Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad » Renungan Terhadap hasil-Hasil Jihad (Bag. 3)

Renungan Terhadap hasil-Hasil Jihad (Bag. 3)


Renungan Ke Lima

Kesukuan Dan Bahaya Kecenderungan Kepadanya

Allah ta’ala berkata kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu“ (QS. Adh Dhuha: 6).

Yaitu melindungimu (dengan menyerahkanmu) kepada kakekmu yang kafir dan setelahnya kepada pamanmu yang kafir yang melindungimu, menolongmu, menjagamu dan menghindarkan darimu gangguan kaummu. Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala tentang musuh-musuh Nabi-Nya Syu’aib:

وَلَوْلا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ

“Kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu“, (QS. Huud: 91). Sedangkan keluarganya adalah orang-orang kafir.

Dan Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Shalih dan ahli warisnya yang melindunginya:

قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

“Mereka berkata: ”Bersumpahlah kamu dengan nama Allah bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”, (QS. An-Naml: 49).

 

Maka tidak ada dosa atas da’i atau mujahid bila dia dibantu oleh kaumnya yang kafir atau dibela oleh kabilahnya atau marganya dengan dorongan kejahiliaan dan kesukuan. Dan tidak apa-apa atasnya untuk mengambil faidah dari dukungan kaumnya terhadapnya dengan ikatan-ikatan kefanatikan dan hubungan nasab (keturunan) selagi dia tidak menjalinkan al wara’ dan al bara’ atau kecintaan atas dasar pertalian-pertalian jahiliyyah.

Termasuk jenis itu adalah sikap bantuan atau pembelaan yang diberikan kepadanya oleh sebagian kaum nasionalis atau pengusung HAM atau demokrat atau yang lainnya yang menganut paham (isme) diluar Islam. Serupa itu pula andaikata ia dibantu dan dibela atau ditolong oleh sebagian utusan organisasi-organisasi internasional yang kafir, baik Kristen atau yang lainnya yang bergerak dalam bidang meringankan kedzaliman: Maka tidak dosa atas dia selagi dia kafir dan bara’ dari paham-paham yang menyimpang dan agama-agama yang kafir ini, dan tidak memujinya atau membangun loyalitas dan permusuhan di atas dasarnya.

Akan tetapi hal yang tidak halal baginya sama sekali dan maksud kami di sini adalah pengingatan dan penghati-hatian darinya adalah cenderung kepada kabilah atau hal-hal serupa yang tadi disebutkan, bersandar kepadanya dan percaya kepadanya, maka tidak ada dosa atas orang muslim bila Allah menundukkan badan-badan itu baginya di waktu-waktu atau kondisi-kondisi tertentu dan mengambil faidah darinya, adapun dia cenderung kepadanya atau mengharapkannya di awal dan bersandar terhadapnya dalam jihadnya, maka ini ketergelinciran yang mematikan yang saya menyaksikan orang-orangnya, dan saya telah menasehati mereka, namun ternyata sedikit saja yang mau menerima nasehat….

Saya telah kerahkan nasehat bagi mereka tentang jalan yang bengkok namun mereka tidak menyadarinya kecuali besok paginya. Di antara mereka ada pemuda yang digerakkan semangat tanpa paham akan syari’at atau realita, mereka itu baru saja bangkit dari kejahiliyyahannya yang mana mereka belum melepaskan diri dari kesombongan dan keangkuhannya dengan tali-tali kesukuan… sampai sebagian mereka menganggap penggunaan cara-cara rahasia dan sembunyi sebagai aib atau pengecut dan cacat.

Pemuda yang lain, kebersandarannya terhadap realita kekabilahan yang ia hidup di dalamnya mendorong dia untuk menenteng terang-terangan senjata otomatisnya dan bahkan bom-bomnya, dia mondar-mandir ke sana ke mari dengan mobilnya yang membawa barang-barang tadi seraya memperlihatkannya kepada si ini dan si itu, dan ia mengobral ucapan kepada setiap orang tentang impian dan angan-angannya ingin memerangi Amerika dan menghancurkan pangkalan-pangkalannya di negerinya ini. Kemudian sangat tercengang saat dihadapkan kepada musuh-musuh Allah dalam penyidikan-penyidikan mereka tentang itu semua, dan ia bertanya-tanya: Bagaimana mereka bisa mengetahuinya ?! dan bagaimana bisa sampai kepada mereka ?! dan ia menyandarkan itu semua kepada kemampuan-kemampuan mereka yang dahsyat… alat-alat pengamanan mereka yang modern dan intel-intel mereka yang disebar di mana-mana… dan… dan…  Sama sekali dia tidak menyandarkannya kepada keteledoran dia, kecenderungannya dan sikap ngawurnya yang dia lupakan.

Sering sekali saya mengingatkan orang-orang semacam mereka itu dan saya menasehati mereka agar tidak bersandar terhadap apa yang telah mereka biasa ketahui sebelumnya berupa sikap tak peduli para thaghut terhadap kabilah-kabilah mereka dan kepemilikan mereka akan senjata, dan bahwa mereka itu hanyalah bersikap demikian terhadap kabilah-kabilah tersebut selagi loyalitas si kabilah terhadap Negara itu jelas, bahkan di sebagian Negara para thaghut menghadiahkan senjata yang dihiasi emas dan aksesoris kepada para pimpinan suku dan kepala kabilah. Dan itu semua tidak lain karena para thaghut mengetahui bahwa senjata ini tidak akan digunakan kecuali untuk membela Negara dan mengokohkan tahta para thaghut selagi kabilah atau suku dari mereka itu loyalitasnya kepada mereka.

Adapun bila anak kabilah ini telah merubah loyalitasnya, di mana loyalitasnya hanya bagi Islam dan para pemeluknya, serta ia telah menjadi bagian dari anshar dien ini dan dia menampakkan permusuhannya tehadap thaghut dan berlepas diri dari wali-walinya atau dia berupaya melangkah untuk menjihadi juragan-juragan thaghut barat atau timur, maka saat seperti itu akan berbedalah timbangan dan berbaliklah urusan-urusannya serta si thaghut sekarang akan menampakkan taring-taringnya terhadap anak kabilah itu, bahkan terhadap seluruh anggota kabilah ini  bila mereka berfikir untuk melindungi dan memberinya tempat. Bagaimana tidak, sedangkan banyak dari para thaghut itu telah menyamar pura-pura tidak kenal dan menghabisi orang-orang terdekatnya saat segalanya terbuka, di antara mereka ada yang membunuh bapaknya atau mengkhianati saudaranya dan menyingkirkan orang-orang terdekatnya demi melanggengkan kepentingan-kepentingannya atau kepentingan kekuasaannya atau demi kepentingan-kepentingan tuan-tuannya; maka apa masuk akal bila suku atau kabilah menjadi batu sandungan penghalang baginya atau rintangan di hadapannya…?

Sebenarnya ini adalah hal yang nampak lagi terkenal, dan ia adalah nampak jelas juga pada sirah Rasulullah saw di mana bangsa Quraisy bersikap tidak ramah terhadapnya padahal beliau itu tergolong dari suku termulia dan terpandang tatkala beliau menampakkan keberlepasan dirinya dari ajaran mereka serta menjaharkan permusuhannya terhadap tuhan-tuhan mereka dan menjelek-jelekannya, maka mereka tidak peduli dengan sukunya, akan tetapi mereka bersekongkol menjepit sukunya dan memboikot Banu Hasyim di Syi’ab, memutus segala hubungan mereka dan menyakiti mereka.

Begitulah, sesungguhnya para thaghut di setiap masa bersandar kepada kabilah-kabilah dalam mengokohkan tahta mereka, dan membiarkan banyak kelancangan-kelancangan dan penyimpangan-penyimpangan selagi tetap loyal terhadap mereka, berdiri di barisan mereka dan memblok kepada mereka. Adapun bila ia berpikir untuk membela sebagian anak-anaknya yang berdiri di blok yang melawan thaghut itu –sedang ini adalah jarang di zaman kita ini– maka sesungguhnya thaghut saat itu tidak peduli dengannya, namun ia akan menghancurkannya dan menghabisinya seolah kemarin kabilah-kabilah itu tidak akrab di sisinya. Masyarakat telah mengalami hal itu di negeri kami dan mereka melihat bagaimana desa-desa dan kota-kota dihancurkan seluruhnya, dan bagaimana ia telah menjadi medan pertempuran yang digilas oleh tank-tank dan dibombardir pesawat-pesawat tempur saat ia berupaya melindungi sebagian anak–anaknya dan ia menolak dari menyerahkan mereka kepada Negara. Dan dahulu saya mendengar musuh-musuh Allah mencaci para pemuda dan suku-suku mereka itu dengan ucapan-ucapan yang paling kotor dan hinaan-hinaan yang paling buruk, dan mereka berkata: Kita punya garis-garis merah yang bila dilampaui, maka kami tidak akan menanyakan perihal suku dan lainnya.

Saya tidak ragu bahwa di antara garis-garis merah yang paling penting dan sebelum menyentuh tahta mereka; adalah upaya menyentuh keamanan tuan-tuan mereka bangsa Amerika.

Dan kamu tidak usah heran setelah itu dan setelah kota-kota dibumihanguskan; bila suku-sukunya itu keluar seraya mengumumkan loyalitasnya kepada pemerintah dan keberpihakannya kepada politik-politiknya dengan cara berlepas diri dari orang-orang yang menentangnnya lagi menyelisihi undang-undangnya, walaupun mereka itu termasuk anak-anaknya yang paling mulia, karena sesungguhnya sekarang adalah zaman kehinaan dan kenistaan.

Apa belum tiba saatnya bagi saudara-saudara kita untuk memahami pelajaran ini dan mereka mencopot di hadapan pintu Islam kesombongan jahiliyyah dan kecenderungannya kepada suku-suku sendiri atau berbaik sangkanya kepada kabilah, serta mereka mengerti benar akan hakikat jalan ini dan tabi’at dakwah ini, dan pemisah di antara al haq dan al bathil, yang mana ia memiliki pandangan-pandangannya yang khusus dan ikatan-ikatan yang bersih.

Ikatan-ikatan jahiliyyah tidak layak dan tidak kokoh di hadapan beban-beban dan konsekuensi-konsekuensinya, maka tidak halal bagi orang berakal untuk berpatokan terhadapnya atau bersandar kepada kemampuannya atau cenderung kepadanya.

******

Renungan Ke Enam

Demi Allah Ia itu Tidak Kecil Sehingga Bisa Ditawar Oleh Orang-orang Yang Pailit

Dakwah ini adalah dakwah yang agung, dan jihad ini adalah barang yang mahal lagi amat berharga yang tidak mendapat taufik untuk memikulnya, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya kemudian memahami benar hakikatnya dan mengetahui beban-bebannya serta dia menguasai ilmu syari’at dan realitanya.

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah: ”Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata”, (QS. Yusuf: 108).

Kami telah mengingatkan setiap orang yang berakal dalam penjelasan Millah Ibrahim bahwa jalan ini tidak ditaburi dengan bunga mawar dan parfum atau ia dipenuhi dengan istrahat dan santai, akan tetapi dipenuhi dengan hal-hal yang tidak disukai, kepedihan dan cobaan, lagi ditaburi dengan darah, penjara dan penahanan, dan di dalamnya harus meninggalkan orang-orang yang dicintai dan keterpenggalan leher, dan oleh sebab itu tidak mampu memikul beban tugasnya dengan sebenar-benarnya, kecuali singa-singa dan rajawali bukan burung pipit atau burung kutilang.

Akan tetapi sebagian orang yang tidak memahami itu dan tidak peduli dengannya serta tidak mengetahui benar tipu daya musuh-musuh agama, dahsyatnya kedongkolan mereka terhadap dakwah ini dan kedengkian mereka terhadap jihad ini serta makar mereka terhadap para pemeluknya, bisa saja dia bergaung dengan dakwah ini dan mengaku sebagai pengusungnya tanpa memiliki kelayakan kemampuan untuknya, kemudian orang ingusan ini mengira bahwa dakwah ini adalah refreshing yang dengannya ia rekreasi atau bahwa ia adalah ‘game’ yang dengannya ia menghibur diri… terus dia berkecimpung di bidangnya dan menyebrangi menuju medannya tanpa memiliki bashirah (pengetahuan jelas) tentangnya atau rukun-rukunnya dan tanpa mengetahui hakikatnya dan hakikat beban tanggung jawabnya… serta tanpa memiliki kejelasan akan jalan musuh-musuhnya….

Kemudian pukulannya sangat menghentakkan dia lagi mengagetkan, dan bisa jadi menamatkannya bila dia ditimpa sebagian beban-beban konsekuensinya sehingga menjadi keterpurukan dan dia kembali ke belakang. Saya  banyak menyaksikan nestapa-nestapa di penjara terutama dalam sebagian kasus-kasus yang sangat dibesar-besarkan oleh musuh-musuh Allah dan mereka menampakkannya bahwa ia adalah kasus-kasus terorisme yang berbahaya dan ternyata pelaku-pelakunya dalam banyak keadaan adalah para pemuda yang (masih) kecil atau para pemula yang tidak merupakan cerminan bahaya yang sebenarnya atas para thaghut, atau atas tuan-tuan mereka bangsa Amerika. Musuh sendiri mengetahui hal itu, akan tetapi ia tidak mau kecuali membesar-besarkan mereka, agar dia naik pangkat di atas punggung-punggung mereka dan mengantongi balasan pemberangusan terhadap rencana makar mereka yang keji yang dituduhkan dan penggagalannya terhadap rancangan-rancangan mereka yang amat besar yang mayoritasnya adalah impian bohong dan cerita khayalan yang dibuat-buat, dan agar impian-impian bohong macam ini segera dibunuh sejak masih bayi karena khawatir meluas jangkauan para perencananya dan berkembang lalu mereka mengembangkannya kepada realita yang nyata.

Masalahnya sampai pada kondisi mereka menangkap seseorang pemuda yang gila, dan mereka menangkap bersamanya mainan anak-anak yang berbentuk pistol dan si pemuda itu menegaskan kepada mereka pemikirannya dan impiannya untuk memerangi Yahudi, maka mereka menangkapnya langsung dan mengalamatkan kepadanya tuduhan rencana terror, dan ia dilimpahkan kepada jaksa penuntut umum di Mahkamah Keamanan Negara yang menahannya beberapa bulan di penjara dan dia tidak memberikan jaminannya, kecuali dengan susah payah bersama kesaksian orang yang jauh dan dekat bahwa dia itu gila.

Pemuda ini, sebab penangkapannya adalah bahwa ia bertanya kepada seorang tentara tentang jalan menuju Palestina, kemudian tatkala si tentara itu meminta keterangan darinya tentang sebab pertanyaannya, maka ia langsung terus terang kepadanya menjelaskan impiannya itu, maka langsung saja si tentara itu menangkapnya dan menyerahkannya kepada tuan-tuannya. Di bawah pukulan dan penyidikan agar dia mengaku tentang senjata yang akan dia gunakan untuk memerangi Yahudi, maka ia menunjukan kepada mereka sepucuk pistol mainan yang ia sembunyikan di rumahnya yang dengannya ia ingin menjihadi Yahudi… Tentunya tidak ada celaan terhadap pemuda ini, karena ia tergolong orang yang Allah maafkan.

Akan tetapi celaan adalah terarah kepada sebagian orang-orang yang terbelakang dari kalangan yang telah Allah berikan kepada mereka nikmat akal, akan tetapi mereka tidak belajar dan tidak terbina dan tidak memiliki kemampuan (ilmu) syar’iy dan kejiwaan (yang matang, ed) untuk memikul beban-beban dakwah yang mahal ini, serta mereka tidak menguasai pengetahuan akan kebusukan musuh-musuhnya dan tidak mengetahui jelas akan jalan mereka dan metode-metode mereka yang busuk dalam hal makar dan tipu daya terhadap para du’at dan mujahidin, pendorong mereka hanyalah semangat kosong, mereka tidak mendapatkan orang yang mengarahkan mereka untuk mempelajari dien, ‘aqidah dan tauhid mereka… Mereka juga tidak mau sedikit susah untuk duduk di halaqah ilmu atau mengkhususkan diri untuk mengkaji kitab-kitabnya karena bukan termasuk prioritas utama mereka mencari ilmu syar’iy atau memiliki wawasan luas akan realita kaum muslimin, dan mereka tidak mengambil pelajaran dari kemampuan-kemampuan atau pengalaman-pengalaman orang lain yang telah mendahului mereka dalam jalan ini serta mereka malah bersikukuh untuk  mengulang kesalahan-kesalahan yang sama yang mana sejawat-sejawat mereka telah terjatuh ke dalamnya, padahal orang yang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain.

Sebagian mereka duduk-duduk di pinggir jalan berjam-jam, dia sia-siakan waktunya untuk ngobrol yang tidak karuan, bercanda dan bermain bahkan merokok… kemudian bila mereka mendapatkan senjata maka mereka mulai berfikir tentang operasi yang akan mereka lakukan dengannya, apa saja operasi itu… dan bisa saja karena kesenjangan sosial , kurangnya materi dan kekosongan pemikiran juga serta kekosongan dari cita-cita yang tinggi… bisa saja pemikiran mereka ini mendorong mereka untuk merampok rumah wanita tua dengan klaim bahwa dia itu pelacur atau dengan klaim dia itu mencurigakan, atau merampok toko dan merampas harta pemiliknya dengan dalih bahwa dia mengkonsumsi minuman keras atau menjualnya, dan kamu tidak usah khawatir terhadap motif dan faktor pendorong karena teman kita ini akan menjadikannya Islamiy lagi bersih, di mana harta itu bukan untuk rokoknya dan bukan pula untuk makanan dan minumannya, sama sekali bukan, akan tetapi untuk mendanai jihadnya yang selalu terbayang-bayang dalam pikirannya….

Perampokan dan penjarahan ini bukanlah pencurian dan bukan pula ghashab, akan tetapi jihad dan i’dad di jalan Allah !!

Sikap tegas adalah wajib atas pembawa dakwah ini dan itu adalah harus dalam menyikapi macam-macam orang-orang tadi. Kejelasan sikap terhadap mereka sejak awal jalan melangkah adalah harus yang tidak mungkin mengenyampingkannya orang yang menghargai waktunya, umurnya dan dakwahnya. Bila penyeru dakwah yang mahal dan jihad yang penuh berkah ini tidak tegas terhadap mereka, maka mereka akan menggusurnya, menyibukannya dan menyia-nyiakan kerja keras dan waktunya, serta mereka akan mencorengnya dan mencoreng dakwah dan jihadnya dengan kasus-kasus mereka yang aneh lagi ganjil yang atasnya mereka akan divonis di ujung perjalanan dan kamu akan mendapatkan di daftar tuduhan-tuduhan terhadap mereka biasanya hal yang amat kontradiksi, dan hal-hal yang menyedihkan kaum mukminin dan menyenangkan musuh-musuh dakwah ini serta menggembirakan hati orang-orang yang senang bila perbuatan keji itu merebak di tengah orang-orang yang beriman, dan  membantu mereka terhadap pencorengan dakwah ini dan penghinaan terhadapnya, dan menjadikan bagi mereka jalan (jalan apa saja) atas kaum mukminin. Orang-orang yang mengomentari kasus-kasus semacam ini terheran-heran, di mana mereka melihat para tersangka di dalamnya adalah orang-orang yang berjenggot dan mereka dihadirkan ke tempat-tempat persidangan sedang mereka bertakbir dan bertahlil serta melontarkan ucapan-ucapan Islamiy, dan ternyata didapatkan tuduhan-tuduhan yang didakwahkan kepada mereka hal yang kontradiktif yang tidak bisa disatukan, di mana engkau mendapatkan di dalamnya tuduhan rencana terror dan organisasi bersenjata di samping tuduhan pencurian atau penjarahan atau perampokan dan penghianatan amanah.

Di sini saya tidak berbaik sangka kepada undang-undang musuh-musuh Allah yang biasanya menamai banyak hal dengan bukan nama-nama yang sebenarnya, sebagaimana saya tidak membersihkan musuh-musuh Allah dari kebiasaan penyematan tuduhan, dusta dan pengada-adaan; karena hukum asal pada diri mereka sebagaimana yang telah kami utarakan adalah dusta dan khianat, dan mereka itu tidak menjaga pada diri orang mukmin tali kekerabatan dan jaminan, serta mayoritas mereka adalah termasuk orang-orang yang senang bila perbuatan keji itu merebak di tengah orang-orang yang beriman, akan tetapi dalam waktu yang sama dan agar saya jujur terhadap diri saya dan terhadap ikhwan dalam nasehat, perbaikan dan perubahan, saya tidak membebaskan sebagian para pemuda itu (dari tuduhan tersebut). Saya tidak berbicara dari realita kosong atau dari khayalan, akan tetapi saya berbicara dari realita penjara yang saya hidup di dalamnya, sungguh saya telah melihat dan mendengar serta mengetahui langsung orang-orang yang telah menjadikan jalan bagi orang-orang kafir atas diri mereka dengan sebab sikap ngawur mereka: Dan itu dengan sebab mereka mencelupkan diri mereka pada tuduhan-tuduhan dan perbuatan-perbuatan yang muncul dari kebodohan terhadap ajaran Allah dan kalalaian dari realita kaum muslimin pada hari ini… Kebodohan akan syari’at ini menghantarkan mereka pada pencelupan diri dalam perbuatan-perbuatan yang kotor dan penghalalan harta-harta yang sebenarnya adalah terjaga (ma’sum) termasuk walaupun para pemiliknya itu adalah orang-orang muslim yang fasiq lagi bejat. Kebodohan akan realita ini menjadikan mereka kadang serabutan dalam memilih sasaran-sasaran yang aneh yang menjadikan mereka bahan tertawaan manusia dan menjadikan dakwah dan jihad ini sasaran panah orang-orang yang suka menghujat dan memperolok-olok, dan kadang sasaran-sasaran yang memberikan loyalitas bagi musuh-musuh Allah untuk mengencangkan penguasaannya terhadap kaum muslimin tanpa sedikitpun pukulan yang dirasakan musuh-musuh Allah atau faidah yang kembali kepada Islam dan kaum muslimin.

Kemudian dengan sebab lemahnya pembinaan iman yang mendahului ujian atau tidak adanya pembinaan itu, engkau mendapatkan mayoritas mereka itu melemah dan rapuh saat terjatuh di tangan musuh-musuh Allah, di mana sebagian mereka memelas-melas kepada mereka dan menampakkan taubat dan penyesalan serta memanggil mereka dengan kata (tuanku/yang mulia/yang terhormat), dan sebagian mereka melaknat dan mencela ikhwannya dan berlepas diri dari mereka, maka jihad macam apa ini yang mana para pelakunya belum siap untuk memikul beban bahayanya dan belum mengetahui jelas volume tantangan-tantangannya, sehingga akhirnya mereka menjadi bahan mainan di tangan musuh-musuh agama, di antara mereka ada yang terpuruk atau berbelok dari jalan ini, dan di antara mereka ada yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh Allah setelah itu sebagai mata-mata terhadap ikhwannya, serta sedikit sekali di antara mereka yang mengambil pelajaran lagi teguh dan tidak berubah pendirian.

Apa belum tiba bagi mereka itu saatnya mereka naik pada tingkat jihad yang agung ini dan mereka menjadi orang-orang yang layak untuk memikul dakwah yang mahal ini, serta mereka menjadi orang-orang pada tingkat tipu daya musuh-musuh Allah terhadap pemeluk agama ini, di mana mereka itu selamanya tidak bisa selevel walau dengan para pemuda muslim yang dangkal yang kadang terjatuh ke dalam hal-hal yang tadi disebutkan atau yang lainnya bahwa mereka itu para pemuda atau anak-anak atau remaja, sama sekali tidak, akan tetapi musuh-musuh Allah itu membuat tipu daya terhadap mereka dan terhadap setiap orang yang bergabung dengan dakwah ini walaupun bahayanya amat kecil dan umurnya masih belia, mereka memerangi anak-anak itu dan menyikapi mereka seolah mereka itu para terroris yang berbahaya yang bertujuan mencabut pemerintahan kafir mereka dari akar-akarnya, dan menggulingkan tahta kekuasaan mereka yang rusak dari pangkalnya serta membakar dan menghabisi tuan-tuan mereka. Maka mereka siaga penuh menghadapinya, membuat tipu daya, jebakan, dan pengintaian, mereka menyiapkan segalanya untuk memberantasnya, saling bekerjasama dan saling bersepakat di antara mereka…

Maka kapan kita benar-benar seperti apa yang diperhitungkan dan diperkirakan oleh musuh-musuh kitadan ka, dan kita sampai pada tingkat yang mana rasa takut bersarang di hati mereka dengan sebab kehebatan kita, kelihaian kita dan kecerdikan kita yang nyata lagi sebenarnya… bukan tipu daya dari mereka dan pengkaburan…???

*******

Renungan Ke Tujuh

Penjara Adalah Surga Dan Neraka

 

Penjara adalah ujian, bisa jadi ia membuahkan hasil atau ia menghancurkan atau membuat keruh. Ungkapan ini selalu kami ucapkan -yakni para alumni penjara- sebagaimana yang nampak bagi sebagian orang tentang keteguhan kami. Itu adalah ungkapan yang tersarikan dari apa yang kami saksikan di dalam penjara, oleh sebab itu ia adalah mensifati hakikat penjara dan pengaruh-pengaruhnya yang berlainan terhadap orang-orang yang memasukinya dan hidup dalam keterkungkungannya dan di antara jeruji-jerujinya serta tinggal di dalam kerangkeng-kerangkengnya dan mereka mengalami langsung (penganiayaan,ed.) di tempat-tempat penyiksaannya…

Orang yang tidak mengalami hal itu dan tidak mengetahuinya dari dekat, maka kadang kaget atau tercengang dengan sebab apa yang muncul dari para penghuni penjara berupa sikap balik arah dan lontaran-lontaran…

Adapun orang yang pernah menjalaninya dan merasakan kedahsyatan ujiannya, berbagai bentuk penindasannya serta aneka ragam penyiksaan di dalamnya, maka bisa jadi dia hati-hati dan berpikir berulang kali sebelum melontarkan vonis-vonisnya terhadap sebagian penghuninya bila muncul dari mereka sebagian lontaran-lontaran yang ‘keruh’ atau termasuk yang ‘patah’, dan ia hati-hati dalam mengikuti fatwa-fatwa mereka yang bersebrangan dengan manhaj asal mereka dan yang kadang muncul di bawah cengkraman ikrah (paksaan).

Orang yang di penjara itu qushirul ahliyyah (terbatas kemampuan taklifnya) karena kondisinya yang cenderung berada di bawah tekanan dan paksaan; oleh sebab itu tidak halal ia dibebani pertanggungjawaban yang penuh tentang ucapan-ucapannya sampai ia keluar dari ketertawanan dan keterpenjaraan kemudian ia menjelaskan tentang ucapan-ucapannya dalam kondisi kerelaan tanpa tekanan atau paksaan; dan hal itu lebih ditekankan lagi pada syaikh-syaikh jaringan jihad karena dahsyatnya permusuhan para thaghut terhadap mereka serta begitu besarnya tekanan thaghut-thaghut itu terhadap mereka. Sedang sudah pasti bahwa dahsyatnya permusuhan mereka terhadap orang yang menghunuskan senjatanya di wajah mereka atau mengobarkan semangat (kaum muslimin) terhadap hal itu adalah tidak seperti permusuhan mereka terhadap yang lainnya.

Oleh sebab itu kami menasehati setiap orang yang membesuk kami dan meminta pendapat kami tentang apa yang muncul dari Syaikh Al Khudlair dan Syaikh Nashir Al Fahd dan Syaikh-syaikh lainnya semacam mereka, agar tidak terpengaruh dengan apa yang muncul dari mereka berupa fatwa-fatwa atau rujuk-rujuk dalam kondisi tertawan, ini pertama dan kedua agar hati-hati dan tidak melancangkan lidah terhadap kehormatan para syaikh itu, serta berdoa bagi mereka agar Allah menyelamatkan mereka dari tipu daya para thaghut dan bersikap hati-hati sampai Allah membebaskan mereka.

Oleh sebab itu kami telah menahan lisan kami dari pimpinan-pimpinan Jama’ah Islamiyyah Mesir tatkala muncul dari mereka apa yang telah muncul berupa lontaran-lontaran rujuk di penjara di bawah nama klarifikasi, dan sampai hari ini kami masih terus hati-hati dalam ucapan kami terhadap orang yang masih dipenjara di antara mereka dan kami menjaga bagi mereka apa yang telah mereka lakukan di jalan Allah berupa dakwah, jihad dan ujian. Berbeda halnya dengan orang-orang yang telah keluar dari penjara atau memang mereka itu sejak awal ada di luar, sungguh kami telah merasa sedih sekali karena sikap sebagian mereka cenderung kepada dunia dan apa yang dinisbatkan kepada mereka berupa berbagai keterpurukan, sebagaimana kami juga sangat sedih karena sikap mereka menyerang ikhwan kami mujahidin di Al Qa’idah dan sikap mereka cepat-cepat bara’ dari mereka itu dan ajakan terhadap mereka untuk taubat dari operasi-operasi jihad yang mereka lakukan; seolah para ikhwan itu telah melakukan perbuatan munkar dan dosa; seraya mereka itu berpatokan dalam mengecam para ikhwan itu dengan tuduhan mereka itu membunuhi kaum muslimin dan menjadikan Mekkah dan orang-orang yang umrah sebagai sasaran; terhadap informasi-informasi yang diumumkan oleh pemerintah-pemerintah yang kafir dan disebarluaskan oleh medianya yang busuk, padahal sesungguhnya mereka itu telah mencoba merasakan kebohongan pemerintah-pemerintah dan media massanya ini serta mereka sebelumnya pernah tersengat apinya itu..!! dan kalau tidak demikian, maka apakah orang muslim yang berakal bisa mempercayai bahwa mujahidin Al Qa’idah dan mujahidin lainnya mungkin menyerang kaum muslimin baik itu di Riyadh atau di Jeddah atau di tempat lainnya: apalagi mereka menyerang orang-orang yang sedang umrah di Makkah Tanah Haram ?! Kecuali bila mereka itu menganggap kaki tangan CIA dan FBI yang berkeliaran di Jazirah sebagai bagian dari kaum muslimin, atau mereka memaksudkan dengan orang-orang yang umrah itu para thaghut yang umrah dalam rangka mengambil gambar-gambar yang mereka jajakan terhadap rakyat-rakyat mereka dan dalam rangka mempersempit kaum muslimin dalam ibadah-ibadah haji mereka.

Saya mohon maaf kepada pembaca karena pembicaraan yang melenceng dari materi ini, dan kita kembali lagi kepada bahasan kita…

Ya, penjara itu bisa membuahkan hasil yang besar saat si penyeru dakwah atau mujahid ini diberi kemudahan [taufik] dalam memanfaatkannya dalam ketaatan kepada Allah, ibadah kepada-Nya, menghafal kitab-Nya, mencari ilmu, menyebarkan dakwah dan mengambil faidah dari pengalaman-pengalamannya dan pengalaman-pengalaman orang lain agar dia keluar darinya dalam kondisi lebih kokoh dan lebih kuat keberpegangan dengan dakwahnya serta lebih teguh di atas jihad dan manhajnya.

Bisa jadi pula justeru penjara ini menghancurkan, yaitu bila seseorang terpuruk ke belakang, kemudian dia menjadikan gangguan/penindasan manusia itu sebagai ‘adzab Allah, dia merubah, dia mengganti dan dia menarik diri dan dia cenderung kepada dunia, setelah dia mengetahui al haq dan memahaminya dan ia berjalan di atas jalannya serta merasa jelas dengannya… Terus dia malah mengaburkan al haq dengan al bathil serta dia membelot di barisan musuh-musuh dien ini. Bentuk-bentuk hal itu adalah banyak dan beraneka ragam, kita memohon kepada Allah ‘afiyah, keselamatan dan husnul khatimah.

Terkadang ia (penjara) membuat keruh… Artinya bahwa kadang seseorang menyimpang dari manhaj yang benar sesuai tabi’at orang itu. Bila orang itu lebih cenderung kepada sikap keras, maka keterkungkungan dan pengekangan serta penyiksaan ini menyimpangkannya kepada sikap ghuluw, dan dari kantong mereka itu muncullah fikrah sujuniyyah [pemikiran akibat emosi ketertekanan penjara] takfiriyyah yang mengkafirkan manusia secara umum dan masyarakat secara keseluruhan, dan akhirnya takfir pada mereka itu tidak mengikuti dalil, akan tetapi ia adalah sebagai reaksi balas dendam dan emosi yang tidak mengecualikan seorangpun,  kecuali orang-orang yang di atas manhaj mereka dan menganut seluruh paham mereka. Bila tabi’at orang yang terpenjara ini lebih cenderung kepada kelembutan, maka ia menjerumuskannya kepada paham Jahmiyyah  dan Murji-ah Gaya Baru atau tafrith, mudahanah dan mengikuti hal-hal yang rukhshah atau sebut saja ketergelinciran-ketergelinciran ulama dan kekeliruan-kekeliruan mereka, dan ia menganutnya bukan dari dasar penerimaan hati; pemahaman dan istidlal, akan tetapi karena hal-hal tadi, sejalan dengan selera dan arah pikirannya yang ia cenderung kepadanya dalam kondisi keterjepitan penjara, serta paham-paham dia yang direstuinya dan yang diterima oleh akalnya yang lebih cenderung untuk hidup senang kerena dahsyatnya ketertekanan.

Ini semua adalah penyakit-penyakit yang saya hidup bersama orang-orangnya (para pengidapnya), dan Allah ta’ala telah menyelamatkan kami dengan karunia-Nya, pemberian-Nya, kemuliaan-Nya, kebaikan-Nya, taufiq-Nya dan peneguhan-Nya saja; dari orang-orang yang berlebih-lebihan dan sikap berlebih-lebihannya dan dari orang-orang yang mengenteng-enteng dan sikap tafrith mereka.

Di samping ini sesungguhnya fitnah penjara dan penyiksaan musuh-musuh Allah di dalamnya adalah beragam tergantung negeri-negeri yang berbeda-beda dan kasarnya penyiksaan di dalamnya, juga tergantung penjaharan pembawa dakwah dan ‘aqidahnya yang haq, dan tergantung bagaimana kedekatan dia dari jaringan jihad yang paling dahsyat permusuhannya terhadap para thaghut, serta tergantung juga pada jenjang yang dilalui oleh orang yang ditahan ini. Sel isolasi di awal-awal hari penangkapan, penyidikan yang terus menerus, penyiksaan dan penghalangan dari interaksi dengan dunia luar, maka kondisi-kondisi ini adalah lebih dahsyat daripada kondisi-kondisi narapidana setelah semua proses selesai dan ia dipindahkan ke penjara umum, di mana ia bisa mudah berinteraksi dengan manusia.

Mengetahui rincian-rincian ini semuanya, dan dijenjang dan kondisi apa munculnya apa yang telah muncul dari diri orang yang ditahan, memungkinkan dari sisinya memperkirakan kebenaran dan keberartiannya. Bagaimanapun keadaannya, tetaplah penjara itu secara umum adalah tempat kondisi tekanan dan paksaan, dimana si terpenjara selagi ia dalam keterpenjaraan dan penahanannya, maka ia itu terus-menerus dalam kondisi yang tidak menentu, pemindahannya dan pengoperannya ke penjara yang lain serta masih dalam kondisi bisa mendapatkan tekanan-tekanan yang tiba-tiba, dan kondisi-kondisi lainnya yang wajib diperhatikan dan ditinjau saat mengecek apa yang muncul dari orang-orang yang terpenjara, baik berupa fatwa-fatwa maupun berupa lontaran-lontaran, serta hal itu lebih ditekankan lagi fatwa-fatwa atau lontaran-lontaran itu datang seraya bertentangan dengan manhaj dan jalan mereka yang terdahulu.

Saya sebutkan ini bagi orang yang belum merasakan penjara dan penyiksaannya, agar ia mengetahui dan memiliki bashirah tentang keadaan apa yang muncul dari sajin (orang-orang yang dipenjara), sehingga ia tidak tergesa-gesa memvonisnya, atau ia merasa terganggu dengan perubahan-perubahannya di penjara dan sikap-sikap rujuknya bila dia itu seorang syaikh atau orang yang diikuti, meskipun utamanya bagi orang yang semacam itu adalah dia mengambil ‘azimah walaupun ia dipotong atau ia dibakar, dan dia mengambil dibunuh dan disiksa dan diintimidasi demi melindungi agamanya dan agar tidak membuat pengkaburan terhadap umat, dan itu lebih ditekankan pada orang-orang yang merupakan lambang gerakan jihad di zaman kita ini, karena mereka itu amat sedikit dan manusia melihat kepada mereka di lautan peperangan yang terjadi antara Islam dengan kekafiran dan mereka mendengarkan apa yang mereka katakan. Mereka dalam hal itu memiliki contoh dan tauladan pada orang-orang yang telah mendahului mereka seperti Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam An Nabulsiy yang dikuliti kulitnya agar merubah fatwanya tentang memerangi Ubaidiyyin yang murtaddin, namun beliau tidak melakukannya sampai ia terbunuh –semoga Allah merahmatinya– serta orang-orang lainnya yang akhirnya Allah memasyhurkan mereka dengan keteguhan mereka di atas al haq.

Dan hendaklah mereka tidak lalai dari firman-Nya ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”, (QS. Al Anfal: 27).

Hendaklah mereka selalu ingat hadits Nabi saw tatkala sebagian sahabatnya mengadukan kepada beliau penindasan kaum musyrikin, maka beliau berkata:

قد كان من قبلكم يؤخذ الرجل فيحفر له في الأرض فيجعل فيها , ثم يؤتى بالمنشار فيوضع على رأسه فيجعل نصفين , ويُمْشَطُ بأمشاط الحديد ما دون لحمه وعظمه , ما يصده ذلك عن دينه.. .الحديث

Sungguh orang-orang sebelum kalian, seorang laki-laki ditangkap kemudian digalikan lobang baginya di bumi terus dia dimasukkan ke dalam lobang itu, kemudian didatangkan gergaji dan digergaji kepalanya sehingga terbelah dua, dan antara daging dan tulangnya disisir dengan sisir besi, namun hal itu tidak menghalangi dari agamanya (HR. Al Bukhari).

Namun demikian tetap harus mempertimbangkan apa yang telah kami ketengahkan, agar seorang tidak cepat mencela saudara-saudaranya yang sedang mengalami ujian atau merasa terganggu dengan lontaran-lontaran dan fatwa-fatwa mereka yang muncul dari balik sel penjara, akan tetapi ia menelitinya, bila ternyata ia tetap seperti al haq yang mereka pegang sebelumnya, maka alangkah baiknya, dan bila ternyata berubah ke arah ifrath (ghuluw) atau tafrith maka ia tidak boleh cepat mencela dan memvonis orang yang mengucapkannya sampai ia mengetahui kondisi-kondisi saat ia mengucapkannya, dan hendaklah ia hati-hati sampai Allah membebaskannya. Bila ia bersikukuh di kondisi lapang terhadap apa yang ia lontarkan di kondisi penahanan, maka bagi setiap kejadian ada ucapan, dan bila tidak maka Allah telah mencukupkan kaum mukminin darinya dan kita telah menjaga saudara kita di saat ia tidak ada dihadapan kita, karena hukum asal adalah berbaik sangka terhadap kaum muslimin, apalagi terhadap ansharuddien.

Dan terakhir, sungguh Allah ta’ala telah berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tidak lain adalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang (murtad) ? barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madlarat kepada Allah sedikitpun: dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur,” (QS. Ali Imran: 144). Ini adalah satu kaidah dari kaidah-kaidah Islam bahwa Allah telah menetapkan kematian atas Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula),” (Az-Zumar: 30). Dia tidak mengaitkan agama mereka dengan hidup beliau dan keberadaan beliau di tengah mereka, namun Dia hanyalah mengaitkan hati mereka dengan Dzat-Nya subhaanahu Yang Maha Hidup yang tidak mati dan dengan agama dan kitab-Nya yang tidak lenyap dengan air serta tidak termasuki kebatilan dari arah depan dan belakangnnya. Barangsiapa yang bergantung kepadanya maka dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kokoh yang tidak mungkin putus.  Maka bila masalahnya dengan sosok Nabi saw –makhluk yang paling agung dan paling dicintai kaum muslimin– adalah seperti itu, maka selain beliau dari kalangan manusia yang kadang di samping kematian dan keterbunuhan mereka bisa saja mengalami kemurtadan, perubahan dan penggantian adalah lebih utama dan orang muslim (selayaknya,ed.) tidak mengaitkan agamanya kepada sosok-sosok mereka. Hukum asal bagi kita yaitu pemeluk Islam secara umum dan penyeru tauhid serta ahli jihad secara khusus adalah tidak boleh taqlid dan tidak boleh menerima ucapan seseorang, kecuali dengan dalil syar’iy.

Dia berfirman kepada Nabi-Nya:

قُلْ إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ

“Katakanlah (Hai Muhammad): Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu (QS. Al Anbiya: 45)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ

“Ikutlah apa yang diturunkan kepada Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti sembahan-sembahan selain-Nya”, (QS. Al A’raf: 3). Dan agama Allah ini tidak membutuhkan seluruh alam:

وَقَالَ مُوسَى إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”, (QS. Ibrahim: 8).

Seandainya Allah menghendaki tentu Dia membinasakan musuh-musuh-Nya tanpa anshar dan orang-orang, tetapi Allah hendak menguji sebagian manusia dengan sebagian yang lain dan supaya sebagian kaum mukminin dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.

Goncangan ini menjadi terpisah dengan sebabnya orang-orang yang teguh dari orang-orang yang bimbang dan penebar isu yang berburuk sangka terhadap Allah lagi tidak menambah barisan kecuali kelemahan, barangsiapa menunggu celah-celah semacam ini untuk beralasan dengannya akan sikap penggebosan dia, pemisahannya dari kafilah dan peninggalannya akan barisan, maka Allah akan menjauhkannya dan justeru barisan itu dengan kepergian dia akan bertambah rapat dan kokoh:

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)”, (QS. Ali Imran: 179).

Barangsiapa menyembah para Syaikh Al Khudlair atau Nashir Al Fahd atau Abu Qatadah atau Al Maqdisiy atau yang lainnya, maka sesungguhnya para syaikh itu tidak ma’shum dan tidak aman fitnah atas mereka, namun barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya agama Allah itu tetap teguh, kokoh lagi ma’shum lagi tidak mungkin terkena perubahan dan penggantian:

إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus”, (QS. Hud: 56). Dan barangsiapa Allah mengetahui darinya kebaikan dan kejujuran maka Allah pasti meneguhkan dan menjaganya, dan barangsiapa Dia mengetahui darinya selain hal itu maka Dia membersihkan barisan darinya dan dari orang-orang semcam dia dengan sebab goncangan-goncangan ini:

وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

“Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti ( kamu ) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu ( ini ),” (QS. Muhammad: 38).

 

*******

 

Bersambung…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: