Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » FIQIH » Hukum Asal Sembelihan

Hukum Asal Sembelihan


“Apa Hukum Asal Pada Sembelihan”

(Pertanyaan no. 803)

 

Assalamu ‘alaikum

Apakah hukum asal pada sembelihan itu keharaman? Saya meminta penjelasan, semoga Allah membalas kebaikan bagi anda…

Penanya: Muslman

 

Al Lajnah Asy Syar’iyyah di Al Minbar menjawab:

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh…

Saudara penanya…;

Sesungguhnya hukum asal pada daging hewan itu adalah haram, dan ini adalah qaidah muttafaq ‘alaiha (kaidah yang disepakati).

Dari ‘Adiy ibnu Hatim radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

…وَإِنْ رَمَيْتَ الصَّيْدَ فَوَجَدْتَهُ بَعْدَ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لَيْسَ بِهِ إِلَّا أَثَرُ سَهْمِكَ فَكُلْ، وَإِنْ وَقَعَ فِي المَاءِ فَلاَ تَأْكُلْ

 “… dan bila kamu memanah buruan terus kamu menemukannya setelah sehari atau dua hari dalam keadaan tidak ada padanya kecuali bekas anak panahmu maka makanlah. Dan bila ia itu telah jatuh ke dalam air maka jangan kamu makan” (Muttafaq ‘alaih)

Dan dalam riwayat Muslim:

فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي الْمَاءُ قَتَلَهُ أَوْ سَهْمُكَ

“Karena Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apakah air yang telah membunuhnya ataukah panahmu” (HR. Muslim  no. 1929)

Maka hadits ini menunjukkan bahwa hukum asal pada sembelihan itu adalah haram, karena termasuk yang sudah maklum bahwa al yaqin itu tidak lenyap dengan keraguan. Seandainya diyakini bahwa hukum asalnya adalah kehalalan tentu tidak menjadi haram dengan sekedar keraguan, akan tetapi tatkala hukum asal di dalamnya adalah keharaman maka ia tidak menjadi halal dengan keraguan.

Al Imam ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

…وَلِأَنَّهُ شَكَّ فِي الِاصْطِيَادِ الْمُبِيحِ، فَوَجَبَ إبْقَاءُ حُكْمِ التَّحْرِيمِ

“…dan dikarenakan ia ragu perihal pemburuan yang menghalalkan maka wajiblah menetapkan hukum keharaman” Selesai (Al Mughni 13/18)

Dan berkata pula:

…الْأَصْلَ الْحَظْرُ، وَالْحِلُّ مَوْقُوفٌ عَلَى شَرْطٍ، وَهُوَ تَذْكِيَةُ مَنْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الذَّكَاةِ، أَوْ صَيْدُهُ

“… hukum asal adalah keharaman, sedangkan kehalalan adalah digantungkan kepada syarat, yaitu penyembelihan orang yang tergolong halal sembelihannya atau pemburuannya,” selesai (Al Mughni 13/18)

Al Imam Al Khaththabiy rahimahullah berkata: “Bahimah (hewan) hukum asalnya adalah keharaman sampai mendapatkan keyakinan (kepastian) terjadinya sembelihan, di mana ia itu tidak menjadi halal dengan hal yang meragukan.” Selesai

Al Imam ibnu Al ‘Arabiy rahimahullah berkata: “Ulama kita mengatakan: Hukum asal pada hewan itu adalah pengharaman, ia tidak halal kecuali dengan sembelihan dan pemburuan, kemudian bila ada keraguan perihal yang memburu dan yang menyembelih maka ia tetap di atas hukum asal pengharaman.” Selesai

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَلَا تَحِلُّ الْفُرُوجُ وَالذَّبَائِحُ بِالشُّبُهَاتِ

“Kemaluan dan sembelihan itu tidak halal dengan syubuhat (kesamaran)”. (Majmu Al Fatawa 32/190)

‘Allamatul Qashim Syaikh Abdurrahman As Sa’diy rahimahullah berkata:

Hukum asal dalam kemaluan dan daging hewan

Juga jiwa dan harta milik orang yang terjaga

Adalah keharaman sampai datang kehalalan

Maka Camkanlah -hadakallahu- apa yang diuraikan

Maksudnya bahwa hukum asal pada hal-hal ini adalah pengharaman sampai kita mendapatkan kepastian kehalalan… dan begitu juga daging; hukum asal di dalamnya adalah pengharaman (tahrim), sampai mendapatkan keyakinan kehalalan. Oleh sebab itu bila terkumpul pada hewan sembelihan dua sebab: yang menghalalkan dan yang mengharamkan, maka diunggulkan pengharaman sehingga tidak halal-lah hewan sembelihan dan buruan itu. Seandainya orang memanahnya atau menyembelihnya dengan alat yang beracun, atau memanahnya terus ia jatuh di dalam air atau diinjak sesuatu yang biasanya bisa membunuhnya, maka ia tidak halal. Selesai (Al Qawaid Al Fiqhiyyah hal 27)

Bahkan Al Imam An Nawawi rahimahullah telah menukil ijma atas pembakuan kaidah ini, di mana beliau berkata:

فِيهِ بَيَانُ قَاعِدَةٍ مُهِمَّةٍ وَهِيَ أَنَّهُ إِذَا حَصَلَ الشَّكُّ فِي الذَّكَاةِ الْمُبِيحَةِ لِلْحَيَوَانِ لَمْ يَحِلَّ لِأَنَّ الْأَصْلَ تَحْرِيمُهُ وَهَذَا لَا خِلَافَ فِيهِ

 “Di dalamnya ada penjelasan kaidah yang penting, yaitu bahwa bila terjadi keraguan pada penyembelihan yang menghalalkan hewan maka ia itu tidak halal, karena hukum asalnya adalah pengharamannya, dan ini tidak ada perselisihan di dalamnya”. Selesai (Syarh Shahih Muslim 13/116)

Asy Syaikh Al Imam Abdullah ‘Azam rahimahullah berkata: “Sungguh saya telah melakukan penelusuran kaidah ini, maka saya mendapatkan bahwa ia adalah masalah yang disepakati di antara fuqaha, mufassirin dan muhadditsin.” Selesai (Adz Dzabaih Wal Luhum Al Mustauradah hal 11) Wallahu ‘alam.

Dijawab oleh anggota Al Lajnah Asy Syar’iyyah

Syaikh Abu Humam Bakr ibnu ‘Abdil Aziz Al Atsariy

 

Penterjemah: Abu Sulaiman 27 Dzul Hijjah 1432 H


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: