Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » FIQIH » Berinteraksi dengan Orang kafir

Berinteraksi dengan Orang kafir


Cuplikan Dari Nasehat Al Maqdisiy

Kepada Ikhwan Muwahhidin Di Belgia

Berkata:

….Oleh sebab itu maka di dalam bidang interaksi (ta’amul) dalam ladang dakwah dengan manusia, maka saya tidak menganjurkan untuk berpegang kepada dhahir definisi fiqh taqlidiy terhadap pembagian manusia menjadi harbiyyin dan mu’ahidin atau dzimmiyyin dan terus interaksi dengan manusia di atas dasar tekstualnya dan hukum-hukum cabangnya yang ada di Kitab-kitab fiqh dalam kondisi lenyapnya Negara Islam yang di dalam payungnya diberlakukan pembagian-pembagian (manusia) ini dengan gambarannya yang sempurna dan sebenarnya; dan ia adalah suatu yang menyibukan sebagian para pemuda di Barat[1] dalam mencari-cari permasalahan ghanimah atau menyibukan diri dengan pencurian bahkan sabyu (perbudakan wanita dan anak-anak orang kafir) dan yang serupa itu sebagaimana yang sampai beritanya kepada kami, dan (justeru) menelantarkan dakwah dan pembelaan terhadap dien serta beramal serius untuknya; sehingga mereka itu dengan tindakan-tindakannya tadi malah mendatangkan mafsadah dan kemungkaran terhadap diri mereka dan terhadap Islam.

Namun dalam kondisi lenyapnya Negara Islam ini saya menasehatkan agar berinteraksi dengan manusia sesuai dengan siyasah syar’iyyah, mashlahat Islam dan kaum muslimin serta mashlahat dakwah sesuai dengan batasan-batasan syar’iyyah dan mempertimbangkan kondisi istidl’af (ketertindasan) kaum muslimin. Barangsiapa di antara orang kafir itu dia tergolong yang tidak memusuhi kaum muslimin dan tidak menampakkan hujatan terhadap dien mereka, maka tidak ada halangan dari berbuat baik kepadanya dan interaksi bersamanya dengan hal yang bisa membuatnya tertarik kepada dienul Islam dan mendakwahinya kepada Islam. Dan barangsiapa di antara orang kafir itu dia tergolong yang menghujat Islam dan memperolok-olokan syari’atnya serta membuat makar buruk terhadap pemeluknya sedangkan kaum muslimin di negerinya itu lemah dari menanggulanginya dengan apa yang semestinya karena kelemahan mereka dan ketidak berdayaan mereka, maka berpaling darinya dan berlepas diri darinya dan dari perbuatannya, dan ditampakkan kepadanya keberlepasan diri atau permusuhan sesuai kemampuan, dan dibenci serta dijauhi, dan bila dia itu tergolong orang yang layak diajak diskusi maka diajak diskusi dan dipatahkan (hujjahnya), dan bila ia itu pedagang maka diboikot dan dihajr dan seterusnya…

(Cuplikan dari hal 4) selesai

 

Penerjemah: Abu Sulaiman

17 Dzul Hijjah 1432 H


[1] Bahkan di negeri ini juga, banyak yang pikirannya hanya bagaimana bisa mendapatkan harta orang-orang kafir, tanpa mempertimbangkan kepada kondisi dan pertimbangan mashlahat dan madlarat, apalagi yang wajib ditinggalkan yaitu penampakan dien dan yang utama ditinggalkan yaitu dakwah kepada tauhid. (pent).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: