Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Hukum Asal Darah Dan Harta Orang Kafir Asli

Hukum Asal Darah Dan Harta Orang Kafir Asli


Hukum Asal Darah Dan Harta

Orang Kafir Asli

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarokatuhu, Aku memohon kepada Allah agar menjaga engkau (wahai Syaikh kami) dari setiap kejelekan dan keburukan.  Dan semoga Allah meneguhkan kalian di atas Al-Haq, kebenaran dan jalan yang lurus, sesungguhnya Allah penolong dalam hal itu dan Dialah yang berkuasa atas hal itu semua.

Kemudian pertanyaanku kepada Asy-syaikh Abu Humam Bin Abdul Aziz Al-Atsary :

  1. Apa alasan yang dijadikan landasan untuk membunuh dan memerangi orang-orang kafir asli? Apakah karena kekafirannya? Atau karena mereka memerangi?
  2. Bila pada asalnya darah orang-orang kafir asli adalah mubah (halal), maka hukum-hukum apakah yang berkaitan dengan hal itu, selain apakah boleh mendahului memerangi mereka dalam rangka meninggikan kalimat Allah ?
  3. Apakah hukum asal harta orang kafir asli ?

Aku mengharapkan jawaban dan rincian dalam masalah ini sebagaimana yang telah dipahami oleh engkau.

Semoga Allah memberikan balasan dengan sebaik-baik balasan, wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh…

Di jawab oleh Al Lajnah Asy Syar’iyyah Fil Minbar, wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sesungguhnya alasan membunuh dan memerangi orang kafir asli adalah karena kekafirannya. Apabila kaum muslimin mendahului memerangi mereka maka cenderung karena alasan lain yaitu perbuatan aniaya yang dilakukan orang-orag kafir.

Hukum asal darah dan harta orang-orang kafir adalah halal, karena itu tidak berubah menjadi terjaga dan diharamkan kecuali dengan iman atau jaminan keamanan.

Syiakh kami Al Allamah Abu Muhammad Al Maqdisiy fakkalallahu asrah telah berkata: “Hukum asal darah seorang muslim hartanya dan kehormatannya adalah terjaga dengan iman… adapun orang kafir, maka hukum asal dalam hal ini mubah (halal), kecuali terjaga karena al aman (jaminan keamanan) dan yang semisalnya”. Selesai (Ar Risalah Ats Tsalatsiniyyah, hal.20).

Allah ta’ala telah berfirman:

 

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. (QS. Al Baqarah: 193)

Imam Al Qurthubi rahimahullah telah berkata: “Firman Allah: ”Apabila mereka berhenti”, maksudnya adalah mereka berhenti dari kekafiran, baik berhentinya dengan masuk Islam seperti ayat sebelumnya, atau membayar jizyah sebagai ketetapan untuk Ahlul Kitab –yang berada di bawah kekuasaan Islam– sebagaimana hal ini dijelaskan di dalam surat Al Bara’ah (At Taubah), jika tidak maka mereka diperangi lantaran kedzaliman mereka, tidak ada permusuhan kecuali terhadap mereka”. Selesai (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 3/247).

Perkataan yang paling benar yang berkaitan dengan orang-orang yang dzalim dalam ayat-ayat ini yaitu: “Siapa yang terus-menerus dalam kekafiran dan fitnah”. Selesai (Lihat Al Muharor Al Wajis, 1/263 dan Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 3/247).

Allah ta’ala befirman :

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perangilah mereka, hingga tidak ada lagi fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah, jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Anfal: 39)

Imam Ibnu Al ‘Arobiy Al Maliki rahimahullah telah berkata: “Firman Allah: “Perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah…”, maksud fitnah di sini adalah kekafiran, dengan dalil dari firman Allah ta’ala: “Fitnah lebih dahsyat dari pembunuhan (QS. Al Baqarah: 217), yaitu kekafiran…”. Selesai.

Masih perkataan Imam Ibnu ‘Arobi Al Maliki rahimahullah: “Permasalahan yang ke tiga: Bahwa sebab pembunuhan adalah kekafiran, sebagaimana dalam ayat tersebut. Karena itu Allah berfirman: “hingga tidak ada fitnah”, dimana Allah menjadikan tujuan (memerangi) yaitu hilangnya kekafiran, seperti telah jelas dalam nash dan ayat tersebut juga menerangkan bahwa pembunuhan yang dibolehkan dalam rangka memerangi orang-orang kafir”.

Sebagian shahabat Abu Hanifah rahimahullah telah menyimpang dalam masalah ini, mereka menduga bahwa sebab membunuh yang dibolehkan untuk memerangi yaitu karena mereka memerangi, mereka bersandar dengan firman Allah ta’ala; “perangilah mereka fi sabilillah orang-orang yang memerangi kalian dan janganlah kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al Baqarah: 190).

Ayat ini adalah konsekwensi dari ayat setelahnya, karena Allah memerintahkan pertama kali memerangi orang-orang yang menyerang, kemudian menjelaskan bahwa sebab memerangi dan membunuhnya adalah lantaran kekafirannya, dimana penganjuran (kekafiran) itulah yang menjadikan ia diperangi. Dan perintah memerangi dilakukan secara mutlak tanpa pengkhususan dengan didahului serangan darinya.

Jika dikatakan, kalau seandainya dibolehkan untuk membunuh lantaran dia kafir, maka tentu akan dibunuh setiap orang kafir dan engkau akan biarkan para wanita, para rahib dan selain mereka sebagaimana yang disebut dalam ayat !, maka jawabannya; bahwa kami hanya meninggalkan mereka dengan tetap membiarkan mereka lantaran ada yang menghalangi dari urusan-urusan yang bermanfaat dan maslahat; adapun manfaat itu diambil dari penawanan dari siapa saja yang menjadi tawanan, yang kemudian ada harta dan tawanan yang dipekerjakan, hal ini merupakan ghanimah yang Allah halalkan bagi kita di antara umat manusia. Dan adapun maslahat dari tidak membunuh rahib (ruhban) adalah untuk meredam agar lenyap perlawanan laki-laki dari kalangan mereka, dengan demikian akan melemahkan perlawanan mereka dan mempersempit kelompok mereka, sehingga merata penguasaan (kaum muslimin) terhada mereka.” Selesai. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 1/130-132). Sebelum ini ada yang perlu dipahami: Sesungguhnya kami mengecualikan apa yang dikecualikan oleh dalil.

Allah ta’ala berfirman:

فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. At Taubah: 5)

Dari Abdullah Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusi hingga mereka beraksi bahwa tidak ada ilah yang haq diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mereka menegakkan shalat, mereka menuanaikan zakat, apabila mereka melakukan hal itu maka terjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam, dan hisab (perhitungan) mereka diserahkan kepada Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu disebutkan bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada illah yang haq diibadahi, kecuali Allah dan mereka beriman kepadaku dan dengan apa yang aku diutus dengannya”. (Al Hadits)

Dalam riwayat Anas radliyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Aku memerangi manusia hingga tidak ada ilah yang hak diibadahi kecuali Allah, bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan mereka berqiblat dengan qiblat kita, mereka memakan sembelihan dari sembelihan kita, dan mereka shalat seperti shalat kita, jika mereka melakukan hal itu, maka di haramkan atas kita darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya, bagi mereka apa yang menjadi hak kaum muslimin, dan atas mereka apa yang menjadi kewajiban kaum muslimin.

Imama Nawawi rahimahullah menukil dari Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah bahwa ia berkata: “Pengkhususan keterjagaan jiwa dan harta dikarenakan ikrar laa ilaaha illallaah, sebagai bukti penerimaan iman, khitob dari hal ini adalah orang-orang musyrik arab, penyembah berhala, dan siapa saja yang tidak bertauhid.  Mereka adalah orang-orang yang pertama kali diajak masuk Islam dan berperang di atasnya.  Adapun selain mereka, siapa yang mengikrarkan tauhid, maka tidak cukup dalam keterjagaan dirinya hanya dengan ucapan la ilaha illallah saja, karena ia mengucapkannya dalam keadaan kafir terhadap konsekwensi (tuntutan) kalimat tersebut dan hal itu bagian dari hal yang diyakininya.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, menegakkan sholat dan menunaikan zakat”. Selesai.

Imam Nawawy rahimahullah telah berkata: “Aku katakan, pengikraran kalimat ini (laa ilaaha illallaah) harus disertai dengan iman dengan seluruh apa yang datang, yang dengannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus.  Sebagaimana dalam riwayat lain dari Abu Hurairoh radiyallahu ‘anhu, dimana hal ini disebutkan dalam kitab : (Hingga mereka bersaksi tiada ilah yang haq yang disembah kecuali Allah dan mereka beriman kepadaku dan dengan apa yang aku diutus dengannya,” Selesai. (Syarah Shohih Muslim, 1/286).

Dikatakan pula di dalam Al-Fawaid tentang hadits ini: “Di dalamnya ada keterjagaan harta bagi siapa yang mendatangkan kalimat tauhid pada dirinya, walaupun ia berada di ujung pedang.” (Syarah Shohih Muslim, 1/293).

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolany rahimahullah telah berkata: “(hingga mereka bersaksi) bahwa yang dijadikan tujuan memerangi adalah adanya kekafiran.” Selesai. (Fathul Bary, 1/104).

Dari Abu Malik, dari Ayahnya, ia berkata, Aku mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mengucapkan la ilaha illallah dan kafir terhadap apa yang dibadahi selain Allah, maka diharamkan hartanya, darahnya dan perhitungannya diserahkan kepada Allah.”(HR. Muslim).

Telah berkata Imam Dakwah Nejediyyah Asy-Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab rahimahullah tentang hadits ini: “Sebagaimana yang terdapat di dalam hadits shohih, (“Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah dan kafir terhadap apa yang diibadahi selain Allah, maka diharamkan hartanya, dan darahnya dan perhitungannya diserahkan kepada Allah”).  Perkataan; “kafir terhadap apa yang diibadahi selain Allah” maknanya penegasan penafian (peniadaan) ibadah kepada selain Allah, karena itu tidaklah terjaga darah dan harta kecuali dengan hal itu.  Dan kalau pun ragu atau bimbang, maka tetap tidak terjaga darah dan hartanya. Perkara ini adalah bagian dari kesempurnaan tauhid, karena kalimat laa ilaaha illallaah terikat dengan hadits-hadits yang berisi: tentang ilmu, ikhlash, sidqu (pembenaran) dan keyakinan tanpa keraguan. Seseorang tidak dikatakan sebagai muwahid kecuali terkumpulnya hal-hal tersebut seluruhnya, meyakininya, menerimanya, mencintainya, memusuhi karenannya dan loyalitas karenannya”. Selesai (Majmu’ Tauhid, 34-35).

Dan dikatakan pula dalam penjelasan hadits ini: “Dan hadits ini merupakan penjelasan yang paling agung makna laa ilaaha illallaah.  Sesungguhnya sekadar pengucapan saja tidak menjadikan seseorang terjaga harta dan darahnya, bahkan tidak mengetahui maknanya meski mengucapkannya, apalagi tidak ada pengakuan terhadap kalimat tersebut (maka tidak terjaga harta dan darahnya). Dan tidaklah terjaga harta dan darahnya, meskipun mereka tidak menyeru dalam ibadah kecuali kepada Allah semata, hingga dinyatakan tentang hal itu, yaitu kufur dengan apa yang diibadahi selain Allah. Barangsiapa yang ragu dan menolak, maka tidaklah diharamkan harta dan darahnya“. Selesai.

Syaikh kami Al Allamah Abu Muhammad Al Maqdisiy fakkalallahu asrah telah berkata: “Menjadikan kufur dan baro’ah (berlepas diri) dari apa yang diibadahi selain Allah adalah satu macam dari macam-macam ibadah… hal itu adalah syarat benarnya Iman dan Islam dan terpeliharanya darah dan harta.” Selesai. (Al-Kawasyif Al-Jaliyyah, 118)

Dan Syaikh kami Abu Basher Al-Thurthusiy hafidzhohullah telah berkata: “Pemahaman hadits ini adalah siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallaah, tetapi tidak kafir dengan apa yang diibadahi selain Allah, maka tidaklah haram harta dan darahnya, dengan demikian tidak disebut muslim.” Selesai (Qowaidu Fi at-Takfir, 181)

Dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:  “Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang hingga Allah saja yang diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Allah menjadikan rizkiku dibawah bayangan tombakku, dan Allah menjadikan hina dan rendah siapa saja yang menyelisihi urusanku, dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum itu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya).

Al-Hafidz Ibnu Rojab al-Hanbaly rahimahullah telah berkata: “(Hadits tersebut) mengisyaratkan bahwa Allah tidak mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semata-mata untuk mendapatkan dunia, tidak pula diutus untuk mengumpulkan dunia dan menyimpannya, dan tidak pula diutus untuk mencurahkan kesungguhan untuk semata-mata mencari dunia.  Akan tetapi diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai penyeru tauhid dengan pedang, maka barangsiapa menerima hal itu maka (konsekwensinya) adalah membunuh musuh-musuhnya yang menolak dari menerima tauhid, kemudian dihalalkan darah dan harta mereka, dijadikan tawanan wanita-wanita dan anak-anak mereka, dan menjadikan rizkinya (muwahid) dari apa-apa yang Allah karuniakan dari harta musuh-musuhnya.  Sesungguhnya harta itu  semata-mata Allah ciptakan untuk bani Adam dalam rangka untuk menolong mereka dengan harta itu untuk ketaatan dan ibadah hanya kepada-Nya.”

Barangsiapa yang mengerahkan potensi harta tersebut dalam rangka kafir kepada Allah dan kesyirikan kepada-Nya.  Maka Allah kuasakan Rosul dan pengikutnya, kemudian akan dicabut harta itu dari mereka dan dikembalikan kepada siapa yang lebih berhak dari ahli ibadah yang mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya.

Oleh karena itu penamaan fai maksudnya adalah harta yang dikembalikan kepada siapa yang lebih berhak dari harta tersebut dan untuk itulah harta itu diciptakan Allah.  Dan ada pembatalan (pemansukhan) di dalam Al-qur’an tentang harta: “Hanyasannya kami menurunkan harta dalam rangka untuk menegakkan sholat dan menunaikan zakat.”

Orang yang bertauhid dan taat kepada Allah adalah golongan yang paling berhak terhadap harta daripada orang-orag kafir dan musyrik. Dan dicabutnya harta-harta mereka, kemudian dijadikan rasul-rasul-Nya dari harta ini karena Allah tidak menghalalkannya (bagi orang kafir dan musyrik). Allah befirman :

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Anfal [8]: 69)

Hal ini bagian dari yang Allah khususkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, sesungguhnya telah dihalalkan bagi mereka dari harta rampasan perang (ghanimah). (Al Hukmu Al Jadiroh Bil Idza’ah, hal 11).

Imam Badarrudin Bin Juma’ah rahimahullah telah berkata: “Apabila seorang laki-laki muslim atau sekelompok kecil yang tersembunyi dari mereka memasuki Darul Harb (negeri yang memerangi kaum muslimin) kemudian mereka mengambil harta dengan mencuri dari orang kafir atau mereka menculik (menawan), atau merampas harta orang-orang yang memerangi atau mengambil harta mereka dengan cara melarikannya, atau diambil dengan kekerasan, maka dikatakan: Jika diambilnya harta tersebut secara khusus oleh seseorang atau kelompok kecil, maka tidak ada khumus[1] dan tidak ada ketentuan pembagian, pendapat ini dipilih oleh Imam Al Ghazali. Namun pendapat lain mengatakan hal itu seperti pembagian ghanimah, ada khumus dan ada ketentuan pembagian.”

Demikian pula hukum bila sekelompok pasukan kaum muslimin melakukan operasi pengambilan harta tanpa izin sulthan, maka Abu Hanifah berpendapat: “Bila mereka (yang dirampas hartanya) mempunyai kekuatan untuk membangkan, maka harta tersebut dijadikan sebagai ghaniman dan ada ketentuan pembagian ghanimah. Namun bila mereka tidak memiliki kekuatan untuk membangkang maka pembagiannya dilakukan secara khusus, dan ada yang berpendapat harta tersebut diserahkan kepada baitul mal. Bila harta itu didapatkan dengan cara memerangi dan menang maka berlaku sebagai ghanimah, ada khumus dan ada ketentuan pembagiannya.” Selesai. (Tahrir Al Ahkam Fit Tadmir Ahlil Islam, hal 210-211).

Pendapat-pendapat tersebut di atas menunjukan pembolehan (penghalalan darah dan harta orang-orang kafir) dan menunjukan pula tentang pengharaman darah dan harta kaum muslimin dan hal ini dengan alasan yang berbeda. Sesungguhnya nash atau dalil yang menunjukan pengharaman darah dan harta kaum muslimin berubah-ubah dengan jalan yang berbeda dibanding dengan darah dan harta selain mereka dari orang-orang kafir yang asalnya tidak diharamkan.

Dalam permasalah ini ada dalil-dalil yang dapat ditambahkan selain yang telah disebutkan terdahulu, di antaranya :

  • Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau melakukan haji wada’, di dalam khutbah beliau yang terkenal: “…sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, kehormatan kalian haram atas kalian, seperti haramnya hari kalian ini, bulan kalian ini, dan negeri kalian ini, ingatlah bukannya aku telah menyampaikan !” (Muttafaq ‘alaih)

Khitab atau tujuan pembicaraan ini adalah untuk ahlul iman dengan pengharaman darah mereka, harta mereka dan kehormatan mereka, namun tidak diharamkan untuk selain mereka. Dalam hal ini ada riwayat lain: “mukmin itu haram atas mukmin yang lain”. (Perkataan Al Haitsami di dalam Majmu Al Zawaid, juz 3 hal 275; diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al Kabir, di dalamnya ada Karomah Bin Al Husain, tetapi tidak ada yang menyebutkannya).

  • Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Setiap muslim atas musllim yang lainnya diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya” (HR. Muslim)
  • Dari Jabir Bin Abdillah radliyallahu ‘anhuma telah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “(disebut) muslim itu adalah siapa yang menyebabkan selamatnya kaum muslimin dari lisannya dan perbuatannya” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Bakar Ash Shidiq radliyallahu’anu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Terlaknatlah siapa yang membahayakan orang-orang mukmin, atau membuat tipu daya kepadanya”. (HR. Tirmidzi, dikatakan hadits ini gharib, yaitu dhaif; karena Abu Salamah Al Kindi dia tidak dikenal, dan Furqud As Subkhi lemah dalam hadits dan banyak kesalahannya).

Al Hafidz Ibnu Rojab Al Hambali rahimahullah telah berkata: “Bahwasannya diperbolehkan melawan (dengan tipu daya) terhadap siapa saja yang mendatangkan keburukan atasnya, dan di antara mereka adalah orang-orang kafir yang memerangi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perang itu adalah tipu daya”. Selesai. (Jami’ul Ulum Wal Hukam, 436).

Hal yang juga dijadikan dalil atau perkara ini adalah riwayat dari Anas radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kiamat tidak terjadi hingga tidak ada lagi ucapan di bumi lafadz Allah… Allah… Allah…” dan dalam riwayat yang lain: “Kiamat tidak terjadi atas seseorang yang masih mengucapkan Allah… Allah…” (HR. Muslim).

Al Qadliy ‘Iyadh rahimahullah telah berkata: “Di dalam riwayat Ibnu Abi Ja’far (…mengucapkan Laa ilaaha illallaah). Selesai. (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, 2/235).

Telah diriwayatkan dari Buraidah radliyallahu ‘anhu secara marfu’: “Hari kiamat tidak terjadi hingga Allah ta’ala tidak diibadahi di bumi sebelum itu selama 100 tahun”, disebutkan oleh penulis Kanzul ‘Ummal dan dikatakan: diriwayakan oleh Ibnu Jarir dan Al Hakim dalam Tarikh-nya.

Dapat dipahami bahwa hal itu (kiamat) terjadi jika tidak ada orang yang mengibadahi Allah di dunia ini, maka tidaklah berhak bagi siapa yang beribadah kepada selain Allah untuk hidup, karena itu terjadilah kiamat.

Dari uraian tersebut, tesusun pemahaman hukum yang banyak, yang nampak jelas yaitu:

A.  Masyruiyyah (disyari’atkannya) jihad offensive, ini adalah perkara yang ditinggalkan oleh para ulama muttaakhirin dan kebanyakan kaum muslimin, mereka berpendapat bahwa jihad offensive diharamkan. Di antara penggagasnya yaitu: Jamalludin Al Afghaniy, Muhammad Abduh, Muhammad Al Ghazali, Sayyid Sabiq, dan lainnya selain dari mereka. Allah befirman :

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu) maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir”. (QS. Al Baqarah: 191)

Al Imad Bin Katsir rahimahullah berkata: Allah ta’ala berfirman: “Janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali mereka memulai memerangi kalian di dalamnya”, maka maksudnya bagi kalian ketika itu memerangi mereka dalam rangka membela diri”. Selesei. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 283).

Seandainya jihad offensive bukan peperangan yang disyari’atkan, tentu pelarangan dari memulai memerangi di sekitar Masjidil Haram tidaklah bermakna !, dan tentu izin perang defensive (bertahan) hanyalah di Masjidil Haram saja. Karena jika hal itu –seperti klaim dari kebanyakan orang-orang zaman sekarang– dilakukan peperangan offensive di setiap tempat, maka kenapa Allah melarang dari memulai memerangi di sekitar Masjidil Haram saja.

Hal ini adalah dalil yang jelas bolehnya memulai memerangi di selain Masjidi Haram. Telah berkata Al Iman Ibnu Al Arobiy Al Maliki rahimahullah: “Telah tsabit pelarangan dari memerangi di dalamnya –yaitu di Makkah– di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Jika bersikukuh memerangi di dalamnya, maka ia kafir dan tidak ada dien baginya. Adapun pezina dan pembunuh maka harus ditegakkan had padanya. Kecuali bahwa orang kafir mendahului memerangi di dalamnya, maka dia dibunuh dengan nash Al Qur’an.” Selesai. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an. 1/129)

Allah ta’ala befirman:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. (QS. At Taubah [9]: 29)

Dari Sulaiman Bin Buraidah dari ayahnya ia telah berkata: [“Bahwasannya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat pemimpin terhadap sebuah pasukan atau sariyyah (unit tempur), beliau berwasiat secara khusus kepadanya dengan taqwa kepada Allah, dan barangsiapa yang bersamanya dari kaum muslimin dengan kebaikan, kemudian beliau berkata: “Berperanglah fi sabilillah dengan nama Allah, perangilah orang yang kafir kepada Allah dan berperanglah dan janganlah kalian khianat, janganlah kalian mencincang, dan janganlah kalian membunuh anak-anak, apabila kalian bertemu musuh dari orang-orang musyrik, maka serulah mereka kepada tiga perkara (tiga hal), mana saja dari ketiga seruan itu mereka terima dari seruan kalian, maka terimalah dari mereka dan tahanlah tangan kalian terhadap mereka, tiga perkara tersebut adalah:

1.  Ajaklah mereka kepada Islam, apabila mereka menerima, maka terimalah mereka, dan tahanlah tangan kalian dari mereka. Kemudian ajaklah mereka untuk berhijrah dari negeri mereka ke negeri muhajirin (negeri islam) dan kabarkan kepada mereka jika mereka melakukan hal itu, maka bagi mereka akan mendapat hak seperti muhajirin dan atas mereka pun para muhajirin mendapatkan hak. Namun jika mereka menolah berpindah darinya, maka kabarkan kepada mereka bahwa mereka akan diperlakukan seperti orang-orang muslim badui, yang berlaku atas mereka hukum-hukum Allah sebagaimana yang berlaku atas orang-orang yang beriman, tetapi mereka tidak mendapat pembagian ghanimah dan fai sedikitpun kecuali mereka ikut berjihad bersama kaum muslimin.

2.     Apanila mereka menolak (point pertama), maka pungutlah jizyah dari mereka, apabila mereka mematuhi seruanmu, maka teimalah mereka dan tahanlah tangan kalian dari mereka.

3.    Apabila mereka menolak (point kedua), maka (lebih dahulu) mintalah pertolongan kepada Allah, kemudian perangilah mereka…”] (HR. Muslim)

Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda pada hari perang Ahzab: “Tiba saatnya sekarang kita memerangi mereka dan sekali-kali mereka tidak memerangi kita, kita akan berjalan (berperang) ke tempat mereka.” Menurut riwayat Thabroni dalam Mu’jam Al Kabir: “Pada hari ini kita akan memerangi mereka, bukan mereka memerangi kita”.

Betapa jihad di masa periode awal tidaklah terjadi kecuali jihad offensive dan penaklukan-penaklukan di antara negeri-negeri yang ditaklukan ada yang dikuasai dengan cara damai dan ada juga negeri-negeri yang dikuasai dengan cara kekerasan.

Imam Abu Ubaid rahimahullah berkata: “Di antara negeri-negeri (yang dikuasai) dengan cara mengikat perjanjian: Negeri Hajr, Bharoin, Ailah, Daumatul Jandal, dan Al Azroh, dimana negeri-negeri tersebut biasa membayar jizyah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hal itu telah mereka sepakati. Demikian pula apa yang terjadi setelah itu negeri-negeri yang mengikat perjanjian dengan kaum muslimin: Baitul Maqdis, dikuasai oleh Umar Bin Khoththob dengan perjanjian. Demikian juga kota Damsyiq dikuasai oleh Kholid Bin Walid dengan perjanjian, kota Syam dan sekitarnya dikuasai juga dengan perjajian di bawah pimpinan Yazid Bin Abi Sofyan, Syurahbil Bin Hasanah, Abu Ubaidah Ibnu Al Jarroh dan Kholid Bin Walid. Demikian juga negeri-negeri di jazirah Arab lainnya dikuasai dengan cara perjanjian oleh Iyadl Bin Ghonam. Demikian juga bangsa Qibthi di Mesir dikuasai dengan perjanjian oleh ‘Amru Bin ‘Ash. Demikian juga negeri-negeri di Khurosan sebagian atau kebanyakan dikuasai dengan cara perjanjian oleh Abdulloh Bin Amir Bin Kuraiz. Hal itu berakhir hingga daerah Marwi Ar Raudzi, hal ini terjadi pada masa Utsman Bin Affan. Adapun masa setelah itu, negeri-negeri dikuasai oleh Said Bin Utsman Bin Affan Al Mahlub Bin Abi Sofroh, Qutaibah Bin Muslim dan selain mereka”.

Abu Ubaid berkata lagi: “Mereka dikuasai dengan syarat-syarat (yang disepakati) hingga tidak ada antara kaum muslimin dengan mereka suatu perselisihan. Demikian juga negeri-negeri yang dikuasai dengan cara kekerasan, jika imam memandang (berpendapat) ingin mengembalikan kepada pemiliknya dan pengakuan di hadapan mereka sendiri, setatus dzimmah (membayar jizyah) dan dien mereka tunduk kepada Islam, hal ini seperti yang dilakukan oleh Umar kepada Ahli As Sawada’, namun kemudian dikuasai secara paksa oleh Sa’ad. Demikian juga negeri-negeri di Syam, seluruhnya dikuasai dengan paksa hingga tidak tersisa kota-kotanya yang dipimpin oleh Yazid Bin Abi Sofyan, Syurohbil Bin Hasanah, Abu Ubaidah Bin Al Jaroh dan Kholid Bin Walid. Demikian juga Al Jabal dikuasai dengan paksa dengan sekali gempuran di daerah Jawala’ dan Nahawand di tangan Sa’ad Bin Abi Waqqash dan Nu’man Bin Muqrin, demikian pula Al Ahwaz dan sebagian besar sekitarnya. Demikian pula Persi di tangan Abu Musa Al Asy’ariy, Utsman Bin Abi Al ‘Ash dan Utbah Bin Ghozwah, dan selain mereka dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan demikian pula daerah Maghrib di tangan Abdullah Bin Sa’ad Bin Abi Saroh.

Telah sampai kabar kepada kami dari Abdulloh Bin Sholih dari Musa Bin Ali Bin Robbah dari bapaknya, ia berkata: “Al Magrib seluruhnya dikuasai dengan paksa (kekerasan).”

Telah berkata Abu Ubaid: “Demikian pula daerah Ats Tsugur, telah sampai kepada kami dari Hisyam Bin Amar dari Yazid Bin Samuroh dari Al Hakam Bin Abdirrahman Bin Abu Ashoma’ Al Qos’amiy, bahwasannya di antara orang yang menyaksikan kemenangan atas Qisarriyyah, ia berkata: “Mu’awiyyah telah mengepung Qisarriyyah selama tujuh tahun kurang satu bulan (6 tahun 11 bulan). Kemudian kaum muslimin dapat menguasainya, kemudian diutuslah utusan atas kemenangan itu kepada Umar Bin Khoththob, kemudian berdirilah Umar dan berkata: “ketahuilah, sesungguhnya Qisarriyyah dimenangkan (dikuasai) dengan cara kekerasan”. Selesai (Lihat kitab Al Amwal).

B.  Seorang muslim tidak boleh dibunuh lantaran telah membunuh orang kafir, walaupun ia kafir dzimmiy atau yang terikat perjanjian.

Imam Bukhariy dalam Shahih-nya telah meriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Seorang muslim tidak boleh dibunuh lantaran telah membunuh seorang yang kafir”.

Telah ada dokumen tulisan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditulis beliau saat pertama kali tiba di Madinah –Yastrib– ketika beliau menulis di dalamnya: “Seorang yang mukmin tidak boleh dibunuh lantaran telah membunuh seorang yang kafir”. Selesai (Ibnu Hisyam, 1/502)

Imam Ibnu Hazm Al Andalusiy rahimahullah telah meriwayatkan dalam kitabnya ‘Al Muhalla dengan sanad dari Umar Bin Al Khoththob radliyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Seorang mukmin tidak boleh dibunuh lantaran telah membunuh seorang yang kafir”. Beliau juga telah meriwayatkan dari Ibnu Syihab kisah tentang seorang muslim yang telah membunuh seorang Nashroni, kemudian Utsman Bin Affan memutuskan: “Bahwa ia tidak boleh dibunuh (di qishash) karena hal itu.” Selesai. Beliau juga meriwayatkan dari Hasan Al Bashri bahwasannya Ali Bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu telah berkata: “Seorang mukmin tidak boleh dibunuh lantaran telah membunuh seorang yang kafir”. Selesai.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Ali Bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu, ia berkata: “Di antara sunnah adalah seorang muslim tidak boleh dibunuh lantaran ia telah membunuh seorang yang kafir”.

Telah diriwayatkah oleh Ibnu Ishaq rahimahullah bahwasannya Abdulloh Bin Abdullaoh Bin Abi (anaknya Abdulloh Bin Ubay) telah datang ke hadapan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, meminta izin untuk membunuh bapaknya yang munafiq, kemudian Rasulullah berkata: “Sesungguhnya aku khawatir bahwa jika aku perintahkan hal itu, maka orang selainku akan menyangka aku telah membunuhnya dan tidak menyangka baik terhadapku, dan orang akan berkata lihatlah pada pembunuh Abdulloh Bin Abi yang berjalan di tengah-tengah kaum muslimin. Jika aku dalam dianggap membunuhnya, maka orang mukmin akan dibunuh lantaran membunuh seorang kafir, maka masuklah ia ke dalam neraka.” (Lihat Siroh Ibnu Hisyam, 3/267).

Telah berkata imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy rahimahullah dalam mengambil alasan hukum terhadap atsar tersebut: “Bahwa seorang muslim tidak boleh dibunuh lantaran membunuh seorang yang kafir, meskipun yang dibunuh itu kafir yang ada jaminan keamanan atau dzimmiy.” Selesai (Al Mughni, 9/341)

Imam Ibnu Qudamah juga berkata dalam masalah: “Tidak boleh dibunuh seorang muslim lantaran membunuh seorang yang kafir”… tidak ada kewajiban atas seorang muslim berupa muslim lantaran telah membunuh seorang yang kafir, yaitu kafir apa saja. Hal ini diriwayatkan dari Umar, Utsman, Ali, Zaid Bin Tsabit dan Mu’awiyyah radliyallahu ‘anhum. Demikian pula pendapat Umar Bin Abdul Azis, Atho’, Al Hasan, Ikrimah, Az Zuhri, Ibnu Syabromah, Malik, Ats Tsauriy, Al ‘Auzaiy, Asy Syafi’iy, Ishaq, Abu Ubaid, Abu Tsur, dan Ibnu Mundzir…”. Selesai. (Al Mughni, 11/305).

Termaktub dalam kitab “Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah” dalam bab qishash halaman 261 dan masalah setelahnya: …syarat-syarat qishash pada jiwa:

…2: keterjagaannya orang yang dibunuh: para fuqaha bersepakat bahwa di antara syarat wajibnya qishash atas orang yang membunuh adalah terjaganya darah orang yang dibunuh… mereka mensyaratkan menjadikan orang yang diibunuh darahnya terjaga dari ditumpahkan terhadap si pembunuh selama-lamanya seperti terjaganya darah seorang muslim. Namun jika terjaga darahnya untuk waktu sesaat saja seperti orang kafir yang mendapat jaminan keamanan, maka si pembunuh tidak dibunuh lantaran pembunuhan terhadap orang musta’min[2] tersebut, karena musta’min terjaga darahnya dalam kondisi saat ada jaminan keamanan saja, dan pada asalnya ia halal ditumpahkan darahnya, karena ia termasuk orang yang memerangi (harbiy), sehingga tidak ada qishash dalam pembunuhan terhadapnya.

…3: dipandang dari sisi kesetaraan antara orang yang membunuh dan orang yang dibunuh, dikatakan bahwa di antara syarat wajibnya qishash dalam suatu pembunuhan adanya kesetaraan antara pembunuh dan yang dibunuh dalam hal kejelasan statusnya. Maka tidak dibunuh orang yang tinggi derajatnya dari orang yang hina, tetapi dibunuh orang yang hina derajatnya dari orang yang tinggi derajatnya atau yang setara. Oleh karena itu tidak boleh seorang muslim dibunuh walaupun muslim itu hamba sahaya, lantaran ia telah membunuh orang kafir yang merdeka (bukan hamba sahaya). Selesai.

Masalah ini telah aku jelaskan –dengan fadlilah Allah– dalam tulisan yang berjudul Al Qaul Adz DzahirFi Hukmi Qotlu Muslim Bil Kafir (perkataan yang jelas dalam hukum membunuh seorang muslim lantaran ia membunuh orang kafir). Di dalamnya ada pembahasan Al Muthor Al Wabil Fi Ijabati As Sail, rujuklah anda ke kitab tersebut jika anda menghendaki.

C.  Tidak berbeda dari pokok masalah ini, yaitu pembunuhan orang yang murtad dari Islam meskipun ia tidak pernah membunuh seorang muslimpun, oleh karena itu hal yang tidak berbeda jauh dari orang yang mengatakan bahwa alasan pembunuhan orang kafir adalah aniayanya dia (tidak mau beriman) sehingga dikembalikan seperti hukum murtad, atau menggantungkan dengan sebab kemurtaddannya seperti pembunuhan terhadap kaum muslimin. Allah berfirman :

قُلْ لِلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الأعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَى قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ فَإِنْ تُطِيعُوا يُؤْتِكُمُ اللَّهُ أَجْرًا حَسَنًا وَإِنْ تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِنْ قَبْلُ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Katakanlah kepada orang-orang Islam Badwi yang tertinggal: “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu harus memerangi mereka kecuali mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih”. (QS Al Fath [48]: 16).

Imam Ibnu Al Zauziy rahimahullah berkata: “Firman Allah: “Kamu harus memerangi mereka kecuali mereka menyerah…”  maksud ayat ini adalah Bani Hanifah pada hari perang Yamamah, dan mereka adalah pengikut Musailamah Al Kadzdzab…”, Az Zuhri berkata demikian juga, Ibnu Saib juga Muqotil. Muqotil berkata: “Pada saat kekhalifahan Abu Bakar, hal ini menjadi hal yang sangat jelas (kebenaran ayat). Telah berkata Rafi’ Bin Hudaiz: “Dahulu kami membaca ayat ini dan kami tidak memahami siapa mereka, hingga ada seruan Abu Bakar untuk memerangi Bani Hanifah, maka kemudian kami memahami sesungguhnya yang dimaksud (ayat tersebut) adalah mereka.

Telah berkata sebagian dari ahli ilmu: “Tidak boleh mengarahkan ayat ini kecuali kepada bangsa Arab saja, sebagaimana bunyi ayat ini “Kamu harus memerangi mereka kecuali mereka menyerah…”. Persi dan Rum hanya saja kalian perangi hingga mereka menyerah atau membayar jizyah.” Selesai. (Zadul Masir, 7/207).

Perkataan “Tidak boleh mengarahkan ayat ini kecuali kepada bangsa Arab saja”, maksudnya adalah penyembah berhala atau orang-orang murtad, karena orang-orang Arab diperintah untuk memerangi mereka –karena kondisi kekafiran mereka– tidak keluar kondisi mereka dari salah satu dari dua golongan itu. Ayat ini tidak dikhususkan terhadap bangsa Arab, akan tetapi khusus kepada siapa saja yang kami sebutkan, yaitu bangsa Arab atau bukan Arab.

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mengganti diennya, maka bunuhlah ia”. (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, dalam lafadz Ibnu Majah: “Barangsiapa yang menolak satu ayat dari Al Qur’an maka sungguh dihalalkan menebas batang lehernya”.

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu, dia berkata, telah bersabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat Laa ilaaha illallaah dan aku adalah Rasulullah, kecuali dengan salah satu dengan tiga hal: pembunuhan jiwa tanpa haq, orang yang telah menikah kemudian berzina, dan orang yang meninggalkan (murtad) dari dien dan meninggalkan jama’ah”. (Muttafaq ‘alaih).

Dari Al Baro’ Bin Aazib radliyallahu ‘anhu dia berkata: Aku bertemu dengan pamanku Abu Burdah, dan ia ketika itu sedang membawa bendera, aku berkata: “Hendak kemana engkau paman?”, kemudian ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutusku kepada seorang laki-laki yang menikahi isteri bapaknya, bahwa aku disuruh membunuhnya atau aku disuruh menebas batang lehernya.” Dan ada tambahan pada riwayat Mu’awiyyah Ibnu Qort dari bapaknya: “Ambil seperlima hartanya” (Diriwayatkan Ahmad dan selainnya, Ibnu Hibban menshahihkannya, juha Al Hakim dan Adz Dzahabi mensepakatinya).

Telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Sesungguhnya pengambilan seperlima hartanya menunjukan sesungguhnya bahwa ia kafir dan bukan sekedar fasiq, kekafirannya ditunjukan dengan ia tidak mengharamkan apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan”. Selesai. (Majmu Fatawa, 20/92).

Ijma yang telah disepakati yaitu pembunuhan orang yang murtad dan tidak bolehnya pembunuhan terhada orang Islam. Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy  rahimahullah telah berkata: “Ijma ahlul ilmi atas wajibnya membunuh orang yang murtad, hal ini telah diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Mu’adz, Abu Musa, Ibnu ‘Abbad, Kholid dan selain mereka, dan tidak ada yang mengingkari hal itu bahwa hal itu telah diijmakan.” (Al Mughniy, 9/16).

Telah dinukil secara ijma atas perkara ini oleh Imam Al Khithobi, Ibnu Sahnuun, Al Qadliy ‘Iyadl, Ibnu Hazm, An Nawawi, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Rojab Al Hambali, Ibnu Daqieq Al ‘Ied, Ibnu Mundzir, Al Kaisaniy, As San’aniy, Asy Syaukani, Ibnu Abidin, dan selain mereka.

(untuk tambahan), silahkan lihat pada kitab “Li Madza Yunkiru Ikhwan Had Riddah” (mengapa para ikhwan mengingkari had orang murtad), ditulis oleh saudara kita Asy Syaikh Abdurrahman Asy Syinqithiy hafidzohullah, beliau menerangkan dengan sangat mudah masalah ini dengan sebaik-baik penjelasan. Wallahu ’alam.

 
 
 
Alih bahasa: Abu Yusuf Al Indunisiy
29 Rabiul Awal 1433 H / 23 Februari 2012
mu’taqol thaghut laknatullah ‘alaihim – Jakarta

[1] Seperlima bagian untuk kaum muslimin atau baitul mall.(pent)

[2] orang yang mendapat jaminan keamanan,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: