Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » seri 6 Nasehat Syaikh Mukhlas

seri 6 Nasehat Syaikh Mukhlas


[6]. Wasiat Keenam
(A). Waspadailah, jauhilah dan tinggalkanlah para penyeru ke pintu-pintu neraka Jahannam, karena pada diri mereka tidak ada setitikpun dari kebaikan. Adanya hanya keburukan, kejahatan dan kemungkaran. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari shohabat Hudzaifah radiyallahu ‘anhum dinyatakan yang maksudnya[[1]] :
حَدَّثَنِي أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي.
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ. فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ. فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ نَعَمْ .
قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ.
قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ.
ُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ  ؟ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا.
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, صِفْهُمْ لَنَا ! فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا.
قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ ؟ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ.
قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Hudzaifah radiyallahu ‘anhum berkata: “Adalah manusia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepadanya tentang kejahatan, karena aku khawatir ia akan menimpaku, maka aku katakan : “Hai Rasulullah! Sesungguhnya kami dahulu berada dalam kejahiliyahan dan kejahatan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami, maka apakah sesudah kebaikan ini ada kejahatan?” Beliau berkata, “Ya” Aku katakan lagi, “Dan apakah sesudah kejahatan itu ada kebaikan?” Beliau bersabda “Ya, dan didalamnya ada asap” aku katakan, “Apa asapnya?” beliau berkata, “Yaitu kaum yang memberi petunjuk dengan bukan petunjukku, kamu kenali mereka dan kamu ingkari. ” Aku katakan lagi, “Maka apakah sesudah kebaikan itu ada kejahatan?” Beliau berkata “Ya, para penyeru keatas pintu-pintu Jahannam, barangsiapa menuruti mereka, kepadanya, mereka akan mencampakkannya, di dalamnya.” Aku katakan, “Hai Rasulullah, sifatilah mereka untuk kami.” Beliau berkata, “mereka sekulit dengan kita, dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku katakan, “Apa yang Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, perintahkan kepadaku jika hal itu menimpaku? ” Beliau bersabda, “Kamu lazimi (tetap atas) jama’atul muslimin dan imam mereka.” Aku katakan, “Jika mereka tidak mempunyai Jama’ah dan Imam?” Beliau bersabda, “Maka tinggalkanlah kelompok-kelompok itu semuanya, walaupun kamu menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu, dan kamu tetap dalam keadaan seperti itu[[2]]
(Muttafaq Alaihi)[[3]].

Para penyeru ke pintu-pintu Jahannam tersebut, meskipun mereka sekulit dengan kita, sebangsa dengan kita, berbicara dengan bahasa kita, dengan kata lain mengaku beragama Islam, berbicara atas nama Islam dan sepertinya membicarkan tentang urusan Islam dan kaum muslimin, tetapi pada hakekatnya tidak ada kebaikan sama sekali pada diri mereka, yang ada hanyalah kejahatan dan kemungkaran. Dan siapa  yang menuruti dan mengikuti seruan dan ajakan mereka akan dicampakkan dalam neraka Jahannam –Al’iyadzubillah-. Siapakah mereka itu pada zaman sekarang ini?

Berkata Ibnu Hajar rahimahumullah: Al-Qobisi mengatakan : “Mereka itu adalah orang-orang yang pada lahirnya kelihatan berada diatas millah Islam, tetapi pada batinnya mereka orang-orang yang menyelisihi Islam.” Fathul Bari Syarhu Shahih Bukhari 13/36.

Menurut Asy-Syaikh Al Mujahid Abu Abdullah bin Ladin : “Mereka antara lain adalah  para penguasa murtaddin dan perangkat-perangkatnya, termasuk-ulama’-ulama’ Bal’am, mereka-mereka ini siang malam senantiasa menyeru manusia ke pintu-pintu jahannam dengan memalingkan manusia dari jalan yang lurus, menipu mereka dan menghalang-halangi dari jalan Allah”. (rujuk Taujihat Manhajiyah I/15).

Menurut Asy-Syaikh Salman Al Audah : “Mereka, antara lain adalah para pengusung aliran-aliran sesat kebendaan (materialisme), yaitu para pengusung Komunisme, Sosialisme, Nasionalisme, Baatsisme, Sekulerisme, dan lain sebagainya, otak-otak mereka inilah menjadi lahan yang subur bagi timur dan barat dalam  menyebarkan agama atau aliran mereka di negara-negara kaum muslimin.” Katanya : “Kalau ulama’-ulama’ sunnah memasukkan ahlul ahwa’ seperti khawarij dan sebagainya termasuk dari golongan mereka, maka sangat mungkin untuk memasukkan dalam golongan mereka setiap orang yang pura-pura menampakkan dirinya dengan Islam dan pada hakekatnya mereka adalah zindiq, munafiq dan memusuhi Islam (Shifatul Ghuraba : 221-223) ”.

Para penyeru ke pintu-pintu neraka Jahannam dari para pengusung agama materialisme Barat maupun Timur yag berkedok dengan Islam, dengan berbagai status kehidupan sosialnya, dari penguasa, menteri, tentara, polisi, dosen, mahasiswa, guru, pemuka-pemuka masyarakat, hingga rakyat jelata. Orang-orang ini aneh bin ajaib dalam beragama, terutama yang keranjingan dan keracunan agama Sekulerisme, yang dengan taqdir dan kehendak Allah Ta’ala hari ini sedang naik pamornya dan menguasai dunia. Mereka mayoritasnya menjalankan agama Islam hanya sebagai kuda tunggangan untuk memenuhi nafsu syahwatnya dan perutnya belaka.

Ada yang mengatakan Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, tidak sesuai dengan masa kini, ada yang mau menegakkan Islam diluar cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, menegakkannya.
Ada yang menganggap semua agama sama, ada yang mengatakan orang-orang Nasrani adalah saudara kita.
Ada yang bilang prinsip-prinsip salaf dan pendapat-pendapatnya tidak sesuai lagi untuk masa kini.
Ada yang berprinsip dimana ada maslahat disitu ada hukum Allah, mengukur maslahat sesuai dengan selera hawa nafsunya.
Ada yang dengan tolol dan dungunya mengatakan bahwa wajah orang Nasrani meskipun di dunia hitam, tetapi di akherat akan berseri-seri jika banyak berbuat kebaikan untuk kemanusiaan, padahal orang-orang Nasrani dengan jelas mereka telah berbuat dusta terhadap Allah dengan keyakinan trinitasnya dan sebagianya yang menurut nash Al Qur’an wajah mereka menjadi hitam pada hari kiamat (Buka Al-Qur’an surat : Az-Zumar (39): 60).
Ada juga diantara mereka yang mengaku sebagai mufakkir (pemikir, cendekiawan) Islam. Mereka sengaja lari dari istilah mujtahid, sebab dengan istilah itu mereka akan kebakaran jenggotnya karena tidak memenuhi syarat sebagai mujtahid.
Ada sebagian dari kaum tersebut yang berupaya membuat ushul fiqih baru yang berbeda dan bertentangan dengan ushul fiqh yang telah dibuat oleh Imam-Imam yang agung lagi terpercaya seperti Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan sebagainya.
Ada yang memahami Iman dan Islam dengan filsafat Aristoteles (Aristotelian-ed) dan sebagainya. Ada yang menganggap Islam adalah urusan pribadi dan seibut satu lagi pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan sampah yang tidak layak duduk dan tingal melainkan di tong sampah. Oleh karena itu sekali lagi jauhilah dan tinggalkanlah orang-orang yang modelnya seperti ini jika kalian ingin selamat dari api neraka
(B). Kenalilah musuh-musuh kalian dan tipudaya mereka sebagaimana yang telah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam beritakan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, ingat! Bahwasanya musuh selama-lamanya tetap musuh, lawan kapanpun tetap lawan, meskipun bertopeng kawan. Serigala tetap serigala meskipun berkulit domba, musang tetap musang walaupun berbulu ayam. Sadarlah singa tersenyum bukan mengucapkan salam kepada kalian tetapi hendak menerkam dan membantai kalian, Zionis, Salibis, Komunis, Majusi dan Kafirin lainnya serta antek-anteknya dari kaum zindiq dan munafiqun adalah musuh-musuh bebuyutan kalian. Mereka adalah pembawa dan pembela panji-panji kebathilan, kufur, syirik nifaq dan riddah, sedang kalian adalah pembawa dan pembela panji-panji kebenaran, Islam, Iman dan Tauhid. Sudah menjadi Sunnatullah bahwasanya dua kelompok ini akan senantiasa bergolak dan bertarung. (Q.S. An-Nisa’ (4): 76), (Q.S. Al-Hajj (22): 19-25). Dan lain sebagainya, pergolakan dan pertarungannya adalah permanen hingga hari kiamat.
Maka dalam hal ini, hanya ada satu dari dua pilihan, apakah memihak kelompok yang membawa panji-panji kebenaran atau yang mengusung panji kebatilan. Tidak ada pilihan yang ketiga, tidak ada netral atau non blok dalam pergolakan ini. Kalau yang berperang Blok Barat (Sekuler/Kapitalis) melawan Blok Timur (Komunis/ Sosialis), minimal kita bersikap netral dan non blok. Kita tidak boleh memihak salah satu minimal dari keduanya atau ke dua-duanya, sebab kedua-duanya adalah musuh bebuyutan kita. Jika mampu bahkan wajib memerangi kedua-duanya sampai mereka tunduk dan dibawah kekuasaan Islam, dalam keadaan damai, keadilan bisa ditegakkan, kemungkaran, kemaksiatan, perilaku keji dan kejahatan dapat dicegahdan diredam. Setiap agama bebas menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinannya masing-masing dibawah perlindungan syariat Islam. Masing-masing merasa bebas dan merdeka hidup di bawah naungan Islam, semuanya bisa menikmati kebahagian hidup sesuai dengan usahanya.
Tidak sebagaimana sekarang ini, karena yang memimpin dunia orang-orang tolol yang tidak mengerti halal dan haram. Tidak memahami kebenaran, sehingga mengatur dunia mengikuti hawa nafsunya, maka akibatnya seluruh penduduk bumi, teraniaya, berduka cita, menderita, sengsara, tidak pernah mengecapi kebahagiaan lahir apalagi batin. Meskipun segala materi ada dihadapannya –kecuali orang-orang yang dirahmati Allah- maka kembalilah kepada Islam secara kaffah, sebab ia membawa rahmat bagi alam semesta. Jika Islam yang kalian ikuti tidak sebagaimana Islam yang diikuti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya radiyallahu ‘anhum, yang berkuasa di dunia dengan segala kehebatan dan kekuatannya sehingga disegani oleh lawan-lawannya, maka jangan kalian mimpi Islam kalian akan membawa rahmat bagi semesta alam.
Sebaliknya Islam kalian akan menjadi bahan permainan bagi musuh-musuh Islam, seperti keadaan hari ini. Lihat Iblis Bush –laknatullahi alaihi–  yang senantiasa mendapat dukungan dari penguasa munafiqin, dan ulama’-ulama’ Bal’amnya dengan sesuka hatinya mempermain-mainkan Islam dan kaum muslimin dari hari ke hari.
Kalian tentu masih ingat ketika Iblis Ariel Sharon –laknatullahi alaihi– membunuh Asy-Syaikh Ahmad Yassin dengan brutalnya, lalu dunia menyepakati untuk memboikot Israel. Tetapi negara pelacur Amerika, negara syetan besar itu, dibawah pimpinan Iblis Bush –laknatullahi alaihi– menggunakan hak hukum rimbanya (veto). Maka dengan kepongahan dan kebrutalan Bush –laknatullahi alaihi– yang selalu memihak kepada Israel itu, mendapat kecaman dan ultimatum langsung dari pemimpin-pemimpin mujahidin –Al-Hammas- Asy-Syaikh Abdul Aziz Rantisi rahimahumullah bahwasanya Bush adalah musuh Islam dan beliau berjanji akan membunuhnya[[4]]. Maka dengan tolol dan congkaknya si Iblis –laknatullahi alaihi– mengatakan, antara lain “Bahwasanya kami tidak memerangi Islam, kami ingin mempersatukan Islam dibawah demokrasi”. Coba fikirkan dengan akal sehat kalian, apalagi jika dengan iman sehat kalian, mana ada penghinaan yang lebih menyakitkan dari kata-kata iblis tersebut terhadap kita, sebagai kaum mukminin.
Manusia Drakula yang berbuat durjana membantai beribu-ribu kaum muslimin di sana-sini lalu dengan pongahnya konon ingin mempersatukan kaum muslimin. Sebenarnya yang ingin dipersatukan Bush –laknatullahi alaihi– adalah orang-orang munafiq, murtad. Mustahil bagi seseorang yang masih ada iman sebiji iman dalam hatinya mau diimpin oleh Iblis, dan mendukungnya bahkan mencintainya, merasa gembira jika Bush gembira, dan merasa sedih jika Bush ditimpa bencana. Sebaliknya jika mujahidin mendapat kebaikan, mereka tidak senang dan jika mujahidin tertimpa musibah, mereka senang (Q.S (9): 50). Orang-orang yang seperti inilah yang disebut orang-orang munafiq yang akan Allah Ta’ala bakar di neraka yang paling bawah (Q.S (4) : 145). Meskipun mereka sholat, puasa, haji seribu kali dan sebagainya, tidak berarti sama sekali amalan mereka, kecuali jika mereka bertaubat  (Q.S (4) : 146) –Wallahu a’lam-
Sekali lagi waspadalah dan fahamilah tipudaya-tipudaya musuh-musuh Islam agar kalian tidak tersesat. Hari ini diantara tipudaya, pemecah belahan, taktik dan siasat yang dipergunakan oleh musuh-musuh Islam untuk mengelabui orang-orang Islam dan memecah belah mereka adalah dengan memunculkan dan mempropagandakan ungkapan-ungkapan dan istilah-istilah yang bermuatan makar, misalnya : “Islam adalah agama damai, rahmatan lil alamin, bukan agama yang keras dan tidak menyukai kekerasan.” Mereka membagi Islam, ada Islam Ekstrem, ada Islam Moderat, ada istilah teroris, ekstremis, fundamentalis radikal dan sebagainya dan sebagainya. Jika ungkapan-ungkapan dan istilah-istilah seperti ini tidak kalian kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan tetapi kalian hanya mengikuti hawa nafsu, selera dan perasaan, maka kalian akan terbius oleh propaganda syetan-syetan tersebut, dan kalian akan merugi dan menyesal sendiri di kemudian hari.
Pada masa kini banyak dari kalangan kaum muslimin yang terpengaruh dengan propaganda musuh-musuh Islam karena kebodohannya. Maka begitu mujahidin dan para pejuang Islam menyembelih dan membunuh orang-orang kafir tulen maupun kafir munafiq baik di Pakistan, Afghanistan, negara-negara Arab, negara-negara Eropa, Amerika, Rusia, Asia Tenggara, maupun yang lainnya, langsung menanggapi dengan sinis. Bahkan karena sudah rusak iman dan akalnya sampai ada yang mengutuk –al’iyadzubillah-. Tapi sebaliknya  jika yang dibantai dan ditimpa musibah para mujahidin, ditanggapinya dengan dingin-dingin saja bahkan merasa suka sambil berkata, itulah balasan terhadap para teroris dan orang-orang yang melakukan kekerasan, bukankah agama Islam adah agama yang cinta damai dan rahmatan lil alamiin?????
Wahai orang-orang yang masih tersisa iman dalam hatinya, apakah kalian tidak pernah membaca Al Qur’an kitab suci dan penuntun kita, ketahuilah bahwasanya didalam kitab suci kalian itu berpuluh-puluh ayat yang memerintahkan kepada kalian agar berjihad, berperang, membunuh, berbuat keras dan sebagainya, jika kalian masih yakin dengan kitab kalian, silakan baca beberapa ayat yang saya tunjukan ini : (Q.S. Al-Anfal (8) : 34), (Q.S. At-Taubah (5) : 14,15,29,36, 73, 111, 120, 121, 123), (Q.S. Muhammad (47) : 4-6), (Q.S. Al-Maidah (5) : 54), (Q.S. Al-Fath (48) : 29), dan lain sebagainya.
Apakah kalian terlupakan bahwa membunuh orang-orang kafir musuh-musuh Islam itu merupakan amal yang luar biasa fadhilah dan keutamaannya. Camkan hadits shahih ini :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجْتَمِعُ كَافِرٌ وَقَاتِلُهُ فِي النَّارِ أَبَدًا

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhum , bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : Tidak berkumpul orang kafir dan pembunuhnya didalam neraka selama-lamanya” (H.R. Muslim dalam shahihnya nomor 1891).

Adakah kalian tidak menyadari bahwa manusia junjungan kita, serta tauladan kalian, tokoh-tokoh agung kalian, khususnya Nabi Teragung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan tokoh-tokoh besar lainnya radiyallahu ‘anhum ajma’in). mereka adalah orang-orang yang bersifat keras kepada orang-orang kafir dan lemah-lembut kepada orang-orang yang beriman (48: 29, 5:54).
Dan diantara kegiatan kegiatan utama mereka adalah berperang dan membunuh orang-orang kafir. Tidak tahukah kalian bahwa Baginda kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, hanya dalam 10 tahun menjadi imam negara Islam yang berpusat di Madinah, menjalankan operasi jihad sebanyak 77 kali; 28 kali beliau pimpin sendiri, sedang selebihnya, adalah brigade-brigade ekspedisi yang dipimpin oleh salah seorang shahabat yang beliau tunjuk, Coba bandingkan dengan ibadah haji beliau. Dalam riwayat, setelah beliau hijrah hanya menunaikan ibadah  haji sekali saja, dan dalam riwayat lain dua kali. Maka dalam 10 tahun saja beliau telah menguasai seluruh jazirah Arab, bahkan sudah sampai di wilayah perbatasan negeri Syam. Kemudian pada masa Khulafaur Rasyidin yang hanya 30 tahun saja, para shahabat telah berhasil menumbangkan dua negara super power pada saat itu yaitu, Persia (Majusi) dan Rumawi (Kristen), dan kekuasaan Islam pada saat itu membentang ke negeri Sind di sebelah timur, ke negeri Khazar (Kaspia), Armenia dan negeri-negeri Rusia di ujung utara, dan masuk dalam kekuasaannya yang adil : negeri-negeri Syam, Mesir, Burqoh, Tripoli dan negeri-negeri lain di benua Afrika.
Dan pada masa khilafah Bani Umayyah belum masuk tahun 102 Hijriyah, kekuasaan Islam menyebar luas lagi, sampai ke negeri-negeri Sind dan sebagian besar wilayah India dan sampai ke perbatasan negeri Cina, di bagian timurnya dan ke barat sampai ke negeri Andalusia (Spanyol) di Eropa. Subhanallah. Dan seterusnya dan seterusnya sampai runtuhnya dan hilangnya kekuasaaan poemerintahan Islam yang terakhir dari bumi, yaitu Khilafah Utsmaniyah di Turki, pada tahun 1924 M. akibat dari persekongkolan jahat negara-negara Salibis (Inggris, Perancis, Italia dan Yunani) yang dikendalikan oleh Zionis Internasional, bekerjasama dengan antek-anteknya dari kaum munafiqin baik yang berada di Turki, seperti Kamal Attaturk dan Ishmat Inonu dan sebagainya maupun yang berada di negara-negara Arab –la’aainullaahi alaihi ajma’in-. Sehingga kini pemerintahan Islam dalam arti kata yang sebenarnya menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan para Salaf, belum bisa bangkit lagi.
Adapun negara-negara yang pada biasa kita dengar dengan sebutan-negara-negara Islam atau yang lebih sesuai sebagai negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, pada hakekatnya negara-negara tersebut pemerintahannya bukan pemerintahan Islam tetapi merupakan boneka-boneka penjajah, termasuk negara-negara Arab.
Kalian mesti pernah mendengar tentang kabar tentang revolusi, negara-negara Arab yang terjadi sekitar tahun 1917-an Masehi, dapat disimpulkan revolusi itu itu adalah lari dari pangkuan pemerintahan Islam di bawah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah, masuk dalam ketiak pemerintahan Kafir Salibis Inggris, Perancis dan sebagainya. Silahkan anda baca sejarah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia. Ia didirikan dengan kekuatan Inggris, berwala’ kepada Inggris, dengan senjata Inggris, dengan dana Inggris,. Raja pertamanya Abdul Aziz, menerima gaji dari Inggris, lima ribu Junaih perbulannya, sesuatu jumlah uang yang sangat besar pada saat itu. Diantara penyebab utama runtuhnya Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah Utsmaniyah di Turki, adalah persekongkolan jahat penjajah Salibis Inggris dengan Alu (Keluarga) Saud. (Taujihat Manhajiyah I/17-18).
Maka janglanlah kalian merasa heran jika penguasa-penguasa boneka Arab tidak terketuk sama sekali untuk membantu mujahidin Palestina dalam memerangi negara-Zionis Israel. Bagaimana mereka mau memerangi Israel, sedang mereka sama-sama tunduk dibawah satu boss (waktu itu antara Israel dan boneka Arab dibawah satu koordinasi Inggris, penulis menyebut kepemimpinan Inggris sebagai boss-ed). Berdirinya negara mereka atas prakarsa sang boss, demikian juga berdiri negara Israil pada tahun 1948 pun atas prakarsa boss. Siapa bossnya? Siapa lagi kalau bukan Zionis dan Salibis. Bagaimana mereka para boneka-boneka salibis zionis yang mengaku beragama Islam itu akan membantu para mujahidin, justru yang paling mereka takuti adalah jika mujahidin atau Islam menang, sebab mereka yakin dengan kemenangan Islam akan menggusur kekuasaan batilnya dan menghancurkan singgasananya.
Kemudian apa yang dimaksud “Agama Islam adalah agama yang cinta damai.” Saya tidak tahu sumber ungkapan ini berasal darimana, apakah dari ahlul ilmi ataukah ucapan orang awam. Taruhlah jika ungkapan itu benar, bukan berarti karena Islam cinta damai maka tidak suka berperang, tidak suka kekerasan, tidak suka senjata, tidak suka bom dan sebagainya, sebab petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, tidak seperti itu. (buka firman Allah surat Al Anfal (8): 61-62 dan surat Muhammad (47) : 35). Pada ayat 61 surat Al-Anfal tersebut bermaksud, jika musuh cenderung kepada perdamaian, maka kaum mukminin disuruh agar cenderung kepadanya, dengan kata lain jika musuh mengajak damai terimalah ajakan itu. Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Zaid bin Aslam, Atho’ Al Khurasaini, Ikrimah, Al Hasan dan Qotadah ; bahwa ayat ini telah termansukhkan dengan ayat pedang pada surat At-Taubah (9): 29. sedangkan ayat 35 dari surat Muhammad, kaum mukminin dilarang meminta damai, kenapa dilarang? Sebab kaum mukminin itu lebih tinggi daripada musuhnya, sedang minta damai adalah sifat orang yang kalah dan hina.
Agar lebih jelas maksud dari kata damai, maka baiklah kita lihat secara ringkas sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Selama beliau dan para shahabat 13 tahun berada di Mekkah dalam keadaan tertindas, pada waktu itu belum muncul istilah damai, bagaimana berdamai dengan penguasa thaghut dari mereka, sedang diri mereka diancam, diintimidasi, disiksa dan sebagainya, kebrutalan orang-orang musyrik mereka hadapi dengan sabar dan berhijrah, sebab pada waktu itu belum diizinkan untuk berperang (Q.S. An-Nisa’ (4): 77).
Setelah beliau berhijrah ke Madinah dan mendirikan pemerintahan Islam disana, barulah ada ikatan perjanjian damai dengan penguasa-penguasa lain baik Yahudi, kabilah-kabilah maupun musyrikin Quraisy karena kekuatan kaum Muslimin belum cukup untuk menundukkan  mereka, disamping  banyak lagi hikmah-hikmah yang lain. Dalam masa-masa terikat perjanjian damai kaum mukminin senantiasa memenuhi perjanjian, tetapi pihak kuffar selalu berkhianat khususnya orang-orang Yahudi.
Yahudi Bani Nadhir berkhianat, bermakar hendak membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, maka mereka diusir dari kampung halaman mereka, (Q.S. Al-Hasyr (59): 2-5).
Yahudi Bani Qoinuqo’ mengganggu dan sengaja melecehkan seorang perempuan muslimah di pasar dengan menarik dan merobek jilbabnya, akhirnya merekapun diperangi dan diusir.
Dan Yahudi Bani Quraidhah lebih hebat dan berbahaya pengkhianatannya yaitu bersekongkol dengan musyrikin Quraisy untuk menyerang kota Madinah, sebagai pusat pemerintahan pada saat itu. Maka hukuman ganjaran bagi mereka adalah, laki-laki dewasa dibunuh, perempuan dan anak-anak menjadi tawanan dan harta bendanya menjadi ghonimah. Kemudian laki-laki dewasa dibawa ke pasar Madinah dan di seru masuk Islam, semua menolak kecuali dua orang yang masuk Islam, yang lain berjumlah tujuh ratus orang ditebas tengkuknya oleh Az-Zubair dan Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhum, dan dikuburkan dalam lubang di pasar tersebut yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Subhanallah.

Adapun bentuk damai dengan orang-orang kafir pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah memiliki kekuatan yang cukup dan banyak. Yaitu  orang-orang kafir hidup damai dibawah payung pemerintahan Islam sebagai Ahludz dzimmah, dipungut bayaran jizyah sekali dalam setahun, bagi laki-laki dewasa dan mampu, dan bayarannya pun tidak begitu mahal. Tuntutan bayaran zakat kepada penduduk yang muslim lebih banyak jumlahnya, sebab tujuan pokok pembayaran jizyah bukan untuk mendzholimi mereka atau untuk memperkaya pemerintah, tetapi sebagai pengakuan dan keta’atan secara resmi mereka, terhadap pemerintahan Islam dan imbalan dari pemenuhan kewajibannya memperoleh hak mendapat jaminan darah maupun hartanya. (Q.S. At-Taubah (9): 29).

Demikianlah bentuk kedamaian yang dapat dinikmati oleh ahludz-dzimmi, mereka memperoleh hak-hak sebagai rakyat sebagaimana yang diperolehi rakyat yang muslim tentunya sesuai dengan aturan syariat. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang menyakiti seorang dzimmi, maka aku menjadi lawannya di hari kiamat” (Hadits Hasan dari jalur Ibnu Mas’ud). Tetapi jika mereka berkhianat, batallah ikatan janjinya dan darah serta hartanya tidak terjamin lagi. (Minhajul Muslim, hal 256), dan (Tafsir Ibnu Katsir 4/195).
Sebagai tambahan, tatkala pemerintahan Islam telah kuat dan mampu menghadapi penguasa-penguasa atau kekuatan-kekuatan kafir, maka ketika itu pemerintahan Islam memberikan tiga alternatif pilihan kepada mereka:
1.    Diseru masuk Islam, jika bersedia akan selamat, dunia dan akherat, selamat di dunia dari serangan mujahidin dan di akhirat –Insya Allah- terselamatkan dari siksa neraka. Jika mereka enggan dengan pilihan pertama, maka:
2.    Berdamai dan bersedia membayar jizyah sebagai ahludz-dzimmi. Jika masih tetap tidak mau maka pilihan terakhir bagi mereka adalah:
3.    Perang.

Oleh karena itu, pemerintahan Islam wajib melakukan jihad ekspansi minimal satu kali dalam satu tahun, lebih dari itu tentu lebih baik sehingga tidak tinggal di muka bumi selain muslim atau musalim (orang kafir yang suka damai). Demikian menurut pendapat Imam Asy-Syafi’i dan para pengikutnya, begitu juga Imam Al Haramain Al Juwaini dan Ibnu Qudamah (Bisa saudara lihat di Masyari’ul Asywaaq, karangan Ibnu Nuhhas, syahid tahun 814 H, di Mesir, tahdzib dan tahqiq oleh Dr. Sholah Abdul Fattah Al Kholidi hal 35).

Seterusnya apa yang dimaksud Rahmatan lil Alamiin? Allah Ta’ala berfirman (Q.S. Al-Anbiya’ (21): 107):
وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam) melainkan utnuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam
Orang-orang yang kurang ilmu dan pengalaman, memandang sosok pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, bagaikan orang buta meraba dan memegang tubuh gajah. Jika yang ia pegang kebetulan dua gadingya, maka gajah yang tergambar pada fikirannya adalah seperti dua bayonet tajam yang terhunus. Jika sentuhan tangannya mengenai telinganya, maka gajah terbayang seperti sebuah kipas. Jika mengenai kakinya, menganggap seperti pohon atau batang kayu. Jika badannya, maka anggapannya seperti batu raksasa dan seterusnya. Maka informasi tentang gajah dari karakternya yang diperoleh dari orang buta tidak boleh diterima begitu saja, sebab tidak utuh.
Orang-orang Barat khususnya Yahudi dan Salibis karena kedengkiannya terhadap Islam dan kesempurnaannya, memandang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, dari segi kerasnya dan jihadnya saja. Sehingga yang tergambar pada benak mereka, adalah seorang teroris. Sebaliknya orang-orang Islam kebanyakannya –kecuali yang dirahmati Allah – tidak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa belau shallallahu ‘alaihi wa salam, adalah bersikap keras terhadap musuh-musuhnya.
Diantara program utama hidupnya adalah perang, diutus sebagai nabi terakhir dengan pedang. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhum, beliau besabda,
( بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ تَعَالَى وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلُّ وَ الصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ).
Artinya : “Aku diutus mendekati hari kiamat dengan pedang, sehingga Allah disembah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku, dan dijadikan hina dan kerdil atas orang yang menyelisihi peritahku, dan barangsiapa yang menyerupai dengan suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (H.S.R. Imam Ahmad).[[5]]

Yang terbayang pada benak mereka hanyalah, beliau shallallahu ‘alaihi wa salam adalah sebagai seorang Nabi yang penyantun, penyabar, lemah lembut, dilempar kotoran pun tak marah, dicemooh dan diolok-olok pun tidak pernah membalas, tidak pernah mengganggu orang lain, dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Adapun yang sebenarnya, seluruh sifat-sifat yang mulia dan yang terpuji terdapat pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, yang keras maupun yang lemah lembut. Beliau keras pada waktu harus bersikap keras, dan bersikap lemah lembut pada masa-masa mesti berlemah-lembut. Perlu disadari, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam adalah Nabi dan Rasul terakhir, kedatangannya sebagai penyempurna bagi seluruh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya. Oleh karena itu, segala keutamaan yang ada pada diri para Anbiya’ dimiliki oleh beliau. Maka beliaulah yang dipilih Allah, Ta’ala, menjadi manusia yang paling utama, paling mulia dan paling sempurna yang pernah hidup di muka bumi, bahkan yang paling terkemuka dari pada segala makhluk yang ada.
Beliau bisa menjadi contoh dan suri tauladan dalam segala segi kehidupan, semua lapisan masyarakat bisa meneladaninya. Sebab beliau sebagai kepala negara yang kekuasaan wilayahnya begitu luasnya, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, beliau juga sebagai seorang Qodhi (hakim), seorang pendidik, pengajar, suami, pedagang, majikan, pernah juga menjadi karyawan (pekerja yang memperoleh gaji), sebelum diangkat sebagai Rasul dan lain sebagainya.
Allah Ta’ala berfirman: (Q.S. Al-Ahzab (33): 21).
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir dan banyak berzikir kepada Allah
Ayat yang mulia ini merupakan dalil agung dalam hal meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, pada ucapannya, perbuatannya dan keadaan-keadaannya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kepada manusia agar meneladani beliau pada perang Al-Ahzab, beliau menghadapi perang itu dengan sabar, menguatkan kesabaran, senantiasa siap siaga dan bermujahadah sambil menunggu kelapangan, walaupun musuh-musuh Islam, tentara sekutu dan koalisi telah mengepung daulah Islamiyah Madinah dari segala penjuru.
Maka jika kita perhatikan dengan seksama ayat tersebut (Q.S. 33: 21), terletak ditengah ayat-ayat yang menceritakan perang Ahzab, baik sebelum maupun sesudahnya. Namun itu tidak berarti kita hanya disuruh untuk meniru perangnya saja. Sebab ayat itu untuk umum, hanya saja yang wajib menjadi perhatian, karena umat ini kebanyakan telah terjangkit, penyakit dan kuman kehidupan sufi baik dalam cara beribadah maupun manhaj hidup, maka peneladanan pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, dalam hal yang berhubungan dengan perang yang menentukan Izzul Islam Wal Muslimin, setelah iman justru tidak diindahkan sama sekali, tidak pernah dibicarakan, bahkan tidak terbayangkan sedikitpun –kecuali yang dirahmati Allah-. Inilah diantara penyebab utama kehinaan kaum muslimin pada masa kini.
Presiden Amerika Serikat George W. Bush, terhuyung-huyung  karena dongengan-dongengan kehebatan Amerika hilang dan musnah dalam beberapa kejap mata saja, dalam jumpa persnya lima hari setelah ambruknya WTC, dan porak-porandnya markas angker Pentagon, tepatnya pada hari Ahad tanggal 16/09/2001 Masehi bertepatan dengan 28/06/1422 Hijriah. Presiden yang sedang duka dan sedih serta kalang-kabut itu tidak mampu menyembunyikan aqidahnya yang sebenarnya. Yang selama ini ditutup-tutupi dengan berbagai kedok dan sandiwara, dengan jelas dan gamblang dalam jumpa pers itu ia menyatakan sebagai berikut : “This crusade, this war on Terrorism, is going to take a long time”, maksud dari ucapannya-qotalalloh– Ini Perang Salib, perang melawan teroris, ini akan memakan waktu yang lama.
Coba bayangkan ! Sudah jelasnya seperti itu, bagaikan matahari di siang bolong masih juga ada diantara kaum muslimin yang menyatakan bahwa Bush tidak memerangi Islam. Jika ucapannya dan anggapan seperti ini datang dari para penguasa dan Bal’am-Bal’am mereka yang arab maupun yang ajam, kita tidak perlu heran sebab mereka adalah orang-orang munafiq sudah menjadi sunnatullah bahwa orang-orang munafiq itu akan senantiasa bekerjasama dengan orang-orang kafir dalam memerangi Islam dan kaum muslimin. (Q.S. Al-Hasyr (59): 11) dan lain sebagainya).
Dan bukalah sekali lagi sejarah! Kalian akan mendapati kaum munafiqin senantiasa bergentayangan dalam panggung sejarah Islam. Yang kita sayangkan adalah orang-orang Islam yang masih ada sisa iman dalam hatinya, tetapi karena kurangnya ilmu dan pengalaman sehingga terpengaruh dengan sihir dan ucapan manis yang keluar dari mulut orang-orang kafir, zindiq dan munafiq.
Dengan demikian, meskipun Amerika dan Eropa telah menabuh genderang Perang Salib dengan cara yang lebih licik dari perang-perang salib sebelumnya, antara lain dengan dalih memerangi teroris, mereka membantai kaum mukminin dimana-mana, dan menghancurkan negara mereka dan menguasainya.
Sementara itu kaum muslimin dengan kebodohannya –kecuali yang dirahmati Allah- masih tetap memegangi prinsip sesatnya, katanya: “Agama Islam itu agama yang tidak suka peperangan, tidak suka kekerasan, tidak suka persenjataan, tidak suka bom, agama rahmatan lil alamin (rahmatan lil alamin menurut udelnya)”, dan lain sebagainya.
Kita kembali kepada firman Allah (Q.S. Al-Anbiya), apa yang dimaksud dengan rahmatan lil ‘alamin رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ, “menjadi rahmat bagi semesta alam”. Dalam tafsir Ibnu Katsir dinyatakan bahwa dengan ayat tersebut Allah Ta’ala memberitahukan bahwasanya Allah menjadikan Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa sallam, sebagai rahmat bagi mereka seluruhnya. Maka barangsiapa yang mau menerima rahmat itu dan mensyukuri nikmat ini, ia akan hidup bahagia di dunia dan di akherat. Dan sebaliknya, barangsiapa yang menolak rahmat dan mengingkari nikmat itu, ia akan rugi di dunia dan di akherat, sebagaimana firman Allah Ta’ala (Q.S. Ibrahim (14): 28-29) dan (Q.S. Fushilat (41): 44).
Diutusnya Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa sallam adalah menjadi rahmat bagi orang yang beriman dan bagi orang kafir. Bentuk rahmat yang dicapai oleh orang-orang yang beriman sudah jelas seperti yang disebutkan diatas. Maka yang menjadi pertanyaan, rahmat apa yang diperoleh orang-orang kafir dengan diutusnya Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa sallam, sebagai Nabi dan Rasul terakhir? Dalam dua buah atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ath-Thabrani, Ibnu Abbas rhodiyalloohu anhum dalam mentafsirkan ayat وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ berkata: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau mengikuti Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, maka ia akan mendapat rahmat di dunia dan di akherat. Dan barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya atau tidak mengikutinya akan (tetap diadzab oleh Allah) dihindarkan dari siksaan secara langsung sebagaimana yang ditimpakan terhadap umat-umat sebelumnya, seperti dilenyapkan dari bumi, dirubah menjadi monyet dan dihujani batu dari langit
Dalam sebuah hadits yang agak panjang yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, bahwa Abu Jahal mengatakan kepada kepada orang-orang Quraisy yang isinya makar dan menyudutkan Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam dan para pengikutnya, maka begitu berita itu sampai kepada beliau, beliau bersabda :
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، َلأَقْتُلَنَّهُمْ وَ َلأُصَلِّبَنَّهُمْ وَ َلأَهْدِيَنَّهُمْ وَهُمْ كَارِهُونَ، إِنِّي رَحْمَةٌ بَعَثَنيَِ اللهُ وَ لاَ يَتَوَفَّانِي حَتىَّ يُظْهِرَ اللهُ دِينَهُ
Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh benar-benar aku akan membunuh mereka dan menyalib mereka, serta menunjukkan mereka, sedang mereka tidak menyukainya. Sesungguhnya aku diutus Allah menjadi rahmat dan Allah tidak akan mewafatkanku. Sehingga Allah memenangkan dien (agama)-Nya” “H.R Ath-Thabrani”
Dalam hadits marfu’ dari Abdullah bin Umar rhodiyalloohu anhum berkata, Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ بَعَثَنيِ رَحْمَةً مُهْدَاةً بُعِثْتُ بِرَفْعِ قَوْمٍ وَخَفْضِ آخَرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengutusku menjadi rahmat lagi menjadi petunjuk [[6]] aku diutus dengan mengangkat suatu kaum, dan merendahkan yang lainnya, (maksudnya mengangkat kaum yang beriman dan merendahkan kaum yang kafir-pen)” (Tafsir Ibnu Katsir 3/210-211).
Demikianlah penjelasan rahmatan lil ‘alamin, jadi bukan berarti tidak suka perang, tidak suka membunuh orang kafir, tidak mengenal kekerasan, yang dikenali hanya lemah lembut, lembek dan mengalah. Sungguh tidak demikian.
Agar supaya kita tidak termakan dan terpengaruh dengan istilah-istilah bermuatan makar yang dipropagandakan ahlul kitab, atau musuh-musuh Islam, maka teladanilah sikap dan keberanian Imam kita dibawah ini:
1.      Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullahu wa rhodiya anhu, ketika beliau dituduh sebagai seorang rafidhi (pengikut syiah rafidhah), maka dengan tegasnya beliau mengatakan, “Jika yang dimaksud rafidhah, adalah orang yang benar-benar mencintai keluarga Muhammad sholallohu alaihi wa sallam, maka supaya manusia dan jin menyaksikan bahwasanya aku seorang rafidhi.”
2.      Imam Abul Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah rahimahullahu wa rodhiya anhu menyatakan, “Jika yang dituduh sebagai nashibah orang-orang yang benar-benar mencintai shahabat-shahabat Nabi sholallohu alaihi wa sallam, maka agar manusia dan jin menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah seorang nashibi.”
3.      Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahullahu wa rodhiya anhu, menyatakan, “Jika yang dituduh sebagai mujassim adalah orang-orang yang mengitsbatkan shifat-shifat Allah dan mensucikan-Nya dari setiap takwil yang diada-adakan, maka dengan memuji Allah sebagai Rabb-ku sesungguhnya aku adalah seorang mujassim, kemarilah kalian untuk menyaksikan”
4.      Imam Asy-Syahid Abdullah Yusuf Azzam, rahimahullahu wa rodhiya anhu, menyatakan:
a)    Jika yang kalian maksud fundamentalis adalah orang-orang yang Iman, Tauhid dan Islamnya benar sebagaimana yang di bawa Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, maka saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang fundamentalis.
b)   Jika yang kalian maksud ekstrimis orang-orang yang melakukan i’dad untuk memerangi musuh-musuh Allah, maka saksikanlah bahwasanya kami adalah orang-orang yang ekstrem.
c)    Jika yang kalian maksud dengan teroris adalah orang-orang yang berjihad, maka saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah para teroris, (lihat ceramah-ceramah beliau yang terhimpun dalam Tarbiyah Jihadiyah atau yang lainnya).
(Bersambung)

[[1]]    rujuk risalah At-Thoifah al Manshurah I, II dst oleh penulis.
[[2]]    Dari hadits tersebut bisa diambil hikmah bahwa seorang muslim jika pada masa hidupnya mendapati kholifah diatas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan kaum muslimin berkumpul diatasnya. Maka ia wajib melazimi jama’atul muslimin dan Imam mereka dan inilah keadaan yang paling afdhal. Seperti pada masa khulafaur Rasyidin radhiyalloohu anhum ajmain, atau terdapat kholifah yang memihak kepada bid’ah tetapi ia menegakkan dien dan disana ada jama’ah ahlul ilmi yang berpegang kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, dan para shahabatnya  radiyallahu ‘anhum dan mengingkari bid’ah, maka dalam keadaan seperti ini seorang muslim melazimi kholifah yakni tidak boleh keluar memerangi dengan pedang, tetapi tidak boleh menyertainya dalam kemaksiatan , dalam hal ini boleh mengganti khalifah jika mampu tanpa adanya mafsadah yang besar dan wajib beriltizam dengan jama’ah yang benar yang menyeru kepadanya, sebaik-baik contoh dalam hal ini adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahumullah, sewaktu menghadapi Al Makmun, Al Mu’tashim dan Al Watsiq. Dan jika tidak ada kholifahtapi ada jama’ah diatas Al Haq, maka ia wajib iltizam kepadanya dan beramal untuk menegakkan khalifah jika tidak ada khalifah dan jamaah maka wajib ia berdakwah kepada al Haq dan tegaknya jama’ah, jika tidak mampu ia uzlah dari semua firqoh sampai ia mati diatas sunnah (Lihat buku Al Khuttuth Al Aridhah lil Jama’ah Al-Islamiyah Al-Muqatilah, Libia, hal 38, karya syaikh Abu Mundzi As-Sa’idi)
[[3]]    HR. Bukhari : Al-Manaqib dan Al-Fitan, Muslim : Al-Imarah, Abu Daud :Al-Fitan wal Malahim dan Ahmad.
[[4]]    dengan takdir Allah niat beliau ini tidak kesampaian akan tetapi beliau telah menang karena telah berhasil menggondol titel Asy-Syahid –Insya Allah-
[[5]]    HR. Ahmad dan Al-Thabrani. Dishahihkan syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir 1/545 no. 2831 dan Irwaul Ghalil Takhriju Manari Sabil no. 1269.

[[6]]    Minta tolong kepada akhi kita yang memiliki kesempatan untuk mencarikan makna yang lebih sesuai dengan, maksud hadits, ana masih ragu kebenaran arti tersebut (menjadi petunjuk)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: