Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » KAIDAH KEEMPAT (Ringkasan Tahdzib Syarh Aqidah Ath Thahawiyyah : Abu Basheer Ath Tahrthusi)

KAIDAH KEEMPAT (Ringkasan Tahdzib Syarh Aqidah Ath Thahawiyyah : Abu Basheer Ath Tahrthusi)


KAIDAH KEEMPAT

لاَ إِلَهَ غَيْــرُهُ

“TIDAK ADA ILAAH YANG BERHAK DIIBADAHI SELAIN ALLAH”

Arti dari kalimat   (لا إله إلا اللـه) adalah لا معبود في الوجود بحق إلا اللـه تعالى atau “Tidak ada yang berhak diibadahi secara haq di dunia ini selain Allah.

PENJELASAN

Kalimat Syahadat yang dinyatakan oleh seseorang belum sempurna dan belum dapat dijadikan hujjah (alasan) di hadapan Allah di hari kiamat kelak kecuali setelah memenuhi syarat-syarat berikut :

 

1.      MENGUCAPKAN KALIMAT TERSEBUT

Tidak sah pernyataan tauhid seseorang tanpa adanya pengucapan kalimat syahadat tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih tentang akhir hayat Abu Thalib paman Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam yang tidak mau mengucapkan kalimat syahadat meskipun oleh Rasulullah hanya diminta mengucapkan syahadat Tauhid saja tanpa syahadat Rasul. Rasulullah menyatakan : “Abu Thalib meninggal di atas agama Abdul Muthallib (syirik/kafir) dan menolak untuk mengucapkan  La Ilaaha Illalloh. (HR Muslim)

Rasulullah juga bersabda :

قال رسُول اللـه e: “أُمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إِله إِلا اللـه وأن محمداً رسُول اللـه، ويقيموا الصلاة، ويؤتوا الزكاة، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءَهم وأموالهم إِلا بحق الإسلام وحسابُهم على اللـه”.

“Aku diutus untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilaah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan sholat, dan membayarkan zakat. Jika mereka taat maka darah dan harta mereka terlindungi kecuali atas hak Islam, sedangkan hisab (perhitungan amal) mereka menjadi hak Allah semata”. (Muttafaq ‘Alaih)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“Jika seseorang tidak mau mengucapkan dua kalimat Syahadat, padahal sebenarnya dia mampu melakukannya, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama’. Orang tersebut Kafir baik lahir maupun batin berdasar  manhaj salaf.

2.      KUFUR TERHADAP THOGHUT

Artinya : tidak sah iman seseorangkecuali setelah menyatakan kekufurannya terhadap Thoghut. Sebagaimana yang dimaksud dengan ayat

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Baqarah 256)

  • Thoghut adalah semua yang diibadahi (ditaati, disembah, dipatuhi, dipuja-puji) selain Allah
  • Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan :

“Thaghut itu sangat banyak, akan tetapi para pembesarnya ada lima macam, yaitu :

1.      Setan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah. 

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, hai Bani Adam supaya kalian tidak menyembah setan  ? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian” (QS. Yasin: 60)

2.      Penguasa yang dzalim yang merubah hukum‐hukum Allah.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

Apakah kamu tidak memperhatikan orang‐orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan merka (dengan) penyesatan yang sejauh‐jauhnya.” (QS. An Nisa’: 60)

3.      Orang‐orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang‐orang yang kafir”. (QS. Al Maidah: 44)

4.      Sesuatu selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai‐Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga‐penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al Jin: 26‐27)

5.      Sesuatu selain Allah yang diibadahi  dan dia ridha dengan peribadatan tersebut.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang‐orang dzalim”. (QS. Al Anbiya’: 29)

  • Al Urwatul Wutsqo adalah kalimat tauhid  لا إِله إِلا اللـه
  • Tafsir ayat di atas adalah : Barangsiapa yang menyatakan beriman  kepada Allah tetapi tidak kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah (Thoghut) berarti ia belum sepenuhnya berpegang teguh kepada Al Urwatul Wutsqodan pernyataan syahadatnya tidak bermanfaat baginya dan tidak mampu menyelamatkannya dari api neraka.
  • Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang menyatakan لا إِله إِلا اللـه  dan kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah, maka diharamkan darah dan hartanya sedangkan perhitungan amalnya (hisab) diserahkan kepada Allah. (HR Muslim)

Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan tentang hadits ini

Kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah adalah penegasan akan penafian segala bentuk Ilaah selain Allah. Tidak diharamkan darah dan hartanya  kecuali dengan sikap tersebut. Sehingga jika ia ragu-ragu atau tidak yakin (dalam mengkufuri thoghut) maka darah dan hartanya tidak mendapatkan perlindungan dari Islam”. [1] 

Syaikh Abu Bashir Ath Tharthusi (penulis Tahdzib syarah Aqidah Thohawiyyah ini) menambahkan :

“Seseorang yang dikatakan halal darah dan hartanya itu artinya bahwa pernyataan syahadatnya tidak bermakna dan tidak bermanfaat sama sekali disebabkan tidak adanya sikap kufur terhadap thoghut. Karena orang seperti ini ibarat orang yang menyatakan sesuatu dan sesuatu yang berlawanan di saat yang sama : mengikrarkan Tauhid tapi di saat yang sama juga melakukan kemusyrikan”.

Pernyataan kekufuran yang benar dan akan menyelamatkan seseorang mempunyai sifat, keadaan, tanda-tanda dan  syarat-syarat yang jika tidak dipenuhi olehnya maka pernyataan kekufuran belum sempurna bahkan tidak berlaku sama sekali. Adapun perkataan seseorang dengan mulutnya bahwa ia telah kufur terhadap Thoghut sedangkan di saat yang sama ia melakukan tindakan yang berlawanan dengan pernyataannya itu seperti menganggap baik kebijakan thoghut, berwala’ kepada thoghut atau berdekat-dekatan dengan maksud mencari muka dari thoghut, itu berarti ia telah menyatakan sesuatu tanpa bukti tindakan nyata dan ia telah berdusta dengan pernyataannya. [2]

Lebih lengkap akan kita bahas pada tema kajian yang khusus membahas arti dan hakekat THOGHUT. Insya Allah

3.      ILMU

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah (QS Muhammad 19)

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang mati sedangkan ia telah mengetahui benar-benar bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah, maka ia dijamin masuk jannah”. (HR Muslim)

Dengan kata lain, barangsiapa yang mati sedangkan ia tidak paham benar-benar makna لا إِله إِلا اللـه  ia tidak akan masuk jannah meskipun ia selalu menbyucapkan kalimat itu setiap saat hingga tidak terbilang. Karena seseorang yang tidak paham akan sesuatu tidak mungkin akan bisa menanamkam keyakinan yang kuat di dalam hatinya. Sedangkan  jika orang yang tidak paham makna Tauhid yang benar, tidak mungkin menanamkan tauhid itu dalam hati dan jiwanya. Ini telah menjatuhkan dirinya pada kekufuran berdasarkan ijma’ ulama.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan :

“Dien Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam adalah Tauhid yang berarti memahami makna  لا إِله إِلا اللـه محمد رسول الله   , dan mengamalkan segala tuntutannya. Jika ada yang mengatakan : “semua orang bisa mengatakannya”. Maka jawabannya adalah : “ada di antara mereka yang memahaminya dan meyakini bahwa tidak ada yang Menciptakan dan Memberi rizki kecuali Allah atau semisalnya. Ada pula yang yang tidak paham artinya sama sekali. Ada juga yang paham tapi tidak melaksanakan segala tuntutannya, ada pula yang tidak paham hakikat kalimat itu. Yang lebih mengherankan lagi adalah ada orang yang memahmi maknanya tetapi di saat yang sama dia memusuhi kalimah itu dan orang-orang yang berpegang tuguh padanya. Ada yang lebih aneh lagi, ada orang yang mengaku mencintai kalimah itu dan mengaku sebagai pembelanya, namun  ia tidak membedakan antara pembela kalimat itu dan orang-orang yang memusuhinya !! Subhanallah… mungkinkah dua kelompok yang saling berlawanan berada dalam Dien yang sama dan dua-duanya mengaku berada dalam Al Haq ?!! Demi Allah, tidak mungkin.  Tidak ada  kata lain yang bertentangan dengan Al Haq kecuali Kebatilan”.(Risalah Syakhsiyyah  hal 182)

 

 CATATAN SELANJUTNYA INSYA ALLAH MELANJUTKAN KAIDAH KEEMPAT INI DENGAN POINT SBB :

4.      JUJUR (PERCAYA) DAN IKHLASH (BERSIH DARI SYIRIK)

5.      TIDAK ADA KERAGUAN

6.      YAKIN

7.      CINTA

8.      RIDHO, MENERIMA SEPENUH HATI DAN TUNDUK PATUH

9.      MENGAMALKAN KONSEKWENSI DAN TUNTUTAN-TUNTUTAN NYA

10.  MATI DI ATASNYA

[1]   Majmu’atut Tauhid halaman 35

[2]  Tahdzib Syarah Aqidah Ath Thohawiyyah hal 41

 

[thoriquna.wordpress.com/abuizzudinalhazimi.wordpress.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: