Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Tahdzib Syarah Aqidah Ath Thahawiyyah (Syaikh Abu Basheer At Tarthusi)

Tahdzib Syarah Aqidah Ath Thahawiyyah (Syaikh Abu Basheer At Tarthusi)


KAIDAH PERTAMA

 

نَقُوْلُ فِي تَوْحِيْدِ اللهِ، مُعْتَقِدِيْنَ بِتَوْفِيْقِ اللهِ : أَنَّ اللهَ وَاحِدٌ لاَشَـرِيْكَ لَهُ

 

“Kami menyatakan tentang tauhid kepada Allah, berdasarkan keyakinan semata-mata berkat taufiq Allah : Sesungguhnya Allah itu Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya”.

 

PENJELASAN

1.      Tauhid adalah seruan yang pertama kali disampaikan oleh setiap Nabi dan Rasul yang diutus Allah.

 

Allah Ta’ala Berfirman (artinya) :

 

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilaah (yang berhak disembah) bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (QS Al A’raf 59)

 

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilaah (yang berhak disembah) bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)”. (QS Al A’raf 65)

 

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS An Nahl 36) 

 

2.      Tauhid Rububiyyah adalah fithrah yang Allah ciptakan pada setiap manusia

 

Allah Ta’ala Berfirman (artinya) :

 

“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi (tulang belakang) mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab : “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”. Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Allah sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu” (QS Al A’raf 172 -173)

 

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Dien Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) Dien yang lurus,  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui(QS Ar Ruum 30)

 

3.      Tauhid Uluhiyyah telah mencakup di dalamnya Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah inilah yang diserukan oleh para Rasul yaitu hanya menyembah dan beribadah kepada Allah semata serta tidak mensekutukan-Nya dengan apapun juga.

 

4.      Orang-orang musyrik Arab juga mengakui (sebagian) Rububiyyah Allah, tetapi mereka belum dianggap bertauhid (Uluhiyyah)

 

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.” Katakanlah : “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS Luqman 25)

 

“Katakanlah : “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” (QS Al Mukminun 84-85)

 

5.      Nama-nama patung yang disembah orang musyrikin awalnya adalah nama orang-orang shalih

 

“Dan mereka berkata : “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilaah-ilaah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr (QS Nuh 23)

 

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa nama-nama itu asalnya adalah nama para orang shalih pengikut nabi Nuh yang kemudian dijadikan patung dan disembah

 

6.      Alasan orang-musyrik menjadikan patung-patung itu adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah

 

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. (QS Az Zumar 3) 

 

7.      Seluruh isi Al Qur’an adalah Tauhid

  •  Jika berkaitan dengan nama, sifat dan perbuatan Allah,  maka itu adalah Tauhid ‘Ilmiy (keilmuan) dan Tauhid Khobary (berita/pemberitahuan)
  • Jika berisi seruan untuk beribadah hanya kepada Allah semata serta tidak mensekutukan Allah, maka itu adalah Tauhid Iradiy (yang berkaitan dengan iradah/keinginan dan niat) dan Tauhid Tholabiy (perintah)
  • Jika berkaitan dengan perintah, larangan dan ketaatan, maka itu adalah hak-hak dan penyempurna Tauhid
  • Jika berkaitan penghormatan dan karunia Allah kepada orang-orang yang bertauhid, maka itu adalah ganjaran Tauhid
  • Jika berkaitan siksa dan azab Allah kepada orang-orang musyrik, maka itu adalah ganjaran mereka yang menentang Tauhid

 

8.      Do’a Pagi dan Petang agar Tauhid kita tetap terjaga sepanjang hari

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى : أَصْبَحْنَا (أَمْسَيْناَ) عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِين َ  * صحيح رواه  أحمد

 

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam setiap pagi dan petang senantiasa membaca : “Kami lewati pagi (sore) ini di atas fithrah Islam, di atas Kalimat Al Ikhlash (tauhid), di atas Dien Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam dan atas Millah Bapak kita Ibrahim, (Dien) yang lurus dan bukan termasuk orang-orang musyrik” (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)

KAIDAH KEDUA

ولاشَيءَ مِثْلُـهُ

Tiada sesuatupun yang menyamai-Nya. 

 

 

Allah memiliki nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang mulia. Tidak ada yang menyamai-Nya dan menyerupai-Nya. Tidak ada yang menandingi di dalam Dzat-Nya dan tidak pula di dalam kekhususan-Nya dan sifat-Nya, atau Rububiyyah dan Uluhiyyah-Nya. Hal itu sebagaimana firman Allah yang menerangkan Diri-Nya

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS Asy Syuura 11)

 

Kami menetapkan dan mengimani semua Nama-nama Allah yang baik (Asma’ul Husna) dan Sifat-sifat-Nya yang mulia yang telah ditetapkan di dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam tanpa ta’wil (mereka-reka artinya), ta;thil (meniadakannya),  dan tasybih (menyerupakannya), juga tanpa tamtsil (menyamakannya), sebagaimana dipahami oleh Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam dan para shohabat beliau yang mulia radhiyallohu ‘anhum ajma’in.

 

Sebagaimana kami mengimani bahwasanya Allah mempunyai nama-nama dan sifat-sifat yang tidak kita ketahui dari –makna- yang tersirat di dalam ilmu ghaib yang ada di sisi Allah.

 

PENJELASAN

 

1.      KEYAKINAN ASHHABUL HADITS (AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH) TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

 

–          Sesungguhnya Ashhabul Hadits (yang berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah) adalah orang-orang yang bersaksi atas keesaan Allah, dan bersaksi atas kerasulan dan kenabian Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam.

 

–          Mereka menetapkan Nama dan Sifat yang Allah tetapkan sendiri dalam Kitab-Nya atau melalui perantaraan lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Mereka tidak meyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk. Mereka menyatakan bahwa Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam dengan Tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an : “Allah berfirman

 

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

 

“Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-Ciptakan dengan Kedua Tangan-Ku. (Shaad : 75)

 

–          Mereka tidak menyimpangkan Kalamullah dari maksudnya-maksud sebenarnya, dengan mengartikan Kedua Tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau kekuatan, seperti yang dilakukan oleh Mu’tazilah dan Jahmiyyah. Mereka juga tidak mereka-reka bentuknya atau menyerupakan dengan tangan-tangan makhluk, seperti yang dilakukan oleh kaum Al-Musyabbihah

 

2.      METODE (CARA) PEMAHAMAN AHLUS SUNNAH DALAM TAUHID ASMA’ & SIFAT

 

–          Dalam Itsbat (الإثبات)  atau menetapkan Nama dan Sifat yang wajib bagi Allah 

“Menetapkan semua yang telah ditetapkan Allah bagi Diri-Nya melalui Al Qur’an atau Sunnah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam, dengan tanpa Tahrif (merubah), Ta’thil (meniadakan), Takyif (mempertanyakan atau menggambarkan detailnya) maupun Tamtsil (menyerupakan dengan makhluk)”.

 

–          Dalam Nafyu (النفى)  atau meniadakan Nama dan Sifat yang mustahil bagi Allah 

“Meniadakan semua yang telah ditiadakan Allah (yang mustahil terjadi pada Allah) bagi Diri-Nya melalui Al Qur’an atau Sunnah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam, disertai keyakinan bahwa Allah wajib memiliki kesempurnaan dalam sifat/nama yang sebaliknya atau berlawanan dengan yang telah ditiadakan bagi Diri-Nya itu”.

 

–          Dalam hal yang tidak ditetapkan maupun ditiadakan

“Menerima apa adanya teks atau lafadz yang disebutkan Allah dan rasul-Nya dengan tanpa penetapan atau peniadaan, bilamana memang tidak ada penjelasan tentang hal itu”

 

Seperti Wajah Allah, Tangan Allah, Kaki Allah, Bersemayamnya Allah di atas Arsy dan sebagainya.

 

3.      DALIL AQLY  (AKAL/RASIO) DALAM TAUHID ASMA’ WAS SIFAT:

 

“Kita tidak mungkin dapat mengetahui perincian tentang hal-hal yang wajib, boleh maupun mustahil bagi Allah kecuali hanya berdasarkan apa yang kita dengar dan kita terima dari Allah dan Rasul-Nya”.

 

Maka sikap seorang mukmin yang sejati adalah ittiba’ (mengikuti Rasulullah dengan disertai ilmu) atas apa yang telah kita terima itu dengan cara :

 

–          Menetapkan semua yang telah ditetapkan

–          Meniadakan semua yang ditiadakan,

–          Tidak mengomentari (berdiam diri) terhadap semua yang tidak ada komentar apapun dari Allah dan Rasul –Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam.

 

4.      DALIL NAQLY (AL QUR’AN DAN SUNNAH) DALAM TAUHID ASMA’ WAS SIFAT:

 

Allah Ta’ala Berfirman :

 

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

 

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna (Nama-nama yang Indah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan (QS Al A’raf 180)

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS Asy Syuura 11)

 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS Al Isra’ 36)

 

–          Ayat pertama menunjukkan kewajiban untuk menetapkan sifat-sifat yang wajib bagi Allah tanpa adanya Tahrif (merubah)  maupun Ta’thil (meniadakan)

–          Ayat kedua mengharamkan kita untuk menyamakan Allah dengan suatu apapun (Tasybih)

–          Ayat ketiga melarang kita menanyakan/menjelaskan secara terperinci (Ta’wil) terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah yang memang tidak ada penjelasannya baik dari Al Qur’an maupun Sunnah Rasul Shollallohu ‘alaihi wasallam.

–          Ayat ketiga juga mewajibkan kita untuk tawaqquf (berdiam diri/tidak mengomentari) terhadap segala sesuatu yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya, lebih-lebih tentang Allah.

 

 5Penggunaan sebagian Nama dan Sifat Allah (kesamaan dalam segi bahasa) sebagai nama dan sifat manusia, tidak menyebabkan dibolehkannya menghapus Nama dan Sifat Allah dengan alasan Tasybih (menyamakan) sebagaimana alasan yang dikemukakan para penganut paham Ta’thil

 

6.  Penetapan Nama dan Sifat Allah tidak mesti berarti melakukan Tasybih atau Tajsim (mempersonifikasikan) Allah dengan makhluk. Hanya karena nama dan sifat itu (secara bahasa) juga digunakan untuk makhluk.

 

CONTOH-CONTOH

 

إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ 

 

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (QS Al An’am 95)

 

Al Hayyu adalah Nama Allah namun juga digunakan untuk sifat tumbuhan

 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ 

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS At Taubah 128)

 

Ra’uuf dan Rahim adalah Sifat Allah namun juga menjadi sifat Nabi Muhammad

 

 

 

7. Setiap Nama Allah adalah termasuk Sifat-sifat Nya, tetapi tidak semua Sifat Allah adalah Nama-Nya.

 

 

Wallohu a’lamu bish showab

 

KAIDAH  KETIGA

 

لاَ شَيْءَ  يُعْـجِزُهُ

 

“TIDAK ADA SESUATUPUN YANG DAPAT MELEMAHKANNYA”

 

Kaidah ini merupakan pernyataan atas kesempurnaan Qudrah (ketentuan/taqdir) Allah Ta’ala.

 

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

 

 “Sesungguhnya Allah berkuasa (berkehendak/menentukan) atas segala sesuatu”. (QS Al Baqarah 20)

 

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا

 

“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (Menentukan Taqdir)”. (QS Fathir 44)

 

PENJELASAN

 

1.      Setiap bentuk penafian atau peniadaan Sifat Allah (yang maksudnya : Mustahil Allah memiliki Sifat seperti itu) dalam Al Qur’an berarti penetapan atas Kesempurnaan Sifat yang sebaliknya.

 

Seperti Firman Allah :

“Dan Rabb mu tidak akan mendzalimi seorang pun” (QS Al Kahfi 49)

 

adalah  penetapan (itsbat) atas kesempurnaan keadilan Allah.

 

Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS Saba’ 3)

 

adalah penetapan atas kesempurnaan ‘Ilmu (pengetahuan) dan Qudrah (kehendak) Allah

 

2.      Manhaj Salaf dalam Nama dan Sifat Allah adalah : Menetapkan Sifat yang wajib bagi Allah dengan terperinci, meniadakan sifat yang mustahil bagi Allah secara garis besar saja (tidak terperinci).

 

Hal ini berlawanan dengan metodologi kaum Mu’tazilah dan para ahli Kalam (filsafat) yang menjelaskan secara rinci sifat yang mustahil bagi Allah tetapi menerangkan secara garis besar saja Sifat yang Wajib bagi Allah.

 

Sebagaimana diyakini oleh kaum Mu’tazilah (rasionalis) seperti yang ceritakan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ary -setelah beliau bertaubat dari Aqidah Mu’tazilah dan kembali kepada Manhaj Salaf- . Kaum Mu’tazilah menyatakan :

 

“Allah bukan tubuh juga bukan ruh, bukan pula jasad atau bentuk, bukan daging bukan darah …… tidak pula yang memiliki warna ……. Tidak bergerak tapi juga tidak diam, tidak berada di arah tertentu, tidak di atas tapi juga tidak di bawah, bukan di depan tapi juga bukan di belakang, bukan di kanan tapi juga bukan di kiri dan seterusnya…..”

 

3.      Manhaj Salaf dalam menjelaskan tentang Al Haq  adalah : “Dengan menetapkannya apa adanya sesuai nash (teks) yang tertulis di dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shollallohu ‘alaihi wasallam”.

 

Menjelaskan kebenaran (Al Haq) dengan menggunakan istilah dan lafadz syar’iy yang berasal dari Allah dan rasul-Nya adalah manhaj Ahlus Sunnah, sedangkang para penganut madzhab Ta’thil, lebih suka menolak lafadz yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya dalam hal Nama dan Sifat Allah, tidak mau menghayati maknanya bahkan mereka menetapkan sendiri makna-makna yang diada-adakan kemudian menjadikan penafsiran mereka itu sebagai sesuatu yang muhkam (telah tetap hukumnya) yang diwajibkan meyakini dan menjadikannya sebagi pegangan. [1]

 

Sedangkan Ahlus Sunnah wal jama’ah berkeyakinan bahwa firman Allah dan sunnah rasul-Nya adalah haq yang wajib diyakini dan dijadikan sebagai pedoman, sedangkan pendapat para mereka yang menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah baik karena menolak secara keseluruhan atau sebagian. Ahlus Sunnah menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai hujjah atas pendapat mereka bukan menjadikan pendapat mereka sebagai bantahan atas Al Qur’an dan Sunnah

 

Kalimat Syaikh Abu Ja’far Ath Thohawy tidak bermaksud “Tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkannya” bukan bermaksud membuat penafian yang dilarang Syari’ah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya) :

 

“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (Menentukan Taqdir)”. (QS Fathir 44)

Di akhir ayat Allah Mengingatkan kita dengan kalimat : “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”,  sebagai dalil penafian sifat ‘ajz (lemah) dan itu berarti Allah Menetapkan sifat kesempurnaan dalam Ilmu dan Qudrah.

Karena sifat lemah muncul dari ketidakmampuan melakukan sesuatu yang diinginkan atau karena ketidaktahuan terhadap sesuatu itu, sedangkan Allah  telah Berfirman (artinya )

Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”, (QS Saba’ 3) 

 

Dan sesuatu yang lemah tidak layak dijadikan Ilaah, Maha Suci Allah dari semua kelemahan dan ketidakmampuan

 

 

 

 

 

[1]  Seperti menafikan “Tangan Allah” lalu mengganti maknanya menjadi “Kekuasaan Allah” dan mewajibkan orang untuk meyakini penafsiran mereka itu (pent)

KAIDAH KEEMPAT

 

لاَ إِلَهَ غَيْــرُهُ

“TIDAK ADA ILAAH YANG BERHAK DIIBADAHI SELAIN ALLAH”

 

Arti dari kalimat   (لا إله إلا اللـه) adalah لا معبود في الوجود بحق إلا اللـه تعالى atau “Tidak ada yang berhak diibadahi secara haq di dunia ini selain Allah.

 

PENJELASAN

 

Kalimat Syahadat yang dinyatakan oleh seseorang belum sempurna dan belum dapat dijadikan hujjah (alasan) di hadapan Allah di hari kiamat kelak kecuali setelah memenuhi syarat-syarat berikut         :

 

1.      MENGUCAPKAN KALIMAT TERSEBUT

 

Tidak sah pernyataan tauhid seseorang tanpa adanya pengucapan kalimat syahadat tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih tentang akhir hayat Abu Thalib paman Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam yang tidak mau mengucapkan kalimat syahadat meskipun oleh Rasulullah hanya diminta mengucapkan syahadat Tauhid saja tanpa syahadat Rasul. Rasulullah menyatakan : “Abu Thalib meninggal di atas agama Abdul Muthallib (syirik/kafir) dan menolak untuk mengucapkan  La Ilaaha Illalloh. (HR Muslim)

 

Rasulullah juga bersabda :

 

قال رسُول اللـه e: “أُمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إِله إِلا اللـه وأن محمداً رسُول اللـه، ويقيموا الصلاة، ويؤتوا الزكاة، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءَهم وأموالهم إِلا بحق الإسلام وحسابُهم على اللـه”.

 

“Aku diutus untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilaah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan sholat, dan membayarkan zakat. Jika mereka taat maka darah dan harta mereka terlindungi kecuali atas hak Islam, sedangkan hisab (perhitungan amal) mereka menjadi hak Allah semata”. (Muttafaq ‘Alaih)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“Jika seseorang tidak mau mengucapkan dua kalimat Syahadat, padahal sebenarnya dia mampu melakukannya, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama’. Orang tersebut Kafir baik lahir maupun batin berdasar  manhaj salaf.

 

2.      KUFUR TERHADAP THOGHUT

Artinya : tidak sah iman seseorangkecuali setelah menyatakan kekufurannya terhadap Thoghut. Sebagaimana yang dimaksud dengan ayat

 

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  

 

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Baqarah 256)

  • Thoghut adalah semua yang diibadahi (ditaati, disembah, dipatuhi, dipuja-puji) selain Allah
  • Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan :

“Thaghut itu sangat banyak, akan tetapi para pembesarnya ada lima macam, yaitu :

 

1.      Setan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah. 

 

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, hai Bani Adam supaya kalian tidak menyembah setan  ? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian” (QS. Yasin: 60)

 

2.      Penguasa yang dzalim yang merubah hukum‐hukum Allah.

 

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

Apakah kamu tidak memperhatikan orang‐orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan merka (dengan) penyesatan yang sejauh‐jauhnya.” (QS. An Nisa’: 60)

 

3.      Orang‐orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.

 

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang‐orang yang kafir”. (QS. Al Maidah: 44)

 

4.      Sesuatu selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.

 

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai‐Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga‐penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al Jin: 26‐27)

 

5.      Sesuatu selain Allah yang diibadahi  dan dia ridha dengan peribadatan tersebut.

 

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang‐orang dzalim”. (QS. Al Anbiya’: 29)

 

  • Al Urwatul Wutsqo adalah kalimat tauhid  لا إِله إِلا اللـه
  • Tafsir ayat di atas adalah : Barangsiapa yang menyatakan beriman  kepada Allah tetapi tidak kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah (Thoghut) berarti ia belum sepenuhnya berpegang teguh kepada Al Urwatul Wutsqodan pernyataan syahadatnya tidak bermanfaat baginya dan tidak mampu menyelamatkannya dari api neraka.
  • Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang menyatakan لا إِله إِلا اللـه  dan kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah, maka diharamkan darah dan hartanya sedangkan perhitungan amalnya (hisab) diserahkan kepada Allah. (HR Muslim)

 

Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan tentang hadits ini

Kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah adalah penegasan akan penafian segala bentuk Ilaah selain Allah. Tidak diharamkan darah dan hartanya  kecuali dengan sikap tersebut. Sehingga jika ia ragu-ragu atau tidak yakin (dalam mengkufuri thoghut) maka darah dan hartanya tidak mendapatkan perlindungan dari Islam”. [1] 

 

Syaikh Abu Bashir Ath Tharthusi (penulis Tahdzib syarah Aqidah Thohawiyyah ini) menambahkan :

“Seseorang yang dikatakan halal darah dan hartanya itu artinya bahwa pernyataan syahadatnya tidak bermakna dan tidak bermanfaat sama sekali disebabkan tidak adanya sikap kufur terhadap thoghut. Karena orang seperti ini ibarat orang yang menyatakan sesuatu dan sesuatu yang berlawanan di saat yang sama : mengikrarkan Tauhid tapi di saat yang sama juga melakukan kemusyrikan”.

 

Pernyataan kekufuran yang benar dan akan menyelamatkan seseorang mempunyai sifat, keadaan, tanda-tanda dan  syarat-syarat yang jika tidak dipenuhi olehnya maka pernyataan kekufuran belum sempurna bahkan tidak berlaku sama sekali. Adapun perkataan seseorang dengan mulutnya bahwa ia telah kufur terhadap Thoghut sedangkan di saat yang sama ia melakukan tindakan yang berlawanan dengan pernyataannya itu seperti menganggap baik kebijakan thoghut, berwala’ kepada thoghut atau berdekat-dekatan dengan maksud mencari muka dari thoghut, itu berarti ia telah menyatakan sesuatu tanpa bukti tindakan nyata dan ia telah berdusta dengan pernyataannya. [2]

 

Lebih lengkap akan kita bahas pada tema kajian yang khusus membahas arti dan hakekat THOGHUT. Insya Allah

 

3.      ILMU

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

 

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

 

“Maka Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah (QS Muhammad 19)

 

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang mati sedangkan ia telah mengetahui benar-benar bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah, maka ia dijamin masuk jannah”. (HR Muslim)

 

Dengan kata lain, barangsiapa yang mati sedangkan ia tidak paham benar-benar makna لا إِله إِلا اللـه  ia tidak akan masuk jannah meskipun ia selalu menbyucapkan kalimat itu setiap saat hingga tidak terbilang. Karena seseorang yang tidak paham akan sesuatu tidak mungkin akan bisa menanamkam keyakinan yang kuat di dalam hatinya. Sedangkan  jika orang yang tidak paham makna Tauhid yang benar, tidak mungkin menanamkan tauhid itu dalam hati dan jiwanya. Ini telah menjatuhkan dirinya pada kekufuran berdasarkan ijma’ ulama.

 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan :

“Dien Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam adalah Tauhid yang berarti memahami makna  لا إِله إِلا اللـه محمد رسول الله   , dan mengamalkan segala tuntutannya. Jika ada yang mengatakan : “semua orang bisa mengatakannya”. Maka jawabannya adalah : “ada di antara mereka yang memahaminya dan meyakini bahwa tidak ada yang Menciptakan dan Memberi rizki kecuali Allah atau semisalnya. Ada pula yang yang tidak paham artinya sama sekali. Ada juga yang paham tapi tidak melaksanakan segala tuntutannya, ada pula yang tidak paham hakikat kalimat itu. Yang lebih mengherankan lagi adalah ada orang yang memahmi maknanya tetapi di saat yang sama dia memusuhi kalimah itu dan orang-orang yang berpegang tuguh padanya. Ada yang lebih aneh lagi, ada orang yang mengaku mencintai kalimah itu dan mengaku sebagai pembelanya, namun  ia tidak membedakan antara pembela kalimat itu dan orang-orang yang memusuhinya !! Subhanallah… mungkinkah dua kelompok yang saling berlawanan berada dalam Dien yang sama dan dua-duanya mengaku berada dalam Al Haq ?!! Demi Allah, tidak mungkin.  Tidak ada  kata lain yang bertentangan dengan Al Haq kecuali Kebatilan”. (Risalah Syakhsiyyah  hal 182)

 

 

 CATATAN SELANJUTNYA INSYA ALLAH MELANJUTKAN KAIDAH KEEMPAT INI DENGAN POINT SBB :

 

4.      JUJUR (PERCAYA) DAN IKHLASH (BERSIH DARI SYIRIK)

5.      TIDAK ADA KERAGUAN

6.      YAKIN

7.      CINTA

8.      RIDHO, MENERIMA SEPENUH HATI DAN TUNDUK PATUH

9.      MENGAMALKAN KONSEKWENSI DAN TUNTUTAN-TUNTUTAN NYA

10.  MATI DI ATASNYA

 

 

 

[1]   Majmu’atut Tauhid halaman 35

 

[2]  Tahdzib Syarah Aqidah Ath Thohawiyyah hal 41

 

 

oleh : ustadz Fuad Al Hazimi

 

[thoriquna.wordpress.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: