Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad » Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad (Bag. 6)

Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad (Bag. 6)


Renungan Ke Dua Belas

 Antara Qital Nikayah Dengan Qital Tamkin

Sudah maklum bahwa ulama membagi jihad menjadi dua macam, jihad daf’i ( defensif ) dan jihad thalab (ofensif), dan ini adalah bila ditinjau dari hakikatnya. Yang pertama sebagai pembelaan Darul Islam dan kehormatan kaum muslimin bila musuh memasuki mereka, sedangkan yang ke dua adalah dengan cara menyatroni orang-orang kafir di negeri-negeri mereka atau memerangi mereka di mana saja mereka ada.

 

Adapun dari sisi buah-buah jihad dan efek-efeknya serta hasil-hasilnya, maka ia terbagi menjadi apa yang tergolong dari jenis qital nikayah (perang yang bersifat pemberian pukulan dan hantaman terhadap musuh), dan apa yang masuk dalam cakupan qital tamkin (penguasaan dan penyediaan tempat yang leluasa bagi kaum muslimin untuk tegakkan dien secara utuh).

Qital yang tujuan darinya pemberian pukulan terhadap musuh dan hasil-hasilnya tidak melebihi pemberian pelajaran pada musuh, menjadikan mereka geram, penimpaan bencana pada mereka dan penteroran atau menahan gangguan mereka dari kaum muslimin atau penyelamatan sebagian orang-orang yang tertindas atau pembebasan tawanan, maka ia walau tidak menghantarkan dalam waktu dekat kepada tamkin bagi kaum muslimin, akan tetapi ia adalah amal shalih yang disyari’atkan, dan para pelakunya insya Allah tergolong orang-orang yang berbuat baik, baik kaum muhazimun (orang-orang yang bertekuk lutut di hadapan musuh lagi cari ridha mereka) yang sudah kalah mental ridha maupun tidak. Karena Allah ta’la berfirman:

وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana pada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,” (QS. At Taubah: 120).

Firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

  وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ

“ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya,” (QS. Al Anfal: 60).

Dan firman-Nya ta’ala:

  وَمَا لَكُمْ لا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak. (QS. An-Nisa: 75).

Allah ta’ala menyemangati untuk berperang di jalan-Nya secara umum dan dalam rangka membela kaum muslimin yang tertindas, maka itu adalah amal shalih yang disyari’atkan juga…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mengunjungi orang yang sakit, beliau mendo’akannya dengan ucapan:

اللهم اشف عبدك يمشي لك إِلى صلاة وينكأ لك عدواً

“Ya Allah sembuhkanlah hamba-Mu ini agar ia bisa berjalan untuk-Mu menuju shalat dan membinasakan musuh-Mu”.

Beliau menjadikan pembinasaan pada musuh sebagai tugas dan tujuan hidup hamba yang muslim, dan menjadikannya dalam doa buat orang yang sakit untuk mengingatkan kaum muslimin selalu dengannya dan mengobarkan semangat mereka terhadapnya serta menyadarkan mereka agar memanfaatkan kodisi sehatnya untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang agung lagi mulia yang mana mereka diciptakan untuknya, dan bahwa diantara tujuan yang paling agung itu ada dua maksud ini: ibadah kepada Allah saja dan membela dien-Nya dengan pemberian pukulan pada musuh, maka untuk hal itu orang muslim hidup, dan ini adalah tugas dia terbesar yang andai sakit membuat dia absen darinya, maka dia memohon kepada Allah ‘afiyah untuk kembali kepadanya. Qital macam ini adalah realita umum qital kaum muslimin pada zaman kita di belahan-belahan dunia hari ini, dan ia walaupun memang amal shalih sebagaimana yang telah kami katakan dan ia memiliki buah-buahnya yang banyak yang bukan di sini tempat untuk menuturkannya… akan tetapi di sana ada macam lain dari macam-macam qital, yang wajib atas kaum muslimin untuk memfokuskan upaya-upaya mereka terhadapnya dan mengarahkan kemampuan-kemampuan mereka kepadanya, ia itu adalah qital tamkin atau tahrir (pembebasan) sebagaimana dalam istilah masa kini, qital macam ini amat dibutuhkan oleh kaum muslimin hari ini, dan di dalamnya terdapat nikayah (pukulan) terhadap musuh-musuh Allah yang dahsyat, akan tetapi hasil-hasilnya tidak terbatas pada nikayah atau pembebasan sebagian orang-orang tertindas dan yang lainnya, sebagaimana macam qital yang pertama, akan tetapi di antara buah-buah terpentingnya adalah tamkin bagi kaum muslimin di muka bumi, dan sudah maklum bahwa di antara bencana terbesar ahlul Islam pada hari ini adalah keberadaan mereka tidak memiliki Daulah Islamiyyah yang menegakkan dien mereka di muka bumi ini dan mereka berlindung di dalamnya.

Qital macam ini (yaitu) qital dalam rangka tamkin bagi kaum muslimin di muka bumi atau pembebasan sebagian negeri-negeri mereka dari tangan para thaghut yang berkuasa atau yang menjajah lagi merampas adalah butuh kepada kemampuan-kemampuan dan syarat-syarat yang berbeda dari qital nikayah, dan butuh pada program yang mencakup (berbagai bidang) dan luas yang ikut andil di dalamnya orang-orang yang memiliki pandangan ke depan dan memiliki kemampuan dan pengalaman dari kalangan ulama rabbaniy, para du’at yang giat dan mujahidin yang jujur yang tidak terpengaruh di jalan Allah ini oleh celaan orang yang suka mencela, di mana menangani urusan jihad ini dan memelihara tunas-tunasnya dengan sebenar-benarnya pemeliharaan dengan telapak tangan-telapak tangan mereka yang bercahaya dan pemahaman-pemahaman mereka yang suci serta niat-niat mereka yang tulus sampai buah-buahnya itu matang untuk dapat dipetik oleh tangan-tangan itu juga dan oleh niat-niat dan pemahaman-pemahaman itu sendiri tidak yang lainnya….

Maka tidak boleh secara syari’at maupun secara akal, para mujahidin yang jujur berjihad dan mereka dengan jihadnya itu mampu menyelamatkan atau membebaskan sebagian negeri-negeri kaum muslimin; untuk kemudian naik setelah itu di atas kepala para pahlawan dan darah para syuhada orang yang memetik buah jihad mereka lewat cara perujukan kepada demokrasi dan pemilu atau cara-cara jahiliyyah lainnya yang berpatokan kepada mayoritas yang menyimpang dan yang menghantarkan ke atas kursi kekuasaan setiap orang bejat lagi rusak dan busuk, setelah jihad yang panjang dan mengorbankan mujahidin yang jujur.

Kenapa malu, mujahidin yang berperang lagi jujur yang telah menghancurkan Rusia atau Serbia atau yang lainnya di Afghanistan atau Chechnya atau Bosnia dengan kekuatan dan jihad mereka; kenapa mereka malu atau sungkan atau enggan dari mengambil kendali pemerintahan dengan kekuatan itu sendiri yang dengannya mereka membebaskan negeri ? Bukankah mereka orang-orang yang lebih layak untuk memegang kendali pemerintahan…?

Alangkah menyedihkan dan menyakitkan saya apa yang saya baca suatu hari dari ucapan sebagian panglima militer mujahidin yang terkenal di sebagian negeri saat ditanya dalam jumpa pers, yaitu apakah ia dan panglima-panglima militer yang seperti dia akan memegang pemerintahan setelah berakhirnya pembebasan ? maka ia menjawab dengan “tidak“ dan ia menjelaskan bahwa ia itu mujahid dan tujuannya adalah memerangi musuh-musuh Allah di mana saja (yaitu hanya jihad nikayah), adapun kekuasaan dan politik maka ia memiliki ahlinya sedang kami bukan ahlinya…!!

Ucapan yang rendah ini tidak patut muncul dari mujahid yang menghargai jihadnya dan menghormati darah para syuhada, umur para pemuda dan kemampuan umat yang dikerahkan pada peperangan itu, dan mengetahui musibah karena kehilangan Daulah Islam serta (mengetahui) kebutuhan umat yang mendesak terhadap negeri tempat bernaung dan tempat bertolak. Ini bukanlah pengragu-raguan dari saya terhadap saudara kita tersebut, sungguh saya tidak ragu bahwa ia mengetahui itu semua dan menghargainya, akan tetapi saya tidak tahu apa faktor pendorong ucapan ini, apakah wara’ yang dingin atau keengganan ataukah tawadlu’ yang bukan pada tempatnya ??

Kenapa memegang pemerintahan dan kendali urusan setelah tamkin tidak ada dalam perhitungan para mujahidin, (sedang) mereka sendirilah yang telah jujur di medan perang dan teguh di belakang mortir dan di taman ranjau…? Bukankah mereka itu orang yang paling tulus dan paling bersih serta paling terpecaya terhadap pemerintahan ?

Kenapa mereka itu menolak untuk memerintah ?

Dan sampai kapan proyek-proyek mereka itu akan tetap tidak melebihi qital nikayah dan cita-cita kesyahidan saja? dan keberatan apa atau penghalang apa yang menghalangi dari menganut proyek tamkin dan upaya meraihnya di samping nikayah dan cita-cita kesyahidan ?

Bukankah termasuk pemahaman yang bersih dan jeli bila kita mengetahui posisi datangnya banyak atsar yang menghikayatkan tentang banyak syuhada Islam dari kalangan sahabat atau tabi’in atau yang lainnya; yaitu bahwa mayoritas angan-angan dan do’a seseorang di antara mereka adalah terfokus keterbunuhan kudanya dan pedangnya patah di leher-leher musuh dan mendapat karunia kesyahidan, bahwa mayoritas itu adalah dalam kondisi kaum muslimin memiliki khilafah dan daulah. Dan bahwa cita-cita dan seruan-seruan pada kondisi tidak adanya daulah ini adalah wajib bersifat luas agar mencakup upaya pada perealisasian kejayaan Islam dan tamkin bagi kaum muslimin, di samping cita-cita pertama itu.

Kenapa kita baru saja senang dengan sebagian barisan-barisan perlawanan yang pemikiran dan proyek para pelakunya melebihi qital nikayah, dan mereka meletakkan pada perhitungan-perhitungan mereka upaya untuk pembebasan atau tamkin, tiba-tiba saja kejernihan kebahagiaan itu dikeruhi oleh panglima-panglima atau sosok-sosok yang kotor lagi tercoreng loyalitasnya yang menyimpang pemahamannya lagi ngawur manhajnya yang mana para komandan-komandan militer memberikan loyalitasnya kepada mereka, seraya mereka duduk di belakang meja, bukan di parit-parit dan di belakang mortir, dan mereka menunggu pemetikan buah !! atau mereka muncul di hadapan kita dari kotak-kotak undian (baca:  hasil pemilu,ed.) yang mana sebagian mujahidin menyerahkan kepadanya hasil darah-darah dan nyawa-nyawa mereka.

Kemeranaan macam apa ini yang selalu berulang-ulang bersama kaum muslimin dalam pengalaman-pengalaman yang beraneka ragam dalam tenggang waktu yang pendek di masa ini… dan karena sebab itu mereka belum mendapatkan apa yang diharapkan dan tamkin walaupun banyaknya orang-orang yang tulus dan mujahidin serta banyaknya orang-orang yang berkorban dan para syuhada…

Kenapa boleh bagi para diktator, para thaghut, para penjahat, para pembunuh bahkan banci-banci memasuki istana-istana kekuasaan di negeri-negeri kita di atas tank-tank untuk memerintah kita dan memerintah umat dengan hawa nafsu dan kekafiran-kekafiran mereka, dan untuk melemahkan umat ini serta menjinakkannya bagi wali-wali mereka bangsa barat dan Amerika.

Dan kenapa boleh bagi orang-orang sebelum mereka melakukan tipu daya jahat terhadap khilafah, mengkudetanya, dan merampasnya dari kaum muslimin serta memerintah mereka dengan undang-undang kaum musyrikin dengan kekuatan senjata… dan tidak boleh bagi mujahidin muslimin muwahhidin, atau sebagian mereka enggan dan bersikap wara’ dari melibas mereka dan orang-orang macam mereka, serta mengambil alih apa yang telah dirampas dari mereka dan dari Islam mereka dengan kekuatan itu sendiri, kemudian mereka menundukkan manusia kepada Allah saja serta mengeluarkan mereka dari peribadatan terhadap makhluk.

Pelembekan semangat macam apa ini ? Dan pembancian cita-cita dan akal macam apa ini ?

Keterpurukan terhadap pemikiran macam apa ini? yang menjadikan kaum muslimin bagaikan ayam potong dan kambing dan mereka dikandangi di zaman kekuatan yang mana mereka adalah orang-orang yang paling layak memilikinya, berupa kekuatan, penyembelihan dan pedang, yang mana Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus dengannya menjelang kiamat sampai Allah ta’ala yang diibadati.

Orang-orang yang menegakkan jihad di negeri-negeri kaum muslimin harus kembali mengkaji tujuan-tujuan jihad mereka dan program-program serta rancangan-rancangan qital mereka, dan mereka harus menuntaskan dalam perhitungan-perhitungan mereka dan program-program qital ini; upaya ‘amal dalam rangka tamkin bagi kaum muslimin di muka bumi.

Di samping pentingnya penekanan terhadap hal itu dan pemfokusan langkah terhadapnya; maka mesti mengkaji medan-medan perang mereka serta mengedepankan apa yang lebih manfaat bagi kaum muslimin dan yang lebih dekat kepada tujuan yang penting ini.

Mereka mesti memilih pimpinan-pimpinan mereka dengan hati-hati, dan mereka mempertimbangkan di dalamnya ilmu syar’iy, kepekaan terhadap waqi’ (realita), syaja’ah (keberanian), ketegasan, kesegeraan dan tidak sungkan-sungkan atau maju mundur dari memegang kendali pemerintahan saat terjadi (tamkin), agar buah hasil jihad mujahidin tidak lenyap sia-sia atau dipetik oleh orang-orang yang tidak beriman.

Hendaklah mereka sadar bahwa mayoritas operasi-operasi jihad di negeri-negeri kaum muslimin pada hari ini adalah termasuk jenis qital nikayah walaupun hasilnya amat besar, dan  berada di garis depan  dari itu semua adalah apa yang telah terjadi di Washington dan New York berupa operasi-operasi raksasa yang direncanakan dengan cermat, maka sesungguhnya operasi ini walaupun amat besar namun tidak keluar dari qital macam ini.

Seperti itu juga pembunuhan thaghut Anwar Sadat dalam satu kesempatan yang ada bagi kaum muslimin di Mesir dan keberanian mereka terhadapnya tanpa ada kesiapan mereka untuk memegang kendali pemerintahan di negeri itu. Tindakan itu meskipun melegakan dada kaum muslimin, namun tidak keluar dari sekedar nikayah selagi tidak merealisasikan bagi mereka tamkin, bahkan ia mempercepat kepemimpinan thaghut yang lain.

Termasuk pula apa yang dilakukan kaum muslimin hari ini di Iraq bahkan di Palestina berupa memerangi Amerika atau Yahudi, maka sesungguhnya ia adalah seperti itu juga selagi Ahlul Islam di sana adalah lebih lemah serta para pimpinan dan para syaikh mereka lemah dari bisa memetik buah perang ini, walaupun di dalamnya ada hasil sesuatu dari pembebasan (tahrir).

Karena seandainya negeri-negeri ini dibebaskan atau sebagian wilayah darinya dibebaskan dari Amerika atau Yahudi dalam kondisi lemahnya kaum muslimin hari ini dan tidak adanya kepemilikan terhadap pimpinan-pimpinan yang layak, kemudian pemerintahan di dalamnya dipegang oleh kaum sekuler yang kafir, tentulah ini sama sekali bukan tamkin bagi agama Allah; sehingga ia tidak lebih –sedang keadaannya adalah seperti ini– dari penggantian thaghut asing dengan thaghut arab….

Sungguh eksperimen-eksperimen mujahidin di Afghanistan, Chechnya dan Bosnia adalah lebih baik keadaanya dari sisi penggalangan anshar dan kesemangatan mereka serta shibghah Islamiyyah (celupan Islam) yang amat kuat yang mewarnai medan-medan jihad itu, namun demikian para mujahidin yang jujur tidak bisa memetik hasilnya di sana karena sebab-sebab yang wajib atas para penanggung jawab jihad di sana untuk mempelajarinya, mengamatinya serta mengkaji ulang di dalamnya; di mana hal itu menjadikan upaya keras kaum muslimin dan jihad para mujahidin serta para syuhada di akhir perjalanan tidak melebihi dari qital nikayah kepada qital tamkin.

Di antara sebab-sebab ini sebagaimana yang telah kami utarakan adalah keengganan atau kelemahan dan ketidakmampuan mujahidin yang jujur dari memetik hasil jihad; karena lemahnya mereka di hadapan timbangan-timbangan kekuatan yang lain di negeri itu atau karena sikap pengikutan mereka –dan sungguh disayangkan– pada keinginan mayoritas manusia yang telah Allah firmankan tentang mereka:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman –walaupun kamu sangat menginginkannya– “ (QS.Yusuf: 103).

Dan itu terjadi dengan cara berhakim kepada kotak-kotak pemilihan suara sebagaimana yang telah terjadi di Chechnya di mana Maskhadov naik ke atas kursi kekuasaan lewat kotak-kotak suara itu.

Atau karena mereka ikut serta atau berkoalisi dengan faksi-faksi yang rusak lagi menyimpang yang memiliki dominasi lebih kuat di tengah realita dan di tengah msyarakat, yang mana ini membantu para pimpinannya semacam Rabbani dan Sayyaf serta orang-orang semacam mereka untuk naik berpijak di atas kepala-kepala para syuhada dan darah mujahidin ke tampuk kursi-kursi pemerintahan setelah pembebasan Afghanistan dan penggulingan kekuasaan Najib di sana. Dan ini adalah hal yang tidak mengagetkan kami, walaupun selain kami merasa kaget dengannya. Sungguh kami sejak dahulu telah menghati-hatikan dari penyimpangan-penyimpangan faksi-faksi itu dan kami enggan berperang di barisan-barisannya dan kami mengingatkan terhadap penegasan-penegasan para panglimanya yang walaupun mayoritasnya bercelupkan Islam, akan tetapi mereka itu menyatakan dengan terang-terangan bukan dengan ucapan kiasan; bahwa mereka itu berupaya mewujudkan Negara Islam yang demokratis !! dan mereka menyatakan secara terang-terangan tentang persaudaraan mereka terhadap thaghut-thaghut Arab dan ‘ajam, sebagaimana peribahasa bahwa yang ditulis itu bisa dibaca dari judulnya, maka mereka itulah orang-orang yang akan memetik buah dan akan memegang pemerintahan, sedangkan ini adalah keadaannya, akan tetapi orang-orang yang terlampau semangat tetap menolak peringatan dan malah mengatakan: Dan meskipun… dan walapun… bukankah memerangi musuh-musuh Allah secara umum adalah disyari’atkan? Bukankah Allah ta’ala berfirman:

فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا تُكَلَّفُ إِلا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلا

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri,” (QS. An Nisa: 84).

Qital nikayah pada musuh-mush Allah secara umum adalah diyari’atkan meskipun kita tidak memetik hasil …Dan begitulah hasilnya di akhir perjalanan, cita-cita orang itu tidak melebihi di tengah semangatnya dari perang macam ini…!!

Eksperimen-eksperimen ini saya isyaratkan di sini walaupun yang wajib atas pergerakan-pergerakan jihad adalah mengkajinya dengan penuh kepekaan, mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalamannya, melewati kekeliruan-kekeliruannya serta tidak mengulanginya kembali… Ini bukanlah materi renungan ini, akan tetapi materinya adalah dorongan terhadap mujahidin untuk mengarah pada qital tamkin dan mefokuskan terhadapnya, menjaga buah-buahnya serta menangani pemetikannya…dan pengingatan bahwa jihad dan upaya keras mereka di mayoritas belahan bumi hari ini adalah berserakan pada operasi-operasi yang tidak keluar dari qital nikayah, meskipun pada sebagian kondisi kadang memiliki bentuk upaya untuk tamkin atau tahrir akan tetapi di akhir perjalanan ia tidak keluar dari qital nikayah dengan sebab ketidakmatangan mereka atau ketidakmampuannya untuk memetik hasil atau karena penyimpangan mereka dan sikap serabutannya atau sebab-sebab lainnya yang sudah lalu dan pemegangan orang lain terhadap hal itu.

Akhirnya bila telah jelas perbedaan antara dua macam qital tersebut dan engkau mengetahui kebutuhan kaum muslimin terhadap pemfokusan pada qital tamkin serta pentingnya pengarahan kemampuan-kemampuan mereka terhadapnya; maka saya simpulkan apa yang telah lalu dan saya beranjak kepada peringatan-peringatan yang cepat yang berkaitan dengan materi ini.

Tidaklah sah umat seluruhnya atau mayoritasnya menyibukkan diri dengan qital nikayah dan menelantarkan qital tamkin atau tahrir, akan tetapi wajib memfokuskan segenap kemampun terhadap suatu tempat dari tempat-tempat di bumi ini. Yang di sana kaum muslimin memiliki suatu macam dari macam-macam kekuatan dan di sana mereka memiliki tokoh-tokoh rujukan atau pimpinan-pimpinan yang memiliki bashirah terhadap syari’at dan realita yang layak manusia berkumpul di sekelilingnya, dan mereka berupaya untuk mengokohkan kekuasaannya di bumi ini dan mendirikan bagi kaum muslimin suatu Negara yang mereka berlindung di dalamnya dan bertolak darinya.

Termasuk bentuk kesalahan (yaitu) mengobarkan semangat dan emosional para pemuda untuk mengarahkan mereka kepada qital nikayah dan mereka bertolak dengan dorongan semangat ke front-front yang diramaikan dan ditabuhi media massa tanpa mengkaji realitanya dan buah hasil yang diharapkan darinya, dan dengan hal itu mereka dipalingkan dari front-front yang bisa jadi tamkin adalah buah hasil yang sebenarnya baginya, seandainya ada sokongan-sokongan kekuatan dan anshar.

Termasuk bab pertimbangan mashlahat dan pemahamannya serta kewajiban mendahulukan mashlahat yang paling besar terhadap yang paling kecil saat terjadi pertentangan; adalah tidak boleh menghapuskan qital tamkin atau menggugurkannya atau membatalkan buah hasilnya dengan mengedepankan sebagian ‘amal nikayah terhadapnya atau mempertentangkannya atau menyodorkannya kepada bahaya dengan sebabnya, bagi orang yang memiliki rancangan dan program untuk itu, dan ia itu menghargai jihadnya serta energi kaum muslimin, upaya keras mereka, umur para pemuda mereka dan darah-darahnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh banyak kaum munafikin yang menampakkan beberapa gangguan di Madinah, sedangkan membunuh mereka itu tidak diragukan lagi adalah termasuk nikayah pada musuh-musuh Allah yang terpuji, sebagaimana beliau mengakui Yahudi di Madinah, padahal mereka itu sangat busuk dan banyak menyakiti, dan itu sebelum penguasaan penuh di bumi dan sebelum kesempurnaan tamkin padahal mereka itu bukan kafir dzimmiy yang hina, beliau tidak membunuh mereka dan menangguhkan mereka itu demi menjaga tamkin yang sudah dirintis dari awal. Di dalamnya terkandung fiqh (pemahaman) yang wajib diperhatikan kandungannya. Kemudian tatkala Allah telah mengokohkan kaum muslimin di Badr, maka beliau mulai melakukan operasi nikayah pada kaum Yahudi, akan tetapi beliau tidak memperluas dalam hal itu, namun hanya cukup membunuh orang yang menyakitinya dari kalangan yang tidak menimbulkan kerusakan terhadap kaum muslimin dan negeri mereka saat membunuhnya, sampai terealisasi baginya keleluasaan di muka bumi dan timbangan telah berubah, maka Allah ta’ala menurunkan kepadanya firman-Nya: “Jihadilah orang-orang kafir dan munafiqin, serta bersikap keraslah terhadap mereka,dan ayat-ayat lainnya.

Sejenis itu pula perintah beliau kepada Hudzaifah tatkala mengutusnya untuk mencari tahu berita tentang ahzab (pasukan-pasukan yang bersekutu) saat mereka mengepung Madinah “agar ia tidak melakukan sesuatu di tengah mereka“ dan dalam riwayat muslim “Jangan membuat mereka geram terhadap saya“ dan keengganan Hudzaifah dari membunuh Abu Sufyan pimpinan pasukan, padahal pembunuhannya tergolong nikayah terbesar pada musuh-musuh Allah, maka ia meninggalkannya padahal membunuhnya itu amat sangat mudah, sebagai pengamalan dengan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia tidak memancing kegeraman mereka terhadap kaum muslimin, maka di dalamnya terkandung sikap meninggalkan qital nikayah demi menghindarkan mafsadah yang bisa dimunculkan hal itu terhadap kaum muslimin dan negeri mereka sebelum kesempurnaan tamkin dan keleluasaan mereka di muka bumi.

Maka dalam tuntutan ini dan itu terdapat sikap pengedepanan mashlahat yang lebih utama bagi kaum muslimin dan mashlahat penghindaraan mafshadah yang besar dari mereka dan dari tamkin mereka terhadap qital nikayah…

Bahkan sesungguhnya pengorbanan-pengorbanan yang dikerahkan dalam qital nikayah tidak seyogyanya sebanding dengan yang dikerahkan dalam rangka perealisasian tamkin.

Maka saya memahami bila para du’at meninggalkan dakwah dan program-program mereka yang bersifat pendidikan, dakwah, keilmuan dan studi di negeri mereka dan mereka mengosongkan tempat dari para du’at dan para pencari ilmu dan mereka menuju untuk bergabung perang di negeri yang diharapkan di dalamnya tamkin atau tahrir…

Adapun  bila mereka meninggalkan dakwahnya atau mereka dicela karena tetap konsisten dengan dakwahnya, dan segenap kemampuan dikerahkan, serta medan dakwah dikosongkan dari aktivis dan ansharuddin demi qital yang tidak lebih dari sekedar qital nikayah, maka ini sama sekali bukan termasuk pemahaman timbangan mashlahat dan mafsadah yang syar’iy. Sungguh Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungghnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus”.  (QS. Al Isra: 9 ).

Lebih lurus adalah lebih baik.

Dan Dia ta’ala berfirman:

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

‘“Ikutlah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. (QS. Az Zumar: 55 ).

Ini adalah perintah terhadap hamba-hamba-Nya untuk mengikuti amalan yang paling lurus yang paling baik manfa’atnya bagi dien dan dunia mereka…

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya,” (QS. Az Zumar: 18).

Begitu juga tidak sah para pemuda dikompori untuk meninggalkan dakwah mereka dan mereka dicela dengan sebab tetap berdakwah, dan mereka disuruh keluar berperang semuanya serta mereka digusur ke dalam peperangan yang rugi dengan klaim membantu sebagian orang yang tidak memiliki kesabaran terhadap dakwah ilallah dari kalangan orang yang tergesa-gesa berkonfrontasi fisik yang tanpa perhitungan dengan musuh-musuh Allah, atau sembrono melakukan sebagian kesalahan-kesalahan keamanan, sehingga ia diusir oleh pihak pemerintah, atau amalan lain apa saja yang tidak keluar hakikatnya dari qital nikayah selagi para pemuda itu telah memilih program dakwah yang terencana rapi, maka amal-amal semacam itu tidak sah dibenturkan dengan program-program dakwah yang shahih yang berada di atas jalan tauhid, apalagi kalau ia menjadi sebab penelantaran atau penghancurannya, berbeda halnya dengan qital tamkin maka ia memiliki perhitungan-perhitungan yang berbeda.

Di dalam qital nikayah kadang bisa tasahul (mengenteng-enteng) dalam banyak hal yang tidak boleh tasahul dengannya dalam qital tamkin, terutama dalam hal memilih pimpinan yang berperang dengannya, kadang dalam operasi-operasi nikayah dianggap cukup dengan panglima militer, walaupun ia masih kurang dalam ilmu syar’iy dan kadang bisa tasahul dengan sebagian maksiat-maksiatnya atau penyimpangan-penyimpangannya yang tidak sampai pada kekafiran. Adapun dalam qital tamkin maka seyogyanya atas orang-orang yang berakal untuk tidak menyerahkan kendali jihad, kecuali kepada pimpinan yang takut kepada Allah yang bertauhid yang mengetahui ilmu syar’iy lagi peka terhadap realita serta ia layak untuk berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan dan untuk memetik buah jihad mujahidin, agar tidak berulang kembali keterpurukan kaum muslimin di sana di sini.

Ini adalah hal yang tidak boleh tafrith terhadapnya selagi pilihan ada di tangan mujahidin dan kesempatannya luas. Adapun bila kondisinya sempit maka kebolehan qital bersama amir yang fajir untuk menghadang orang kafir adalah disyari’atkan sebgai bentuk penolakan mafsadah atau keburukan terbesar dengan menanggung yang paling ringan. Kemudian bila setelah itu memiliki kemungkinan untuk mencopot yang fajir itu dan mengangkat yang yang baik maka itu wajib.

Namun hati-hati kemudian hati-hati dari menganggap pilihan demokrasi sebagai sistem untuk pemerintahan atau (memberikan) loyalitas kepada para thaghut timur dan barat sebagai manhaj atau mengemis-ngemis terhadap pengakuan dunia internasional yang kafir serta ikut serta dengan lembaga-lembaganya: saya katakan hati-hati dari menganggap hal itu dan yang serupa dengannya berupa kekafiran sebagai kefajiran saja, karena itu bisa menyebabkan timbangan rusak dan gambaran menyimpang serta perhitungan ngawur.

Ini adalah sebagian hal-hal yang ingin saya ingatkan dalam renungan ini… dan maksud saya sama sekali bukanlah meremehkan keberadaan qital nikayah yang dibatasi dengan batasan-batasan syar’iy yang mempertimbangkan mashlahat kaum muslimin yang terpenting kemudian yang berikutnya, yang peka dan menampakkan jihad Islamiy dengan gambarannya yang indah, sebagaimana maksud saya sama sekali bukanlah mencela mujahidin di jalan Allah, karena setiap orang yang megetahui surat-surat saya dan ia mengikuti apa yang saya tulis, akan mengetahui pembelaan saya buat jihad  dan mujahidin secara umum, bahkan dukungan saya terhadap serangan New York dan Washington serta para pahlawannya padahal serangan itu tidak keluar dari macam ini sebagaimana yang telah lalu kami utarakan. Saya berlindung kepada Allah dari sikap mecela para mujahidin manapun yang telah menjual jiwa dan ruhnya kepada Allah di zaman kehinaan dan kecenderungan (kepada dunia), akan tetapi itu adalah sebagai bentuk keinginan kuat terhadap jihad kaum muslimin, upaya keras mereka dan kemampuan mereka agar diarahkan kepada yang lebih manfa’at, lebih tepat dan lebih baik bagi agama Allah.

Oleh sebab itu saya kembali dan mengakhiri ini dengan mengatakan: Sesungguhnya meskipun mayoritas jihad para pemuda umat ini pada hari ini adalah mengarah kepada qital nikayah, dan qital macam ini tidak membuahkan tamkin yang dalam waktu dekat, dan bisa jadi mayoritasnya tidak menghancurkan musuh-musuh Allah dengan penghancuran yang mematikan, bahkan sebagiannya tidak menimpakkan pada mereka dalam banyak kejadian kecuali pukulan kecil saja; akan tetapi bila itu sesuai perencanaan yang jelas dan dalam bingkai pilihan-pilihan yang jeli dan dengan hubungan atau arah pemahaman yang murni bersih yang tidak terkontaminasi atau terkotori; maka sesungguhnya ia memiliki hasil-hasilnya yang banyak dan besar, dan bisa saja bila ia para pelaksananya mendapatkan taufik pada kepekaan yang sebenarnya terhadap realita dan pilihan-pilihan: (Ia) menjadi madrasah yang terdidik di dalamnya anak-anak kaum muslimin dan keluar darinya orang-orang yang akan memegang kendali qital tamkin dengan izin Allah ta’ala…

Karena sesungguhnya mereka itu tidak akan turun kepada kita dari langit, sebagaimana mereka itu tidak akan datang dari pangkuan jama’ah-jama’ah irja’ serta tidak akan keluar kecuali dari belakang meriam-meriam dan dari lobang parit serta dari rahim jihad kaum muslimin di sana sini.

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (٤) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٥)

“Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Penyayang,” (QS. Ar Rum: 4-5).

*******


Renungan Ke Tigabelas

 

Dan Kamu Menginginkan Bahwa Yang Tidak Memiliki Kekuatan Senjatalah Yang Untukmu

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam “kepadamu“ : kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatnya atas kamu, maka telitilah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. An Nisa: 94).

Ayat yang agung ini turun berkenaan dengan seorang pria yang melewati sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang mengembala kambing-kambingnya, terus ia mengucapkan salam terhadap mereka; maka mereka berkata: Ia tidak mengucapkan salam terhadap kita, kecuali untuk melindungi (dirinya) dari kita: Maka merekapun membunuhnya dan datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kambing-kambingnya, maka turunlah ayat tersebut.

Dalam riwayat Ahmad -secara menyendiri- (disebutkan) bahwa orang yang membunuhnya setelah orang itu menampakkan Islam, karena sesuatu yang pernah ada antara dia dengan orang itu di zaman jahiliyyah.

Dalam (tafsirnya) Ibnu Jarir (menjelaskan) bahwa dia mengucapkan tahiyyah Islam terhadap mereka, sedang di antara mereka itu ada gesekan di zaman jahiliyyah, kemudian seseorang di antara mereka menembaknya dengan panah sehingga terbunuh.

Al Bukhariy meriwayatkan secara ta’liq bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Miqdad:

إذا كان رجل مؤمن يخفي إيمانه مع قوم كفار فقتلته ، فكذلك كنت تخفي إيمانك بمكة من قبل

“Bila ada orang mukmin yang menyembunyikan imannya bersama kaum yang kafir terus kamu membunuhnya, maka begitu juga kamu dahulu di Mekkah menyembunyikan imanmu”.

Al Bazzar meriwayatkan bahwa sebab ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Miqdad ini adalah bahwa Miqdad pernah bersama sariyyah (pasukan kecil) kemudian mereka menyerang kaum yang sudah cerai berai dan tinggal seorang laki-laki yang memiliki harta yang banyak, terus orang itu mengucapkan: saya bersaksi bahwa laa ilaaha illallah,” kemudian Miqdad malah tetap membunuhnya… dan di dalamnya ada indikasi bahwa ayat ini turun dengan sebab itu.

Ibnu Katsir berkata tentang firma-Nya ta’ala: ”Karena di sisi Allah ada harta yang banyak,” yaitu lebih baik dari apa yang kalian inginkan berupa harta benda kehidupan dunia yang mendorong kalian untuk membunuh orang yang telah mengucapkan salam kepada kalian dan telah menampakkan keimanan di hadapan kalian, kemudian kalian melupakannya dan menuduhnya pura-pura dan taqiyyah, dengan maksud mencari harta benda kehidupan dunia” selesai.

Dalam ayat ini dan sebab turunnya ada pelajaran dan arahan yang mana Allah ta’ala menghati-hatikan kita di dalamnya dari sebagian hawa nafsu insaniy dan sahwatnya yang samar di belakang emosi jiwa dan yang lainnya berupa keinginan-keinginan jiwa manusiawi dan hasrat-hasratnya serta ia pura-pura buta dalam hal itu dan karena kecenderungannya kepadanya dari sebagian fenomena-fenomena atau tanda-tanda keterjagaan (darah dan harta) dan mawani’ pembolehan, kemudian ia menyerang target-target sasaran yang mudah dan kadang menjauhi target-target yang memiliki kekuatan senjata bukan karena mashlahat jihad, namun karena mengikuti kepentingan-kepentingan jiwa dan kecenderungannya, (dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam kepadamu“ kamu bukan seorang mukmin“ (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia). Maka Allah melarang kita dari hal itu dan menghati-hatikan kita darinya, dan Dia ta’ala menjelaskan bahwa Dia-lah yang menganugerahkan kepada kaum muslimin nikmat berupa hidayah dan penampakan dien mereka dan meninggalkan darul kufri, maka begitu juga kalian dahulu, kemudian Allah mengaruniakan kepada kalian (nikmat-Nya) dengan anugerah dan kebaikan-Nya, di mana Dia menguatkan kalian dan memenangkan kalian; maka telitilah kalau begitu dan jangan tergesa-gesa untuk memvonis terhadap orang-orang semacam itu, dan janganlah kalian bersegera menghalalkan harta dan darah mereka seraya berpaling dari apa yang mereka tampakkan di hadapan kalian berupa ciri-ciri keislaman, karena di sisi Allah ada harta yang banyak dan rizki yang melimpah, di mana pintu-pintu jihad itu sangat banyak, sedangkan Allah sebelum dan sesudahnya adalah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan, tidak tersamar atasnya sesuatupun dari dorongan-dorongan jiwa dan hal-hal yang dirahasiakannya. Ini adalah ancaman agar orang muslim bertaqwa kepada Allah dalam jihadnya dan qitalnya, sehingga ia mengikatnya dengan batasan-batasan syari’at dan membersihkannya dari kepentingan-kepentingan jiwa dan syahwatnya.

Sungguh jiwa itu ditabiatkan benci terhadap qital dan bahaya-bahaya yang ada di dalamnya, oleh sebab itu Allah ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu(QS. Al Baqarah: 216 ). Oleh sebab itu ia cenderung untuk menjauhi perang dan mencintai ghanimah serta memilih target-target yang mudah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS. Al Baqarah: 216 ).

Allah ta’ala berfirman tentang orang-orang mukmin di awal peperangan yang mereka terjuni:

وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ

”Sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak memiliki kekuatan senjatalah yang untukmu,” (QS. Al Anfal: 7).

Begitulah Allah ta’ala menghabarkan kepada kita tentang rahasia-rahasia jiwa kita dan apa yang dicenderungi dan dicintainya berupa ghanimah yang mudah lagi kosong dari kelelahan, gangguan dan bahaya serta apa yang dibencinya berupa peperangan dan taruhan nyawa, dan dikarenakan Allah ta’ala lebih mengetahui daripada kita terhadap apa yang bermanfa’at bagi kita dan bermanfa’at bagi agama kita.  Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,

أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui ( yang kamu lahirkan dan rahasiakan ); dan Dia Maha Halus Lagi Maha Mengetahui,” (QS. Al Mulk: 14); Sungguh Dia telah mengarahkan kita dan memilihkan bagi kita apa yang Dia cintai bagi kita dan bagi dien kita serta yang Dia inginkan secara syar’iy dari kita berupa suatu yang di dalamnya terdapat penjagaan agama dan wali-wali-Nya serta pemadaman syirik dan penghinaan para pelakunya…

Allah ta’ala berfirman:

وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ (٧) لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ (٨)

“Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya,” (QS. Al Anfal: 7-8).

Kesimpulannya… bahwa Allah menginginkan bagi tentara-tentara-Nya mujahidin agar memilih dari jihad itu apa yang lebih manfa’at bagi kaum muslimin dan lebih jernih bagi dien mereka yang mengangkat bendera al haq dalam keadaan jernih lagi jelas tanpa ada kesamaran, karena di antara tujuan dan buah jihad terpenting adalah pembenaran yang haq dan tamkin bagi pemeluknya “Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya,” (QS. Al Anfal: 7).Dan yang lebih mematikan bagi syirik dan kaum musyrikin yang memusnahkan mereka dan mebatalkan kebatilan mereka serta menghabisi tuntas kemusyrikannya dan Dia menjadikan dalam itu juga kebaikan dan ghanimah yang dicintai jiwa Kuda itu diikatkan pada ubun-ubunnya kebaikan sampai hari kiamat pahala dan ghanimah,” (HR Al Bukhariy).

Maka tidaklah pantas para mujahidin mengejar sesuatu dari target-target yang samar demi mencapai ghanimah, karena mereka akan mendapatkan di dalam sasaran yang Allah sukai dan telah Dia pilihkan untuk mereka harta benda yang banyak,“ Karena di sisi Allah ada harta yang banyak “ (QS. An Nisa: 94 ) dan Dia ta’ala berfirman:

وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا

“…Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil“ (QS. Al Fath: 20 ).

Begitulah dengan sikap mujahidin mengikuti perintah Allah dan apa yang Dia Subhanahu Wa Ta’ala cintai serta Dia pilihkan bagi mereka, mereka menyatukan antara nushrah dienullah dan pengukuhannya dengan penghancuran kaum musyrikin dan pengguguran kebatilan mereka, serta Allah melegakan dada mereka dengan penghalalan harta musuh-musuh mereka yang paling busuk dan paling jahat bagi mereka.

Allah ta’ala mengumpulkan hal itu bagi kaum muslimin generasi pertama dan Dia menjadikannya sebagai bagian buah hasil jihad mereka tatkala mereka mencintai apa yang Dia cintai dan memilih apa yang Dia pilihkan bagi mereka, Dia ta’ala berfirman:

وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا (٢٦)وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ

“Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka” (QS. Al Ahzab: 26-27).

Maka tidak selayaknya bagi mujahid, dia mengambil target-target yang rendah yang disukai jiwa –meskipun pada banyak kondisi, itu disyariatkan– sebagai pengganti apa yang dicintai dan diridhai Allah bagi ahli jihad dan dien mereka yang di dalamnya terdapat pengukuhan al haq dan pengguguran al bathil serta pemusnahan orang-orang kafir.

Saya katakan ini sesuai  tuntunan ayat-ayat Al Anfal yang lalu, padahal sesungguhnya perbandingan keutamaan di dalamnya adalah terjadi antara apa yang diinginkan Allah berupa peperangan yang lebih menghabisi dan lebih memusnahkan musuh-musuh Allah lagi menggugurkan kebatilan mereka, dengan apa yang diinginkan kaum muslimin saat itu, dan ia itu adalah hal yang disyari’atkan lagi tidak diingkari oleh orang-orang Islam dan orang-orang selain mereka, yaitu ghanimah harta orang-orang kafir harbiy yang telah mengusir kaum muslimin dari negeri-negeri dan harta-harta mereka, dan mereka menyakiti serta menyiksa kaum muslimin itu; maka bagaimana bila muqatil itu meninggalkan jihad yang lebih bersih dan lebih manfa’at bagi Allah dan lebih menghabisi dan lebih memusnahkan akan musuh-musuh Allah, dan ia malah pergi mencari bukan target-target mudah yang disyari’atkan akan tetapi sasaran-sasaran mudah yang samar atau justru terjaga lagi haram dalam banyak keadaan; tidak ragu lagi bahwa ini masuk dalam ancaman ayat An Nisa yang lalu, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. An Nisa: 94).

Hari ini kami melihat banyak para pemuda yang faqir akan ilmu syar’iy membiarkan kaum musyrikin dan malah memerangi kaum muslimin, baik mereka sadar maupun tidak, karena mereka tidak mau memerangi musuh-musuh Allah yang memerangi, sebab dalam memerangi mereka itu terdapat ketidaksukaan, gangguan, bahaya dan darah, dan mereka malah mencari-cari target yang mudah, saya tidak mengatakan bahwa mayoritas target-target itu dari kalangan masyarakat kita yang awam yang kadang berlumuran mukaffirat (hal-hal yang mengkafirkan) yang masih ihtimal (banyak kemungkinan) yang tidak jelas lagi tidak nampak saja, akan tetapi mayoritasnya dari kalangan kaum muslimin yang fasiq yang mana mereka diserang di kios-kios, toko-toko dan rumah-rumah mereka untuk merampas harta-harta mereka dan menghalalkannya karena sebab kesalahan kecil, tanpa memperhatikan realita ketertindasan dan tanpa meninjau pada mawani’ dan syuruth takfier, ini andai kekeliruan mereka itu sampai berkaitan dengan mukaffirat, -maka bagaimana- sedangkan kami telah melihat orang yang menghalalkan harta wanita karena sekedar tabarruj atau perilakunya yang menimbulkan kecurigaan. Di antara para pemuda itu ada yang mengetes sopir taxi dengan cara mengarahkannya ke Bar, kemudian bila ia menuju kesana maka ia menghalalkan perampasan  hartanya, di antara mereka ada yang mengkhianati amanah atau mengingkari utang atau lari dari pembayarannya sebagai bentuk penghalalan terhadap harta orang yang menyelisihi dia dengan sebab tidak mengkafirkan si fulan dari kalangan para thaghut atau si fulan dari kalangan ulama penguasa.

Terakhir; telah sampai kepada saya tentang sebagian orang –orang yang ngawur yang ghuluw dalam payung suasana kacau balau hari ini di Iraq, di bawah payung pendudukan Amerika; bahwa mereka meninggalkan perang memerangi pasukan salib Amerika dan mereka beralih menjarah kaum awam bangsa Iraq dengan dalih yang tidak ada yang lebih bodoh darinya; di mana mereka mengklaim bahwa persentase rakyat Iraq terbagi menjadi 60% rafidlah sedang mereka mengkafirkannya semua tanpa membedakan antara para tokoh dan kaum awam, dan 20 % antara orang- orang Shabi-ah, Asyuriyyin dan Yazidiyyin dari kalangan para penyembah syaitan, serta 20 % antara Kristen dan Bath…. atau sesuatu yang dekat dari klasifikasi dangkal yang sia-sia yang di samping ia itu berpatokan pada klaim-klaim dan sensus yang dilakukan kaum Rafidlah yang dusta lagi dibesar-besarkan untuk (kepentingan) mereka; maka sesungguhnya ia adalah sensus yang dhalim bagi muslimin sunniy karena tidak menganggap mereka ada…

Sebelum itu ia adalah sensus dan pembagian yang mengikuti syahwat jiwa yang telah diisyaratkan kepadanya, agar dengannya para penganutnya melegalkan penjarahan atas tiap rumah bangsa Iraq dari kalangan yang tidak memiliki kekuatan demi mendapatkan rampasan dan harta benda yang mudah. Dan ia adalah sensus yang saya tidak menduganya muncul dari para pencuri dan perampok yang bertebaran di Iraq, dengan berkah invasi Amerika terhadap bumi Iraq ini.

Maka hendaklah orang-orang yang intisab kepada dien ini bertaqwa kepada Allah (jangan sampai) tujuan jihad atau qital mereka itu sekedar mendapatkan harta, tanpa menghiraukan halal atau haram, dan hendaklah mereka mengetahui bahwa darah kaum muslimin, harta dan kehormatan mereka itu walaupun ahli maksiat lagi bejat; adalah ma’sum (terjaga) dengan keterjagaan Islam (sehingga) tidak boleh dihalalkannya, dan dalam shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

من اقتطع حق امرئ مسلم بيمينه فقد أوجب الله له النار وحرم عليه الجنة ) فقال رجل : وإن كان شيئا يسيراً يا رسول الله ؟ فقال : وإن قضيباً من أراك

“Barangsiapa mengambil hak orang muslim dengan sumpahnya maka Allah sungguh telah menetapkan baginya neraka dan mengharamkan surga atasnya “Maka seorang laki-laki berkata: wahai Rasulullah walaupun hal yang sepele? maka beliau berkata: walaupun sebatang kayu arak”.

Dan dalam shahih Al Bukhariy bahwa dia shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إن رجالا يتخوّضون  في مال الله بغير حق ، فلهم النار يوم القيامة

“Sesungguhnya orang-orang menyelamkan diri dalam harta Allah tanpa haq, maka bagi mereka neraka di hari kiamat”.

Beliau bersabda dalam khutbahnya saat haji wada’:

إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا في بلدكم هذا في شهركم هذا ، وستلقون ربكم فيسألكم عن أعمالكم ، ألا فلا ترجعوا بعدي كفاراً يضرب بعضكم رقاب بعض

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti keharaman hari kalian ini di negeri kalian ini serta di bulan kalian ini, dan kalian akan bertemu dengan Rab kalian terus Dia akan menanyakan kepada kalian tentang amalan kalian, ingatlah jangan kalian setelahku kembali kafir yang mana sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain”. (Muttafaq ‘alaih)

Orang yang ‘alim terhadap ushul dien ini lagi fasih akan kaidah-kaidahnya mengetahui bahwa dalam hal darah, kemaluan dan harta adalah dibangun di atas dasar kehati-hatian, sampai sesungguhnya hudud saja dibatalkan karena syubhat, dan ia menjadikan syubhat jaminan keamanan sebagai keamanan, dan ia mencegah dari hilangnya keyakinan yang telah terbukti ada baik itu keislaman atau keterjagaan (darah dan harta) atau jaminan ataupun keamanan dengan sebab keraguan atau praduga, dan ia menghalangi dari takfier dengan sebab hal-hal yang ihtimal dan praduga atau dengan sebab lazimul qaul dan ma-alnya ( lihat maknanya dalam terjemah Ar Risalah Ats Tsalatsiniyyah,pent), serta hal-hal lainnya yang telah Islam tegakkan sebagai penjaga darah dan harta.

Begitu juga jihad, bila para pelakunya menginginkan baginya terbukti seperti apa yang dicintai dan diridhai Allah, maka wajib didahulukan di dalamnya kepentingan Islam dan dimurnikan dari hawa nafsu dan memperhatikan di dalamnya siyasah syar’iyyah serta selalu berupaya menjaga nama baik jihad, maka permasalahannya jangan dilontarkan di atas bingkai halal dan haram, muslim dan kafir, mu’ahid dan harbiy dan pemahamannya yang bersifat isthilah yaitu selain mu’ahid dan musta-man walapun bukan termasuk muqatilin…akan tetapi wajib atas orang yang sangat perhatian terhadap jihad dan mashlahatnya terutama sebelum keberkuasaan di muka bumi ( ia wajib ) melihat pada hasil-hasil amal dan mafsadah-mafsadah yang muncul darinya bila ia ada disertai dia mempertimbangkan antara ini dengan itu, sebagaimana wajib pemfokusan terhadap muharibin muqatilin tidak selain mereka, dan juga orang-orang yang mencela dien ini, serta menjauhi dari membunuh orang-orang selain muqatilin dari kalangan yang tidak menampakkan permusuhan terhadap kaum muslimin di payung negeri kafir di mana andai ada Darul Islam tentulah mereka orang yang paling layak untuk menjadi dzimmy dan orang yang paling layak dengan firman-Nya ta’ala:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu,” (QS. Al Mumtahanah: 8).

Maka mashlahat apa bagi kaum muslimin dengan menjadikan orang-orang macam mereka itu sebagai sasaran dan target penyerangan sedangkan mereka itu menghormati Islam dan pemeluknya dan tidak menghina ajaran-ajarannya padahal mereka itu tidak berada di payung kekuasaan Islam.

Ini adalah contoh-contoh dan hal yang mengandung perhatian yang dengannya saya ingin meluaskan wawasan dan pemahaman para pemuda serta memberikan penerangan kepada mereka. Dalam kondisi ketertindasan kaum muslimin, kekurangan dana mereka dan kemampuan mereka, wajiblah mereka selalu memfokuskan –sebagaimana yang telah kami sering utarakan– terhadap qital yang lebih bersih lagi lebih manfaat bagi agama Allah dan lebih mematikan pada musuh-musuh Allah…. sedangkan hal ini membutuhkan akan ilmu syar’iy dan bashirah akan realita serta pemahaman akan timbangan mashlahat dan mafsadah. Dan dalam hal ini klaim usaha pendanaan jihad kaum muslimin atau dalih-dalih dan alasan-alasan lainnya tidaklah menjadi legalitas untuk sikap ngawur itu atau melegalkan penyerangan sebagian mereka terhadap target-target yang tidak syar’iy atau target-target yang membahayakan jihad dan nama baiknya serta mashlahat kaum muslimin, karena Allah itu baik lagi tidak menerima kecuali yang baik, sedangkan tujuan di kita kaum muslimin tidaklah melegalkan segala macam cara: akan tetapi sarana itu memiliki hukum yang sama dengan tujuan; oleh sebab itu sarana-sarana yang menghantarkan terhadap perealisasian tujuan-tujuan jihad adalah mesti disyari’atkan dan bersih seperti bersihnya jihad kaum muslimin dan sucinya agama mereka.

Maka hendaklah setiap orang yang berjuang untuk dien ini bertaqwa kepada Allah dalam jihad yang agung ini, dan hendaklah ia selalu meletakkan di depan matanya ucapan Al Khalifah Ar Rasyid Umar Ibnu Abdil Aziz:

إن الله بعث محمداً صلى الله عليه وسلم هاديا ولم يبعثه جابيا

“Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa petunjuk dan tidak mengutusnya sebagai penarik (pungutan)”.

*********

Bersambung…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: