Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » FIQIH » Hukum Menipu Bank

Hukum Menipu Bank


Hukum Mencuri Harta Bank Milik Orang-Orang Kafir

Dengan Cara Menipu dan Khianat ???!!!

Assalamu ‘alaikum…

Apa hukum pencurian di bank atas dasar anggapan bahwa ia itu didanai dan dijamin dari pihak-pihak dan pemerintah yang kafir? Dengan cara seseorang melakukan pinjaman dari bank dan melakukan pembayaran secara total dalam rangka meraih kepercayaan mereka (pihak bank), untuk mengambil pinjaman lagi yang lebih besar terus ia melarikan diri ke luar negeri tanpa merugikan siapapun?

Saya berharap mendapatkan jawaban ikhwani fillah sesegera mungkin.

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…

 Penanya: An noor

Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisy menjawab:

Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasulullah.

Wa ba’du:

Saudara kami penanya… Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

 “Wahai orang-orang yang beriman tunaikanlah akad-akad itu…” [Al Maidah: 1]

Dan berfirman juga:

إِنَّ اللَه يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menunaikan segala amanah kepada ahlinya..” [An-Nisa: 58]

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

 “Barangsiapa menipu maka ia bukan dari (golongan) ku.” (Muslim no. 102)

Perhatikanlah teks hadits ini yang ada di dalam “Shahih Muslim”, di mana ia tidak sama dengan riwayat yang lain ”من غشنا“ (barangsiapa menipu kami), akan tetapi ia lebih umum sehingga masuk di dalamnya larangan dari menipu orang-orang kafir juga, dan seperti itu juga ayat-ayat di atas di mana ia itu umum.

Dan atas dasar ini maka tidak halal mengkhianati akad (perjanjian) dan amanat (kepercayaan) dan (tidak halal pula) penipuan termasuk terhadap orang-orang kafir, karena nash-nash yang melarang hal itu adalah umum yang tidak boleh ditaqyid (dibatasi) dengan tanpa dalil. Tidak boleh ditaqyid dengan hawa nafsu dan istihsan (penganggapan baik) serta pencarian harta dunia, karena di sisi Allah ada ghanimah yang banyak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di Mekkah sebelum bi’tsah (kenabian) digelari Ash-Shadiq Al-Amin oleh orang-orang kafir, di mana beliau tidak pernah mengkhianati amanah milik orang kafir, tidak pernah melanggar janji dan tidak pernah menipu dalam akad apapun, dan mana mungkin beliau melakukannya. Dan semestinya begitulah   tindakan para pengikut beliau dan anshar diennya bila mereka ingin beruntung sebagaimana beliau telah beruntung dan (ingin) berhasil sebagaimana beliau telah berhasil…

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Bila kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, tentu Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa- dosa kalian. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali Imran: 31]

Dan di dalam sirah bahwa Al Mughirah ibnu Syu’bah menemani dua belas orang pria di zaman jahiliyyah, mereka mendatangi raja Habasyah kemudian si raja memberikan hadiah kepada mereka, memberikan kenang- kenangan bagi mereka dan memuliakan mereka, tapi tidak memberikan sedikitpun hadiah kepada Al Mughirah, maka Al Mughirah menyimpan kekesalan di dalam dirinya dari perlakuan itu. Dan dalam perjalanan mereka pulang di atas kapal laut ia mengikat kepalanya dengan kain dan mengaku bahwa ia pusing kepala serta berkata kepada mereka: “Hari ini saya orang yang bertugas memberi minuman bagi kalian”, maka ia memberikan minuman khamr murni kepada mereka sampai mereka semua mabuk, terus ia membunuh mereka dan mengambil harta mereka terus pergi menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah seraya masuk Islam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Adapun keislaman maka saya menerimanya darimu, dan adapun harta maka saya tidak bertanggung jawab sedikitpun darinya, karena ia telah diambil secara khianat.” Dan beliau tidak mau mengambil harta itu.

Kisah ini bisa dijadikan pendekatan dalam masalah yang kita bahas ini, dan kisah ini keshahihannya bisa dikokohkan dengan apa yang dituturkan dalam Shahih Al Bukhari di Kitab Asy Syuruth dalam kisah Hudaibiyyah perihal negoisasi Urwah ibnu Mas’ud terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang Urwah ini adalah paman Al Mughirah ibnu Syu’bah, dimana dalam kisah itu Urwah berkata kepada Al Mughirah tatkala melihatnya: “Hai Pengkhianat! Aku masih terus berusaha menyelesaikan pengkhianatanmu.” Yaitu bahwa ia masih terus berupaya keras dalam mencari keridlaan kabilah-kabilah para pria yang dibunuh Al Mughirah dan membayar diyat mereka karena ia pamannya.

Perhatikanlah  bagaimana  Rasulullah  shallallahu  ‘alaihi  wa  sallam  cuci  tangan  dari  harta  yang  diambil dengan cara seperti ini padahal sesungguhnya Al Mughirah mengambilnya di masa kejahiliyyahannya sebelum masuk Islam, dan bisa saja ini adalah sebab yang mana riwayat-riwayat tidak menuturkan kepada kita bahwa beliau memerintahkan Al Mughirah untuk mengembalikan  harta itu, akan tetapi beliau tidak menerimanya darinya.

Maka apalagi secara lebih utama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menerima dan tidak akan meridlai tindakan semacam ini bagi orang muslim yang mengikuti agamanya…

Maka nasihat saya kepada saudara penanya dan kaum muslimin lainnya agar mereka meninggalkan cara semacam itu yang mendatangkan mafsadah yang sangat banyak terhadap dakwah, Islam dan kaum muslimin, dan hendaklah mereka bermu’amalah dengan seluruh manusia dengan akhlak Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah menipu, tidak pernah khianat dan tidak pernah melanggar janji hatta walaupun harta orang-orang kafir harbiy itu telah Allah halalkan bagi beliau dan bagi umatnya; akan tetapi hal itu dengan cara- cara yang syar’iy yang sejenis ghanimah dan fai serta yang menyerupainya. Adapun pelanggaran janji, khianat dan penipuan maka ia itu bukan termasuk dien kaum muslimin dan bukan juga jalan mereka.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An Nisa: 115]

MTJ

* Alih bahasa Abu Sulaiman 16 Dzul Qa’dah 1432 H


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: