Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » CATATAN DARI PENJARA ( SERI 5 ) HAKEKAT DEMOKRASI

CATATAN DARI PENJARA ( SERI 5 ) HAKEKAT DEMOKRASI


(Ustadz Abu Bakar Ba’asyir -fakkallohu asrah-)

  • HUKUM DEMOKRASI

Yang menjadi patokan hukum Demokrasi adalah adanya kedaulatan di tangan rakyat. Sedangkan yang dimaksud dengan kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi yang tidak mengenal kekuasaan yang lebih tinggi dari padanya sehingga kekuasaannya itu berasal dari rakyat tanpa ada batasan apapun.

Maka rakyat berhak berbuat apa saja dan membuat undang-undang semaunya tanpa ada seorangpun yang berhak untuk mengkritisinya. Dan hal semacam ini sesungguhnya merupakan sifat Allah sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

 “Sesunguhnya Allah menetapkan hukum menurut kehendaknya, tidak ada yang dapat menolak ketetapan Nya” (QS Ar Ra’d : 41)

 

 

Dan firman-Nya lagi:

“Sesungguhnya Allah menetapkan hukum menurut yang dikehendaki Nya” (QS Al Maa-idah : 1).

Dan firman-Nya lagi :

“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS Al Hajj : 14).

 

Kami ringkaskan dari penjelasan di atas bahwa Demokrasi itu melepaskan peribadahan (ketundukan) dari manusia, lalu memberikan hak mutlak kepadanya untuk membuat undang-undang. Dengan demikian maka Demokrasi menjadikan manusia sebagai Rabb (Tuhan) selain Allah, dan menjadikannya (manusia) sekutu bagi Allah dalam membuat undang-undang. Dan perbuatan ini adalah Kuffur Akbar yang tidak ada keragu-raguan lagi padanya. Dengan ungkapan yang lebih detail lagi adalah bahwa Rabb (Tuhan) baru dalam Demokrasi adalah kemauan manusia, ia membuat undang-undang sesuai dengan pemikiran dan kemauannya tanpa ada pembatas apapun.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Terangkanlah kepada Ku, tentang orang yang menjadikan keinginannuya sebagai Ilaahnya (Tuhannya). Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu” (QS Al Furqaan : 43-44).

Maka hal ini berarti menjadikan Demokrasi sebagai agama yang berdiri sendiri yang mana pemegang kedaulatan padanya adalah rakyat, maka jelas ini bertentangan dengan Dinul Islam yang menegaskan bahwa pemegang kedaulatan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam :

“PENGUASA ITU ALLAH TABAAROKA WATA’ALA”. (HR Abu Dawud dengan sanad shahih)

 

Ketika menerangkan penuhanan manusia di dalam Demokrasi Syaikh DR. Abul A’la Al-Maududiberkata :

“Dasar-dasar kebudayaan Barat sesungguhnya kebudayaan modern yang menjadi landasan peraturan hidup pada masa sekarang ini, dengan berbagai macam cabang-cabangnya baik akidah, akhlak, perekonomian, politik dan intelektual, berfokus pada tiga pokok yaitu, Prinsip-prinsip pokok berikut :

 

1.         Sekulerisme

2.         Nasionalisme, dan

3.         Demokrasi

(Sampai beliau berkata) “…..Adapun prinsip ketiga adalah Demokrasi atau penuhanan terhadap manusia. Dengan menggabungkan dua prinsip sebelumnya maka sempurnalah gambar bencana dan kelelahan-kelelahan dunia ini. Telah kukatakan tadi bahwa pengertian Demokrasi dalam kebudayaa modern adalah berkuasanya rakyat, artinya setiap penduduk negara merdeka pada segala hal yang berkaitan dengan merealisasikan kemaslahatan sosial mereka, dan perundang-undangan negara tersebut haruslah mengikuti keinginan mereka. (Sampai beliau mengatakan): Jika kita perhatikan prinsip tersebut sekarang kita dapatkan bahwa Sekulerisme telah melepaskan manusia dari peribadahan, ketaatan dan ketakutan kepada Allah serta melepaskan dari ikatan-ikatan akhlak yang telah ditetapkan dan melepaskan tali belenggunya serta menjadikan mereka hamba diri mereka sendiri tanpa pertanggung jawab dihadapan siapapun.

 

Kemudian datang Nasionalisme, untuk menuangkan kepada mereka khomer individualis, kesombongan, kecongkakan dan meremehkan orang lain. Kemudian, terakhir datanglah Demokrasi yang menundukkan manusia ini – setelah membebaskan dirinya dari belenggu yang mengikatnya lalu menjadi tawanan bagi hawa nafsunya dan tenggelam dalam individualisme- diatas singgasana Ketuhanan.

 

Maka tunduklah segala kekuasaan perundang-undangan dan sarana pemerintahan kepadanya untuk mencapai segala sesuatu yang ia inginkan. (Kemudian Al-Maududi mengatakan) Dan saya katakan kepada Umat Islam dengan terus terang sesungguhnya Demokrasi, Nasionalisme, dan Sekuler bertentangan dengan agama dan akidah yang kalian yakini dan jika kalian tunduk kepadanya maka benar-benar kalian telah meninggalkan Kitabullah dibelakang kalian dan jika kalian ikut serta dalam menegakkannya atau dalam melanggengkannya (yakni Demokrasi, Nasionalis dan Sekuler) maka berarti kalian telah mengkhianati Rasul kalian yang telah Allah utus kepada kalian. (Sampai beliau mengatakan) Maka selama sistem ini masih ada maka kami menganggap bahwa Islam itu tidak ada dan jika Islam itu ada maka tidak ada tempat bagi sistem ini. (Dari Buku: Al Islam Wal Madaniyatul Haditsah Tulisan Al-Maududi Yang Diterjemahkan Oleh Khalil Al-Hamidi).

Termasuk perbuatan mempertuhankan manusia ialah mengangkat Nabi (Rasul) menjadi anak Allah (Maha Suci Allah dari perbuatan ini).

Kemusyrikan ini diamalkan oleh orang Yahudi yang mengangkat Uzair sebagai anak Allah dan orang Nasrani yang mengangkat Nabi Isa AS menjadi anak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hal ini diterangkan oleh Allah dalam firman Nya :

“Orang-orang Yahudi berkata; Uzair itu putera Allah, dan orang orang Nasrani berkata; ‘Almasih itu putera Allah’, demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling seperti itu”. (QS At Taubah : 30).

Dan firman Nya lagi :

“Sesungguhnya telah Kafirlah orang-orang yang berkata; ‘Sesungguhnya Allah itu adalah Almasih putera Maryam’. Katakanlah; ‘Maka siapakah gerangan yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Almasih putera Maryam itu beserta ibunya, dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?’, kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendaki Nya dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS Al Maa’idah : 17)

Dan firman-Nya lagi :

“Sesungguhnya telah Kafirlah, orang-orang yang berkata; ‘Sesungguhnya Allah ialah Almasih putera Maryam’, padahal Almasih sendiri berkata; ‘hai bani israil beribadahlah kepada Allah Tuhanku dan Tuhan Mu’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolongpun”. (QS Al Maaidah : 72).

Firman-Nya lagi :

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan; ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak di ibadahi selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang Kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. (QS Al Maaidah: 73).

Keterangan :

 

Dari ayat-ayat tersebut diatas jelas bahwa mengangkat seorang Nabi sebagai anak Tuhan atau kederajat keTuhanan adalah merupakan praktek mempertuhankan Manusia dan hukumnya Syirik besar.

Dan, praktek kemusyrikan ini juga diingkari oleh Nabi Isa Alaihis Salaam sebagaimana diterangkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala  dalam firman-Nya :

“Dan ingatlah ketika Allah berfirman : ‘Hai Isa, putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia; ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah’. Isa menjawab: ‘Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS Al Maaidah : 116)

Dan firman-Nya lagi :

“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu: ‘Beribadahlah kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasai mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu” (QS  Al Maaidah : 117)

Demikanlah praktek-praktek yang mempertuhankan sesama manusia yang harus diwaspadai agar supaya aqidah dan tauhid Islam kita benar-benar bersih sehingga semua amal kita diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

Amalan mempertuhankan manusia semacam ini dilarang keras oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Yang tersebut dalam firman-Nya :

“Katakanlah; ‘Hai ahli kitab, marilah berpegang kepada sesuatu kalimat (ketatapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita ibadahi kecuali Allah  dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain menjadi Tuhan selain Allah jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka; ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslimin (yang berserah diri kepadaAllah)”. (QS  Ali Imraan : 64)

 

[abuizzudinalhazimi.wordpress.com/thoriquna.wordpress.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: