Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 1) » Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 10)

Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 10)


(3) Penghalang Khatha’ (Kekeliruan)

A. Khatha’

Yang dimaksud dengan khatha’ adalah intifaaul qashdi (ketidakadaan maksud) yang muncul dari salah ucap. Dan di sini harus ada rincian, barangsiapa mengucapkan kalimat kekafiran sedangkan dia tidak bermaksud untuk kafir maka dia kafir, adapun orang yang mengucapkannya sedangkan dia tidak memaksudkan kalimat itu yaitu tidak memaksudkan maknanya, maka ini adalah intifaaul qashdi yang secara muthalaq tidak berkonsekuensi apapun terhadap pelakunya. Dan jangan sampai hal ini terkabur atas dirimu dengan apa yang telah lalu di dalam bahasan riddah.

Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari hadits Anas, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لله أشد فرحا بتوبة عبده حين يتوب إليه من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه فأيس منها فأتى شجرة فاضجع في ظلها قد أيس من راحلته فبينما هو كذلك إذ هو بها قائمة عنده فأخذ بخطامها ثم قال من شدة الفرح : اللهم أنت عبدي وأنا ربك أخطأ من شدة الفرح

“Sungguh Allah lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya saat dia bertaubat kepada-Nya daripada seseorang di antara kalian yang berada di atas unta tunggangannya di tanah kosong yang luas, kemudian unta itu lepas darinya sedangkan di atasnya ada makanan dan minumannya, sehingga ia putus asa darinya, terus diapun menghampiri sebatang pohon, terus dia berteduh di bawah bayangannya sedang dia telah putus asa dari untanya. Dan saat dia dalam keadaan seperti itu, maka tiba-tiba untanya itu ada berdiri di dekatnya, maka diapun mengambil tali kendalinya terus berkata karena saking bahagianya: Ya Allah, Engkau adalah hamba-ku dan aku adalah Rabb-mu” dia salah ucap karena saking bahagianya”[1]

Perbuatan semacam ini pelakunya tidak dikafirkan berdasarkan kesepakatan.

B. Rukhshah Khatha’ Dalam Ijtihad Bagi Orang Yang Realisasikan Tauhid.

Adapun khatha’ (kekeliruan) dalam ijtihad, maka telah lalu pembicaraannya dalam pembahasan takwil.

Adapun rukhshah khatha’ di dalam firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

﴿ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ﴾

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah..” (Al Baqarah: 286)

Dan dalam firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

﴿ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ ﴾

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya..” (Al Ahzab: 5)

Dan di dalam hadits ‘Amr Ibnul ‘Ash bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إذا اجتهد الحاكم فأخطأ فله أجر وإذا اجتهد فأصاب فله أجران

“Bila hakim berijtihad kemudian dia keliru, maka dia mendapat satu pahala, dan bila dia berijtihad kemudian menepati kebenaran, maka dia mendapat dua pahala.”[2]

Maka ayat dan hadits itu adalah dikhususkan oleh firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

﴿ إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48)

Dan ini adalah seperti hadits:

بايعوني على ألا تشركوا بالله شيئا ولا تسرقوا ولا تزنوا ولا تقتلوا أولادكم ولا تأتوا ببهتان تفترونه بين أيديكم وأرجلكم ولا تعصوا في معروف فمن وفى منكم فأجره على الله ومن أصاب من ذلك شيئا فعوقب في الدنيا فهو كفارة له ومن أصاب من ذلك شيئا ثم ستره الله فهو إلى الله إن شاء الله عفا عنه وإن شاء عاقبه

“Bai’atlah aku untuk supaya kalian tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah, kalian tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak mendatangkan kedustaan yang kalian ada-adakan di antara tangan dan kaki kalian, dan tidak bermaksiat dalam hal yang ma’ruf. Barangsiapa di antara kalian memenuhi(nya) maka pahalanya atas Allah, dan barangsiapa melakukan sesuatu dari hal itu terus dia dihukum di dunia ini, maka hukuman itu adalah kaffarat bagianya, dan barangsiapa melakukan sesuatu dari hal itu terus Allah menutupinya, maka ia itu diserahkan kepada Allah, bila Dia berkehendak maka Dia memaafkannya dan bila Dia berkehendak maka Dia menyiksanya”[3]

Al Hafidh berkata: (An Nawawi berkata: Keumuman hadits ini adalah dikhususkan oleh firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik” sehingga orang murtad bila dibunuh di atas kemurtaddannya maka hukum bunuh itu tidaklah menjadi kaffarat baginya).[4]

Jadi rukhshah ini hanyalah bagi ahli kiblat, bahkan sesungguhnya dari konteks nash bisa diketahui bahwa rukhshah itu adalah berkaitan dengan selain tauhid dan ashlul iman, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿ آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴾

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al Baqarah: 285)

Barangsiapa tidak merealisasikan kadar ini dari keimanan, maka dia tidak masuk dalam jajaran yang dikhithabi oleh ayat ini.[5]

Asy Syaukaniy telah menukil dari Al Qurthubiy dalam tafsir firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

﴿ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ﴾

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah..” (Al Baqarah: 286).

Beliau berkata: (Dan ini adalah tidak diperselisihkan di dalamnya bahwa dosa itu terangkat, namun yang diperselisihkan adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan hal itu, apakah ia itu diangkat pula dan tidak sesuatupun darinya diharuskan ataukah hukum-hukumnya itu diharuskan. Semua itu diperselisihkan, sedangkan yang benar adalah bahwa hal itu berbeda-beda sesuai kejadian-kejadian, di mana satu bagian tidak gugur seperti ganti rugi, diyat, dan shalat fardlu, dan satu bagian gugur berdasarkan kesepakatan seperti qishash dan pengucapan kalimat kekafiran, serta bagian yang ketiga adalah diperselisihkan seperti orang yang makan seraya lupa di siang hari bulan Ramadlan atau melanggar sumpah seraya lupa dan hal serupa itu dari hal-hal yang suka terjadi karena khatha’ dan lupa, dan hal itu bisa diketahui di dalam furu’).

Perhatikan bagaimana beliau menukil kesepakatan atas tidak dikenakannya sangsi terhadap orang yang mengucapkan kalimat kekafiran karena khatha’ (salah ucap) yaitu tanpa maksud, sehingga engkau mengetahui bahwa termasuk kesalahan adalah membawa ayat itu kepada orang yang khatha’ (keliru) dalam ijtihadnya dan jatuh dalam kekafiran.

Ibnu Jarir rahimahullah berkata dalam penafsirannya terhadap ayat itu: (Permohonan si hamba kepada Allah ‘azza wa jalla dengan mengucapkan “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah..” dalam apa yang terjadi karena kelupaan darinya terhadap apa yang diperintahkan untuk dikerjakan sesuai dengan kondisi yang telah kami jelaskan ini adalah selagi sikap dia meninggalkan apa yang dia tinggalkan dari hal itu karena keteledoran dan penyia-nyiaan darinya terhadapnya bukanlah kekafiran kepada Allah ‘azza wa jalla, karena sesungguhnya hal itu bila merupakan kekafiran kepada Allah maka sesungguhnya permohonan dia kepada Allah untuk tidak memberikan sangsi terhadapnya atas hal itu adalah tidak boleh, karena Allah ‘azza wa jalla telah mengabarkan bahwa Dia itu tidak mengampuni penyekutuan terhadap-Nya, sehingga meminta kepada Dia untuk melakukan apa yang telah Dia kabarkan bahwa Dia tidak akan melakukannya adalah permintaan yang salah, namun permintaannya kepada ampunan itu hanyalah dalam hal yang semacam kelupaannya terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang telah pernah dia hapal dengan sebab kesibukan dia darinya dan dari membacanya dan seperti kelupaannya terhadap shalat atau shaum….)[6]

Al Baghawi berkata dalam penafsirannya terhadap ayat itu: (‘Atha berkata: “jika kami lupa atau kami tersalah” yaitu bila kami jahil atau kami menyengaja, dan mayoritas ulama menjadikannya sebagai bagian dari khatha’ yang bermakna kejahilan dan sahwun (kelupaan), karena dosa yang dilakukan secara sengaja adalah tidak diampuni akan tetapi dia itu berada dalam masyiatullah (kehendak Allah), sedangkan khatha’ adalah dimaafkan).[7]

Dan posisi ucapan beliau rahimahullah ini adalah dalam dosa yang di bawah kekafiran kepada Allah, karena ucapannya tentang dosa yang disengaja “dia itu berada dalam masyiatullah (kehendak Allah)” adalah maklum bahwa ia itu bukan dalam kemusyrikan kepada Allah dan kekafiran kepada-Nya, karena ia itu bukan dalam masyiatullah (kehendak Allah) namun ia itu termasuk dosa yang tidak diampuni Allah, berbeda dengan dosa yang di bawah itu yang tergolong yang diampuni Allah dan Dia memaafkan dari kekeliruan di dalamnya bagi orang yang dikehendaki-Nya.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata saat membicarakan hadits:

إن الله تجاوز لأمتي عما حدثت به أنفسها ما لم تكلم به أو تعمل به

“Sesungguhnya Allah mengampuni bagi umatku apa yang dibisikan oleh jiwanya selagi tidak mengatakannya atau mengamalkannya.”

Beliau berkata:

والعفو عن حديث النفس إنما وقع لأمة محمد ص المؤمنين بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر، فعلم أن هذا العفو هو فيما يكون من الأمور التي لا تقدح في الإيمان، فأما ما نافى الإيمان فذلك لا يتناوله لفظ الحديث، لأنه إذا نافى الإيمان لم يكن صاحبه من أمة محمد ص في الحقيقة ويكون بمنزلة المنافقين ، فلا يجب أن يعفى عما في نفسه من كلامه أو عمله وهذا فرق بيّن يدل عليه الحديث وبه تأتلف الأدلة الشرعية وهذا كما عفا الله لهذه الأمة عن الخطإ والنسيان وحديث النفس كما يخرجون من النار بخلاف من ليس معه الإيمان فإن هذا لم تدل النصوص على ترك مؤاخذته بما في نفسه وخطئه ونسيانه

(Pemaafan apa yang dibisikan jiwa itu hanyalah terjadi pada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari akhir, sehingga diketahuilah bahwa pemaafan ini adalah pada urusan-urusan yang tidak menggugurkan keimanan, adapun hal-hal yang menggugurkan keimanan maka hal itu tidaklah dicakup oleh teks hadits, karena bila hal itu menggugurkan keimanan maka pelakunya pada hakikatnya bukan tergolong umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia itu sama posisinya dengan kaum munafiqin, maka tidak wajib untuk dimaafkan atas apa yang ada dalam jiwanya berupa ucapannya atau perbuatannya. Dan ini adalah perbedaan yang nampak yang ditunjukan oleh hadits itu dan semua dalil-dalil syar’iy bisa menjadi selaras dengannya. Dan ini adalah sebagaimana Allah memaafkan bagi umat ini atas khatha’, lupa dan bisikan jiwa, sebagaimana mereka itu dikeluarkan dari neraka, berbeda dengan orang yang tidak memiliki iman, maka sesungguhnya orang semacam ini tidaklah nash-nash itu menunjukan bahwa dia itu tidak dikenakan sangsi atas apa yang ada di dalam jiwanya, khatha’-nya dan kelupaannya).[8]

C. Penjelasan Ulama Prihal Khatha’ Yang Diudzur Pelakunya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata sedang beliau telah menetapkan bahwa intifaaul qashdi itu adalah menghalangi dari pengkafiran seraya berdalil dengan ucapan Hamzah radliyallahu ‘anhu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Kalian ini tidak lain adalah budak-budak milik bapakku” yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Kitabul Maghazi sedang Hamzah itu telah meminum khamr, Ibnul Qayyim berkata:

( فلم يكفره ص بذلك وكذلك الصحابي الذي قرأ: “قل يا أيها الكافرون أعبد ما تعبدون ونحن نعبد ما تعبدون” وكان ذلك قبل تحريم الخمر ، ولم يعد بذلك كافرا لعدم القصد ، وجريان اللفظ على اللسان من غير إرادة لمعناه… فإياك أن تهمل قصد المتكلم ونيته وعرفه فتجني عليه وعلى الشريعة وتنسب إليها ما هي بريئة منه)

(Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkafirkannya dengan sebab itu, dan begitu juga (tidak mengkafirkan) seorang sahabat yang membaca “Katakanlah: Hai orang-orang kafir, aku mengibadati apa yang kalian ibadati, dan kami mengibadati apa yang kalian ibadati” dan itu terjadi sebelum ada pengharaman khamr, dan beliau tidak menganggapnya sebagai orang kafir dengan sebab hal itu karena tidak adanya qashd (maksud mengucapkan) dan karena terlontarnya ucapan di lisan tanpa memaksudkan maknanya…. maka hati-hatilah kamu dari menelantarkan maksud orang yang berbicara, niatnya dan ‘urf (adat)nya sehingga akhirnya kamu aniaya terhadapnya dan terhadap syari’at ini serta menyandarkan kepada syari’at ini apa yang ia bara darinya).[9]

Dan beliau rahimahullah menuturkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

لم يرتب تلك الأحكام على مجرد ما في النفوس من غير دلالة فعل أو قول ولا على مجرد ألفاظ مع العلم بأن المتكلم بها لم يرد معانيها ولم يحط بها علما بل تجاوز للأمة عما حدثت به أنفسها ما لم تعمل به أو تتكلم به وتجاوز لها عما تكلمت به مخطئة أو ناسية أو مكرهة أو غير عالمة به، إذا لم تكن مريدة لمعنى ما تكلمت به أو قاصدة إليه ، فإذا اجتمع القصد والدلالة القولية أو الفعلية ترتب الحكم ، هذه قاعدة شرعية وهي من مقتضيات عدل الله وحكمته ورحمته.

(Tidak mengaitkan hukum-hukum atas sekedar apa yang ada di dalam jiwa tanpa ada dilalah perbuatan atau ucapan, dan tidak mengaitkan hukum-hukum juga atas sekedar lafadh-lafadh padahal diketahui bahwa orang yang mengucapkannya itu tidak memaksudkan maknanya dan tidak menguasai ilmunya, akan tetapi Allah memaafkan bagi umat ini atas apa yang dibisikan jiwanya selagi tidak melakukannya atau mengatakannya dan Dia memaafkan baginya atas apa yang diucapakannya dalam kondisi khatha’ atau lupa atau dipaksa atau tidak mengetahuinya, bila dia itu tidak memaksudkan makna apa yang diucapkannya atau memaksudkan kepadanya. Bila telah terkumpul qashd (maksud) dan dilalalah (indikasi/penunjukan) yang bersifat ucapan atau perbuatan maka hukumpun terjalin, ini adalah kaidah syar’iyyah dan ia itu adalah di antara tuntutan keadilan Allah, hikmah-Nya dan rahmat-Nya).[10]

Dan beliau rahimahullah berkata:

ولو نطق بكلمة الكفر من لا يقصد معناها لم يكفر

(Dan seandainya mengucapkan kalimat kekafiran orang yang tidak memaksudkan maknanya, maka dia itu tidak kafir).[11]

Al ‘Izz Ibnu Abdissalam berkata: (Fasal prihal orang yang melontarkan ucapan yang tidak dia ketahui maknanya, maka dia tidak dikenakan konsekuensinya) beliau berkata:

… فإذا نطق الأعجمي بكلمة كفر أو إيمان أو طلاق أو عتاق أو بيع أو شراء أو صلح أو إبراء لم يؤاخذ بشيء من ذلك لأنه لم يلتزم مقتضاه ولم يقصد إليه.

(…Bila orang ‘ajam mengucapkan kalimat kekafiran, atau keimanan, atau thalaq, atau pemerdekaan, atau penjualan, atau pembelian, atau perdamaian atau pembebasan tanggungan maka dia itu tidak dikenakan konsekuensi sedikitpun dari hal itu, karena dia itu tidak berkomitmen dengan konsekuensinya dan tidak memaksudkan kepadanya).[12]

Dan masuk dalam intifaaul qashdi juga orang yang mengucapkan ucapan kekafiran dalam rangka membaca, atau menjadi saksi atau menghikayatkannya untuk menjelaskan kerusakan yang ada di dalamnya.

Bersambung…
Baca juga artikel lainnya:

–> Mawani’ Takfier yang Dianggap (Bagian 4)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 5)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 6)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 7)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 8)
–> Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 9)

[1] Shahih Muslim 2747.

[2] Al Bukhari (7352), Muslim (1716), Abu Dawud (3574) dan Ibnu Majah (2314).

[3] Al Bukhari – Kitabul Iman – 18.

[4] Fathul Bari 1/87.

[5] Silahkan rujuk Al ‘Udzru Bil Jahli Tahtal Mijhar Asy Syar’iy hal 214.

[6] Silahkan rujuk Al ‘Udzru Bil Jahli Tahtal Mijhar Asy Syar’iy milik Abu Yusuf madhat Alu Farraj hal 215.

[7] Tafsir Al Baghawi cetakan pertama dala satu jilid hal 185.

[8] Al Fatawa 10/760.

[9] I’lamul Muwaqqi’in 3/66.

[10] I’lamul Muwaqqi’in 3/117.

[11] I’lamul Muwaqqi’in 3/75.

[12] Qawa’idul Ahkam Fi Mashalihil Anam 2/102.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: