Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » FIQIH » Menikah Dengan Orang Kafir

Menikah Dengan Orang Kafir


Menikah Dengan Orang Kafir[1]

Di antara masalah yang membuat hati kaum muslimin yang konsisten dengan ajarannya miris adalah banyaknya orang yang menikah dengan pasangan yang berbeda aqidah tanpa mengindahkan larangan dan aturan agama. Oleh sebab itu sebagai tanggung jawab ilmu dan untuk menegakan hujjah kita sangat perlu membahas masalah ini dengan merujuk kepada Firman Allah ta’ala dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penjelasan dari para ulama.

 

1.   Muslimah menikah dengan laki-laki kafir.

Tidak ada seorang pun dari ulama kaum muslimin yang membolehkan wanita muslimah menikah dengan laki-laki kafir, bahkan semua telah ber-ijma akan haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki kafir, baik laki-laki itu dari kalangan musyrikin (Budha, Hindu, Majusi, Shinto, Konghucu, Penyembah kuburan dan lain-lain) ataupun dari kalangan orang-orang murtad dan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani),[2] ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوْهُنَّ اللهُ أَعْلَمُ بِإِيْمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوْهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهٌمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.[3]

Di dalam ayat ini sangat jelas sekali Allah ta’ala menjelaskan bahwa wanita muslimah itu tidak halal bagi orang kafir. Dan di antara hikmah pengharaman ini adalah bahwa Islam itu ada di atas dan tidak boleh ada sesuatu yang ada di atasnya,[4] Dan juga sesungguhnya laki-laki itu memilki haq qawamah (pengendalian) atas isterinya dan si isteri itu wajib mentaatinya di dalam perintah yang ma’ruf, dan ini berarti mengandung makna perwalian dan kekuasaan atasnya, sedangkan Allah ta’ala tidak menjadikan kekuasaan bagi orang kafir terhadap orang muslim atau muslimah,[5] Allah ta’ala berfirman:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلاً

Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir atas orang-orang mu’min.[6]

Kemudian suami yang kafir itu tidak mengakui akan agama si wanita muslimah, bahkan dia itu mendustakan Kitabnya, mengingkari Rasulnya dan tidak mungkin rumah tangga bisa damai dan kehidupan bisa terus berlangsung bila disertai perbedaan yang sangat mendasar ini.[7]

Dan di antara dalil yang mengharamkan pernikahan ini adalah firman-Nya ta’ala:               

وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتَّى يُؤْمِنُوْا

Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.[8]

Di dalam ayat ini Allah ta’ala melarang para wali (ayah, kakek, saudara, paman dan orang-orang yang memiliki hak perwalian atas wanita) dari menikahkan wanita yang menjadi tanggung jawabnya kepada orang musyrik, dan yang dimaksud musyrik di sini adalah semua orang yang tidak beragama Islam, mencakup penyembah berhala, Majusi, Yahudi, Nashrani dan orang yang murtad dari Islam.[9]

Ibnu Katsir Asy Syafi’iy rahimahullah berkata: Janganlah menikahkan wanita-wanita muslimat kepada orang-orang musyrik.[10]

Al Imam Al Qurthubiy rahimahullah berkata: Janganlah menikahkan wanita muslimah kepada orang musyrik. Dan Umat ini telah berijma bahwa laki-laki musyrik itu tidak boleh menggauli wanita mu’minah bagaimanapun bentuknya, karena dalam perbuatan itu adalah penghinaan terhadap Islam.[11]

Ibnu Abdil Barr rahimahullah: (Ulama ijma) bahwa muslimah tidak halal menjadi isteri orang kafir.[12]

Jelaslah bahwa pernikahan antara muslimah dengan laki-laki non muslim itu adalah haram, tidak sah, bathil.

2.   Pernikahan laki-laki muslim dengan wanita kafir.

Sebagaimana wanita muslimah haram dinikahi oleh laki-laki kafir, begitu juga laki-laki muslim haram menikah dengan wanita kafir, berdasarkan Firman Allah ta’ala:

وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.[13]

Ayat ini secara umum menerangkan keharaman laki-laki muslim menikah dengan wanita musyrik (kafir), meskipun ada ayat yang mengecualikan darinya wanita Ahlul Kitab yang akan kita bahas nanti. Tidak boleh seorang muslim menikah dengan wanita Budha, Hindu, Konghucu, Shinto, wanita yang murtad dari Islam. Dan bila seorang laki-laki kafir masuk Islam sedangkan isterinya tidak atau bila si isteri laki-laki muslim murtad dari Islam[14] maka dia harus melepaskannya, berdasarakan firman Allah ta’ala:

وَلاَ تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.[15]

Namun dari keharaman menikahi wanita kafir ini dikecualikan wanita dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani), ini adalah pendapat Jumhur Ulama,[16] ini berdasarkan Firman Allah ta’ala:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ  الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Dan (dihalalkan bagi kalian menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kalian.[17]

Namun demikian para ulama menganggap makruh[18] pernikahan muslim dengan wanita Ahlul Kitab. Umar Ibnu Al Khaththab radliyallahu ‘anhu pernah memerintahkan Hudzaifah agar melepas isterinya yang beragama Yahudi, beliau berkata: “Saya tidak mengklaim itu haram, namun saya khawatir kalian mendapatkan wanita-wanita pezina dari mereka.”[19] [20]

Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berpendapat akan haramnya menikahi wanita Ahlul Kitab, beliau berkata bila ditanya tentang laki-laki muslim menikahi wanita Yahudi atau Nashrani: Allah ta’ala mengharamkan menikahi wanita-wanita musyrik atas kaum muslimin, dan saya tidak mengetahui sesuatu dari syirik yang lebih dahsyat dari perkataan wanita: Bahwa Tuhannya adalah Isa, atau hamba dari hamba Allah ta’ala”[21].

Namun sebenarnya ada perbedaan antara syirik orang-orang musyrik dengan syirik Ahlu Kitab, yaitu kemusyrikan di dalam keyakinan orang musyrik adalah asli (pokok) ajaran mereka, sedangkan syirik pada Ahlul Kitab adalah bid’ah di dalam agama mereka, ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul  Islam Taimiyyah rahimahullah.[22]

Dan perlu diingat bahwa Allah ta’ala hanya membolehkan menikahi wanita Ahlul Kitab bila wanita itu wanita yang selalu menjaga kehormatannya, ”wanita-wanita yang menjaga kehormatan”.

Selain mereka Allah ta’ala mengharamkannya.

Masalah-masalah penting.

1.  Suami isteri yang sama-sama kafir terus masuk Islam secara bersama-sama dalam waktu yang sama.

Bila ada suami isteri yang masuk Islam secara bersama-sama dalam waktu yang sama, maka mereka tetap di atas pernikahannnya yang lalu, kecuali bila bila pernikahan yang lalu itu haram di dalam agama mereka yang lalu. Hal ini berdasarkan ijma ulama.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata: Ulama sudah ijma bahwa bila suami isteri masuk Islam secara bersama-sama dalam satu waktu, maka keduanya tetap pada pernikahannya, kecuali bila di antara keduanya ada hubungan nasab atau susuan yang mengharuskan pengharaman. Dan sesungguhnya laki-laki yang menikahi wanita dimana keduanya di dalam keadaan syirik, maka bila keduanya masuk Islam bersama-sama, keduanya tetap dalam pernikahan itu, sedangkan asal akadnya dimaafkan, karena pada umumnya sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulunya adalah orang-orang kafir, terus mereka masuk Islam setelah menikah dan mereka diakui di atas pernikahan dahulu, dan tidak dianggap syarat-syarat Islam pada asal pernikahan mereka, ini adalah ijma dan tauqif, namun yang menjadi pertentangan para ulama adalah bila keislaman salah satu suami isteri itu mendahului keislaman yang lainnya.[23]

2.  Bila salah satunya yang masuk Islam.

Masalah ini ada beberapa gambaran :

Pertama: Seorang laki-laki memiliki isteri dari kalangan wanita ahlu kitab, kemudian si laki-laki itu masuk Islam dan si wanitanya tidak, maka keduanya tetap pada pernikahannya, karena muslim dari awal boleh menikahi wanita ahlu kitab, dan berarti melanjutkannya di atas pernikahannya dengan dia lebih utama bolehnya.[24]

Kedua: Suami isteri, kedua-duanya kafir (namun bukan dari kalangan ahlu kitab) terus salah satunya masuk Islam, maka pernikahannya batal. Dan bila yang satu lagi masuk Islam sebelum selesai masa ‘iddah, maka keduanya boleh bersatu lagi tanpa akad baru. Namun bila yang satu lagi itu masuk Islamnya setelah selesai masa ‘iddah, maka menurut jumhur ulama keduanya boleh kembali dengan akad nikah baru.[25]

Ketiga: Bila wanita kafir bersuamikan laki-laki kafir (kedua-duanya bukan ahlu kitab), terus si wanita itu masuk Islam sebelum terjadinya hubungan badan, maka pernikahan itu batal, berdasarkan firman Allah ta’ala:

فَلاَ تَرْجِعُوْهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهٌمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ

“Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.[26]

Dan wanita itu tidak mendapatkan mahar sedikitpun, karena penyebab perpisahan adalah dari pihaknya.[27] Juga bila ternyata yang masuk Islam dalam masalah ini adalah si laki-laki, maka pernikahan itu batal pula, berdasarka firman-Nya ta’ala:

وَلاَ تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.[28]

Dan si wanita mendapatkan separuh mahar, karena penyebab perpisahan adalah dari pihak suami[29]. Dan dalam dua keadaan seperti ini wanita tidak ber-’iddah, sehingga bila yang satu lagi masuk Islam terus mereka hendak kembali, maka harus mengulangi akad nikah lagi secara muthlaq.

Keempat: Bila salah satu dari suami isteri murtad (keluar dari Islam), baik masuk agama Yahudi atau Nashrani (karena masuknya ke agama ini setelah dia berada di dalam agama Islam tidak diakui oleh Islam) atau masuk agama lainnya atau tidak masuk agama mana-mana, atau meninggalkan shalat (karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafir), maka keduanya harus dipisahkan, pernikahannya lepas, bila dia taubat (masuk Islam kembali) sebelum masa ‘iddah selesai, maka dia boleh kembali ke pasangannya tanpa akad nikah lagi. Namun bila dia taubat setelah selesai masa ‘iddah, maka pasangannya itu sudah lepas, kecuali bila keduanya melakukan akad nikah lagi, dan demikian pula bila murtadnya sebelum melakukan hubungan badan.[30]

Syaikh Abdul Aziz Ibnu Bazsemoga Allah memaafkannya- berkata: Bila dia (laki-laki) menikahi wanita muslimah sedangkan dia (laki-laki itu) tidak shalat, maka nikahnya itu tidak sah, namun bila wali menikahkannya dengan keyakinan akan sahnya nikah itu atau karena tidak mengetahui keadaan laki-laki itu, maka anak-anaknya itu dinasabkan kepadanya (laki-laki itu). Dan anak-anak itu dianggap sebagai anak syar’iy karena ada faktor syubhat. Dan kewajiban laki-laki  itu bila dia bertaubat kepada Allah ta’ala dan Allah ta’ala memberinya hidayah agar dia memperbaharui pernikahannya kembali (maksudnya mengulangi akad nikahnya lagi) dengan wanita muslimah itu. Dan adapun bila ternyata bila dia tidak taubat (dari meninggalkan shalatnya), maka keduanya wajib dipisahkan, karena laki-laki itu tidak sepadan dengan wanita itu, Allah ta’ala telah berfirman tentang pernikahan laki-laki kafir dengan muslimah:

لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهٌمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ

“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.[31]

Dan firman-Nya ta’ala:

وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتَّى يُؤْمِنُوْا

“Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.[32]

Maksudnya: Jangan nikahkan mereka (orang-orang musyrik) sampai mereka beriman.[33]

Berkata juga ketika menanggapi pertanyaan laki-laki yang tidak shalat menikahi seorang wanita: Bila isterimu itu seperti kamu di saat akad nikah tidak shalat, maka akad nikahnya shahih[34], adapun bila dia (isterimu) itu shalat, maka wajib memperbaharui akad nikahnya, karena wanita muslimah tidak boleh dinikahkan kepada orang kafir, berdasarkan firman-Nya ta’ala:

وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتَّى يُؤْمِنُوْا

Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.[35]

Maksudnya janganlah kalian (para wali) menikahkan wanita-wanita muslimat kepada orang kafir sampai mereka masuk Islam, dan berdasarkan firman-Nya ta’ala:

فَلاَ تَرْجِعُوْهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهٌمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ

“Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.[36] [37]

Ini adalah sekelumit masalah tentang pernikahan lintas agama, hendaklah anda skalian sadar akan kekeliruan dan segera memperbaharui dan memperbaiki apa yang rusak pada diri anda. Dan kami tujukan kepada orang yang terjerumus ke dalamnya karena faktor dunia, ingatlah hidup kita di dunia ini tidak lama, jangan korbankan agama demi meraih dunia yang penuh dengan kekeruhan ini. Wallahu ‘Alam.

(Abu Sulaiman Aman Abdurrahman)


[1] Tulisan ini adalah di antara sekian tulisan saya saat saya dahulu masih berada di barisan salafi maz’um, tapi karena isinya bermanfaat maka saya izinkan untuk disebarkan sekarang, walaupun ada nukilan dari sebagian syaikh yang saya anggap menyimpang dalam permasalahan sikap terhadap pemerintah murtad dan permasalahan manhaj lainnya, namun para ulama rujukan Tuhid dan Jihad tidak mengkafirkan mereka itu, dan mereka juga kadang mengambil ucapan para syaikh itu dalam permasalahan fiqh, dan di sinipun saya tetap mencantumkan fatwa-fatwa mereka. Saya katakan hal ini agar para ikhwan tauhid tidak bingung.

[2] Fiqhu Sunnah: 2/181, Rawai’ul Bayan 1/289.

[3] Al Mumtahanah: 10.

[4] Rawai’ul Bayan 1/289.

[5] Fiqhu Sunnah: 2/181

[6] An Nisaa: 141.

[7] Fiqhu Sunnah: 2/181

[8] Al Baqarah : 221.

[9] Rawai’ul Bayan 1/289.

[10] Tafsir Al Quranil Adhim 1/348.

[11] Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 3/67, lihat pula Fathul Qadir Karya Asy Syaukani 1/284, Fathul Bayan Fi Maqaslidil Qur’an karya Shiddiq Hasan Khan 1/446.

[12] Al Ijma Karya Ibnu Abdil Barr : 250.

[13] Al Baqarah : 221.

[14] Sama saja di sini baik wanita itu murtad masuk agama Ahlu Kitab (Yahudi dan Nashrani)  atau agama lainnya atau tidak masuk agama mana-mana atau dia itu tidak shalat, tetap pernikahannya lepas, karena Islam tidak mengakui status dia saat masuk agama barunya, berbeda kalau memang dia dari awalnya termasuk Ahlul Kitab, dan ini ada hukumnya yang lain…lihat pembahasan selanjutnya.

[15] Al Mumtahanah : 10.

[16] Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/272, Fiqhus Sunnah 2/179, Tafsir Ibni Katsir 1/347, Al Jami Li Ahkamil Qur’an 3/63-65, Asy Syarhul Kabir Karya Ar Rafiiy  8/67-73, Rawai’ul Bayan 1/287.

[17] Al Maidah : 5.

[18] Ini dikarenakan kekhawatiran akan pengaruh isteri terhadap suaminya juga akan anak-anaknya.

[19] Isnadnya shahih, lihat Tafsir Ibni Katsir 1/347.

[20] Dan memang untuk zaman sekarang sangat sulit mencari wanita yang mampu menjaga kehormatan dari kalangan Yahudi dan Nashrani.

[21] Tafsir Ibnu Katsir ibid, Al Jami Li Ahkamil Qur’an ibid, Rawai’ul Bayan ibid.

[22] Al Fatawa Al Kubraa 3/116-117.

[23] Al Ijma Karya Ibnu Abdil Barr : 250.

[24] Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/281.

[25] Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/281

[26] Al Mumtahanah: 10.

[27] Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/281

[28] Al Mumtahanah: 10.

[29] Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/281

[30] Al Mulahkhash Al Fiqhiy 2/453, catatan kakinya.

[31] Al Mumtahanah: 10.

[32] Al Baqarah: 221.

[33] Majmu Fatawa Ibni Baz 4/152.

[34] Karena orang kafir dengan orang kafir nikahnya sah.

[35] Al Baqarah: 221.

[36] Al Mumtahanah : 10.

[37] Fatawa islamiyyah 3/242.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: