 31-32).

Dan berfirman:

﴿ فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ ﴾

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka, sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (Al Qashash: 8)

Dan berfirman:

﴿ فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ ﴾

“Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.” (Al Qashash: 40)

Dan ayat-ayat lainnya yang mana di dalamnya Allah tidak membedakan antara pengikut dengan yang diikuti, itu dikarenakan sesungguhnya orang yang diikuti itu tidak bisa melakukan kerusakan di bumi dan penghalang-halangan dari jalan Allah kecuali dengan bala tentaranya yang mengikutinya.

Sedangkan keberadaan ayat-ayat itu datang berkaitan dengan orang-orang kafir asli adalah tidak menghalangi dari menerapkannya kepada orang-orang murtad yang telah menggugurkan iman mereka dengan keterjatuhan mereka di dalam kekafiran dan kesesatan yang sangat jauh.

Dan sudah maklum bahwa para sahabat yang mulia telah memerangi anshar para pemimpin kemurtaddan hanyalah dikarenakan mereka itu mengikuti para pemimpin mereka dan membela mereka, bukan dikarenakan mereka itu telah memilih mereka, dan tidak pula para sahabat itu mencari kejelasan syarat-syarat dan mawani’ takfir pada diri mereka.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata:

( والطائفة إذا انتصر بعضها ببعض حتى صاروا ممتنعين فهم مشتركون في الثواب والعقاب.. فأعوان الطائفة الممتنعة وأنصارها منها فيما لهم وعليهم.. لأن الطائفة الممتنعة بعضها ببعض كالشخص الواحد )

(Kelompok itu bila satu sama lain anggotanya saling membantu, maka mereka itu menjadi mumtani’in (orang-orang yang melindungi diri dengan kekuatan), sehingga mereka itu berserikat di dalam pahala dan siksa… Maka oleh sebab itu a’wan (para pembantu) thaifah mumtani’ah dan ansharnya itu adalah bagian darinya dalam hal hak dan kewajiban mereka…. karena thaifah (kelompok) mumtani’ah itu sebagian anggotanya dengan sebagian anggota yang lain adalah bagaikan satu orang).[1]

Ini adalah fatwa dalam masalah ini yang muncul dari Lajnah Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah Wal Ifta di Saudi no (9247):

Pertanyaan: Apakah hukum orang-orang awam Rafidlah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah, dan apakah di sana ada perbedaan antara ulama firqah mana saja yang keluar dari Millah dengan para pengikutnya dari sisi vonis kafir atau fasiq?

Jawaban: (Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul-Nya, keluarganya dan para sahabatnya, wa ba’du: (Sesungguhnya orang dari kalangan awam yang mendukung seorang tokoh dari tokoh-tokoh kekafiran dan kesesatan, dan dia membela-bela para pemimpin dan para pembesar mereka secara aniaya dan membabi buta adalah statusnya sama dengan status para pemimpin mereka dari sisi vonis kafir atau fasiq. Allah ta’ala berfirman:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا (٦٣) إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا (٦٤) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا (٦٥) يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولا (٦٦) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا (٦٧) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (٦٨)

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata:”Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Al Ahzab: 63-68)

Dan bacalah ayat 165,166, 167 dari surat Al Baqarah, juga ayat 28 dan 29 dari surat Al Furqan, juga ayat 62, 63, 64 dari surat Al Qashash, juga ayat 31, 32 dan 33 dari surat Saba, juga ayat 20-36 dari surat Ash Shaffat, juga ayat 47-50 dari surat Ghafir serta dalil-dalil lainnya yang banyak di dalam Al Qur’an dan Assunnah.

Dan dikarenakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerangi para pemimpin kaum musyrikin dan para pengikut mereka, dan begitu juga para sahabat beliau melakukannya dan mereka tidak membedakan antara para pemimpin dan para pengikut. Wa billahittaufiq. Semoga shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi, keluarganya, dan para sahabatnya). Abdullah Qu’ud, Abdullah Ibnu Ghudayyan, Abdurrazzaq ‘Afifiy dan Abdul ‘Aziz Ibnu Baz. (Fatawa Lajnah Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah Wal Ifta 2/267, 268 yang dikumpulkan oleh Ahmad Ibnu Abdirrazzaq Ad Duwaisy).

(2) Takfier Mumtani’in Adalah Tanpa Tabayyun Syuruth Dan Mawani’

Syaikhul Islam rahimahullah berkata dalam fatwanya tentang Tattar:

وإذا كان السلف قد سمّوا مانعي الزكاة مرتدين –مع كونهم يصومون ويصلون ولم يكونوا يقاتلون جماعة المسلمين، فكيف بمن صار مع أعداء الله ورسوله قاتلاً للمسلمين

(Bila saja salaf telah menamakan orang-orang yang menolak dari membayar zakat sebagai orang-orang murtad padahal mereka itu melakukan shaum, shalat dan mereka itu tidak memerangi jama’ah kaum muslimin, maka bagaimana gerangan dengan orang yang malah bergabung dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya seraya memerangi kaum muslimin).[2]

Dan telah ada dalam hadits Thariq Ibnu Syihab, berkata:

( جاء وفد بزاخة إلى أبي بكر يسألونه الصلح، فخيرهم بين الحرب المجلية والسلم المخزية، فقالوا: هذه المجلية قد عرفناها فما المخزية ؟ قال : تنزع منكم الحلقة والكراع ، ونغنم ما أصبنا منكم وتردون علينا ما أصبتم منا وتدون قتلانا وتكون قتلاكم في النار وتتركون أقواما يتبعون أذناب الإبل حتى يري الله خليفة رسول الله والمهاجرين أمرا يعذرونكم به ، فعرض أبو بكر ما قال على القوم ، فقام عمر فقال ، قد رأيت رأيا سنشير عليك ، أما ما ذكرت من الحرب المجلية والسلم المخزية فنعم ما ذكرت ، وأما ما ذكرت أن نغنم ما أصبنا منكم وتردون ما أصبتم منا فنعم ما ذكرت وأما ما ذكرت تدون قتلانا وتكون قتلاكم في النار، فإن قتلانا قاتلت فقتلت على أمر الله ، أجورها على الله ليس لها ديات ، قال فتتابع القوم على ما قال عمر )

(Datang utusan Buzakhah kepada Abu Bakar seraya mereka meminta perdamaian kepadanya, maka beliau memberikan pilihan bagi mereka antara peperangan yang menuntaskan dan perdamaian yang mengenaskan, maka mereka berkata: “Peperangan yang menuntaskan ini telah kami ketahui, maka apa perdamaian yang mengenaskan itu?” Beliau berkata: “Dilucuti dari kalian persenjataan dan tunggangan, dan kami menghanimah apa yang kami dapatkan dari kalian dan kalian mengembalikan kepada kami apa yang kalian dapatkan dari kami, dan kalian membayar diyat orang-orang yang terbunuh di antara kami sedangkan orang-orang yang terbunuh di antara kalian adalah di neraka, serta kalian dibiarkan sebagai kaum yang mengikuti ekor-ekor unta sampai Allah memperlihatkan kepada khalifah Rasulullah dan muhajirin urusan yang mana mereka mengudzur kalian dengannya.” Maka Abu Bakar menyodorkan apa yang dikatakannya itu kepada orang-orang (kaum muslimin), maka Umar berdiri dan berkata: “Saya telah memandang suatu pendapat yang akan saya utarakan kepada engkau, adapun apa yang engkau utarakan berupa peperangan yang menuntaskan dan perdamaian yang mengenaskan maka itu adalah sebaik-baik yang engkau utarakan, dan adapun apa yang engkau sebutkan bahwa “kami menghanimah apa yang kami dapatkan dari kalian dan kalian mengembalikan kepada kami apa yang kalian dapatkan dari kami” maka itu adalah sebaik-baik yang engkau utarakan, dan adapun apa yang engkau sebutkan bahwa “kalian membayar diyat orang-orang yang terbunuh di antara kami sedangkan orang-orang yang terbunuh di antara kalian adalah di neraka” maka sesungguhnya orang-orang yang terbunuh di antara kita maka mereka itu telah berperang dan telah terbunuh di atas urusan Allah, pahalanya terhadap Allah lagi tidak ada diyat baginya. Maka orang-orangpun menyetujui apa yang dikatakan oleh Umar).[3]

Al Hafidh berkata dalam Al Fath (13/210) (Al Humaidiy berkata: Al Bukhari meringkasnya, terus ia menuturkan bagian darinya yaitu ucapan mereka (mengikuti ekor-ekor unta sampai Allah memperlihatkan kepada khalifah Rasulullah dan muhajirin urusan yang mana mereka mengudzur kalian dengannya), dan Al Barqaniy mengeluarkannya dengan secara keseluruhan dengan isnad yang dipakai Al Bukhari untuk meriwayatkan potongan atsar tadi, kemudian Al Hafidh berkata: (Dan ucapannya “sedangkan orang-orang yang terbunuh di antara kalian adalah di neraka” yaitu tidak ada diyat bagi mereka di dunia karena mereka mati di atas kemusyrikan mereka, di mana mereka dibunuh dengan hak sehingga tidak ada diyat bagi mereka, dan ucapannya (serta kalian dibiarkan sebagai kaum yang mengikuti ekor-ekor unta) yaitu dalam mengurusi unta-unta, karena mereka itu bila telah dilucuti dari mereka alat peperangan maka mereka kembali menjadi orang-orang badui di pedalaman, yang tidak ada penghidupan bagi ereka kecuali apa yang kembali kepada mereka berupa manfaat-manfaat unta mereka. Ibnu Baththal berkata: Mereka itu dahulu murtad kemudian taubat, terus mengirim utusan mereka kepada Abu Bakar seraya meminta kepadanya pemberian maaf, maka Abu Bakar ingin tidak memutuskan di antara mereka kecuali setelah musyawarah dalam urusan mereka itu, maka beliau berkata: Kembalilah kalian dan ikutilah ekor-ekor unta di padang pasir. Selesai. Dan yang nampak bahwa yang dimaksud dengan akhir waktu yang mana beliau memberikan mereka tenggang kepadanya adalah nampaknya taubat mereka dan keshalihan mereka dengan baiknya keisalaman mereka).[4] Mereka itu adalah para pengikut Thulaihah Ibnu Khuwailid dan begitu juga anshar Musailamah, harta mereka dijadikan ghanimah, wanita-wanita mereka dijadikan sabaya (budak-budak) serta orang-orang yang mati dari mereka itu dipersaksikan pasti masuk neraka, dan atas hal ini para sahabat radliyallahu ‘anhum telah berijma’, sedangkan orang yang terbunuh itu adalah orang mu’ayyan yang mana tidak boleh dipersaksikan bahwa dia itu di neraka kecuali bila dipastikan kekafirannya.

(3) Kemungkinan Adanya Penghalang Pengkafiran Adalah Tidak Memalingkan Hukum Dhahir Dari Mumtani’un

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganggap Al ‘Abbas sebagai orang kafir dan memberlakukan kepadanya hukum orang-orang kafir dalam pengambilan tebusan, dan beliau tidak menganggap klaim ikrah yang diklaimnya. Al Bukhari telah meriwayatkan dari hadits Ibnu Syihab dari Anas:

أن رجالا من الأنصار استأذنوا رسول الله ص فقالوا ائذن لنا فلنترك لابن أختنا عباس فداءه ، قال : ( والله لا تذرون منه درهما ).

“Bahwa beberapa orang dari Al Anshar meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata: “Izinkanlah bagi kami untuk membiarkan bagi Abbas anak saudari kami tebusannya” maka beliau berkata: “Demi Allah, kalian jangan membiarkan darinya satu dirham-pun”

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata: (Ucapannya “Bahwa beberapa orang dari Al Anshar” yaitu dari kalangan yang ikut perang Badar sebagaimana yang akan datang nanti, sedangkan kaum musyrikin memaksa Al Abbas keluar bersama mereka ke Badar….. Ibnu Ishaq mengeluarkan dari hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( يا عباس : افد نفسك وابني أخويك عقيل بن أبي طالب ونوفل بن الحارث ، وحليفك عتبة بن عمرو فإنك ذو مال ، قال إني كنت مسلما ولكن القوم استكرهوني قال ص إن كنت كما تقول حقا إن الله يجزيك ، ولكن ظاهر أمرك أنك كنت علينا )

“Hai ‘Abbas tebuslah dirimu dan dua keponakanmu ‘Uqail Ibnu Abi Thalib dan Naufal Ibnul Harits, dan sekutumu Utbah Ibnu ‘Amr, karena sesungguhnya kamu adalah orang kaya” Maka Al Abbas berkata: “Sesungguhnya saya ini adalah telah muslim, akan tetapi orang-orang telah memaksa saya,” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bila kamu itu memang benar seperti apa yang katakan maka sesungguhnya Allah akan membalasmu, akan tetapi dhahir urusanmu adalah bahwa kamu ini memerangi kami.”[5]

Dan termasuk hal yang maklum di kalangan ulama bahwa orang yang keluar dari kalangan orang-orang kafir untuk memerangi kaum muslimin maka dia itu dihukumi kafir secara dhahir walaupun kemungkinan ikrahnya adalah ada.

Syaikhul Islam berkata:

( وقد يقاتلون وفيهم مؤمن يكتم إيمانه ، يشهد القتال معهم ولا يمكنه الهجرة ، وهو مكره على القتال ، ويبعث يوم القيامة على نيته ، كما في الصحيح عن النبي ص أنه قال : ( يغزوا جيش هذا البيت فبينما هم ببيداء من الأرض إذ خسف بهم فقيل يا رسول الله وفيهم المكره ، قال يبعثون على نياتهم ) وهذا في ظاهر الأمر وإن قتل وحكم عليه بما يحكم على الكفار ، فالله يبعثه على نيته ، كما أن المنافقين منا يحكم لهم في الظاهر بحكم الإسلام ويبعثون على نياتهم ، والجزاء يوم القيامة على ما في القلوب لا على مجرد الظواهر ولهذا روي أن العباس قال يا رسول الله كنت مكرها قال : “أما ظاهرك فكان علينا وأما سريرتك فإلى الله ” )

(Dan bisa jadi mereka memerangi sedangkan di tengah mereka ada orang mukmin yang menyembunyikan imannya yang ikut menyaksikan perang bersama mereka serta dia tidak bisa berhijrah, sedangkan dia itu dipaksa untuk berperang, dan di hari kiamat dibangkitkan di atas niatnya, sebagaimana dala hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: “Suatu pasukan menginvasi rumah ini (Ka’bah), dan saat mereka berada di Baida (tanah datar) dari bumi ini tiba-tiba mereka dibenamkan,” maka dikatakan: “Wahai Rasulullah padahal di tengah mereka ada orang yang dipaksa?” Maka beliau berkata: “Mereka dibangkitkan di atas niat mereka.” Ini adalah pada dhahir urusan, dan walaupun dia itu terbunuh dan dihukumi dengan hukum-hukum yang diberlakukan kepada orang-orang kafir, maka Allah membangkitkannya di atas niatnya, sebagaimana sesungguhnya orang-orang munafiq di antara kita adalah dihukumi secara dhahir dengan hukum sebagai orang muslim dan mereka dibangkitkan di atas niat mereka, dan balasan di hari kiamat itu adalah terhadap apa yang ada di dalam hati tidak atas sekedar hal-hal dhahir, oleh sebab itu diriwayatkan bahwa Al ‘Abbas berkata kepada: “Wahai Rasulullah sungguh saya ini dipaksa” maka beliau berkata: “Adapun dhahir kamu maka ia itu memerangi kami, dan adapun rahasia kamu maka diserahkan kepada Allah.”)[6]

Catatan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( من أحدث حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين )

“Barangsiapa mengadakan suatu kejahatan atau melindungi orang yang berbuat jahat, maka atasnya laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.”[7]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

( ومن أعظم الحدث تعطيل كتاب الله وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وإحداث ما خالفهما ونصر من أحدث ذلك والذب عنه ومعاداة من دعا إلى كتاب الله وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم )

(Di antara kejahatan terbesar adalah pengguguran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengada-ada apa yang menyelisihi keduanya, membantu orang yang mengada-adakan hal itu, membela-belanya serta memusuhi orang yang mengajak kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). [8]

Sedangkan orang yang mengamati keadaan para pemimpin kemurtaddan dan kesesatan pada zaman ini, maka dia mendapatkan mereka itu tersifati dengan sifat-sifat itu bahkan lebih dari itu, maka ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa pengkafiran mereka itu dan pengkafiran anshar dan para pengikut mereka adalah tidak tergantung kepada keterpenuhan syarat-syarat dan ketidakadaan mawani’ karena tajamnya kekuatan mereka dan (dasyatnya) penolakan mereka.

Bersambung…

Baca juga arikel lainnya:

–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 7)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 8)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 9)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 10)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 11)

[1] Al Fatawa 28/311-312 dengan ikhtishar.

[2] Al Fatawa 28/289.

[3] Diriwayatkan oleh Al Barqaniy dan diriwayatkan oleh Al Bukhari secara ikhtishar (7221)

[4] Fathul Bari 12/211.

[5] Fathul Bari (7/322), dan hadits itu diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al Musnad (1/353).

[6] Al Fatawa 19/224, 225.

[7] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4530) dan An Nasai dengan sanad yang hasan.

[8] I’lamul Muwaqqi’in 3/405.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: