Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad » Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad (Bag. 5)

Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad (Bag. 5)


Renungan Ke Sepuluh

  Hati-hati Dan Sembunyi-sembunyi Antara Ifrath dan Tafrith

 

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama !” (QS. An-Nisa: 71).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk bersiap siaga sebelum perintah maju berperang. Allah ta’ala berfirman:

وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

 “Dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan ‘adzab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu”. (QS. An Nisa: 102).

 

Mengambil sebab-sebab kehati-hatian dan siap siaga dan begitu juga kitman (sembunyi-sembunyi) dalam ‘amal jihadiy adalah hal yang disyari’atkan dalam agama kita, bahkan ia wajib dalam banyak keadaan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan untuk meminta bantuan dengan sikap kitman dalam banyak hal dan hajat sebelum operasi militer dan jihad, beliau bersabda:

استعينوا على قضاء حوائجكم بالكتمان

“Mintalah bantuan dengan kitman dalam penuaian kepentinan-kepentingan kalian“

Bahkan beliau Subhanahu Wa Ta’ala dalam tuntutannya pada sikap kitman sampai pada tingkat tamwih (melakukan kesamaran) terhadap mereka dan mengecoh mereka, di mana Hadzr (siaga/hati-hati) ini pada beliau tidak terbatas terhadap kitmanul asrar (penyembunyian rahasia), akan tetapi beliau berupaya keras untuk memecah perhatian musuh dan menyesatkan mata-mata dan spionase mereka, sebagaimana dalam hadits Ka’ab  Ibnu Malik dalam Ash shahih (4418) pada kisah absennya pada perang tabuk, ia berkata:

ولم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم يريد غزوة إلا ورّى بغيرها …

“…Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menginginkan suatu peperangan melainkan beliau menyamarkan dengan yang lainnya…

Di antara sikap keseriusan dan keinginan kerasnya untuk meluluskan peperangannya dan tugas-tugas para sahabatnya dengan cara kitman adalah beliau mengirim sariyyah (pasukan kecil) ke arah tertentu, tanpa memberi tahu mereka tentang tujuan mereka, namun beliau menuliskan bagi mereka surat yang di dalamnya beliau menuturkan tujuan yang di maksud, dan memerintahkan mereka agar tidak membuka surat itu sampai mereka menempuh mayoritas jarak perjalanannya dan dekat dari tujuannya, sebagaimana yang beliau lakukan terhadap sariyyah  Abdullah  Ibnu Jahsy yang mana  Ibnul Hadlrami dibunuh dan di dalamnya terdapat sikap penyembunyian rahasia-rahasia militer dan tidak menampakkannya termasuk terhadap pasukan itu sendiri kecuali sesaat menjelang pelaksanaan langsung, termasuk seandainya sebagian mereka lemah atau jatuh tertawan musuh maka padanya tidak ada apa yang ia katakan atau ia bongkar walaupun mereka memotong atau mencabik-cabik badannya….

Termasuk bab ini adalah bahwa beliau saw tatkala berniat untuk hijrah, beliau datang kepada Abu Bakar di waktu yang tidak biasanya beliau mendatanginya, dan beliau datang seraya menutup kepalanya… dan beliau sebelum membisikkan kepadanya keputusan hijrah, (beliau) memerintahkan agar menyuruh keluar orang-orang yang padahal mereka itu sebagaimana yang dikatakan Abu Bakar “Mereka itu hanyalah keluargamu…”

Abdullah  Ibnu Abi Bakar bermalam bersama keduanya di gua gunung Tsaur dan beranjak pergi dari keduanya di waktu sahur sehingga ia berada bersama Quraisy di Mekkah seperti yang bermalam (di tengah mereka), dan ia tidak mendengar suatu hal yang membahayakan keduanya, melainkan ia mengetahuinya sampai mendatangi keduanya dengan berita itu saat malam mulai gelap.

Silahkan lihat itu semuanya dalam hadits hijrah dari Aisyah Ummul Mukminim ra dalam Shahih Al Bukhariy (3905), dan di dalamnya juga terdapat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Suraqah tatkala menyusul mereka dalam hijrah: “sembunyikan tentang kami“.

Dalam Shahih Al Bukhariy Bab: “Perang itu tipu daya“ dan di dalamnya ia mengutarakan haditsnya, Al Hafidh Ibnu Hajar berkata: Dan asal tipu daya adalah penampakkan suatu dan penyembunyian sebaliknya, dan di dalamnya ada anjuran yang sangat untuk bersiap siaga dalam peperangan dan arahan untuk mengecoh orang-orang kafir, dan bila ia tidak sigap terhadap hal itu maka tidak aman masalahnya balik menyulitkan dia). Selesai.

Dalam Al Bukhari juga: (Bab: Dusta dalam Peperangan ), dan di dalamnya ia tuturkan kisah pembunuhan para sahabat terhadap Ka’ab  Ibnul Asyraf, thaghut kaum Yahudi dan apa yang ada di dalamnya berupa pengecohannya dan penampakkan sikap yang membuat dia menduga bahwa mereka merasa berat dan menderita dari apa yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa shadaqah, sampai akhirnya mereka mendapatkan keleluasaan darinya dan kemudian mereka membunuhnya… Dan Al Hafidh menuturkan dalam syarahnya pada Fathul Bari hadits At Tirmidziy tentang kebolehan dusta dalam tiga hal: di antaranya peperangan, dan kisah Al Hajjaj Ibnu ‘Allath tentang permintaan izinnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan tentang beliau apa yang ia inginkan demi kepentingannya dalam menyelamatkan hartanya dari penduduk Mekkah.

Al Bukhari juga meriwayatkan kisah keislaman Abu Dzar (3861) dan di dalamnya terdapat banyak pelajaran dalam bab ini yang menunjukan bahwa para sahabat sangat menjaga terhadap sebab-sebab kehati-hatian, siap-siaga dan kitman, serta mereka tidak bersikap thafrith sedikitpun dalam hal itu, kemudian di dalamnya ada sikap keragu-raguan Ali  Ibnu Abi Thalib radliyallahu ‘anhu selama tiga hari terhadap Abu Dzar tanpa membuka ungkapan sedikitpun kepadanya sampai ia merasa yakin dengannya dan ia mendengar berita tentangnya sebelum itu, serta meminta kejelasan tentang sikap seriusnya terhadap Islam dan keinginannya bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kesepakatannya bersamanya untuk berjalan di belakangnya hingga menyampaikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mencurigakan Quraisy dengan hal itu dan ucapan Ali:

إن رأيت شيئاً أخاف عليك قمت كأني أريق الماء ، فإن مضيت فاتبعني حتى تدخل مدخلي

Bila saya melihat sesuatu yang saya khawatirkan terhadapmu maka saya berbuat seolah saya menuangkan air, kemudian bila saya berlalu maka ikutilah saya sampai saya masuk ke tempat saya masuk sampai akhir kisah….

Dalam Al Qur’an Allah ta’ala mengabarkan kepada kita dalam kisah para pemuda Ashhabul Kahfi tentang kehati-hatian mereka dari kaum mereka dan ucapan mereka tentang orang yang mereka utus ke kota:

وَلْيَتَلَطَّفْ وَلا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا (١٩) إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

“Dan hendaklah ia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan merajam kamu atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”, (QS. Al Khafi: 19-20).

Maka ini semuanya dan yang lain adalah banyak, menunjukkan secara jelas bahwa mengambil sebab-sebab kehati-hatian, siap-siaga, kitman, pengecohan musuh, tipu daya terhadap mereka dan dusta terhadap mereka untuk menjauhi tipu muslihat mereka; semua itu adalah hal-hal yang disyari’atkan yang tidak ada dosa atas orang muslim di dalamnya dan ia tidak dicela terhadapnya. Dan justru sikap tidak mengambil faidah dari itu, mengabaikannya dan tidak menggunakannya adalah bisa menyebabkan musuh-musuh Allah menguasai para du’at dan mujahidin, dan bisa menggagalkan upaya mereka dan mematahkan jihad mereka.

Bila hal ini sudah jelas diketahui, maka ketahuilah bahwa manusia dalam hal ini antara ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (teledor), di mana sebagian mereka berlebih-lebihan di dalamnya, sampai ia tertimpa kelumpuhan total dan sampai ia takut dari bayang-bayangnya serta ia mengira setiap teriakan diarahkan terhadapnya, dan di antara mereka itu ada yang meninggalkan dakwah dan jihad setelah sebagian keterpurukan yang menimpanya akibat dia tafrith dalam hal ini, dan ia setelahnya beralih arah kepada sikap ifrath serta pada akhirnya ia berinteraksi dengan musuh-musuh Allah seolah mereka itu –semoga mereka gagal dan rugi– megetahui rahasia dan apa yang disembunyikan (hati), dan ia tidak berdaya dihadapan teknologi modern serta ia terbius oleh kemampuan-kemampuan alat-alat itu dalam pengorekan berita, pencurian info dan pengintelan sehingga ia hampir tidak menggunakan komputer atau telepon atau alat-alat komunikasi lainnya, dan andaikata ia bisa menggunakan merpati pengirim surat tentu ia tidak menggunakan yang lainnya.

Padahal masalahnya tidak butuh melebihi sedikit saja dari keahlian terhadap sarana-sarana ini untuk menjauhi akibat-akibatnya dan kerusakan-kerusakannya ditambah keahlian lain terhadap metode-metode tipu daya, pengecohan dan penghilangan jejak terhadap musuh-musuh Allah, agar senjata makan tuan.

Adapun kita meninggalkan sarana-sarana ini dan tidak menggunakannya untuk dakwah dan jihad dengan alasan bahwa ia bisa disadap dan disusupi, atau kita bersikap berlebihan dalam kekhawatiran dan ketakutan dari hal itu tanpa alasan yang menuntut, maka itu adalah keterkaparan dan kekalahan di hadapan gemerlap teknologi musuh-musuh Allah dan keindahan luar kemampuan mereka.

Saya pernah berkunjung ke rumah sebagian pemuda setelah dia keluar dari ujian penjara yang mana sebagian mereka di dalamnya mengakui terhadap sebagian yang lain dalam penyidikan, belum saja saya duduk tiba-tiba langsung saja dia berdiri ke arah radio kemudian menyalakannya dengan suara yang mengganggu, maka saya berkata kepadanya: “Apa urusan kita dengan radio, matikan saja agar kita bisa berbincang-bincang,” ia berkata: “Ini penting untuk mengkaburkan alat-alat penyadap bila ia ada !” maka saya berkata: “Rumah adalah rumahmu dan pembicaraan juga adalah bersifat kekeluargaan bukan tentang keamanan, bukan pula tentang perang, dan bukan pula tentang dakwah, dan perbuatanmu ini hanyalah mengganggu kita sendiri”.

Sebagian mereka bila mengajakmu bicara di telephon, ia berlebihan dalam menggunakan penyamaran dan kode-kode dalam hal yang tidak perlu dan tidak berhak akan hal itu, sampai ia menjadikan ucapannya seperti rumus-rumus yang menarik perhatian lagi penasaran, dan bahkan kamu susah bisa untuk memahami apa yang ia inginkan, dan seandainya musuh-musuh Allah mendengar kode-kodenya itu, mereka membesar-besarkannya dan tentu mereka menduga bahwa dibaliknya ada operasi-operasi yang lebih dahsyat dari serangan-serangan ke New York dan Washington, padahal materi pembicaraan itu amat sepele dan kadang tidak penting, lagi tidak butuh kode-kode dan rumus segala.

Pada banyak keadaan, kadang terang-terangan dengan ucapan adalah lebih utama, karena tidak ada masalah di dalamnya dan tidak butuh untuk menggunakan pengecohan di dalamnya, namun demikian sebagian orang-orang yang berlebih-lebihan lebih mengutamakan kesamaran dan sikap keterlaluan dalam pengkaburan; umpamanya seseorang dari mereka menelponmu seraya berkata: “Pada saya ada amanat buatmu”, atau “ Saya ingin kamu hadir untuk hal penting“, dan ternyata amanah itu hanya sebungkus kue atau baju atau botol minyak wangi yang padahal tidak ada masalah untuk terang-terangan di dalamnya, dan juga ternyata hal penting itu adalah undangan makan siang atau makan sore, namun orang-orang yang berlebih-lebihan itu menyukai pensamaran dan tipuan sinema, dan mereka tidak mengetahui bahwa hal itu dalam keadaan-keadaan ini justeru membahayakan dan tidak manfaat, terutama bila komunikasi mereka itu kepada orang-orang yang dipantau oleh aparat keamanan yang mana musuh-musuh Allah itu memperhitungkan mereka terhadap setiap ucapan. Bila mereka itu ditangkap tentu musuh-musuh Allah itu tidak mempercayai mereka, walaupun mereka bersumpah di hadapan mereka itu dengan sumpah sungguhan bahwa amanah itu adalah hal-hal yang tadi disebutkan, atau bahwa pertemuan itu adalah makan siang atau makan malam, dan musuh-musuh Allah itu tidak akan membiarkan mereka sampai mereka mencabuti kuku-kuku mereka dan merobek-robek kulit mereka agar mereka menyerahkan senjata-senjata dan bahan-bahan peledak, dan agar mereka mengakui pertemuan militer atau pertemuan organisasi yang penting yang ada di balik rumus-rumus dan kode-kode itu.

Sebagian mereka mengakui di hadapan musuh-musuh Allah terhadap komunikasi-komunikasinya yang bisa jadi membahayakan dia dan ikhwannya tanpa sedikitpun pukulan atau ancaman dengan dalih bahwa ia mendengar atau membaca tantang teknologi modern yang mampu menyadap intonasi suara orang yang dicari bila mereka membeberkannya lewat satelit di telepon-telepon dunia !! dan seolah komunikasi dia itu berputar sekitar senjata-senjata pemusnah massal !! dan karenanya ia merasa keberatan dari dusta terhadap mereka, karena kedustaannya akan terbongkar lewat sarana teknologi itu, dan saya tidak tahu apa bahaya terhadap orang muslim bila kedustaan dia terhadap mereka itu diketahui dan terbongkar mereka ? atau ia menunggu dari mereka SKKB, ataukah ia merasa malu dari berdusta terhadap makhluk Allah yang paling dusta, paling busuk dan paling khianat, padahal dusta dia itu bila terjadi maka adalah untuk melindungi dakwah dan jihadnya, serta untuk menghindarkan kedzaliman dari dirinya dan ikhwannya, adapun kedustaan mereka yang mendasar maka dalam rangka untuk memberangus dakwahnya dan menghabisi jihadnya serta untuk mendzalimi dia dan ikhwannya.

Bila ini adalah contoh-contoh dari pengaruh-pengaruh negatif ketercengangan sampai batas bertekuk lutut di hadapan teknologi modern dan kemampuan musuh-musuh Allah, dan sedikit dari pengaruh-pengaruh ifrath dan berlebih-lebihan dalam pensamaran (berkamuflase) dan rasa khawatir atau kehati-hatian sampai pada batas was-was, tanpa ada kebutuhan dan dalam hal yang tidak ada guna di baliknya.

Maka di sisi yang berlawanan, sebagian orang telah bersikap tafrith dalam hal yang penting ini dengan tafrith yang besar, dia menelantarkannya dan tidak mengindahkannya secara total, di mana engkau bisa melihat rahasia-rahasianya tertulis, catatan-catatannya, pertemuan-pertemuannya yang penting, rencana-rencananya, rincian-rincian tandhimnya, pendanaan dan infaqnya, semua itu dan yang lainnya tertuang di atas kertas di zaman teknologi, dan dengan rincian-rinciannya secara gamblang tanpa pensamaran atau kode. Bila datang kepadanya surat penting yang bersifat peringatan atau tandhim atau keamanan, maka surat itu tetap di sakunya –saya tidak tahu apakah itu untuk kenang-kenangan !!– berhari-hari dan berpekan-pekan, atau surat itu berada berbulan-bulan dan kadang bertahun-tahun tanpa dimusnahkan; menunggu musuh-musuh Allah supaya surat itu menjadi buruan yang berharga bagi mereka dalam awal penggeledahan rumahnya atau penangkapannya yang secara tiba-tiba, sehinga ia dengan sebabnya tidak bisa mengelak ke kanan atau ke kiri dalam penyidikan, dan keteledorannya ini menjadi penyebab ketertangkapan ikhwannya dan penggagalan kegiatan atau jihad mereka, atau engkau melihat dia berinteraksi bersama sarana-sarana komunikasi dengan kepercayaan yang buta, dan bila sebagian ikhwannya menghati-hatikannya atau menasehatinya untuk hati-hati dan siaga atau untuk menyembunyikan pembicaraan tentang ziarah atau pertemuan atau  untuk membakar surat setelah ia baca atau untuk tidak menyimpan nama-nama dan alamat-alamat secara sebenarnya dan lengkap di lembaran-lembaran atau tempat-tempat yang kemungkinan jadi obyek pemeriksaan musuh-musuh Allah atau bersama sosok-sosok yang ada kemungkinan disidik dan ditangkap, maka ia mengherankan hal itu dan mengingkarinya dan bisa jadi ia menganggapnya sebagai kepengecutan dan aib…, maka saya tidak tahu apa yang dikatakan orang semacam ini, seandainya ia melihat sebagian ikhwannya bersembunyi di dalam goa kecil yang penuh dengan lobang-lobang ular yang tidak mencukupi kecuali bagi dua orang saja saat ia dicari orang-orang kafir…?! Tidak ragu bahwa aib seperti hal ini tidaklah muncul, kecuali dari kalalaian dari sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketercelupan dalam hidup santai, dan jauh dari kehidupan jihad dan ‘amal yang serius bagi dienullah, serta kecenderungan kepada ketentraman yang palsu yang dirasakan oleh keumuman manusia dan orang-orang hina dan yang dipropagandakan oleh para thaghut dan anshar mereka.

Tafrith, penyepelean dan ketidakpedulian ini telah menghantarkan banyak percobaan kepada kegagalan dan keterpurukan yang menyedihkan orang-orang Islam dan menyenangan musuh-musuh Allah, kemudian mereka membesar-besarkannya dan menjadikan dari kegagalannya keberhasilan-keberhasilan dan kemenangan-kemenangan bagi alat-alat keamanan mereka terhadap teror, padahal sebenarnya bahwa sebab kegagalan itu bukanlah kecerdikan musuh-musuh Allah dan bukan pula kecermatan aparat keamanan mereka akan tetapi tafrith dan pengabaian percobaan-percobaan itu terhadap sisi ini.

Alangkah sedih dan pedihnya saya, saat melihat sebagian orang yang tidak menerima nasehat dalam masalah-masalah ini dari kalangan para pemuda yang tidak belajar dari percobaan-percobaan orang lain dan tidak mengambil pelajaran dengan keterpurukan-keterpurukan mereka kemudian mereka malah mengulang ketergelinciran-ketergelinciran mereka dan melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Bila salah seorang mereka berniat melakukan operasi jihad dan ia memiliki senjata, maka ia tidak merasa cukup dengan memperlihatkannya kepada setiap orang yang ia jumpai, bahkan ia memberitahukan kepada mereka cita-citanya, impian-impiannya dan rencana-rencananya dalam ‘amal jihadiy kemudian ia tidak tahu setelahnya dari mana datang keterpurukan dan bagaimana cita-cita dan rencana-rencananya kembali dengan kegagalan !!.

Membuat saya sedih realita di mana ahli dunia dari kalangan organisasi-organisasi bumi (anshar thaghut dan yang sejenisnya, ed.) sangat menguasai dasar-dasar kegiatan militer dan pondasi-pondasi keamanannya, di mana engkau melihat mereka bila hendak beroperasi tidak mengabarkan tentangnya dan target-target sasarannya dan tidak memberitahukan tentang perlengkapan dan senjatanya, kecuali kepada para pelaksana saja dan menjelang  pelaksanaan beberapa saat saja yang tidak memungkinkan bocornya sesuatu dari kabar-kabar operasi mereka, dan para pelaksana juga tidak mengetahui lebih dari sekedar apa yang mereka butuhkan berupa informasi untuk melaksanakan tugas mereka. Adapun sumber-sumber senjata dan tempat-tempat penyimpanannya, siapa yang memasok dan menyerahkannya kepada mereka, dan apakah ada yang lain dan apakah di sana ada target-target lain yang akan diemban oleh teman-teman mereka serta yang lainnya, maka ini semua termasuk hal yang tidak usah diketahui dan dianggap tanggung jawab keamanan yang tidak sah orang yang menghormati ‘amal militernya memikulkannya kepada orang yang tidak berkepentingan, oleh sebab itu kesalahan-kesalahan dan keterpurukan pada saat kegagalan operasi-operasi semacam ini bersifat terbatas, beda halnya dengan keterpurukan yang mematikan yang melalap setiap orang disekitarnya dengan sebab sikap sembrono sebagian orang-orang yang ngawur yang masuk ke medan dan kegiatan militer dengan serabutan dan kedunguan, padahal orang muslim adalah orang yang lebih layak dengan keprofesionalan, keteraturan, kehati-hatian dan kesigapan dalam masalah ini, karena sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sangat sarat dengan rambu-rambu dan pengalaman-pengalaman yang agung dalam bab ini yang telah lalu pengisyaratan-pengisyaratan kepadanya, sedangkan jihad itu amat butuh kepada singa-singa dan rajawali-rajawali bukan kepada burung-burung pipit dan burung-burung kutilang.

Di antara bentuk tafrith dalam bab ini juga adalah bahwa sebagian para pemuda berinteraksi dengan senjata setelah Allah membimbingnya ke jalan ini sebagaimana ia berinteraksi dengannya di masa-masa jahiliyyahnya dengan bersandar pada kesombongan suku dan kabilahnya yang telah kami bahas di renungan yang lalu; di mana engkau melihat dia tidak merasa bermasalah dari menampakkan kepemilikannya, dan engkau lihat dia berputar-putar dengan mobilnya dan berkeliling ke sana ke sini dengan membawa senjata otomatisnya, bahkan bisa jadi sebagian bom dan peluru dengan penampakkan yang amat aneh, ia memperlihatkan kepada orang ini dan menampakkannya kepada orang itu. Bila engkau mengingatkannya atau menghati-hatikannya dan menasehatinya bahwa penampakan ini tidaklah pantas bagi para penempuh jalan ini, dan bahwa hari-hari jahiliyyahnya telah berlalu, dan telah ganti serta berubah terhadapnya pandangan musuh-musuh Allah dengan sekedar nampaknya beberapa helai jenggot di wajahnya, atau dengan kedekatan dia dari sebagian pengusung gerakan jihad serta hubungan dia dengan mereka; maka ia menganggap nasehatmu tidak layak dan ia menganggap itu aneh serta ia tidak menyadarinya, kecuali setelah nasi menjadi bubur, dan bisa saja dia menuduhnya sebagai sikap takut dan kepengecutan, serta dia berkata tidak usah berlebih-lebihan karena urusannya biasa saja…, kemudian bila dia ditangkap dan diberi cobaan dengan sebab tafrithnya ini, maka urusannya bagi dia tidak lagi biasa dan bahkan tidak pula  (otomatis), akan tetapi biasanya macam orang seperti ini berbalik setelah cobaan ini ke sisi ifrath yang lalu, di mana engkau melihatnya ketakutan dari bayangannya lagi down di hadapan teknologi modern lagi trauma dari kemampuan musuh-musuh Allah yang dahsyat dan badan-badan intelejen mereka yang mengerikan yang bisa membongkar senjata-senjata dan bom-bom dia yang nampak terbuka….!!

Ia silau oleh musuh-musuh Allah dan ia membesar-besarkan kemampuan aparat keamanan mereka dengan cara menyandarkan keterjatuhan dia kepada kelihaian musuh-musuh Allah, kebusukan mereka dan kekuatan intelejen mereka, tidak kepada kedunguannya dan petantang-petentengannya serta keteledorannya.

Sedangkan Al haq itu tidak bersama tafrith dia sebelumnya dan tidak pula bersama ifrathnya setelahnya, akan tetapi bersama pertengahan dalam hal itu semua, maka sudah sepatutnya orang-orang yang meniti jalan ini meningkatkan diri pada level jihadnya yang agung dan menguasai pengetahuan mengenai tipu daya musuh-musuhnya, serta menggunakan sebab-sebab kehati-hatian, kesiap-siagaan, keamanan dan kitman tanpa ifrath dan tanpa tafrith, saya memohon kepada Allah ta’ala untuk menolong wali-wali-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya….

******

Renungan ke Sebelas

Masalah Perang Bersama Amir Yang Fajir

Sudah maklum pada Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tentang kebolehan qital bersama amir yang fajir untuk menghadang musuh yang kafir bila tidak ada amir yang shalih untuk menghadangnya dan jihad tidak mungkin dilaksanakan kecuali bersama si fajir itu. Masalah ini adalah masyhur pada Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dan penyebutannya telah berulang kali pada mereka di kitab-kitab fiqh bahkan di kitab-kitab aqidah, di mana mereka dengannya menyelisihi ahli bid’ah, dan ia adalah masalah yang dibangun di atas kaidah penolakan mafsadah terbesar dari dua mafsadah dengan menanggung yang paling kecil dari keduanya, sedang ia adalah kaidah yang terkenal dari kaidah-kaidah fiqh.

Syaikhul Islam  Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al Fatawa 28/506:

من أصول أهل السنة والجماعة الغزو مع كل بر وفاجر ، فان الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر وبأقوام لا خلاق لهم ، كما اخبر بذلك النبي صلى الله عليه وسلم لانه إذا لم يتفق الغزو الا مع الأمراء الفجار ، أو مع معسكر كثير الفجور ، فانه لا بد من أحد أمرين ؛ إما ترك الغزو معهم فيلزم من ذلك استيلاء الآخرين الذين هم اعظم ضررا في الدين والدنيا ، واما الغزو مع الأمير الفاجر فيحصل بذلك دفع ألافجرين و إقامة اكثر شرائع الإسلام وان لم يمكن إقامة جميعها ، فهذا هو الواجب في هذه الصورة وكل ما أشبهها ، بل كثير من الغزو الحاصل بعد الخلفاء الراشدين لم يقع الا على هذا الوجه

“Di antara prinsip Ahlus sunnah Wal Jama’ah adalah berperang bersama setiap (amir) yang baik dan fajir (buruk), karena sesungguhnya Allah menguatkan dien ini dengan orang yang fajir dan dengan orang-orang yang tidak memiliki bagian sedikitpun sebagaiman hal itu telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena bila perang tidak terlaksana kecuali bersama para amir yang fajir atau bersama pasukan yang banyak fujur (maksiat)nya, maka sesungguhnya mesti terjadi salah satu dari dua hal: meninggalkan jihad bersama mereka, sehingga mesti dari hal itu penguasaan orang-orang lain yang mana mereka itu lebih bahaya  dalam agama dan dunia, atau berperang bersama amir yang fajir sehingga dengan hal itu terhindarlah bahaya yang paling besar dan tegaklah mayoritas ajaran Islam meskipun tidak bisa menegakkan seluruhnya, maka inilah hal yang wajib dalam gambaran ini dan setiap gambaran yang menyerupainya, bahkan dari peperangan yang terjadi setelah khulafaurrasyidin tidak terjadi kecuali atas gambaran ini) Selesai.

Dan Ath-Thahawiy berkata:

والحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين برهم وفاجرهم إلى قيام الساعة ، لا يبطلهما شيء ولا ينقضهما

“Haji dan jihad berjalan bersama para pemerintah dari kaum muslimin, baik maupun buruk, sampai hari kiamat, tidak ada sesuatupun yang menggugurkannya dan membatalkannya”, selesai.

Dan diriwayatkan dalam hal itu hadits dengan lafad:

(الجهاد ماض مع البر والفاجر) أخرجه أبو داوود وأبو يعلى مرفوعا وموقوفا عن أبى هريرة وقال ابن حجر في الفتح : (لا باس برواته الا ان مكحولا لم يسمع من أبي هريرة ).

Jihad itu berlangsung bersama (amir) yang baik dan yang fajir. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Abu Ya’la secara marfu’ dan mauquf dari Abu Hurairah, dan Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bariy: (Para perawinya tidak bermasalah, akan tetapi Makhul tidak mendengar dari Abu Hurairah).

Sebagaimana yang telah saya katakan (bahwa) ini adalah hal yang sudah diketahui pada Ahlus sunnah Wal Jama’ah yang telah membangun di atasnya banyak dari para pemuda mereka di zaman kita ini keikutsertaan mereka di banyak front peperangan, akan tetapi masalah yang samar terhadap banyak dari para pemuda itu dan yang ingin saya ingatkan di sini adalah keberadaan yang dimaksud dengan amir yang fajir yang mana Ahlus Sunnah membolehkan ghazwah (invasi) dan qital bersamanya dalam rangka menghadang musuh yang kafir pada kondisi ketidakmungkinan penghadangannya kecuali dengan perang bersama amir fajir itu…

Saya katakan: Yang dimaksud dengan fajir di sini adalah orang yang keburukan (maksiatnya) kembali terhadap dirinya sendiri, seperti orang yang melakukan sebagian maksiat semacam minum khamr dan kefasikan lainnya yang tidak membahayakan kaum muslimin, maka inilah amir yang dimaksud dengan orang yang mana Ahlus Sunnah membolehkan perang bersamanya dan sabar pada kafajirannya untuk menghadang musuh yang kafir, dengan dalil penyandaran mereka dalam hal itu terhadap kaidah penolakan salah satu mafsadah yang terbesar dengan menanggung yang paling ringan di antara keduanya, maka itu adalah jelas bahwa syarat kebolehan perang bersama amir yang fajir itu dikatakan terhadap keberadaan mafsadahnya itu adalah secara pasti lebih ringan dari mafsadah orang kafir itu, dan oleh sebab itu mafsadahnya dipikul untuk menghadang mafsadah yang lebih besar darinya.

Berbeda halnya seandainya kefajiran si amir dan bahayanya itu menularkan kerusakan terhadap kaum muslimin, sehingga mafsadah pengangkatan dia sebagai amir atau berperang bersamanya adalah sama setara atau lebih besar dari mafsadah meninggalkan perang melawan orang-orang kafir maka si fajir ini bukanlah sama sekali yang dimaksud oleh Ahlus sunnah dalam ucapan mereka itu.

Seandainya engkau mengamati ucapan-ucapan mereka dalam bab ini dan kaidah yang lalu yang menjadi pijakan mereka dalam hal itu, tentulah engkau sedikitpun tidak akan ragu dalam pemilahan ini, oleh sebab itu tatkala Imam Ahmad ditanya tentang dua laki-laki, keduanya adalah amir dalam peperangan, salah satunya kuat lagi fajir, sedangkan yang lain adalah shaleh lagi lemah, bersama yang mana perang dilakukan? (…Maka beliau berkata:

( قال : أما الفاجر القوي فقوته للمسلمين وفجوره على نفسه ، واما الصالح الضعيف فصلاحه لنفسه وضعفه على المسلمين ، فيغزى مع القوي الفاجر ، وقد قال صلى الله عليه وسلم : ان الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر ، وروي بأقوام لا خلاق لهم …) اهـ.عن مجموع الفتاوى (28/255)

“Adapun orang fajir yang kuat, maka kekuatannya adalah bagi kaum muslimin sedangkan kefajirannya adalah terhadap dirinya, dan adapun orang yang shaleh namun lemah makan kesalehannya adalah bagi dirinya sendiri, sedangkan kelemahannya adalah merugikan kaum muslimin maka perang dilakukan bersama orang yang kuat lagi fajir, dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:”…Sesungguhnya Allah menguatkan dien ini dengan laki-laki yang fajir dan dengan orang-orang yang tidak memiliki sedikitpun bagian……)  Selesai, dari Majmu Al Fatawa 28/255.

Perhatikanlah ucapan Imam Ahmad tadi “sedangkan kefajirannya adalah terhadap dirinya“ agar kamu paham tentang siapa para ulama berbicara…

Seperti itu pula apa yang diutarakan Ibnu Qudamah tentangnya dalam Al Mughniy:

إن كان القائد يعرف بشرب الخمر والغلول يغزى معه ؛إنما ذلك في نفسه ويروى عن النبي صلى الله عليه وسلم ان الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر

“Bila si panglima itu dikenal suka minum khamr dan ghulul ( mencari ganimah sebelum dibagi-bagi), maka tetap berperang bersamanya, karena hal itu hanyalah kembali pada dirinya sendiri, dan diriwayatkan dari Nabi saw bahwa Allah menguatkan dien ini dengan laki-laki yang fajir ), selesai.

Bila hal ini terbukti jelas dan diketahui bahwa permasalahan qital bersama amir yang fajir pada kondisi ketidakadaan orang yang baik untuk menghadang orang kafir adalah dibatasi dengan batasan ini, yaitu keberadaan keburukannya kembali terhadap dirinya sendiri dan tidak menghantarkan pada pengrusakan dalam kaum muslimin, dan keberadaan kerusakan yang bisa muncul dengan sebab pengangkatan dia sebagai amir adalah lebih kecil daripada kerusakan orang-orang kafir dan penguasaan mereka atas kaum muslimin. Dan bahwa pada kondisi keberadaan kerusakan si amir yang fajir dan bahayanya terhadap kaum muslimin itu sama setara dengan bahaya orang-orang kafir dan dengan penguasaan mereka terhadap kaum muslimin atau malah lebih; maka tidak ada satupun alasan baik secara syar’iy maupun akal yang melegalkan qital (perang) bersama orang fajir ini, karena kaidah yang mana hukum itu dikaitkan terhadapnya adalah tidak tepat untuk diterapkan terhadapnya, di mana ia tidak merupakan mafsadah yang paling ringan sehingga bisa dipikul untuk menghadang yang lebih tinggi….

Saya katakan: Bila hal ini telah terbukti jelas, maka lebih utama lagi untuk tidak dimasukkan dalam kaidah ini dan tidak dicantumkan di dalamnya orang-orang dungu dari kalangan umara yang meraih kekuasaan dan tahtanya di atas kepala-kepala para syuhada dan di atas darah para pendekar seraya mereka itu mengumumkan secara terang-terangan dan tanpa sungkan-sungkan tentang paham mereka, pemikiran mereka dan rancangan-rancangan mereka ke depan dalam pemerintahan yang menganut sistem kafir “Demokrasi“ atau menjalin persaudaraan dan loyalitas dengan para thaghut Arab dan ‘ajam atau yang bersatu bersama mereka dalam organisasi-organisasi internasional mereka yang kafir, dan merengek-rengek memohon pengakuan dunia internasional !!

Bagi mereka itu tidak apalah menggerakkan emosional perasaan para pemuda dengan seruan yang bercelupkan atau kalau mau silahkan katakan berkulitkan Islamiy untuk menggaet para pemuda itu ke barisan perlawanan mereka dan menarik mereka ke kamp-kamp mereka serta menguasai terhadap sokongan dan bantuan dana mereka.

Para dajjal (penipu) itu atau katakan saja para pencopet itu tidak ragu lagi menurut saya bahwa mereka itu tergolong para imam yang menyesatkan atau para dajjal yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan umatnya tetang mereka dan menghati-hatikannya dari mereka, karena mereka itu termasuk bangsa kita dan berbicara dengan lisan kita serta menggunakan ungkapan-ungkapan kita, ayat-ayat kita dan hadits-hadits kita saat mereka butuh akan itu; kemudian bila mereka  telah mendapatkan tujuannya dan mereka telah mencapai maksudnya, maka mereka pura-pura melupakan kita, darah-darah kita dan jihad kita dan mereka membuka topeng-topeng mereka dari wajah-wajah mereka yang busuk dan hati mereka yang dengki terhadap jihad dan para mujahidin serta mereka menjual jihad dan mujahidin dengan harga yang amat murah berupa jabatan-jabatan yang hina lagi rendah…..

Seandainya para pemuda itu mengamati pernyataan-pernyataan mereka di awal mula terutama pernyataan-pernyataan yang dengannya mereka medekatkan diri kepada  saudara-saudara dan wali-wali mereka yang kafir dari kalangan para thaghut, atau wali-walinya atau lembaga-lembaganya, dan ( seandainya para pemuda itu ) tidak menutup akal mereka terhadap  kelihaian mereka berupa seruan agama yang dibuat-buat, tentulah permainan-permainan mereka itu tidak akan tersamar atas para pemuda umat ini dan tentu tidak akan terkecoh dengannya atau terpukul setelah nasi menjadi bubur… Padahal orang mukmin itu cerdas dan lihai dan ia wajib menjaga ruh ini, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam hal ruh ini dan jangan sampai ia melenyapkannya, kecuali saat yakin bisa membela dien yang agung ini. Ia tidak memiliki banyak ruh yang bisa ia jadikan percobaan di sana dan di sini, namun ia itu hanya satu ruh saja, maka hendaklah ia pelit dengannya dan jangan sampai ia menyerahkannya kepada para dajjal itu atau ia melenyapkannya di jalan mereka, dan hendaklah ia selalu ingat bahwa tidak satu nabipun melainkan ia telah menghati-hatikan umatnya dari dajjal sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan hal itu, dan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan kita agar meminta perlindungan dari fitnahnya di penghujung setiap shalat, dan itu semua tidak lain sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam adalah karena jenis fitnahnya, kebusukannya dan penipuannya adalah ada di setiap zaman, maka hendaklah kita hati-hati terhadapnya.

Di sisi yang berlainan dengan tafrith yang terjatuh ke dalamnya banyak para pemuda Islam hari ini di mana mereka tertipu oleh para dajjal itu dan mereka memejamkan mata dari kebobrokan dajjal-dajjal itu yang terbuka dan pernyataan-pernyataan mereka yang busuk serta hubungan-hubungan mereka yang kotor dengan para thaghut dan kaki tangan mereka, dan para pemuda itu tergiring di belakang slogan-slogan mereka yang palsu terus mereka berperang di bawah panji-panji mereka dengan dalih kebolehan perang di bawah kepemimpinan yang fajir, kemudian naik di punggung-punggung mereka orang-orang bejat yang telah mengkhianati apa yang mereka janjikan dan menghempaskan janji-janji mereka untuk menegakkan syari’at Allah dan komitmen dengan manhaj Allah…

Saya katakan: Sungguh sebagian pemuda telah ifrath dalam bab ini dan mereka bersikap ghuluww di mana mereka melarang dari ikut berperang bersama komandan-komandan dan atau di barisan-barisan perlawanan karena sebab sebagian cacat yang tidak sampai pada tingkat fujur (kemaksiatan) yang membahayakan kaum muslimin, dan kerusakan-kerusakannya tidak bisa dibandingkan dengan kerusakan-kerusakan penguasaan orang-orang kafir dan sama sekali tidak mendekatkannya baik dari dekat ataupun dari jauh.

Sampai berita kepada saya bahwa sebagian pemuda menolak dan enggan dari bergabung di bawah bendera mujahidin terbaik dan pilihan di zaman kita ini dengan dalih penyelisihan mereka terhadap sebagian apa yang dibawa oleh para pemuda itu berupa ijtihad-ijtihad yang padahal lapang perselisihan di dalamnya, atau dengan dalih penolakan mereka untuk komitmen dengan metode pendidikan tertentu yang diusulkan para pemuda itu dan mereka pilih dari tulisan-tulisan sebagian para syaikh serta alasan-alasan dan dalih-dalih lainnya yang tidak syar’iy yang tidak halal jihad kaum muslimin melemah dengan sebabnya atau upaya-upayanya dan kemampuan-kemampuan kaum muslimin berserakan karenanya.

Akhirnya kami menyimpulkan uraian yang lalu pada poin-poin berikut ini:

Pertama: Wajib atas mujahidin membedakan antara keberadaan amir yang fajir atau kamp yang fajir atau negara yang fajir sebagai realita yang ada sebelumnya (tidak bisa dihindari), dengan keadaan bila pilihan itu ada di tangan mujahidin dan kesempatannya sangat luas maka tidak halal bagi mereka –sedang keadaannya seperti itu– perang di bawah kepemimpinan orang fajir atau memilihnya sebagai amir atas mereka bagaimanapun keadaannya. Jadi masalah qital bersama amir yang fajir itu hanyalah menjadi kebolehan pada kondisi tidak ada lagi yang lainnya dari kalangan orang-orang yang baik atau pada kondisi kelemahan mereka.

Kedua: Wajib atas mereka membedakan antara amir yang fajir yang keburukannya terbatas pada dirinya dengan orang yang keburukan dan bahayanya merembet kepada Islam dan kaum muslimin di mana mafsadah dan bahaya dia terhadap kaum muslimin adalah lebih besar dan mafsadah orang-orang kafir atau menyertainya. Maka yang pertama adalah yang dibolehkan Ahlus Sunnah untuk berperang di bawah panjinya dalam rangka menghadang mafsadah orang-orang kafir yang lebih besar dari mafsadah dia. Sedangkan yang kedua maka Ahlus Sunnah tidak membolehkan perang bersamanya dan mereka tidak memaksudkannya dalam masalah ini ; karena kaidah yang dibangun di atasnya masalah pensyari’atan perang bersama amir yang fajir yaitu penghindaran mafsadah terbesar dengan memikul yang paling ringan tidak cocok atasnya.

Ketiga: Wajib para mujahidin itu sadar dan ingat bahwa bila amir yang fajir semacam ini dan dia itu tidak kafir akan tetapi mafsadahnya melebihi mafsadah orang-orang kafir atau menyamainya, maka sesungguhnya kaidah tersebut adalah tidak tepat terhadapnya dan tidak halal berperang bersamanya; maka apalagi tidak ada artinya untuk perang bersama amir yang terang-terangan dengan bid’ah mukaffirah atau secara tegas memilih sistem kafir atau hukum jahiliyyah… dan ringkas bahasan harus menjauhi ifrath dan tafrith dalam bab ini.

Kita menjauhi tafrith, sehingga kita tidak mengaborsi jihad kaum muslimin atau menggugurkan hasil-hasilnya dan menjadikannya sebagai tangga bagi dajjal-dajjal dan para imam yang menyesatkan, di mana di atasnya mereka naik ke posisi-posisi dunia mereka dan itu dengan melegalkan qital di bawah bendera-bendera munafiq yang busuk yang mengisyaratkan atau terang-terangan menganut sistem-sistem kafir di saat sudah berkuasa, atau menganut bid’ah-bid’ah mukaffirah dan isme-isme yang membatalkan agama Islam dan ikatannya yang paling kokoh, dengan klaim perang dibawah kepemimpinan amir yang fajir, sehingga akhirnya kita memasukan ke dalam masalah ini apa yang tidak dikandungnya dan memuatkan ke dalamnya apa yang tidak ada di dalamnya…

Dan kita (juga,ed) menjauhi ifrath, sehingga kita tidak menggembosi ikhwan kita yang berjihad dengan cara menggugurkan kaidah ini dan membatalkannya dengan cara kita mensyaratkan untuk berperang bersama mereka syarat-syarat yang tidak Allah turunkan satu dalilpun untuknya, umpamanya kita mensyaratkan bersihnya barisan-barisan mereka dan kosongnya dari pelaku maksiat, sedangkan ia adalah hal yang tidak bisa tercapai, kecuali dalam apa yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat keluarnya Al Mahdiy di akhir zaman dan terpilahnya manusia menjadi dua tenda, tenda iman yang tidak ada kemunafikan di dalamnya dan tenda nifaq yang tidak ada keimanan di dalamnya.

Karena telah lalu ucapan Syaikhul Islam tentang perang bersama amir yang fajir: “bahkan banyak dari peperangan yang terjadi setelah khulafa rasyidin tidaklah terjadi kecuali atas bentuk ini”

Atau kita mensyaratkan mereka komitmen dengan ijtihad-ijtihad atau pilihan-pilihan kita yang boleh saja berselisih di dalamnya, atau mengharuskan mereka untuk menerima pikiran-pikiran dan ide-ide kita secara rinci tanpa kecuali, dan kalau tidak menerima maka tidak ada perang, sehingga dengan hal itu kita menggembosi mereka atau menyia-nyiakan sebagian kesempatan untuk menang dan tamkin (keberkuasaan di muka bumi), dengan sebab sempitnya pandangan kita dan buruknya pemahaman kita…

Sedangkan dalam Al Bukhariy ada bab: Jihad itu berlangsung bersama orang yang baik dan orang yang fajir. Dan di dalamnya ada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الخيل معقود في نواصيها الخير إلى يوم القيامة الأجر والمغنم

“Kuda itu terikat pada ubun-ubunnya kebaikan sampai hari kiamat, pahala dan ghanimah.

Maka dalam hadits ini dan hadits:

لاتزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق إلي قيام الساعة

Akan senantiasa segolongan dari umatku berperang di atas al haq sampai hari kiamat

Ada kabar gembira tentang tetapnya keberadaan mujahidin dan keberlangsungan terus jihad serta ia tidak tergugurkan walaupun berbagai kondisi yang menimpa sampai hari kiamat.

Maka hendaklah kita tetap bersatu sebagai saudara-saudara yang saling mencintai, dan hati-hatilah dari perpecahan dan absen dari kafilah dengan alasan-alasan yang kosong.

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”, (QS. Al Ankabut: 6 ).

********

Bersambung…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: