Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad » Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad (Bag. 12)

Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad (Bag. 12)


Akhirnya mereka tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan, dan tidak mengerti karena dahsyatnya hantaman apa yang mereka inginkan; sehingga sesekali mereka mengobarkan semangat para pengikut mereka agar bergabung di Afghanistan dengan alasan nushrah mujahidin di sana di bawah bombardir pesawat-pesawat tempur dan rudal-rudal kapal laut, padahal di sana itu tidak ada konfrontasi dan tidak ada qital akan tetapi ia hanyalah penyerangan para penakut (pasukan AS dll, pent.) dari jauh dan dari belakang tombol, maka nushrah para du’at terhadap para mujahidin di negeri-negeri mereka yang sarat dengan musuh adalah lebih mengena saat itu dan lebih menyakitkan bagi musuh-musuh Allah seandainya mereka serius… Dan sesekali engkau melihat mereka berpikir untuk bergabung di Irak karena sekedar mereka menyaksikan operasi di Fallujah atau operasi lain di Baghdad. Bila jalan-jalan tertutup di depan mereka, maka mereka menuju Al Jazair, dan bila mereka mendengar peledakan atau operasi di Uzbekistan maka mereka mengarahkan kawan-kawannya ke sana dan memasang tenda-tenda mereka di sana… (Mereka) dalam ketidakmenentuan yang mengherankan dan amat aneh, mereka jatuhkan ikhwannya dalam ketidakmenentuan, mereka cecerkan urusan dan pikiran mereka di dalamnya, mereka gagalkan proyek-proyek dakwah mereka, dan mereka urai benang yang sudah dipintal dengan kuat, serta mereka persempit bentuk jihad dalam operasi-operasi nikayah yang berceceran di sana sini, yang mereka benarkan dengan klaim penghadangan musuh yang masuk menyerang, padahal sesungguhnya musuh itu telah merajalela di kampung-kampung dan telah masuk menyerang umat di semua belahan dunia, dan tidak ada keistimewaan bagi wilayah yang mereka pilih atau mereka arahkan para pemuda mereka kepadanya dan mereka pisahkan pilihan-pilihan mereka dari dakwah dan upaya keras para du’at…

 

Sampai banyak pemuda mengadukan kepada saya perlakuan sia-sia para tokoh mereka terhadap mereka, ketidakjelasan sikap mereka, penceceran pola pikir mereka, dan sebagian mereka mendatangi saya seraya merasa berdosa karena penanggalan mereka, pencopotan mereka dan pengrubahan mereka setelah mereka bingung sekali dari ketidakmenentuan mereka dan kegamangan mereka yang bersifat emosional sesaat lagi tanpa pengkajian, dan ketergusuran sejumlah pemuda bersama mereka kadang ke sini dan kadang ke sana, dan tertangkapnya sebagian mereka di Suriah, sebagian lagi di Yordania dan sebagian mereka di Iraq…

Saya tidak meragukan bahwa ini termasuk tadlarrur (keterusikan) dengan berbagai tragedi dan ketidakmemilikan program tertentu atau tidak mengikuti program yang jelas lagi tentu misi-misinya atau sebagaimana yang biasa mereka sebut dengan strategi yang jelas dalam amal Islamiy, akan tetapi ia hanyalah sikap perubahan emosional semata dan reaksi semangat sesaat. Sedang cara seperti ini dalam menyikapi dakwah dan jihad adalah membinasakan bagi kerja dan umur, menggagalkan program-program dan aktivitas, dan menyia-nyiakan para pengikut dan para pemuda, sedangkan para pemerannya adalah tidak bisa diamanati terhadap para pemuda, umur mereka dan nyawa-nyawa mereka, dan tidak selayaknya mereka itu ditampilkan di depan dan diberi kesempatan dari memegang kendali urusan…

Wa ba’du… Sesungguhnya tipu daya, kebusukan dan kejahatan dari para thaghut dan anshar mereka dalam menghalang-halangi (manusia) dari para du’at dan mujahidin itu, bersama takhdzil atau idlrar yang dilakukan oleh selain mereka dari kalangan mukhalifin; adalah membutuhkan dari para du’at dan mujahidin (agar) mereka itu berada di atas kadar dari ilmu akan syari’at, paham akan realita mereka, bersandar kepada Allah ta’ala dan berpegang teguh terhadap agama-Nya agar mereka aman dan bisa menolak tipu daya musuh-musuh Allah, selamat dari takhdzil kaum mukhadzdzilin  serta aman dari keterusikan oleh kaum mukhalifin …

Sehingga mereka benar-benar termasuk bagian Ath Thaifah Adh Dhahirah Al Qa-imah Bidienillah (kelompok yang nampak lagi menegakkan dienullah) yang tidak merasa terganggu oleh orang yang menyelisihi mereka dan tidak pula oleh orang yang menggembosi mereka… Dan peribahasa orang Arab mengatakan:

Orang merdeka bila melintang atau miring busur panahnya maka anak

Panahnya tetap tepat sasaran

Dan bila ia lurus maka itu pisau dan bila bengkok maka itu sabit

Dan tujuan yang agung ini menuntut dari mereka sarana-sarana yang tidak bisa tidak bagi mereka; ia adalah obat yang ampuh dan jalan keluar yang berhasil dari fitnah ini:

  • Di antara yang paling penting adalah ilmu yang al yaqin bisa diraih dengannya, dan dengannya ia bisa berlindung dan membentengi diri dari syubhat-syubhat yang menyesatkan, karena sesungguhnya ocehan-ocehan ulama suu’ dan ikhwan Jahm Ibnu Shofwan dan Al Mirrisiy demi Allah tidak laku kecuali atas hati yang kosong dari cahaya ilmu, yang tidak menerangi dirinya dengan cahaya ilmu dan di dalamnya masih ada padang penggembalaan bagi kegelapan-kegelapan kebodohan; ia itu demi Allah adalah kosong bagi orang-orang yang menelitinya, dan sungguh kami dengan karunia Allah telah menghadangnya, membongkarnya dan menggugurkannya dalam berbagai tulisan-tulisan kami, dan kami telah menghaturkan tulisan-tulisan itu bagi ikhwan kami, dan kami mudahkan atas mereka urusan ini, dan ia di tangan-tangan mereka adalah usaha keras bertahun-tahun yang mereka nikmati dalam waktu yang sebentar dan beberapa saat, maka mereka hanya tinggal mengkajinya, sedangkan orang yang terhalang (dari manfaat) adalah orang yang Allah halangi …

Jangan kau takut dari bid’ah dan hal-hal baru

Selagi kau dalam penjagaan dan perlindungan Al Kitab

Siapa yang Al Kitab menjadi pengawal dan baju besinya

Maka ia tidak khawatir dan tusukan dan sabetan musuhnya

Jangan takut dari syubhat mereka dan seranglah bila

Ia menghadangmu dengan pertolongan dan kejayaannya

Demi Allah seorang pun tidak menakutkan syubhat mereka

Kecuali karena kelemahan hati darinya dan ketidakmampuannya

  • Di antara sarana-sarana itu juga adalah taqwa, di mana dengannya sang da’i dan mujahid membentengi diri dari syahwat dan iming-iming mereka, dan sedangkan pilar taqwa adalah:
  • Sabar atas tha’atillah
  • Sabar dari maksiat terhadap-Nya karena hati hanya bisa hidup dengan melaksanakan ketaatan, menjauhi maksiat dan tidak membiarkannya terkena berbagai fitnah dan maksiat dan dalam Al Bukhariy: (Bab Termasuk (bagian) dien adalah lari dari fitnah)
  • Dan membantu atas hal itu kebergabungan dengan Ath Thaifah Al Manshurah serta sabarkan jiwa bersama para pemeluknya dari kalangan orang-orang shalih dan ansharuddien

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا (٢٨)

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhanmu di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini(QS. Al Khafi: 28)

  • Dengan sabar ini dan apa yang dihasilkannya berupa taqwa, sang mujahid dan da’I membentengi diri dari tipu daya musuh-musuh Allah, Allah ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (١٢٠)

Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya sedikitpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan(QS. Al Imran: 120)

  • Dengan keyakinan yang di dapatkan dengan ilmu dan yang dengannya ia membentengi diri dari syubhat manusia, serta dengan kesabaran yang melahirkan taqwa yang dengannya dia membentengi diri dari syahwat dan iming-iming mereka, di raihlah imamah (kepemimpinan) dalam dien ini; sebagaimana firman Allah ta’ala: 

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ (٢٤)

Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pimimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami  (QS. As Sajdah: 24)

Oleh sebab itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dengan sabar dan yaqin diraihlah imamah dalam dien ini”.

Di antara hal yang membantu terhadap ilmu yang haq dan penghubungannya dengan waqi’ atau pemahaman akan waqi’ di atas sinar ilmu itu adalah: berkumpul di sekeliling tokoh-tokoh rujukan keilmuan bagi gerakan ini dari kalangan ulama ‘amilin dan du’at rabaniyyin yang hari ini berdiri tegak di atas Tshughuril Islam terbesar dengan cara mereka tampil menghadang para thaghut kekafiran dan keteguhan mereka di hadapan para thaghut itu serta penghadangan mereka terhadap syubhat-syubhat boneka-boneka thaghut tersebut dari kalangan ulama suu’ dan para pengekornya dari kalangan jama’ah-jama’ah Tajahhum dan Irja’, maka wajib atas para pemuda umat ini untuk berbaris di belakang orang-orang yang adil dari kalangan ulama yang menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah, berkeliling di seputar mereka dan seputar tulisan-tulisan mereka, mengambil faidah-faidah dari pengalaman-pengalaman dan eksperimen-eksperimen mereka dan tidak zuhud darinya atau merasa cukup dengan eksperimen-eksperimen yang kurus lagi kaku atau terpukau dengan semangat kosong yang telah menjadi cemeti yang digunakan sebagian orang-orang yang berpola pikir dangkal terhadap para pemuda bahkan terhadap banyak para syaikh, seraya menggiring mereka dengannya kepada operasi-operasi yang ngawur yang mencoreng jihad, atau kepada pilihan-pilihan yang berceceran lagi marjuh atau kepada reaksi balasan dan emosional sesaat yang tidak dikaji, dan mereka menjauhkan mereka dengan sebab hal itu dari tokoh-tokoh rujukan mereka dari kalangan yang memiliki pengalaman, pemahaman dan pandangan (yang jauh) dengan dalih bahwa mereka itu BUKAN termasuk ahli tsughur dan dengan klaim bahwa ahlu tsughur lebih tahu akan fiqh jihad, sehingga mereka menyempitkan bentuk jihad dan tsughur hanya pada operasi-operasi nikayah dan reaksi pembalasan dendam yang terbatas lagi tanpa pengkajian.  SEDANGKAN setiap orang yang memilik akal dan pemahaman mengetahui bahwa manusia yang paling berhaq akan penamaan ahli tsughur dan Ath Thaifah Al Manshurah adalah ulama kita al ‘amilun yang teguh lagi menegakkan dien ini di atas tsughur Islam terbesar di hadapan para thaghut dan boneka-boneka mereka (‘umala) dari kalangan ulama suu’. Bila ulama ‘amilun itu bukan termasuk ahlu tsughur maka kalau begitu di dunia ini seluruhnya tidak ada ahlu tsughur….

  • Di antara ilmu dan pemahaman yang wajib menjadi bekal para pengusung kelompok yang menegakkan perintah Allah ini dan membantu mereka untuk tidak terganggu oleh musuh-musuh dan kaum mukhalifin; adalah istibanah sabilil mujrimin (memiliki kejelasan tentang jalan orang-orang kafir). Sungguh Allah ta’ala telah menjelaskan secara detail kepada kita ayat-ayat yang nyata demi maksud yang agung ini….

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)

“Dan demikianlah kami terangkan ayat-ayat al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa (kafir)”  (QS.Al An’am: 55)

Mengenal tipu daya musuh serta paham benar akan metode-metode dan sarana-sarana mereka adalah membantu terhadap kewaspadaan darinya serta tidak terganggu dengannya dan dengan pengaruhnya, oleh sebab itu saya isyaratkan dalam kesempatan singkat ini kepada warna-warna dan macam-macam yang beraneka ragam darinya, maka seyogyanya para du’at dan mujahidin itu berada di atas level tanggung jawab dan amanah yang agung yang mereka pikul dalam perjalanan mereka di atas jalan ini dan dikarenakan mereka tergolong pengusung kelompok yang nampak lagi menegakkan dienullah, dan semestinya mereka dalam kewaspadaan, kepandaian, pilihan, pemahaman dan khithab ini di atas level perseteruan dan peperangan yang dinyalakan terhadap mereka serta tipu muslihat yang besar yang dilakukan musuh terhadap dien ini, dan jangan sekali-kali mereka berta’amul bersama jihad ini dengan kedangkalan yang amat dibenci dan kepolosan yang mematikan, karena tipu daya yang busuk ini tidak bisa dihadang oleh orang-orang yang dangkal pemikirannya, orang-orang yang polos (tidak paham realita) dan burung-burung kecil, akan tetapi bisa dihadang oleh binatang-binatang buas dan burung elang…

  • Karena hal itu dan dikarenakan peperangan terhadap kelompok ini, terhadap dien dan jihadnya adalah bersifat mendunia (global), dan sarana-sarananya juga amat busuk dan beragam, sedangkan modal para du’at dan mujahidin mukhlishin adalah sedikit, baik personel maupun perlengkapan, dan tidak ada kesempatan untuk melakukan pertaruhan bagi orang-orang yang jujur, serius lagi paham akan kondisi-kondisi umat, kemampuan-kemampuannya dan volume peperangan yang ditabuh terhadapnya; maka wajib atas mereka untuk memilih bagi dien dan jihad mereka apa yang paling manfaat dari pilihan-pilihan itu dan paling menguntungkan bagi umat dan paling mashlahat bagi jihadnya juga paling menyakitkan bagi musuh serta paling mematahkan bagi barisan mereka, tipu daya mereka dan kekafiran mereka. Jangan sekali-kali pilihan mereka itu dibangun di atas reaksi emosi yang sengaja musuh menggusur mereka kepadanya dalam rangka menceburkan mereka dalam operasi-operasi yang marjuh (tidak begitu penting) tanpa pengkajian dan tidak memiliki pengaruh, yang mencecerkan lingkaran perseteruan atau menyebabkan kecaman terhadap para du’at dan mujahidin dan membuat (manusia) lari dari jalan mereka serta membuat manusia bersekongkol terhadap mereka, kemudian mereka tampil dengan penampilan musuh manusia yang tetindas bukan yang menyelamatkan mereka, dan musuh-musuh mereka dari kalangan para thaghut malah menjadi juru selamat bagi masyarakat lagi pelindung mereka dari teror para du’at dan mujahidin, dan dengan hal itu berarti mereka membantu musuh-musuh mereka terhadap tipu daya mereka dan lembaranpun bercampur serta al haq terkabur dengan al bathil…

Orang yang tidak memandang pada pertimbangan-pertimbangan ini dalam pilihan-pilihannya dan tidak mempedulikannya atau tidak memperhatikannya; maka dia tidak memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di suatu fase dari fase-fase perjalanan Thaifah Manshurah: Biarkan mereka, jangan sampai manusia mengatakan (bahwa) Muhammad membunuhi sahabatnya, dan sabdanya: Kalau begitu akan berang bersamanya banyak hidung di Yatsrib dan sabdanya Seandainya kaummu tidak baru masuk Islam…”

Dan hal lainnya berupa batasan-batasan, isyarat-isyarat dan rambu-rambu yang penting di atas jalan…

Dan bagaimanapun keadaannya, sungguh telah tetap secara pasti bahwa reaksi balasan itu  bukanlah perbuatan-perbuatan yang diperhitungkan lagi dipertimbangkan juga dikaji, akan tetapi ia adalah emosi-emosi yang biasanya musuh menggiring kepadanya, maka hakikatnya adalah tindakan-tindakan yang diadakan oleh si musuh pada orang yang emosi yang kehilangan keseimbangannya dan terkabur atasnya tindakan-tindakan itu dengan sebab teman-temannya, maka kawan dia yang sebenarnya adalah si musuh, sedangkan orang yang muncul darinya tindakan-tindakan itu maka dia adalah orang yang terpancing bukan yang melakukan …

  • Di antara yang membantu terhadap penjagaan diri dan tipu daya musuh dan menyelamatkan diri dari keterusikan dengannya adalah sang da’i dan mujahid selalu ingat dan dalam kondisi yang paling kritis serta ujian yang paling berat serta ia selalu terjaga akan aqad dan jual beli yang telah ia aqadkan bersama Pelindungnya:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an(QS. At Taubah: 111)

Maka janganlah ia membatalkan jual beli ini dan jangan mengurungkan darinya serta jangan ia menerima di dalamnya pilihan atau ia mencari pengalihan darinya atau ridha pengganti dengannya, dan di antara yang membantu di atas hal itu adalah dia mengingat kemuliaan Sang Pembeli, keagungan harga yang ia terima sebagai pengganti dari diri dan hartanya, serta kebesaran pahala yang ia tunggu-tunggu atas jual beli ini, dan kemudian besarnya kerugian bila ia teledor terhadapnya, maka jangan ia mengkhianati amanah yang ia pikul atau membatalkan jual beli yang ia telah transaksi terhadapnya, dan ia selalu ingat firman-Nya ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٧)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS. Al Anfal: 27) sehingga dia akhirnya termasuk orang-orang yang Allah ta’ala firmankan tentang mereka:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلا (٢٣)

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)”  (QS. Al Ahzab; 23)

  • Membantu dia terhadap pemikulan amanah, teguh di atas transaksi, pemenuhan apa yang ia janjikan di hadapan Allah dan ketidak tergangguan oleh al mukhadzdzilin: adalah kontinyu terhadap sifat yang Allah sandingkan terhadap para pelaku transaksi ini:

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat (untuk mencari atau berjihad), yang ruku’ yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu (QS. At Taubah: 112). Karena sesungguhnya hal ini termasuk yang menguatkan kebersandaran dia kepada Allah serta menguatkan hatinya, meneguhkan dan mengokohkannya…

  • Membantu dia atas itu juga adalah selalu mengingat apa yang ada di sisi Allah berupa balasan yang agung bagi wali-wali-Nya dan adzab yang abadi bagi musuh-musuh-Nya, dan selalu menghadirkan janji-Nya ta’ala bagi orang-orang mukmin dan ancaman-Nya bagi para penghianat…

Karena sesungguhnya targhib Allah, tarhib-Nya, janji-Nya dan ancaman-Nya tidak bisa disaingi oleh targhib dan tarhib atau janji dan ancaman apapun, dan tidak menjadikan penindasan manusia seperti ‘adzab Allah kecuali orang-orang yang rugi.

Penyiksaan musuh-mush Allah, penjara-penjara mereka, gangguan mereka, penghinaan mereka dan ancaman mereka tidaklah setara dengan satu kali celupan dalam Jahannam

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya (QS. Al Hajj: 18). Sebagaimana bahwa targhib mereka, pemberian mereka, dan janji-janji mereka adalah tidak setara dengan sekali celupan di surga yang paling indah…

Sesunguhnya penghuni surga yang paling rendah kedudukannya sebagaimana dalam hadits shahih adalah seorang yang diberi apa yang dia angan-angankan dan bersamanya sepuluh kali lipat dunia atau sepuluh kali lipatnya, sampai-sampai dia mengatakan: Tidak seorangpun diberi seperti apa yang diberikan kepada saya!

Ini adalah penduduk surga yang paling rendah kedudukannya, maka bagaimana dengan yang paling tinggi….??!

Maka mana targhib musuh-musuh Allah dan janji-janji mereka buat kaki tangan mereka dan wali-wali mereka serta bagi orang yang mengkhianati Allah atau yang menjual agamanya? Bagaimanapun tingginya apakah setara dengan sesuatu dari ini ?

Dalam hadits shahih juga bahwa penghuni neraka yang paling ringan dan paling rendah ‘adzabnya adalah orang yang diletakkan di bawah kedua perut telapak kakinya dua bara api, dan dalam satu riwayat: ia mengenakan dua sandal dari api neraka yang mendidih, dia memandang bahwa tidak ada seorangpun yang lebih dahsyat siksanya dari dia, padahal sesungguhnya dia itu orang yang paling ringan adzabnya, maka bagaimana halnya dengan yang paling dahsyat…?? Maka apakah dalam penyiksaan musuh-musuh Allah dan penindasan mereka bagaimanapun dahsyatnya ada yang seperti ini?

Dalam hadits shahih:

لو أن رجلاً يُجَرُّ على وجهه من يوم ولد إلى أن يموت هرماً لحقّره عند لقاء الله

Seandainya seorang laki-laki digusur di atas wajahnya sejak ia dilahirkan sampai ia meninggal di masa tua tentulah ia menganggapnya kecil saat berjumpa dengan Allah

Yaitu ia menganggap kecil penyiksaan seumur-umur dan penderitaannya dan ia menganggapnya sepele di hadapan apa yang dia lihat berupa adzab Allah bagi orang-orang kafir di hari kiamat atau di hadapan apa yang dia lihat berupa besarnya pahala dan balasan Allah bagi orang yang sabar atas hal itu dan mengharapkan ridha-Nya…

Sesungguhnya penghadiran ini dan itu dan pengingatannya selalu adalah meneguhkan da’i dan mujahid di atas transaksinya dan janjinya yang ia janjikan di hadapan Allah, serta menjadikan dia tidak butuh terhadap janji-janji musuh Allah dan targhib mereka, dan membantu dia atas penyiksaan dan ancaman mereka dalam kondisi yang paling sulit dan paling keras, sehingga ia tidak terusik oleh ini atau itu…

Dalam hadits:

يؤتى بأشقى أهل الأرض يوم القيامة فيغمس في الجنة غمسة واحدة ثم يقال له : هل رأيت شقاءً قط ؟ فيقول : لا والله يا رب ، ويؤتى بأنعم أهل الأرض فيغمس في النار غمسة واحدة ، ثم يقال له : هل رأيت نعيماً قط ؟ فيقول : لا والله يا رب

Didatangkan penduduk bumi yang paling sengsara di hari kiamat, terus ia dicelupkan dalam surga satu kali celupan, terus dikatakan kepadanya: Apakah kamu pernah merasakan kesengsaraan? maka ia berkata: Tidak, demi Allah wahai Tuhanku,” dan didatangkan penduduk bumi yang paling bahagia, terus ia dicelupkan dalam neraka satu kali celupan, terus dikatakan kepadanya: Apakah kamu pernah merasakan kebahagiaan ? maka ia berkata: Tidak, demi Allah wahai Tuhanku”

Oleh sebab itu sering saya katakan kepada musuh-musuh Allah saat mereka melakukan penyidikan dan saat mereka mengutarakan janji-janji dan ancaman, tatkala mereka kadang menawarkan kepada saya kerjasama dan ‘amal bersama mereka: Kalian bekerjasama dengan saya adalah lebih mudah dan lebih dekat daripada saya bekerjasama dan ber’amal bersama kalian; karena saya menganggap kalian sebagai musuh dan kafir, saya mengkafirkan kalian dan mengkafirkan orang yang membantu kalian terhadap kaum muslimin, maka apakah masuk akal saya bekerja dalam dinas yang saya kafirkan orang-orangnya? dan apakah masuk akal saya bekerjasama bersama musuh-musuh saya, kemudian andaikata saya bekerjasama bersama kalian, maka sesungguhnya kalian tidak akan mampu memberi saya seperti pahala yang telah Allah janjikan kepada saya bila saya memenuhinya seraya teguh lagi mengharap wajah Allah. Adapun seandainya kalian berkerjasama dengan saya dan kalian menjadi anshar bagi dienullah maka sesungguhnya pahala bagi kalian bila kalian ikhlas adalah surga yang lapangnya langit dan bumi, maka apa artinya gaji kalian dan pemberian Negara bagi kalian di hadapan surga yang lapangnya seluas langit dan bumi. Kalian bila bekerjasama bersama saya, maka kalian telah mengkhianati Negara –sesuai anggapan kalian– sedangkan ini adalah enteng dan tidak dianggap apa-apa di hadapan pengkhianatan terhadap Allah dan dien-Nya dan penindasan Negara kepada kalian atas pengkhianatan kalian ini adalah tidak ada apa-apanya di hadapan adzab Allah kepada saya seandainya saya mengkhianati dien-Nya dan bekerjasama bersama kalian, sebagaimana bahwa kerugian kalian akan gaji Negara dan pangkatnya adalah tidak ada apa-apanya di hadapan kerugian surga dan lapangnya langit dan bumi, maka itulah kerugian yang nyata… oleh sebab itu maka sesungguhnya kalian bekerjasama bersama saya adalah lebih ringan dan lebih dekat daripada saya bekerja bersama kalian…

  • Adapun tadlarrur dengan sebab banyaknya mukhalifin, mukhadzdzilin dan yang mencela du’at dan mujahidin, atau banyaknya pihak yang memblok ke barisan thaghut dan yang mendukung serta yang mensuportnya;  maka pada dasarnya bagi sang da’i dan mujahid adalah dia menempuh jalan Ath Thaifah Al Manshurah, teguh di atas jalan petunjuk, tidak sedih karena sedikitnya orang-orang yang menmpuh jalan, menjauhi jalan-jalan kesesatan dan berpaling dari para mukhadzdzil serta tidak terusik oleh banyaknya orang-orang yang binasa…

Ini adalah sunnatullah pada dien ini, dan ansharnya senantiasa merekalah yang sedikit lagi asing selalu, dan ini sebagaimana dalam hadits yang shahih:

يأتي النبي يوم القيامة ومعه الرهيط والنبي ومعه الرجل والرجلان والنبي ليس معه أحد

Datang seorang Nabi sedang bersamanya beberapa orang, dan (datang) seorang Nabi sedang bersamanya seorang laki-laki dan dua orang laki-laki; dan (datang) Nabi tidak seorangpun bersamanya.

Dan orang yang selalu mengingat orang-orang yang mendahuluinya dari kalangan syuhada dan shadiqin dari golongan mujahidin, ulama, du’at ‘amilin dan ansharuddien lainnya, serta dia menghadirkan di benaknya kafilah-kafilah mereka yang menghujam dalam lubuk sejarah, maka ia tidak merasa asing dan tidak terusik karena sedikitnya anshar dan banyaknya mukhalifin dan mukhadzdzilin

Jangan menunggu dalam perjalanan ini kawan yang duduk

Dan biarkanlah karena kerinduan cukup yang membawamu

Dan bila kau khawatir bosan maka katakan kepadanya:

Di hadapanmu tujuan hampir sampai maka carilah tempat air

Dan ambillah bagian dari cahaya mereka terus berjalan dengannya

Karena cahaya mereka menerangimu dan bukan sekedar korek api

Dan katakanlah; hai jiwa bantulah dengan kesabaran sesaat

Karena saat perjumpaan kepayahan itu menjadi lenyap

Ini hanya sebentar saja kemudian berlalu

Dan kesedihan itu menjadi kebahagiaan yang menyenangkan…

Terakhir… Sesungguhnya keselamatan dari fitnah itu bersama semua ini tidak akan dicapai, kecuali dengan komitmen terhadap apa yang ditinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  buat kita dan tidak tafrith terhadap sesuatupun darinya atau inhiraf (menyimpang) ke kanan atau ke kiri dari jalan yang telah digambarkan dan digariskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam buat kita…

Dalam sebuah atsar dari Sa’ad Ibnu Abi Waqqash tatkala diajak untuk ‘keluar’ dalam fitnah, ia berkata:

إن مثلي ومثلكم كمثل قوم كانوا في فلاة بيّنة طريقهم ، فثارت ريح عجاجة فالتبست عليهم الطريق ، فقال قوم : الطريق ذات اليمين ، فسلكوا فيها فتاهوا وضلوا ، وقال قوم : الطريق ذات الشمال ، فسلكوا فيها فتاهوا وضلوا . وقال آخرون : كنا على الجادة حين ثارت الريح ؛ فلنثبت على ما كنا عليه حتى تذهب العجاجة ، فنيخ فأناخوا ، فأصبحوا وقد ذهبت الريح وتبينت الطريق …

Sesungguhya perumpamaan saya dan perumpamaan kalian adalah seperti kaum yang berada di suatu padang pasir yang jelas jalannya, kemudian berhembus angin yang kencang sehingga jalan itu terkabur atas mereka, maka segolongan orang berkata: “jalan itu di sebelah kanan,” maka mereka melaluinya sehingga mereka tersesat jalan, dan segolongan orang berkata: “jalan itu di sebelah kiri,” maka mereka melaluinya sehingga mereka tersesat jalan, dan yang lain berkata: “kita berada di jalan yang benar saat angin berhembus, maka hendaklah kita tetap teguh di atas jalan itu sampai angin itu pergi dan istirahatlah”; maka merekapun istirahat, maka saat keesokan harinya mereka tetap dan angin telah pergi dan jalanpun telah jelas…

Maka mereka itulah orang-orang yang tetap teguh di atas jalan yang ditinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi mereka, dan mereka mengganti atau merubah, sehingga berbagai fitnah tidak mengganggu mereka selagi ada langit dan bumi, dan mereka tidak terusik oleh kaum mukhadzdzilun dan tidak pula oleh kaum mukhalifun…

Allah ta’ala berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (١٢٣)

Barangsiapa mengukuti ptunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka(QS. Thaha: 123)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

تركت فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي أبدا ؛ كتاب الله

Telah saya tinggalkan di tengah kalian suatu yang bila kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan sesat setelahku selamanya; Kitabullah.

Maka teguhlah ! dan teguhlah ! wahai para pengibar panji Ath Thaifah Al Qaimah Bidienillah, teguhlah di atas jalan yang telah ditinggalkan kekasih kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam  bagi kalian, jangan menelantarkan sesuatupun darinya dan janganlah terusik oleh orang yang menyelisihi kalian atau yang menggembosi kalian, dan janganlah sungkan dari nushrah dien-Nya karena sesuatu dari penyiksaan di tengah jalan atau tipu daya musuh dan gangguan orang yang dekat di antara mereka atau yang jauh, dan hati-hati jangan sampai kalian merasa takut di jalan atau lambat dalam perjalanan atau absen dari kafilah…

Itu peperangan yang barangsiapa absen dari medan tempurnya

demi cari selamat maka setelahnya ia gigit jari penyesalan

katakan kepada yang absen: cukup sebagai hukuman

absenmu dari hal ini andai engkau memahami urusan

dan berjalanlah ! dan jangan takut kegelapan karena sungguh

akan cukup bagimu wajah kekasih sebagai penunjuk di waktu malam

Dan giringlah Unta tungganganmu dengan mengingatnya, karena ia

Akan cukupkan tunggangan hai Thayyib pengingatannya sebagai pemacu

Dan majulah, karena bisa jadi cita-cita atau kematian yang

Akan tenangkan dirimu dari kehidupan yang dengannya kau tidak senang

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٧٢) الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (١٧٣) فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (١٧٤) إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١٧٥)

“(yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka yang bertqwa ada pahala yang besar. (yaitu) orang-orang (yang  mentaati  Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang menyatakan: ”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-sebaiknya Pelindung, Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaithan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar beriman”, (QS. Al Imran: 172-175)

Terakhir… Sesungguhnya nushrah dien ini dengan penegakannya dan penampakannya terhadap seluruh ajaran adalah termasuk tujuan terbesar yang karenanya Allah mengutus para Rasul… sebagaimana firman-Nya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (٣٣)

Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk di menangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai (QS. At Taubah: 33)

Selamat berbahagia bagi orang yang teguh  dari pengusung Thaifah ini diatas hal yang agung ini, dan selamat bahagia bagi orang yang memenuhi transaksi ini dan ia sama sekali tidak melakukan penggantian… ia hanya beberapa hari saja, dan di waktu pagi orang-orang memuji perjalanan malam….

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لا يُوقِنُونَ (٦٠)

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkanmmu (QS. Ar Ruum: 60).

==============

Penterjemah berkata:

Selesai diterjemahkan pada Jumada Ats Tsaniyah 1425 H

Lapas Kelas 1 Sukamiskin

Bandung

Bersambung…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: