Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » T A T S W I B

T A T S W I B


T A T S W I B

(Ash Shalatu Khairun Minan Naum)[1]

Masalah yang masih saja ada yang mempertentangkannya adalah masalah tatswib di dalam adzan shalat Shubuh, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa tatswib itu adalah bid’ah dan yang benar adalah hanya dilafalkan pada adzan di malam hari waktu sahur, dan orang ini berhujjah dengan hujjah yang sebenarnya menunjukan kedangkalan di dalam beristibath dan hanya terfokus pada satu lafadz hadits tanpa menafsirkannya dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi, padahal kalau orang beristinbath tanpa mengembalikan bahasa dan istilah-istilah syari’at kepada pembawa syari’at, maka yang terjadi adalah kerancuan dan kejanggalan hasil dari ijtihadnya itu.

Oleh sebab itu mari kita bahas masalah ini dengan suasan tenang dan mengembalikan istilah syari’at kepada pembawa syari’at.

 

Bilal Ibnu Rabaah radliyallahu ‘anhu berkata:

أَمَرَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لاَ أُثَوِّبَ إِلاَّ فِي الْفَجْرِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan saya agar tidak melakukan tatswib kecuali pada (adzan) shalat Fajar (shubuh). (HR Ahmad dan yang lainnya, Syaikh Ibnu Baz mengatakan hadits ini tsabit)[2]

Di dalam hadits ini jelas sekali bahwa tatswib hanya pada adzan shalat shubuh, bukan pada adzan shalat lain dan bukan pula pada adzan malam hari, karena adzan malam hari tidak dinamakan adzan shubuh.

Anas Ibnu Malik radliyallahu ‘anhu berkata:

مِنَ  السُّنَّةِ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْفَجْرِ : حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَالَ : اَلصَّلاَة ُخَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Termasuk sunnah bila muadzdzin telah mengatakan haay ‘alal falah pada (adzan) fajar (shubuh) dia mengatakan: Ash Shalatu Khairun Minan Naum,” (Hadits Shahih riwayat Ibnu Khuzaimah, Al Ya’mariy berkata : Isnadnya shahih).

Di dalam hadits ini sangat jelas sekali bahwa mengucapkan Ash Shalatu Khairun Minan Naum pada adzan shubuh setelah haay ‘alal falah adalah hal yang sunnah, dan yang dimaksud adzan fajar adalah adzan shubuh yang pada waktunya bukan yang dimalam hari, karena yang di waktu sahur tidak disebut adzan shubuh, namun disebut adzan malam, sebagaimana perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا

Sesungguhnya Bilal adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian. (QS. Al Bukhari dan Muslim)

Imam An Nawawiy berkata: Para ulama berkata: Sesungguhnya Bilal melakukan adzan sebelum fajar dan setelah selesai adzannya beliau berdiam untuk berdoa dan yang lainnya, kemudian menjaga mengawasi terbitnya fajar, terus bila sudah hampir tiba fajar beliau turun kemudian memberitahu Ibnu Ummi Maktum, maka Ibnu Ummi Maktum langsung bersuci dan yang lainnya, terus naik dan memulailah adzan di saat fajar tiba.[3]

Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata :

كَانَ اْلأَذَانُ بَعْدَ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ اَلصَّلاَة ُخَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ مَرَّتَيْنِ

Adalah adzan (shubuh) setelah hayya’ alal falah Ash Shalatu Khairun Minan Naum. (HR. Ath Thabrani dan Al Baihaqiy dengan sanad hasan, Al Ya’mariy berkata: Ini isnad yang shahih)

Juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Abu Mahdzurah radliyallahu ‘anhu lafadz-lafadz adzan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

فَإِنْ كَانَ صَلاَة ُالصُّبْحِ قُلْتَ : اَلصَّلاَة ُخَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ  اَلصَّلاَة ُخَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ ….

Maka bila pada shalat Shubuh engkau ucapkan Ash Shalatu Khairun Minan Naum Ash Shalatu Khairun Minan Naum(Shahih Abu Dawud)

Ini juga sangat jelas menjelaskan bahwa tatswib itu dilakukan di saat adzan shubuh, bukan adzan yang di saat sahur sebagaimana yang diklaim sebagian orang. Adapun berdalil dengan tambahan dari Abu Mahdzurah radliyallahu ‘anhu dalam Sunan Abu Dawud:

اَلصَّلاَة ُخَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ  اَلصَّلاَة ُخَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ فِي اْلأُوْلَى مِنَ الصُّبْحِ

Ash Shalatu Khairun Minan Naum Ash Shalatu Khairun Minan Naum pada adzan pertama dari shalat shubuh(Shahih Abu Dawud)

Atas pernyataan bahwa tatswib itu dilakukan pada adzan di waktu sahur atau yang mereka sebut dengan adzan awal, dan sebenarnya penamaan adzan awal bagi adzan di waktu sahur itu adalah tidak ada dasarnya. Dan adapun hadits ini maksudnya adalah adzan di saat waktu shalat shubuh tiba, karena adzan itu dinamakan adzan pertama bila dikaitkan dengan iqamah, jadi adzan itu adzan pertama, dan iqamah adalah adzan kedua, dan kedua-duanya disebut adzan.[4] Anda jangan heran ini adalah nama syari’iy bukan dibuat-buat, inilah bukti penamaan itu :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ

Di antara dua adzan itu ada shalat (sunnah). (QS. Al Bukhari dan Muslim).

Maksud hadits ini adalah antara adzan dan iqamah ada shalat sunnah.[5]

Di dalam Shahih Al Bukhari dijelaskan bahwa Amirul Mu’minin Usman Ibnu Affan radliyallahu ‘anhu menambah adzan yang ketiga pada shalat jum’at,[6] ini menunjukan bahwa Iqamah itu disebut adzan, karena kita telah mengetahu bahwa di shalat Jum’at pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya ada adzan dan iqamah, namun demikian iqamah itu disebut dengan adzan pula. Maka maksud adzan pertama pada shalat shubuh yang terdapat pada hadits Abu Mahdzurah radliyallahu ‘anhu adalah adzan di saat waktu shalat shubuh sudah tiba, bukan adzan di malam hari, dan itulah juga adzan pertama yang dimana Bilal diperintahkan untuk mengucapkan.[7]

Al Imam Asy Syaukaniy rahimahullah berkata: Tatswib adalah tambahan yang tsabit (shahih), maka mengambilnya adalah wajib.[8]

Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin semoga Allah memaafkannya berkata: Sebagian orang pada zaman sekarang ini menduga bahwa yang dimaksud dengan adzan yang diucapkan di dalamnya dua kalimat ini (Ash Shalatu Khairun Minan Naum) adalah adzan yang dikumandangkan sebelum fajar (shubuh), dan syubhat mereka dalam hal ini adalah: Bahwa telah datang di dalam sebagian riwayat hadits ungkapan, ”Bila engkau adzan pertama untuk shalat Shubuh,maka ucapkanlah: Ash Shalatu Khairun Minan Naum,”[9] maka mereka mengklaim: Bahwa tatswib itu dilakukan pada adzan akhir malam, dan mereka mengatakan: Sesungguhnya tatswib pada adzan yang setelah masuk fajar adalah bid’ah. Maka kami katakan: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Bila engkau adzan pertama untuk shalat Shubuh,” beliau mengatakan: ”untuk shalat Shubuh”, dan sudah maklum bahwa adzan yang dilakukan di akhir malam itu bukan untuk shalat shubuh, namun adzan itu hanyalah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Untuk membangunkan orang yang tidur dan supaya orang yang beribadah kembali (untuk istirahat atau sahur)[10]. Adapun shalat shubuh maka adzannya harus dilakukan setelah terbit fajar, dan bila dilakukan adzan shubuh sebelum terbit fajar, maka adzan itu tidak dianggap (mulgha), dengan dalil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذَا حَضَرَتِ الصَّلاَة ُفَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ

Bila telah hadir (waktu) shalat, maka hendaklah mengumandangkan adzan bagi kalian seseorang di antara kalian.[11]

Dan sudah maklum bahwa shalat itu tidak hadir kecuali setelah masuk waktunya. Maka masalah yang tertinggal adalah dalam perkataannya, ”Bila engkau adzan pertama”, Kami katakan: Tidak ada kesulitan padanya, karena adzan menurut bahasa adalah pemberitahuan, dan iqamah juga adalah pemberitahuan, oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ

Di antara dua adzan itu ada shalat (sunnah). (Al Bukhari dan Muslim).

Dan yang dimaksud dengan dua adzan itu adalah adzan dan iqamah. Dan di dalam shahih Al Bukhari, berkata: Usman menambah adzan yang ketiga dalam shalat jum’at,”[12] dan sudah pada maklum bahwa di dalam jum’at itu ada dua adzan dan satu iqamah, dan dia menamainya (adzan yang Usman adakan) dengan adzan ketiga, nah dengan ini hilanglah kesulitan (di dalam memahami hadits itu), maka terbuktilah tatswib itu pada adzan untuk shalat Shubuh.

Mereka (orang-orang yang mengklaim bahwa tatswib itu bid’ah) berkata lagi: Sesungguhnya di dalam hadits, ”Ash Shalatu Khairun Minan Naum,” Yang artinya: Shalat itu lebih baik daripada tidur,” maka ini menunjukan bahwa yang di maksud adalah pada adzan pertama (maksud mereka adzan akhir malam, pent) berdasarkan perkataannya, ”Shalat itu lebih baik daripada tidur,” yaitu maksudnya adalah shalat tahajjud dan bukan shalat fardlu, karena tidak ada perbandingan antara shalat fardlu dengan tidur, dan khairiyyah (perbandingan sifat lebih baik) itu hanya dipakai di dalam bab targhib. Dan mereka berkata lagi: Ini menguatkan juga bahwa yang dimaksud dengan adzan adalah adzan akhir malam.

Kita katakan kepada mereka: Ini juga disandarkan pada kesalahan yang pertama, karena sesungguhnya khairiyyah (perbandingan sifat lebih baik) itu terkadang dikatakan dalam kewajiban-kewajiban yang paling wajib sebagaimana firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ  ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.[13]

Allah ta’ala menyebutkan iman dan jihad, bahwa hal itu lebih baik bagi kalian daripada perniagaan kalian yang melalaikan  kalian, sedangkan khairiyyah di sini adalah antara hal yang wajib dan yang lainnya. Allah ta’ala juga berfirman tentang shalat Jum’at:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعُوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.[14]

Maksudnya: (Shalat Jum’at) itu lebih baik bagi kalian daripada jual beli, padahal sudah dimaklumi bahwa menghadiri shalat Jum’at adalah wajib, namun demikian Allah ta’ala (tetap) mengatakan, ”Yang demikian itu lebih baik bagi kamu,” Maka ini menunjukan bahwa syubhat mereka yang kedua itu bukan hujjah, namun hanya sekedar syubhat, dan (dengan penjelasan ini jelaslah) bahwa tatswib itu pada adzan shubuh, dan bila ada yang melakukan tatswib pada adzan yang sebelum shubuh untuk tujuan (memanggil)shalat shubuh, maka kita katakan : Ini tidak disyari’atkan.[15]

Syaikh Abdul Aziz Ibnu Abdillah Ibnu Baz semoga Allah memaafkannya mengatakan: Telah tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan Bilal radliyallahu ‘anhu dan Abu Mahdzurah radliyallahu ‘anhu untuk melakukan itu (tatswib) pada adzan fajar (shubuh), dan tsabit dari Anas radliyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata:

مِنَ  السُّنَّةِ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْفَجْرِ : حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَالَ : اَلصَّلاَة ُخَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Termasuk sunnah bila muadzdzin telah mengatakan haay ‘alal falah pada (adzan) fajar (shubuh) dia mengatakan : Ash Shalatu Khairun Minan Naum,”  (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya)

Dan kalimat ini diucapkan pada adzan yang dikumandangkan di saat terbit fajar menurut pendapat yang paling benar dari dua pendapat ulama, dan dinamakan adzan awal (pertama) bila dihubungkan dengan iqamah, karena iqamah adalah adzan yang kedua, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ

Di antara dua adzan itu ada shalat (sunnah).[16]

Dan telah ada di dalam shahih Al Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha apa yang menunjukan akan hal itu.[17]

Syaikh Abdullah Ibnu Abdirrahman Al Jibrin rahimahullah berkata: Kalimat ini (maksudnya tatswib) diucapkan pada adzan fajar (shubuh), yaitu adzan yang dikumandangkan setelah terbit fajar untuk melakukan shalat fardlu. Dan adapun hadits-hadits yang menyebutkan bahwa tatswib itu pada adzan awal/pertama adalah hadits-hadits shahih, namun yang dimaksud dengan adzan awal adalah adzan yang dikumandangkan di mi’dzanah (tempat adzan) di saat awal waktu (shalat), dan yang dimaksud dengan adzan kedua adalah iqamah, karena iqamah itu dinamai adzan pula sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ

Di antara dua adzan itu ada shalat (sunnah).

Yaitu maksudnya antara adzan dan iqamah. Dan adapun adzan yang dikumandangkan di akhir malam, maka sesuai pendapat yang paling rajih (paling kuat) adalah khusus dilakukan pada bulan Ramadlan, berdasarkan hadits:

لاَ يَرُدُّكُمْ عَنْ سَحُوْرِكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ لِيُوْقِظَ نَائِمَكُمْ وَ يَرْجِعَ قَائِمُكُمْ

Janganlah adzan Bilal menghalangi kalian dari sahur kalian, karena dia adzan untuk membangunkan yang masih tidur dan agar yang shalat malam kembali (istirahat untuk siap-siap shalat shubuh atau sahur).[18]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa adzan itu untuk membangunkan orang yang masih tidur agar bersahur dan orang yang sedang shalat (malam) agar kembali, sehingga dia mengetahui dekatnya waktu sahur kemudian dia menyelesaikan shalatnya, maka tidak ada kebutuhan di dalam keadaan ini untuk menyebutkan Ashalatu Khairun Minan Naum.[19]

Di dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah[20]: Sesungguhnya telah Tsabit bahwa Muadzdzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah Ash Shalatu Khairun Minan Naum dua kali pada adzan Shubuh setelah hai’alah (hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah), dan para imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafiiy dan Ahmad) sepakat atas disyari’atkannya hal itu, karena iqrar (pengakuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kalimat ini dari Bilal menunjukan disyari’atkannya melakukan hal itu.[21]

Masih Fatwa Al Lajnah Ad Daimah: Ya, seyogyanya memakai tatswib di dalam adzan awal untuk shalat fajar (shubuh) sebagai perealisasian perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jelas sekali dari hadits itu bahwa adzan (awal) itu adalah adzan yang dikumandangkan di saat terbit fajar shadiq, dan dinamakan adzan pertama bila dihubungkan dengan iqamah, karena iqamah adalah adzan pula sesuai (nama) syari’at, sebagaimana di dalam hadits, ”Di antara dua adzan itu ada shalat (sunnah),” dan bukanlah yang dimaksud dengan adzan awal itu adzan yang dikumandangkan sebelum terbit fajar shadiq, karena sesungguhnya adzan ini (yang dikumandangkan sebelum terbit fajar shadiq) disyari’atkan di malam hari agar orang yang masih tidur menjadi bangun dan orang yang sedang shalat kembali, dan adzan ini bukan untuk memberitahukan tibanya fajar. Dan siapa saja yang men-tadabburi hadits-hadits tatswib, maka ia tidak akan memahami darinya kecuali bahwa tatswib itu dilakukan pada adzan pemberitahuan masuknya waktu shalat fajar (shubuh) bukan adzan yang dilakukan di malam hari sebelum fajar.[22]

Adapun pengingkaran yang dinisbatkan kepada Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu itu adalah pengingkaran tatswib yang dilakukan pada (adzan) shalat Dhuhur.[23]

Ini adalah sekilas penjelasan tentang masalah tatswib di adzan Shubuh. Jelaslah dari penjelasan para ulama ini bahwa sekedar mengetahui hadits saja belum cukup dalam beristinbath, tapi harus disertai pemahaman yang tajam dan menafsirkan hadits dengan hadits yang lainnya serta mengembalikan istilah-istilah syari’at kepada makna syari’at pula bukan mengembalikannya kepada istilah yang ada di dalam benak kita. Wallahu ‘Alam.

(Abu Sulaiman Aman Abdurrahman)


[1] Tulisan ini adalah di antara sekian tulisan saya saat saya dahulu masih berada di barisan salafi maz’um, tapi karena isinya bermanfaat maka saya izinkan untuk disebarkan sekarang, walaupun ada nukilan dari sebagian syaikh yang saya anggap menyimpang dalam permasalahan sikap terhadap pemerintah murtad dan permasalahan manhaj lainnya, namun para ulama rujukan Tuhid dan Jihad tidak mengkafirkan mereka itu, dan mereka juga kadang mengambil ucapan para syaikh itu dalam permasalahan fiqh, dan di sinipun saya tetap mencantumkan fatwa-fatwa mereka. Saya katakan hal ini agar para ikhwan tauhid tidak bingung.

[2] Lihat Majmu Fatawa beliau: 2/170.

[3] Syarah Shahih Muslim

[4] Majmu Fatawa Ibni Baz 2/170.

[5] Majmu Fatawa Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin 12/176-177.

[6] Al Bukhari  Kitabul Jum’ah Bab Al Adzan Yaumal Jum’ah no: 912-916.

[7] Majmu Fatawa Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin 12/176-177.

[8] Nailul Authar 1/454.

[9] Shahih riwayat Imam Ahmad 3/408-409, Abu Dawud bab kaifal adzan (501), An Nasai 2/7. dan yang lainnya

[10] Al Bukhari Kitabul Adzan bab Al Adzan Qablal Fajri ( 621) dan Muslim No: 1093.

[11] Al Bukhari no : 630, dan Muslim no: 1533.

[12] Al Bukhari no: 913 dari Saib Ibnu Yazid

[13] Ash Shaff: 10-11.

[14] Al Jumu’ah: 9.

[15] Asy Syarhul Mumti’ Ibnu Utsaimin 2/56-58.

[16] Al Bukhari dan Muslim.

[17] Majmu Fatawa Ibni Baz 2/170

[18] Al Bukhari dan Muslim.

[19] Fatawa Islamiyyah 1/252-2523.

[20] Ditandatangani oleh Abdullah Ibnu Manii’, Abdullah Ibnu Ghudayyan dan Abdurrazzaq ‘Afifiy

[21] Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 6/95.

[22] Ibid 6/61. ditandatangani oleh Ibnu Bazz, Abdullah Ibnu Qu’ud, Abdullah Ibnu Ghudayyan dan Abdurrazzaq ‘Afifiy

[23] Nailul Authar 1/454.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: