Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » biografi » biografi mujahid » Serial kisah para komandan Jihad: Pengalamanku bersama Abu Mush’ab Az-Zarqawi (2)

Serial kisah para komandan Jihad: Pengalamanku bersama Abu Mush’ab Az-Zarqawi (2)


(Arrahmah.com) – Dalam kisah pertama, komandan Saiful Adl mengisahkan kedatangan rombongan Abu Mush’ab az-Zarqawi di Afghanistan dan bagaimana syaikh Usamah dan Aiman azh-Zhawahiri mempercayakan pengurusan mereka kepada Saiful Adl. Kali ini Saiful Adl mengisahkan pelaksanaan proyek pelatihan militer dan pembentukan kelompok jihad untuk mujahidin dari Yordania, Lebanon, Palestina, Suriah, dan Turki dengan Abu Mush’ab az-Zarqawi selaku pimpinan kelompok.

***

Program dimulai. Kali pertama, Abu Mush’ab dan kedua temannya kami beri tugas untuk memberikan latihan khusus selama 45 hari kepada rombongannya. Ketika latihan berlangsung, kami menjanjikan akan mengadakan latihan di Herat dan akan datang ke sana.

Mulailah Abu Mush’ab mengontak ikhwan-ikhwan Yordan untuk datang. Ketika latihan berlangsung, kami perhatikan Abu Mush’ab dan kedua temannya adalah sosok yang sangat agresif dan selalu ingin menggapai prestasi yang lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Mereka kuat dalam latihan.

Waktu berlalu begitu cepat. Latihan ini selesai. Kami segera bersiap-siap pergi ke Herat sesuai rencana. Ditengah acara persiapan ini, kebetulan ada dua orang ikhwan Suriah yang datang. Kami langsung sodorkan proyek Herat kepada mereka. tanpa ragu mereka sepakat. Kami sama-sama pergi ke Herat. Sesampai di sana, ikhwan-ikhwan di sana sudah menyiapkan tempat bagi kami di Herat, pelosok tepi. Di sana dibangun kamp-kamp sederhana dan kecil, dilengkapi kebutuhan-kebutuhan logistik yang memadai.

Alhamdulillah, kami tinggal di sana selama empat hari. Sungguh luar biasa, kami merasakan kesamaan pemikiran yang begitu kompak dengan Akh Abu Mush’ab dan teman-temannya begitu kami akan meninggalkan Herat. Kami telah merencanakan pertemuan rutin setiap bulan secara bergantian, bulan ini kami yang datang ke Herat bulan berikutnya mereka yang datang ke markas kami. Mereka kami tinggali tiga buah mobil Pick Up. Kendaraan jenis inilah yang selalu menemani perjalanan kami. Kami menjanjikan kendaraan lain jika memang dirasa perlu.

Kamipun pulang dengan lega, kami yakin Abu Mush’ab, kedua temannya dan ikhwan-ikhwan Suriah itu akan berhasil dalam proyek kali ini, bahkan mungkin akan melampaui target. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tekad seperti gunung. Semangat keislaman dan perhatian terhadap masalah kaum muslimin yang mereka tampilkan, belum pernah saya lihat ada pada siapa pun.

Sesampai di tempat kami, kami mengeluarkan pernyataan resmi kepada ikhwah ditempat kami. Nampaknya mereka mendengarnya dann sangat senang. Al-hamdulillahi Rabbil alamin….

Waktu terus berjalan….sebulan sudah kami tidak ke Herat.

Selama jeda waktu ini, kami telah menyiapkan 3 buah Pick Up, berisi barang-barang logistik yang akan dibutuhkan ikhwah di Herat. Saya berangkat bersama lima orang ikhwah Arab, diantaranya Akh dari Hijaz yang kami ceritakan di muka. Kami ditemani juga oleh dua orang ikhwan Afghan. Kami sampai di Herat selepas sholat Ashar. Sebelum kami datang, kami terlebih dahulu memberitahu Abu Mush’ab. Di sana beliau ternyata sudah menunggu kami dan telah menyiapkan hidangan makan siang. Sekedar tahu, hidangan ini terdiri dari berbagai jenis makanan. Tapi nampaknya didominasi oleh makanan ala Syam. Sangat spesial dan lezat rasanya. Berbeda dengan makanan yang kami santap bulan lalu ketika kami berada di tempat yang sama selama empat hari.

Saya iseng menanyakan masakan ini. mereka bilang, ada dua keluarga Suriah yang datang, aslinya dari Halb, mereka tinggal di Turki dan tiba di Herat lima hari yang lalu. Merekalah yang menyiapkan hidangan kali ini. Berita ini tentu saja sangat menggembirakan saya, sebab itu artinya rencana kami mulai sedikit menuai sukses. Al-hamdulillah, saya hanya bisa memuji Allah sebanyak-banyaknya.

Kami beralih tema. Saya mulai bertanya tentang problem apa saja yang dihadapi selam sebulan ini dan bagaimana pemecahannya. Yang jelas, selama sebulan ini hasil baru yang bisa dilihat adalah:

  1. Abu Mush’ab dan teman-temannya berhasil mempererat hubungan dengan para petinggi Taliban di kota tersebut. Dari hubungan inilah, ikhwah di Taliban siap menyediakan sarana untuk mencukupi berjalannya proyek ini dan mereka turut berusaha agar proyek ini berhasil.
  2. Dulu, kami hanya meninggalkan lima orang di Herat; Abu Mush’ab dan dua teman dekatnya, ditambah dua ikhwan dari Suriah. Sekarang, dua keluarga dari Suriah yang menyusul itu terdiri dari 13 orang. Seorang adalah kepala keluarga, tiga pemuda tanggung berusia 16 tahun, dua wanita dan enam remaja wanita. Dengan demikian jumlah ikhwan Arab di Herat sekarang berjumlah 16 orang.
  3. Bersama ikhwah Suriah, Akh Abu Mush’ab membuat acara-acara kemiliteran dan taklim (kajian ilmu). Menurut saya ini cukup bagus. Beliau menitik beratkan materi penanaman akidah, menghafal Al Qur’an, pelajaran sejarah, dan ilmu geografi.
  4. Kami perhatikan juga, Akh Abu Mush’ab dan teman-temannya seperti sepakat membentuk struktur pemerintah yang lengkap dalam sebuah masyarakat. Karena mereka memperkirakan, ratusan ikhwan beserta keluarganya akan segera menyusul kemari, ke Herat.
  5. Akh Abu Mush’ab memberitahu kami bahwa dirinya telah mengontak ikhwan-ikhwan di Yordania untuk hijrah. Beliau juga memberi kabar gembira akan kesuksesan pertamanya ini di Afghanistan. Beliau meminta siapa saja yang sanggup hijrah silahkan hijrah saja. Beliau juga mengutus orang untuk mengirim keluarganya, dan keluarga teman dekatnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh ikhwan-ikhwan Suriah. Ini menunjukkan, mereka sangat optimis proyek ini begitu penting dan akan berhasil.

Al-hamdulillah, kami memuji Allah; kunjungan ini sungguh menyenangkan. Kami melanjutkan dengan membahas yang diperlukan di masa berikutnya. Mungkin kaitannya dengann logistik, kemudian masalah tempat transit di Masyhad, Iran dan Istanbul, Turki.

Kami tinggal bersama mereka selama tiga hari. Kami menyertai mereka dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Nampak dari sana keikhlasan dan semangat mereka.

Tiba saatnya kami kembali. Sesuai kesepakatan, bulan depan mereka yang akan datang ke tempat kami. Kamipun kembali dengan hati lega dan optimis sekali. Sampai-sampai Akh yang dari Hijaz tadi, mulai berfikir serius untuk bergabung dengan Akh Abu Mush’ab dkk di Herat. Kami memasukkan data baru tentang proyek Herat ini, yang baru berjalan tiga bulan, kemudian kami tunjukkan kepada beberapa ikhwan senior tentang rencana-rencana berikutnya.

 

Miniatur masyarakat Islam di Herat

Waktu begitu cepat berlalu. Tibalah jadwal pertemuan bulanan, Akh Abu Mush’ab datang bersama Akhi dari Suriah, namanya Abul Ghodiyah. Beliau datang membawa kabar gembira baru: jumlah anggota kamp Herat bertambah menjadi 42 orang. Terdiri dari kaum pria, wanita, dan anak-anak. Termasuk keluarga Abu Mush’ab dan kedua teman dekatnya. Ada tiga keluarga Suriah lagi yang turut bergabung, salah satunya bahkan datang jauh-jauh dari Eropa.

Abu Mush’ab memberikan berita gembira kepada kami, bahwa kini sudah mulai dibentuk masyarakat Islam kecil. Dan sebentar lagi, ada ikhwan-ikhwan dari Yordania dan Palestina yang akan datang ke Herat. Beliau juga melaporkan, jalur Iran-Afghanistan kini sangat kondusif dan aman. Ini tentu sebuah poin penting bagi Al-Qa’eda. Di masa mendatang, kami pasti akan memanfaatkannya, untuk menggantikan jalur dari Pakistan, khususnya untuk memudahkan pergerakan ikhwan-ikhwan Arab.

Ini memunculkan ide baru bagi kami untuk menjalin dengan ikhwan-ikhwan yang ada di lembaga-lembaga kemanusiaan Iran, untuk ikut menyediakan fasilitas dan memantau jalur secara lebih maksimal, juga untuk menjalin kerja sama dalam beberapa urusan bersama. Rencana ini akhirnya berhasil.

Kerjasama ini adalah dengan ikhwan-ikhwan yang kami ketahui memiliki keikhlasan, karena mereka juga sangat anti Amerika dan Israel. Bukan dengan pihak pemerintah Iran. Dalam fase ini, saya melihat ada perkembangan mendasar pada kepribadian Abu Mush’ab. Ia sudah berubah, dulu ia tidak banyak berbicara dan sangat perhatian dengan berita perkembangan politik.

Lain dengan sekarang. Beliau senang sekali melontarkan pembicaraan, perhatian dengan berbagai hal, tidak hanya politik. Ia mulai berfikir bagaimana membuka hubungan yang luas untuk mendukung kesuksesan proyeknya. Ia sudah bisa meyakinkan lawan bicaranya, bahwa saya lihat ia bertambah fasih mengucapkan bahasa Arab tingkat tinggi.

Ini adalah urusan bermasyarakat. Yang namanya masyarakat itu membutuhkan sosok pemimpin yang baik.

Teman beliau yang dari Suriah, sama bagusnya. Ia memiliki banyak pengalaman. Menguasai beberapa bahasa, diantaranya bahasa Inggris, Turki dan sedikit bahasa Kurdi.

Tentang ikhwan-ikhwan Suriah yang saya kenal ketika mereka baru tiba di Afghanistan dulu, adalah orang-orang paling ikhlas dan wara’ yang saya kenal selama saya hidup. Kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi di lapangan selama ini, barangkali termasuk faktor yang membentuk kepribadian mereka. Mereka adalah orang-orang penurut (taat) dan mengerti tata krama terhadap pemimpin. Mereka memiliki motivasi kuat untuk belajar dan mendapatkan ilmu, baik secara teori maupun prakteknya. Maka tidak heran, optimis saya selalu meningkat setiap saya dengar ada ikhwan lagi yang akan bergabung dengan Abu Mush’ab.

Proyek Abu Mush’ab mulai berkembang. Ini dilihat dari sisi membengkaknya ikhwah yang bergabung dengan beliau, dari berbagai kewarga negaraan yang berbeda-beda pula. Ada yang dari Suriah, Yordania, Palestina, beberapa orang Libanon dan Irak.

Dengan izin Allah, Abu Mush’ab juga berhasil menjalin hubungan kerja sama dengan Tanzhim Anshor Al-Islam Kurdi, yang anggotanya banyak tersebar di daerah utara Irak. Tandzim ini memiliki basis-basis yang jelas di sana. Yang jelas setiap kali kunjungan, kami selalu melihat perkembangan baru pada Abu Mush’ab.

 

Pengaturan administrasi dan kemampuan militer para pemuda kamp Herat:

Memasuki awal-awal tahun 2001, sosok Abu Mush’ab sudah banyak berubah. Kini, ia memiliki skill-skill pribadi baru. Ini terlihat bagaimana ia memandang suatu masalah. Lebih berfikir strategis dan terencana ke depan. Ia mulai sibuk menjalin hubungan dengan pihak lain, yang berlainan etnis. Baik yang Arab maupun non Arab. Ia banyak berkeliling ke daerah-daerah Afghan, untuk menjalin hubungan dengan masyarakat.

Maka, sering sekali Akh Abdul Hadi menjadi wakilnya di Herat, karena beliau sering pergi. Biasanya dalam berpergian, beliau di dampingi Kholid Al ‘Aruri dan Sulaiman Darwisy Abul Ghodiyah. Pada intinya, ada sifat-sifat baru pada diri Abu Mush’ab, kurang lebih:

  1. Abu Mush’ab mulai memikirkan kondisi umat Islam secara umum dan mendunia.
  2. Teliti, perencanaan detail, dan ingin segera menyelesaikan setiap program.
  3. Suka sekali membaca apa saja yang sedang terjadi di dunia internasional.
  4. Abu Mush’ab mengagumi sosok pahlawan Islam, Jenderal Nuruddin Zanki, yang memimpin operasi pembebasan Masjid Al Aqsho, walaupun yang menyempurnakan bukan beliau, tapi Sholahuddin Al-Ayyubi. Sehingga tidak heran, Abu Mush’ab selalu menanyakan buku apa saja yang memuat tentang sejarah Nuruddin Zanki dan muridnya, Sholahuddin. Saya bisa pastikan, membaca awal mula keberangkatan Nuruddin Zanki dari Mosul, Irak memiliki peran besar dalam mempengaruhi jiwa Abu Mush’ab dan mengapa beliau jadi memilih untuk pindah ke Irak pasca runtuhnya Taliban.
  5. Abu Mush’ab semakin perhatian dengan orang-orang dekat di sekelilingnya. Ia selalu membahas bagaimana cara memperkuat hubungan, baik kemasyarakatan dan emosional dengan mereka. Beliau kemudian mengikuti teladan Rosululloh SAW, yang menikahi putri Abu Bakar dan Umar (yaitu Aisyah dan Hafshah). Akhirnya, beliau memutuskan untuk menikahi putri seorang ikhwan dari Palestina yang turut dengan beliau. Demikian pula halnya dengan rekan-rekan Abu Mush’ab, mereka menikahi dan menikahkan anak-anak ikhwan sesama ikhwan. Walaupun kadang umur antara kedua pasangan sangat juah. Abu Mush’ab dan rekan-rekannya berubah menjadi satu keluarga yang saling menopang dan saling menyayangi. Satu akidah, satu masyarakat dan sepenanggungan ekonomi. Menurut saya, ikatan kasih sayang yang terjalin diantara mereka, hampir menyerupai ikhwal para sahabat Rosululloh SAW. Saya berkeyakinan ini adalah contoh masa kini dan dekat dengan kita, dimana para pelaku dakwah dan aktivis Islam hari ini mesti meniru sikap kasih sayang mereka.
  6. Dua tahun setelah didirikannya kamp Herat, Abu Mush’ab mulai berfikir untuk mengirim pengikutnya ke daerah luar Afghanistan untuk membuka kamp latihan dan penggalangan dana. Pertama-tama, beliau mengirim beberapa orang ke Turki dan Jerman. Hal ini disebabkan pengikut beliau yang berasal dari Suriah telah terlebih dahulu memiliki fasilitas dan sarana yang cukup memadai di dua negara ini.
  7. Sejauh penilaian saya, Abu Mush’ab termasuk orang yang paling sensitif sentimennya terhadap urusan darah, kehormatan, dan berita tentang kaum muslimin.

Inilah sekilas tentang sejarah Abu Mush’ab sebelum kejadian sejarah 11 September.

 

Bersambung, insya Allah…

 

Dipublikasikan oleh:

Al-Jabhah al-‘Alamiyah lil-I’lam al-Jihadi

Bagian publikasi dan penyebaran:

Abu Mihjan Asy-Syarqi

Dikirim pada 30/5/1426 H, melalui situs: www.hanein.net


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: