Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » FIQIH » Masalah Penting Di Masyarakat

Masalah Penting Di Masyarakat


Kenduri Kematian Dan Nishfu Sya’ban

Perlu saya jelaskan bahwa Islam dengan segala ajarannya telah sempurna, tak memerlukan tambahan, dan tolak ukur diterimanya amalan seorang hamba setelah dia bertauhid adalah ada dua:
Ikhlas, amalan yang dilakukan dengan tidak ikhlas tidak akan diterima oleh Allah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا ًصَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya (QS. Al-Kahfi: 110)

Mutaba’ah (mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) beliau bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat yang baru dalam masalah agama kami ini padahal hal itu bukan bagian darinya maka dia itu ditolak (HR. Al Bukhari Muslim)

Dalam riwayat Muslim:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (dalam agama ini) yang (padahal) tidak ada perintah dari kami maka dia itu ditolak.

Ditolak dalam artian tidak diterima dan dosa meskipun dilakukan dengan khusyu’ dan ikhlas. Dan tambahan dalam agama ini disebut bid’ah, baik itu berupa shalat, puasa, perayaan atau ibadah lainnya dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ

“Dan semua Bid’ah itu adalah sesat (Hadits shahih riwayat At Tirmidzi)

Bid’ah itu tetap sesat meskipun dilakukan kebanyakan orang
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ

“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya (QS. Yusuf: 103)

Orang yang mengamalkan bid’ah diancam Allah ta’ala, apalagi orang yang mengajak, menyebarkan atau membuat bid’ah itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosanya (HR. Muslim)

Kita hendaknya jangan terpukau dengan bid’ah karena banyak pengikutnya. Suatu bid’ah tidak mungkin menjadi sunnah karena banyak pelakunya. Sekali bukan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bukan syari’atnya apa pun istilahnya.

Seorang tabi’in memberi perumpamaan sunnah dengan bid’ah, beliau mengambil dua buah batu kemudian beliau merapatkannya seraya berkata: “Apakah kalian melihat cahaya dari celah kedua batu ini? Mereka menjawab: ya, kecil sekali hampir tak terlihat. Beliau berkata: “itulah sunnah di antara kegelapan bid’ah.”

Itu dikatakan di masa awal islam apalagi sekarang, di masa ini orang telah menganggap hal-hal yang bid’ah sebagai sunnah dan sebaliknya sunnah dianggap ajaran baru. Dan jika ada orang yang memerangi bid’ah mereka katakan bukan Ahlussunnah. Jika ada bid’ah timbul berarti ada sunnah yang dimatikan. Yang dimaksud sunnah di atas bukan lawannya makruh tapi syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum.

Di antara bid’ah-bid’ah yang memasyarakat adalah:
Acara kenduri kematian

Di antara warisan nenek moyang yang masih dilakukan oleh sebagian umat islam Indonesia adalah acara kenduri kematian di hari pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, keempat puluh, keseratus, temu tahun (haul), keseribu dan seterusnya. Mereka melakukan hal itu dengan dihiasi bacaan-bacaan Al-Qur’an, dzikir dan lain-lain. Dan ini semua adalah bid’ah dhalalah yang sedikit pun bukan ajaran Islam. Ini terserah mau dilakukan oleh orang awam, para kiayi, para ustadz atau didukung oleh para penguasa… semua yang bukan bagian dari ajaran Islam di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya radliyallahu ‘anhum tidak mungkin menjadi ajaran Islam di masa sesudahnya. Hal di atas menjadi kuat dikarenakan dilegalisir dan disponsori oleh orang-orang yang mengaku mempunyai ilmu agama.

Dengan dicelup baju Islam acara itu mempunyai akar yang kuat di hati orang-orang awam, mereka menganggap hal itu merupakan syari’at Islam sehingga mereka selalu melaksanakannya, dan dikarenakan lengketnya acara-acara itu dilingkungan umat Islam maka orang-orang non Islam menganggapnya sebagai ajaran Islam. Siapakah yang paling berdosa? Mereka adalah para kiyai dan ustadz yang mendukungnya.

Saya mau bertanya kepada pembaca: Apakah anda lebih sayang kepada umat ini atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah anda lebih tahu dan lebih baik daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suka melakukan hal-hal itu? Demi Allah, beliau tidak pernah melakukan atau mengerjakan hal-hal itu. Hal-hal di atas adalah bid’ah munkarah dhalalah yang cuma dibuat-buat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat hal yang baru dalam urusan agama kami ini padahal hal itu bukan bagian darinya maka amalan ditolak.” (HR. Bukhari Muslim)

Begitu pula menyediakan makanan untuk hadirin yang ikut tahlilan termasuk tidak boleh, makanan itu mililk anak yatim, wanita janda. Berapa banyak keluarga mayit yang menghutang terlebih dahulu atau menjual barang-barangnya demi untuk menyediakan makanan dan jamuan tersebut. Ini menambah susah mereka, bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya ketika Ja’far Ibnu Abi Thalib radliyallahu ‘anhu meninggal dunia :
اِصْنَعُو ْا ِلآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ

“Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka hal yang menyibukkannya.” (Hadits shahih riwayat Imam Syafi’i, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bahkan dengan seringnya diadakan kenduri berarti mengingatkan kesedihan lagi dan ini sangat dilarang. Bahkan kumpul-kumpul di rumah keluarga si mayit serta menyediakan makanan buat yang kumpul-kumpul itu merupakan macam niyahah (meratapi yang dilarang), karena menyusahkan keluarga si mayit dan mengingatkan mereka kepada si mayit juga bertentangan dengan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jarir Ibnu Abdillah radliyallahu ‘anhu berkata:
كُنَّا نَعُدُّ الاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ

“Kami menganggap kumpul-kumpul ke (rumah) keluarga si mayit dan penyediaan makanan setelah penguburan si mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi).” (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

Padahal niyahah (meratapi) itu merupakan dosa besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
اَلنَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْباَلٌ مِنْ قَطِرَانٍ

“Wanita yang meratapi (mayit) jika dia tidak taubat sebelum dia meninggal maka dia dibangkitkan di hari kiamat (dalam keadaan di azab) dengan mengenakan pakaian dari cairan tembaga yang meleleh.” (HR. Muslim).

Maka ta’ziyah (bela sungkawa) yang sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya dilakukan dijalanan atau ketika ada dipekuburan (ketika mau atau sudah mengubur) atau tidak apa-apa datang kerumah keluarga si mayit tapi tak lama dan tidak duduk. Imam Syafi’i rahimahullah berkata di dalam Al-Umm: “Saya membenci kumpul-kumpul (di rumah mayit) meskipun tidak di sertai tangisan, karena hal itu mengingatkan kesedihan dan menimbulkan beban serta bertentangan dengan atsar.”

Imam An Nawawi Asy Syafii’ berkata: Al Imam Asy Syafii dan para pengikut madzhabnya rahimahumullah berkata: Dan sangat dibenci melakukan duduk untuk ta’ziah,” mereka berkata: Maksud dengan duduk ini adalah keluarga si mayit duduk berkumpul agar ada orang yang datang untuk berta’ziah, seharusnya mereka pergi menunaikan tugasnya sehari-hari.

Al Imam Ahmad rahimahullah mengingkari duduk-duduk itu dan beliau berkata: Hal itu termasuk perbuatan jahiliyyah.

Syaikh Ahmad Zailani Dahlan Mufti syafiiyyah (Mufti Madzhab Syafii’) di Mekkah mengatakan ketika ditanya tentang hal itu: Ya, apa yang dilakukan orang-orang berupa kumpul-kumpul di rumah keluarga si mayit serta penyediaan makanan merupakan bid’ah mungkarah, dan orang yang mengingkarinya mendapatkan pahala.” Kemudian beliau menukil perkataan Ahmad Ibnu Hajar Asy Syafii’ dalam kitab Tuhfatul Muhtaaj: “…Dan apa yang biasa dilakukan (orang-orang) berupa penyediaan makanan yang yang dilakukan ahli mayit untuk mengundang orang-orang ke rumahnya adalah merupakan bid’ah yang yang dibenci dan begitu juga memenuhi undangan itu…” Kemudian menukil perkataan lain dari Hasyiyah Al-‘Allamah Al-Jamal ‘Ala Syarhil Minhaj, “Dan dibantara bid’ah munkarah yang sangat dibenci adalah apa yang dilakukan orang di hari… dan dihari ke 40 nya. Semua itu haram hukumnya.”

Dan dalam Fathul Bari, “Dan dibenci hukumnya menerima jamuan (hidangan) dari makanan ahli mayit, karena yang namanya hidangan itu disyariatkan ketika ada suatu kebahagiaan, sedangkan penyediaan hidangan di hari-hari kematian adalah bid’ah.”

Dalam Al-Bazzaziyah, “Dan dibenci membuat hidangan dihari pertama, ketiga dan ketujuh…

Dan fatwa-fatwa itu dikemukakan oleh semua mufti keempat mazhab. (Lihat kitab madzhab Syafii’ إ عانة ا لطالبين 2/145-146 karya Abu Bakar Al-Bakri Asy-Syafi’i).

Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan, “Dan apa yang dilakukan orang-orang pada masa sekarang ini berupa kumpul-kumpul untuk ta’ziyah, mendirikan suradiqat (tenda-tenda), membentangkan/menggelar hamparan, menghambur-hamburkan harta yang banyak demi gengsi adalah merupakan hal-hal yang baru dan bid’ah munkarah yang wajib dijauhi oleh semua orang mulim, Dan haram melakukannya, apalagi sering dibarengi dengan hal-hal yang bertentangan dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berjalan sesuai dengan adat jahiliyah seperti melagukan Al-Qur’an dan tidak mematuhi adab tilawah, Meninggalkan inshat (diam dan tidak ribut) dan menyibukan dengan merokok dari mendengarkan Al-Qur’an bahkan mereka itu tidak cukup sampai di sini. Mereka tidak hanya terbatas melakukannya dihari-hari pertama saja, tapi mereka menjadikan hari ke-40 sebagai hari pengulangan kemugkaran-kemungkaran dan bid’ah ini. Dan juga mereka mengadakan peringatan temu tahun (Haul istilah orang Indonesia, pent) pertama, kedua dan seterunya. Hal-hal yang tidak sesuai dengan akal sehat dan dalil yang kuat. (Fiqhussunnah 1/476)

Dan hal serupa dikemukakan oleh Syaikh Mahmud Syaltut Syaikhul Azhar (Rektor Universitas Al-Azhar Mesir) dan beliau menambahkan, “…Dan ta’ziyah itu tidak ada di abad-abad pertama (Islam) kecuali ketika mengiringi jenazah atau ketika bertemu pertama kali bagi orang yang tidak ikut mengiringi jenazah,” kemudian berkata lagi, “dan dari sini tidak pernah dikenal di dalam ajaran Islam apa yang disebut pada masa sekarang ini dengan nama kamis kecil atau kamis besar apalagi yang namanya ke 40 (matang puluh), temu tahunan (haul) yang mereka gunakan untuk mengingat kesedihan lagi dan mereka mengulang kumpul-kumpul lagi dihari itu dengan meninggalkan pekerjaan rutinnya yang bermanfaat. (Al-Fatawaa, Dirasat Limusykilaatil muslim Al-Mu’ashir fi Hayaatihil Yaumiyyah 217)

Imam Abu Ishaq Ay-Syairaziy Asy-Syafi’i berkata: “Dan di antara bid’ah yang sangat dibenci adalah duduk-duduk untuk ta’ziyah karena hal itu adalah muhdats (baru) dan semua yang muhdats itu adalah bid’ah. (Al-Muhadzdzab 1/39)

Syaikh Abdur Rahman Al-Juzairiy berkata: “Dan di antara bid’ah yang dibenci adalah yang dilakukan pada masa sekarang ini seperti menyembelih hewan ketika mayit dibawa keluar dari rumah atau (menyembelih) di dekat kuburan dan (seperti) menyediakan makanan buat orang yang berkumpul untuk ta’ziyah dan menghidangkannya kepada mereka seperti dalam acara suka cita. Dan jika di antara ahli waritsnya ada yang belum baligh maka menyiapkan makanan serta menyajikannya kepada mereka adalah haram. (Al_Fiqhu ‘Ala Al Madzhabib Al-Arba’ah 1/539)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: Dan bukan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kumpul-kumpul untuk ta’ziyah begitu juga membaca Al-Qur’an buat si mayit. Tidak dikuburannya, tidak juga ditempat yang lainnya. Dan semua ini adalah bid’ah haditsah yang dibenci. (Zaadul Ma’ad 1/442)

Dan masih banyak lagi perkataan ulama yang serupa tapi sungguh sangat disayangkan kaum muslimin masih terlarut dalam kegelapan dan yang sangat sungguh disayangkan sekali adalah banyaknya orang yang mengaku ulama mentolelir hal ini, sungguh benar sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengatakan:
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

“Yang hanya saya takutkan atas umatku adalah para Imam (ulama,pemuka) yang menyesatkan”. (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud dan Al-Barqani).
Nishfu Sya’ban.

Di antara bid’ah yang dilakukan oleh kaum muslimin baik di Indonesia atau di negeri-negeri kaum muslimin lainnya adalah apa yang suka mereka lakukan dipertengahan bulan Sya’ban. Mereka meng’itiqadi bahwa malam Nishfu Sya’ban itu mempunyai kedudukan khusus di sisi Allah ta’ala sehingga mereka menghidupkannya dengan berkumpul untuk dzikir, ibadah, berdo’a, membaca surat tertentu, biasanya Yasin. Mereka berkumpul di mesjid setelah shalat Maghrib untuk melaksanakan shalat khusus –Shalat Nishfu Sya’ban– kemudian membaca surat Yasin dengan suara keras kemudian mereka membaca do’a Nishfu Sya’ban –meskipun dengan tidak betul bacaannya– mereka mengulang-ulang hal itu tiga kali. Pertama meminta dengan niat panjang umur, yang kedua dengan niat tolak bala’ yang ketiga dengan niat merasa cukup dari orang lain (untuk kaya), mereka meng’itikadi bahwa orang yang tidak ikut, dia diancam pendek umurnya, banyak musibah yang menimpanya dan akan selalu membutuhkan orang lain.

Di antara isi do’a mereka itu adalah meminta kepada Allah agara menghapus semua nasib jeleknya yang termaktub di dalam Ummul Kitab dan menggatikannya dengan nasib yang baik, mereka beralasan dengan firman Allah ta’ala :
يَمْحُواللهُ مَايَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapus apa yang dia kehendaki dan menetapkan (apa yang dia kehendaki), dan di sisinya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfudz). (QS. Ar Ra’du 39)

Dan ini merupakan pemalingan dan penyelewengan dari makna ayat yang sebenarnya, karena sebenarnya ayat ini menjelaskan bahwa Allah ta’ala menghapus hukum-hukum syari’at umat terdahulu yang tidak sesuai dengan kemampuan umat sesudahnya (umat Rasul kita), dan menjelaskan bahwa pokok-pokok ajaran yang selalu pasti dibutuhkan oleh semua umat –seperti Tauhid, Ba’ts (kebangkitan), kerosulan, pengharaman hal-hal yang keji– tidak dirubah dan itu disebut Ummul Kitab Al-Ilahiy yang tidak mungkin ada perubahan atau perombakan. Jadi ayat itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ahdats kauniyah (hal-hal atau nasib yang terjadi di alam ini). Oleh sebab itu do’a ini bukan pada tempatnya, bahkan termauk dalam i’tidaa (melampaui batas) dalam berdo’a. Dan ini dilarang.
إِنَّهُ لاَيُحِبُ الْمُعْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampai batas (dalam berdoa) (QS. Al A’raf: 55)

Adapun sebab kenapa mereka menganggap Lailah Nisfi Sya’ban (malam Nishfu Sya’ban) sesuatu yang istimewa adalah karena salah pemahaman dari ayat pertama surat Ad Dukhan. Juga karena berpegang pada hadits palsu.

Adapun ayat surat Ad-Dukhan adalah firman-Nya:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (٥)رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

”Sesungguhnya kami menurukan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Ad Dukhan: 3-6)

Mereka beranggapan bahwa Lailah Mubarakah (malam yang penuh berkah) itu adalah malam Nishfu Sya’ban, sehingga mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Dan anggapan seperti itu sangat salah sekali, bertentangan dengan konteks ayat dan juga bertentangan dengan ayat-ayat lain. Yang benar menurut konteks ayat dan sesuai dengan ayat-ayat lain adalah bahwa Lailah Mubarakah itu adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Ayat-ayat itu adalah salah satu dari tiga ayat yang berbicara tentang turunnya Al-Qur’an juga tentang waktunya. Adapun ayat yang kedua adalah:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya kami menurunkan Al Qur’an dimalam (Lailatul qodar) (QS. Al Qadr: 1)

Dan ayat ketiga menjelaskan bahwa itu di bulan Ramadhan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“(Adalah) bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan permulaan Al Qur’an (QS. Al Baqarah: 185)

Jadi Lailah Mubarakah itu adalah Lailatul Qadr yang ada di bulan Ramadhan malam itu disebut malam yang penuh berkah (Lailah Mubarakah) sebagaimana kitab suci Al Qur’an dinamai atau disifati Kitab yang diberkahi (Mubarak).
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ

“Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah kami turunkan yang di berkahi (QS. Al-An’am: 92)

Jadi bukan pada tempatnya menjadikan ayat itu sebagai dalil untuk mengkhususkan malam Nifsu Sya’ban dengan ibadah tertentu.

Ibnu Katsir Asy Syafii’, berkata: Dan orang yang mengatakan bahwa itu adalah malam Nifsu Sya’ban sungguh telah terlalu jauh (menyimpang dari kebenaran) (tafsir Ibnu Katsir 4/167)

Dan Adapun Hadits yang mereka jadikan dalil adalah:
إِذَاكَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا…

Hadits ini adalah hadits maudhu (palsu) diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abdur Razzaq dari Abu Bakar Ibnu Abdillah Ibnu Abi Sabrah. Ibnu Main dan Imam Ahmad mengatakan: Dia (Abu Bakar) suka membuat ‘Hadits Palsu. An Na’sai mengatakan dia itu ‘Matruk’. (lihat ta’liq Al-Itisham oleh Rasyid Ridha 1/39)

Jadi jelas sekali apa yang dilakukan sebagian kaum muslimin di Nisfu Sya’ban adalah bid’ah mungkarah yang tak punya dasar.

Imam Asy Syathiby Al Andalusiy mengatakan, “Dan di antara hal yang bid’ah adalah rutin melakukan ibadah tertentu diwaktu tertentu yang tidak pernah ada penentuan (Waktu atau macam) nya dari syari’ah seperti (mengkhususkan) puasa dipertengahan bulan Sya’ban dan beribadah dimalamnya. (QS. Al ‘Itisham 1/39)

Syaikh Mahmud Syaltut (Rektor Al Azhar), mengatakan: Adapun khusus malaman Nifsu Sya’ban dan kumpul-kumpul utnuk menghidupkannya dan mengadakan shalat khusus dimalam itu serta berdo’a dengan do’a (khusus) semuanya tidak bersumber sedikitpun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tak pernah dikatakan (dan dikenal) oleh seorangpun dimasa-masa awal (Islam) (Al Fatawa 191)

Yang ada dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah banyak berpuasa di bulan itu untuk mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan tanpa membedakan hari-hari tertentu.

Ini adalah hal yang berkaitan dengan apa yang banyak dilakukan oleh masyarakat kita yang mengaku bermadzhab Syafii’, namun amalan dan perbuatan mereka sangat bertolak belakang dengan apa yang mereka anut, bahkan para kiayi dan orang yang mengaku tokoh sekalipun.

(Abu Sulaiman Aman Abdurrahman)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: