Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » KAIDAH KEDUA (RINGKASAN TAHDZIB SYARAH AQIDAH ATH THAHAWIYYAH : Syaikh Abu Basheer At Tarthusi)

KAIDAH KEDUA (RINGKASAN TAHDZIB SYARAH AQIDAH ATH THAHAWIYYAH : Syaikh Abu Basheer At Tarthusi)


fuad al hazimi

KAIDAH KEDUA

ولاشَيءَ مِثْلُـهُ

Tiada sesuatupun yang menyamai-Nya. 

Allah memiliki nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang mulia. Tidak ada yang menyamai-Nya dan menyerupai-Nya. Tidak ada yang menandingi di dalam Dzat-Nya dan tidak pula di dalam kekhususan-Nya dan sifat-Nya, atau Rububiyyah dan Uluhiyyah-Nya. Hal itu sebagaimana firman Allah yang menerangkan Diri-Nya

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS Asy Syuura 11)

Kami menetapkan dan mengimani semua Nama-nama Allah yang baik (Asma’ul Husna) dan Sifat-sifat-Nya yang mulia yang telah ditetapkan di dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam tanpa ta’wil (mereka-reka artinya), ta;thil (meniadakannya),  dan tasybih(menyerupakannya), juga tanpa tamtsil (menyamakannya), sebagaimana dipahami oleh Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam dan para shohabat beliau yang mulia radhiyallohu ‘anhum ajma’in.

Sebagaimana kami mengimani bahwasanya Allah mempunyai nama-nama dan sifat-sifat yang tidak kita ketahui dari –makna- yang tersirat di dalam ilmu ghaib yang ada di sisi Allah.

PENJELASAN 

1.      KEYAKINAN ASHHABUL HADITS (AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH) TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

  • Sesungguhnya Ashhabul Hadits (yang berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah) adalah orang-orang yang bersaksi atas keesaan Allah, dan bersaksi atas kerasulan dan kenabian Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam.
  • Mereka menetapkan Nama dan Sifat yang Allah tetapkan sendiri dalam Kitab-Nya atau melalui perantaraan lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Mereka tidak meyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk. Mereka menyatakan bahwa Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam dengan Tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an : “Allah berfirman

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-Ciptakan dengan Kedua Tangan-Ku. (Shaad : 75)

  • Mereka tidak menyimpangkan Kalamullah dari maksudnya-maksud sebenarnya, dengan mengartikan Kedua Tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau kekuatan, seperti yang dilakukan olehMu’tazilah dan Jahmiyyah. Mereka juga tidak mereka-reka bentuknya atau menyerupakan dengan tangan-tangan makhluk, seperti yang dilakukan oleh kaum Al-Musyabbihah

2.      METODE (CARA) PEMAHAMAN AHLUS SUNNAH DALAM TAUHID ASMA’ & SIFAT

  • Dalam Itsbat (الإثبات)  atau menetapkan Nama dan Sifat yang wajib bagi Allah 

“Menetapkan semua yang telah ditetapkan Allah bagi Diri-Nya melalui Al Qur’an atau Sunnah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam, dengan tanpa Tahrif (merubah), Ta’thil (meniadakan), Takyif (mempertanyakan atau menggambarkan detailnya) maupun Tamtsil (menyerupakan dengan makhluk)”.

  • Dalam Nafyu (النفى)  atau meniadakan Nama dan Sifat yang mustahil bagi Allah 

“Meniadakan semua yang telah ditiadakan Allah (yang mustahil terjadi pada Allah) bagi Diri-Nya melalui Al Qur’an atau Sunnah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam, disertai keyakinan bahwa Allah wajib memiliki kesempurnaan dalam sifat/nama yang sebaliknya atau berlawanan dengan yang telah ditiadakan bagi Diri-Nya itu”.

  • Dalam hal yang tidak ditetapkan maupun ditiadakan

“Menerima apa adanya teks atau lafadz yang disebutkan Allah dan rasul-Nya dengan tanpa penetapan atau peniadaan, bilamana memang tidak ada penjelasan tentang hal itu”

Seperti Wajah Allah, Tangan Allah, Kaki Allah, Bersemayamnya Allah di atas Arsy dan sebagainya.

3.      DALIL AQLY  (AKAL/RASIO) DALAM TAUHID ASMA’ WAS SIFAT:

“Kita tidak mungkin dapat mengetahui perincian tentang hal-hal yang wajib, boleh maupun mustahil bagi Allah kecuali hanya berdasarkan apa yang kita dengar dan kita terima dari Allah dan Rasul-Nya”.

Maka sikap seorang mukmin yang sejati adalah ittiba’ (mengikuti Rasulullah dengan disertai ilmu) atas apa yang telah kita terima itu dengan cara :

  • Menetapkan semua yang telah ditetapkan
  • Meniadakan semua yang ditiadakan,
  • Tidak mengomentari (berdiam diri) terhadap semua yang tidak ada komentar apapun dari Allah dan Rasul –Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam.

4.      DALIL NAQLY (AL QUR’AN DAN SUNNAH) DALAM TAUHID ASMA’ WAS SIFAT:

Allah Ta’ala Berfirman :

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna (Nama-nama yang Indah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan (QS Al A’raf 180)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS Asy Syuura 11)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS Al Isra’ 36)

  • Ayat pertama menunjukkan kewajiban untuk menetapkan sifat-sifat yang wajib bagi Allah tanpa adanya Tahrif (merubah)  maupun Ta’thil (meniadakan)
  • Ayat kedua mengharamkan kita untuk menyamakan Allah dengan suatu apapun (Tasybih)
  • Ayat ketiga melarang kita menanyakan/menjelaskan secara terperinci (Ta’wil) terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah yang memang tidak ada penjelasannya baik dari Al Qur’an maupun Sunnah Rasul Shollallohu ‘alaihi wasallam.
  • Ayat ketiga juga mewajibkan kita untuk tawaqquf (berdiam diri/tidak mengomentari) terhadap segala sesuatu yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya, lebih-lebih tentang Allah.

 5.  Penggunaan sebagian Nama dan Sifat Allah (kesamaan dalam segi bahasa) sebagai nama dan sifat manusia, tidak menyebabkan dibolehkannya menghapus Nama dan Sifat Allah dengan alasan Tasybih (menyamakan) sebagaimana alasan yang dikemukakan para penganut paham Ta’thil

6.  Penetapan Nama dan Sifat Allah tidak mesti berarti melakukan Tasybih atau Tajsim (mempersonifikasikan) Allah dengan makhluk. Hanya karena nama dan sifat itu (secara bahasa) juga digunakan untuk makhluk.

CONTOH-CONTOH

إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ 

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkanyang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (QS Al An’am 95)

Al Hayyu adalah Nama Allah namun juga digunakan untuk sifat tumbuhan

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ 

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS At Taubah 128)

Ra’uuf dan Rahim adalah Sifat Allah namun juga menjadi sifat Nabi Muhammad

7. Setiap Nama Allah adalah termasuk Sifat-sifat Nya, tetapi tidak semua Sifat Allah adalah Nama-Nya.

Wallohu a’lamu bish showab

 

[abuizzudinalhazimi.wordpress.com/thoriquna.wordpress.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: